• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN TEORITIS

2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran

Berdasarkan variabel-variabel yang terdapat pada kerangka pemikiran yang telah dirumuskan di atas, maka definisi operasionalnya adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Nelayan adalah berbagai karakter yang terdapat pada responden dan bersifat personal.

1) Usia adalah jawaban responden tentang lama hidup responden sampai ketika diwawancarai. Usia dikategorikan menjadi tiga kategori yang mengurutkan tingkat usia responden dari yang paling muda hingga yang paling tua. Berikut batasan pada tiap kategori:

a. Muda = -½ standar deviasi (x < 32 tahun) Skor = 0 b. Sedang = - ½ standar deviasi ≤ x ≤ + ½ standar deviasi

(32 ≤ x ≤ 40 tahun) Skor = 1

c. Tua = +½ standar deviasi (x > 40 tahun) Skor = 2 2) Tingkat pendidikan adalah jawaban responden tentang pendidikan terakhir

yang telah mereka capai. Kategorinya adalah sebagai berikut: a. tidak sekolah

b. SD / sederajat c. SMP / sederajat d. SMA / sederajat e. PT / sederajat

Namun pada saat penelitian, tingkat pendidikan responden tidak terlalu heterogen dehingga pengkategoriannya diubah sesuai data yang terkumpul saat penelitian, yaitu:

a. Tidak sekolah Skor = 0

b. SD Skor = 1

c. > SD Skor = 2

3) Tingkat pendapatan adalah jawaban responden tentang jumlah uang yang mereka dapatkan dari hasil menangkap ikan setiap bulannya. Kategorinya adalah:

a. Rendah (x < Rp 755.000,00) Skor = 0

b. Sedang (Rp 755.000,00 ≤ x ≤ Rp 1.111.000,00) Skor = 1

c. Tinggi (x > Rp 1.111.000,00) Skor = 2

4) Status nelayan adalah jawaban responden tentang kedudukan mereka sebagai seorang nelayan. Kategori yang digunakan adalah:

a. Anak Buah Kapal (ABK) b. Nakhoda

c. Juragan

5) Jenis alat tangkap adalah jawaban responden tentang alat yang mereka gunakan ketika menangkap ikan. Jenis alat tangkap dikategorikan sesuai dengan hasil dari pengumpulan data, yaitu:

a. Pancing b. Gardan c. Jaring rampus d. Jaring apollo e. Payang

6) Pengalaman adalah jawaban responden tentang lamanya mereka berkecimpung sebagai nelayan. Kategorinya adalah:

a. Rendah (x < 16 tahun) Skor: 0

b. Sedang (16 ≤ x ≤ 24 tahun) Skor: 1

2. Faktor Eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu nelayan, yang terdiri dari karakteristik TPI dan tingkat interaksi dengan tengkulak.

 Karakteristik TPI adalah jawaban responden tentang berbagai informasi tentang TPI Cituis yang mereka ketahui, meliputi:

1) Fasilitas TPI adalah kelengkapan sarana yang ada pada TPI Cituis.

2) Letak TPI adalah jarak yang harus ditempuh nelayan untuk mencapai TPI dari pendaratan ikan.

3) Sistem retribusi adalah sistem penarikan uang yang wajib dilakukan TPI kepada nelayan anggota lelang.

4) Sistem lelang adalah aturan main yang berlaku dalam kegiatan lelang.

 Tingkat interaksi dengan tengkulak adalah jawaban responden tentang seberapa sering mereka melakukan perjanjian dengan tengkulak. Kategorinya adalah:

a. Selalu Skor: 0

b. Kadang-kadang Skor: 1

c. Tidak pernah Skor: 2

Variabel faktor eksternal juga diukur melalui pendekatan kualitatif.

