BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data
4.2.2 Analisis Penanda Intralingual dan Ekstralingual dalam Nilai
4.2.2.1 Nilai Rasa Halus
Nilai rasa halus adalah kadar rasa atau perasaan bahasa yang digunakan penutur untuk memperhalus tuturannya, sehingga mitra tutur dapat menyerap kadar rasa yang ada dalam tuturan. Nilai rasa halus ditunjukan melalui rasa hormat (menggunakan kata yang bernilai rasa hormat seperti: mas, ibu, pak, mbah, beliau, dll), rasa sopan, rasa terima kasih, rasa syukur, rasa rendah hati, dan rasa religius. Berikut ini disajikan tuturan yang mengandung nilai rasa halus. 4.2.2.1.1 Nilai Rasa Hormat
Nilai rasa hormat adalah kadar rasa atau perasaan bahasa yang digunakan penutur untuk menghormati mitra tutur, sehingga mitra tutur dapat menyerap kadar rasa yang ada dalam tuturan. kehalusan itu dapat dirasakan melalui penggunaan kata-kata yang bernilai rasa hormat seperti: mbah, mas, ibu, pak, almarhum, meninggal dunia, dll. Seperti dalam tuturan yang disajikan berikut.
1. “ Ada pembatalan pelantikan beberapa caleg terpilih akibat meninggal dunia dan mengundurkan diri”. (BPKK, 03/09/014) (Konteks:Tuturan diucapkan oleh penutur untuk menanggapi pelantikan caleg terpilih. Penutur memiliki pengetahuan lama bahwa pelantikan tidak dapat dilakukan apabila calon yang dilantik mengalami suatu kejadian, seperti meninggal dunia.)
2. “ Mbah Moen menerima hasil muktamar dan mengatakanbahwa itu adalah takdir Allah SWT.” (BPKK, 19/10/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Emron Pangkapi salah seorang farmatur yang menanggapi keputusan hasil Muktamar VIII di Surabaya yang menghasil bahwa PPP bergabung dengan mendukung pemerintah.)
Tuturan (1) mencoba memperlihatkan rasa hormat dengan mengungkapkan kata “meninggal dunia” bagi seseorang yang meninggal dan mengakibatkan pelantikan tidak dapat dilakukan karena calon yang akan dilantik mengalami kejadian seperti “meninggal dunia”. Nilai rasa hormat dapat dilihat dengan penanda intralingual berupa diksi ”meninggal dunia”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa untuk menyebut seseorang yang meninggal adalah menggunakan diksi “meninggal dunia” bukan diksi “mati” yang biasanya disebutkan untuk hewan. Selain itu caleg yang meninggal pada saat pelantikanakan dibatalkan pelantikannya. Suasana haru juga menyertai konteks tuturan tersebut.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (104:2012) yakni penggunaan diksi santun. Dalam konteks ini, tuturan yang diucapkan dalam mengungkapkan penghormatannya menggunakan diksi “meninggal dunia” karena kata tersebut dipersepsi sebagai kata yang halus untuk menyebut seseorang yang meninggal atau sudah tiada dari pada menggunakan diksi “mati”.
Tuturan (2) mencoba memperlihatkan rasa hormat dengan menyebutkan mitra tutur dengan menggunakan diksi”Mbah”. Hal ini dikarenakan mitra tutur
yang usianya sudah 86 tahun. Daya hormat dapat dilihat dengan penanda intralingual berupa diksi “Mbah”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa Ketua Majelis Syariah PPP KH Maimun Zubair sekarang sudah berusia 86 tahun. Beliau merupakan seorang ulama dan politikus. Penutur juga memiliki pengetahuan lama bahwa di Indonesia sangat kental dengan budayanya. Maka kepada seseorang yang lebih tua usianya harus memanggilnya dengan sebutan yang sopan. Hal ini untuk menghormati seseorang yang lebih tua dari pada kita.
Tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (104:2012) yakni penggunaan diksi santun. Dalam konteks ini, tuturan Emron Pangkapi yang diucapkan dalam mengungkapkan penghormatannya menggunakan diksi “Mbah” karena kata tersebut dipersepsi sebagai kata yang halus untuk menyebut seseorang yang lebih tua, karena usia Maimun yang sudah 86 tahun.
Berdasarkan kedua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa tuturan yang bernilai rasa hormat merupakan tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip Pranowo (104:2012) yakni penggunaan diksi santun. Seperti pada contoh (NR.14/BPKK/03-09-2014) yang menggunakan diksi “meninggal dunia” yang lebih santun dari pada “mati”. Selain itu pada contoh (NR.76/BPKK/09/10/2014) yang menggunakan diksi “mbah” yang lebih santun dari pada menyebutkan namanya karena beliau sudah berusia 86 tahun. Selain itu, nilai rasa bahasa juga dapat dimunculkan melalui penanda intralingual berupa kalimat dan penanda ekstralingual berupa pengetahuan umum dan fenomena konteks.
