• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan Perpajakan

Dalam dokumen NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DA (Halaman 108-133)

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum

3.3 Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2007 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan

3.3.1 Penerimaan Dalam Negeri

3.3.1.1 Penerimaan Perpajakan

Dalam periode 2005–2007, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, yaitu dari Rp347,0 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp409,2 triliun pada tahun 2006, dan Rp491,0 triliun pada tahun 2007. Secara rata-rata, dalam kurun waktu tiga tahun tersebut, penerimaan perpajakan meningkat sebesar 18,9 persen. Dengan semakin meningkatnya penerimaan perpajakan, maka peranan perpajakan sebagai salah satu sumber pendapatan negara menjadi semakin penting. Hal ini dapat ditunjukkan dari besarnya kontribusi penerimaan perpajakan terhadap pendapatan negara dan hibah yang dalam periode 2005–2007 rata-rata mencapai 68,0 persen. Sejalan dengan itu, kemampuan Pemerintah dalam memungut pajak juga menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari semakin besarnya rasio penerimaan perpajakan terhadap PDB (tax ratio). Pada tahun 2005 tax ratio

mencapai sekitar 12,5 persen, kemudian ditargetkan meningkat menjadi 13,4 persen dalam tahun 2008. Perkembangan tax ratio selama periode 2005–2007 dan perkiraan tahun 2008 dapat dilihat pada Grafik III.1.

Penerimaan Dalam Negeri 779,2 892,0 19,9 959,5 20,3 107,6

1. Penerimaan Perpajakan 592,0 609,2 13,6 633,8 13,4 104,0

a. Pajak Dalam Negeri 570,0 580,2 12,9 599,2 12,7 103,3

i. Pajak penghasilan 306,0 305,0 6,8 318,0 6,7 104,3

1. Migas 41,6 53,6 1,2 62,1 1,3 115,8

2. Nonmigas 264,3 251,4 5,6 255,9 5,4 101,8

ii. Pajak pertambahan nilai 187,6 195,5 4,4 199,8 4,2 102,2

iii. Pajak bumi dan bangunan 24,2 25,3 0,6 25,5 0,5 101,0

iv. BPHTB 4,9 5,4 0,1 5,5 0,1 101,8

v. Cukai 44,4 45,7 1,0 47,0 1,0 102,7

vi. Pajak lainnya 2,9 3,4 0,1 3,3 0,1 99,2

b. Pajak Perdagangan Internasional 22,0 29,0 0,6 34,7 0,7 119,6

i. Bea masuk 17,9 17,8 0,4 19,8 0,4 111,1

ii. Bea keluar 4,1 11,2 0,2 14,9 0,3 133,2

2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 187,2 282,8 6,3 325,7 6,9 115,2

a. Penerimaan SDA 126,2 192,8 4,3 229,0 4,8 118,8

i. Migas 117,9 182,9 4,1 219,1 4,6 119,8

ii. Nonmigas 8,3 9,8 0,2 9,9 0,2 100,3

b. Bagian Laba BUMN 23,4 31,2 0,7 35,0 0,7 112,2

c. PNBP Lainnya 37,6 58,8 1,3 61,7 1,3 105,0

Sumber : Departemen Keuangan

% thd PDB % thd

PDB

Tabel III.2

Penerimaan Dalam Negeri, 2008 (triliun rupiah) Realisasi APBN Uraian APBN-P % thd APBN-P Perkiraan

Selanjutnya, apabila dilihat dari komponen penyumbangnya, penerimaan perpajakan terdiri dari pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Dalam periode 2005-2007, pajak dalam negeri berhasil memberikan kontribusi sebesar 96,0 persen terhadap total penerimaan pajak selama tiga tahun, sedangkan pajak perdagangan internasional memberikan kontribusi sebesar 4,0 persen.