3.Representasi sosial tentang TPI pada nelayan adalah sejumlah opini, penilaian, dan pemahaman nelayan tentang TPI. Dalam representasi sosial ini terdapat empat elemen yang terdiri dari informasi, sikap, keyakinan, dan pendapat. Elemen-elemen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Informasi adalah segala pengetahuan mengenai TPI yang dimiliki responden, diukur dengan melihat tingkat pengetahuan tentang variabel karakteristik TPI, kategorinya adalah:

a. Rendah (x < 4) b. Sedang (4 ≤ x ≤ 7) c. Tinggi (x > 7)

2) Sikap adalah perasaan suka atau tidak suka dari responden terhadap kegiatan yang berlangsung di dalam TPI, kategorinya adalah:

a. Negatif (x < 9) b. Netral (9 ≤ x ≤ 10)

c. Positif (x > 10)

3) Keyakinan adalah suatu kepercayaan tertentu yang dimiliki oleh responden mengenai TPI Cituis, kategorinya adalah:

a. Negatif (x < 8) b. Netral (8 ≤ x ≤ 9) c. Positif (x > 9)

4) Opini adalah suatu hasil dari pemikiran responden mengenai TPI, yang berdasarkan pada informasi-informasi yang mereka dapatkan (diukur secara kualitatif).

BAB III

PENDEKATAN LAPANGAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pemilihan lokasi penelitian melalui pendekatan

purposive. Desa Surya Bahari dipilih karena pada lokasi ini terdapat TPI Cituis. TPI Cituis adalah objek dari representasi sosial nelayan yang dikaji pada penelitian ini. Berikut adalah batas-batas Desa Surya Bahari, yaitu: (1) Sebelah Utara: Perairan Kepulauan Seribu; (2) Sebelah Selatan: Desa Buaran Wangah; (3) Sebelah Timur: Desa Kramat; (4) Sebelah Barat: Desa Karang Serang.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (unpublished), TPI Cituis adalah salah satu TPI yang masih aktif dalam kegiatan pelelangan ikan di daerah Kabupaten Tangerang. TPI Cituis ini merupakan milik pemerintah Kabupaten Tangerang yang pengelolaannya oleh koperasi, yaitu KUD Mina Samudera. Pengumpulan data dilakukan pada periode Maret-April 2011. Pengolahan data dan hasil penelitian dilakukan pada periode Mei-September 2011.

3.2 Teknik Pemilihan Responden

Populasi dari penelitian ini adalah nelayan Desa Surya Bahari yang pernah atau sedang memanfaatkan TPI Cituis maupun yang belum memanfaatkan TPI Cituis, Desa Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Pemilihan responden dilakukan dengan pendekatan purposive. Unit penelitiannya adalah individu nelayan yang dipilih secara accidental, yaitu nelayan yang pernah atau sedang dan nelayan yang belum memanfaatkan TPI Cituis. Terdapat 40 responden yang terbagi atas 20 responden nelayan yang pernah dan sedang memanfaatkan TPI dan 20 responden lainnya yang belum pernah memanfaatkan TPI. Informan dari pihak TPI diambil untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai TPI Cituis, sedangkan informan yang berasal dari pihak tengkulak diambil untuk mengetahui hubungan patron-klien dan interaksi antara tengkulak dan nelayan.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode penelitian survai dengan bentuk penelitian eksplanatory (penelitian penjelasan). Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), pada penelitian eksplanatory dilakukan penjelasan mengenai hubungan- hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian terhadap hipotesa. Penelitian ini menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial yang diteliti. Proses penyusunan instrumen penelitian mengenai representasi sosial tentang TPI pada nelayan dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:

1. Kuesioner: menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan dan pendapat responden dalam representasi sosial dan tingkat pemanfaatan TPI oleh responden. Selain itu, pada kuesioner jugadigunakan beberapa teknik berikut:

a. Teknik asosiasi kata: instruksi disampaikan secara lisan dan dituliskan juga dalam kuesioner. Partisipan diminta untuk menyebutkan kata yang terlintas di benak mereka ketika mendengar kata TPI Cituis. Partisipan juga diminta untuk menjelaskan arti dan maksud asosiasi kata yang telah mereka tuliskan dalam kuesioner. Teknik pengukuran ini dapat menjelaskan representasi mental yang ada dalam sebuah masyarakat mengenai sebuah obyek tertentu, dalam hal ini adalah makna dari TPI Cituis. Dalam wawancara responden juga diminta untuk menyebutkan kata yang dianggap dapat mewakili tengkulak, sehingga didapatkan hasil asosiasi kata berupa tipologi-tipologi representasi sosial tentang TPI dan tengkulak.

