BAB III METODE PENELITIAN
J. Etika Penelitian
Etika penelitian adalah standar tata perilaku peneliti selama melakukan penelitian, mulai dari menyusun desain penelitian, mengumpulkan data lapangan (melakukan wawancara, observasi, dan pengumpulan data dokumen), menyusun laporan penelitian hingga mempublikasikan hasil penelitian. Misalnya :
1. Menginformasikan tujuan penelitian kepada informan.
2. Meminta persetujuan informan (informed Consent) untuk diwawancarai.
3. Menjaga kerahasiaan identitas informan, jika terkait informasi sensitif.
4. Meminta izin informan jika ingin merekam wawancara, atau ingin mengambil dokumen baik secara video maupun foto.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian 1. Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo adalah salah satu daerah tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sengkang.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 persegi dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 378.024 jiwa. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk kabupaten Wajo adalah 151 jiwa per km2.
Kabupaten Wajo terdiri dari 14 kecamatan, dengan 48 kelurahan dan 142 desa, memiliki sumber daya alam yang besar. Kabupaten ini terletak sekitar 242 km dari kota Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan) memanjang pada arah laut Tenggara dan terakhir merupakan selat dengan posisi geografis antara 3ᵒ39’- 4ᵒ16’ LS dan antara 119ᵒ53’ - 120ᵒ27 BT . Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah hingga dataran tinggi bergelombang dengan ketinggian 0-520 Mdpl. Hanya sebagian kecil yang berupa perbukitan di bagian utara. Bagian timur berupa dataran rendah dan pesisir teluk bone, termasuk pulau-pulau pasir di perairan teluk bone sedangkan bagian barat merupakan dataran aluvial Danau Tempe-Danau Sidenreng.
Luas wilayah Kabupaten Wajo 2.506,19 km dengan rincian lahan berikut:
28
28
a) Persawahan : 86.000 Ha b) Lahan tegal/kebun : 36.706 Ha c) Lading huma : 12.177 Ha d) Lahan pertambakan : 15.000 Ha e) Danau Tempe : 13.000 Ha f) Perkebunan : 29.413 Ha
g) Tanah tanaman kayu-kayu 7.226 Ha, dan lainnya 63.353 Ha Secara morfologi, kabupaten Wajo mempunyai ketinggian lahan di atas permukaan laut 9(dpl) dengan rincian sebagai berikut:
a) 0 -7 meter, luas 57,263 Ha atau sekitar 22,57%
b) 8 – 25 meter, luas 94,536 Ha atau sekitar 37,72 % c) 26 – 100 meter, luas 87,419 Ha atau sekitar 34,90 %
d) 101 – 500 meter, luas 11,231 Ha atau sekitar 4,50% diatas 500 meter luasnya hanya 167 Ha atau sekitar 0.66%.
Berdasarkan data Badan pusat Statistik Kabupaten Wajo, Jumlah penduduk kabupaten Wajo adalah 378.024 jiwa, terdiri atas 183.392 laki-laki dan 194.632 perempuan. Dengan luas wilayah kabupaten sekitar 2.504,00 km persegi, rata-rata tingkat penduduk kabupaten Wajo 151 jiwa/km.
Kabupaten Wajo dikenal sebagai kota niaga karena masyarakatnya yang sangat piawai dalam berdagang. Berbagai macam kebutuhan hidup konon memiliki harga yang relatif murah jika dibandingkan di daerah
lainnya. Selain kota niaga, kabupaten Wajo juga dikenal sebagai Kota Sutera. Aktivitas masyarakat Wajo dalam mengelola kain sutera telah dilakukan secara turun temurun dan dapat ditemukan hampir di setiap kecamatan yang ada di kabupaten Wajo.
Menurut beberapa sumber arti kata Sengkang adalah tempat atau daerah persinggahan, kedatangan, dan bersama-sama datang. Sehubungan dengan makna sengkang tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah Sengkang merupakan tempat strategis yang membuat orang-orang jika melewatinya akan singgah karena adanya sesuatu yang istimewa dan menarik ditempat ini.