Sementara itu, dari realisasi penerimaan perpajakan sebesar Rp491,0 triliun dalam tahun 2007, Rp470,1 triliun atau 95,7

persen dari jumlah tersebut merupakan kontribusi dari pajak dalam negeri, sisanya Rp20,9 triliun atau 4,3 persen merupakan kontribusi dari pajak perdagangan internasional. Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2006 yang mencapai Rp409,2 triliun, penerimaan perpajakan pada tahun 2007 meningkat sebesar Rp81,8 triliun atau 20,0 persen. Meningkatnya penerimaan perpajakan ini didukung oleh meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri sebesar 18,7 persen dan pajak perdagangan internasional sebesar 58,2 persen. Dalam tahun 2008, penerimaan perpajakan diperkirakan mencapai Rp633,8 triliun atau 104,0 persen dari target APBN-P. Secara umum, lebih tingginya penerimaan perpajakan dalam tahun 2008 tersebut didukung oleh keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan perpajakan dan reformasi sistem administrasi perpajakan yang telah dilakukan secara intensif dan adanya perkembangan dari beberapa asumsi ekonomi makro. Salah satu kebijakan perpajakan yang dinilai berhasil adalah kebijakan intensifikasi yang dilakukan melalui kegiatan penggalian potensi perpajakan. Kegiatan penggalian potensi perpajakan ini dilakukan melalui pembuatan mapping, profiling, benchmarking WP penentu penerimaan di setiap kantor pelayanan pajak (KPP), dan penggalian secara sektoral, khususnya pada sektor-sektor yang

booming, yaitu industri kelapa sawit dan batubara. Sementara itu, di sisi perkembangan

ekonomi makro, tingginya inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah membawa dampak positif bagi penerimaan perpajakan. Tingginya inflasi menyebabkan harga-harga di pasar domestik naik dan selanjutnya meningkatkan nilai dari transaksi bisnis yang pada gilirannya meningkatkan penerimaan PPN dan PPnBM. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang diperkirakan akan terdepresiasi atau lebih rendah dari asumsi dalam APBN-P 2008, menyebabkan penerimaan bea masuk dan bea keluar akan meningkat.

Kebijakan Umum Perpajakan

Dalam periode 2005–2008, kebijakan umum perpajakan lebih diarahkan untuk perluasan basis pajak, peningkatan pelayanan, pengurangan beban pajak melalui peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dan pemberian fasilitas pajak pada dunia usaha tanpa mengganggu pencapaian target penerimaan perpajakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah terus melakukan langkah-langkah pembaharuan serta penyempurnaan kebijakan dan administrasi perpajakan (tax policy and administration reform). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa peranan penerimaan perpajakan dewasa ini menjadi sangat penting dalam menopang keberlangsungan APBN. Beberapa langkah pembenahan yang telah dan akan terus dilakukan oleh Pemerintah antara lain sebagai berikut:

Grafik III.1

T ax Ratio dan Pertum buhan Penerim aan Perpajakan, 2005—2008 12,5 12,3 12,4 13,4 2 9 ,1 2 3 ,7 1 7 ,9 2 0,0 11 12 13 14 15 2005 2006 2007 2008 T a x R a ti o 0 5 10 15 20 25 30 35 P er se n

(1)program intensifikasi; (2) program ekstensifikasi; dan (3)modernisasi kantor pelayanan pajak dan kepabeanan.

Program intensifikasi yang telah mulai dilakukan sejak tahun 2004 antara lain dilakukan melalui beberapa kegiatan sebagai berikut: (1) mapping; (2) profiling wajib pajak;

(3) benchmarking; (4) aktivasi wajib pajak nonfiler; (5) pemantauan kepatuhan WP orang

pribadi potensial; (6) pemanfaatan data pihak ketiga; dan (7) optimalisasi pemanfaatan data perpajakan. Mapping bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum potensi perpajakan dan keunggulan fiskal di wilayah masing-masing kantor/unit kerja yang digunakan sebagai petunjuk dan sarana analisis dalam rangka penggalian potensi penerimaan, pelayanan, dan pengawasan. Pada tahun 2007, seluruh kantor pelayanan pajak (KPP) telah mulai melakukan mapping dan akan terus disempurnakan. Selanjutnya,

profiling bertujuan untuk menyajikan informasi fiskal WP secara individu, mengukur tingkat

risiko dan kepatuhan WP, mengenal WP yang terdaftar di unit kerjanya, memonitor perkembangan usaha WP, melakukan pengawasan, penggalian potensi, dan pelayanan yang lebih baik. Dalam tahun 2007 telah dimulai pembuatan profiling di masing-masing KPP untuk periode tahun pajak 2002 sampai dengan 2006. Di dalam tahun 2008, kegiatan

profiling difokuskan pada pemantapan profile WP. Program intensifikasi berikutnya

dilakukan melalui benchmarking dan optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP).