b. Skala Likert: digunakan untuk mengukur elemen sikap dan keyakinan dalam representasi sosial, alat ukur ini terdiri dari pernyataan-pernyataan yang memiliki empat alternatif jawaban atau tanggapan atas suatu pernyataan. Responden diminta untuk memilih salah satu dari empat alternatif jawaban yang disediakan, yaitu: sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Pada penelitian ini hanya digunakan empat alternatif jawaban dari lima alternatif jawaban pada ketentuan umum Skala Likert. Hal ini dilakukan untuk menghindari data yang tidak valid.

2. Wawancara mendalam: untuk mengetahui informasi-informasi yang berkaitan dengan TPI, hubungan patron-klien yang terjadi, dan informasi lain yang berkaitan dengan penelitian.

3. Studi literatur: untuk mendapatkan data yang bersifat data sekunder seperti gambaran umum lokasi penelitian, data kependudukan, dan data lain yang terkait dengan penelitian.

3.4 Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data digunakan beberapa teknik analisis data, yaitu: 1. Tabel frekuensi digunakan untuk analisis data primer, yaitu deskripsi

karakteristik nelayan dan tingkat pemanfaatan TPI oleh nelayan.

2. Pengolahan data menggunakan Microsoft Office Excel 2007 dan SPSS 16.0. Program SPSS 16.0 digunakan untuk melakukan uji Korelasi Spearman dan uji Chi-Square. Uji Korelasi Spearman digunakan untuk mengukur hubungan antara tingkat pendapatan, tingkat pengalaman, tingkat usia, tingkat pendidikan dan tingkat interaksi nelayan-tengkulak dengan representasi sosial pada responden. Uji Chi-Square digunakan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan representasi sosial pada nelayan yang berbeda status dan jenis alat tangkap.

 Apabila hasil uji menunjukkan nilai probabilitas < 0,05 maka terdapat perbedaan representasi sosial antara responden yang memiliki karakteristik berbeda. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan representasi sosial antara responden yang memiliki karakteristik berbeda.  Ada atau tidak adanya korelasi pada hasil uji korelasi Spearman dapat

dilihat melalui nilai probabilitasnya. Jika hasil uji menunjukkan nilai probabilitas < 0,05, maka terdapat korelasi antara variabel yang diuji, sedangkan jika nilai probabilitasnya > 0,05 maka tidak terdapat korelasi. Nilai koefisien korelasi pada uji korelasi Spearman menunjukkan arah hubungan. Jika nilai probabilitas yang muncul kurang dari 0,05 dan koefisien korelasinya bernilai positif, maka terdapat hubungan positif nyata antara kedua variabel.

3. Tabulasi silang digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel yang memiliki hubungan.

4. Teknik kualitatif untuk analisis data tentang karakteristik TPI dan aspek pendapat pada representasi sosial. Untuk menganalis data mengenai tingkat pengetahuan maka digunakan data TPI yang berasal dari informan sebagai acuan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Keadaan Umum Desa Surya Bahari

4.1.1 Keadaan Geografis

Desa Surya Bahari terletak di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Menurut data monografi dari Pemerintahan Desa, Luas wilayah Desa Surya Bahari adalah 272 Ha. Secara geografis, Desa Surya Bahari berada pada koordinat 03o46‟51” N Latitude dan 98o42‟44” E Longitude. Desa Surya Bahari berbatasan dengan beberapa wilayah, berikut wilayah perbatasannya: (1) Sebelah utara Desa Surya Bahari berbatasan dengan Laut Jawa,

(2) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Buaran Mangga, (3) Sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukawali, dan (4) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Karang Serang.

