• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

HASIL PENELITIAN

3. Terwujudnya Kinerja dan Dampak yang dikehendaki

Kebijakan dibuat dengan tujuan-tujuan dan harapan yang dikehendaki, kebijakan Pengendalian Pencemaran Laut yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 menghendaki sumber daya alam dalam hal ini laut dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut adalah melakukan upaya Rehabilitasi Lingkungan akibat pencemaran tersebut. Namun pada kenyataannya dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa rehabilitasi lingkungan laut sepertinya belum berjalan secara optimal sesuai dengan yang dikehendaki. Hal ini ditandai dengan belum adanya upaya-upaya pemulihan laut. Pemulihan mutu laut yang sudah tercemar selain dari pihak pemerintah, masyarakat juga mempunyai peran penting dalam meningkatkan partisipasi dan kepedulian terhadap lingkungannya tetapi fakta dilapangan adalah sulitnya rehabilitasi lingkungan juga karena tidak adanya dukungan dari masyarakat sekitar untuk tidak membuang limbahnya ke laut serta belum ada dukungan dalam bentuk kegiatan-kegiatan memperbaiki fungsi laut yang diadakan secara mandiri maupun bermitra dengan pemerintah.

Tabel 4.6 Hasil penelitian

No Indikator Hasil Temuan di Lapangan Kendala

1. Kepatuhan Ketidakpatuhan beberapa

industri sekitar laut Marunda, yang terjadi dilapangan tidak semua industri memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Limbah) yang memadai, dan tidak patuh dalam memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Dengan hal tersebut menunjukan bahwa sejumlah pabrik dikawasan industri tersebut juga tidak memenuhi prosedur atau persyaratan yang telah tertuang dalam peraturan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran dan/atau Perusakan Laut.

Partisipasi masyarakat yang rendah terhadap kebersihan lingkungan laut Marunda.

Disharmoni terhadap pengelola kawasan industri tentang ketersediaan fasilitas kepemilikan IPAL. Masyarakat tidak begitu paham terhadap kebijakan yang ada.

Tidak konsistennya stakeholder pemangku kebijakan dalam hal pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut, masih rendahnya peran pemerintah dalam keseriusan menghadapi pencemaran yang ada.

Kurangnya SDM dalam

aktivitas fungsi Marunda tersebut dapat disimpulkan terjadi koordinasi yang disharmoni antara pemerintah dengan pihak non pemerintah (LSM dan masyarakat). Mereka merasa selama ini tidak dilibatkan secara aktif dalam menangani kasus pencemaran yang telah terjadi. Padahal dampak yang dirasakan adalah kepada orang-orang sekitar yang menggantungkan hidupnya pada laut sekitar. Koordinasi antar sektor pemerintah tidak optimal dalam menangani Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut.

Dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat maka Kantor Lingkungan Hidup dan BPLHD membentuk Pos Pengaduan dan Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan. Layanan ini salah satu tujuan dibentuknya adalah agar masyarakat dapat melakukan pelaporan, apabila terjadi permasalahan lingkungan hidup yang berdampak dan merugikan bagi lingkungan dan layanan tersebut merupakan wadah untuk memediasi seandainya terjadi sangketa lingkungan hidup. Pemerintah mempunyai peran sebagai mediator, serta sebagai pihak yang menyepakati perhitungan ganti rugi atau tindakan tertentu bagi pencemar dan perusak lingkungan hidup. Sebagaimana

Kurangnya sosialisasi kepada Masyarakat. Minimnya kesadaran dari masyarakat, selama ini mindset masyarakat

pemerintah hanya akan merugikan dan merepotkan masyarakat.

Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Kurangnya SDM dalam pengawasan aktif. 3. Terwujudnya kinerja dan dampak yang dikehendaki

Belum optimalnya implementasi program-program strategis dalam Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut.

Kurangnya SDM dan Partisipasi dari Masyarakat dalam mendukung kebijakan. SDM sangat mempengaruhi keberhasilan Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Laut.

Tidak terdapat kendala dalam Anggaran dan Infrastruktur pendukung kebijakan.

