BAB I PENDAHULUAN
E. Definisi Operasional
Adapun definisi operasional sebagai berikut:
1. Makna Simbolik adalah Makna simbol dapat diartikan sebagai bentuk interpretasi masyarakat terhadap nilai dalam pelaksanaan tradisi. Simbol juga sebagai bentuk ritual adat yang dilakukan sebagai petunjuk atau ciri khas dalam tradisi.
2. Mabbaca-baca adalah ritual membacakan doa sebagai bentuk rasa syukur di hadapan hidangan makanan seperti songkolo, telur, pisang serta yang paling penting dan tidak boleh dilewatkan adalah dupa dan kemenyang yang menjadi sebuah tradisi yang masih kental di suku bugis.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Konsep
1. Makna Simbolik Ritual Mabbaca-Baca a. Makna simbolik
Makna simbol dapat diartikan sebagai bentuk interpretasi masyarakat terhadap nilai dalam pelaksanaan tradisi. Simbol juga sebagai bentuk ritual adat yang dilakukan sebagai petunjuk atau ciri khas dalam tradisi. Tradisi yang masih kental di suku bugis yakni Mabbaca-baca (membacakan doa).
Kebudayaan itu bukan saja merupakan seni dalam hidup, tetapi juga benda-benda yang terdapat di sekeliling manusia yang dibuat oleh manusia. Itulah sebabnya kemudian kebudayaan diartikan sebagai cara hidup yang dikembangkan oleh sebuah masyarakat guna memenuhi keperluan dasarnya untuk dapat bertahan hidup, meneruskan keturunan dan mengatur pengalaman sosialnya. Kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakkan jejak-jejak dalam panggung sejarah di zaman modern yang memungkinkan adanya perubahan dalam setiap aspek budaya yaitu dari budaya tradisional menjadi budaya modern.
Setiap kebudayaan yang diciptakan oleh manusia tentunya mengandung makna yang tersirat di dalamnya. Ibarat sebuah simbol, mabbaca-baca tentu tidak
hadir begitu saja ditengah masyarakat kabupaten Wajo. Seluk beluk kehadirannya tidak bisa dipungkiri kalau tradisi mabbaca-baca dipelopori oleh
6
6
nenek moyang dan akhirnya dinikmati hingga sekarang. Jadi makna simbolik disini yaitu makna dari setiap yang dilakukan dalam pelaksanaan mabbaca-baca, seperti makna simbol dari sarana mabbaca-baca seperti symbol pisang, songkolo, telur, kemenyan, dan dupa.
b. Mabbaca-baca
Mabbaca-baca dalam bahasa Indonesia artinya membacakan doa. Jadi dapat diartikan sebagai proses pembacaan doa. Tapi tradisi ini berbeda dengan prosesi pembacaan doa pada umumnya. Doa dalam tradisi mabbaca-baca dibacakan oleh orang yang dipercaya. Mabbaca-baca merupakan adat istiadat yang membudaya di kabupaten Wajo. Sejak dahulu tradisi tersebut sudah terlaksana hingga sekarang serta sudah menjadi rutinitas wajib bagi masyarakat setempat pada sebuah musim. Bukan kepercayaan namun bagian dari prosesi ibadah mereka kepada Tuhan dan jalinan antar sesama manusia. Jadi Mabbaca-baca diartikan sebagai tradisi yang turun temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
1. Asal Mula Membaca-baca
Warisan budaya tidak lepas dari kontribusi para pendahulu sebelum akhirnya dirasakan oleh masyarakat hingga sekarang. Budaya kadangkala lenyap pada dimensi tertentu namun ada pula yang tetap jalan hingga menembus dimensi waktu. Terlepas dari aspek tersebut, sebuah tradisi yang menjadi identitas berbagai daerah tidak lepas dari pengaruh masa lalu hingga bisa hadir di tengah dinamika dan proses kehidupan.
