METODOLOGI PENELITIAN
HASIL PENELITIAN
4.2 Deskripsi Data
4.2.3 Terwujudnya Kinerja/Dampak yang dikehendaki
Kebijakan dibuat dengan tujuan-tujuan dan harapan yang dikehendaki, kebijakan Pengendalian Pencemaran Laut yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 menghendaki sumber daya alam dalam hal ini laut dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Sumber daya alam memiliki dua peran, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi dan sebagai penopang sistem kehidupan.Atas dasar fungsi tersebut, sumber daya alam senantiasa harus dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. Karena dalam kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 ini menyatakan bahwa meningkatnya pembangunan di darat maupun di laut yang memanfaatkan
laut beserta sumber daya alamnya akan mengakibatkan pencemaran yang akhirnya menurunkan fungsi laut itu sendiri. Maka dari itu untuk melaksanakan pembangunan haruslah mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan berbasis lingkungan.
Implementasi dari pelestarian lingkungan laut melalui pengendalian pencemaran mendeskripsikan tingkat ketercapaian dampak yang ingin di kehendaki. Implementasi dari suatu kegiatan menjelaskan bagaimana proses kegiatan yang dilaksanakan itu guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam implementasinya pengendalian pencemaran laut di kawasan laut Marunda, salah satu ketua kelompok nelayan 16 mengungkapkan dalam wawancara :
‘’implementasi selama ini berjalan saja tetapi ya begitu tidak ada dampak yang dirasakan ke arah yang lebih baik, padahal beberapa waktu sering d iambel sample air yang tercemar untuk diteliti tetapi hasil dan tindak
lanjutnya kita tidak tahu.’’ (wawancara pada Minggu, 19 April 2015 pukul 16.14 wib)
Kemudian peneliti menanyakan hal yang sama kepada 17 juga mengungkapkan dampak dari proses implementasi yang tidak berjalan secara optimal seperti berikut :
‘’ya selama ini sih aturan hanya aturan, tetapi dampak pencemarannya
begitu kita rasakan untuk mendapatkan ikan kita harus benar ke tengah tetapi kendalanya kan ikan yang kita dapat sedikit tetapi justru biaya solar nambah, makanya aturan apapun kita ingin segera dilakukan yang tegas
kepada yang berwenang.’’ (wawancara pada Minggu, 19 April 2015 pukul
17.02 wib)
Hal yang sama diungkapkan oleh I8 yakni sebagai masyarakat nelayan dengan pertanyaan wawancara yang sama terkait bagaimana proses implementasi
pengendalian pencemaran selama ini kurang memberikan dampak apa-apa,
pencemaran tidak berkurang.’’ (wawancara dengan Bpk.Suparjo pada Minggu, 19 April 2015 pukul 17.48 wib)
Bahwa terkait masalah implementasi kebijakan pengendalian pencemaran laut ini, BPLHD Provinsi Jakarta mengatakan dalam wawancaranya bahwa langkah upaya implementasi dari pengendalian pencemaran laut saat ini
implementasinya proses menuju baik’’ (wawancara dengan Bpk.Arifudin Nur
Kepala Sub bidang Penegakan Hukum BPLHD DKI Jakarta pada Rabu, 27 April 2015 pukul 12.04 wib)
Belum optimalnya implementasi kebijakan pengendalian pencemaran yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun1999 ada beberapa kendala yang dihadapi seperti yang diungkapkan Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara Sub.Bidang Pengawasan dan Pengendalian dampak lingkungan.