Benchmarking merupakan proses pembuatan ukuran atau besaran suatu kegiatan yang

wajar dan terbaik yang digunakan sebagai ukuran standar. OPDP adalah uji silang (data

matching) laporan satu wajib pajak dengan seluruh wajib pajak lainnya. Uji silang ini

mencakup seluruh jenis pajak yang meliputi data SPT, faktur pajak, bukti potong PPh, daftar pemegang saham, jumlah harta, dan data pembayaran pajak, sehingga dapat diketahui keseluruhan potensi WP. Penggalian potensi WP tersebut dilakukan dengan himbauan, konseling, dan pemeriksaan.

Sementara itu, program ekstensifikasi yang merupakan perluasan basis perpajakan (penambahan WP) dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak dilakukan melalui tiga pendekatan. Ketiga pendekatan tersebut adalah (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendaharawan pemerintah dengan sasaran antara lain meliputi karyawan, pegawai negeri sipil (PNS), dan pejabat negara; (2) pendekatan berbasis properti, dengan sasaran orang pribadi yang melakukan usaha atau memiliki usaha di pusat perdagangan; dan (3) pendekatan berbasis profesi, dengan sasaran antara lain dokter, artis, pengacara, dan notaris. Program ekstensifikasi pada tahun 2007 telah berhasil menambah 1,7 juta WP baru. Selanjutnya, program modernisasi yang merupakan wujud pelaksanaan good governance,

dilakukan dengan strategi pelayanan prima, sekaligus pengawasan intensif kepada WP. Program modernisasi perpajakan antara lain dilaksanakan melalui hal-hal sebagai berikut: (1) reformasi struktur organisasi berdasarkan fungsi; (2) business process yang berorientasi pada pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi; (3) pembentukan data processing

center; (4) pengembangan sumber daya manusia; (5) pelaksanaan good governance; dan

(6) perbaikan kelembagaan yang mengarah pada konsep one stop service. Hasil dari program modernisasi tersebut, sampai dengan akhir 2007 Pemerintah telah memodernisasi 22 Kanwil dan 202 KPP yang terdiri dari 3 KPP WP Besar, 28 KPP Madya, dan 171 KPP Pratama di Jawa dan Bali. Dalam tahun 2008, seluruh kantor di luar Jawa dan Bali direncanakan akan dimodernisasi dengan dibentuknya 128 KPP Pratama untuk menggantikan seluruh kantor pelayanan pajak yang ada. Modernisasi kantor pelayanan

pajak tersebut telah menunjukkan hasil yang menggembirakan dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Di samping pembentukan kantor modern, program modernisasi ditandai dengan penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan perpajakan seperti

online payment, e-SPT, e-filling, e-registration dan sistem informasi DJP, kampanye sadar

dan peduli pajak, serta pengembangan bank data dan Single Identity Number.

Secara garis besar program modernisasi perpajakan bertujuan untuk mencapai empat sasaran yaitu sebagai berikut: (1) optimalisasi penerimaan yang berkeadilan, meliputi perluasan tax base dan stimulus fiskal; (2) peningkatan kepatuhan sukarela melalui pemberian layanan prima dan penegakan hukum secara konsisten; (3) efisiensi administrasi berupa penerapan sistem dan administrasi handal serta pemanfaatan teknologi tepat guna; serta (4) terbentuknya citra yang baik dan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, melalui kapasitas sumber daya manusia yang profesional, budaya organisasi yang kondusif, serta pelaksanaan good

governance.

