• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan Negara Bukan Pajak

Dalam dokumen NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DA (Halaman 133-148)

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum

3.3 Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2007 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan

3.3.1 Penerimaan Dalam Negeri

3.3.1.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di dalam APBN memiliki peranan yang sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan negara di samping penerimaan perpajakan. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), PNBP adalah seluruh penerimaan Pemerintah yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Sumber PNBP tersebut meliputi (1) penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana Pemerintah; (2) penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA); (3) penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan; (4) penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah; (5) penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi; (6) penerimaan hibah yang merupakan hak Pemerintah; dan (7) penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri.

Dalam struktur APBN, PNBP terdiri atas (1) penerimaan SDA, meliputi penerimaan SDA migas dan SDA nonmigas (SDA pertambangan umum, SDA kehutanan, dan SDA perikanan); (2) penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN; dan (3) PNBP lainnya. Secara historis, besaran PNBP didominasi oleh penerimaan SDA, khususnya dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas).

Besaran penerimaan SDA migas dipengaruhi oleh lifting minyak dan volume produksi gas bumi, harga minyak bumi dan gas bumi di pasar internasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan besaran cost recovery. Cost recovery merupakan biaya-biaya yang dapat dikembalikan kepada kontraktor minyak bumi dan gas bumi. Sementara itu, besaran penerimaan SDA nonmigas, yang terdiri dari penerimaan pertambangan umum,

2005 (PMK-92/11/2005) 2006 (PMK-61/11/2006) 2007 (PMK-94/11/2007) 2008 (PMK-72/11/2008)

1 Tandan Buah Segar dan Kernel Kelapa Sawit 3% 10% 40% 40%

2 Crude Palm Oil (CPO) 3% 6,5% 0% - 10% 0%- 25%

3 Crude Olein 1% 6,5% 0% - 10% 0%- 25%

4 Crude Stearin -- 6,5% 0% - 10% 0% - 23%

5 Crude Palm Kernel Oil (CPKO) -- 6,5% 0% - 10% 0% - 23%

6 Crude Kernel Stearin -- -- 0% - 10% 0% - 23%

7 Crude Kernel Olein -- -- 0% - 10% 0% - 23%

8 RBD Palm Olein 1% 6,5% 0% - 10% 0%- 25%

9 RBD Palm Kernel Olein -- -- 0% - 10% 0%- 25%

10 RBD Palm Kernel Oil -- 6,5% 0% -9% 0% - 23%

11 RBD Palm Stearin -- 6,5% 0% -9% 0% -21%

12 RBD Palm Kernel Stearin -- -- 0% -9% 0% -21%

13 RBD Palm Oil 1% 6,5% 0% -9% 0% - 23%

14 Biofuel Dari Minyak Sawit -- -- -- 0% - 5%

Sumber : Departemen Keuangan

Tarif Bea Keluar

No. Kelapa Sawit, CPO dan

Produk Turunannya

Tabel III.16

Perkembangan Tarif Bea Keluar Kelapa Sawit, CPO dan Produk Turunan 2005-2008

kehutanan, dan perikanan dipengaruhi oleh tingkat produksi masing-masing jenis tambang, harga komoditi tambang, luas area/volume produksi hasil hutan untuk kehutanan, jenis dan jumlah kapal ikan untuk perikanan, serta kebijakan yang dilakukan Pemerintah, terutama dalam bidang tarif.

Penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN, menurut Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Keuangan, merupakan penerimaan Pemerintah dalam bentuk sebagai berikut: (1) dividen dari perusahaan persero atau perseroan terbatas yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS); (2) dana pembangunan semesta (DPS) dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri Keuangan; dan (3) bagian laba Pemerintah dari Pertamina yang besarnya ditetapkan dalam rapat dewan komisaris, selama Pertamina belum disesuaikan dan beroperasi sebagai perusahaan perseroan.

