• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

3.4 Variabel Penelitian/Fenomena yang diamati

3.4.1 Definisi Konsep

Definisi konseptual merupakan pemberian penjelasan tentang konsep dari variabel yang akan diteliti menurut pendapat peneliti berdasarkan kerangka pemikiran teori yang digunakan. Adapun definisi konsep dari judul

‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Studi kasus wilayah

laut Marunda Jakarta Utara)’’ yaitu :

1. Peraturan Pemerintah (disingkat PP) adalah Peraturan Perundang-undangan di Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang

sebagaimana mestinya. Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi untuk menjalankan Undang-Undang. Di dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dinyatakan bahwa Peraturan Pemerintah sebagai aturan organik daripada Undang-Undang menurut hirarkinya tidak boleh tumpang tindih atau bertolak belakang. Peraturan Pemerintah ditandatangani oleh Presiden.

2. Pengendalian Pencemaran. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lainnya kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tersebut tidak dapat berfungsi sebagimana peruntukkannya (PP no.27 th 1997 UU lingkungan hidup). Dalam Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990 tentang pengendalian

pencemaran air disebutkan bahwa ”Pengendalian adalah upaya pencegahan dan

atau penanggulangan dan atau pemulihan pada kondisi semula (pasal 1 ayat 3). Purwono, (2002 :32) dalam bukunya mendefinisikan pengendalian lingkungan adalah Setiap hal yang dilakukan atas kegiatan manusia baik secara perseorangan maupun secara kelompok dalam kegiatan usaha memperoleh tatanan hidup menjadi lebih baik perlu dilakukan pengendalian agar mampu menyeimbangkan dengan lingkungan sekitarnya, baik pengendalian financial atau keuangan maupun pengendalian secara struktural.

3. Laut kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. Jadi laut adalah merupakan air yang

menutupi permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin. Biasanya air mengalir yang ada di darat akan bermuara ke laut. 3.4.2 Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan penjabaran konsep atau variabel penelitian dalam rincian yang terukur (indikator penelitian). Variabel penelitian dilengkapi dengan tabel matriks variabel, indikator, sub indikator dan nomor pertanyaan sebagai lampiran. Namun dalam penelitian kualitatif tidak perlu dijabarkan menjadi indikator maupun sub indikator tetapi cukup menjabarkan fenomena yang akan diamati. Adapun definisi operasional dari judul

‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. (Studi kasus

Wilayah Laut Marunda Jakarta Utara)’’ yaitu:

Keberhasilan dari Implementasi kebijakan dapat diukur melalui variabel-variabel. Menurut Ripley dan Franklin (dalam Alfatih 2010:51-52) ada tiga cara yang dominan bagi suksesnya implementasi kebijakan, yaitu:

1. Tingkat kepatuhan pada ketentuan yang berlaku (the degree of compliance on the statute), tingkat keberhasilan implementasi kebijakan dapat diukur dengan melihat tingkat kepatuhan terhadap isi kebijakan dengan mandat yang telah diatur. 2. Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi, (smoothly functioning routine and the absence of problem), keberhasilan implementasi kebijakan dapat ditandai dengan lancarnya rutinitas fungsi dan tidak adanya masalah yang dihadapi.

3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki (the leading of the desired performance and impact), bahwa dengan adanya kinerja dan dampak yang baik merupakan wujud keberhasilan implementasi kebijakan.

3.5 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian mengenai Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Laut Marunda Jakarta Utara yang menjadi instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri. Menurut Moleong (2006:168) menyebutkan bahwa yang dilakukan peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan perencana, pelaksanaan, pengumpulan data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.

Peneliti sebagai key instrument juga harus “divalidasi” seberapa jauh

peneliti siap melakukan penelitian yang selanjutnya turun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi validasi terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui evaluasi diri seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan

Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus mengetahui apa yang harus di teliti dan data-data apa saja yang dibutuhkan dalam menyusun laporan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian di Kawasan Pesisir Laut Marunda Cilincing Jakarta Utara dan kemudian untuk melengkapi data peneliti mengambil data dari berbagai stakeholder yang berwenang. Menurut Bugin (2003:129) teknik pengumpulan data adalah bagian instrumen pengumpulan data yang menentukan keberhasilan suatu penelitian. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.

1. Observasi

Secara luas observasi atau pengamatan berarti setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran. Akan tetapi, observasi atau pengamatan disini diartikan lebih sempit, yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan (Soehartono 2004:69). Pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperan serta dan tidak berperan serta. Pada pengamatan tanpa berperanserta pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan pengamatan tertutup. Yang terbuka atau tertutup disini adalah pengamat dan latar penelitian. Pengamat secara terbuka diketahui oleh subjek,sedangkan sebaliknya para subjek dengan sukarela memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang terjadi dan mereka menyadari bahwa ada orang yang mengamati hal yang dilakukan oleh mereka (Moleong 2007:176). Dalam penelitian ini, teknik observasi/pengamatan yang digunakan adalah observasi berperanserta

(observation participant). Pengamatan berperan serta dianggap cocok untuk meneliti bagaimana manusia berperilaku dan memandang realita kehidupan meraka dalam lingkungan mereka yang biasa, rutin, dan alamiah.

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (inteviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong 2007:186). Maksud mengadakan wawancara seperti yang dimaksudkan oleh Lincoln dan Guba dalam Moleong adalah mengkontruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan; merekontruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu, memproyeksi kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi), dan memverifikasi, mengubah dan memperluas kontruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.