Selain kebijakan modernisasi dan intensifikasi tersebut, Pemerintah dalam tahun 2008 juga menempuh kebijakan law enforcement dan sunset policy. Kebijakan law enforcement lebih diarahkan untuk pengungkapan tindak pidana di bidang perpajakan melalui kegiatan penyidikan. Sementara itu, kebijakan sunset policy memberikan beberapa keringanan kepada wajib pajak (WP) yang mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya dalam membayar PPh. Keringanan itu diberikan dalam dua skema. Pertama, pengurangan atau penghapusan sanksi administratif berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran PPh. Keringanan ini diberikan apabila pembetulan SPT Tahunan PPh sebelum tahun pajak 2007 yang mengakibatkan pajak yang harus dibayar menjadi lebih besar, dilakukan dalam jangka waktu satu tahun setelah berlakunya UU KUP N0mor 28 Tahun 2007. Kedua, penghapusan sanksi administrasi atas pajak yang tidak atau kurang dibayar untuk tahun pajak sebelum diperoleh NPWP dan tidak dilakukan pemeriksaan pajak kepada WP orang pribadi yang secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama satu tahun setelah berlakunya UU KUP N0mor 28 Tahun 2007.

Di bidang kepabeanan, Pemerintah antara lain telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) kebijakan harmonisasi tarif; (2) pembentukan beberapa kantor pelayanan utama (KPU) seperti Tanjung Priok dan Batam; serta (3) pengembangan national single window

(NSW). Sementara itu di bidang cukai, Pemerintah antara lain telah melakukan kebijakan kenaikan harga jual eceran (HJE) dan implementasi tarif spesifik.

Selain melaksanakan reformasi administrasi dan kebijakan perpajakan, untuk mengantisipasi dampak negatif dari kenaikan harga pangan dunia, pada tahun 2008 Pemerintah juga memberikan beberapa insentif perpajakan dalam kerangka pemberian subsidi pajak program stabilisasi harga (paket kebijakan stabilisasi harga – PKSH) dan subsidi pajak non-PKSH. Untuk subsidi pajak PKSH, Pemerintah memberikan subsidi pada terigu (Rp0,5 triliun), gandum (Rp1,4 triliun), dan minyak goreng (Rp3,0 triliun) dalam bentuk PPN ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Subsidi pajak tersebut diberikan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) yang dituangkan dalam paket kebijakan stabilisasi harga (PKSH) dan non-PKSH. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama tiga bulan pertama menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan yang tercermin dari kecenderungan kestabilan harga. Perkembangan harga komoditas pangan dunia selama lima tahun terakhir dapat dilihat dalam Grafik III.2.

Lebih lan jut, hasil survei m en un jukkan bahwa jika Pem erin tah m em berikan subsidi dalam ben tuk PPN DTP, m aka harga tepun g terigu, gan dum , m ie in stan , m ie basah, dan roti akan tur un . Un tuk pelaksan aan subsidi n on PSH , yaitu pem ber ian fasilitas bea m asuk, h an ya d ir esp on secar a p ositif oleh h ar ga tep u n g ter igu , sed an gkan m ie in stan t d an m ie basah m em berikan respon n egatif. Den gan kata lain , jika bea m asuk diturun kan atau dihapuskan , m aka h ar ga tepu n g ter igu akan tu r u n , sebalikn ya h ar ga m ie in stan , m ie basah , d an r oti tawar tidak akan turun . Den gan dem ikian , dari hasil survei dalam waktu tiga bulan tersebut d a p a t d is im p u lka n b a h wa p e m b e r ia n fa s ilit a s d a la m b e n t u k s u b s id i P P N DTP d a n pem bebasan / pen u r u n an bea m asu k secar a u m u m d apat ber pen gar u h pad a m en u r u n n ya h arga-h arga kom oditi tercakup.