Pada beberapa wilayah bugis di Sulawesi Selatan yang merupakan bekas-bekas kerajaan proses pendiriannya diawali dengan kemunculan sosok misterius yaitu To Manurung seperti yang diceritakan dalam epos La Galigo, ini berbeda dengan Wajo yang terbentuk d ari bekas kerajaan lama. Wajo berarti bayangan atau bayang-bayang (Wajo-Wajo). Di bawah bayang-bayang (Wajo-Wajo, bahasa Bugis, artinya pohon bajo) diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat yang sepakat membentuk Kerajaan Wajo. Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo. Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo, yaitu kisah We Tadampali, seorang putri dari Kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta. Beliau dihanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan itu kemudian disebut Majauleng, berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli' (kulit). Konon kabarnya
30
beliau dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai Sakkoli (sakke'=pulih; oli=kulit) sehingga beliau sembuh. Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru, hingga suatu saat datang seorang pangeran dari Bone (ada juga yang mengatakan Soppeng) yang beristirahat di dekat perkampungan We Tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja-raja Wajo.
Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to manurung sebagaimana kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada umumnya. Tipe Kerajaan Wajo bukanlah feodal murni, tetapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas. Kebesaran tanah Wajo pada masa dahulu, termasuk kemajuannya di bidang pemerintahan, kepemimpinan, demokrasi dan jaminan terhadap hak-hak rakyatnya.
Adapun konsep pemerintahan adalah : 1. Kerajaan
2. Republik
3. Federasi, yang belum ada duanya pada masa itu.
Hal tersebut semuanya ditemukan dalam Lontara Sukkuna Wajo.
Sebagaimana yang diungkapkan bahwa beberapa nama pada masa Kerajaan Wajo yang berjasa dalam mengantar Tana Wajo menuju kepada kebesaran dan kejayaan antara lain :
1. Latadampare Puangrimaggalatung
2. Petta Latiringeng To Taba Arung Simettengpola 3. Lamungkace Toaddamang
4. Latenrilai Tosengngeng 5. Lasangkuru Patau
6. Lasalewangeng To Tenri Rua
7. Lamadukelleng Daeng Simpuang, Arung Singkang 8. Lafariwusi Tomaddualeng
Dan masih banyak lagi nama-nama yang berjasa di Wajo yang menjadi peletak dasar kebesaran dan kejayaan Wajo. Beberapa versi tentang kelahiran Wajo, yakni :
1. Versi Puang Rilampulungeng 2. Versi Puang Ritimpengen 3. Versi Cinnongtab
4. Versi Boli
5. Versi Kerajaan Cina 6. Versi masa Kebataraan 7. Versi masa ke Arung Matoa-an
32
Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tahun dari pada hari jadi Wajo ialah versi boli, yakni pada waktu pelantikan batara Wajo pertama latenri bali tahun 1399, dibawah pohon besar (pohon bajo). Tempat pelantikan sampai sekarang masih bernama Wajo-Wajo, di daerah tosora kecamatan majauleng.
Terungkap bahwa, pada mulanya la tenri bali bersama saudaranya bernama la tenri tipe diangkat sebagai arung cinnongtabi, menggantikan ayahnya yang bernama la patiroi. Akan tetapi dalam pemerintahannya, latenri tippe sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya yang diistilahkan ”narempekengngi bicara tauwe”, maka latenri bali mengasingkan dirinya ke penrang (sebelah timur tosora) dan menjadi arung penrang. Akan tetapi tak lama kemudian dia dijemput rakyatnya dan diangkat menjadi arung mata esso di kerajaan boli. Pada upacara pelantikan dibawah pohon bajo, terjadi perjanjian antara latenri bali dengan rakyatnya dan diakhiri dengan kalimat ”bataraemani tu mene’ na jana citta, tanae mani riawana” (hanya batara langit di atas perjanjian kita, dan bumi di bawahnya) naritellana petta latenri bali petta batara Wajo.
Berdasarkan perjanjian tersebut, maka dirubahlah istilah Arung Mata Esso menjadi Batara, dan kerajaan baru didirikannya, yang cikal bakalnya dari Kerajaan Boli, menjadi Kerajaan Wajo, dan Latenri Bali menjadi Batara Wajo yang pertama.
Sedangkan untuk menentukan tanggal Hari Jadi Wajo, dikemukakan beberapa versi, yakni :
1. Versi tanggal 18 Maret, ketika armada Lamaddukkelleng dapat mengalahkan armada Belanda di perairan Pulau Barrang dan Kodingareng.
2. Versi tanggal 29 Maret, ketika dalam peperangan terakhir, Lamaddukkelleng di Lagosi, dapat memukul mundur pasukan gabungan Belanda dan sekutu-sekutunya.
