BAB I PENDAHULUAN
E. Metode Penelitian
Pada penelitian ini sangat diperlukan untuk menentukan metode yang akan digunakan. Berikut ini metode yang digunakan dalam penelitian sebagai jalan untuk membantu proses pelaksanan penelitian:
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan sebuah penelitian yang cara untuk memperoleh data berasal dari deskripi lisan, tulisan, dan pengamatan oranng yang akan diteliti17. Penekanan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan deskripsi analisis dan studi kasus. Yaitu bertujuan agar mengetahui secara mendalam tentang implementasi dan efektivitas dari pelaksanaan kebijakan pembuatan Kartu Identitas Anak di Kel. Mekar Jaya Kec. Sukmajaya Kota Depok
2. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari penelitian kualitatif didapat dari hasil jurnal yang membahas tentang objek dari penelitian yang dilakukan, objek penelitian pada penelitian ini yaitu kebijakan KIA di Kel. Mekar Jaya Kec.
Sukmajaya Kota Depok. Agar penelitian yang dilakukan dapat lebih
17 Agus Salin, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001) hlm. 5
13
mendalam dan spesifik, penelitian ini menggunakan deksripsi kualitatif dan studi kasus.18 Berikut jenis data yang digunakan untuk penelitian :
a. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini menggunakan data wawancara. Wawancara merupakan pertemuan antara peneliti dengan narasumber, jawaban dari narasumberlah yang menjadi data mentah untuk penelitian19. Menurut Stedward dalam Lisa Harrison wawancara juga digunakan sebagai alat untuk menghidupkan topik dari penelitian, sehingga metode ini dapat mengumpulkan data yang belum dikaji secara mendalam dan belum banyak tulisan atau litertur yang membahasnya20.
Pada penelitian ini, untuk mendapatkan hasi penelitian, peneliti melakukan wawancara dengan :
1. Zainal Arifin, Lurah Mekar Jaya
2. Iwan, Operator KIA Kelurahan Mekar Jaya
3. Ahmad Suhendra, Ketua RW 18 Kelurahan Mekar Jaya 4. Nikmah, warga Kelurahan Mekar Jaya serta pemohon
pembuatan KIA
5. Santi, warga Kelurahan Mekar Jaya serta pemohon pembuatan KIA.
6. Suharti, warga Kelurahan Mekar Jaya
18 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Jakarta: Kencana, 2011) hlm, 69
19 Lisa Harrison, Metodologi Penelitian Politik (Jakarta: Kencana, 2016) hlm. 104
20 Lisa Harrison, Metodologi Penelitian Politik... hlm. 104
14 b. Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan untuk penelitian ini yaitu menggunakan sumber yang didapatkan sebelum dilakukannya penelitian21. Data yang diperoleh dapat berupa buku, koran, dokumentasi kegiatan, dan lain sebagainya22.
3. Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang sudah diperoleh untuk penelitian ini yaitu menggunakan deskriptif. Pada proses analisisnya, yaitu dilakukan secara sistematis, mulai dari dikumpulkannya data-data dengan mengklasifikasikan dan mereduksi, serta mendeskripsikan hasil data hingga mendapat kesimpulan23.
Reduksi yaitu memilih, memfokuskan, menerjemahkan, yang kemudian disajikan sebagai bentuk informasi, setelah itu kesimpulan akan didapatkan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan24. Pada analisis data, data diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Lurah Mekar Jaya Zainal Arifin dan Iwan operator KIA Kelurahan Mekar Jaya, Ketua RW 18 Ahmad Suhendra dan warga Kelurahan Mekar Jaya dengan fokus pada penerapan peraturan dalam pembuatan Kartu Identitas di Kel. Mekar Jaya Kec. Sukmajaya Kota Depok.