P a ja k D a la m N e g e r i

Dalam kom p on en p en er im aan p er p ajakan , p ajak d alam n eger i m elip u t i PPh , PPN d an PPn BM, PBB, BPH TB, cukai, dan pajak lain n ya. Selam a periode 20 0 5– 20 0 7, pen erim aan pajak dalam n eger i m en in gkat sebesar Rp138 ,3 tr iliu n , yaitu dar i Rp331,8 tr iliu n dalam tahun 20 0 5 m en jadi Rp470 ,1 triliun dalam tahun 20 0 7. Secara rata-rata, pen erim aan pajak dalam n egeri dalam periode tersebut tum buh sebesar 19,0 persen . Dari seluruh jen is pajak yan g t er caku p d alam p ajak d alam n eger i, h am p ir selu r u h n ya m en galam i p er t u m bu h an yan g san gat sign ifikan dalam tahun 20 0 7 yaitu BPH TB tum buh 8 7,0 persen , PPN dan PPn BM 25,6 p er sen , cu kai 18 ,3 p er sen , d an p ajak lain n ya 19,7 p er sen . Tin ggin ya p er tu m bu h an pen erim aan BPH TB pada tah un 20 0 7 tersebut disebabkan oleh adan ya pem bayaran DTP Pertam in a sebesar lebih dari Rp1,5 triliun , sebagai akibat dari perubahan status Pertam in a m en jadi perseroan terbatas (PT). Di sisi lain , PPh dan PBB han ya m en galam i pertum buhan sebesar 14,2 persen dan 13,7 persen . Pertum buhan dari tiap-tiap jen is pajak dalam periode 20 0 5– 20 0 7 dapat dilihat dalam Gra fik III.3 .

Gr afik III.2

Per kem ban gan H ar ga Kom od it as Pa n gan Du n ia 20 0 4-2 0 0 8

Su m b er : Dep a r t em en Keu a n ga n 5 0 1 0 0 1 5 0 2 0 0 2 5 0 3 0 0 3 5 0 4 0 0 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 Be r a s G a n d u m J a g u n g 5 0 1 0 0 1 5 0 2 0 0 2 5 0 3 0 0 3 5 0 4 0 0 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 P a l m O i l S u g a r Ke d e l a i

Sementara itu, apabila dilihat dari besarnya kontribusi, PPh merupakan kontributor utama bagi penerimaan pajak dalam negeri. Dalam tahun 2007, PPh mampu memberikan kontribusi sebesar Rp238,4 triliun atau 50,7 persen terhadap total penerimaan pajak dalam negeri. Sebagai kontributor terbesar kedua adalah PPN dan PPnBM yang memberikan kontribusi sebesar Rp154,5 triliun atau 32,9 persen. Selanjutnya, cukai memberikan kontribusi sebesar Rp44,7 triliun atau 9,5 persen, PBB Rp23,7 triliun atau 5,0 persen, BPHTB Rp6,0 triliun atau 1,3 persen, dan pajak lainnya Rp2,7 triliun atau 0,6 persen.

Dalam tahun 2008, penerimaan pajak dalam negeri diperkirakan mencapai Rp599,2 triliun. Apabila dibandingkan dengan target APBN-P yang mencapai Rp580,2 triliun, terjadi peningkatan sebesar Rp18,9 triliun atau 3,3 persen. Namun, jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 yang mencapai Rp470,1 triliun, terjadi peningkatan sebesar Rp129,1 triliun atau 27,5 persen. Sementara itu, dilihat dari kontribusinya, sebagaimana terjadi pada tahun 2007, kontribusi terbesar berasal dari PPh yang diperkirakan mencapai Rp318,0 triliun atau 53,1 persen dari total penerimaan pajak dalam negeri pada tahun 2008. PPN dan PPnBM diperkirakan mencapai Rp199,8 triliun atau 33,3 persen, cukai Rp47,0 triliun atau 7,8 persen, PBB Rp25,5 triliun atau 4,3 persen, BPHTB Rp5,5 triliun atau 0,9 persen, dan pajak lainnya Rp3,3 triliun atau 0,6 persen.

Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 dan perkiraan realisasi tahun 2008, terlihat bahwa kontribusi PPh mengalami kenaikan yaitu dari 50,7 persen pada tahun 2007 menjadi 53,1 persen pada tahun 2008. Di sisi lain, besarnya kontribusi cukai mengalami penurunan dari 9,5 persen pada tahun 2007 menjadi 7,8 persen pada tahun 2008. Perbandingan antara kontribusi dari tiap-tiap jenis pajak yang tercakup dalam pajak dalam negeri pada tahun 2007 dan 2008 dapat dilihat pada Grafik III.4.

Pajak Penghasilan

PPh terdiri dari PPh minyak dan gas bumi (PPh migas) dan PPh nonmigas. Secara rata-rata dalam tahun 2005–2007, penerimaan PPh meningkat cukup tinggi sebesar 16,5 persen. Dalam tahun 2006, realisasi penerimaan PPh mencapai Rp208,8 triliun yang terdiri dari

Grafik I II.3

Pertum buhan Penerim aan Perpajakan Dalam Negeri, 2005 —2008

5 3 ,2 4 5 ,4 (1 ,2 ) 3 7 ,8 1 7 ,6 2 2 ,9 2 1 ,5 1 3 ,6 1 ,9 1 9 ,7 4 1 ,1 3 1 ,6 7 ,6 1 4 ,0 9 ,5 1 8 ,0 2 8 ,6 (7 ,2 ) 1 1 ,6 1 8 ,3 2 5 ,6 1 7 ,4 1 3 ,7 8 7 ,0 5 ,1 2 9 ,3 (7 ,1 ) 2 1 ,5 (1 0 ) 0 1 0 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 8 0 9 0 PPh Mig a s PPh n on Mig a s PPN PBB BPHT B Cu k a i Pa ja k La in n y a P er se n (Y -o -Y ) 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 *

* Per k ir a a n Rea lisa si

PPh migas Rp43,2 triliun (20,7 persen) dan PPh nonmigas Rp165,6 triliun (79,3 persen). Realisasi penerimaan PPh dalam tahun 2006 ini lebih tinggi 19,0 persen jika d i b a n d i n g k a n dengan realisasinya dalam tahun 2005 sebesar Rp175,5 triliun. Dalam tahun 2007, realisasi penerimaan PPh tumbuh sebesar 14,2 persen menjadi Rp238,4 triliun yang disumbang oleh PPh migas sebesar Rp44,0 triliun (18,5 persen) dan PPh nonmigas Rp194,4 triliun (81,5 persen).

Dalam tahun 2008, penerimaan PPh diperkirakan akan mencapai Rp318,0 triliun. PPh migas diperkirakan akan menyumbang Rp62,1 triliun (19,5 persen) dan PPh nonmigas diperkirakan akan menyumbang Rp255,9 triliun (80,5 persen). Bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P sebesar Rp305,0 triliun, perkiraan realisasi penerimaan PPh tahun 2008 tersebut berarti lebih tinggi Rp13,0 triliun atau 4,3 persen.

PPh Migas

Penerimaan PPh migas selama tahun 2005–2007 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu meningkat rata-rata sebesar 11,9 persen. Realisasi penerimaan PPh migas dalam tahun 2005 sebesar Rp35,1 triliun bersumber dari PPh minyak bumi Rp11,8 triliun (33,6 persen) dan PPh gas alam Rp23,3 triliun (66,4 persen). Dalam tahun berikutnya, realisasi penerimaan PPh migas tumbuh 22,9 persen menjadi Rp43,2 triliun yang disumbang dari PPh minyak bumi Rp14,7 triliun (34,0 persen) dan PPh gas alam Rp28,5 triliun (66,0 persen). Perkembangan realisasi PPh migas 2005—2007 selanjutnya dapat dilihat pada Tabel III.3.