Mabbaca-baca merupakan sebuah prosesi adat istiadat yang menjadi
rutinitas masyarakat kabupaten Wajo ketika hendak mewujudkan rasa syukur dalam bentuk pembacaan doa secara bersama-sama. Tradisi tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat sejak dahulu hingga sekarang. Pada dasarnya adat ini hampir sama dengan tradisi mabbaca-baca di daerah lain yang ada di sulawesi selatan yang membedakan hanya dari segi penamaan serta pola konstruksi masyarakat dalam meramu tata laksananya.
Jadi kehadiran tradisi ini tidak bisa dilepaskan dari proses masuknya agama islam di kabupaten Wajo terkhusus di Desa Alelebbae. Selain itu, tidak bisa kita hindarkan bahwa tradisi ini lahir ditengah-tengah masyarakat atas dedikasi peranan para pendahulu.
2. Fungsi Mabbaca-baca
Mengenai masa prasejarah aspek-aspek keagamaan tertentu hanya dapat didekati melalui interpretasi dan keterkaitan antar benda di dalam suatu suatu siklus penggalian maupun melalui analogi dengan praktik keagamaan dan tradisi tertentu. Dalam ceramah-ceramah Robertson Smith mengemukakan tiga gagasan penting yang menambah pengetahuan kita mengenai asas-asas religi dan agama pada umumnya yang berkaitan dengan fungsi tradisi mabbaca-baca antara lain :
a. Sebagai Perwujudan Religi
Sistem religi selalu berkaitan dengan upacara keagamaan, banyak cara yang dilakukan manusia untuk menginterpretasikan sistem keyakinan yang mereka miliki, informasi yang diberikan oleh informan diatas menggambarkan
8
bahwa perwujudan dari rasa syukur yang mereka rasakan itu dengan Mabbaca-baca, mereka merasa perlu pembuktian atas apa yang mereka rasakan dari apa
yang mereka yakini.
b. Mengintensifikasikan Solidaritas Masyarakat
Gagasan yang kedua adalah upacara religi atau agama yang biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifikasikan solidaritas masyarakat. Para pemeluk suatu religi atau agama menjalankan kewajiban mereka untuk melakukan upacara-upacara yang berkaitan keyakinan mereka dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak sedikit pula hanya melakukannya setengah-setengah saja. Motivasi mereka tidak terutama untuk berbakti kepada dewa atau tuhannya, atau untuk mengalami kepuasan keagamaan secara pribadi, tetapi juga karena mereka menganggap bahwa melakukan upacara adalah suatu kewajiban sosial.
B. Kajian teori
Teori merupakan alat terpenting dalam ilmu pengetahuan, karena tanpa suatu teori, yang ada hanyalah serangkaian pengetahuan mengenai fakta. Salah satu fungsi dari teori adalah sebagai suatu kerangka pemikiran, fungsinya sebagai pendorong proses berpikir deduktif yang bergerak dari tak berwujud menuju ke fakta-fakta nyata. Mengenai hal tersebut, teori yang digunakan oleh peneliti berfungsi sebagai kerangka yang memberikan batasan kepadanya. Ini perlu dilakukan karena dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai fakta konkret
sehingga pembatasan perlu diperhatikan dalam penelitian. Oleh karena itu, perlu adanya landasan teori dalam penelitian ini agar penelitian ini tidak melebar kemana-mana (Eka Kartini, 2013).
Agama dan kebudayaan
Perbincangan tentang agama dan budaya adalah perbincangan tentang suatu hal yang memiliki dua sisi. Agama di satu sisi memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai budaya, sehingga agama bisa berdampingan atau bahkan berasimilasi dan melakukan akomodasi dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
Menurut Anne Marie Malefijt (dalam agus, 2006:5), bahwa agama adalah the most important aspects of culture. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi dengan institusi budaya yang lain dalam suatu struktur masyarakat. Dari pernyataan Malefijt.dapat disimpulkan bahwa agama mewarnai kebudayaan.
Di sisi lain, agama sebagai wahyu dan memiliki kebenaran yang mutlak (terutama agama-agama samawi) dan universal, maka agama tidak bisa disejajarkan dengan nilai-nilai budaya yang relatif dan lokal. Agama harus menjadi sumber nilai bagi kelangsungan nilai-nilai budaya. Dengan demikian, terjadilah hubungan timbal balik antara agama dan budaya. Dan yang menjadi problem adalah apakah nilai-nilai lebih dominan dalam kehidupan masyarakat tersebut (Wahyuni, 2013:114).
Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan, yaitu keduanya merupakan sistem simbol yang diresapi, dihayati, diyakini, serta diejawantahkan
10
dalam praksis laku hidup manusia. Agama dalam perspektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan tata sosial. Sementara tradisi merupakan hasil cipta manusia ( dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai religius. Agama maupun budaya, berasal dari potensi bawaan (fitrah) manusia. Keduanya berkembang secara terpadu dalam kehidupan manusia. Secara bersama pula keduanya membentuk sistem budaya dan peradaban suatu masyarakat/bangsa. Di sisi lain, keduanya memiliki sifat yang berbeda sifat, “kebergantungan” dan “kepasrahan, sedangkan budaya memiliki sifat “kemandirian” dan “keaktifan”. Oleh karena itu dalam setiap tahapan perkembangan menunjukkan adanya gejala variasi dan irama yang berbeda antara lingkungan masyarakat atau bangsa yang satu dengan lainnya (Marno, 2005:53-54).
Agama dan kebudayaan kemudian berjumpa dalam sebuah ruang sosial dan satu sama lain menampilkan identitasnya masing-masing dengan segala keikhlasannya. Agama sebagai sebuah narasi universal dan global serta dengan klaim absolut kemudian merespon kebudayaan sebagai narasi lokal. Meski keduanya berbeda pada basis narasi, keduanya menempati posisi yang sama, yaitu sama-sama menempati ruang sakral dan profane dalam kehidupan manusia.
Agama sebagai sebuah sistem religi membutuhkan perwujudan budaya dalam bentuk simbol atau tindakan simbolis yang merupakan relasi komunikasi antara huma-kosmis dengan komunikasi religious yang bersifat lahir maupun batin (Heru Satoto, 2007:45).
1. Nilai budaya
Nilai adalah suatu bagian penting dari kebudayaan. Suatu tindakan dianggap sah, artinya secara moral dapat diterima kalau harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana tindakan itu dilakukan. Di Dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai senantiasa akan ikut berubah. Pergeseran nilai dalam banyak hal juga akan mempengaruhi perubahan folkways dan mores (Narwoko dan Suryanto, 2013 : 55).
Makna utama dari prosesi mabbaca-baca adalah yakni berdoa kepada Allah SWT. Pelaksaannya merupakan sebuah nilai yang dituangkan melalui cara pelaksanaan. Proses mabbaca-baca hanyalah cara, sedangkan tujuannya adalah berdoa. Maka dari itu tidak salah jika masyarakat mamaknainya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, ketika ada proses berdoa maka ada orang yang berkumpul untuk duduk menikmati hidangan yang sudah dibacakan oleh pabbaca sehingga akan mempererat tali persaudaraan dan ikatan sosial dalam masyarakat . Itulah nilai yang dianggap sah pada masyarakat alelebbae terkait tradisi mabbaca-baca.
Nilai budaya adalah konsep abstrak mengenai masalah. Masalah dasar yang bersifat umum yang sangat penting serta bernilai bagi kehidupan masyarakat (Setiadi dan Kolip, 2011: 127). Nilai pada tradisi mabbaca-baca hal yang lahir sejak masa tumpakki hingga sekarang. Nilai itu kemudian menjadi acuan hidup masyarakat sebagai salah satu identitas daerah yang patut dilestarikan sulit
12
dirasionalkan, tapi itulah maknanya yang menjadi nilai sebuah tradisi masyarakat di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
Setiadi dan Kolip (2011: 127) unsur-unsur kebudayaan bisa seperti religi, kekerabatan, kesenian dan sebagainya. Hal tersebut tergambar pada tradisi mabbaca-baca tidak bisa lepas dari pengaruh ajaran agama hindu dan implikasi proses masuknya islam di Desa Alelebbae kala itu. Hal tersebut menjadi konstruksi masyarakat sehingga menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat.