PNBP lainnya terdiri dari penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa; (2) pendapatan jasa; (3) pendapatan bunga; (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan; (5) pendapatan pendidikan; (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi; dan (7) pendapatan lain-lain. Pengelolaan atas jenis-jenis PNBP tersebut dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga (K/L) terkait, antara lain Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan, Kepolisian Republik Indonesia, Badan Pertanahan Nasional, Departemen Hukum dan HAM, serta departemen lainnya. PNBP yang bersumber dari berbagai K/L tersebut meskipun besaran penerimaannya relatif kecil, namun kecenderungannya meningkat dan masih dapat lebih dioptimalkan. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan, pelayanan, dan pengawasan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap PNBP lainnya adalah jumlah objek, besaran tarif, dan kualitas pelayanan dan administrasi/pengelolaan dan upaya optimalisasi. Dalam rangka pengaturan dan pengawasan, maka sebagian penerimaan PNBP tersebut dipergunakan kembali oleh K/L sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Selama kurun waktu 2005—2008, langkah kebijakan yang ditempuh untuk mengoptimalkan PNBP antara lain meliputi pertama, kebijakan penerimaan SDA yang difokuskan pada hal-hal sebagai berikut: (1) peningkatan lifting migas melalui peningkatan koordinasi instansi terkait; (2) peningkatan atau percepatan pembayaran kewajiban PT Pertamina dan KKKS kepada Pemerintah; (3) penyempurnaan ketentuan cost recovery pada KPS; (4) optimalisasi penerimaan SDA pertambangan umum melalui peningkatan koordinasi dengan pemda dan instansi terkait serta penyempurnaan peraturan; dan (5) optimalisasi penerimaan SDA kehutanan dan SDA perikanan melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi dengan tetap memperhatikan faktor kelestarian lingkungan. Kedua, kebijakan dalam penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN yang difokuskan pada beberapa hal sebagai berikut: (1) penyehatan perusahaan dengan mengoptimalkan investasi (capital expenditure/ CAPEX); (2) optimalisasi dividen payout ratio dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan, penugasan oleh Pemerintah, dan peraturan yang berlaku; (3) pelaksanaan audit oleh kantor akuntan publik (KAP) sesuai jadwal yang ditetapkan; (4)melanjutkan langkah-langkah restrukturisasi yang semakin terarah dan efektif terhadap orientasi dan fungsi BUMN tersebut yang meliputi restrukturisasi manajemen, organisasi, operasi, dan sistem prosedur; (5) memantapkan penerapan prinsip-prinsip good corporate

pengelolaan BUMN, PSO maupun BUMN komersial; (6) melakukan sinergi antar-BUMN agar dapat meningkatkan daya saing dan memberikan multiplier effect kepada perekonomian Indonesia, antara lain dengan menumbuhkembangkan resource base sectors yang memberikan nilai tambah; dan (7) upaya dividen interim dengan memperhatikan cash flow

perusahaan apabila sampai dengan triwulan ketiga pada tahun anggaran berjalan target PNBP belum terpenuhi. Ketiga, kebijakan mengenai PNBP lainnya yang difokuskan pada hal-hal sebagai berikut: (1) optimalisasi PNBP pada K/L; (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L; (3) monitoring, evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L; dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya.

PNBP secara keseluruhan meningkat rata-rata sebesar 21,0 persen selama kurun waktu 2005—2007. Pertumbuhan tertinggi terjadi dalam tahun 2006 sebesar 54,5 persen (lihat

Grafik III.20). Dalam tahun 2007, PNBP mencapai Rp215,1 triliun (5,4 persen PDB). PNBP tersebut mengalami penurunan sebesar Rp11,8 triliun atau 5,2 persen dibandingkan dengan realisasi pada tahun 2006 sebesar Rp227,0 triliun (6,8 persen PDB). Penurunan tersebut terutama diakibatkan oleh penurunan penerimaan

SDA migas sebesar Rp33,3 triliun, yaitu dari Rp158,1 triliun pada tahun 2006 menjadi Rp124,8 triliun pada tahun 2007. Dalam tahun 2007, realisasi PNBP m e m b e r i k a n kontribusi sebesar 30,5 persen dari total realisasi penerimaan dalam negeri tahun 2007 (lihat Tabel III.17).

