• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme penyelenggaraan dan pemeliharaan hutan tradisional, yang sesuai dengan kaidah ilmiah dalam pengaturan komposisi dan pertumbuhan hutan.

pengaturan manfaat hasil hutan. Hasil skor terhadap kriteria kelestarian hasil disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31 Skor kriteria kelestarian hasil

No Indikator Bobot Nilai Skor

1. Penataan areal pengelolan hutan 1.0 3.0 3.0 2. Kepastian adanya potensi produksi untuk

dipanen lestari 1.0 3.0 3.0 3. Pengaturan hasil 1.0 3.0 3.0 4. 5. 6.

Efisiensi pemanfaatan hutan

Keabsahan sistem lacak balak dalam hutan Pengaturan manfaat hasil

1.0 1.0 1.0 4.0 3.0 3.0 4.0 3.0 3.0

Rerata nilai Skor 3.10

Sumber: Data Primer setelah diolah 2006.

Tabel 31 di atas menunjukan bahwa penilaian terhadap kelestarian hasil dari pengelolaan dan pemanfaatan hutan di Toro masuk dalam kategori sedang (3.40). Penilaian tersebut didasari atas fakta bahwa penataan areal pengelolaan hutan tidak diatur secara spesifik. Tidak dimilikinya rencana pengelolaan untuk tiap-tiap tipologi lahan merupakan salah satu buktinya. Kondisi ini didasari fakta bahwa hingga saat ini “tidak tersedia data rill” menyangkut potensi kayu dan non kayu di tiap-tiap tipologi hutan adatnya, sehingga tidak ada dasar yang kuat bagi lembaga adat dan pemerintah desa dalam menetapkan rencana pengelolaan hutan secara spesifik. Hal lain yang juga menjadi faktor pembatas adalah sebagian besar wilayah Toro masuk memiliki topografi curam sehingga perlu dilindungi, olehnya diperlukan ekstra hati-hati dalam menentukan secara spesifik rencana pengelolaannya.

Guna mengantisipasi faktor-faktor pembatas tersebut di atas, pihak lembaga adat dan pemerintah desa telah melakukan sejumlah tindakan prepentif, yang intinya adalah untuk mebatasi sedini mungkin pemanfaatan sumberdaya hutan yang melampaui batas. Upaya yang dilakukan antara lain: (a) setiap pengajuan ijin pemanfaatan harus menetapkan lokasi dengan tepat (tidak termasuk dalam wilayah yang dilindungi); (b) melakukan pembatasan pada skala penebangan, di mana jarak minimal antara satu pohon yang akan ditebang dengan pohon lain adalah 200 meter, dengan maksud agar struktur dan komposisi tegakan dapat dipertahankan, dan (c) mengupayakan efisiensi

pemanfaatan sumberdaya hutan dengan cara mengurangi limbah-limbah

penebangan, dan melarang dilakukannya penebangan pohon saat

mengumpulkan rotan.

Namun demikian, Implementasi di lapangan masih sulit mencapai tataran ideal seperti yang disyaratkan. Hingga saat ini sisa-sisa penebangan (limbah) akibat kesalahan penebangan, maunpun yang sengaja ditinggalkan masih sering dijumpai (Gambar 38 & 39). Tidak adanya standar prosedur penebangan pohon menjadi salah satu penyebabnya.

Terkait dengan keabsahan sistem lacak balak, terutama kesesuaian antara jenis dan lokasi penebangan yang diusulkan masyarakat dengan realisasi di lapangan, ditemukan adanya perbedaan. Berbagai argumentasi dikemukakan masyarakat terkait perbedaan tersebut, di antaranya: adanya kendala lokasi yang terlalu curam; pohon yang belum layak di tebang; serta tidak tersedia anakan, seperti yang disyaratkan kepada mereka. Olehnya, masyarakat akan mencari lokasi lain sebagai penggantinya. Beberapa hal yang sering menyebabkan terjadinya perubahan lokasi, di antaranya: (a) informasi yang tidak akurat di terima oleh masyarakat, dan dijadikan dasar dalam mengajukan izin penebangan kayu. Umumnya masyarakat hanya menerima informasi tentang keberadaan pohon beserta lokasinya dari para pencari rotan, yang terkadang bersifat umum; (b) adanya prioritas jenis kayu tertentu yang akan di tebang, seperti tahiti dan cempaka, yang terkadang tidak dijumpai pada lokasi awal yang Gambar 38 Limbah kayu yang dihasilkan

dalam proses penebangan pohon di Toro (Dokumentasi Golar 2005).

