BAB IV DASAR PERTIMBANGAN HAKIM MAHKAMAH AGUNG
A. Putusan-Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
1. Duduk Perkara Putusan Wasiat Wajibah Dalam Putusan
Penelitian ini akan menguraikan terlebih dahulu kronologis tentang sengketa warisan antara ahli waris yang beragama muslim dengan ahli waris yang beragama non-muslim, sehingga lahirnya putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang memberikan wasiat wajibah kepada ahli waris yang beragama non muslim tersebut. Dimana pada putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor. 368.K/AG/1995 ini, memberikan kekuatan hukum tetap kepada anak kandung yang berbeda agama dari si pewaris untuk memperoleh harta warisan dari orang tua kandungnya yang beragama Islam dengan memberikan wasiat wajibah.
Kisah perkara waris itu berawal dari pada tanggal 1 September 1993, Bambang Setyobudhi bin H. Sanusi melakukan gugatan ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat yang kemudian didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta Pusat dengan Nomor 377/Pdt.G/1993/PA.JP. Penggugat di sini melawan Djoko Sampurno bin H. Sanusi (Tergugat I), Siti Aisyah binti H. Sanusi (Tergugat II), Esti Nuri Purwanti binti H. Sanusi (Tergugat III), Untung Legiyanto bin H. Sanusi (Turut Tergugat I), dan Sri Widyastuti binti H. Sanusi (Turut Tergugat II).
Antara pihak Penggunggat dengan pihak Tergugat dan Turut Tergugat merupakan anak kandung dari Almarhum H. Sanusi. Bahwa H. Sanusi tersebut telah meninggal dunia. Semasa hidupnya H. Sanusi telah menikah satu kali dengan Almarhumah Hj. Suyatmi, di Kecamatan Purworjo, Kabupaten Purworjo, Jawa Tengah. Dalam pernikahan tersebut H. Sanusi dan Hj. Suyatmi memperoleh 6 (enam) orang anak, yang bernama : Djoko Sampurno (Islam), anak lai-laki, Untung Legiyanto (Islam), anak laki-laki, Siti Aisyah (Islam), anak laki-laki, Sri Widyastuti (Kristen), anak perempuan, Bambang Setyabudhi (Islam), anak laki-laki, Esti Nuri Purwanti (Islam), anak perempuan.
Dalam hal ini, salah satu anak dari almarhum H. Sanusi dan almarhum Hj. Suyatmi yang benama Sri Widyastuti telah keluar dari agama Islam (murtad) jauh sebelum para almarhum meninggal dunia, sehingga menurut hukum Islam dia tidak berhak mewarisi harta dari alhmarhum.
Semasa hidupnya, almarhum H. Sanusi tersebut memiliki harta benda berupa peninggalan, yaitu:
1. Sebidang tanah sertipikat Nomor 331 seluas 1905 M2 yang terletak di Kelurahan Cilandak, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dengan taksiran harga sebesar Rp. 175.000.000,- (bukti P.III).
2. Sebidang tanah sertipikat Nomor 72, seluas 24.368 M2 beserta rumah yang berdiri di atas tanah tersebut, yang terletak di Desa Caringin, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, dengan taksiran harga sebesar Rp. 125.000.000,- (bukti P.IV).
3. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 304 seluas 1066 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 3.5000.000,- (bukti P.V).
4. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 303 seluas 1330 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 4.500.000,- (bukti P.VI).
5. Sebidang tanah darat, sertipikat Nomor 383 seluas 565 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 2.000.000,- (bukti P.VII).
6. Sebidang tanah darat, sertipikat Nomor 1062 seluas 484 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 3.000.000,- (bukti P.VIII).
7. Sebidang tanah sertipikat nomor 53 seluas 2410 M2 serta bangunan di atas tanah tersebut, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 15.000.000,-(bukti P.IX).
8. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 54 seluas 6650 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 20.000.000,- (bukti P.X).
9. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 384 seluas 3390 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 12.000.000,- (bukti P.XI).
10. Sebidang tanah darat, sertipikat Nomor 375 seluas 1463 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 6.000.000,- (bukti P.XII).
11. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 378 seluas 417 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 1.500.000,- (bukti P.XIII).
12. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 379 seluas 3179 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 12.000.000,- (bukti P.XIV).
13. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 376 seluas 2116 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 7.500.000,- (bukti P.XV).
14. Sebidang tanah sawah, sertipikat Nomor 377 seluas 1038 M2, yang terletak di Desa Kledung Kradenan, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan taksiran harga sebesar Rp. 3.500.000,- (bukti. P.XVI).
Harta peninggalan almarhum H. Sanusi tersebut di atas merupakan harta warisan, yang pada saat itu belum dibagikan kepada seluruh ahli warisnya. Hj. Suyatmi sendiri pun juga ada meninggalkan harta berupa:
1. Bagian warisan dari almarhum H. Sanusi (suami). 2. Tanah seluas 322 M2 dengan sertipikat Nomor 986. 3. Tanah seluas 416 M2 dengan sertipikat Nomor 153.
4. Sebuah bangunan rumah permanen yang berdiri di atas tanah sertifikat Nomor 986 dan Nomor 153 tersebut di atas.
Para ahli waris dari H. Sanusi dan Hj. Suyatmi yaitu para penggugat dan para tergugat sudah pernah mengadakan musyawarah untuk membagi harta waris secara damai, akan tetapi tidak berhasil. Sehingga para penggugat meminta kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat untuk mengadili perkara pembagian warisan tersebut.
Selama persidangan Turut Tergugat II tidak hadir dan juga tidak pula menyuruh orang lain sebagai wakilnya untuk hadir, sedang berdasarkan berita acara panggilan tanggal 9 September 1993 Nomor 377/Pdt.G/1993/PA.JP dan tanggal 24 September 1993 Nomor 377/Pdt.G/1993/PA.JP telah dipanggil secara patut dan ketidak hadirannya itu tidak disebabkan oleh sesuatu alasan yang sah.
Majelis Hakim sendiri telah berusaha mendamaikan Penggugat dengan Para Tergugat dan Turut Tergugat I yang hadir selama persidangan namun tidak berhasil. Majelis Hakim telah memeriksa dan membacakan surat gugatan Penggugat yang isinya tetap dipertahankan oleh Penggugat. Atas gugatan Penggugat tersebut, Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III, dan Turut Tergugat I telah mengajukan jawapan lisan mengemukakan bahwa apa yang dikemukakan oleh Penggugat dalam surat gugatannya adalah semuanya benar.
Pada tanggal 11 September 1993 turut tergugat II menyampaikan surat yang isinya menyatakan bahwa dia menerima surat panggilan pada pukul: 16.30 sore
tanggal 10 September 1993, mengakui bahwa dia dan para pihak-pihak dalam perkara ini adalah saudara kandung yang seibu dan seayah keturunan asli Jawa Purworejo, dan turut tergugat II menyatakan keberatan terhadap penyelesaian sengketa yang dilakukan di Pengadilan Agama, dimana turut tergugat II berdalil bahwa, berdasarkan ketentuan hukum Pasal 50 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 maka: dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik dan keperdataan lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Sesuai dengan Pasal 1, Pasal 2, Pasal 49 Peradilan Agama adalah forum Peradilan bagi orang yang beragama Islam, sehingga turut tergugat II merasa dikucilkan.
Sehubungan dengan surat Turut Tergugat II tersebut, maka Penggugat memberikan jawabannya bertanggal 6 Oktober 1993 yang pada pokoknya menyatakan: bahwa pewaris dan penggugat beragama Islam, sehingga untuk menyelesaikan sengketa waris dilakukan berdasarkan hukum Islam, sehingga perkara diputuskan di Pengadilan Agama, harta warisan belum dibagi-bagi dan semuanya masih atas nama para alamarhum, dan salah satu anak almarhum ada yang beragama non-muslim, dan sesuai dengan bunyi pasal yang ada di dalam Kompilasi Hukum Islam bahwa ahli waris yang non-muslim terhalang untuk menjadi ahli waris.
