• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Defenisi operasional variabel

Untuk menghindari kesalah pahaman dan untuk menyamakan presepsi, maka terlebih dahulu penulis mengemukakan defenisi variabel penelitian agar tidak terjadi penafsiran yang keliru.

1. Studi Psikologi pendidikan adalah tinjauan tertulis tentang bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan bagaimana siswa belajar dan berkembang.

2. Perilaku guru adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek.Guru sebagai pendidik propesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing dan mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam pendidikan ,anak usia

dini, jalur pendidikan formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku guru yang adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Penentuan jumlah populasi dalam suatu penelitian merupakan salah satu langkah penting karena dalam populasi diharapkan diperoleh data yang diperlukan. Untuk mengetahui secara jelas populasi yang akan dijadikan objek penelitian, terlebih dahulu penulis mengemukakan pengertian populasi menurut Suharsimi Arikunto (2002:108)

“Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupaka penelitian populasi. Jika kita haya akan meneliti sebagaian dari populasi, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersenut disebut penelitian sampel”

R. Margono, (2007 : 106) menjelaskan bahwa ‘Populasi adalah Seluruh data yang menjadi perthatian penelitian dalam suatu ruang lingkup dalam waktu yang ditentukan, menurutnya populasi’.

Sedangkan Sugiono (2003: 90) mengemukakan populasi adalah

“Wilayah generalisasi yang tersiri atas objek, subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang dikatakan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”.

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dijadikan sumber data yang memiliki karakteristik penelitian yang terdapat di lokasi penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru dan siswa di SD Inpres Parasangan beru Kec. Bangkala Barat Kab Jeneponto. Dengan jumla h siswa adalah 159 jumlah guru nya adalah 9 Dalam hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel I Keadaan Populasi

Sumber data : hasil observasi awal data dokumentasi SD inpres parasangan beru kec.Bangkala Barat Kab. Jeneponto Tahun 2013-2014.

2. Sampel

Untuk memudahkan peneliti dalam melakukan proses pengumpulan data, maka peneliti perlu membatasi jumlah subjek penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis mengacu kepada prinsip penentuan

No. Guru dan Siswa Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki perempuan

1. Guru 2 7 9

2. Siswa Kelas I 14 11 25

Siswa Kelas II 14 12 26

Siswa Kelas III 15 15 30

Siswa Kelas IV 15 14 29

Siswa Kelas V 12 11 23

Siswa Kelas VI 13 13 26

Jumlah 85 83 168

sampel penelitian yang dikemukakan Suharsimi Arikunto, (2002: 139) bahwa sampel adalah “bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti)”.

Sedangkan menurut Margono, (2007: 99) sampel adalah “bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Pada dasarnya penentuan sampel dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi atau keterangan-keterangan mengenai hal yang diteliti dengan cara meneliti sebagian populasi yang telah dipilih dan dianggap dapat mewakili semua populasi yang ada.

Dari uraian d iatas maka tekhnik yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah tekhnik purposive sampling yakni pengambilan sampel dilakukan secara langsung kepada semua guru dan pada siswa kelas VI dengan pokok pikiran bahwa :

Kelas VI merupakan tingkat kelas di SD Inpres Parasangan beru Kec.

Bangkala Barat Kab. Jeneponto yang memiliki tingkat kemampuan yang tinggi mampu merespon penelitian ini dan memiliki tingkat pembelajaran yang sudah maksimal.

Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu jumlah guru 9 dan siswa kelas VI 26 orang untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel II Keadaan Sampel

No. Guru dan Siswa Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan

1. Guru 2 7 9

2. Siswa Kelas VI 13 13 26

Jumlah 15 20 35

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat bantu atau fasilitas yang digunakan dalam penelitian.

Adapun instrumen yang penulis akan pergunakan dalam penelitian untuk mengetahui studi psikologi pendidikan tentang perilaku Guru di SD Inpres Parasangan beru Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto. Tersebut terdiri atas pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, dan cacatan dokumentasi.

