• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORETIS

1. Definisi Kebijakan Publik

Secara umum, istlah kebijakan publik berasal dari bahasa Inggris, yaitu public policy. Banyak yang menerjemahkan policy sebagai kebijakan dan kebijaksanaan. Sehingga public policy diartikan sebagai kebijakan publik25.

Pada pengertiannya secara umum, banyak ahli yang telah mendefinisikannya. Sebagaimana dikutip oleh Sahya Anggara (2014:35) menurut Thomas R. Dye, kebijakan publik merupakan sebuah tindakan dari pemerintah, baik tindakan untuk melakukan atau tidak kebijakan tersebut. Ketika kebijakan tersebut dilakukan pemerintah juga harus

25 Sahya Anggara, Kebijakan Publik (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014) hal. 35

18

mengetahui alasan dan manfaat untuk masyarakat yang harus dipertimbangkan untuk dilakukan26.

Sejalan dengan James E. Anderson sebagaimana ditulis Sahya Anggara (2014:21) yang mendefinisikan kebijakan publik sebagai sebuah kebijakan yang dibuat dan dirumuskan oleh pejabat pemerintah, sehingga dapat dijadikan sebagai arah untuk mengatasi masalah yang ada di masyarakat27. Penjelasan tersebut menitikberatkan pada bagaimana pemerintah dalam melihat sebuah masalah yang ada di daerah kebijakannya, sehingga apakah akan dicoba untuk diatasi dengan membuat sebuah kebijakan.

Kebijakan publik bertujuan sebagai perangkat dari tindakan pemerintah, hal tersebut agar dapat tercapainya sebuah kebijakan yang diharapkan oleh masyarakat sebagai kostituen pemerintah28. Kebijakan publik menjadi sebuah kebijakan yang sah dan legal, karena dibuat dan diturunkan oleh pemerintah sebagai sebuah lembaga yang memiliki legitimasi dalam sistem pemeritahan. Dibuatnya sebuah kebijakan publik tidak akan terlepas dari teori, model, hipotesis, dan hubungan sebab akibat dengan juga melihat asumsi-asumsi pada perilaku di masyarakat.29

Menurut Young dan Quinn dalam Edi Suharto (2015:44), muncul atau dibuatnya sebuah kebijakan publik berdasarkan reaksi dari masalah

26 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 35

27 Sahya Anggara, Kebijakan Publik., hal. 35 dan Budi Winarno, Kebijakan Publik: Teori, Proses dan Studi Kasus... hal. 21

28 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 36

29 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 36

19

dan kebutuhan yang dialami oleh masyarakat, sehingga diimplementasikan oleh pemerintah yang mewakili kewenangan hukum.

Selain itu, kebijakan publik dibuat untuk mencapai sebuah tujuan dan kepentingan bukan dari keputusan tunggal saja, melainkan demi keuntungan banyak orang.30

Terdapat empat konsep dari kebijakan publik menurut Anderson sebagaimana dikutip oleh Budi Winarno (2014:19), yaitu pertama, orientasi utama dari sebuah kebijakan publik yaitu berasal pada maksud dan tujuan kebijakan, bukan dari perilaku yang biasa atau serampangan.

Kebijakan publik direncanakan oleh pejabat pemerintahan yang terlibat dalam sebuah kebijakan.

Kedua, kebijakan merupakan tindakan yang dilakukan oleh

pejabat-pejabat pemerintah, bukan berasal dari kepentingan individu atau perseorangan. Ketiga, kebijakan dilakukan oleh pemerintah untuk membantu ekonomi atau perdagangan yang dapat membantu kebutuhan masyarakat, sehingga dapat menjadi sebuah kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Keempat, kebijakan dapat memungkinkan menjadi hal yang

bersifat positif atau negatif, hal ini bergantung pada bagaimana sikap dari pemerintah mengenai sebuah gejala atau fenomena yang terjadi di masyarakat.31

30 Edi Suharto, Analisis Kebijakan Publik (Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial), (Bandung: Alfabeta, 2015) hal. 44