Dalam tahun 2008, PNBP diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 33,9 persen terhadap penerimaan dalam negeri. Perkiraan realisasi PNBP dalam tahun 2008 tersebut mencapai Rp325,7 triliun (6,9 persen PDB), meningkat sebesar Rp110,6 triliun atau 51,4 persen dibandingkan realisasi PNBP tahun 2007. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan perkiraan realisasi PNBP yang berasal dari penerimaan SDA, khususnya SDA migas (lihat Tabel III.18 dan Grafik III.21).

Grafik III.20 Perkembangan PNBP, 2005—2007 0 50 1 00 1 50 2 00 2 50 2 005 2 006 2 007 (t r il iu n R p )

Penerim aan SDA Div iden BUMN PNBP Lainny a

Sum ber : Departem en Keuangan

Realisasi % thd PDB Realisasi % thd PDB Realisasi % thd PDB

Penerimaan Negara Bukan Pajak 146,9 5,3 227,0 6,8 215,1 5,4

a. Penerimaan SDA 110,5 3,7 167,5 5,0 132,9 3,4

i. Migas 103,8 2,6 158,1 4,7 124,8 3,2

Minyak bumi 72,8 2,7 125,1 3,7 93,6 2,4

Gas bumi 30,9 1,1 32,9 1,0 31,2 0,8

ii. Non Migas 6,7 0,2 9,4 0,3 8,1 0,2

Pertambangan umum 3,2 0,1 6,8 0,2 5,9 0,1

Kehutanan 3,2 0,1 2,4 0,1 2,1 0,1

Perikanan 0,3 0,0 0,2 0,0 0,1 0,0

b. Bagian Laba BUMN 12,8 0,5 21,5 0,6 23,2 0,6

c. PNBP Lainnya 23,6 0,8 36,5 1,1 45,3 1,1

d. Surplus Bank Indonesia 0,0 0,0 1,5 0,0 13,7 0,3

Sumber: Departemen Keuangan

*) Perbedaan satu angka di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan

Tabel III.17

Perkembangan Realisasi PNBP, 2005 – 2007 *) (triliun rupiah)

Penerimaan SDA

Dalam kurun waktu 2005—2007, penerimaan SDA rata-rata tumbuh sebesar 9,7 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi dalam tahun 2006 sebesar 51,6 persen, namun kemudian menurun sebesar 20,6 persen dalam tahun 2007. Dalam tahun 2006, realisasi penerimaan SDA mencapai Rp167,5 triliun (5,0 persen PDB) dan dalam tahun 2007 realisasi penerimaan SDA mencapai Rp132,9 triliun (3,4 persen PDB). Dalam tahun 2008, penerimaan SDA

diperkirakan mencapai Rp229,0 triliun (4,8 persen PDB) atau naik sebesar Rp96,1 triliun atau 72,3 persen dibandingkan realisasi penerimaan SDA tahun 2007.

Penerimaan SDA Minyak Bumi dan Gas Bumi

Penerimaan SDA migas merupakan sumber utama penerimaan SDA, dan secara historis menyumbang lebih dari 50 persen dari total penerimaan SDA. Dalam kurun waktu 2005— 2007, perkembangan penerimaan SDA migas menunjukan trend yang meningkat hingga tahun 2006 dan kemudian menurun pada tahun 2007. Rata-rata pertumbuhan penerimaan SDA migas dalam kurun waktu 2005—2007 sebesar 9,7 persen, sedangkan kontribusinya terhadap total PNBP dalam kurun waktu yang sama adalah rata-rata sebesar 66,1 persen. Dalam tahun 2007, penerimaan SDA migas mengalami penurunan dari Rp158,1 triliun (4,7 persen PDB) pada tahun 2006 menjadi Rp124,8 triliun (3,2 persen PDB). Penurunan penerimaan SDA migas tersebut terutama disebabkan oleh penurunan SDA minyak bumi. Dalam tahun 2007, penerimaan SDA minyak bumi mencapai Rp93,6 triliun (2,4 persen PDB), menurun sebesar Rp31,5 triliun atau 25,2 persen dibandingkan penerimaan SDA minyak bumi dalam tahun 2006 sebesar Rp125,1 triliun (3,7 persen PDB).