21 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT Refika Aditama, 2010) hlm. 291
22 Moh. Nazir, Metode Penelitian (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005) hlm 50
23 Matthew B Miles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif (Jakarta: UI Press, 1992) hlm. 43
24 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif: Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi (Jakarta: Djambatan, 2011) hlm. 243-250
15 F. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian implementasi dan efektivitas kebijakan publik, khususnya pembuatan Kartu Identitas Anak di Kel. Mekar Jaya Kec.
Sukmajaya Kota Depok ini, berikut pembagian pembahasan yang penulis bagi menjadi lima bab, yaitu:
Bab I, peneliti menjelaskan permasalahan yang melatarbelakangi pembahasan dan perumusan penelitian, yang berisi latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan penelitian. Permasalahan yang dijelaskan tentang implementasi dan efektivitas dari kebijakan publik pada pembuatan Kartu Identitas Anak di Kel. Mekar Jaya Kec. Sukmajaya Kota Depok. Pada pendekatannya, permasalahan pokok yang akan dibahas berdasarkan metode kualitatif yang membahas bagaimana implementasi yang dilakukan oleh Kel. Mekar Jaya dalam membantu masyarakat untuk membuat Kartu Identitas Anak, serta bagaimana efektivitas dari kebijakan KIA di Kel. Mekar Jaya. Sebagai Kota yang lebih dulu menerapkan kebijakan ini, namun pada kenyataannya banyak anak-anak di Kota Depok yang belum memiliki Kartu Identitas Anak tersebut.
Bab II, peneliti menjelaskan teori yang digunakan pada penelitian ini.
Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori kebijakan publik, teori implementasi kebijakan, evaluasi kebijakan, dan teori efektivitas, untuk menganalisis bagaimana implementasi dan efektivitas dari berjalannya sebuah
16
kebijakan pembuatan Kartu Identitas Anak yang diberikan oleh Kel. Mekar Jaya Kec. Sukmajaya Kota Depok.
Bab III, peneliti mendeskripsikan tentang gambaran umum wilayah Kel. Mekar Jaya Kec. Sukmajaya Kota Depok sebagai pelaksana kebijakan KIA.
Bab IV, pada bab ini peneliti membahas dan menganalisis bagaimana implementasi dan efektivitas kebijakan pembuatan KIA dan apa saja faktor-faktor penghambat dari pelaksanaan pembuatan Kartu Identitas Anak di Kelurahan Mekar Jaya Kecamatan Sukmajaya Kota Depok.
Bab V, peneliti menjelaskan kesimpulan dari hasil penelitian serta saran untuk penyumbang penelitian tentang implementasi kebijakan dan efektivitas kebijakan lebih lanjut.
17
BAB II
KERANGKA TEORETIS
Teori utama yang digunakan yaitu teori kebijakan publik untuk melihat bagaimana kebijakaan pembuatan Kartu Identitas Anak di Depok, didukung dengan teori implementasi kebijakan untuk menganalisis sejauh mana penerapan yang dilakukan pada pembuatan Kartu Identitas Anak, selain itu teori efektivitas dan evaluasi kebijakan untuk dapat mengetahui bagaimana efektivitas dari kebijakan Kartu Identitas Anak di Kelurahan Mekar Jaya Kecamatan Sukmajaya Kota Depok.
A. Kebijakan Publik
1. Definisi Kebijakan Publik
Secara umum, istlah kebijakan publik berasal dari bahasa Inggris, yaitu public policy. Banyak yang menerjemahkan policy sebagai kebijakan dan kebijaksanaan. Sehingga public policy diartikan sebagai kebijakan publik25.
Pada pengertiannya secara umum, banyak ahli yang telah mendefinisikannya. Sebagaimana dikutip oleh Sahya Anggara (2014:35) menurut Thomas R. Dye, kebijakan publik merupakan sebuah tindakan dari pemerintah, baik tindakan untuk melakukan atau tidak kebijakan tersebut. Ketika kebijakan tersebut dilakukan pemerintah juga harus
25 Sahya Anggara, Kebijakan Publik (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014) hal. 35
18
mengetahui alasan dan manfaat untuk masyarakat yang harus dipertimbangkan untuk dilakukan26.