Akan tetapi, makna atau nilai sesungguhnya dari tradisi mabbaca-baca bukan karena proses atau cara yang digunakan dalam pelaksanaannya namun bagaimana doa yang dipanjatkan kepada Tuhan dapat di ijabah.
1.1 Teori Nilai Religi
Berdasarkan dari pelaksanaan tradisi Mabbaca-baca, jika kita bercermin dari Teori Koentjaraningrat tentang konsep religi. Manusia sebagai ciptaan Tuhan secara sadar memiliki hubungan individu antar manusia dengan penciptanya. Hubungan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara baik melalui agama maupun berbagai pola kepercayaan yang selalu dipegang teguh dan melekat dalam kehidupan keseharian. Kebudayaan yang merupakan hasil dari sebuah proses kehidupan manusia. Secara garis besar terdiri dari tujuh unsur yang meliputi Sistem religi dan upacara keagamaan, Sistem dan organisasi kemasyarakatan, Sistem pengetahuan, Bahasa, Kesenian Sistem mata pencaharian hidup, Sistem teknologi dan peralatan (Koentjaraningrat, 1974). Dari pendapat ini dapat katakana bahwa sistem religi merupakan unsur
budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat baik melalui kegiatan adat istiadat maupun upacara-upacara keagamaan.
Kesenian yang juga merupakan bagian dari unsur kebudayaan dalam proses penciptaannya juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan religious baik sebagai sarana upacara maupun untuk keperluan adat istiadat yang berlaku dalam kelompok masyarakat.
1.2 Teori Interaksionisme Simbolik(Herbert Blumer)
Pentingnya interaksionisme simbolik tercermin dari pandangan mengenai objek-objek. Blummer(1966) membedakan objek-objek menjadi tiga tipe yaitu : (1)objek-objek fisik, seperti pohon, mobil, motor, dan rumah (2)objek-objek social seperti manusia dan kelompok (3)objek-objek abstrak, seperti nilai, dan norma social. Suatu objek mempunyai makna yang berbeda bagi para individu, contohnya objek fisik seperti “pohon” memiliki makna yang berbeda bagi petani, bagi penyair, bagi pecinta lingkungan dan bagi para pelaku industri.
Interaksi simbolik menurut blumer memiliki tiga premis utama yaitu : 1. Manusia bertindak berdasarkan makna yang ada pada sesuatu orang lain 2. Makna yang didapatkan berdasarkan hasil interaksi dengan dengan orang
lain
3. Makna-makna tersebut kemudian direvisi, diubah, atau disempurnakan melalui proses interaksi sosial. Ketiga premis tersebut merupakan substansi dasar untuk menciptakan struktur ide-ide dasar. Poloma(2000)
14
mengatakan perspektif yang dikemukakan oleh Blumer memiliki ide-ide dasar yaitu :
a. Masyarakat adalah terdiri dari beberapa manusia yang saling berinteraksi, akhirnya melakukan tindakan bersama dan akhirnya membentuk struktur sosial.
b. Interaksi manusia terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia yang lain. Interaksi secara simbolik senantiasa mencakup penafsiran atas tindakan-tindakan tersebut.
c. Objek-objek fisik, social, abstrak tidak mempunyai makna intrinsic karena makna merupakan produk interaksi simbolik.
d. Manusia tidak hanya mengenal objek secara eksternal namun juga mengenal dirinya sebagai objek
e. Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri
f. Tindak tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan dengan anggota-anggota kelompok.
Perspektif interaksionisme simbolik merupakan unit analisis tingkat mikro, dimana actor tidak dipandang sebagai manusia yang semata-mata responsive, tapi actor yang senantiasa mendefinisikan dan menafsirkan setiap tindakan orang lain. Actor baik secara langsung maupun tidak langsung didasarkan atas penafsiran makna tindakan manusia dengan menggunakan simbol sebagai jembatan interaksi.
C. Kerangka Pikir
Setiap penelitian sangat diperlukan adanya kerangka berpikir pijakan atau sebagai pedoman dalam menentukan arah dari suatau penelitian, hal ini diperlukan agar penelitian tetap terfokus pada kajiannya yang akan diteliti.