31 Budi Winarno, Kebijakan Publik (Teori, Proses dan Studi Kasus), (Jakarta: CAPS, 2014) hlm. 19

20 2. Tahapan Kebijakan Publik

Untuk menetapkan atau membuat sebuah kebijakan, lembaga pemerintah dalam hal ini melakukan sebuah rangkaian proses pembuatannya, berikut tahap pembuatan menurut William N. Dunn dalam Sahya Anggara (2014:172-173):32

a. Penyusunan Agenda, pada tahapan ini mencoba untuk merumuskan masalah dari pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan kebijakan. Tahapan ini juga dapat melihat asumsi yang tersembunyi, mengetahui penyebab terjadinya masalah, dan merancang peluang dari kebijakan.

b. Formulasi Kebijakan, tahap ini menimbang atau memperkirakan penyediaan dari informasi yang sesuai dengan kebijakan, terkait pada permasalahan yang dapat timbul di kemudian hari, dapat mengestimasi akibat dari kebijakan yang akan diusulkan, serta mengetahui kendala yang akan terjadi.

c. Adopsi Kebijakan, di tahap ini menghasilkan informasi mengenai manfaat dan biaya dari pelaksanaan kebijakan, dan memperkirakan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Dengan hal tersebut dapat membantu untuk memperkirakan tingkat resiko dan ketidakpastian yang dapat muncul dan menetukan pertanggungjawaban administratif bagi implementasi kebijakan.

32 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 172-173

21

d. Implementasi kebijakan atau tahap pemantauan, pada tahap ini untuk melihat bagaimana pelaksanaan kebijakan yang telah diambil sebelumnya, serta dapat mengatahui hambatan yang terjadi dari pelaksanaan kebijakan dan akibat yang tidak diharapkan dari kebijakan tersebut.

e. Penilaian Kebijakan atau evaluasi, evaluasi menghasilkan informasi mengenai kebijakan yang tidak sesuai antara kinerja yang diterapkan dengan yang dihasilkan. Selain itu juga dapat memunculkan kritik-kritik terhadap nilai-nilai dari kebijakan yang dibuat. Dan dapat kembali menjadi sebuah perumusan masalah.

B. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan adalah bagian dari cara penerapan sebuah kebijakan yang sudah dijalankan. Implementasi dipandang sebagai makna pelaksanaan undang-undang dengan kerja sama dari berbagai pihak agar tujuan dan sasaran kebijakan dapat tercapai sebagaimana mestinya.33. Pihak-pihak yang terlibat dalam implementasi yaitu (1) pembuatan kebijakan (the center), (2) pejabat-pejabat pelaksana lapangan (the periphery), dan (3) aktor-aktor perorangan di luar badan pemerintah, yaitu kelompok sasaran (target group)34.

Impelementasi kebijakan dari sudut pandang pembuat kebijakan berdasarkan pada usaha dari pejabat dan lembaga pemerintahan di tingkat pusat

33 Lester dan Stewart dalam Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi: Teori, Proses, dan Studi Kasus Komparatif, (Yogyakarta: CAPS, 2016) hlm. 134

34 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan: Dari Formulasi ke Penyusunan Model-Model Implementasi Kebijakan Publik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012) hlm. 131

22

untuk mendapat kepuasan dari pejabat atau lembaga pemerintahan di tingkat daerah agar memberikan pelayanan dan mengubah perilaku di masyarakat. Jika program tidak berjalan, pejabat atau lembaga pusat dapat memberikan sanksi hukum kepada pejabat pemerintahan yang bertangung jawab, atau dapat menimbang serta merumuskan kembali kebijakan tersebut35.

Dari sudut pandang pejabat pelaksana lapangan, implementasi berdasarkan perilaku pejabat dan instansi pelaku kebijakan agar dapat menyukseskan kebijakan dan menanggulangi masalah yang terjadi. Sedangkan dari sudut pandang kelompok sasaran, implementasi terjadi jika pada kelompok sasaran langsung merasakan dampak dari kebijakan yang diberikan oleh pemerintah36.

Salah satu tokoh yang mendefinisikan dan menjelaskan tentang implementasi kebijakan yaitu George Edwards. Sebagaimana dikutip oleh Budi Winarno (2016:156), menurut George Edwards implementasi kebijakan merupakan bagian dari tahap kebijakan publik, yaitu bagaimana pengaruh dan dampak untuk masyarakat37.

