BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data
4.2.1.3 Daya Ancam
4.2.1.3.2 Daya Sindir …
Ancaman juga dapat dilakukan melalui daya sindir. Daya sindiran dalam berita politik bisa berbentuk sindiran langsung dan tidak langsung. Daya sindir adalah kekuatan bahasa yang digunakan oleh penutur untuk menyindir mitra tutur atau seseorang mengenai suatu kejadian atau topik tertentu. Seperti data yang disajikan sebagai berikut.
16.“Masak malaikat mau dites sama setan” (BPKK, 04/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Asep Iwan, ahli Hukum Pidana dimana penutur memiliki pengetahuan lama bahwa seleksi pada tahap DPR sudah tidak dipercayai lagi, terutama oleh calon pimpinan yang jujur dan kredibel)
17.“Jangan-jangan tingkat penerimaan pajak rendah karena dikorupsi. Kita hanya bisa menyapu koruptor kalau saja sapunya bersih dari korupsi”.(BPKK, 24/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Pengamat Perpajakan Yustinus Prastowo yang menanggapi lemahnya pemberantasan korupsi di negara ini, karena petugas KPK yang memikili peran dalam tindakan korupsi)
18.“Kalau kualitas partainya seperti itu, tidak heran kualitas DPRD dan kepala daerah yang diusung” (BPKK, 26/09/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Dadang Trisasongko selaku Sekretaris Jendral Transparancy International Indonesia yang menanggapi kualitas para partai politik yang enggan terbuka dalam laporan keuangan. Di mana, survei yang pernah digelar TI Indonesia menyatakan betapa gelapnya birokrasi Indonesia)
19.“Pantes Gus Dur dulu mengatakan DPR itu seperti taman kanak-kanak. Kalau melihat, ya tidak terlalu salah kalau seperti itu”(BPKK, 03/10/2014) (Konteks: Tuturan diucapkan oleh Popong Otje selaku anggota DPR tertua yang menanggapi keadaan sidang paripurna DPR dengan agenda penetapan pimpinan fraksi dan pimpinan DPR yang berlangsung gaduh. Puluhan anggota DPR yang beberapa jam sebelumnya dilantik berteriak mengajukan interupsi. Selain itu banyak mikrofon mati dan sebagian wakil rakyat merangsek ke depan meja pimpinan sidang paripurna.)
Keempat tuturan di atas mengandung daya ancam berupa sindiran. Tuturan (16) mencoba memperlihatkan ancaman berupa sindiran yang dilakukan dengan cara menyindir kepada anggota DPR yang selama ini sudah tidak dipercayai lagi oleh masyarakat. Hal ini karena banyaknya kasus suap pada anggota DPR. Daya ancam berupa sindiran dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat
“Masak malaikat mau dites sama setan”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa kebanyakan orang sudah tidak percaya lagi kepada DPR. Hal ini dikarenakan kinerja DPR sebagai wakil rakyat akan tetapi kebanyakan kasus korupsi justru banyak melibatkan anggota DPR itu sendiri. Terutama kasus suap yang diterima oleh anggota DPR.
Tuturan dalam berita politik tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena menggunakan tuturan tidak langsung. Dalam hal ini, penutur secara tidak langsung tidak menyebutkan siapa yang dimaksudkan. Penutur hanya menggunakan perumpamaan seperti “ setan dan malaikat”. Selain itu tuturan ini dianggap santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (109:2012) yakni sikap tenggang rasa, sikap menjaga perasaan mitra tutur. Seperti tuturan Asep Iwan mengandung prinsip tenggang rasa karena dalam menyindir tidak menyebut jelas yang dimaksud sebagai “setan dan malaikat”.
Sama halnya dengan tuturan (16), tuturan (17) juga memperlihatkan ancaman dengan cara menyindir KPK yang dinilai belum bersih dari korupsi. KPK yang diketahui sebagai pemberantas korupsi ternyata diyakini ikut terseret kasus korupsi. Daya ancam dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “Kita hanya bisa menyapu koruptor kalau saja sapunya bersih dari
korupsi”. Penanda intralingual juga diperkuat dengan kata “sapunya”. Kata
tersebut merupakan ungkapan terhadap KPK yang bertugas untuk memberantas korupsi. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa masih ada dan banyak anggota KPK yang terlibat di dalam kasus korupsi yang dilakukan para koruptor seperti pejabat negara. Kasus korupsi
di Indonesia belum dapat teratasi secara tuntas karena para anggota KPK pun masih belum bersih dari korupsi. Seperti kasus suap yang diterima anggota KPK dari para koruptor.