Dalam tahun 2007, realisasi penerimaan PPh migas mencapai Rp44,0 triliun yang disumbang dari PPh minyak bumi Rp16,3 triliun (37,0 persen), PPh gas alam Rp27,3 triliun (62,0 persen) dan PPh migas lainnya Rp0,4 triliun (1,0 persen). Jika dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun 2006, realisasi penerimaan PPh migas tahun 2007 menunjukkan peningkatan sebesar 1,9 persen. Realisasi

2008 PPh Mig as 1 0,4 % PPN 3 3 ,3 % PPh N on -Miga s 4 2 ,1 % PBB 4 ,3 % BPHTB 0,9 % Cu kai 7 ,8 % Paja k La in n y a 0,6 % 2007 PPh Mig as 9 ,4 % PPN 3 2 ,9 % Pa ja k La in n y a 0,6 % Cu kai 9 ,5% BPHTB 1 ,3 % PBB 5,0% PPh N on-Mig a s 4 1 ,4 % Grafik III.4

Kontribusi Penerimaan Pajak Dalam Negeri, 2007—2008

Sum ber : Departem en Keuangan

% thd % thd % thd

Total Total Total

PPh Minyak Bumi 11,8 33,6 14,7 34,0 16,3 37,0 PPh Gas Alam 23,3 66,3 28,5 66,0 27,3 62,0 PPh Migas Lainnya 0,0 0,0 0,0 0,0 0,4 1,0

Total 35,1 100,0 43,2 100,0 44,0 100,0

Sumber : Departemen Keuangan

Uraian Real. Real. Tabel III.3 Perkembangan PPh Migas, 20052007 (triliun rupiah) 2006 2007 2005 Real.

penerimaan PPh migas yang dalam beberapa tahun terakhir meningkat cukup besar terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga minyak Indonesian

Crude Oil Price (ICP) di pasar internasional

dari US$ 51,8 per barel tahun 2005 menjadi US$69,7 per barel tahun 2007.

Sampai dengan akhir tahun 2008, penerimaan PPh migas diperkirakan akan terus meningkat menjadi Rp62,1 triliun, lebih tinggi Rp8,5 triliun atau 15,8 persen dari target APBN-P 2008 sebesar Rp53,6 triliun. Dengan demikian, bila dibandingkan dengan realisasinya dalam tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar Rp18,1 triliun atau 41,1 persen. Meningkatnya penerimaan PPh migas

tersebut antara lain dipengaruhi oleh (1) masih terus berlanjutnya kecenderungan peningkatan harga ICP yang mencapai US$108,9 per barel; (2) peningkatan lifting minyak dari 0,899 MBCD tahun 2007 menjadi 0,927 MBCD tahun 2008; dan (3) melemahnya nilai tukar rupiah dari Rp9.140 per dolar AS tahun 2007 menjadi Rp9.256,7 per dolar AS pada tahun 2008. Perkiraan realisasi PPh migas tahun 2008 dapat dilihat pada Grafik III.5.

PPh Nonmigas

PPh nonmigas merupakan penyumbang terbesar penerimaan perpajakan. Dalam periode 2005– 2007, rata-rata pertumbuhan PPh nonmigas mencapai 17,7 persen. Dalam tahun 2006, realisasi penerimaan PPh nonmigas tumbuh 18,0 persen menjadi Rp165,6 triliun, terutama berasal dari PPh pasal 25/29 Badan sebesar Rp65,1 triliun yang mengalami pertumbuhan sebesar 26,6 persen jika dibandingkan dengan tahun 2005. Hal ini disebabkan mulai pulihnya perkembangan sektor riil setelah mengalami perlambatan sebagai dampak kenaikan harga BBM pada akhir tahun 2005.

Selanjutnya dalam tahun 2007, realisasi penerimaan PPh nonmigas meningkat menjadi Rp194,4 triliun atau tumbuh 17,4 persen. Realisasi tersebut terdiri dari PPh pasal 25/29 Badan Rp80,8 triliun (41,6 persen), PPh pasal 21 Rp39,4 triliun (20,3 persen), PPh final dan fiskal Rp21,6 triliun (11,1 persen), PPh pasal 23 Rp15,7 triliun (8,1 persen), PPh pasal 22 impor Rp16,6 triliun (8,6 persen), dan PPh pasal 26 Rp14,6 triliun (7,5 persen). Meningkatnya realisasi penerimaan PPh nonmigas tersebut erat kaitannya dengan makin membaiknya kinerja perekonomian nasional secara keseluruhan. Selain itu, peningkatan penerimaan PPh nonmigas juga didukung oleh keberhasilan program intensifikasi dan ekstensifikasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah. Perkembangan realisasi PPh nonmigas 2005–2007 selanjutnya dapat dilihat pada Tabel III.4.