Sejalan dengan James E. Anderson sebagaimana ditulis Sahya Anggara (2014:21) yang mendefinisikan kebijakan publik sebagai sebuah kebijakan yang dibuat dan dirumuskan oleh pejabat pemerintah, sehingga dapat dijadikan sebagai arah untuk mengatasi masalah yang ada di masyarakat27. Penjelasan tersebut menitikberatkan pada bagaimana pemerintah dalam melihat sebuah masalah yang ada di daerah kebijakannya, sehingga apakah akan dicoba untuk diatasi dengan membuat sebuah kebijakan.
Kebijakan publik bertujuan sebagai perangkat dari tindakan pemerintah, hal tersebut agar dapat tercapainya sebuah kebijakan yang diharapkan oleh masyarakat sebagai kostituen pemerintah28. Kebijakan publik menjadi sebuah kebijakan yang sah dan legal, karena dibuat dan diturunkan oleh pemerintah sebagai sebuah lembaga yang memiliki legitimasi dalam sistem pemeritahan. Dibuatnya sebuah kebijakan publik tidak akan terlepas dari teori, model, hipotesis, dan hubungan sebab akibat dengan juga melihat asumsi-asumsi pada perilaku di masyarakat.29
Menurut Young dan Quinn dalam Edi Suharto (2015:44), muncul atau dibuatnya sebuah kebijakan publik berdasarkan reaksi dari masalah
26 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 35
27 Sahya Anggara, Kebijakan Publik., hal. 35 dan Budi Winarno, Kebijakan Publik: Teori, Proses dan Studi Kasus... hal. 21
28 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 36
29 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 36
19
dan kebutuhan yang dialami oleh masyarakat, sehingga diimplementasikan oleh pemerintah yang mewakili kewenangan hukum.
Selain itu, kebijakan publik dibuat untuk mencapai sebuah tujuan dan kepentingan bukan dari keputusan tunggal saja, melainkan demi keuntungan banyak orang.30
Terdapat empat konsep dari kebijakan publik menurut Anderson sebagaimana dikutip oleh Budi Winarno (2014:19), yaitu pertama, orientasi utama dari sebuah kebijakan publik yaitu berasal pada maksud dan tujuan kebijakan, bukan dari perilaku yang biasa atau serampangan.
Kebijakan publik direncanakan oleh pejabat pemerintahan yang terlibat dalam sebuah kebijakan.
Kedua, kebijakan merupakan tindakan yang dilakukan oleh
pejabat-pejabat pemerintah, bukan berasal dari kepentingan individu atau perseorangan. Ketiga, kebijakan dilakukan oleh pemerintah untuk membantu ekonomi atau perdagangan yang dapat membantu kebutuhan masyarakat, sehingga dapat menjadi sebuah kebutuhan masyarakat itu sendiri.
Keempat, kebijakan dapat memungkinkan menjadi hal yang
bersifat positif atau negatif, hal ini bergantung pada bagaimana sikap dari pemerintah mengenai sebuah gejala atau fenomena yang terjadi di masyarakat.31
30 Edi Suharto, Analisis Kebijakan Publik (Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial), (Bandung: Alfabeta, 2015) hal. 44
31 Budi Winarno, Kebijakan Publik (Teori, Proses dan Studi Kasus), (Jakarta: CAPS, 2014) hlm. 19
20 2. Tahapan Kebijakan Publik
Untuk menetapkan atau membuat sebuah kebijakan, lembaga pemerintah dalam hal ini melakukan sebuah rangkaian proses pembuatannya, berikut tahap pembuatan menurut William N. Dunn dalam Sahya Anggara (2014:172-173):32
a. Penyusunan Agenda, pada tahapan ini mencoba untuk merumuskan masalah dari pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan kebijakan. Tahapan ini juga dapat melihat asumsi yang tersembunyi, mengetahui penyebab terjadinya masalah, dan merancang peluang dari kebijakan.
