KARAKTERISTIK NELAYAN DAN KONTEKS SITUASIONAL TP
5.1 Karakteristik Responden 1 Jenis Alat Tangkap
Nelayan di Desa Surya Bahari terbagi atas beberapa kelompok nelayan berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan, yaitu: jaring rampus, jaring apollo, payang, gardan dan pancing. Alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing. Hampir semua nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing adalah nelayan yang berasal dari penduduk setempat (lokal), sedangkan nelayan yang menggunakan alat tangkap selain pancing, kebanyakan merupakan nelayan pendatang. Nelayan lokal lebih memilih untuk mempergunakan alat tangkap pancing karena dianggap tidak memerlukan modal yang besar jika dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Ukuran dari kapal yang menggunakan alat tangkap jaring rampus adalah 2-5 Gross Ton (GT), gardan 5-20 GT, pancing 2-3 GT, payang 2-3 GT, dan jaring apollo 2-5 GT. Persentase responden berdasarkan alat tangkapnya, didominasi oleh nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing (50.0 persen). Nelayan pancing di Desa Surya Bahari memang belum memanfaatkan keberadaan TPI, mereka selalu menyalurkan hasil tangkapnya kepada tengkulak.
Tabel 6. Persentase Responden Berdasarkan Alat tangkap.
Alat Tangkap n (orang) n (%)
Pancing 20 50,0 Gardan 4 10,0 Jaring Rampus 11 27,5 Jaring Apollo 4 10,0 Payang 1 2,5 Jumlah 40 100,0
Nelayan juga dapat dikategorikan berdasarkan lamanya mereka melaut, yaitu: nelayan harian dan nelayan babangan. Nelayan harian adalah nelayan yang biasanya pergi melaut pada dini hari dan pulang pada pukul 11 siang. Daerah yang dicapai nelayan harian untuk menangkap ikan biasanya tidak terlalu jauh dari garis pantai. Nelayan babangan adalah nelayan yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari bahkan mingguan untuk melaut. Nelayan ini memilih daerah yang
agak jauh jika dibandingkan dengan nelayan harian, bahkan dapat mendekati daerah Lampung. Pada kapal nelayan babangan harus ada persediaan es agar ikan hasil tangkapan dapat tetap segar walaupun harus berada di kapal untuk beberapa hari.
5.1.2 Status Responden
Status nelayan di Desa Surya Bahari dibagi menjadi tiga berdasarkan atas peran masing-masing nelayan dalam kegiatan melaut, yaitu: juragan, nakhoda dan anak buah kapal (ABK) . Persentase responden berdasarkan statusnya didominasi oleh nelayan yang berstatus sebagai ABK (65,0 persen), karena jumlah nelayan yang berstatus sebagai ABK memang lebih banyak jika dibandingkan dengan nelayan yang berstatus sebagai nakhoda maupun juragan.
Tabel 7. Persentase Responden Berdasarkan Status.
Status n (orang) n (%)
ABK 26 65,0
Nakhoda 2 5,0
Juragan 12 30,0
Jumlah 40 100,0
Status juragan diberikan kepada nelayan yang memiliki modal melaut. Modal melaut adalah hal-hal dasar yang sangat diperlukan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan, seperti kapal dan alat tangkap. Seorang juragan dapat ikut melaut bersama anak buahnya maupun tidak. Nelayan yang berstatus sebagai nakhoda bertindak memberikan komando dan mengambil keputusan ketika melaut. Ketika seorang juragan ikut melaut maka biasanya ia akan mendapatkan peran ganda, yaitu sebagai juragan maupun sebagai nakhoda. Juragan yang tidak ikut melaut biasa disebut sebagai “juragan darat”, sedangkan seorang nakhoda biasa disebut juga sebagai “juragan laut”. Nelayan dengan status sebagai ABK adalah nelayan yang paling banyak jumlahnya. Biasanya setiap ABK telah memiliki tugasnya masing-masing saat melaut. Dalam satu buah kapal terdiri dari satu nakhoda dan beberapa ABK. Banyaknya ABK dalam kapal tergantung kepada ukuran kapal yang digunakan untuk melaut, jumlahnya berkisar antara dua hingga belasan ABK dalam satu kapal.
Sebagian besar responden menggunakan alat tangkap milik orang lain ketika melaut. Hal ini karena banyaknya responden yang berstatus sebagai ABK. Nelayan ABK memang biasanya tidak memiliki alat tangkap, sehingga mereka bergabung dengan nelayan yang memiliki alat tangkap ketika melaut.
Tabel 8. Persentase Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Alat Tangkap.
Status Kepemilikan Alat Tangkap n (orang) n (%)
Milik sendiri 12 30,0
Milik orang lain 28 70,0
Jumlah 40 100,0
Peran sebagai pemilik kapal atau modal melaut biasanya tidak hanya dilakoni oleh satu orang saja. Dalam masyarakat pesisir sangat mudah ditemui hubungan kerja sama yang disebut sebagai hubungan patron-klien. Hubungan patron-klien adalah hubungan yang sering terjadi dalam upaya pemenuhan modal untuk melaut. Pihak yang berperan sebagai patron biasa disebut sebagai langgan
atau tengkulak. Seorang tengkulak memberikan dana yang dimilikinya kepada juragan untuk modal, modal ini dapat berjumlah penuh maupun hanya sebagiannya saja. Besarnya modal yang akan diberikan oleh tengkulak disesuaikan dengan kebutuhan dari pihak peminjam. Hubungan patron-klien antara tengkulak dan nelayan ini akan dibahas lebih lanjut pada subbab berikutnya.