Kebijakan dapat gagal jika tidak tepat sasaran, walaupun kebijakan sudah dijalankan. Jika kebijakan sudah dirumuskan dan direncanakan dengan baik, kegagalan masih dapat terjadi jika implementasi tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Sehingga menjadi penting untuk merumuskan dan

35 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan:..., hlm 131

36 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan:..., hlm 131-132

37 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi: Teori, Proses, dan Studi Kasus Komparatif, (Yogyakarta: CAPS, 2016) hlm. 156

23

mengimplementasikan sebuah kebijakan sesuai dengan sasaran dan tujuan kebijakan, sehingga dapat menyukseskan pelaksanaan kebijakan yang dikeluarkan38.

Untuk dapat mewujudkan implementasi kebijakan yang berhasil dan mengetahui hambatan dalam pengimplementasian sebuah kebijakan, George Edwards dalam Budi Winarno (2016:156-182) memberikan empat faktor atau variabel untuk menjelaskannya:

1. Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu faktor penting untuk melihat sejauhmana implementasi kebijakan. Dalam komunikasi, kebijakan harus dikomunikasikan secara jelas dan menyeluruh kepada sasaran kebijakan dan pelaksana kebijakan, sehingga pada pelaksanaannya dapat sesuai dengan harapan pembuat kebijakan, serta mengurangi permasalahan yang muncul dari kebijakan39.

Edwards sebagaimana dikutip Budi Winarno (2016:156) membagi komunikasi menjadi tiga hal yaitu transmisi, kejelasan dan konsistensi, berikut penjelasannya:

a. Transmisi, yaitu keputusan yang telah dikeluarkan oleh pejabat pembuat kebijakan kepada pelaksana kebijakan. Karena banyak ditemukan keputusan yang telah dikeluarkan diabaikan hingga

38 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi:..., hlm. 156

39 AG Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 90

24

memunculkan kesalahpahaman40. Beberapa hambatan yang muncul dalam proses transmisi yaitu adanya perbedaan pendapat oleh para pelaksana kebijakan dengan pengambil keputusan, informasi yang melawati berlapis hirearki pejabat birokrasi, dan persepsi selektif yang dimunculkan oleh pelaksana sehingga penangkapan informasi yang tidak menyeluruh41.

b. Kejelasan, yaitu kejelasan komunikasi yang diberikan oleh pelaksana kebijakan, karena dengan ketidakjelasan komunikasi yang diberikan dapat memunculkan persepsi dan kesalahpahaman yang dapat bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan. Ketidakjelasan dalam penyampaian komunikasi dapat terjadi karena kebijakan yang terlalu kompleks, tujuan kebijakan yang belum cukup, munculnya masalah pada kebijakan, pelaksana kebijakan yang mencoba untuk menghindari tanggung jawab, dan lain sebagainya.42

c. Konsistensi dari pemerintah, karena dengan tidak konsisten perintah yang diberikan dapat memunculkan banyak penafsiran dan tindakan pelaksana kebijakan yang tidak ketat.

2. Sumber Daya

Berjalannya sebuah kebijakan dengan kurangnya sumber daya yang dimiliki dapat memengaruhi implementasi kebijakan menjadi

40 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 156-157

41 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 157

42 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 158

25

kurang efektif, sehingga sumber daya menjadi penting dalam implementasi43. Sumber-sumber diperlukan dalam implementasi kebijakan, yaitu:

a. Staf yang kompeten dan memiliki keahlian dalam melaksanakan tugas,

b. Informasi tentang bagaimana pelaksanaan kebijakan dan data ketaatan personel terhadap peraturan kepada staf atau pelaksana kebijakan,

c. Wewenang pelaksana kebijakan, setiap kebijakan akan memiliki wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan posisi dan tanggung jawab. Seperti hak untuk mengeluarkan perintah, hak untuk penarikan dana dari suatu program, hak penyediaan dana, staf dan bantuan teknis , serta hak untuk membeli barang dan jasa, dan hak memungut pajak,

d. Fasilitas fisik untuk menyokong kegiatan staf dan wewenang yang dimiliki44.