Kerangka pikir tersebut digunakan untuk memberikan suatu konsep dalam melaksnakan penelitian dilapangan, alur kerangka yang dibuat oleh peneliti ini akan di deskripsikan.
Ritual Mabbaca-baca sebuah bentuk keyakinan keagamaan dan bentuk keyakinan budaya atau tradisi yang berkembang di tengah masyarakat di Desa Alelebbae. Dalam hal ini proses pelaksanaan Mabbaca-baca dilakukan dengan mengundang masyarakat sekitar serta menyiapkan hidangan khusus seperti songkolo, ayam, telur, pisangg, dupa dan kemenyang. Proses ritual Mabbaca-baca dimakna sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan selain itu fungsi ritual Mabbaca-baca sebagai perwujudan keagamaan dan solidaritas masyarakat desa.
Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan diatas, maka dapat digambarkan dalam skema dari kerangka pikir dan adapun gambaran dari skema kerangka pikir yang penulisannya yang ada di bawah ini :
16
Bagan 1 Kerangka Pikir
D. Penelitian Terdahulu
Beberapa hasil penelitian terdahulu yang meneliti tentang Mabbaca-baca :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Muh. Aking (2018) dengan judul “Tradisi Membaca Doa Pada Masyarakat Bugis Perantauan Di Desa Tombekuku Kecamatan Basala Kabupaten Konawe Selatan” hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat masih mempertahankan tradisi dan adat istiadatnya sebagai masyarakat bugis, yaitu tradisi
Ritual Mabbaca-baca
Keyakinan Keagamaan Keyakinan
Prosesi Pelaksanaan Mabbaca-baca
Makna Mabbaca-Baca Fungsi Mabbaca-baca
Nilai Moral Sosial
mabbaca-baca (membaca doa ) karena sudah menjadi kepercayaan turun-temurun yang dilakukan oleh leluhur masyarakat bugis.
Penelitian ini lebih fokus pada bagaimana masyarakat bugis perantauan masih mempertahankan tradisi tersebut.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmatang (2016) dengan judul “ Tradisi Massuro Mabbaca Dalam Masyarakat Rompegading Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros “hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa dalam tradisi massuro mabbaca merupakan salah satu rangkaian dalam acara yang tidak boleh terlewatkan karena acara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Yang telah memebrikan limpahan rahmat dan rezeki yang tidak pernah putus. Penelitian ini lebih focus menjelaskan tentang nilai-nilai budaya yang terkandung dalam prosesi massuro mabbaca.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Al Mushar Firandi ( 2017) dengan Judul
“Barazanji Dalam Kajian Perspektif Modern Dan Budaya Masyarakat Bugis Di Kelurahan Ujung Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng”
hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam tradisi barzanji sebagai kegiatan dan proses pada kehidupan masyarakat bugis.
Jadi penelitian disini Barazanji merupakan pelengkap dari upacara dari upacara adat atau syukuran yang mereka lakukan, seperti menre aji(Naik haji), akikah, perkawinan, mobil baru, dan lain-lain.
Meskipun cara pelaksanaannya yang berbeda tetapi tujuannya tetap sama yaitu sebagai bentuk rasa syukur.
18
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif artinya data yang
dikumpulkan bukan berupa angka melainkan data yang berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumentasi pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnya, dengan mengkaji Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo.
2. Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan Pendekatan Fenomenologi untuk mendapatkan data secara mudah. Schutz berpendapat dalam cresswell, 1998 :53) menjelaskan bahwa fenomenologi mengkaji bagaimana anggota masyarakat menggambarkan dunia hari-harinya terutama bagaimana individu dengan kesadarannya membangun makna dari hasil interaksi dengan individu lainnya.
Penelitian ini bersifat deskriptif penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang.
19
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Alelebbae, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo. Lokasi ini dipilih adalah masyarakat bugis di Desa Alelebbae yang masih melaksanakan tradisi Mabbaca-baca yang merupakan hal “wajib” mereka melaksanakan ketika ada acara-acara sakral seperti perkawinan, naik rumah baru, habis panen, kendaraan baru seperti mobil dan motor.