3. Versi tanggal 16 Mei, ketika Lasangkuru Patau bergelar Sultan Abdul Rahman Arung Matoa Wajo, memeluk agama islam.
4. Versi ketika andi ninnong ranreng tuwa Wajo, menyatakan di depan dr. sam ratulangi dan lanto dg. pasewang di sengkang pada tahun 1945 bahwa rakyat Wajo berdiri di belakang negara kesatuan indonesia.
Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tanggal daripada Hari Jadi Wajo, ialah versi tanggal 29 Maret, karena sepanjang sejarah belum pernah ada pejuang yang mampu mengalahkan Belanda pada pertempuran terakhir. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 1741. Dengan perpaduan dua versi tersebut di atas, maka disepakati: Hari Jadi Wajo ialah Tanggal 29 Maret 1399.
Dalam sejarah perkembangan Kerajaan Wajo, kawasan ini mengalami masa keemasan pada zaman La Tadampare Puang Ri
34
Maggalatung Arung Matowa, yaitu raja Wajo ke-6 pada abad ke-15. Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Pada abad ke-16 dan 17 terjadi persaingan antara Kerajaan Makassar (Gowa Tallo) dengan Kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) yang membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi Gowa. Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh armada gabungan Bone, Soppeng, VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu, La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani Perjanjian Bongaya.
Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan Wajo, tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone, dibawah pimpinan Arung Palakka. Setelah Wajo ditaklukkan, tibalah Wajo pada titik nadirnya. Banyak orang Wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah. Hingga saat datangnya La Maddukelleng Arung Matoa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir, beliaulah yang memerdekakan Wajo sehingga mendapat gelar Petta Pamaradekangngi Wajo (Tuan yang memerde kakan Wajo).
Arung Matoa Wajo masih kontroversi, yaitu :
1. Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah beliau terjadi kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
2. Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
3. Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi.
Demikianlah sejarah Wajo hingga melebur ke Republik Indonesia, kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.
Kerajaan Wajo adalah sebuah kerajaan yang didirikan sekitar tahun 1399, di wilayah yang menjadi Kabupaten Wajo saat ini di Sulawesi Selatan. Penguasanya disebut "Raja Wajo". Wajo adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu Cinnotabi.
Ada tradisi lisan yakni pau-pau rikadong dianggap sebagai kisah terbentuknya Wajo. yaitu putri dari Luwu, We Tadampali yang mengidap sakit kulit kemudian diasingkan dan terdampar di Tosora. Selanjutnya dia bertemu dengan putra Arumpone Bone yang sedang berburu. Akhirnya
36
mereka menikah dan membentuk dinasti di Wajo. Ada juga tradisi lisan lain yaitu kisah La Bandera, seorang pangeran Soppeng yang merantau ke Sajoanging dan membuka tanah di Cinnotabi.
Sejarah Wajo berbeda dengan sejarah kerajaan lain yang umumnya memulai kerajaannya dengan kedatangan To Manurung. Sejarah awal Wajo menurut Lontara Sukkuna Wajo dimulai dengan pembentukan komunitas dipinggir Danau Lampulung. Disebutkan bahwa orang-orang dari berbagai daerah, utara, selatan, timur dan barat, berkumpul di pinggir Danau Lampulung. Mereka dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui namanya yang digelari dengan Puangnge Ri Lampulung. Puang ri Lampulung dikenal sebagai orang yang bijak, mengetahui tanda-tanda alam dan tatacara bertani yang baik. Adapun penamaan danau Lampulung dari kata sipulung yang berarti berkumpul.
Komunitas Lampulung terus berkembang dan memperluas wilayahnya hingga ke Sebawi. Setelah Puang ri Lampulung meninggal, komunitas ini cair. Hingga tiba seseorang yang memiliki kemampuan sama dengannya, yaitu Puang ri Timpengeng di Boli. Komunitas ini kemudian hijrah dan berkumpul di Boli. Komunitas Boli terus berkembang hingga meninggalnya Puang ri Timpengeng.