b. Formulasi Kebijakan, tahap ini menimbang atau memperkirakan penyediaan dari informasi yang sesuai dengan kebijakan, terkait pada permasalahan yang dapat timbul di kemudian hari, dapat mengestimasi akibat dari kebijakan yang akan diusulkan, serta mengetahui kendala yang akan terjadi.
c. Adopsi Kebijakan, di tahap ini menghasilkan informasi mengenai manfaat dan biaya dari pelaksanaan kebijakan, dan memperkirakan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Dengan hal tersebut dapat membantu untuk memperkirakan tingkat resiko dan ketidakpastian yang dapat muncul dan menetukan pertanggungjawaban administratif bagi implementasi kebijakan.
32 Sahya Anggara, Kebijakan Publik... hal. 172-173
21
d. Implementasi kebijakan atau tahap pemantauan, pada tahap ini untuk melihat bagaimana pelaksanaan kebijakan yang telah diambil sebelumnya, serta dapat mengatahui hambatan yang terjadi dari pelaksanaan kebijakan dan akibat yang tidak diharapkan dari kebijakan tersebut.
e. Penilaian Kebijakan atau evaluasi, evaluasi menghasilkan informasi mengenai kebijakan yang tidak sesuai antara kinerja yang diterapkan dengan yang dihasilkan. Selain itu juga dapat memunculkan kritik-kritik terhadap nilai-nilai dari kebijakan yang dibuat. Dan dapat kembali menjadi sebuah perumusan masalah.
B. Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan adalah bagian dari cara penerapan sebuah kebijakan yang sudah dijalankan. Implementasi dipandang sebagai makna pelaksanaan undang-undang dengan kerja sama dari berbagai pihak agar tujuan dan sasaran kebijakan dapat tercapai sebagaimana mestinya.33. Pihak-pihak yang terlibat dalam implementasi yaitu (1) pembuatan kebijakan (the center), (2) pejabat-pejabat pelaksana lapangan (the periphery), dan (3) aktor-aktor perorangan di luar badan pemerintah, yaitu kelompok sasaran (target group)34.
Impelementasi kebijakan dari sudut pandang pembuat kebijakan berdasarkan pada usaha dari pejabat dan lembaga pemerintahan di tingkat pusat
33 Lester dan Stewart dalam Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi: Teori, Proses, dan Studi Kasus Komparatif, (Yogyakarta: CAPS, 2016) hlm. 134
34 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan: Dari Formulasi ke Penyusunan Model-Model Implementasi Kebijakan Publik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012) hlm. 131
22
untuk mendapat kepuasan dari pejabat atau lembaga pemerintahan di tingkat daerah agar memberikan pelayanan dan mengubah perilaku di masyarakat. Jika program tidak berjalan, pejabat atau lembaga pusat dapat memberikan sanksi hukum kepada pejabat pemerintahan yang bertangung jawab, atau dapat menimbang serta merumuskan kembali kebijakan tersebut35.
Dari sudut pandang pejabat pelaksana lapangan, implementasi berdasarkan perilaku pejabat dan instansi pelaku kebijakan agar dapat menyukseskan kebijakan dan menanggulangi masalah yang terjadi. Sedangkan dari sudut pandang kelompok sasaran, implementasi terjadi jika pada kelompok sasaran langsung merasakan dampak dari kebijakan yang diberikan oleh pemerintah36.
Salah satu tokoh yang mendefinisikan dan menjelaskan tentang implementasi kebijakan yaitu George Edwards. Sebagaimana dikutip oleh Budi Winarno (2016:156), menurut George Edwards implementasi kebijakan merupakan bagian dari tahap kebijakan publik, yaitu bagaimana pengaruh dan dampak untuk masyarakat37.
