Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, yang mencakup17.504 pulau, 6.000 diantaranya berpenduduk. Wilayah Indonesia yang terbentang dari 6°08' LU hingga 11°15' LS, dan dari 94°45' BT hingga 141°05' BT terletak di posisi geografis sangat strategis, karena menjadi penghubung dua samudera dan dua benua, Samudera India dengan Samudera Pasifik, dan Benua Asia dengan Benua Australia. Menurut data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (2009), luas total wilayah Indonesia adalah 7,7 juta km2 terdiri dari 1,9 juta km2 daratan, 2,3 juta km2 laut nusantara, 0,8 juta km2 laut teritorial dan 2,7 juta km2 perairan ZEE.
Jumlah penduduk Indonesia menurut data statistik pada tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa. Nyaris seluruhnya (95,9 persen) berdiam di kawasan yang berada dalam jarak 100 km dari garis pantai. Pantai Indonesia yang terentang sepanjang 95.180,8 km adalah terpanjang kelima di dunia. Di sepanjang garis pantai inilah terdapat daerah pesisir.
Daerah pesisir memiliki ciri khas sosial budaya dan ekonomi tersendiri. Kekhasan daerah pesisir adalah hasil dari interaksi penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Penduduk yang tinggal di daerah pesisir dapat kita sebut sebagai masyarakat pesisir. Salah satu komponen dari masyarakat pesisir adalah nelayan. Jumlah masyarakat pesisir di Indonesia pada tahun 2002 diperkirakan sekitar 16.420.000 jiwa, sekitar 4.015.320 jiwa diantaranya adalah nelayan. Data yang bersumber dari Kementrian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa persentase masyarakat pesisir yang hidup di bawah garis kemiskinan (berdasarkan
Poverty Headcount Index) masih tinggi, yaitu sebesar 32,14 persen atau sekitar 5.254.400 jiwa.
Kemiskinan yang dialami nelayan di Indonesia adalah hasil dari permasalahan yang ada di berbagai bidang, seperti rendahnya pendidikan, pembangunan yang tidak merata, kurangnya kepemilikan modal usaha, masalah pada faktor geografis hingga kebijakan-kebijakan yang kurang memperhatikan
kesejahteraan nelayan (Satria, 2009). Salah satu hal yang menarik adalah nelayan justru banyak mengalami masalah dalam pengembangan usahanya. Pengembangan usaha nelayan salah satunya sangat bergantung kepada keberadaan pasar (konsumen), untuk memiliki pasar yang sudah tetap adalah salah satu kesulitan yang dihadapi nelayan. Kesulitan tersebut membuat nelayan yang telah bekerja keras menangkap ikan, kadang tetap saja memiliki pendapatan yang kecil. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa mereka akan mendapat pendapatan yang besar, walaupun hasil tangkapan mereka berlimpah. Jika ikan yang mereka tangkap tidak segera disalurkan kepada konsumen maka ikan tersebut dapat menjadi busuk dan malah menjadi sia-sia.
Sistem ijon adalah cara yang banyak dipilih nelayan untuk menjamin hasil tangkapan mereka terjual. Namun sistem ini lebih banyak merugikan nelayan karena penetapan harga lebih cenderung bersifat sepihak, sehingga harga yang berlaku lebih rendah dari harga pasar. Di lain pihak, harga ikan pada tingkat konsumen relatif tinggi karena panjangnya mata rantai pemasaran. Oleh karena itu untuk mewujudkan harga yang wajar dan menguntungkan bagi nelayan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus memberikan pasar yang pasti bagi nelayan dalam menjual hasil tangkapannya, pemerintah memberi bimbingan dan dorongan agar hasil tangkapan nelayan dijual melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Tempat Pelelangan Ikan pada dasarnya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah karena termasuk kepada kewenangan otonomi daerah, sehingga pada tiap daerah dapat ditemukan TPI dengan sistem yang agak berbeda satu sama lain. Berdasarkan UU No 31 tahun 2004, disebutkan bahwa pemerintah berkewajiban untuk membangun dan membina prasarana perikanan (pelabuhan perikanan dan saluran irigasi tambak) (Pramitasari, 2005).
Menurut sejarahnya Pelelangan Ikan telah dikenal sejak tahun 1922, didirikan dan diselenggarakan oleh Koperasi Perikanan terutama di Pulau Jawa, dengan tujuan untuk melindungi nelayan dari permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak/pengijon, membantu nelayan mendapatkan harga yang layak dan juga membantu nelayan dalam mengembangkan usahanya (Pramitasari, 2005). TPI di beberapa daerah bahkan tidak berfungsi sebagaimana konsep awalnya. Hasil penelitian Silalahi (2006) menunjukkan bahwa ketidakefektifan TPI
disebabkan oleh tidak dapat dicapainya tujuan dari TPI, yaitu dalam meningkatkan pendapatan nelayan, mengendalikan harga ikan, dan sebagai tempat nelayan untuk menjual ikan hasil tangkapannya.Tidak berjalannya fungsi TPI ini diduga karena banyak nelayan yang tetap mengandalkan keberadaan tengkulak, sehingga mengabaikan keberadaan TPI. Tengkulak dianggap sebagai jaminan sosial ekonomi yang sudah umum bagi nelayan. Keberadaan TPI harus bersaing dengan keberadaan tengkulak yang dapat dikatakan telah menjadi suatu tradisi dalam masyarakat nelayan.
Berdasarkan latar belakang di atas, menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai bagaimana representasi sosial nelayan terhadap TPI, mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara karakteristik nelayan, karakteristik TPI dan keberadaan tengkulak dengan representasi sosial tentang TPI yang dimiliki oleh nelayan, dan mencari tahu tentang ada atau tidaknya hubungan antara representasi sosial yang dimiliki nelayan dengan tingkat pemanfaatan TPI pada nelayan. Pengkajian terhadap representasi sosial tentang TPI pada nelayan ini terkait dengan teori tentang representasi sosial yaitu representasi sosial dapat merubah perlaku seserang, atau dengan kata lain representasi sosial dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Representasi sosial yang berbeda akan menghasilkan perilaku yang berbeda pula. Hal ini disebabkan setiap individu memiliki representasi yang berbeda mengenai suatu obyek.
1.2 Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana representasi sosial tentang TPI Cituis pada nelayan?
2. Bagaimana hubungan karakteristik nelayan responden dengan representasi sosial nelayan tentang TPI Cituis?
3. Bagaimana hubungan faktor eksternal (karakteristik TPI dan interaksi nelayan- tengkulak) dengan representasi sosial tentang TPI Cituis?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis representasi sosial tentang TPI Cituis pada nelayan responden. 2. Menganalisis hubungan karakteristik nelayan responden dengan representasi
sosial tentang TPI Cituis.
3. Menganalisis hubungan faktor eksternal (karakteristik TPI dan interaksi nelayan-tengkulak) dengan representasi sosial tentang TPI Cituis.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Peneliti, penelitian ini diharapkan mampu menjadi pembelajaran dalam memahami kehidupan nelayan terutama dalam bidang representasi sosial mereka.
2. Masyarakat umum, penelitian ini diharapkan dapat menjadi penambah pengetahuan mengenai representasi sosial nelayan.
3. Civitas akademik, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literature dan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya terkait dengan representasi sosial.
4. Pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terkait kebijakan-kebijakan dan perancanaan program yang berhubungan dengan representasi sosial nelayan.