Setelah itu, putra mahkota kedatuan Cina dan kerajaan Mampu, yaitu La Paukke datang dan mendirikan kerajaan Cinnotabi. Adapun urutan Arung Cinnotabi yaitu, La Paukke Arung Cinnotabi I yang diganti
oleh anaknya We Panangngareng Arung Cinnotabi II. We Tenisui, putrinya menjadi Arung Cinnotabi III yang diganti oleh putranya La Patiroi sebagai Arung Cinnotabi IV. Sepeninggal La Paroi, Adat Cinnotabi mengangkat La Tenri Bali dan La Tenri Tipe sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V. Setelah itu, Akkarungeng (kerajaan) Cinnotabi bubar. Warga dan adatnya berkumpul di Boli dan membentuk komunitas baru lagi yang disebut Lipu Tellu KajuruE.
La Tenri Atau menguasai wilayah majauleng, La Tenri Pekka menguasai wilayah sabbamparu dan La Matareng menguasai wilayah takkalalla. Ketiganya adalah sepupu satu kali La Tenribali. La Tenribali sendiri setelah kekosongan Cinnotabi membentuk kerajaan baru disebut Akkarungeng ri Penrang dan menjadi Arung Penrang pertama. Ketiga sepupunya kemudian meminta La Tenribali agar bersedia menjadi raja mereka. Melalui perjanjian Assijancingeng ri Majauleng maka dibentuklah kerajaan Wajo. La Tenribali diangkat sebagai raja pertama bergelar Batara Wajo. Ketiga sepupunya bergelar Paddanreng yang menguasai wilayah distrik yang disebut Limpo. La Tenritau menjadi Paddanreng ri Majauleng, yang kemudian berubah menjadi Paddanreng Bettempola pertama. La Tenri Pekka menjadi Paddanreng Sabbamparu yang kemudian menjadi Paddanreng Talotenreng. Terakhir La Matareng menjadi Paddanreng ri Takkalalla menjadi Paddanreng Tua.
Wajo mengalami perubahan struktural pasca Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi
38
Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional. Masa keemasan Wajo adalah pada pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellumpoccoe sebagai saudara tengah bersama Bone sebagai saudara tua dan Soppeng sebagai saudara bungsu.
Wajo memeluk Islam secara resmi pada tahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang telah dilakukan sebelumnya, Dato ri Tiro melanjutkan tugas Dato Sulaiman. Setelah selesai Dato ri Tiro ke Bulukumba dan meninggal di sana. Wajo terlibat Perang Makassar (1660-1669) disebabkan karena persoalan geopolitik di dataran tengah Sulawesi yang tidak stabil dan posisi Arung Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin. Kekalahan Gowa tidak menyebabkan La Tenrilai rela untuk menandatangani perjanjian Bongaya, sehingga Wajo diserang oleh pasukan gabungan setelah terlebih dahulu Lamuru yang juga berpihak ke Sultan Hasanuddin juga diserang. Kekalahan Wajo menyebabkan banyak masyarakatnya pergi meninggalkan Wajo dan membangun komunitas sosial ekonomi di daerah rantauannya. La Mohang Daeng Mangkona salah satu panglima perang Wajo yang tidak terima kekalahan merantau ke Kutai dan membuka lahan yang kini dikenal sebagai Samarinda.
Pada pemerintahan La Salewangeng to tenriruwa Arung Matowa ke 30, ia membangun Wajo pada sisi ekonomi dan militer dengan cara membentuk koperasi dan melakukan pembelian senjata serta melakukan pelatihan penggunaan senjata. La Maddukkelleng kemenakan La Salewangeng menjadi Arung Matowa 31 dilantik di saat perang. Pada zamannya ia memajukan posisi Wajo secara sosial politik di antara kerajaan-kerajaan di sulsel. La Koro Arung Padali, memodernisasi struktur kerajaan Wajo dengan membentuk jabatan militer Jenderal (Jendral), Koronel (Kolonel), Many Nyoro (Mayor), dan Kepiting (Kapten). Dia juga menandatangani Large Veklaring sebagai pembaharuan dari perjanjian Bongaya.
Pada zaman Ishak Manggabarani, persekutuan Wajo dengan Bone membuat keterlibatan Wajo secara tidak langsung pada Rumpa'na Bone.
Saat itu Belanda melancarkan politik pasifikasi untuk memaksa semua kerajaan di Sulawesi Selatan tunduk secara totalitas. Kekalahan Bone melawan Kompeni juga harus ditanggung oleh Wajo sehingga Wajo harus membayar denda perang pada Kompeni dan menandatangani Korte Verklaring sebagai pembaharuan dari Large Veklaring.