Orbitasi atau jarak dari pusat pemerintahan desa/kelurahan dengan Ibukota Provinsi Banten sejauh 110 km, dengan Ibukota Kabupaten Tangerang sejauh 25 km dan berjarak 14 km dari Ibukota Kecamatan Pakuhaji.

4.1.2 Kependudukan

a. Jumlah Penduduk Desa Surya Bahari

Desa Surya Bahari terdiri dari enam dusun, yaitu: Dusun Cituis I, Dusun Cituis II, Dusun Rawasaban III, Dusun Rawasaban IV, Dusun Rawasaban BTN, dan Dusun Encle-Sugri. Keenam dusun tersebut terdiri dari 6 Rukun Warga dan 18 Rukun Tetangga. Pemukiman Desa Surya Bahari tersebar sepanjang jalan raya yang menghubungkan beberapa desa.

Jumlah seluruh penduduk Desa Surya Bahari sebanyak 7.350 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 3.745 orang dan jumlah perempuan sebanyak 3.605 orang. Jumlah kepala keluarga Desa Surya Bahari sebanyak 1.796 kepala keluarga. Desa Surya Bahari mempunyai 18 unit RT dan 6 unit RW. Masyarakat terdiri dari penduduk asli dan pendatang yang berasal dari berbagai daerah. Masyarakat di Desa Surya Bahari juga terdiri dari berbagai etnis, seperti Etnis Sunda, Betawi, Jawa, China dan lain-lain. Agama mayoritas penduduk Desa Surya Bahari adalah Islam. Agama lain yang juga dianut oleh beberapa penduduk di Desa Surya Bahari adalah agama Kristen dan Budha.

b. Tingkat Pendidikan

Menurut tingkat pendidikannya, mayoritas penduduk Desa Surya Bahari berpendidikan minimal hingga pada tingkat Sekolah Dasar. Berdasarkan data yang berasal dari Pemerintahan Desa Surya Bahari tahun 2011, dapat diketahui bahwa hanya 2.081 jiwa dari keseluruhan jumlah penduduk yang tercatat telah mengecap pendidikan, 912 orang diantaranya adalah lulusan SD, selanjutnya 567 orang merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara itu terdapat sebanyak 345 orang penduduk yang telah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Untuk kategori pendidikan tinggi, hanya terdapat 2 orang diantaranya yang merupakan lulusan akademi (D3) dan 5 orang yang merupakan lulusan S1. Tabel 1 menunjukkan jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan masyarakat Desa Surya Bahari.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang Tahun 2011.

No Jenis Pendidikan Jumlah

(Jiwa)

Persentase (%)

1. Tidak tamat SD/MI Sederajat 250 12,0

2. Tamat SD/MI Sederajat 912 43,8

3. Tamat SMP/MTs Sederajat 567 27,3

4. Tamat SMA/MA Sederajat 345 16,6

5. Tamat Akademi/Sederajat 2 0,1

6. Tamat Sarjana/Sederajat 5 0,2

Jumlah 2081 100,0

Sumber: Data Monografi Desa Surya Bahari, 2011

Data di atas menunjukkan bahwa penduduk di Desa Surya Bahari masih banyak yang belum mengecap pendidikan, karena dari jumlah keseluruhan penduduk, yaitu 7.350 orang, masih banyak yang belum tercatat tingkat pendidikannya. Penduduk yang tidak tercatat tingkat pendidikannya dapat dikarenakan memang belum atau tidak mengecap pendidikan. Selain dari itu, dari data yang dimiliki Pemerintah Desa Surya Bahari juga dapat diketahui bahwa terdapat 490 orang penduduk yang tidak memiliki kemampuan baca tulis atau buta huruf.

c. Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk Desa Surya Bahari sebagian besar adalah sebagai nelayan dengan jumlah 2.750 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Surya Bahari memiliki ketergantungan yang besar terhadap sektor perikanan. Selain itu, penduduk Desa Surya Bahari juga bekerja pada sektor-sektor lainnya secara rinci akan dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 2. Komposisi Penduduk Desa Surya Bahari Menurut Mata Pencaharian Tahun 2011.

