• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Analisis Data

4.2.1.2 Daya Ungkap

Daya ungkap adalah kekuatan bahasa yang digunakan oleh penutur untuk mengungkapkan pandangannya atau pikirannya mengenai suatu hal yang dianggap penting kepada mitra tutur. Dalam berita politik, daya ungkap digunakan untuk mengungkapkan pendapat mengenai suatu berita politik. Daya ungkap menyatakan ungkapan suatu hal atau peristiwa agar pembaca memahami adanya makna pada suatu kalimat. Daya ungkap dalam berita politik Koran Kompas ditemukan sebanyak 11 tuturan. Data tersebut disajikan sebagai berikut :

9. “Pak Busyro ini sebenarnya tak tergantikan, bahkan salah satu pimpinan KPK terbaik”. (BPKK, 03/09/2014)

(Konteks :Tuturan diucapkan oleh Ganjar Bondon, Dosen Hukum Pidana UI yang menanggapi pencalonan ulang Busyro. Penutur memiliki pengetahuan lama ketika dalam masa pimpinan Busyro Muqoddas, dia dapat memberantas semua korupsi besar bahkan yang melibatkan Nazar cs sudah dibongkar habis oleh Busyro Muqoddas.)

10.“Saya kira itu baik untuk Pak Jero agar dia fokus dan berkonsentrasi pada masalah yang dihadapi(BPKK, 06/09/2014)

(Konteks : Tuturan diucapkan oleh Amir Syamsuddin untuk menanggapi pengunduran diri Jero Wacik dari jabatan menteri. Hal ini dikarenakan Jero Wacik terjerat dalam kasus korupsi)

11.Kalau dipikir-pikir, ngapain juga kita ekspor. Mendingan kita stop ekspor minyak. Kita mengolah sendiri untuk kebutuhan dalam negeri sendiri dulu. Sekarang ini, kita seolah-olah ekspor dan dapat penghasilan, tetapi juga mengeluarkan anggaran subsidi. Prinsipnya energi harus diutamakan untuk kebutuhan dalam negeri dulu” (BPKK, 06/09/2014).

(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Haryadi yang menanggapi minyak mentah yang diekspor ke Indonesia nilainya hampir mencapai Rp 300 triliun. Ironisnya, besaran subsidi minyak juga hampir Rp 300 triliun.)

12.“Kesalahan Jero Wacik mungkin tidak seratus persen kesalahan dia. Namun, (lebih) karena dia tidak paham seluk beluk proses migas yang rumit membuat dia tidak sadar kalau dia terpeleset” (BPKK, 07/09/2014)

(Konteks: Tuturan diucapkan Dewi Aryani, anggota DPR yang menanggapi kasus yang menjerat Jero Wacik. Hal ini dikarenakan pemilihan pejabat yang kurang ahli dibidangnya, seperti Jero Wacik.)

13.“Keistimewaan anak pejabat terbukti hanya menghancurkan pribadi dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan.”(BPKK, 24/10/2014)

(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Uchok yang menanggapi keistimewaan anak pejabat dalam tes CPNS. Penutur memiliki

pengetahuan lama bahwa pemaksaan anak pejabat untuk diterima sebagai pegawai ke dalam struktur pemerintahan hanya akan merusak sistem. Seperti apabila anak pejabat itu tidak mampu bekerja dan melanggar aturan, tentu tidak akan ada atasan yang berani menegur dan menjatuhkan sanksi.)

Kelima tuturan di atas mengandung daya ungkap. Daya ungkap dalam kalimat-kalimat tersebut menunjukan pendapat-pendapat dari penutur terkait suatu kejadian mengenai berita politik. Daya ungkap tercermin pada tuturan diatas.

Tuturan (9) mencoba mengungkapkan pendapat dari Ganjar Bondon dalam menanggapi pencalonan kembali Busyro Muqoddas sebagai ketu umum KPK. Ganjar mengutarakan pendapatnya mengenai sosok Busyro yang memiliki kinerja yang bagus dan pimpinan KPK terbaik. Daya ungkap dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “Pak Busyro ini sebenarnya tak tergantikan,

bahkan salah satu pimpinan KPK terbaik”. Penanda ekstralingual dimunculkan

melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa selama Busyro menjabat sebagai ketua umum KPK , dia sudah bekerja dengan baik. Terbukti dia sudah membabat habis kasus korupsi-korupsi besar bahkan yang melibatkan Nazar cs.

Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim pujian, tuturan dapat memberikan pujian kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Ganjar Bondo mengandung maksim pujian, karena telah memberikan pujian dalam bentuk pemberian pendapat mengenai sosok Busyro Muqoddas

dalam pemilihan ketua umum KPK. Pujian itu seperti dalam kalimat “Pak Busyro ini sebenarnya tak tergantikan, bahkan salah satu pimpinan KPK

terbaik”.

Tuturan (10) mencoba mengungkapkan rasa simpati terhadap kasus yang dialami oleh Jero Wacik yang membuat dirinya mengundurkan diri dari jabatan menteri. Daya ungkap dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat Saya kira itu baik untuk Pak Jero agar dia fokus dan berkonsentrasi pada

masalah yang dihadapi”yang diperkuat melalui klausa“ Saya kira itu baik untuk

Pak Jero…”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa

fenomena praanggapan bahwa Jero Wacik tersangkut kasus dugaan pemerasan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selain itu Jero juga didera kasus lain yaitu ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana korupsi saat menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2008-2011. Sedangkan suasana yang terdapat dalam tuturan adalah suasana sedih dan syok.

Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim simpati, tuturan dapat mengungkapkan rasa simpati terhadap yang dialami mitra tutur. Hal ini terlihat pada tuturan Amir Syamsudin yang mengandung maksim simpati karena telah memberikan simpati dalam bentuk pemberian pendapat atau ungkapan kepada Jero Wacik. Ungkapan itu berupa klausa “ Saya kira itu baik untuk Pak Jero…”.

Tuturan (11) mencoba mengungkapkan pendapat yang diucapkan oleh Haryadi yang menanggapi ekspor minyak yang nilainya hampir sama dengan besaran subsidi minyak yang mencapai Rp 300 triliun. Daya ungkap dilihat melalui tuturanKalau dipikir-pikir, ngapain juga kita ekspor. Mendingan kita stop ekspor minyak. Kita mengolah sendiri untuk kebutuhan dalam negeri sendiri dulu. Sekarang ini, kita seolah-olah ekspor dan dapat penghasilan, tetapi juga mengeluarkan anggaran subsidi. Prinsipnya energi harus diutamakan untuk kebutuhan dalam negeri duluyang diperkuat dengan penanda intralingual berupa kalimat . Prinsipnya energi harus diutamakan untuk kebutuhan dalam negeri dulu…”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa hasil dari ekspor tidak mendapatkan keuntungan karena pemerintah tetap mengeluarkan anggaran untuk subsidi. Lebih baik olah sendiri dan utamakan untuk kebutuhan dalam negeri. Kalaupun ada keuntungan atau pun kerugian, setidaknya kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi. Minyak mentah yang diekspor Indonesia nilainya hampir mencapai Rp 300 triliun. Ironisnya, besaran subsidi minyak juga hampir Rp 300 triliun.

Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim kebijaksanaan, tuturan dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Haryadi mengandung maksim kebijaksanaan karena telah memberikan keuntungan dalam bentuk pemberian pendapat mengenai ekspor minyak yang tidak menguntungkan bagi negara, karena negara juga mengeluarkan subsidi dengan nilai yang sama dengan hasil ekspor minyak.

Sama seperti tuturan (10), pada tuturan (12) juga mencoba mengungkapkan rasa simpati terhadap kasus yang menjerat Jero Wacik karena migas bukan lah bidangnya. Daya ungkap dapat dilihat melalui tuturan“ Kesalahan Jero Wacik mungkin tidak seratus persen kesalahan dia. Namun, (lebih) karena dia tidak paham seluk beluk proses migas yang rumit membuat dia tidak sadar kalau dia

terpeleset”yang diperkuat dengan penanda intralingual berupa kalimat

Kesalahan Jero Wacik mungkin tidak seratus persen kesalahan dia”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa latar belakang Jero Wacik merupakan lulusan dari beberapa Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. Selama menempuh pendidikan, Jero Wacik belajar dalam bidang Teknik mesin dan berada di Fakultas Ekonomi UI. Setelah bergabung dalam partai usungan SBY, pada akhirnya membawanya menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2004-2009 dan menjabat Menteri Energi dan sumber Daya Mineral periode 2011-2014.

Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim simpati, tuturan dapat mengungkapkan rasa simpati terhadap yang dialami mitra tutur. Hal ini terlihat pada tuturan Dewi Ariyani yang mengandung maksim simpati karena telah memberikan simpati dalam bentuk pemberian pendapat terhadap kasus yang menimpa Jero Wacik. Rasa simpati terlihat dalam kalimat Kesalahan Jero Wacik mungkin tidak seratus persen kesalahan dia”.

Tuturan ke (13) juga sama dengan tuturan ke (11) yang mencoba mengungkapkan pendapat yang diucapkan oleh Uchok mengenai keistimewaan

dalam anak pejabat dalam tes CPNS. Daya ungkap dapat dilihat melalui penanda ekstralingual berupa kalimat “Keistimewaan anak pejabat terbukti hanya menghancurkan pribadi dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan”.Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapanbahwa pemaksaan anak pejabat untuk diterima sebagai pegawai ke dalam struktur pemerintahan hanya akan merusak sistem. Seperti apabila anak pejabat itu tidak mampu bekerja dan melanggar aturan, tentu tidak akan ada atasan yang berani menegur dan menjatuhkan sanksi. Seperti kasus yang dialami anak pejabat yang diam-diam mengikuti tender proyek pemerintahan yang dilakukan putra mantan Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan, tak ada satupun kementerian berani menolak. Pada akhirnya dugaan korupsi pun terungkap dan kini harus dibawa ke pengadilan.

Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan menurut Leech dalam Pranowo (103:2012) yaitu maksim kebijaksanaan, tuturan dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Uchok mengandung maksim kebijaksanaan karena telah memberikan keuntungan dalam bentuk pemberian pendapat mengenai diistimewakannya anak pejabat dalam tes CPNS yang akan menghancurkan pribadi dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan.

Berdasarkan kelima contoh di atas dapat disimpulkan bahwa daya ungkap memiliki ciri khas yang digunakan yaitu berisi pendapat dan masukan kepada mitra tutur. Selain itu, daya ungkap juga memberikan keuntungan kepada mitra tutur karena tuturannya dapat dijadikan pedoman atau masukan mitra tutur, seperti

pada tuturan (DB.34/BPKK/06-09-2014) dan (DB.104/BPKK/24-10-2014). Ada juga tuturan dalam daya ungkap yang dianggap sebagai tuturan santun karena mengungkapkan simpati terhadap mitra tutur, seperti pada tuturan (DB.30/BPKK/06-09-2014)dan(DB. 35/BPKK/07-09-2014). Sedangkan pada (DB.22/BPKK/03-09-2014) lebih mengungkapkan rasa pujian penutur terhadap mitra tutur.