4.2.2.1.2 Nilai rasa terima kasih
Nilai rasa terima kasih adalah kadar rasa atau perasaan bahasa yang digunakan oleh penutur untuk mengungkapkan rasa terima kasih sehingga mitra tutur dapat menyerap kadar rasa yang ada dalam tuturan. Tuturan tersebut disajikan sebagai berikut :
3. “ Kami mengucapkan terima kasih atas semua itu” (BPKK, 20/10/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh penutur untuk menanggapi pelepasan SBY di pintu gerbang Istana. Hubungan baik yang dijalin SBY dengan PKB selama 10 tahun menjabat sebagai presiden perlu dilanjutkan. Penutur memiliki penegtahuan lama bahwa selama menjabat sebagai presiden Yudhoyono telah memperhatikan lembaga pendidikan yang dikelola NU).
4. “ Terima kasih sudah membantu saya” (BPKK, 21/10/2014)
(Konteks:Tuturan diucapkan Ny Herawati Boediono yang menanggapi
perlakuan ajudan wapres terhadap dirinya ketika datang
menjemputnya untuk menghadiri pelantikan presiden periode 2014-2019. Penutur memiliki pengetahuan lama bahwa selama masa jabatannya mendampingi Pak Boediono sebagai Wakil Presiden, keempat ajudan utusan pemerintahan pun sudah bekerja dengan baik dan banyak membantu penutur dalam melakukan segala kegiatan pemerintahan.)
Tuturan (3) mencoba memperlihatkan rasa terima kasih yang diucapkan oleh penutur untuk Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memimpin bangsa selama 10 tahun ini. Nilai rasa terima kasih dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “ Kami mengucapkan terima kasih atas semua itu”yang diperkuat dengan klausa “ kami mengucapkan terima kasih” yang dipersepsi sebagai ungkapan terima kasih. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa selama 10 tahun Yudhoyono menjabat sebagai presiden, beliau mendukung program-program sosial-ekonomi untuk pesantren, madrasah, dan omunitas pedesaan. Selain itu, selama kepemimpinannya kader NU juga dipercaya mengisi sejumlah kementerian hingga jadi mediator bagi kerukunan antar umat beragama.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Leech dalam Pranowo (103:20120) yakni maksim pertimbangan, tuturan mengungkapkan rasa senang kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan penutur sesuai dengan maksim pertimbangan karena penutur mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Seperti yang dituturkan dengan kalimat “ Kami mengucapkan terima kasih atas
semua itu”. Ungkapan rasa terima kasih itu dipersepsi sebagai bentuk rasa senang
karena Susilo Bambang Yudhoyono telah memimpin negara selama 10 tahun dengan baik dan penuh kerja keras.
Tuturan (4) juga mencoba memperlihatkan rasa terima kasih Ny Herawati atas perlakuan ajudan yang sudah membantu dirinya selama menjabat sebagai Ibu
Wakil Preisden periode 2009-2014. Nilai rasa terima kasih dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “ Terima kasih sudah membantu saya”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa selama masa jabatannya mendampingi Pak Boediono sebagai Wakil Presiden, keempat ajudan utusan pemerintahan pun sudah bekerja dengan baik dan banyak membantu penutur dalam melakukan segala kegiatan pemerintahan.
Tuturan tersebut dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai denganprinsip kesantunan Leech dalam Pranowo (103:20120) yakni maksim pertimbangan, tuturan mengungkapkan rasa senang kepada mitra tutur. Dalam konteks ini, tuturan Ny Herawati Boediono sesuai dengan maksim pertimbangan karena penutur mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada ajudan negara. Seperti dituturkan dengan kalimat “Terima kasih sudah membantu
saya”.Ungkapan rasa terima kasih itu dipersepsi sebagai bentuk rasa senang
karena sudah mengawalnya selama 5 tahun ini.
Berdasarkan kedua tuturan di atas dapat disimpulkan bahwa tuturan yang bernilai rasa terima kasih merupakan tuturan yang santun, karena sesuai dengan prinsip Leech dalam Pranowo (103:2012) yakni maksim pertimbangan, tuturan mengungkapkan rasa senang kepada mitra tutur. Misalnya pada contoh pertama
(NR.56/BPKK/20-10-2014) terdapat kalimat “kami mengucapkan terima kasih
atas semua itu” dalam kalimat yang dirasa santun karena penutur
mengungkapkan rasa senang dengan mengucapkan terima kasih kepada mitra tutur. Selain itu pada contoh kedua (NR.60/BPKK/21-10-2014) terdapat klausa
“terima kasih sudah membantu..” dalam kalimat yang dirasa santun karena penutur mengungkapkan rasa senang dengan mengucapkan terima kasih kepada mitra tutur.