2. Waktu Penelitian
Waktu yang dibutuhkan peneliti untuk melakukan penelitian ini dilaksanakan sejak 31 April 2021 sampai tanggal 31 Mei 2021 terhitung sejak dikeluarkannya surat izin penelitian dalam kurung waktu kurang lebih 1 bulan untuk melakukan penelitian di lokasi penelitian yang telah ditentukan oleh peneliti
C. Informan Penelitian
Teknik penentuan informan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Menurut sugiyono, “teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu”
(Sugiyono,2010:300). Teknik penentuan informan dengan menggunakan purposive sampling dipilih karena teknik ini memilih orang(informan) dengan
penilaian tertentu menurut kebutuhan peneliti, sehingga dianggap layak untuk dijadikan sumber informasi.
20
Informan penelitian yang dimaksud disini yaitu dimana peneliti diberi informasi oleh informan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan peneliti itu sendiri. Peneliti memilih informan kunci yaitu orang-orang yang dipandang tahu permasalahan yang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah;
a. Pabbaca : Sudah melakukan Mabbaca-baca selama kurang lebih 25 tahun.
b. Imam Desa : Sudah melakukan Mabbaca-baca selama kurang lebih 20 tahun.
c. Tokoh Masyarakat : Sudah melakukan Mabaca-baca kurang lebih 25 tahun.
d. Masyarakat : Sudah melakukan Mabbaca-baca kurang lebih 23 tahun D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini makna simbolik ritual mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo. Alasan peneliti dalam menentukan fokus ini adalah masyarakat bugis di Desa Alelebbae yang masih melaksanakan tradisi Mabbaca-baca yang merupakan hal “wajib”
mereka melaksanakan ketika ada acara-acara sakral seperti Aqiqah.
E. Instrumen Penelitian
Adapun instrument penelitian yang digunakanlah instrumen penelitian berupa lembar observasi, panduan wawancara, dokumentasi dan peneliti itu sendiri.sebagai pendukung dalam penelitian. Adapun instrumen yang di maksud adalah sebagai berikut:
1. Catatan Lapangan, berisi catatan yang diperoleh peneliti pada saat melakukan pengamatan langsung dilapangan.
2. Pedoman wawancara, berisi seperangkat daftar pertanyaan peneliti sesuai dengan rumusan masalah pertanyaan.
3. Kamera yang digunakan ketika penulis melakukan observasi untuk merekam kejadian yang penting pada suatu peristiwa baik dalam bentuk foto maupun video.
4. recorder. Recorder digunakan untuk merekam suara ketika melakukan pengumpulan data, baik menggunakan metode wawancara, observasi dan sebagainya.
5. Peneliti itu sendiri.
F. Jenis dan Sumber Data
Adapun sumber data yang dikumpulkan peneliti adalah, sebagai berikut:
1. Data Primer
Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada objek. Untuk melengkapi data, maka melakukan wawancara secara langsung dan mendalam dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebagai alat pengumpulan data. Dalam hal ini sumber data utama (data primer) diperoleh langsung dari setiap informan yang diwawancarai secara langsung dalam penelitian.
a. Informan Kunci :
1. Nur Alam (Tokoh masyarakat ) 2. Baco Tang (Imam Desa)
22
3. Kasmari ( Masyarakat) a. Informan Pendukung :
1. Ilyas Mawi ( Sekretaris Desa ) 2. Hj. Bolong ( Masyarakat ) 3. Sitti ( Masyarakat )
4. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data-data yang dapat digunakan dari hasil buku referensi,jurnal dan internet.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara yang dilakukan periset untuk mendapatkan data yang mendukung penelitiannya.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode pengumpulan data yakni:
1. Metode observasi
Dalam metode pengumpulan data menggunakan metode observasi dimana teknik pengumpulan data dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya. Pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana dilihat oleh subyek penelitian, hidup saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subjek pada keadaan waktu itu. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara memusatkan
Dalam metode pengumpulan data menggunakan metode observasi dimana teknik pengumpulan data dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya. Pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana dilihat oleh subyek penelitian, hidup saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subjek pada keadaan waktu itu. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara memusatkan