Kebijakan dapat gagal jika tidak tepat sasaran, walaupun kebijakan sudah dijalankan. Jika kebijakan sudah dirumuskan dan direncanakan dengan baik, kegagalan masih dapat terjadi jika implementasi tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Sehingga menjadi penting untuk merumuskan dan
35 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan:..., hlm 131
36 Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan:..., hlm 131-132
37 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi: Teori, Proses, dan Studi Kasus Komparatif, (Yogyakarta: CAPS, 2016) hlm. 156
23
mengimplementasikan sebuah kebijakan sesuai dengan sasaran dan tujuan kebijakan, sehingga dapat menyukseskan pelaksanaan kebijakan yang dikeluarkan38.
Untuk dapat mewujudkan implementasi kebijakan yang berhasil dan mengetahui hambatan dalam pengimplementasian sebuah kebijakan, George Edwards dalam Budi Winarno (2016:156-182) memberikan empat faktor atau variabel untuk menjelaskannya:
1. Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu faktor penting untuk melihat sejauhmana implementasi kebijakan. Dalam komunikasi, kebijakan harus dikomunikasikan secara jelas dan menyeluruh kepada sasaran kebijakan dan pelaksana kebijakan, sehingga pada pelaksanaannya dapat sesuai dengan harapan pembuat kebijakan, serta mengurangi permasalahan yang muncul dari kebijakan39.
Edwards sebagaimana dikutip Budi Winarno (2016:156) membagi komunikasi menjadi tiga hal yaitu transmisi, kejelasan dan konsistensi, berikut penjelasannya:
a. Transmisi, yaitu keputusan yang telah dikeluarkan oleh pejabat pembuat kebijakan kepada pelaksana kebijakan. Karena banyak ditemukan keputusan yang telah dikeluarkan diabaikan hingga
38 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi:..., hlm. 156
39 AG Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 90
24
memunculkan kesalahpahaman40. Beberapa hambatan yang muncul dalam proses transmisi yaitu adanya perbedaan pendapat oleh para pelaksana kebijakan dengan pengambil keputusan, informasi yang melawati berlapis hirearki pejabat birokrasi, dan persepsi selektif yang dimunculkan oleh pelaksana sehingga penangkapan informasi yang tidak menyeluruh41.
b. Kejelasan, yaitu kejelasan komunikasi yang diberikan oleh pelaksana kebijakan, karena dengan ketidakjelasan komunikasi yang diberikan dapat memunculkan persepsi dan kesalahpahaman yang dapat bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan. Ketidakjelasan dalam penyampaian komunikasi dapat terjadi karena kebijakan yang terlalu kompleks, tujuan kebijakan yang belum cukup, munculnya masalah pada kebijakan, pelaksana kebijakan yang mencoba untuk menghindari tanggung jawab, dan lain sebagainya.42
c. Konsistensi dari pemerintah, karena dengan tidak konsisten perintah yang diberikan dapat memunculkan banyak penafsiran dan tindakan pelaksana kebijakan yang tidak ketat.
2. Sumber Daya
Berjalannya sebuah kebijakan dengan kurangnya sumber daya yang dimiliki dapat memengaruhi implementasi kebijakan menjadi
40 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 156-157
41 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 157
42 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 158
25
kurang efektif, sehingga sumber daya menjadi penting dalam implementasi43. Sumber-sumber diperlukan dalam implementasi kebijakan, yaitu:
a. Staf yang kompeten dan memiliki keahlian dalam melaksanakan tugas,
b. Informasi tentang bagaimana pelaksanaan kebijakan dan data ketaatan personel terhadap peraturan kepada staf atau pelaksana kebijakan,
c. Wewenang pelaksana kebijakan, setiap kebijakan akan memiliki wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan posisi dan tanggung jawab. Seperti hak untuk mengeluarkan perintah, hak untuk penarikan dana dari suatu program, hak penyediaan dana, staf dan bantuan teknis , serta hak untuk membeli barang dan jasa, dan hak memungut pajak,
d. Fasilitas fisik untuk menyokong kegiatan staf dan wewenang yang dimiliki44.