Sumber: Data Monografi Desa Surya Bahari, 2011

Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa mata pencaharian terbesar ada di sektor perikanan atau lebih spesifik lagi terdapat pada sektor perikanan tangkap yaitu sebagai nelayan. Mata pencaharian dominan selanjutnya adalah pekerjaan di sektor perdagangan dan pertanian. Banyaknya penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan masih banyaknya areal persawahan di daerah ini. Berdasarkan sumber monografi Desa Surya Bahari, penduduk yang masuk ke dalam golongan angkatan kerja adalah sebanyak 3.683 orang, namun yang tercatat sebagai penduduk yang memiliki mata pencaharian adalah sebanyak 3.458 orang, sedangkan 150 orang penduduk tercatat sebagai pengangguran kentara dan 75 orang lainnya sebagai pengangguran tidak kentara.

d. Kondisi Sosial-Ekonomi

Masyarakat di Desa Surya Bahari rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk bekerja

No Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1. Petani 45 1,30 2. Penggarap 100 2,90 3. Buruh Tani 75 2,17 4. Nelayan 2750 79,50 5. Pedagang 300 8,68 6. Industri Kecil 100 2,90 7. Buruh Industri 45 1,30 8. Pertukangan 16 0,47

9. Pegawai Negeri Sipil 8 0,23

10. Pensiunan PNS 1 0,03

11. Perangkat Desa 18 0,52

dibandingkan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kebanyakan nelayan telah menekuni pekerjaannya semenjak usia sekolah, hal ini membuat tingginya tingkat putus sekolah di kalangan nelayan.

Keberadaan jalan raya yang menjadi penghubung antara Desa Surya Bahari dengan desa lainnya membuat akses ke Desa Surya Bahari seharusnya menjadi hal yang mudah. Namun keberadaan kendaraan angkutan umum yang terbatas membuat akses ke Desa Surya Bahari agak sulit, terutama jika sudah lewat sore hari. Memanfaatkan jasa ojeg motor menjadi satu-satunya cara untuk mengakses Desa Surya Bahari jika hari sudah sore. Kesulitan transportasi tersebut tidak menjadikan Desa Surya Bahari sepi akan aktivitas. Salah satu aktivitas yang masih dapat ditemukan selepas sore hari adalah aktivitas yang dilakukan oleh para nelayan, beberapa nelayan bahkan baru mulai melaut ketika hari sudah malam.

Keadaan sosial masyarakat nelayan di Desa Surya Bahari tidak jauh beda dengan keadaan sosial masyarakat nelayan di desa pesisir lainnya. Hubungan patron-klien masih dapat dengan mudah ditemukan, terutama pada nelayan yang merupakan penduduk asli Desa Surya Bahari. Hampir seluruh nelayan tersebut memiliki hubungan dengan tengkulak atau dalam bahasa lokal disebut langgan. Langgan biasanya telah dikenal baik oleh nelayan, sehingga hubungan patron- klien yang terjadi terkesan lebih akrab. Selain nelayan yang merupakan penduduk asli, di Desa Surya Bahari juga terdapat banyak nelayan pendatang yang akhirnya menjadi penduduk tetap ataupun hanya menjadi penduduk musiman. Daerah asal dari nelayan pendatang ini beragam, misalnya dari: Brebes, Indramayu, dan Cirebon.

4.2 Keadaan Umum TPI Cituis

TPI Cituis adalah tempat pelelangan ikan yang dikelola oleh KUD Mina Samudera yang merupakan kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Tangerang. TPI Cituis dibangun pada tahun 1979, pada saat awal pendiriannya, TPI ini hanya dikelola oleh DKP Kabupaten Tangerang. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cituis yang merupakan tempat beradanya TPI Cituis termasuk ke dalam pelabuhan tipe D. TPI Cituis hingga saat ini masih tercatat sebagai TPI dengan pemberian kontribusi PAD (Pendapatan Asli Daerah) tertinggi dalam bentuk retribusi pelelangan ikan di Kabupaten Tangerang.