Wajo dibawah Republik Indonesia Serikat, atau tepatnya Negara Indonesia Timur, berbentuk swapraja pada tahun 1945-1949. Setelah Konferensi Meja Bundar, Wajo bersama swapraja lain akhirnya menjadi kabupaten pada tahun 1957. Antara tahun 1950-1957 pemerintahan tidak berjalan secara maksimal disebabkan gejolak pemberontakan DI/TII.
40
Setelah 1957, pemimpin di Wajo adalah seorang Bupati. Wajo yang dulunya kerajaan, kemudian menjadi Onderafdeling, selanjutnya Swapraja, dan akhirnya menjadi kabupaten.
Struktur Kerajaan Wajo e. Masa Batara Wajo
1. Batara Wajo = Penguasa tertinggi (1 orang)
2. Paddanreng = Penguasa wilayah, terdiri dari Bettempola untuk Majauleng, Talotenreng untuk Sabbamparu dan Tuwa untuk Takkalalla (3 orang)
3. Arung Mabbicara = Aparat pemerintah (12) orang f. Masa Arung Matoa
1. Arung Matoa = Penguasa tertinggi (1 orang) 2. Paddanreng = Penguasa wilayah (3 orang)
3. Pabbate Lompo = Panglima perang, terdiri dari Pilla, Patola dan Cakkuridi (3 orang)
4. Arung Mabbicara = Aparat pemerintah (30 orang) 5. Suro = Utusan (3 orang)
Kelima jabatan diatas disebut sebagai Arung PatappuloE, penguasa 40.
Jabatan lain yang tidak masuk Arung PatappuloE
1. Arung Bettempola = biasanya dirangkap Paddanreng Bettempola.
Bertugas sebagai ibu orang Wajo. Mengangkat dan menurunkan Arung
Matoa berdasar kesepakatan orang Wajo. Pada masa Batara Wajo, tugas ini dijabat oleh Arung Penrang
2. Punggawa = Panglima perang wilayah, bertugas mengantar Arung lili ke pejabat Arung Patappuloe
3. Petta MancijiE = Staf keprotokolan istana 2. Sejarah singkat Desa Alelebbae
Desa Alelebbae merupakan salah satu dari 23 Desa di wilayah Kecamatan Pitumpanua yang terletak kurang lebih 7 km dari Kecamatan Pitumpanua, Desa Alelebbae mempunyai luas wilayah 3,602 km.. Desa Alelebbae terdiri atas tiga (3) dusun yakni Dusun Alelebbae, Dusun Macekke’e dan Dusun Batu Titti. Desa Alelebbae adalah salah satu desa penghasil produk-produk pertanian dan perkebunan. Berikut gambaran tentang sejarah perkembangan desa Alelebbae yaitu dapat dilihat berikut ini:
Pada tahun 2006 Alelebbae awalnya merupakan satu kesatuan dari pemerintah desa Tellesang yang dipimpin oleh Hasan Basri. Namun karena ada peraturan daerah kabupaten Wajo yang memerintahkan bagi desa yang memiliki wilayah yang luas dan penduduk padat harus dimekarkan, sehingga pada waktu itu terbentuklah desa persiapan Desa Alelebbae dan dusun Alelebbae.
Pada tahun 2019 untuk pertama kalinya dilakukan pemilihan kepala desa secara langsung melalui pemilu dan yang terpilih menjadi kepala desa yaitu Haeruddin, SH.
42
B. Letak Geografi
1. Kondisi Geografis Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo dengan ibu kota Sengkang, terletak di bagian tengah Provinsi Sulawesi Selatan dengan jarak 242 km dari Makassar Ibukota Sulawesi Selatan mempunyai luas 2.506,19 km2 atau 4,01%dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, terletak diantara 3ᵒ39’- 4ᵒ16’ LS dan antara 119ᵒ53’ - 120ᵒ27 BATU yang berbatasan:
a) Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten luwu dan kabupaten sidrap
b) Sebelah timur berbatasan dengan teluk bone
c) Sebelah selatan dengan kabupaten bone dan kabupaten soppeng d) Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten sidrap
Dilihat dari topografinya, Kabupaten Wajo terletak di tengah-tengah Provinsi Sulawesi Selatan dan berdasarkan fotografi Sulawesi yang dibagi 3(tiga) Zona Utara, Tengah, dan Selatan, maka kabupaten Wajo terletak pada Zona tengah yang merupakan suatu depresi yang memanjang pada arah laut tenggara dan terakhir merupakan selat.