3. Disposisi
Disposisi merupakan sebuah sifat dan karakterisrik yang dimiliki pelaku kebijakan, baik dalam komitmen pada aturan kebijakan, kejujuran dan sikap demokratis yang dimiliki45. Sikap, tingkah laku dan
43 AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 91
44 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 161-166
45 AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 91
26
perspektif pelaksana kebijakan berpengaruh dalam pengimplementasian kebijakan. Sehingga apa yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan dapat sesuai dengan pelaksanaan kebijakan yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.
Sebuah kebijakan dapat berjalan secara efektif dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik itu pelaksana kebijakan dan sasaran kebijakan, akan tetapi juga dapat terjadi pertentangan jika dimunculkan pandangan dan kepentingan pribadi atau kelompok dari pelaksana kebijakan.46
Disposisi dapat berakibat pada ketidakacuhan para administrator atau pelaksana kebijakan, yaitu memunculkan pertentangan pandangan kebijakan antara pelaksana kebijakan dengan kepentingan pribadi atau organisasi. Sehingga dapat menghambat pada implementasi kebijakan.
4. Struktur Birokrasi
Birokrasi adalah pihak yang melaksanakan kebijakan. Birokrasi berada pada struktur pemerintahan serta organisasi swasta yang berhubungan dengan sebuah kebijakan yang dijalankan. Struktur birokrasi juga dapat sengaja dibuat untuk menjalankan sebuah kebijakan agar dapat membantu pelaksanaan kebijakan47.
46 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 170
47 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 176
27
Struktur birokrasi yang terlalu panjang dapat berakibat pada melemahnya pengawasan kebijakan, karena prosedur birokrasi yang rumit48. Pada implementasinya, para pelaksana kebijakan dapat mengalami hambatan oleh struktur-struktur organisasi di tempat dijalankannya kebijakan tersebut. Dua karakteristik dari birokrasi menurut Edwards dalam Budi Winarno (2016:176) yaitu :
a. Prosedur ukuran kerja atau Standard Operating Procedures (SOP), yaitu sebuah prosedur yang digunakan para pelaksana kebijakan, dengan adanya SOP dapat menyamakan setiap tindakan para pejabat yang berada dalam lingkup luas, sehingga memberikan fleksibelitas yang besar dan kesamaan dalam penerapan kebijakan49.
b. Fragmentasi, yaitu tanggung jawab di suatu kebijakan yang banyak dan tersebar, serta terjadi desentralisasi kekuasaan untuk mencapai tujuan kebijakan. Namun hal tersebut dapat melemahkan pengawasan kebijakan dan prosedur pembuatan kebijakan menjadi lebih rumit. Hal tersebut disebabkan adanya tekanan dari luar unit birokrasi seperti pejabat legislatif dan eksekutif, kelompok-kelompok kepentingan, konstitusi negara,
48 AG. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik (Konsep, Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2013) hlm. 92
49Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 177
28
dan sifat kebijakan yang memengaruhi struktur birokrasi pemerintah.50
C. Evaluasi Kebijakan
Setelah terlaksananya sebuah kebijakan, tahap evaluasi pada kebijakan publik sangat penting untuk dapat mengetahui apakah tujuan dari dibuatnya kebijakan sesuai dengan kebijakan yang sudah berjalan. Untuk mengevaluasi sebuah kebijakan, dibutuhkan waktu selama lima tahun berjalannya sebuah kebijakan, sehingga pada tahap evaluasi dapat mengetahui outcome dari kebijakan yang sudah dijalankan51.
Tujuan dari evaluasi sebuah kebijakan menurut Subarsono (2013) yaitu52:
1. Untuk dapat mengetahui tingkat kinerja yang sudah dilakukan oleh pelaksana kebijakan, sehingga pencapaian dan sasaran kebijakan dapat dilihat apakah sudah sesuai dengan rumusan kebijakan, atau belum sesuai.