Majelis hakim memahami keberatan Turut Tergugat II, dimana perkara sengketa ini diadili di Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Akan tetapi majelis Hakim menerimanya berdasarkan Pasal 125 ayat 2 yang berbunyi: jika Tergugat di dalam
surat jawabannya yang tersebut pada Pasal 121, mengemukakan eksepsi (perlawanan) bahwa Pengadilan Negeri tiada berkuasa akan memeriksa perkaranya, maka meskipun ia sendiri atau wakilnya tidak datang, wajiblah Pengadilan Negeri memberi keputusan tentang eksepsi itu sesudah didengarnya orang yang mendakwa itu, hanya jika eksepsi itu tidak di benarkan, maka Pengadilan Negeri akan memutus pokok perkara itu.
Majelis Hakim berpendapat pula bahwa berdasarkan pengakuan Turut Tergugat II dalam eksespsinya yang mengakui bahwa para pihak dalam perkara ini adalah saudara kandung satu ayah satu ibu serta tidak membantah bahwa objek sengketa adalah barang waris peninggalan almarhum orang tuanya, hanya menganggap akan dilenyapkan hak warisnya, dengan demikian dalam perkara ini tidak terjadi sengketa hak milik dan keperdataan lain menurut Pasal 50 Undang- Undang nomor 7 tahun 19889, maka dengan demikian berdasarkan Pasal 49 Undang- Undang nomor 7 tahun 1989 mutlak menjadi wewenang Pengadilan Agama Jakarta Pusat dan tidak perlu diputus lebih dahulu oleh Pengadilan Negeri.
Majelis Hakim juga berpendapat bahwa disamping ketentuan masalah kewarisan maka personal ke Islaman ditentukan pada agama sebagai pewaris beragama Islam, dengan demikian hukum yang diterapkan perkara ini adalah hukum Islam, dengan demikian sudah tepat kalau penyelesaian perkara ini pada Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka eksepsi Turut Tergugat II dinyatakan ditolak.
Pengadilan Agama Nomor. 377/Pdt.G/1997/PA.JP memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya terkait dengan pembagian ahli waris dari almarhum orang tuanya, majelis Hakim memutuskan bahwa turut tergugat II bukanlah sebagai ahli waris karena turut tergugat II telah keluar dari agama Islam sebelum pewaris meninggal dunia, menghukum para tergugat dan turut tergugat atau siapa saja yang memperoleh hak dari pada harta waris untuk memperoleh hak dari pada harta waris untuk menyerahkan kepada ahli waris yang berhak sesuai dengan bagiannya masing-masing, serta menghukum para tergugat dan turut tergugat untuk membayar biaya perkara secara tanggung renteng.
Dikemudian hari, turut tergugat II mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Jakarta, karena merasa keberatan atas putusan yang diputuskan oleh majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
Pengadilan Tinggi Agama Jakarta menyimpulkan keberatan dari turut tergugat II, bahwa turut tergugat II bukanlah sebagai ahli waris karena sesuai dengan pasal 171 KHI, akan tetapi Pengadilan Tinggi Agama Jakarta berpendapat bahwa turut tergugat II dianggap perlu memperoleh sebagian harta peninggalan pewaris berdasarkan wasiat wajibah sebesar tiga perempat (3/4) dari bagian seorang anak perempuan ahli waris/almarhum yang sah. Dengan berpedoman pada Surat Al- Baqarah ayat 180. Sebagian besar para Ulama yang ahli dalam hukum Islam telah berpendapat bahwa setiap orang Muslim yang merasakan bahwa kematian akan menimpanya, dan dia meninggalkan harta benda harus mewasiatkan. Berdasarkan ayat tersebut Masyruq, Iyas, Qatadah Ibnu Jarir dan Az Zuhri, telah mewajibkan
kepada orang muslim yang meninggalkan harta banyak dan meninggalkan ahli waris yang tidak bisa mewarisinya, harus berwasiat kepada ahli waris dan orang tuanya tersebut.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka Majelis Hakim sesuai dengan pendapat Masyruq, Iyas, Qatar, Ibnu Jarir, dan Az-Zuhri menetapkan bahwa almarhum telah mewasiatkan kepada Turut Tergugat II yang beragama Kristen tersebut di atas. Dan karenanya Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Agama, memerintahkan kepada anak-anak almarhum untuk melaksanakan wasiat orang tuanya dengan memberikan sebagain harta peninggalan almarhum, sejumlah barang senilai paling banyak 3/4 nya bagian ahli waris yang perempuan.