Gambar 1 : Peta Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo tergolong beriklim tropis yang termasuk type B dengan 29 C – 31 C atau suhu rata-rata 29 C siang hari. Daerah ini tahunnya berlangsung agak pendek yaitu rata-rata 3 (tiga) bulan yaitu bulan april sampai dengan bulan juli, dan bulan agustus sampai dengan bulan oktober, curah hujan rata-rata 8.000 mm dengan 120 hari hujan.
Menurut peta geologi Indonesia, kabupaten Wajo terdiri 3 (tiga) jenis batuan yaitu batuan vulkanik, sedimen, dan batuan pluton. Menurut peta eksplorasi Sulawesi Selatan, jenis tanah kabupaten Wajo terdiri dari
a) Alluvial : jenis tanah ini tersebar di seluruh kecamatan.
b) Clay : jenis tanah ini terdapat pada kecamatan Pammana dan Takkalalla
c) Podsolik : jenis tanah ini terdapat pada kecamatan maniangpajo, tanasitolo, tempe, sajoanging, majauleng, belawa, pitumpanua.
d) Mediteran : jenis tanah ini terdapat pada kecamatan tanasitolo, maniangpajo, pammana, belawa.
e) Grumosal : jenis tanah ini terdapat di kecamatan sabbangparu dan pammana.
Karakteristik lahan dan potensi wilayah kabupaten Wajo yang di dalam khasanah lontara Wajo diungkapkan sebagai daerah yang berbaring dengan posisi yang dikatakan “Mangkulungung sibuluE Massulappe RipottanangE Matondang Ritasi/TapparenggE” yang artinya Kabupaten Wajo memiliki lahan 3 (tiga) dimensi yaitu :
44
1) Tanah berbukit yang berjejer dari Selatan Kecamatan Tempe ke Utara semakin bergunung utamanta Kecamatan Maniangpajo dan Kecamatan Pitumpanua yang merupakan wilayah pembangunan hutan dan tanaman industri, perkebunan coklat, cengkeh, jambu mete serta pengembangan ternak
2) Tanah dataran rendah yang merupakan hamparan sawah dan perkebunan/tegalan pada wilayah bagian timur, selatan, tengah dan barat.
3) Danau Tempe dan sekitarnya serta hamparan laut yang terbentang sepanjang pesisir atau Teluk Bone di sebelah Timur merupakan potensi untuk pengembangan perikanan dan budidaya tambak.
Potensi sumber daya air yang cukup besar, baik air tanah maupun air permukaan yang terdapat di danau dan sungai-sungai yang ada seperti sungai Bila, Sungai Walanae, Sungai Cenrana, Sungai Gilireng, Sungai Siwa dan Sungai Awo merupakan potensi yang dapat dan akan dimanfaatkan untuk pengairan dan penyediaan air bersih.
Kabupaten Wajo terdapat 6 (enam) kecamatan yang merupakan wilayah pesisir pantai yaitu :
1. Kecamatan Pitumpanua 2. Kecamatan Keera 3. Kecamatan Takkalalla 4. Kecamatan Sajoanging
5. Kecamatan Penrang 6. Kecamatan Bola
Jumlah Desa yang masuk dalam 6 (enam) kecamatan tersebut adalah 25 desa yang langsung berada di pantai pesisir dan perbatasan dengan laut, sedangkan 42 desa yang berada di daratan
Luas wilayah desa yang masuk pantai pesisir menempati sekitar 47,437 Ha dan panjang pantai keseluruhan dari 6 kecamatan tersebut adalah 103 km.
2. Kondisi Demografis
Penduduk merupakan faktor utama dalam perkembangan suatu wilayah/daerah. Wilayah yang dihuni penduduk yang peduli, cerdas dan kreatif dalam memikirkan dan merencanakan perkembangan suatu wilayah secara sistematis sampai kepada tahap implementasi serta menjunjung nilai-nilai suatu budaya itu dapat menciptakan
Penduduk merupakan faktor utama dalam perkembangan suatu wilayah/daerah. Wilayah yang dihuni penduduk yang peduli, cerdas dan kreatif dalam memikirkan dan merencanakan perkembangan suatu wilayah secara sistematis sampai kepada tahap implementasi serta menjunjung nilai-nilai suatu budaya itu dapat menciptakan