Tabel 3. Jumlah Produksi dan Raman TPI Cituis Selama Tahun 2010.

Bulan Produksi (Kg) Raman (Rp)

Januari 69.652 373.579.000 Februari 51.112 255.159.000 Maret 55.742 302.218.000 April 58.053 351.461.000 Mei 71.862 419.168.000 Juni 87.249 484.002.000 Juli 80.264 480.699.000 Agustus 78.394 484.843.000 September 46.337 295.745.000 Oktober 77.295 459.273.000 November 54.199 307.855.000 Desember 53.558 322.164.000 Total 783.717 4.516.166.000

Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Pengurus KUD Mina Samudra, 2011

Jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di sekitar TPI Cituis adalah jaring gardan, jaring rampus, jaring apollo, payang dan pancing. Masing-masing alat tangkap memiliki operasional penangkapan ikan yang berbeda.

Tabel 4. Jenis Ikan Dominan yang Mendarat di PPI Cituis selama Tahun 2010. Jenis Ikan Dominan Jumlah Produksi

(ton) Nilai Produksi (rupiah) Kurisi/Kuniran 10 470.000.000 Biji Nangka 5 189.000.000 Pari 4,5 265.000.000 Kembung 2,5 390.000.000 Kuwe 2,2 361.000.000

Sumber: PPI Cituis 2010

Ikan yang menjadi hasil tangkap dominan adalah ikan jenis kurisi/kuniran. Selain ikan kurisi/kuniran, masih banyak jenis ikan lain yang dapat ditemukan di perairan sekitar TPI Cituis. Menurut keterangan responden, tiap alat tangkap

memiliki spesialisasi dalam menangkap suatu jenis ikan tertentu, misalnya alat tangkap jaring gardan lebih banyak menangkap ikan jenis pari dan kurisi/kuniran, sedangkan jaring rampus lebih banyak menangkap ikan jenis kembung.

TPI Cituis merupakan salah satu fasilitas fungsional yang dimiliki oleh PPI Cituis. Agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, TPI Cituis didukung oleh beberapa fasilitas, seperti gedung lelang, tempat penjemuran ikan, instalasi air tawar, instalasi listrik, SPDN (tangki BBM), pos keamanan, toko, dan balai pertemuan nelayan (BPN). Selain fasilitas yang langsung dikelola oleh KUD Mina Samudera, terdapat beberapa fasilitas lain yang mendukung kegiatan nelayan di sekitar TPI, berikut tabel yang menunjukkan rincian fasilitas tersebut.

Tabel 5. Fasilitas-Fasilitas di Sekitar TPI Cituis.

No Fasilitas Kapasitas Pemanfaatan Kondisi

1 Areal Daratan Pelabuhan 5000 m2 dimanfaatkan Baik

2 Jetty 215 m dimanfaatkan Baik

3 Dinding Penahan Tanah 80 m dimanfaatkan Baik

4 Jalan 200 m dimanfaatkan Baik

5 Drainase 5000 m2 dimanfaatkan Baik

6 Tempat Pelelangan Ikan 400 m2 dimanfaatkan Rusak

7 Lampu Suar 1 unit dimanfaatkan baik

8 Penampung/tangki air 1.000 l dimanfaatkan Baik

9 Sumber air 2 unit dimanfaatkan Baik

10 Daya listrik 1200 watt dimanfaatkan Baik

11 SPBN 16.000 l dimanfaatkan rusak

berat

12 Syahbandar 60 m2 dimanfaatkan baik

13 Tempat Parkir 400 m2 dimanfaatkan baik

14 Balai Pertemuan Nelayan 300 m2 dimanfaatkan baik

15 Koperasi 150 m2 dimanfaatkan baik

Sumber: PPI Cituis, 2010

KUD Mina Samudera sebagai pihak pengelola TPI memiliki empat bidang usaha, yaitu:

a. Unit Simpan Pinjam (USP) Swamitra: unit usaha yang melayani kegiatan simpan pinjam. Dalam menjalankan kegiatannya, unit ini bekerja sama dengan Bank Bukopin. Selain melayani kegiatan simpan pinjam, unit ini juga melayani pembayaran rekening listrik, telepon, air, jasa telekomunikasi, dan pembayaran kredit kendaraan.