‘’kendalanya dari ketaatan dari pengelolaan limbah industri dan
rendahnya partisipasi masyarakat sekitar, serta kurangnya SDM dari bidang pengawasan, sasaran program cenderung tidak patuh karena cari
aman’’. (wawancara pada Rabu, 22 April 2015 puku; 11.32 wib)
Tujuan dari implementasi kebijakan pengendalian pencemaran laut adalah menghendaki sumber daya alam dalam hal ini laut dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut adalah melakukan upaya Rehabilitasi Lingkungan akibat pencemaran tersebut. Namun pada kenyataannya rehabilitasi lingkungan laut sepertinya belum berjalan secara efektif, seperti yang
dikatakan oleh I2 mengenai upaya rehabilitasi seperti rehabilitasi memang dilakukan, tetapi belum efektif karena masuknya limbah jadi habitat laut masih terganggu.(wawancara dengan Bpk.Abdul Cholik Kepala Seksi Perikanan dan Kelautan Jakarta Utarapada Rabu, 22 April 2015 pukul 12.05 wib)
Dari sudut pandang bidang perikanan dan kelautan upaya rehabilitasi memang sedang dilakukan tetapi kenyataan dilapangan bahwa pencemaran terus terjadi sehingga upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka memenuhi target pemulihan mutu laut tidak berjalan efektif. Upaya yang dilakukan tidak sebanding dengan pencemaran yang terjadi akibat beberapa sumber. Pengelola lingkungan hidup dalam hal ini yang mempunyai wewenang dalam pengendalian dampak lingkungan mengatakan :
‘’upaya rehabilitasi lingkungan belum efektif, kita masih sulit merehabilitasi lingkungan, karena kita belum pernah penjarakan orang/ untuk kasus lingkungan, untuk kasus perusahaan yang membuang limbah diatas baku mutu, kita tutup saluran limbahnya, bayangkan berapa ratus juta untuk menyedot limbahnya jika dimisalkan 400ribu/per tangki sedangkan dalam
sehari mereka bisa menghasilkan berapa banyak limbah.’’ (wawancara
dengan Ibu Evy Sulistyawati Kepala Subbidang Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan Jakarta Utara pada Senin, 27 April 2015 pukul 12.00 wib)
Untuk kasus pencemaran yang diduga dari limbah industri pihak pemerintah dalam hal ini pengelola lingkungan hidup melakukan tindakan preventif dan represif. Preventif dilakukan melalui pengawasan aktif dan pasif sedangkan upaya preventif dalam hal ini melakukan upaya penutupan saluran limbah yang dinilai cukup efektif untuk membantu proses rehabilitasi lingkungan. Dalam hal yang sama LSM KIARA mengungkapkan dalam penilaiannya kepada masyarakat
‘’upaya rehabilitasi lingkungan laut tidak efektif, karena mindset masyarakat kita adalah laut menjadi tempat pembuangan terakhir sampah, masyarakat juga tidak pernah diajak untuk lebih arif terhadap alam mereka beranggapan karena udah ada limbah disitu ya kemudian
buang sampah disitu.’’ (wawancara pada Senin, 20 April 2015 pukul
14.21 wib)
Jika berbicara mengenai tidak efektifnya upaya rehabilitasi lingkungan laut yang bertujuan untuk pemulihan mutu laut dari pencemaran, maka terdapat beberapa hal yang menjadi kendala seperti yang diungkapkan oleh I2 Kepala Seksi Perikanan dan Kelautan Jakarta Utara yaitu kendala yang dihadapi yaitu pengawasan untuk industri, industri sekitar, pengawasan pencemaran dan partisipasi masyarakat yang masih rendah. (wawancara dengan Bpk.Abdul cholik pada Rabu, 22 April 2015 pukul 12.03 wib)
Ketika peneliti menanyakan hal yang sama kepada I13 menyatakan beberapa hal yang menghambat implementasi pemulihan mutu laut yaitu :
‘’SDM menjadi faktor keberhasilan dari implementasi kebijakan ini karena kesadaran dari masyarakat amatlah berpengaruh. Sedangkan untuk alokasi anggaran untuk lingkungan hidup selama ini tidak begitu masalah dan dalam hal infrastruktur juga sudah memadai seperti sekarang laboratorium-laboratorium swasta sudah banyak walaupun finalnya tetap di BPLHD sehingga sebenarnya masalahnya klasik karena kurangnya SDM dalam pengawasan dari kita tetapi terkadang dibantu
oleh Formapel/LSM yang melapor ke kita’’. (wawancara dengan Bpk.Zaenal Muttaqin Deputi WALHI Jakarta pada senin, 27 April 2015 pukul 11.53 wib)
Dalam memenuhi target pemulihan pencemaran laut yang terjadi Badan Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dan Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Utara belum dapat menargetkan beberapa tingkat ketercapaiannya, seperti dalam wawancaranya berikut ini :
‘’kita tidak bisa memprediksikan pemerintah mampu berapa % (persen)
untuk mengatasi hal tersebut karena untuk taat saja perusahaan susah makanya dibuatkanlah SKL (Status Ketaatan Lingkungan) untuk melihat berapa % (persen) mereka taat. (wawancara pada Rabu, 22 April 2015 pukul 11.56 wib)
Dengan demikian dapat disimpulkan dampak kinerja yang dikehendaki dari pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut masih terkendala dalam implementasi program-programnya dan upaya rehabilitasi lingkungan laut belum berjalan secara efektif , mengingat masih terdapat kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. Upaya rehabilitasi laut perlu segera dilakukan secara berkelanjutan dalam pemulihan mutu laut.