APBN % thd PDB APBN-P % thd PDB Perkiraan Realisasi 2008 % thd PDB % thd APBN-P Penerimaan Negara Bukan Pajak 187,2 4,2 282,8 6,3 325,7 6,9 115,2 a. Penerimaan SDA 126,2 2,8 192,8 4,3 229,0 4,8 118,8

i. Migas 117,9 2,6 182,9 4,1 219,1 4,6 119,8

Minyak bumi 84,3 1,9 149,1 3,3 179,5 3,8 120,4

Gas bumi 33,6 0,8 33,8 0,8 39,6 0,8 116,9

ii. Non Migas 8,3 0,2 9,8 0,2 9,9 0,2 100,3

Pertambangan umum 5,3 0,1 6,9 0,2 6,9 0,1 100,0

Kehutanan 2,8 0,1 2,8 0,1 2,8 0,1 101,2

Perikanan 0,2 0,0 0,2 0,0 0,2 0,0 100,0

b. Bagian Laba BUMN 23,4 0,5 31,2 0,7 35,0 0,7 112,2 c. PNBP Lainnya 37,6 0,8 58,8 1,3 61,7 1,3 104,9

Sumber: Departemen Keuangan

*) Perbedaan satu angka di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan

Tabel III.18

Perkembangan Realisasi PNBP, 2008 *) (triliun rupiah)

2008

Grafik III.21

Penerim aan Negara Bukan Pajak, 2008

0 1 00 2 00 3 00 4 00

APBN APBN-P Perk. Realisasi

(t r il iu n R p )

Penerim aan SDA Div iden BUMN PNBP Lainny a

Sementara itu, penerimaan SDA gas bumi menurun sebesar Rp1,8 triliun atau 5,3 persen dari Rp32,9 triliun (1,0 persen PDB) dalam tahun 2006 menjadi Rp31,2 triliun (0,8 persen PDB) dalam tahun 2007. Faktor utama yang mempengaruhi penurunan penerimaan SDA migas dalam tahun 2007 tersebut adalah menurunnya realisasi lifting minyak bumi dari 959 ribu barel per hari dalam tahun 2006 menjadi 899 ribu barel per hari dalam tahun 2007. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Pemerintah berupaya meningkatkan lifting

minyak melalui peningkatan kegiatan usaha eksplorasi migas. Salah satu upaya tersebut adalah dengan pemberian insentif fiskal melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 177/PMK.011/2007 tentang

Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Serta Panas Bumi, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK.011/ 2007 tentang Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Eksplorasi Hulu Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi. Grafik III.22 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA migas dalam periode 2005—2007.

Dalam tahun 2008, penerimaan SDA migas diperkirakan mencapai Rp219,1 triliun (4,6 persen PDB), yang berarti meningkat Rp94,3 triliun atau 75,6 persen apabila dibandingkan dengan realisasi APBN tahun 2007 sebesar Rp124,8 triliun (3,2 persen PDB). Jumlah perkiraan penerimaan SDA migas tersebut sebagian besar bersumber dari perkiraan penerimaan SDA minyak bumi sebesar Rp179,5 triliun (3,8 persen PDB). Penerimaan SDA minyak bumi tersebut mengalami kenaikan Rp85,9 triliun atau 91,8 persen apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan SDA minyak bumi dalam tahun 2007 sebesar Rp93,6 triliun (lihat Grafik III.23). Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh perkiraan pencapaian target lifting minyak sebesar 927 ribu barel per hari dan perkiraan rata-rata harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional (ICP) mencapai US$108,9 per barel lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata ICP tahun 2007 yang sebesar US$69,7 per barel (lihat Grafik III.24 dan Grafik III.25).