4.2.2.1.3 Nilai rasa syukur
Nilai rasa syukur adalah kadar rasa atau perasaan bahasa yang digunakan penutur untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan sehingga mitra tutur dapat menyerap rasa yang ada dalam tuturan. Berikut ini akan disajikan beberapa tuturan yang mengandung rasa syukur sebagai berikut:
5. “Selesai sudah, hari ini adalah puncak. Kami ucapkan puji syukur” (BPKK, 21/10/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Ketua Makin Kota Tegal Gyiong Gyiong yang menanggapi sembahyang besar sebagai ungkapan syukur atas terealisasinya persoalan bangsa dalam pemilu presiden. Acara ini diikuti sekitar 40 orang dan dilaksanakan pada Senin sekitar pukul 09.00.)
Tuturan tersebut mencoba memperlihatkan rasa syukur Gyiong-Gyiong atas selesainya acara sembahyang syukuran pelantikan besar sebagai ungkapan syukur atas terealisasinya persoalan bangsa dalam pemilu presiden. Nilai rasa syukur dapat dilihat dengan penanda intralingual berupa kalimat “Kami ucapkan puji
syukur”yang diperkuat dengan diksi “Puji syukur”.Penanda ekstralingual
dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa adanya sembahyang besar sebagai ungkapan syukur atas terealisasinya persoalan bangsa dalam pemilu presiden. Acara ini diikuti sekitar 40 orang dan dilaksanakan pada
Senin sekitar pukul 09.00. Selain itu, suasana yang terkandung dalam konteks tuturan adalah suasana bahagia dan syukur.
Tuturan di atas dianggap sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (104:2012) yaitu sikap rendah hati. Kalimat tersebut dipersepsi sebagai ungkapan rendah hati dari Gyiong-Gyiong kepada Tuhan yang ditandai dengan kata “Puji Syukur”
Berdasarkan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa nilai rasa syukur merupakan nilai rasa yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (104:2012) yakni sikap rendah hati. Seperti pada contoh (NR.62/BPKK/21-10-2014) sikap rendah hati ditunjukan melalui penggunaan kata
“Puji syukur”yang diucapkan oleh Gyiong-Gyiong. Kata “puji syukur” adalah
bentuk ungkapan syukur untuk menunjukan kerendahan hati Gyiong-Gyiong kepada Tuhan atau tidak sombong karena telah diberikan kelancaran acara. Selain itu penanda intralingual dapat dimunculkan melalui penanda intralingual berupa kalimat, sedangkan penanda ekstralingual berupa fenomena konteks selalu menyertai tujuan.
4.2.2.1.4 Nilai rasa rendah hati
Nilai rasa rendah hati adalah kadar rasa atau perasaan di dalam bahasa yang digunakan penutur untuk mengungkapkan kerendahan hati, sehingga mitra tutur dapat menyerap kadar rasa yang ada dalam tuturan. Dalam berita politik hanya ada satu tuturan yang mengandung nilai rasa rendah hati, yaitu:
6. “ Saya pilih sendiri pakaian saya, yang penting nyaman, pas di badan, enak dilihat.” (BPKK, 20/10/2014)
(Konteks: Tuturan diucapkan oleh Ibu Negara Iriana yang menanggapi penampilannya sebagai Ibu Negara. Sosok bu Iriana yang sederhana dan apa adanya seperti pakaian yang dipakainya adalah kain yang berasal dari Solo).
Tuturan tersebut mencoba memperlihatkan rasa rendah hati Ibu Iriana Jokowi atas penampilannya yang sederhana dan lebih sering menggunakan pakaian yang kainnya berasal dari Solo. Nilai rasa rendah hati dapat dilihat melalui penanda intralingual berupa kalimat “ Saya pilih sendiri pakaian saya, yang penting nyaman, pas di badan, enak dilihat.”. Penanda ekstralingual dimunculkan melalui konteks berupa fenomena praanggapan bahwa Sosok Ibu Iriana yang sederhana dan apa adanya, seperti pakaian yang dipakainya adalah kain yang berasal dari Solo. Bahkan, untuk tas yang digunakan beliau tetap menggunakan tas produksi usaha kecil dan menengah dari Solo.
Tuturan di atas dipersepsi sebagai tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (104:2012) yaitu sikap rendah hati. Dalam konteks ini kerendahan hati Ibu Iriana dapat dirasakan ketika dirinya berkata “…yang
penting nyaman, pas di badan, enak dilihat.”.Hal ini membuktikan bahwa sosok
Ibu Iriana tidak memaksakan untuk memakai pakaian yang mahal, namun lebih pada yang pas dan enak dilihat.
Berdasarkan contoh di atas dapat disimpulkan bahwa tuturan yang mengandung nilai rasa rendah hati merupakan tuturan yang santun karena sesuai dengan prinsip kesantunan Pranowo (104:2012) yaitu sikap rendah hati. Selain itu, ciri lain dari sikap rendah hati pada contoh tuturan (NR.58/BPKK/20-10-2014) mitra tutur dapat menyerap kadar rendah hati dari penutur. kerendahan hati penutur dapat dirasakan ketika penutur mengatakan “…yang penting nyama, pas di badan, enak dilihat”. Rasa rendah hati dapat dimunculkan melalui penanda intralingual kalimat dan penanda ekstralingual berupa fenomena konteks praanggapan.