b. Unit Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN): unit ini merupakan kerja sama antara KUD dengan PT. Pertamina (Persero).

c. Unit Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cituis: unit yang merupakan kerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tangerang.

d. Unit Kedai Pesisir: unit yang melayani anggota KUD maupun masyarakat sekitar dengan menjual kebutuhan sehari-hari.

BAB V

KARAKTERISTIK NELAYAN DAN KONTEKS

SITUASIONAL TPI

5.1 Karakteristik Responden 5.1.1 Jenis Alat Tangkap

Nelayan di Desa Surya Bahari terbagi atas beberapa kelompok nelayan berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan, yaitu: jaring rampus, jaring apollo, payang, gardan dan pancing. Alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing. Hampir semua nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing adalah nelayan yang berasal dari penduduk setempat (lokal), sedangkan nelayan yang menggunakan alat tangkap selain pancing, kebanyakan merupakan nelayan pendatang. Nelayan lokal lebih memilih untuk mempergunakan alat tangkap pancing karena dianggap tidak memerlukan modal yang besar jika dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Ukuran dari kapal yang menggunakan alat tangkap jaring rampus adalah 2-5 Gross Ton (GT), gardan 5-20 GT, pancing 2-3 GT, payang 2-3 GT, dan jaring apollo 2-5 GT. Persentase responden berdasarkan alat tangkapnya, didominasi oleh nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing (50.0 persen). Nelayan pancing di Desa Surya Bahari memang belum memanfaatkan keberadaan TPI, mereka selalu menyalurkan hasil tangkapnya kepada tengkulak.

Tabel 6. Persentase Responden Berdasarkan Alat tangkap.

Alat Tangkap n (orang) n (%)

Pancing 20 50,0 Gardan 4 10,0 Jaring Rampus 11 27,5 Jaring Apollo 4 10,0 Payang 1 2,5 Jumlah 40 100,0

Nelayan juga dapat dikategorikan berdasarkan lamanya mereka melaut, yaitu: nelayan harian dan nelayan babangan. Nelayan harian adalah nelayan yang biasanya pergi melaut pada dini hari dan pulang pada pukul 11 siang. Daerah yang dicapai nelayan harian untuk menangkap ikan biasanya tidak terlalu jauh dari garis pantai. Nelayan babangan adalah nelayan yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari bahkan mingguan untuk melaut. Nelayan ini memilih daerah yang

agak jauh jika dibandingkan dengan nelayan harian, bahkan dapat mendekati daerah Lampung. Pada kapal nelayan babangan harus ada persediaan es agar ikan hasil tangkapan dapat tetap segar walaupun harus berada di kapal untuk beberapa hari.

5.1.2 Status Responden

Status nelayan di Desa Surya Bahari dibagi menjadi tiga berdasarkan atas peran masing-masing nelayan dalam kegiatan melaut, yaitu: juragan, nakhoda dan anak buah kapal (ABK) . Persentase responden berdasarkan statusnya didominasi oleh nelayan yang berstatus sebagai ABK (65,0 persen), karena jumlah nelayan yang berstatus sebagai ABK memang lebih banyak jika dibandingkan dengan nelayan yang berstatus sebagai nakhoda maupun juragan.

Tabel 7. Persentase Responden Berdasarkan Status.

Status n (orang) n (%)

ABK 26 65,0

Nakhoda 2 5,0

Juragan 12 30,0

Jumlah 40 100,0

Status juragan diberikan kepada nelayan yang memiliki modal melaut. Modal melaut adalah hal-hal dasar yang sangat diperlukan untuk melakukan