Penerimaan SDA gas bumi tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp39,6 triliun (0,8 persen PDB) meningkat Rp8,3 triliun atau 26,9 persen apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp31,2 triliun. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan penerimaan SDA gas bumi tersebut antara lain sebagai berikut: (1) peningkatan volume produksi, khususnya liquid natural gas (LNG); (2) peningkatan harga internasional komoditi gas bumi, terutama LNG; dan (3) upaya perbaikan kontrak dengan operator eksplorasi gas bumi dan perbaikan harga dalam kontrak dengan negara tujuan ekspor. Grafik III.26

memperlihatkan perkembangan lifting gas bumi dalam kurun waktu 2005—2008.

Penerimaan SDA Nonmigas

Penerimaan SDA nonmigas terdiri dari penerimaan pertambangan umum, penerimaan SDA kehutanan, dan penerimaan SDA perikanan. Dalam kurun waktu 2005—2007, perkembangan dari masing-masing komponen penerimaan SDA nonmigas menunjukkan

Grafik II I.22

Perkem bangan SDA Migas, 2005—2007

0 40 80 1 20 1 60 2 005 2 006 2007 (t ri li u n R p ) Gas Bum i Miny ak Bum i

kecenderungan yang beragam. Pertambangan umum meningkat secara signifikan dalam tahun 2005—2006, dan kemudian mengalami penurunan dalam tahun 2007. Penerimaan SDA kehutanan menunjukkan kecenderungan menurun dalam periode yang sama. Demikian juga penerimaan dari sektor perikanan cenderung menurun dan memberikan kontribusi terkecil terhadap penerimaan SDA nonmigas. Dalam kurun waktu 2005—2007, pertumbuhan penerimaan SDA nonmigas secara rata-rata mencapai 10,0 persen. Dalam tahun 2007, penerimaan SDA nonmigas mencapai Rp8,1 triliun (0,2 persen PDB), menurun sebesar Rp1,3 triliun atau 13,6 persen dibandingkan realisasi dalam tahun 2006 sebesar Rp9,4 triliun (0,3 persen PDB). Dalam tahun 2008, penerimaan SDA nonmigas diperkirakan mencapai Rp9,9 triliun (0,2 persen PDB), meningkat sebesar Rp1,8 triliun atau 21,8 persen dibandingkan realisasi tahun 2007.

Sementara itu, penerimaan SDA pertambangan umum mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 35,7 persen dan memberikan kontribusi terbesar rata-rata 64,1 persen terhadap total penerimaan SDA nonmigas dalam kurun waktu 2005—2007. Dalam tahun 2007, realisasi penerimaan SDA pertambangan umum mencapai Rp5,9 triliun (0,1 persen PDB), menurun sebesar Rp0,9 triliun atau 13,3 persen dibandingkan realisasi dalam tahun 2006 sebesar Rp6,8 triliun (0,2 persen

Grafik III.23 Penerim aan SDA Migas, 2008

0 3 0 6 0 9 0 1 2 0 1 5 0 1 8 0 2 1 0 2 4 0 2 7 0

A PBN A PBN-P Per k. Rea lisa si

(t ri li u n R p ) Gas Bumi Miny ak Bumi

Sum ber : Departemen Keuangan

Grafik III.26

Perkem bangan Lifting Gas Bum i 2005—2008

0 2 .000 4.000 6.000 8.000 1 0.000 1 2 .000 2 005 2 006 2 007 Perk.Realisasi 2008 (M M S C F D)

Sum ber : Departem en Keuangan

Grafik III.24

Rata-rata Lifting Miny ak Bum i, 2005—2008

500 600 7 00 800 900 1000 11 00 2 0 0 5 2 0 06 2 0 0 7 Per k . Rea lisa si 2 0 0 8 (ri b u b a re l/ h a ri )