Sampailah perkara ini pada Mahkamah Agung. Dimana keberatan-keberatan yang diajukan oleh pemohon kasasi dalam memori kasasinya yang pada pokoknya berisi: Bahwa Pengadilan Tinggi Agama dalam putusannya tidak mempertimbangkan/ menerapkan hukum positif/ perundang-undangan yang ada dan berlaku, dan tidak satu pasal pun dijadikan dasar putusannya, padahal dalam pertimbangan hukum diwajibkan sebagaimana diharuskan oleh pasal 23 ayat 1 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Pengadilan Tinggi Agama telah salah dalam mempertimbangkannya, hal mana mengambil dan menggunakan dasar hukum tak tertulis, padahal menurut Jumurul Ulama/ sebagian besar Ulama ahli hukum Islam berpendapat bahwa surat Al-Baqarah ayat 180 tersebut mewajibkan wasiat itu telah dihapus Hukum wajibnya yaitu dinasekhkan dengan ayat-ayat mewaris yang diturunkan dengan terperinci pada
Surat An-Nisaa ayat 11 dan 12, hal ini sesuai pula dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada setiap orang haknya masing-masing, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris”, sehingga para Ulama sependapat bahwa ayat-ayat mawaris tersebut diturunkan sesudah ayat wasiat ini, jadi ayat wasiat ini telah dihapuskan oleh ayat mawaris yang diturunkan belakangan dan juga yang dimaksud pengertian kata Akrabin dalam ayat 180 surat tersebut di atas adalah tidak lain keluarga yang seagama dengan pewaris, sebagaimana ditetapkan Allah SWT dalam menjawab permohonan Nabi Nuh AS, bermohon kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar”, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya, kemudian Allah berfirman (menjawab): Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu yang dijanjikan akan diselamatkan, sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik, sebab itu janganlah kamu memohon kepadaku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Sesungguhnya Allah memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan, dengan demikian turut terugat II jelas-jelas tidak bisa dimasukkan sebagai keluarga Pewaris, walaupun sebagai anak kandungnya, hal ini seperti anaknya Nabi Nuh tersebut, dan juga kata Akrabin dalam ayat 180 Al-Baqrah mutlak harus diartikan demikian, jangan sembarangan tanpa dasar. Pengadilan Tinggi Agama telah keliru dalam pertimbangan hukumnya, terbukti tidak menerapkan hukum yang sebenarnya, dan lagi pula nampak mengadakan hak baru keluar dari hukum yang sebenarnya, dan selain itu pula terbukti Pengadilan Tinggi Agama dalam
pertimbangan hukumnya tidak berdasarkan hukum Islam yang sebenarnya serta tidak bermoral Islam, oleh karena memberi hak baru kepada orang yang murtad yang telah melawan dan memusuhi orang tuanya, sehingga Turut Tergugat II sebagai seorang anak kandung yang durhaka kepada orang tuanya murtad) adalah sangat tidak benar diberikan hak apa pun namanya, karena kemurtadan Turut Tergugat II adalah merupakan pembangkangan dan perlawanan keras dari seorang anak kepada orang tua, karena pewaris sama sekali tidak mentolerir kemurtadannya, bahkan sudah berusaha keras untuk mengembalikan Turut Tergugat II kepada Islam, tetapi tetap membangkang. Pengadilan Tinggi Agama terbukti telah berbuat tidak benar dan tidak adil, karena telah memihak kepada perbuatan yang batil dilakukan oleh Turut Tergugat II, dan selain itu pula Pengadilan Tinggi Agama telah melanggar ketentuan hukum/ larangan Allah SWT karena menolong orang yang melakukan