5.1.3 Tingkat Pendapatan
Pendapatan seorang nelayan sangat bergantung kepada faktor alam, sehingga besarnya tidak dapat ditetapkan. Pada penelitian ini digunakan jumlah pendapatan yang paling sering didapatkan responden dalam sebulan. Untuk mengkategorikan pendapatan responden menjadi kategori rendah, sedang dan tinggi maka digunakan batasan yang diperoleh berdasarkan pendapatan rata-rata dari semua responden.
Tabel 9. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan.
Tingkat Pendapatan n (orang) n (%)
Rendah (x < Rp 755.000,00) 29 72,5
Sedang (Rp 755.000,00 ≤ x ≤ Rp 1.111.000,00) 10 25,0
Tinggi (x > Rp 1.111.000,00) 1 2,5
Setelah dikategorikan, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendapatan yang rendah. Responden yang berpendapatan rendah adalah nelayan yang berstatus sebagai ABK. Pendapatan responden yang berstatus sebagai ABK memang lebih rendah dari responden yang berstatus sebagai nakhoda dan juragan. Responden yang memiliki tingkat pendapatan tinggi adalah nelayan juragan.
5.1.4 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan nelayan di Desa Surya Bahari dapat dikategorikan masih rendah. Pendidikan memang belum begitu dianggap penting oleh nelayan di Surya Bahari. Hal ini dibuktikan dengan masih banyak ditemukannya anak nelayan yang putus sekolah, mereka sudah ikut melaut sedari SD. Persentase responden berdasarkan tingkat pendidikannya, mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah, yaitu hanya mencapai tingkat sekolah dasar. Responden yang memiliki pendidikan cukup tinggi yaitu tingkat SMA merupakan pencilan.
Tabel 10. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan.
Tingkat Pendidikan n (orang) n (%)
Tidak Sekolah 6 15,0
SD 33 82,5
> SD 1 2,5
Jumlah 40 100,0
Rendahnya tingkat pendidikan pada masyarakat nelayan di Desa Surya Bahari disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran untuk bersekolah. Banyak dari nelayan yang telah memulai pekerjaannya sedari usia sekolah dasar. Dari hasil pengamatan di lapangan, dana pendidikan bukan faktor satu-satunya dari kurangnya kesadaran para nelayan akan pendidikan. Faktor lainnya adalah adanya anggapan bahwa bersekolah hanya akan membuang-buang waktu saja, sehingga mereka memilih untuk bekerja sebagai nelayan karena dapat menghasilkan uang meskipun tidak banyak.
Status sebagai juragan dan berpenghasilan di atas rata-rata, tidak menjamin bahwa seorang nelayan akan memiliki kesadaran yang tinggi kepada pendidikan, seperti yang dikatakan oleh responden berikut:
“Penghasilan bersih saya minimal satu juta, sekali ngelaut, tapi kalau lagi bagus ya bisa sampai enam juta... saya punya empat orang anak, yang paling tua sekolahnya cuma sampai SD, ya sekarang paling kerjaannya bantu- bantu aja di rumah.” (Bapak DJ, 37 tahun, nelayan gardan)
5.1.5 Pengalaman
Pengalaman responden diukur berdasarkan lamanya responden menjadi nelayan. Variabel pengalaman responden dikategorikan menjadi rendah, sedang dan tinggi. Persentase responden berdasarkan pengalamannya hampir merata di semua kategori, responden dengan tingkat pengalaman rendah adalah responden yang paling banyak, yaitu mencapai 40,0 persen.
Tabel 11. Persentase Berdasarkan Tingkat Pengalaman.
Tingkat Pengalaman (tahun) n (orang) n (%)
Rendah (x < 16) 16 40,0
Sedang (16 ≤ x ≤ 24) 10 25,0
Tinggi (x > 24) 14 35,0
Jumlah 40 100,0
Pengalaman selama kira-kira 35 tahun adalah pengalaman paling lama yang dimiliki beberapa responden, sedangkan pengalaman yang paling singkat adalah responden yang telah menjadi nelayan selama 5 tahun.
5.1.6 Usia
Pada saat wawancara berlangsung, usia responden berkisar dari umur 19 hingga 50 tahun. Tabel 12 menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah nelayan yang masih muda, yaitu berkisar pada usia 30 tahun. Persentase responden yang berusia kurang dari 31 tahun mencapa 37,5 persen. Persentase yang sama besar menunjukkan responden yang berusia antara 31 hingga 41 tahun.
Tabel 12. Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Usia.
Tingkat Usia (tahun) n (orang) n (%)
Rendah (x < 31) 15 37,5
Sedang (31 ≤ x ≤ 41) 15 37,5
Tinggi (x > 41) 10 25,0
5.2 Konteks Situasional TPI Cituis