3. Disposisi

Disposisi merupakan sebuah sifat dan karakterisrik yang dimiliki pelaku kebijakan, baik dalam komitmen pada aturan kebijakan, kejujuran dan sikap demokratis yang dimiliki45. Sikap, tingkah laku dan

43 AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 91

44 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 161-166

45 AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 91

26

perspektif pelaksana kebijakan berpengaruh dalam pengimplementasian kebijakan. Sehingga apa yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan dapat sesuai dengan pelaksanaan kebijakan yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.

Sebuah kebijakan dapat berjalan secara efektif dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik itu pelaksana kebijakan dan sasaran kebijakan, akan tetapi juga dapat terjadi pertentangan jika dimunculkan pandangan dan kepentingan pribadi atau kelompok dari pelaksana kebijakan.46

Disposisi dapat berakibat pada ketidakacuhan para administrator atau pelaksana kebijakan, yaitu memunculkan pertentangan pandangan kebijakan antara pelaksana kebijakan dengan kepentingan pribadi atau organisasi. Sehingga dapat menghambat pada implementasi kebijakan.

4. Struktur Birokrasi

Birokrasi adalah pihak yang melaksanakan kebijakan. Birokrasi berada pada struktur pemerintahan serta organisasi swasta yang berhubungan dengan sebuah kebijakan yang dijalankan. Struktur birokrasi juga dapat sengaja dibuat untuk menjalankan sebuah kebijakan agar dapat membantu pelaksanaan kebijakan47.

46 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 170

47 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 176

27

Struktur birokrasi yang terlalu panjang dapat berakibat pada melemahnya pengawasan kebijakan, karena prosedur birokrasi yang rumit48. Pada implementasinya, para pelaksana kebijakan dapat mengalami hambatan oleh struktur-struktur organisasi di tempat dijalankannya kebijakan tersebut. Dua karakteristik dari birokrasi menurut Edwards dalam Budi Winarno (2016:176) yaitu :

a. Prosedur ukuran kerja atau Standard Operating Procedures (SOP), yaitu sebuah prosedur yang digunakan para pelaksana kebijakan, dengan adanya SOP dapat menyamakan setiap tindakan para pejabat yang berada dalam lingkup luas, sehingga memberikan fleksibelitas yang besar dan kesamaan dalam penerapan kebijakan49.

b. Fragmentasi, yaitu tanggung jawab di suatu kebijakan yang banyak dan tersebar, serta terjadi desentralisasi kekuasaan untuk mencapai tujuan kebijakan. Namun hal tersebut dapat melemahkan pengawasan kebijakan dan prosedur pembuatan kebijakan menjadi lebih rumit. Hal tersebut disebabkan adanya tekanan dari luar unit birokrasi seperti pejabat legislatif dan eksekutif, kelompok-kelompok kepentingan, konstitusi negara,

48 AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 92

49Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 177

28

dan sifat kebijakan yang memengaruhi struktur birokrasi pemerintah.50

C. Evaluasi Kebijakan

Setelah terlaksananya sebuah kebijakan, tahap evaluasi pada kebijakan publik sangat penting untuk dapat mengetahui apakah tujuan dari dibuatnya kebijakan sesuai dengan kebijakan yang sudah berjalan. Untuk mengevaluasi sebuah kebijakan, dibutuhkan waktu selama lima tahun berjalannya sebuah kebijakan, sehingga pada tahap evaluasi dapat mengetahui outcome dari kebijakan yang sudah dijalankan51.

Tujuan dari evaluasi sebuah kebijakan menurut Subarsono (2013) yaitu52:

1. Untuk dapat mengetahui tingkat kinerja yang sudah dilakukan oleh pelaksana kebijakan, sehingga pencapaian dan sasaran kebijakan dapat dilihat apakah sudah sesuai dengan rumusan kebijakan, atau belum sesuai.

2. Untuk mengetahui efisiensi dari dibuatnya kebijakan, sehingga dapat diketahui biaya atau anggaran, serta manfaat yang sudah dirasakan oleh sasaran kebijakan kepada pelaksana kebijakan.