Sumber : Departemen Keuangan Grafik III.25

Rata-rata Harga ICP, 2005—2008

0 2 0 4 0 6 0 8 0 1 0 0 1 2 0 1 4 0 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 Per k . Rea lisa si 2 0 0 8 (U S $ /b a r e l)

Sum ber : Departem en Keuangan

Gr a fik III.27

Per kem ba n ga n Pen er im a a n SDA Non Miga s, 2005—2007 0 2 4 6 8 1 0 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 (t r il iu n R p ) Per ika n a n Keh u t a n a n Per t a m ba n g a n Um u m

PDB). Penurunan penerimaan SDA pertambangan umum tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya penerimaan dari pendapatan royalti batubara dari Rp6,6 triliun dalam tahun 2006 menjadi Rp5,3 triliun dalam tahun 2007 akibat masih adanya kuasa pertambangan (KP) yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dan belum dilaporkan ke Pemerintah (Departemen ESDM).

Penerimaan SDA pertambangan umum dalam tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp6,9 triliun (0,1 persen PDB). Perkiraan realisasi tersebut bersumber dari penerimaan iuran tetap

(landrent) Rp83,0 miliar, dan pendapatan royalti Rp6,8 triliun (0,1 persen PDB). Apabila

dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 sebesar Rp5,9 triliun, realisasi tersebut meningkat sebesar Rp1,0 triliun atau 16,8 persen. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh sebagai berikut: (1) peningkatan harga dan volume produksi komoditi tambang, terutama batubara yang diperkirakan meningkat dari 211,7 juta ton dalam tahun 2007 menjadi 230 juta ton pada tahun 2008;

(2) peningkatan setoran para pengusaha tambang daerah berdasarkan izin penambangan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah; dan (3) upaya intensifikasi Pemerintah atas setoran perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara. Tabel III.19

memperlihatkan produksi pertambangan umum per jenis komoditi dalam tahun 2007 dan 2008.

Di sisi lain, penerimaan SDA kehutanan dalam kurun waktu 2005—2007 mengalami penurunan rata-rata sebesar 19,3 persen. Dalam tahun 2007, penerimaan SDA kehutanan mengalami penurunan sebesar Rp294,7 miliar atau 12,2 persen dari Rp2,4 triliun (0,1 persen PDB) menjadi Rp2,1 triliun (0,1 persen PDB) apabila dibandingkan realisasi penerimaan pada tahun 2006. Penurunan penerimaan sektor kehutanan tersebut

terutama disebabkan oleh penurunan penerimaan dari iuran hak pengusahaan hutan (IHPH) seiring dengan kebijakan revitalisasi sektor kehutanan. Dalam tahun 2008, penerimaan SDA kehutanan diperkirakan mencapai Rp2,8 triliun (0,1 persen PDB). Apabila dibandingkan dengan tahun 2007, maka penerimaan SDA kehutanan dalam tahun 2008 diperkirakan meningkat sebesar Rp694,1 miliar atau 32,8 persen. Peningkatan perkiraan penerimaan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan tarif provisi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi (DR) serta meningkatnya perkiraan penerimaan IHPH yang diterbitkan oleh pemerintah daerah sebagai akibat penertiban izin pemanfaatan hutan di daerah.

Batubara Juta ton 211,7 230,0

Emas Ton 116,0 74,3

Perak Ton 268,0 171,3

Tembaga Ribu Ton 814,7 793,2

Bauksit Juta Ton 9,6 9,5

Nikel In Mate Juta Lbs 165,0 170,0

Bijih Nikel Juta Ton 6,7 7,8

Nikel In FeNi Ribu Ton 17,5 20,4

Timah Ribu Ton 90,0 79,2

Intan Ribu Karat 30,2 16,4

Sumber : Departemen ESDM

Tabel III.19

Komoditi

Produksi Batu Bara dan Mineral 2007 dan 2008

Perk. Real. 2008 Realisasi 2007 Unit Grafik III.28

Perkembangan Produksi Bat ubara, 2005—2008

0 50 1 00 1 50 2 00 2 50 2 005 2 006 2007 Perk. Realisasi 2 008 (j u ta t o n )