Upaya Rehabilitasi Lingkungan Laut yang terdapat di wilayah Laut Marunda belum berjalan secara optimal. Tidak adanya dukungan dari seluruh stakeholder (Peneliti,2015)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut di wilayah laut Marunda Jakarta Utara belum optimal.

1. Jika melihat dengan beberapa indikator yaitu tingkat kepatuhan (complience) yang paling mempunyai pengaruh besar terhadap ketidakoptimalan sebuah kebijakan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 seperti dalam pencegahan hingga pemulihan mutu air laut. Pada implementasinya yang terjadi di lapangan adalah beberapa stakeholder sebagai instrumen pencegahan hingga pemulihan mutu laut telah melanggar prosedur yang ditetapkan dalam kebijakan seperti dalam pencegahan pencemaran yang terjadi justru beberapa industri tidak patuh terhadap aturan karena beberapa diantara industri disekitar tidak memiliki IPAL yang memadai, rendahnya partisipasi dari masyarakat dalam menjaga kebersihan laut dan belum adanya keseriusan pemerintah dalam pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut.

2. Pada indikator terhadap Lancarnya Aktivitas Fungsi yaitu pelaksanaan aktivitas fungsi-fungsi dari pemangku kebijakan masih terjadi

kendala-pemerintah. Kendala pengawasan yaitu kurangnya SDM yang ada dalam pengawasan aktif.

3. Untuk mencapai Kinerja dan dampak yang dikehendaki dari Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan laut yang dilakukan adalah dengan upaya Rehabilitasi tetapi pada implementasinya belum berjalan dengan baik dengan kendala karena untuk dalam upaya pencegahan pencemaran saja belum dilakukan secara efektif sehingga upaya pemulihanpun tidak optimal. Kendala yang dialami dalam upaya rehabilitasi yaitu belum adanya dukungan secara nyata terhadap pemulihan mutu lingkungan laut.

Keberhasilan implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Studi kasus di wilayah laut Marunda Jakarta Utara) ini mencakup keterkaitan dan keseluruhan aspek lingkungan yang telah memberi konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi berintegrasi dengan seluruh pelaksanaan seperti pemerintah, masyarakat, swasta (industri) dan LSM.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil dari penelitian yang berjudul Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Studi kasus di wilayah laut Marunda Jakarta Utara) ini, maka peneliti dapat memberikan saran agar dapat melaksanakan atau mengimpelemntasikan peraturan berjalan dengan semestinya. Adapun saran-saran tersebut yaitu:

1. Pada tingkat kepatuhan perlu ditingkatkan lagi dengan cara diberikan pembinaan dan sanksi yang tegas agar segala prosedur pengendalian dampak lingkungan dilaksanakan.Ketidakpatuhan yang selama ini terjadi seyogianya dilakukan secara terpadu semua sektor, dan bukan saja tugas dari dinas terkait saja tetapi dikerjakan secara multisektoral dari sektor pemerintah saja tetapi swasta/masyarakat.

2. Dalam kelancaran aktivitas fungsi perlu ditingkatkan lagi bentuk pengawasan secara aktif yaitu target pengawasan secara langsung ditambah agar tidak hanya sebagian saja tetapi diharapkan mampu menjangkau seluruhnya sehingga tidak adanya lagi celah pelanggaran dalam dokumen pengawasan pasif yang berbentuk laporan. Pengawasan aktivitas usaha dan/atau kegiatan secara ketat baik itu industri besar, industri kecil, aktivitas budidaya, transportasi sampai kepada rumah tangga (domestik).

4. jumlah SDM dalam pembinaan dan pengawasan lingkungan hidup agar upaya pengawasan dapat secara rutin dilakukan aktif ke lapangan agar tidak memiliki celah terhadap yang melanggar peraturan serta meningkatkan koordinasi seluruh stakeholder. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan dalam pengawasan berupa pengawasan sosial, yaitu seperti pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan, penyampaian informasi dan/atau laporan karena prakteknya masyarakat cukup pasif terhadap pencemaran yang telah terjadi.

5. Dalam upaya mencapai kinerja dan dampak yang ingin dikehendaki perlu dilakukan kegiatan yang dilakukan secara mandiri dan/atau bermitra dengan Pemerintah Daerah dan/atau lembaga lainnya, serta pemerintah memberikan sosialisasi mengenai kebijakan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut khususnya dalam hal pemulihan mutu air laut.