dosa besar yang tidak diampuni dengan memberikan hak untuk Turut Tergugat II (orang murtad), padahal Allah SWT telah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya: “dan janganlah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan perbuatan pelanggaran, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya’, maka dengan demikian putusan Pengadilan Tinggi Agama tersebut dengan menggunakan ayat 180 Al-Baqarah sebagai dasar hukumnya adalah ternyata bertentangan dan melawan larangan Allah dalam surat Al-Maidah ayat 2 tersebut, oleh karena itu putusannya keliru dan salah. Pengadilan Tinggi Agama dalam pertimbangan hukumnya tidak dapat menerapkan hukum wasiat wajibah terhadap Turut Tergugat II, oleh karena pada prinsipnya sudah ada wasiat dari pewaris kepada
para pemohon kasasi/ penggugat asal/ tergugat asal I s.d III/ turut tergugat asal I yaitu bahwa kalau pewaris meninggal dunia maka Turut Tergugat II jangan sampai diberikan apa-apa dari harta peninggalan pewaris walaupun hanya secuil sebelum Turut Tergugat II kembali masuk ke agama pewaris, padahal Turut Tergugat II dan suaminya kira-kira delapan bulan sebelum pewaris meninggal dunia pernah dipanggil dan dihadiri oleh para pemohon kasasi/ penggugat asal/ tergugat asal I s.d III/ turut tergugat asal I, dengan maksud untuk menerima dan mendengar pernyataan terakhir pewaris, bahwa Turut Tergugat II dinyatakan oleh pewaris bukan sebagai anak lagi dan tidak berhak menerima apa-apa dari yang ditinggalkan pewaris, dan begitu juga pernah memanggil lagi Turut Tergugat II dan suaminya dan datang ke adik Ibu almarhum Hj. Suyatmi di Bandung, yaitu maksudnya Turut Tergugat II untuk menerima dan mendengar pesan/ pernyataan terakhir dari pewaris (sebelum pewaris meninggal dunia) bahwa Turut Tergugat II kalau kembali ke agama pewaris akan dinaikan haji dan diberikan segala apa yang dimintanya, namun maksud baik dari pewaris tersebut oleh Turut Tergugat II semuanya ditolak mentah-mentah dengan menyatakan pihak Turut Tergugat II tidak butuh akan semua itu, kemudian akhirnya setelah pewaris meninggal dunia maka pada bulan Mei 1991 pewaris Hj. Suyatmi membuat penetapan waris di Pengadilan Agama Jakarta Pusat, ternyata tetap berpendirian dan menyatakan tidak mengakui Turut Tergugat II sebagai keluarga/ anak dan tidak berhak menerima apa-apa dari harta yang ditinggalkannya, hal ini sesuai pula dengan putusan Pengadilan Agama Jakarta Pusat (fatwa warisan) No. 486/Pdt.G/1991/PA.JP tanggal 12 Juni 1991, maka sesudah Turut Tergugat II
menerima dan mendengar pernyataan pewaris tersebut di atas timbul ulah Turut Tergugat II sesumbar dan menyatakan tidak butuh warisan dari bapak dan ibu, bahkan Turut Tergugat II pernah mengambil seluruh perhiasan emas yang telah diberikan oleh pewaris dan selain itu ulah/ perbuatan Turut Tergugat II marah-marah kepada pewaris sambil mendorong-dorong mengusir agar ibu pulang kerumahnya, hingga sampai pada akhirnya Turut Tergugat II dihadiri pemakaman jenazah pewaris tidak mau hadir dengan alasan ada acara di gereja, dengan demikian maka putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta telah membuat kesalahan, karena lain yang dpertimbangkan lain pula yang diputuskan, padahal putusan Pengadilan Agama Jakarta Pusat telah tepat dan benar dalam segala pertimbangan hukumnya, oleh karena itu putusan Pengadilan Tinggi Agama tersebut No. 14/Pdt.G/1994/PTA.JK demi hukum dibatalkan.