Penerimaan SDA perikanan dalam kurun waktu 2005—2007 memberikan kontribusi terhadap penerimaan SDA nonmigas rata-rata sebesar 2,5 persen. Dalam tahun 2007, penerimaan SDA perikanan mencapai Rp0,1 triliun, menurun sebesar Rp80,6 miliar atau 41,0 persen apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2006. Penurunan penerimaan tersebut terutama disebabkan oleh adanya penurunan produksi perikanan sebagai akibat dari (1) penghapusan sistem lisensi dan keagenan kapal asing dimana izin penangkapan ikan hanya diberikan kepada orang dan/atau badan hukum Indonesia; (2) berakhirnya

bilateral arrangement antara Pemerintah RI - RRC pada tanggal 16 Juli 2007; (3) maraknya

illegal fishing (pemalsuan dokumen penangkapan yang tidak sesuai dengan perizinannya

dan tidak melaporkan hasil tangkapan); dan (4) banyaknya pungutan ganda di daerah. Dalam tahun 2008, penerimaan SDA perikanan diperkirakan mencapai Rp200 miliar, meningkat sebesar Rp83,7 miliar atau 72,0 persen apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan SDA perikanan tahun 2007

sebesar Rp116,3 miliar. Meningkatnya perkiraan penerimaan tersebut terutama disebabkan adanya beberapa langkah kebijakan, yaitu (1) peningkatan produksi perikanan; (2) pemberdayaan masyarakat nelayan, pembudidayaan ikan, pengolahan, dan masyarakat lainnya; (3) peningkatan sistem pengawasan mutu produk perikanan; dan (4) peningkatan pengelolaan sumber daya pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.

Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN

Menurut ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN), BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Pada tahun 2007, jumlah BUMN yang dilaporkan adalah 139 BUMN dan mengalami penambahan 3 BUMN baru dalam tahun 2008, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset (PPA) (Persero), PT Askrindo (Persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia, dan Perum LKBN Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik. Dengan demikian, saat ini Pemerintah mengelola kepemilikan saham mayoritas pada 142 BUMN. Dari ke 142 BUMN tersebut dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok BUMN, yaitu sebagai berikut: (1) jasa keuangan dan perbankan; (2) jasa lainnya; (3) bidang usaha logistik dan pariwisata; (4) agro industri, pertanian, kehutanan, kertas, percetakan, dan penerbitan; serta (5) pertambangan, telekomunikasi, energi, dan industri strategis.

Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN, Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas di sejumlah perusahaan. Beberapa saham minoritas tersebut antara lain terdapat pada PT Indosat Tbk dan perusahaan-perusahaan lainnya. Sesuai dengan UU Nomor 19 Tahun 2003, perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas.

Grafik III.29

Penerimaan SDA Nonmigas, 2008

0 2 4 6 8 1 0 1 2

A PBN A PBN-P Per k . Rea lisa si

(t r il iu n R p )

Per t a m ba n g a n Um u m Keh u t a n a n Per ik a n a n

Kinerja BUMN selama tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sebagaimana diindikasikan oleh naiknya perolehan laba bersih BUMN. Pada tahun 2007, realisasi laba bersih BUMN mencapai Rp71,6 triliun atau meningkat 34,6 persen apabila dibandingkan dengan perolehan laba bersih tahun 2006 yang mencapai Rp53,2 triliun. Laba bersih BUMN tersebut dihasilkan oleh 107 BUMN dan sekitar 83,4 persen disumbang oleh sepuluh BUMN, dengan PT Pertamina sebagai penyumbang laba terbesar yang mencapai Rp24,5 triliun (lihat Tabel III.20). Peningkatan laba bersih BUMN tersebut dipengaruhi oleh semakin membaiknya kinerja BUMN dan beberapa faktor eksternal antara lain sebagai berikut: (1) tingginya harga minyak mentah dunia; (2) tingginya harga komoditas sektor pertambangan; dan (3) tingginya harga komoditas sektor perkebunan dan komoditas pertanian.