6. Dalam mencapai upaya kinerja dan dampak yang dikehendaki yaitu melalui rehabilitasi sudah selayaknya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meninjau kembali upaya Reklamasi yang akan dilakukan dengan proses AMDAL secara transparan karena upaya Reklamasi Teluk Jakarta yang akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang salah satunya berkaitan erat dengan properti untuk bisnis dan perumahan bagi warga Jakarta hanya menambah permasalahan bukan hanya lingkungan tetapi sosial. Ini bertolak belakang dengan upaya

Restorasi mengembalikan fungsi semula dengan cara memperbaiki hutan mangrove sekitar alam pesisir Jakarta bukan melakukan Reklamasi Teluk Jakarta.

Buku

Abdul Wahab, Solichin. 2005. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara (Edisi Kedua). Jakarta: Bumi Aksara Abidin, Said Zainal, 2012. Kebijakan Publik. Jakarta: Salemba Humanika.

Agustino, Leo, 2008. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: CV.Alfabeta

Alfatih, Andy, 2010. Implementasi kebijakan dan Pemberdayaan masyarakat. Bandung : Unpad Press.

A.G, Subarsono, 2005. Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Bungin, Burhan, 2003. Analisis Penelitian Kualitatif. Pemahaman Filsofis dan

Metodologi ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo, Persada

Dahuri Rokhmin dan Ginting Sapta Putra, 2008.Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta : Balaipustaka.

Darmono, 2010. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta: UI-Press

Denzin dan Licoln. 2009. Handbook of Qualitatif Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dunn, William N., 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik, (Edisi Kedua). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Emzir, 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif, Analisis Data. Jakarta: Rajawali Pers Fuad, Anis dan Kandung Sapto N, 2014. Panduan Praktis Penelitian Kualitatif.

Yogyakarta: Graha Ilmu

Irawan,Prasetya.2006. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk ilmu-ilmu sosial.Departemen Ilmu Administrasi Fisip UI.

Islamy, Irfan. 2009. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

Manik, K.E.S, 2009. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta : Djambatan

Moleong, Lexy.J., 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muchsin, dan Fadillah. P., 2002. Hukum dan Kebijakan Publik. Malang: Averroes Press

Mukhtasor, 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta:Pradnya Paramita Nugroho, riant,2011. Public Policy. Jakarta : Elex Media Komputindo

Soehartono, Irawan. 2004Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.

Suryabrata.Sunadi.2008.Metode Penelitian. Jakarta: PT.Raja Grafindo

Sudini, Luh Putu. 2012. Pengelolaan Pencemaran Laut di Indonesia. Jakarta:Titah Surga.

Alfabeta

Tangkilisin, Hesel Nogi 2003. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Lukman Offset YPAPI.

Yustinus, W. 2008. Policy Implementation and Bureaucracy. Yogyakarta: JNP MAP Universitas Gadjah Mada.

Jurnal

Akib, Header. Jurnal Administrasi Publik:volume 1 (Nomor 1) Tahun 2010

Lestari dan Edward 2004. Dampak Pencemaran Logam Berat Terhadap Kualitas Air Laut dan Sumber Daya Perikanan (Studi Kasus Kematian Massal Ikan-ikan di Teluk Jakarta).Makara Sains Vol.8 No.2 52-58.

Don.Suherta. 2013. Implementasi Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.Universitas Sriwijaya

Suhendar I.S dan Heru D.W 2007. Kondisi Pencemaran Lingkungan Perairan di Teluk Jakarta.Vol.3 1-14.

Syarli.Marisha.Implementasi Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2003 Tentang Perizinan Penyelenggaraan Hiburan di Kota Cilegon (Studi pada jenis hiburan Life Music) FISIP UNTIRTA

Sumber Lain

Ahdiat,2012. Pencemaran Laut dan Upaya Penegakan hukumnya di Indonesia. Universitas Hasanudin Makassar.

http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/pencemaran-pesisir-dan-laut.html. Di unduh pada 02-01-2015 19.12 wib.

Don Suherta.2011. Implementasi Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Di unduh 10-02-2015 19.20wib.

Peraturan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian dan/atau Perusakan Laut