50 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 179 dan Ahmad Subandi,

“Implementasi Kebijakan Dana Desa Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor” (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018) hlm. 29

51 A.G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik..., hlm. 119

52 A.G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik..., hlm. 120-121

29

3. Untuk melihat dampak yang dihasilkan dari sebuah kebijakan yang sedang berjalan, sehingga dapat diketahui apakah kebijakan tersebut berdampak baik atau buruk untuk sasaran kebijakan atau lingkungan.

4. Untuk mengetahui penyimpangan yang muncul dari berjalannya kebijakan, apakah tujuan kebijakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai.

5. Untuk dapat menjadi bahan masukan di kebijakan yang akan dibuat di masa mendatang, sehingga dapat menjadi perumusan masalah kembali dan menghasilkan kebijakan baru yang lebih baik dan efektif.

Pada evaluasi kebijakan terdapat tiga tipe menurut James Anderson yang ditulis oleh Budi Winarno (2016)53, pertama evaluasi kebijakan sebagai kegiatan fungsional, sehingga evaluasi dari kebijakan yang sudah dilakukan sama pentingnya dari kebijakan itu sendiri. Kedua evaluasi kebijakan yang fokus pada bagaimana kebijakan tersebut berjalan, sehingga dapat diketahui bagaimana pelaksanaan kebijakan seperti kesesuaian program dengan kebijakan, anggaran yang dikeluarkan, siapa saja sasaran kebijakan, dan lain sebagainya.

Ketiga yaitu evaluasi kebijakan sistematis, pada tipe ini evaluasi

kebijakan melihat secara objektif bagaimana dampak atau manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atau sasaran kebijakan dari berjalannya kebijakan

53 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 194-195

30

tersebut, sehingga dapat diketahui apakah tujuan kebijakan sudah sesuai dan terpenuhi dari pelaksanaan kebijakan tersebut.

Sama halnya dengan tipe yang diberikan oleh James Andeson, menurut Rossi dan Freeman dalam Wayne Parsons (2011) terdapat tiga mode dari evaluasi, yaitu apakah program kebijakan sudah sesuai dengan sasaran kebijakan, komunikasi kebijakan diberikan secara konsisten, dan apa saja sumber daya yang digunakan untuk pelaksanakan kebijakan54.

Dilaksanakannya evaluasi kebijakan sebagai tahapan dari kebijakan publik juga dapat menjadi sebuah cara untuk mengetahui bagaimana efektivitas dari sebuah kebijakan tersebut, sebagaimana yang ditulis oleh A.G. Subarsono, bahwa dengan dilakukannya evaluasi kebijakan dapat mengetahui efektivitas dari sebuah kebijakan dan mengetahui keberhasilan atau kegagalan dari sebuah kebijakan55.

D. Efektivitas Kebijakan

Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti adanya sebuah efek atau akibat dari sebuah hal yang dilakukan56. Kebijakan berasal dari kata policy yaitu sebagai sebuah keputusan yang dipilih untuk mempererat kehidupan baik individu maupun kelompok57. Sehingga efektivitas kebijakan adalah sebuah kebijakan yang target dan tujuannya dapat tercapai.

54 Wayne Parsons, Public Policy: Pengantar Teori & Praktik Analisis Kebijakan (Jakarta:Kencana, 2011) hlm. 550

55 A.G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik..., hlm. 123

56 Daradjat Kartawidjaja, Konsep dan Eektivitas Implementasi Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), (Jakarta: Madani Publishing, 2011) hlm. 213

57 Sahya Anggara, Kebijakan Publik (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014) hlm. 14

31

Efektivitas kebijakan merupakan salah satu bagian dari evaluasi kebijakan, dengan melihat efektivitas dari sebuah kebijakan dapat mengetahui apakah tujuan yang ingin dicapai dari kebijakan tersebut sesuai dengan pelaksanaan kebijakan di lapangan58.