1. Pedoman observasi

Alat ini dimaksudkan adalah pengamatan dan pencacatan secara sistematis terhadap fenomena atau gejala-gejala pada objek penelitian. Atau cara pengumpulan data dengan mengamati lengsung kelapangan.

2. Pedoman wawancara

Penelitian yang tujuan nya untuk memperolh data atau keterangan secara langsung dari instrumen. Wawancara sering pula di sebut intervie, yaitu pengumpulan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secaa lisan untuk di jawab secara lisan pula.

3. Catatan Dokumentasi

Dokumentasi ialah pengambilan data yang di peroleh melalui arsip dan dokumen-dokumen yang di lakukan untuk melakukan data yang ada hubungannya dengan penelitian tersebut.

G. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini maka penulis menggunakan metode pengumpulan data. Dalam hal ini penulis mengumpulkan data dengan menggunakan metode sebagai berikut:

1. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara saksama dan sistematis mengenai gejal-gejala yang akan diteliti.

2. Wawancara, yaitu melakukan wawancara secara langsung kepada guru dan siswa atau pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini.

3. Dokumentasi, yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen atau sumber-sumber yang berkaitan dengan objek penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Analis terhadap data penelitian dilakukan bertujuan untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis deskiriptif dan analisis inferensial.

Menurut Arikunto, (2002: 246) analisis deskriptif yaitu:

Teknik analisis data yang digunakan untuk menggambarkan data hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode pengolahan data menurut sifat kuantitatif sebuah data. Analisis statistic deskriptif disini digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

Dalam penulisan skripsi ini, peneliti menggunakan tehnik Analisis data Deskriptif Kualitatif dalam bentuk:

1. Analisis Induktif: Tehnik analisis bentuk ini merupakan tehnik berfikir atau menganalisis data dengan memulai dari masalah dan hal-hal yang bersifat khusus, kemudian melakukan analisis terhadap data tersebut sampai menarik kesimpulan secara umum.

2. Deduktif: tehnik analisis bentuk ini merupakan tehnik berfikir atau menganalisis data dengan memulai dari hal-hal yang bersifat umum, kemudian menuju pada penarikan kesimpulan secara khusus.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Objektif Lokasi Penelitian

1. Sejarah Berdirinya SD Inpres Parasangan Beru

SD Inpres Parasangan Beru Kec. Bangkala Barat Kab. Jeneponto didirikan pada tahun 1982, sekolah ini dibangun di atas tanah seluas 50 x 35 m² Sekolah yang berlokasi di Dusun parasangan Beru Desa Banrimanurung Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto ini, pada awalnya dinamakan sekolah Baru, karena belum adanya penomoran sekolah. Sejak dimulainya proses belajar mengajar pada tahun 1984, sekolah ini telah di pimpin oleh 1 orang kepala sekolah dengan berbagai kemajuan yang telah didapat dari masing-masing kepala sekolah yang memimpin.

Adapun yang pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SD Inpres Parasangan Beru adalah sebagai berikut :

a. Tahun 1984 – Tahun 1990 : Drs. Mahmud J.

b. Tahun 1990 –Tahun 1998 : Dra. Andi Layu c. Tahun 1998 – Tahun 2001 : Drs. Rj Sitti d. Tahun 2001 – Tahun 2005 : Dra. Syai Muda e. Tahun 2005 – Sampai Sekarang : St. Rahmatia S.Pd

35

2. Visi dan Misi a. Visi Sekolah

“Menjadi sekolah terpercaya dalam masyarakat untuk mencerdaskan bangsa dalam rangka mensukseskan wajib belajar”

b. Misi Sekolah

1. Menyiapkan generasi unggul yang memiliki potensi dibidang Imtaq dan Iptek

2. Membentuk sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, sesuai dengan perkembanan zaman.

3. Membangun citra sekolah sebagai mitra terpercaya dimasyarakat.

3. Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan SD Inpres Parasangan Beru

Tabel 3

Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan SD Inpres Parasangan Beru Tahun Pelajaran 2013/2014