Metode yang dilakukan dalam wawancara penelitian tentang ‘’Implementasi

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut di Laut Marunda Jakarta Utara’’ adalah dengan teknik

wawancara terstruktur yaitu wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Pada wawancara

telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam prakteknya selain membawa instrumen sebagai pedoman wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur, dan material lain yang dapat membantu dalam wawancara. (Sugiyono, 2007:138)

Penelitian tentang ‘’Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun

1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut: studi kasus di

Laut Marunda Jakarta Utara’’ menggunakan teori untuk mengukur keberhasilan Implementasi menurut Ripley dan Franklin ada tiga indikator serta sub-sub indikator yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.4

Pedoman Wawancara Penelitian

No Indikator Sub Indikator Pertanyaan Informan 1. Tingkat Kepatuhan (Complience) Perilaku Implementor 1.Apakah Implementor sudah mematuhi prosedur dan mekanisme pencegahan hingga pemulihan mutu laut?

2. Bagaimana bentuk dukungan

masyarakat/LSM/pihak industri dalam pencegahan hingga pemulihan

pencemaran?

3.Bagaimana selama ini perizinan dokumen izin lingkungan dilakukan?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Masyarakat nelayan Industri Pemahaman Implementor terhadap kebijakan

1. Bagaimana kejelasan dan konsistensi para pelaksana pada sasaran program? 2. Bagaimana pembinaan pegawai di lingkungan birokrasi?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM Masyarakat nelayan Peran dari pihak yang berwenang

1.Bagaimana peran dari pihak yang berwenang dalam hal pengendalian pencemaran laut? 2.Sejauhmana tingkat partisipasi

masyarakat/LSM/Industri dalam mematuhi kebijakan

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas

Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara

pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan fungsi?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas

Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara

Lancarnya pelaksanaan rutinitas fungsi Fungsi koordinasi dalam penyusunan program

1.Apakah koordinasi dan sinkronisasi dengan instansi terkait dalam melaksanakan pengawasan dan

pengendalian di bidang lingkungan kelautan sudah berjalan efektif?

2.Bagaimana koordinasi antar lembaga pemerintah dengan pihak non

pemerintahan?

(LSM/Masyarakat/Industri)

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Masyarakat nelayan Industri Fungsi Pelayanan informasi

1.Apakah fungsi pengaduan mengenai pencemaran lingkungan sudah berjalan secara efektif?

2.Bagaimana upaya sosialisasi programkepada masyarakat dalam hal untuk meningkatkan partisipasi masyarakat?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Masyarakat nelayan

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Masyarakat nelayan Fungsi Regulasi

1.Apakah selama ini kewenangan daerah dalam rangka membuat regulasi kebijakan terjadi disharmoni atau terdapat tumpang tindih kebijakan? 2.apa sajakah program strategis yang dilakukan dalam rangka pengendalian pencemaran lingkungan?(air laut)

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara Fungsi Penegakan Hukum 1.Bagaimana pelaksanaan kebijakan penegakan hukum lingkungan dalam hal ini fasilitasi penyelesaian sengketa lingkungan dan

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup

berbagai tindakan pencemaran? Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) 3 Terwujudnya kinerja dampak yang dikehendaki Implementasi program 1.Bagaimana proses implementasi pengendalian pencemaran laut dan/atau perusakan laut dilakukan? 2.apa saja yang berhasil dicapai dalam target program?

3.Apakah visi-visi Lingkungan Jakarta yang berkelanjutan sudah tercapai?

4.Apakah sejauh ini masyarakat pesisir laut marunda sudah merasakan dampak kebijakan yang menjadi tujuan yang dikehendaki?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Masyarakat nelayan Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Masyarakat Nelayan Marunda

Faktor penentu keberhasilan 1.Apakah SDM menjadi faktor keberhasilan kebijakan tersebut? 2.Bagaimana alokasi anggaran pengelolaan lingkungan? 3.Apakah infrastruktur sudah memadai dalam mendukung kebijakan?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara Hambatan-hambatan

1.Apakah terdapat kendala yang paling utama dalam implementasi kebijakan? 2.Apakah selama ini sasaran program atau SDM

menentang kebijakan? 3.Apakah upaya Rehabilitas lingkungan berjalan secara Optimal?

Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Suku Dinas Peternakan,Perikana n dan Kelautan Jakarta Utara LSM (WALHI,KIARA) Sumber : Peneliti,2015 3. Studi Dokumentasi

Penggunaan dokumen ini berkaitan dengan apa yang disebut analisa isi. Cara menganalisa isi dokumen ialah dengan memeriksa dokumen secara sistematik bentuk-bentuk komunikasi yang dituangkan secara tertulis dalam bentuk dokumen secara obyektif. Kajian isi atau content analysis document ini didefinisikan oleh Berelson yang dikutip Guba dan Lincoln, sebagai teknik penelitian untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis dan kuantitatif tentang manifestasi komunikasi. Sedangkan Weber menyatakan bahwa kajian isi adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat

Definisi lain dikemukakan Holsti, bahwa kajian isi adalah teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan, dan dilakukan secara objektif, dan sistematis (Moleong 2007:220).

Data dalam penelitian ini adalah berupa dokumen peraturan-peraturan, struktur organisasi, tupoksi dan data-data lain yang menunjang dalam penelitian tentang pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.