Sejalan dengan hal tersebut, menurut Richards M. Steers dalam Fahrul Juliansyah (2019), efektivitas merupakan sebuah tindakan yang menghasilkan sebuah keluaran dengan adanya kesesuaian antara ketepatan waktu, target dan sasaran. Selain itu, untuk dapat mengetahui dan mengukur bagaimana efektivitas sebuah kebijakan, dapat melihat bagaimana pemahaman program antara pelaksana kebijakan dan sasaran kebijakan, ketepatan sasaran kebijakan, ketepatan waktu terlaksananya kebijakan, tercapainya tujuan kebijakan, dan adanya perubahan nyata antara sebelum dan sesudah kebijakan dilaksanakan59.

58 Sahya Anggara, Kebijakan Publik..., hlm. 279.

59 Fahrul Juliansyah, “Efektivitas Kebijakan Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD),...

hlm. 22

32

BAB III

GAMBARAN UMUM KELURAHAN MEKAR JAYA KECAMATAN SUKMAJAYA KOTA DEPOK

A. Sejarah Kelurahan Mekar Jaya

Kota Depok adalah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Sebelum menjadi sebuah Kota, Kota Depok merupakan kota kecamatan di wilayah Kebupaten Bogor sejak 1982. Pada 27 April 1999, Depok menjadi kotamadya dan terpisah dari Kabupaten Bogor. Pada perkembangannya, Kota Depok mengalami beberapa kali pemekaran wilayah, yaitu pada 1982 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1981, hingga 2008 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pembentukan Wilayah Kecamatan di Kota Depok.

Pada Perda tersebut, jumlah kecamatan sebelumnya yaitu sebanyak 6 kecamatan, kemudian dimekarkan menjadi 11 kecamatan, yaitu Kecamatan Sukmajaya, Kecamatan Limo, Kecamatan Sawangan, Kecamatan Beji, Kecamatan Cilodong, Kecamatan Cimanggis, Kecamatan Tapos, Kecamatan Cinere, Kecamatan Cipayung, Kecamatan Pancoran Mas, dan Kecamatan Bojongsari, serta terdapat 63 kelurahan60.

60 Kemendagri, Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan (Permendagri Nomor 56 Tahun 2016), http://www.kemendagri.go.id/pages/data-wilayah diakses pada 24 Juni 2018.

33

Kelurahan Mekar Jaya sebagai salah satu kelurahan yang mengalami pemekaran. Kelurahan ini diresmikan pertama kali pada 18 Desember 1984 oleh H. Usman H.S. Sebelum mengalami pemekaran, wilayah kelurahan Mekar Jaya memiliki penduduk dan wilayah yang terlalu besar, sehingga dipecah menjadi tiga kelurahan, yaitu kelurahan Mekar Jaya (induk), kelurahan Abadi Jaya dan kelurahan Bakti Jaya61

B. Kondisi Geografis Kelurahan Mekar Jaya

Kelurahan Mekar Jaya berada di Kecamatan Sukmajaya dengan luas 326 Ha62, dengan perbatasan wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kelurahan Baktijaya Sebelah Timur : Kelurahan Abadi Jaya

Sebelah Selatan : Kelurahan Sukmajaya dan Kelurahan Tirtajaya Sebelah Barat : Kelurahan Pancoran Mas63

C. Kondisi Demografis Kelurahan Mekar Jaya 1. Keadaan Penduduk

Pada kondisi demografisnya, karena berada di Kecamatan Sukmajaya yang menjadi kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kota

61 Indah Nur Aini, “Analisis Profil Segmen Gaya Hidup Kondumen dan Karakteristiknya dalam Mengkonsumsi Ikan Segar di Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Sukmajaya. Kota Depok, Jawa Barat” (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Skripsi Institut Pertanian Bogor, 2001) hlm. 30

62 Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Depok Tahun 2016-2021. hlm.