No NAMA GURU Status Peg. MENGAJAR

BIDANG STUDI 1 Hj. St ,Rahmatia S.Pd PNS Bahasa Indonesia 2 Abdul Malik S.Pd

PNS Matematika

3 Sanniasa S.Pd

PNS Guru Kelas

4 Yanti S.Pd Honorer Guru Kelas

5 Patta Enre A.Ma Honorer Guru Kelas

6 Sudirman S.Pd Honorer Olahraga

7 Sudarni S.Pd PNS Guru Kelas

8 Sarianti A.Ma

Honorer Guru Kelas 9 Samaria A.Ma

Honorer PAI

Sumber: Kantor Tata Usaha SD Inpres Parasangan Beru

4. Kedaan Siswa SD Inpres Parasangan Beru

Siswa yang menjalani proses belajar di SD Inpres Parasanga Beru Kec.Bangkala Barat kab. Jeneponto. saat ini sebanyak 107 orang yang terbagi dalam 6 kelas.

Tabel 4

Keadaan Siswa SD Inpres Parasangan Beru

KELAS JUMLAH SISWA

JUMLAH

Lk Pr

I 14 11 25

II 14 12 26

III 15 15 30

IV 15 14 29

V 12 11 23

VI 13 13 26

JUMLAH 83 76 159

Sumber: Kantor Tata Usaha SD Inpres Parasangan Beru 2014

5. Keadaan Sarana dan Prasarana SD Inpres Parasangan Beru

Sarana dan Prasarana belajar merupakan salah satu faktor pendukung dalam mewujudkan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Menurut Abdul Majid (2008: 167-168) bahwa lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran.

lingkungan fisik yang dimaksud adalah:

1. Ruang tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus memungkinkan semua siswa bergerak dengan leluasa, tidak berdesak-desakan dan tidak saling mengganggu antara siswa pada saat melakukan aktifitas belajar.

2. Pengaturan tempat duduk. Pengaturan tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka sehingga guru dapat mengontrol tingkah laku siswa.

3. Ventilasi dan pengaturan cahaya. Hal ini penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman.

4. Pengaturan penyimpanan barang-barang. Barang-barang atau sarana belajar hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.

Adapun keadaan sarana dan prasarana di SD inpres Parasangan Beru Kec. Bangkala Barat Kab. Jeneponto sebagai berikut:

Tabel 5

Keadaan Sarana dan Prasarana SD Inpres Parasangan Beru

No Jenis Gedung Keadaan Jumlah

Baik Buruk

1 Ruangan belajar Baik _ 6

2 Ruangan Kantor Baik _ 1

3 Ruangan Kepala Sekolah

Baik _ 1

4 Ruangan Guru Baik _ 1

5 Ruangan Tu Baik _ 1

6 Ruangan Perpustakaan Baik _ 1

Sumber: Kantor Tata Usaha SD Inpres Parasangan Beru

B. Perilaku Guru Menurut Tinjauan Psikologi Pendidikan

Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebar luaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik memberikan informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46).

Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya memberikan kan

informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik atau guru untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik atau guru harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik. Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan

kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik

Menurut Thursthoen dalam Walgito (1990: 108) bahwa:

Sikap/prilaku adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek”.

Berkowitz, dalam Azwar (2000: 5) mengatakan bahwa:

Menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), melaksanakan atau menjauhi/menghindari sesuatu.

Sedangkan menurut M. Yamin Abdullah (2005: 12) bahwa:

Perilaku sebagai ilmu yang mempelajari baik dan buruk . jadi, bisa dikatakan perilaku berfungsi sebagai teori perbuatan baik dan buruk (ethis atau ‘ilm al-ahlaq al-karimah)”.

Perilaku dapat dipakai dalam arti nilai yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok atau mengatur tingkah lakunya atau lazim

dikenal dengan istilah kode etika misalnya kode etika guru,kode etika pegawai negeri kode etika jurnalistik dan lain-lain.

Menurut Abd. Rahman Getteng, (2012: 55) bahwa:

Kata etika diidentikan dengan kepribadian yang berarti sifat hakiki seseorang yang tercermin kepada sikap dan perbuatannya yang membedakan dirinya dengan orang lain”.

.Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkan melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.

Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi.

Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Menurut Mulyasa, (2005: 20) kesalahan-kesalahan itu antara lain:

1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, 2. Menunggu peserta didik berperilaku negatif, 3. Menggunakan destruktif discipline,

4. Mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,

5. Merasa diri paling pandai di kelasnya,

6. Tidak adil (diskriminatif), serta 7. Memaksakan hak peserta didik.

Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 Tentang Dosen dan Guru, yakni:

1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,

2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,

3. Kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,

Azwar, (2000: 15) mengatakan bahwa:

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan beri nteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respon hanya akan timbul, apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk, positif negati, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap.

Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menurut Azwar (2000: 16) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.

Menurut penuturan R.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya:

Pertama, menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes faktor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Kempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.

Terkait dengan hal di atas, dalam Ronnie, (2005: 62) hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki.

Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi.

Menurut Danni Ronnie M, (2005: 17-20) ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru, antara lain:

1. Kasih sayang, 2. Penghargaan,

3. Pemberian ruang untuk mengembangkan diri, 4. Kepercayaan,

5. Kerjasama, 6. Saling berbagi, 7. Saling memotivasi, 8. Saling mendengarkan,

9. Saling berinteraksi secara positif, 10. Saling menanamkan nilai-nilai moral, 11.

12. Saling mengingatkan dengan ketulusan hati, 13. Saling menularkan antusiasme,

14. Saling menggali potensi diri,

15. Saling mengajari dengan kerendahan hati, 16. Saling menginsiprasi,

17. Saling menghormati perbedaan.

Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap dan perilaku guru menurut tinjauan psikologi pendidikan yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didiknya, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni kasih sayang, penghargaan, pemberian ruang untuk mengembangkan diri, kepercayaan, kerjasama, saling berbagi, saling memotivasi, saling mendengarkan, saling berinteraksi secara positif, saling menanamkan nilai-nilai moral, saling mengingatkan dengan ketulusan hati, saling menularkan antusiasme, saling menggali potensi diri, saling mengajari dengan kerendahan hati, saling menginsiprasi, saling menghormati perbedaan.

C. Sikap Dan Perilaku Guru Di SD Inpres Parasangan Beru Menurut Tinjauan Psikologi Pendidikan.

Dalam keseluruhan proses pendidikan, khususnya proses pembelajaran di sekolah. Guru memang perang utama dan sangat penting.

sikap Dan perilaku guru dalam proses pendidikan dan belajar akan memberikan pengaruh yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadiaan anak didiknya, oleh karena itu sikap dan perilaku guru hendaknya dapat di kembangkan sedemikian rupa sehingga dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pengaruh baik kepada para anak didiknya.

sikap Dan perilaku guru merupakan kajian psikologi terhadap perilaku guru khususnya sikap Dan perilaku guru di SD Inpres parasangan beru menurut tinjauan psikologi pendidikan. beberapa aspek sikap Dan perilaku yang harus dipahami antara lain peranan kebutuhan dan motivasi serta kepribadian guru (termasuk cirri-ciri guru yang baik).

Menurut (Surya , 1997:108):

Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru mempunyai

peranan yang sangat luas baik disekolah, keluarga,dan masyarakat.

Disekolah guru sebagai perancang atau perencana, pengelolah pegajaran dan pengelolah hasil pembelajaran siswa. peranan guru disekolah ditentukan oleh kedudukanya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik serta sebagai pegawai. Yang paling utama adalah kedudukanya sebagai pengajar dan pendidik yakni sebagai guru. Berdasarkan kedudukanya sebagai guru, ai harus menunjukan perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh siswanya )

Dari sudut pandang psikologi sikap /perilaku guru adalah

1. Mampu mengaplikasikannya dalam melaksanakan tugas sebagai guru dan pendidik

2. Orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antara manusia khususnya siswa-siswa sehingga dapat mencapai

2. Orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antara manusia khususnya siswa-siswa sehingga dapat mencapai

Dokumen terkait