Penerimaan PPh nonmigas tahun 2008 diperkirakan akan mencapai Rp255,9 triliun, naik Rp4,6 triliun atau 1,8 persen dari target dalam APBN-P 2008 sebesar Rp251,4 triliun. Dengan demikian, jika dibandingkan dengan realisasi dalam tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar Rp61,5 triliun atau 31,6 persen. Peningkatan ini terutama berasal dari penerimaan PPh Pasal

Grafik I I I .5 Penerim aan PPh Migas

4 1 ,6 53 ,6 6 2 ,1 0 1 0 2 0 3 0 4 0 50 6 0 7 0

APBN APBN-P Per k. Realisasi (t ri li u n R p )

25/29 Badan terkait dengan penggalian potensi pada

booming sector komoditas

tertentu seperti CPO dan turunannya. Selain itu, meningkatnya penerimaan PPh nonmigas juga didukung oleh penerimaan PPh Pasal 21 yang terkait dengan upaya intensifikasi antara lain melalui

mapping, profiling,

benchmarking, dan

meningkatnya kesadaran dan kepatuhan WP dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Perkiraan realisasi PPh nonmigas tahun 2008 dapat dilihat dalam

Grafik III.6.

PPh Nonmigas Sektoral

Secara nominal, angka realisasi PPh nonmigas sektoral lebih kecil dari angka penerimaan PPh nonmigas. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: (1) penerimaan pajak berupa PPh valas dan BUN belum termasuk pada penerimaan per sektor (modul penerimaan negara-MPN), tetapi sudah tercatat dalam penerimaan nonmigas per jenis (laporan penerimaan Pemerintah);

(2)masih adanya pembayaran offline dari WP yang belum tercatat pada penerimaan sektoral, yang sebaliknya tercatat di laporan penerimaan Pemerintah; dan (3) data penerimaan Pemerintah adalah penerimaan neto setelah restitusi, sedangkan data sektoral adalah penerimaan bruto.

Dalam tahun 2005—2007, penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan,

realestate, serta jasa perusahaan dan sektor industri pengolahan. Penerimaan PPh nonmigas

dari sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan meningkat rata-rata 23,9 persen dari Rp35,7 triliun tahun 2005, menjadi Rp54,8 triliun tahun 2007. Sedangkan penerimaan PPh nonmigas dari sektor industri pengolahan meningkat rata-rata 11,6 persen dari Rp33,9 triliun tahun 2005 menjadi Rp41,9 triliun tahun 2007. Secara keseluruhan, penerimaan PPh nonmigas per sektor tanpa memperhitungkan PPh valas, transaksi yang offline dan restitusi mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Terkait dengan perkembangan sektor industri pengolahan, empat subsektor yang merupakan kontibutor utama adalah industri makanan dan minuman, industri pengolahan tembakau, industri kendaraan bermotor, dan industri alat angkutan selain kendaraan bermotor roda

% thd % thd % thd

Total Total Total

PPh Pasal 21 27,4 19,5 31,6 19,1 39,4 20,3 PPh Pasal 22 2,8 2,0 4,0 2,4 4,0 2,0 PPh Pasal 22 Impor 13,5 9,6 13,1 7,9 16,6 8,6 PPh Pasal 23 13,0 9,2 15,4 9,3 15,7 8,1 PPh Pasal 25/29 Pribadi 1,6 1,1 1,8 1,1 1,6 0,8 PPh Pasal 25/29 Badan 51,4 36,6 65,1 39,3 80,8 41,6 PPh Pasal 26 8,9 6,4 10,5 6,4 14,6 7,5 PPh Final dan Fiskal LN 21,9 15,6 24,1 14,6 21,6 11,1

Dalam dokumen NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DA (Halaman 108-133)

Dokumen terkait