Dalam kurun waktu 2 0 0 5 — 2 0 0 7 , penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN menunjukkan kecenderungan yang m e n i n g k a t . Pertumbuhan tersebut mencapai rata-rata 34,5 persen, dengan penerimaan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp23,2 triliun. Penerimaan tersebut berasal dari sektor nonperbankan (85,0 persen) dan sektor perbankan (15,0 persen). Dalam tahun 2005 penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN mencapai Rp12,8 triliun (0,5 persen PDB) atau 8,7 persen terhadap total PNBP. Dalam tahun 2006 dan 2007 penerimaan tersebut meningkat menjadi

masing-masing Rp21,5 triliun (0,6 persen PDB) dan Rp23,2 triliun (0,6 persen PDB) atau 10,8 persen terhadap total PNBP. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh sebagai berikut: (1) perbaikan pay out ratio (POR); (2) meningkatnya kinerja BUMN terutama PT Pertamina yang dipengaruhi oleh meningkatnya harga minyak dunia, perubahan nilai tukar dan suku bunga; serta (3) intensifikasi penagihan dividen dan kebijakan penarikan dividen interim (lihat

Grafik III.30).

Sementara itu, dalam tahun 2007 Pemerintah menerima setoran yang berasal dari surplus Bank Indonesia sebesar Rp 13,7 triliun atau 0,3 persen terhadap PDB. Jumlah tersebut merupakan surplus dari hasil kegiatan Bank Indonesia setelah dikurangi 30 persen untuk cadangan tujuan dan cadangan umum sebagai penambah modal, sehingga rasio jumlah

BUMN 2006 2007

PT Pertamina (Persero) 21,5 24,5

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) 10,5 12,9

PT Aneka Tambang, Tbk (ANTAM) 1,0 5,1

PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI) 4,2 4,8

PT Bank Mandiri, Tbk 1,5 4,3

PT Timah, Tbk 0,1 1,8

PT Semen Gresik, Tbk 1,1 1,8

PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) (PUSRI) 0,6 1,7

PT Perusahaan Gas Negara, Tbk (PGN) 1,0 1,6

PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (JAMSOSTEK) 1,0 1,0

Jumlah 10 BUMN 42,5 59,4

Jumlah Total Laba Seluruh BUMN 53,2 71,6

Tabel III.20

Laba Beberapa BUMN 2006-2007 (Triliun Rp)

Grafik III.30

Perkembangan Dev iden BUMN, 2005-2008

0 5 1 0 1 5 2 0 2 5 3 0 3 5 4 0 2 005 2 006 2 007 APBN-P Perk. Realisasi (t r il iu n R p )

Pertam ina Non Pertam ina

Perbankan

modal mencapai 10 persen terhadap total kewajiban moneter Bank Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 pasal 62 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004.

Tabel III.21 memperlihatkan perkembangan beberapa BUMN utama pembayar dividen dalam tahun 2005—2008. Pada tahun 2007, bagian Pemerintah atas laba PT Pertamina mencapai Rp11,1 triliun yang berasal dari dividen murni laba bersih tahun buku 2006 sebesar Rp9,7 triliun dan dividen interim sebesar Rp1,4 triliun yang menempatkan PT Pertamina sebagai BUMN pembayar dividen terbesar. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp1,5 triliun apabila dibandingkan tahun 2006, dengan catatan dividen PT Pertamina tahun 2006 tidak memperhitungkan faktor carry over dividen tahun 2003 dan 2004. Pembayar dividen terbesar dalam tahun 2007 selanjutnya adalah PT Telkom Tbk sebesar Rp3,1 triliun dan PT

Dalam dokumen NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DA (Halaman 133-148)

Dokumen terkait