BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data
4.2.1.4 Daya Paksa
Daya paksa adalah kekuatan bahasa yang digunakan oleh penutur untuk mengungkapkan atau menyampaikan pesan melalui paksaan atau desakan, yang berupa kegiatan saran dan menyuruh Berkaitan dengan berita politik pada Koran Kompas, daya paksa digunkan untuk menyampaikan pesan secara langsung maupun tidak langsung. Data tersebut meliputi:
4.2.1.4.1. Daya Saran
Daya saran adalah kekuatan bahasa yang digunakan oleh penutur untuk memberikan saran terhadap mitra tutur atau semua orang yang menurut penutur harus diberi saran untuk memperbaikinya. Saran yang diutarakan oleh mitra tutur berupa tuturan langsung. seperti disajikan sebagai berikut.
22.“Pastikan dulu masyarakat aman, baru harga BBM dinaikan”. (BPKK, 03/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Rini Soemarno untuk menanggapi kenaikan harga BBM. Rini memiliki pengetahuan lama, bahwa masyarakat merasa terusik dengan adanya kenaikan BBM. Terbukti ketika BBM dinaikan masyarakat banyak yang kesusahan bahkan tidak sedikit yang mengadakan demonstrasi.)
23.“ Jokowi-JK seyogyanya belajar dari kekurangan Kabinet SBY sehingga penunjukan menteri harus lebih diletakan bukan saja pada merit system, tetapi juga rekam jejak” (BPKK, 08/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Busyro Muqoddas untuk menanggapi pemerintahan baru dan penyeleksian calon menteri dalam kabinet baru. Busyro memiliki pengetahuan lama bahwa hingga saat ini sudah ada tiga menteri aktif Kabinet Indonesia Bersatu di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi tersangka korupsi.)
Tuturan (22) mencoba memperlihatkan paksaan dengan cara memberi saran kepada pemerintah agar sebelum menaikan BBM, pemerintah harus memastikan bahwa rakyat kecil menerima keputusan tersebut. Daya saran dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “Pastikan dulu masyarakat aman, baru
harga BBM dinaikan”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks
berupa fenomena praanggapan bahwa ketika BBM dinaikan masyarakat miskin merasa terbebani dan menderita karena kenaikan BBM dan tidak adanya subsidi baginya. Bahkan subsidi yang menjadi haknya, dipakai atau dikonsumsi oleh pihak yang mampu seperti para pejabat dan masyarakat strata atas. Dengan kejadian seperti itu mengakibatkan banyak masyarakat yang unjuk rasa di jalanan agar harga BBM diturunkan.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim
kebijaksanaan, tuturan dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Rini Soemarno mengandung maksim kebijaksanaan karena telah memberikan keuntungan dalam bentuk saran kepada pemerintah mengenai kenaikan BBM.
Tuturan (23) juga mencoba memperlihatkan paksaan dengan cara memberikan saran terhadap kabinet Jokowi agar lebih memperhatikan rekam jejak para menteri dalam kabinet barunya. Daya saran dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “Jokowi-JK seyogyanya belajar dari kekurangan Kabinet SBY sehingga penunjukan menteri harus lebih diletakan bukan saja pada merit system, tetapi juga rekam jejak” yang diperkuat melalui diksi
“seyogyanya”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa
fenomena praanggapan bahwa dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono banyak yang menjadi tersangka kasus korupsi. Beberapa diantaranya adalah mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Malarangeng, mantan Menteri Agama Suryadharma Ali, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim kebijaksanaan, tuturan dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Rini Soemarno mengandung maksim kebijaksanaan karena telah memberikan keuntungan dalam bentuk saran terhadap kabinet Jokowi agar dalam pemilihan menteri, Jokowi harus memperhatikan rekam jejak para menteri dalam kabinet barunya.
Berdasarkan kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa daya saran merupakan tuturan yang santun. Seperti dalam tuturan “seyogyanya” pada
(DB.42/BPKK/08/09/2014)dan “pastikan”pada(DB. 14/BPKK/03/09/2014). Daya
saran yang terdapat dalam berita politik semuanya mengandung maksim kebijaksanaan karena “saran” sendiri merupakan tuturan yang dapat memberikan keuntungan terhadap mitra tutur. Dengan saran mitra tutur akan memperbaiki kesalahan atau pun masukan untuk sesuatu agar lebih baik. Penanda ekstralingual berupa fenomena konteks juga selalu menyertai tujuan.
4.2.1.4.2 Daya Suruh
Daya suruh adalah kekuatan suatu bahasa yang berupa perintah untuk melakukan suatu perbuatan dengan alasan tertentu. Seperti disajikan sebagai berikut:
24.“Kira-kira satu persennya saja tak sampai. Pokoknya saya pesan agar yang bisa diefisienkan, diefisienkan”. (BPKK, 03/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Arief Budiman, selaku Komisioner KPU yang menyarankan KPU untuk menggunakan anggaran sebaik mungkin yang digunakan untuk pelantikan calon anggota DPR. Anggaran KPU yang saat ini alokasinya masih tersedia sekitar 4 triliun.)
25.“Kami memberi kesempatan Pak SDA berkonsentrasi menyelesaikan masalah hukum yang harus dihadapi.”(BPKK, 11/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Sekretaris Jendral PPP Romahurmuzy yang menanggapi pemberhentian Suryadharma Ali atas kasus korupsi dana haji. Suryadharma Ali telah menjatuhkan nama baik dan kehormatan PPP atas kasus yang menimpanya.)
Tuturan (24) mencoba memperlihatkan paksaan dengan cara menyuruh KPU untuk menggunakan anggaran dengan sebaik-baiknya. Daya paksa berupa suruhan dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “Pokoknya saya pesan
agar yang bisa diefisienkan, diefisienkan”. Penanda ekstralingual dimunculkan
melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa banyak anggaran dana yang disalahgunakan oleh beberapa pihak. Selain itu anggaran yang disiapkan untuk pelantikan calon DPR tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim kebijaksanaan, tuturan dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Arif Budiman mengandung maksim kebijaksanaan karena telah memberikan keuntungan dalam bentuk suruhan dengan menggunakan kata yang santun terhadap KPU agar menggunakan anggaran sebaik-baiknya sesuai dengan kebutuhan.
Tuturan (25) juga mencoba memperlihatkan paksaan dengan cara menyuruh Suryadharma Ali berhenti dari jabatannya agar fokus terhadap masalah yang sedang menimpanya. Daya paksa berupa suruhan dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “Kami memberi kesempatan Pak SDA berkonsentrasi
menyelesaikan masalah hukum yang harus dihadapi”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa pemberhentian Suryadharma Ali dikarenakan masuknya surat usulan dari 21 DPW PPP. Masukan ini merupakan hasil dari pertemuan para sesepuh dan politikus senior PPP yang mendesak agar Suryadharma Ali mundur dari jabatannya. Hal ini dikarenakan Suryadharma telah menjatuhkan nama baik dan kehormatan PPP atas kasus korupsi dana haji yang menjeratnya.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Pranowo (104:2012) yaitu menggunakan diksi yang santun. Dalam konteks ini, tuturan Romahurmuzy menggunakan diksi yang santun dalam bentuk suruhan dengan menggunakan kata yang santun berupa kalimat “Kami memberi kesempatan Pak SDA berkonsentrasi menyelesaikan
masalah hukum yang harus dihadapi”. Penutur menyuruh mitra tutur dengan
menggunakan klausa “ Kami memberi kesempatan…” dipersepsi lebih santun dari pada menggunakan tuturan seperti “Kami memecat Pak SDA”.