2. Untuk mengetahui efisiensi dari dibuatnya kebijakan, sehingga dapat diketahui biaya atau anggaran, serta manfaat yang sudah dirasakan oleh sasaran kebijakan kepada pelaksana kebijakan.
50 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 179 dan Ahmad Subandi,
“Implementasi Kebijakan Dana Desa Neglasari Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor” (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018) hlm. 29
51 A.G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik..., hlm. 119
52 A.G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik..., hlm. 120-121
29
3. Untuk melihat dampak yang dihasilkan dari sebuah kebijakan yang sedang berjalan, sehingga dapat diketahui apakah kebijakan tersebut berdampak baik atau buruk untuk sasaran kebijakan atau lingkungan.
4. Untuk mengetahui penyimpangan yang muncul dari berjalannya kebijakan, apakah tujuan kebijakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai.
5. Untuk dapat menjadi bahan masukan di kebijakan yang akan dibuat di masa mendatang, sehingga dapat menjadi perumusan masalah kembali dan menghasilkan kebijakan baru yang lebih baik dan efektif.
Pada evaluasi kebijakan terdapat tiga tipe menurut James Anderson yang ditulis oleh Budi Winarno (2016)53, pertama evaluasi kebijakan sebagai kegiatan fungsional, sehingga evaluasi dari kebijakan yang sudah dilakukan sama pentingnya dari kebijakan itu sendiri. Kedua evaluasi kebijakan yang fokus pada bagaimana kebijakan tersebut berjalan, sehingga dapat diketahui bagaimana pelaksanaan kebijakan seperti kesesuaian program dengan kebijakan, anggaran yang dikeluarkan, siapa saja sasaran kebijakan, dan lain sebagainya.
Ketiga yaitu evaluasi kebijakan sistematis, pada tipe ini evaluasi
kebijakan melihat secara objektif bagaimana dampak atau manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atau sasaran kebijakan dari berjalannya kebijakan
53 Budi Winarno, Kebijakan Publik era Globalisasi..., hlm. 194-195
30
tersebut, sehingga dapat diketahui apakah tujuan kebijakan sudah sesuai dan terpenuhi dari pelaksanaan kebijakan tersebut.
Sama halnya dengan tipe yang diberikan oleh James Andeson, menurut Rossi dan Freeman dalam Wayne Parsons (2011) terdapat tiga mode dari evaluasi, yaitu apakah program kebijakan sudah sesuai dengan sasaran kebijakan, komunikasi kebijakan diberikan secara konsisten, dan apa saja sumber daya yang digunakan untuk pelaksanakan kebijakan54.
Dilaksanakannya evaluasi kebijakan sebagai tahapan dari kebijakan publik juga dapat menjadi sebuah cara untuk mengetahui bagaimana efektivitas dari sebuah kebijakan tersebut, sebagaimana yang ditulis oleh A.G. Subarsono, bahwa dengan dilakukannya evaluasi kebijakan dapat mengetahui efektivitas dari sebuah kebijakan dan mengetahui keberhasilan atau kegagalan dari sebuah kebijakan55.
D. Efektivitas Kebijakan
Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti adanya sebuah efek atau akibat dari sebuah hal yang dilakukan56. Kebijakan berasal dari kata policy yaitu sebagai sebuah keputusan yang dipilih untuk mempererat kehidupan baik individu maupun kelompok57. Sehingga efektivitas kebijakan adalah sebuah kebijakan yang target dan tujuannya dapat tercapai.
54 Wayne Parsons, Public Policy: Pengantar Teori & Praktik Analisis Kebijakan (Jakarta:Kencana, 2011) hlm. 550
55 A.G. Subarsono, Analisis Kebijakan Publik..., hlm. 123
56 Daradjat Kartawidjaja, Konsep dan Eektivitas Implementasi Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), (Jakarta: Madani Publishing, 2011) hlm. 213
57 Sahya Anggara, Kebijakan Publik (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014) hlm. 14