Mahkamah Agung mengadili, bahwa Pengadilan Tinggi Agama Jakarta telah salah menerapkan hukum, di mana Pengadilan Tinggi Agama Jakarta dalam putusannya tidak mempertimbangkan/ menerapkan hukum positif/ perundang- undangan, mengabulkan ahli waris sah dari almarhum adalah: Djoko Sampurno (anak laki-laki), Untung Legiyanto (anak laki-laki), Bambang Setyobudhi (anak laki-laki), Siti Aisyah (anak perempuan), dan Esti Nuri Purwanti (anak perempuan), menyatakan Turut Tergugat II Sri Widyastuti berhak mendapat bagian dari harta peninggalan almarhum, berdasarkan wasiat wajibah sebesar bagian seorang perempuan ahli waris almarhum, menetapkan bagian masing-masing ahli waris adalah setiap anak laki-laki mendapat dua kali bagian anak perempuan, menghukum
para tergugat dan para turut tergugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat pertama dan dalam tingkat banding, menghukum pemohon kasasi akan membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi.
TANGGAPAN:
Melalui ketiga putusan di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa, dimana anggota keluarga yang telah keluar dari agama Islam tidak dapat dikatakan sebagai anggota keluarga dari keluarganya yang beragama Islam. Karena sebagaimana kita ketahui tentang kisah anaknya Nabi Nuh. Maka dari itu sekalipun dia anak kandung dari pewaris, tetapi dia telah keluar dari agama Islam, maka dia tidak dapat mewarisi harta warisan dari orang tua kandungnya yang beragama Islam. Apabila dia yang beragama non-muslim tersebut bukanlah sebagai pembunuh atau penganiaya berat terhadap si pewaris yang telah meninggal dan tidak pula melakukan fitnah kepada si pewaris yang telah meninggal dunia, maka dia yang beragama non- muslim tersebut dapatlah diberikan suatu penghargaan berupa hibah bukan wasiat wajibah. Supaya tidak bertentangan dengan tujuan syariat Islam.
2. Duduk Perkara Putusan Wasiat Wajibah Dalam Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 51.K/AG/1999.
Penelitian ini akan menguraikan terlebih dahulu kronologis tentang sengketa warisan antara ahli waris yang beragama muslim dengan ahli waris yang beragama non-muslim, sehingga lahirnya putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang memberikan wasiat wajibah kepada ahli waris yang beragama non muslim tersebut. Di mana pada putusan Mahkamah Agung Republik tersebut memberikan kekuatan
hukum tetap kepada anak dari saudara kandung yang berbeda agama dari si pewaris untuk memperoleh harta warisan dari saudara kandungnya yang beragama Islam (muslim) dengan memberikan wasiat wajibah.
Kisah perkara waris ini berawal pada tanggal 4 Mei 1997, Ny. Jazilah Martadi Hendrolesono binti Cokro Lesono melakukan gugatan ke Pengadilan Agama Yogyakarta yang kemudian didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Agama Yogyakarta dengan Nomor. 83/Pdt.G/1993/PA. YK. Penggugat di sini melawan Ny. Subandiah Ammar Asof, SH binti Setjono Hindro (Tergugat I) Islam, Ny. Sri Haryanti binti Setjono Hindro (Tergugat II) Islam, Ny. Cicilia Sri Draswasih binti Setjono Hindro (Tergugat III) Katolik, Bambang Hendriyanto bin Setjono Hindro (Tergugat IV) Islam, Putut Bayendra bin Setjono Hindro (Tergugat V) Islam, Sri Hendrayanti binti Setjono Hindro (Tergugat VI) Islam, Indar Astuti Pranowo binti Hinro Wardoyo (Tergugat VII) Katolik, Ny. Hj. Danusubroto binti Mas Ngabehi Djojosoewirjo (Tergugat VIII) Islam, Ny. Hedrowinoto binti Mas Ngabehi Djojosoewirjo (Tergugat IX) Islam, Fi Dewi Laksmi Sugianto binti Hindrotriwirjo (Tergugat X) Katolik, Bambang Wahyu Murti S bin Hindrotriwirjo (Tergugat XI) Islam, Bernadeta Hartini Tri Prasasti binti Hindrotriwirjo (Tergugat XII) Katolik, Ferlina Widyasari binti drg. Pantoro (Tergugat XIII) Islam, Yulia Yudantari binti drg. Pantoro (Tergugat XIV) Islam dan Lucas Indriya bin Mas Ngabehi Djojosoewirjo (Tergugat XV) Katolik. Kesemua para tergugat tersebut merupakan para saudara kandung dan anak dari saudara kandung yang telah lebih dahulu meninggal dunia dari