Gambar 39 Alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan penebangan pohon di Toro (Dokumentasi Perkumpulan KARSA Palu 2005).

telah diusulkannya. Sehingga mereka terpaksa mencari lokasi lain yang ditumbuhi oleh kedua jenis pohon tersebut.

Namun, perubahan lokasi yang dilakukan biasanya tidak dikonfirmasi kembali kepada pihak lembaga adat atau pemerintah desa, dan menurut masyarakat hal tersebut pun tidak dipermasalahkan oleh pemerintah desa atau lembaga adat, selama mereka tidak melanggar kelembagaan adat, yaitu untuk tidak menebang pada kawasan pangale, wana, dan wana ngkiki. Mereka hanya melaporkan jumlah kubikasi dan jenis kayu yang telah ditebang. Dengan demikian, pihak tondo ngata mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi dan memastikan lokasi asal penebangan yang dilakukan. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengaturan dan pemanfaatan hasil hutan di Toro secara profesional.

Kelestarian Usaha

Dalam konsep pengelolaan sumberdaya hutan modern, kestabilan usaha lazim diukur dengan sejumlah instrument ekonomi, yang menekankan pada

profitabilitas usaha yang dilakukan. Untuk pengelolaan hutan berskala lokal, ukuran yang digunakan umumnya lebih sederhana, terdiri atas indikator kesehatan usaha, kemampuan akses pasar,dimilikinya sistem informasi manajemen, ketersediaan tenaga terampil, investasi dan re-investasi yang dilakukan, serta kontribusi terhadap peningkatan kondisi sosial dan ekonomi setempat (LEI 2004). Hasil skor terhadap kriteria kelestarian usaha disajikan pada Tabel 32.

Tabel 32 Skor kriteria kelestarian usaha

No Indikator Bobot Nilai Skor

1. Kesehatan usaha 1.0 3.0 3.0

2. Kemampuan akses pasar 1.0 3.0 3.0

3. Sistem informasi manajemen 1.0 3.0 3.0 4.

5. 6.

Ketersediaan tenaga terampil

Investasi dan re-investasi pengelolaan hutan Kontribusi terhadap peningkatan kondisi sosial dan ekonomi setempat

1.0 1.0 1.0 3.0 3.0 5.0 3.0 3.0 5.0

Rerata nilai Skor 3.30

Kesehatan usaha pengelolaan hutan di Toro dicirikan oleh adanya kemampuan pihak pengelola (pemerintah desa dan lembaga adat) dalam memberikan jaminan terhadap kesinambungan pemanfaatan hutan. Di Toro, salah satu indikator yang mencirikan kesehatan usaha adalah dimilikinya kelembagaan adat, yang secara tegas membatasi setiap usaha untuk menjual kayu, baik dalam bentuk log maupun papan ke luar Toro. Pemanfaatan kayu saat ini sepenuhnya diperuntukkan bagi upaya pengembangan usaha lokal masyasrakat Toro. Pembatasan tersebut dirasakan sebagai insentif dan jaminan bagi sumber perolehan bahan baku usaha meubel di Toro. Meskipun usaha tersebut di atas masih berskala lokal, namun produk dihasilkan kini diminati oleh pembeli yang datangnya dari desa sekitar, kecamatan, bahkan dari Palu. Hal ini mengindikasikan adanya kemampuan produk lokal di Toro untuk bersaing dan menembus pasar hingga ke Kota Palu. Dengan demikian, peluang pengembangan usaha tersebut di Toro semakin terbuka lebar bagi seluruh masyarakat di Toro.

Namun demikian, hingga saat ini pihak pengelola belum memiliki sistem informasi manajemen (SIM) yang memadai. SIM yang dimaksudkan dalam hal ini adalah data based atau file arsip desa yang terdokumentasikan dengan baik tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan di wilayah kelola adatnya, utamanya yang telah dan sedang dilakukan. Meskipun pengelolaan hutan di Toro tidak memfokuskan terhadap aspek produksi, namun keberadaan SIM amatlah diperlukan, utamanya dalam mengevaluasi kinerja pengelolaan dan mengukur kelestarian hutan yang telah dicapai, sebagai salah satu komponen penting dalam perbaikan kinerja pengelolaan di masa yang akan datang.