Tuturan dalam berita politik tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena menggunakan tuturan secara tidak langsung. Selain itu,tuturan tersebut santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (109:2012) yakni sikap tenggang rasa, sikap menjaga perasaan mitra tutur. Dalam hal ini, tuturan Yustinus mengandung prinsip tenggang rasa karena dalam menyindir KPK tidak langsung menyebutkan “KPK”, melainkan dengan kata ungkapan “sapunya”.
Tuturan (18) berbeda dengan tuturan sebelumnya. Tuturan ke (18) ini mencoba memperlihatkan ancaman dengan cara menyindir langsung kualitas para partai politik di Indonesia.Daya ancam berupa sindirian dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat“ Kalau kualitas partainya seperti itu, tidak
heran kualitas DPRD dan kepala daerah yang diusung”. Penanda ekstralingual
dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa kualitas para partai politik di Indonesia belum memadai karena enggan terbuka dalam laporan keuangan. Hal ini dikarenakan gelapnya birokrasi di Indonesia. Seperti kita ketahui sebanyak 22 provinsi dan 21 kabupaten/kota, APBD-nya sulit diakses dan tertutup. Akses LHKPN juga tidak dilaporkan dan tidak dipublikasi.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena menggunakan tuturan berupa sindiran secara langsung. Tuturan tersebut dianggap tidak santun karena bertentangan dengan prinsip kesantunan Pranowo (109:2012) yakni sikap tenggang rasa, sikap menjaga perasaan mitra tutur. Dalam hal ini,
tuturan Dadang berupa kalimat“ Kalau kualitas partainya seperti itu, tidak heran
kualitas DPRD dan kepala daerah yang diusung” bertentangan dengan prinsip
tenggang rasa karena menyindir kaulitas partai secara langsung.
Tuturan ke (19) sama dengan tuturan ke (18) yang mencoba memperlihatkan ancaman dengan cara menyindir langsung DPR, pada saat siding paripurna DPR yang berlangsung sangat gaduh. Daya ancam berupa sindiran dapat dilihat melalui tuturan“ Pantes Gus Dur dulu mengatakan DPR itu seperti taman kanak-kanak.
Kalau melihat, ya tidak terlalu salah kalau seperti itu” yang diperkuat dengan
penanda intralingual berupa klausa “DPR itu seperti taman kanak-kanak”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa anggota DPR berperilaku seperti anak-anak apabila interupsinya atau pendapatnya tidak dihiraukan oleh pimpinan sidang. Hal ini dapat berakibat rusaknya mikrofon dalam ruang sidang dan sebagian wakil rakyat merangsek ke depan meja pimpinan sidang paripurna.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang tidak santun karena bertentangan dengan prinsip kesantuna Pranowo (109:2012)yakni sikap tenggang rasa, sikap menjaga perasaan mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Popong Otje berupa kalimat“ Pantes Gus Dur dulu mengatakan DPR itu seperti taman kanak
-kanak” bertentangan dengan prinsip tenggang rasa karena menyindir anggota
DPR secara langsung, bahwa kelakuannya masih seperti anak-anak. Hal ini terbukti pada saat rapat paripurna sangat gaduh dan riuh.
Berdasarkan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa daya sindir merupakan bentuk ancaman yang santun apabila diucapkan secara tidak langsung. Sedangkan
daya sindir itu tidak santun apabila diucapkan secara langsung siapa orang yang disindirnya. Daya sindir yang dianggap santun biasanya menggunakan ungkapan atau perumpamaan. Seperti “malaikat dan setan” pada (DB.27/BPKK/04/09/2014) dan “sapunya” pada (DB.71/BPKK/24/09/2014). Selain itu, daya sindir yang dianggap tidak santun biasanya langsung menunjukan siapa orang yang disindirnya. Seperti pada “kualitas partai politik” pada
(DB.74/BPKK/26/09/2014) dan “KPK” pada(DB.87/BPKK/03/10/2014).Penanda
ekstralingual berupa fenomena konteks selalu mengikuti tuturan yang diucapkan. Pengetahuan umum juga selalu menjadi penanda penting unsur ekstralingual untuk memunculkan daya sindiran.