12

63 Citra Ayu Nur Kholifah, “Laporan Praktik Kerja Instansi Penanganan Proses Administrasi Surat Keterangan Nikah Pada Bagian Kemasyarakatan dan Pelayanan di Kantor Kelurahan Mekar Jaya”, 2017 hlm. 8

34

Depok yaitu 296.76764, Kelurahan Mekar Jaya mendapat pengaruh terhadap jumlah penduduk sebanyak 73.215 jiwa, sehingga Kelurahan Mekar Jaya memiliki jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Sukmajaya, seperti dalam tabel sebagai berikut ini:

Tabel III.C.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Nama Kelurahan Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 Sukmajaya 18.636 18.382 37.018

2 Abadijaya 36.695 36.241 72.936

3 Mekarjaya 36.356 36.859 73.215

4 Baktijaya 35.301 34.984 70.285

5 Cisalak 10.361 10.007 20.368

6 Tirtajaya 11.608 11.337 22.945

Total 148.957 147.810 296.767

Sumber: Data Kelurahan Mekar Jaya Tahun 2020

Meningkatnya jumlah penduduk di Kelurahan Mekar Jaya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingginya angka kelahiran dengan meningkatnya kesehatan dan pendidikan masyarakat, selain itu banyaknya migrasi penduduk di Kelurahan Mekar Jaya, mengingat Kota Depok berada dekat dengan Ibu Kota.

64 Laporan Data Kependudukan Kota Depok Tahun 2019 Semester 2, hlm. 12

35 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia

Jumlah penduduk berdasarkan usia 0-18 tahun, sesuai dengan pemanfaatan Kartu Identitas Anak di Kelurahan Mekar Jaya sebanyak 20.895 jiwa, jumlah penduduk laki-laki sebanyak 10.725 jiwa dan perempuan sebanyak 10.170 jiwa65, sebagaimana pada tabel di bawah ini:

Tabel III.C.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia 0-18 Tahun

No. Jenis Kelamin Jumlah

1 Laki-Laki 10.725

2 Perempuan 10.170

Jumlah 20.895

Sumber: Data Kelurahan Mekar Jaya Tahun 2020 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tabel III.C.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan Terakhir

No. Tingkat Pendidikan Penduduk Jumlah

1 Tidak/ Belum Sekolah 12.638

2 Tidak Tamat SD/ Sederajat 6.406

3 Tamat SD/ Sederajat 4.435

4 SLTP/ Sederajat 6.346

5 SLTA/ Sederajat 28.494

65 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), Data Kelurahan Mekar Jaya

36

Sumber: Data Kelurahan Mekar Jaya Tahun 2020

Berdasarkan tabel di atas, tingkat pendidikan masyarakat di Kelurahan Mekar Jaya sudah berada pada kategori menengah. Sudah mulai banyak penduduk yang memiliki pendidikan SLTA/ Sederajat dengan jumlah 28.494 jiwa, walaupun masih banyak penduduk yang tidak/belum sekolah yaitu 12.638 jiwa.

4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Klasifikasi Pekerjaan

Tabel III.C.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Klasifikasi Pekerjaan

No. Tingkat Pendidikan Penduduk Jumlah

1 Belum Bekerja 14.334

2 Mengurus Rumah Tangga 12.868

3 Pelajar 15.357

4 PNS/TNI/POLRI 2.481

5 Karyawan 19.826

6 Pensiun 2.399

Sumber: Data Kelurahan Mekar Jaya Tahun 2020

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa kondisi ekonomi penduduk Kelurahan Mekar Jaya berada pada tingkat menengah, lebih banyak masyarakat yang bekerja sebagai karyawan seperti Industri,

37

Konstruksi, Transportasi, BUMN, BUMD, Swasta, Honorer, Wartawan, Dosen, Guru, Pilot, Pengacara, dan sebagainya66.

D. Keadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Tabel III.D.1 Jumlah Sarana dan Prasarana Pendidikan

No. Jenis Pendidikan Jumlah

1 TK/PAUD/POSPAUD 39

2 SD 21

3 SMP 6

4 SMA/SMK 2

Sumber: Data Kelurahan Mekar Jaya Tahun 2020

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah sarana dan prasarana pendidikan yang berada di Kelurahan Mekar Jaya masih tergolong sedikit, perbandingan antara jumlah sekolah yang ada dengan jumlah penduduk rata-rata usia 0-18 tahun sangat berbeda jauh, namun tetap memberikan

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah sarana dan prasarana pendidikan yang berada di Kelurahan Mekar Jaya masih tergolong sedikit, perbandingan antara jumlah sekolah yang ada dengan jumlah penduduk rata-rata usia 0-18 tahun sangat berbeda jauh, namun tetap memberikan

Dokumen terkait