Sementara itu, terkait dengan upaya investasi dan re-investasi pengelolaan sumberdaya hutan, yang dicirikan oleh adanya alokasi dana khusus bagi

perbaikan kinerja pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan

(perencanaan, perlindungan, produksi, dan pembinaan hutan, pengembangan sumberdaya manusia, prasarana dan sarana hutan, serta manajemen usaha) belum tersedia di Toro. Salah satu contohnya adalah belum tersedianya alokasi dana khusus kepada tenaga operasional lembaga adat (tondo ngata) yang tetap. Selama ini operasionalisasi tondo ngata memperoleh dana yang bersifat insidentil dari berbagai pihak, seperti bantuan dalam kegiatan patroli tondo ngata

diperhatikan, meskipun para anggota tondo ngata mau melakukannya dengan suka cita walau tanpa diberikan gaji, namun perlu disadari bahwa waktu mereka yang digunakan untuk menafkahi istri dan keluarganya “tersita” oleh tugas- tugasnya sebagai tondo ngata. Olehnya, wajar bila insentif terhadap tugas yang diemban anggota tondo ngata tersebut mendapatkan perhatian secara khusus dari pihak pemerintah desa, atau dari pihak otoritas TNLL, yang juga menikmati hasil pekerjaan tondo ngata di Toro dalam mengawasi dan mempertahankan kelestarian TNLL.

Kelestarian Fungsi Ekologis

Kelestarian fungsi ekologis diterminologikan sebagai kemampuan lembaga adat dalam mendukung dan memelihara keseimbangan integrasi komunitas kehidupan hayati, yang memiliki komposisi jenis, keanekaragaman, dan berbagai fungsi yang seimbang dan terpadu, seperti kondisi habitat alaminya. Kriteria yang digunakan untuk menganalisisnya antara lain: (1) stabilitas ekosistem hutan yang dapat dipelihara serta gangguan terhadapnya dapat diminimalisir dan dikelola; dan (2) sintasan spesies endemik, langka, atau dilindungi dapat dipertahankan dan gangguan terhadap sintasan tersebut dapat diminimalisir.

Stabilitas ekosistem hutan dipelihara dan gangguan terhadapnya dapat diminimalisir dan dikelola

Pengelolaan setiap sistem penggunaan lahan harus mempertimbangkan karakteristik dan batas wilayah yang dilindungi dengan intensitas penggunaan yang berbeda-beda. Seperti halnya di dalam wilayah kelola adat Toro, terdapat daerah yang dilindungi berdasarkan ketentuan-ketentuan adat, seperti sempadan sungai, mata air, dan daerah-daerah curam. Eksistensi daerah yang dilindungi tersebut bergantung sepenuhnya kepada performansi kelembagaan adat Toro. Hasil penilaian terhadap kriteria stabilitas ekosistem hutan disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33 Skor kriteria stabilitas ekosistem hutan dapat dipelihara dan gangguan terhadapnya dapat diminimalisir dan dikelola

No Indikator Bobot Nilai Skor

1 Adanya tata batas dan upaya pengelolaan kawasan-kawasan yang seharusnya dilindungi dalam areal

1.0 4.0 4.0

2 Tersedianya aturan kelola produksi yang meminimasi gangguan terhadap integritas lingkungan

1.0 4.0 4.0

3 Ketersediaan informasi dan dokumen dampak kegiatan

1.0 3.0 3.0 4 Adanya kegiatan kelola lingkungan yang efektif 1.0 3.0 3.0

Rerata nilai Skor 3.5

Sumber: Data Primer setelah diolah 2006.

Salah satu komponen penting dalam menjaga kestabilan ekosistem hutan pada kawasan yang dilindungi adalah adanya tata batas yang jelas, sehingga dapat dibedakan dengan kawasan-kawasan lainnya. Meskipun tidak terdapat batas-batas fisik di lapangan, namun masyarakat Toro pada umumnya mampu untuk mengenali dan membedakan berdasarkan ciri-ciri wilayah yang dilindungi oleh kelembagaan adat. Ciri-ciri ini diketahui oleh masyarakat Toro, dan mereka mampu secara jelas mendeskripsikannya. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap warga Toro telah mengetahui secara pasti tentang lahan-lahan mana saja yang dapat dimanfaatkan dan yang harus dilindungi.

Lembaga adat melalui sejumlah aturan mainnya, juga mengendalikan atau membatasi pemanfaatan sumberdaya hutan yang berlebih, utamanya terhadap kawasan-kawasan yang dilindungi guna memberi peluang bagi pemulihan ekosistem28. Selain dilakukan pembatasan, juga terdapat sejumlah larangan untuk memanfaatkan kayu, utamanya pada sepanjang sempadan sungai, sumber-sumber mata air, daerah rawan longsor, serta beberapa lokasi yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Meskipun demikian, pemanfaatan hasil hutan non-kayu (rotan dan buah-buahan), pada kawasan tersebut masih diperkenankan tentunya dengan jumlah yang terbatas (sebatas keperluan