BAB III METODE PENELITIAN
C. Informan Penelitian
Teknik penentuan informan yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Menurut sugiyono, “teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu”
(Sugiyono,2010:300). Teknik penentuan informan dengan menggunakan purposive sampling dipilih karena teknik ini memilih orang(informan) dengan
penilaian tertentu menurut kebutuhan peneliti, sehingga dianggap layak untuk dijadikan sumber informasi.
20
Informan penelitian yang dimaksud disini yaitu dimana peneliti diberi informasi oleh informan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan peneliti itu sendiri. Peneliti memilih informan kunci yaitu orang-orang yang dipandang tahu permasalahan yang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah;
a. Pabbaca : Sudah melakukan Mabbaca-baca selama kurang lebih 25 tahun.
b. Imam Desa : Sudah melakukan Mabbaca-baca selama kurang lebih 20 tahun.
c. Tokoh Masyarakat : Sudah melakukan Mabaca-baca kurang lebih 25 tahun.
d. Masyarakat : Sudah melakukan Mabbaca-baca kurang lebih 23 tahun D. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini makna simbolik ritual mabbaca-baca di Desa Alelebbae Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo. Alasan peneliti dalam menentukan fokus ini adalah masyarakat bugis di Desa Alelebbae yang masih melaksanakan tradisi Mabbaca-baca yang merupakan hal “wajib”
mereka melaksanakan ketika ada acara-acara sakral seperti Aqiqah.
E. Instrumen Penelitian
Adapun instrument penelitian yang digunakanlah instrumen penelitian berupa lembar observasi, panduan wawancara, dokumentasi dan peneliti itu sendiri.sebagai pendukung dalam penelitian. Adapun instrumen yang di maksud adalah sebagai berikut:
1. Catatan Lapangan, berisi catatan yang diperoleh peneliti pada saat melakukan pengamatan langsung dilapangan.
2. Pedoman wawancara, berisi seperangkat daftar pertanyaan peneliti sesuai dengan rumusan masalah pertanyaan.
3. Kamera yang digunakan ketika penulis melakukan observasi untuk merekam kejadian yang penting pada suatu peristiwa baik dalam bentuk foto maupun video.
4. recorder. Recorder digunakan untuk merekam suara ketika melakukan pengumpulan data, baik menggunakan metode wawancara, observasi dan sebagainya.
5. Peneliti itu sendiri.
F. Jenis dan Sumber Data
Adapun sumber data yang dikumpulkan peneliti adalah, sebagai berikut:
1. Data Primer
Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada objek. Untuk melengkapi data, maka melakukan wawancara secara langsung dan mendalam dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebagai alat pengumpulan data. Dalam hal ini sumber data utama (data primer) diperoleh langsung dari setiap informan yang diwawancarai secara langsung dalam penelitian.
a. Informan Kunci :
1. Nur Alam (Tokoh masyarakat ) 2. Baco Tang (Imam Desa)
22
3. Kasmari ( Masyarakat) a. Informan Pendukung :
1. Ilyas Mawi ( Sekretaris Desa ) 2. Hj. Bolong ( Masyarakat ) 3. Sitti ( Masyarakat )
4. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data-data yang dapat digunakan dari hasil buku referensi,jurnal dan internet.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara yang dilakukan periset untuk mendapatkan data yang mendukung penelitiannya.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode pengumpulan data yakni:
1. Metode observasi
Dalam metode pengumpulan data menggunakan metode observasi dimana teknik pengumpulan data dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya. Pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana dilihat oleh subyek penelitian, hidup saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subjek pada keadaan waktu itu. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara memusatkan perhatian terhadap fenomena-fenomena yang sedang diteliti.
Pada awal penelitian hal yang pertama dilakukan peneliti untuk melakukan metode observasi yaitu dengan mendatang atau mengunjungi tempat
penelitian, setelah itu peneliti mulai melihat dan merasakan untuk melakukan observasi terhadap masyarakat yang akan diteliti, dalam penelitian ini peneliti membutuhkan waktu selama 2 minggu untuk melakukan observasi di tempat penelitian, setelah data observasi dirasa telah cukup untuk memberikan informasi maka peneliti menghentikan observasi kemudian melanjutkan ke metode selanjutnya.
2. Metode wawancara
Dalam metode wawancara ini, peneliti terlebih dahulu membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan, sebelum itu perlu ditetapkan terlebih dahulu informan kunci yang akan pertama kali diwawancarai. Wawancara dilakukan selama 3 pekan dan hal yang dilakukan sebelum wawancara dengan para informan yaitu dengan mendatangi setiap informan secara langsung serta meminta izin dan membuat janji terlebih dahulu untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk wawancara dengan informan tersebut.
Setelah semuanya siap maka dilakukan wawancara dengan informan dimana pada awal wawancara peneliti terlebih dahulu menanyakan mengenai identitas informan seperti nama, umur dan pekerjaan. Serta peneliti juga diwajibkan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada informan agar informan lebih yakin dan percaya terhadap peneliti dan informasi yang didapatkan dapat maksimal. Setelah itu peneliti mulai menanyakan satu persatu pertanyaan yang telah dibuat oleh peneliti sebagai panduan dalam melakukan wawancara dengan informan agar informan yang didapatkan
24
sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti sehingga dibutuhkan daftar pertanyaan yang sudah dibuat terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara, peneliti menulis informasi serta merekam informasi atau pendapat yang telah disampaikan oleh informan.
Wawancara dilakukan dengan cara bertahap yaitu mulai dari informan kunci lalu setelah itu peneliti mulai melakukan wawancara terhadap beberapa informan pendukung yang dianggap tahu mengenai permasalahan yang diteliti oleh peneliti
3. Dokumentasi
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. sebagian besar data yang tersedia yaitu berbentuk surat, catatan harian, laporan dan foto.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif di mana analisis yang dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh sebelumnya yang selanjutnya akan dikembangkan . menurut Miles dan Huberman analisis data kualitatif dilakukan dengan cara interaktif dan harus berlangsung terus menerus sampai mencapai kalimat tuntas dan data yang diinginkan terisi penuh. Aktivitas yang dilakukan dalam teknik menganalisis data dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu :
1. Reduksi data
Kegiatan yang dimaksud adalah data yang telah diperoleh di lapangan kemudian disatukan misalnya dari hasil observasi, interview dan dokumentasi
kemudian disatukan dan diringkas menjadi sebuah data yang terperinci dengan harapan agar mudah untuk dipahami.
2. Penyajian data
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah penyajian data.
Melalui penyajian data maka terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data biasa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart atau sejenisnya.
3. Pengambilan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan ini dilakukan secara konduktif, kesimpulan yang diambil kemudian diverifikasi dengan jalan meninjau ulang catatan lapangan dan mendiskusikannya guna mendapatkan kesepakatan intersubjektif, hingga dapat diperoleh kesimpulan yang kokoh.
I. Teknik Keabsahan Data
Untuk memperoleh keabsahan data dari penelitian Tentang Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca adalah dengan triangulasi. Hal ini dilakukan untuk menganalisis data hasil penelitian yang berupa hasil wawancara dan observasi melalui pengecekan ulang dari berbagai informan.
1. Triangulasi Sumber dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang sama pada informan yang berbeda mengenai Makna Simbolik ritual Mabbaca-baca.
26
2. Triangulasi Teknik dilakukan dengan melakukan observasi langsung setelah melakukan wawancara dari berbagai informasi seperti data tentang Makna Simbolik Ritual Mabbaca-baca.
3. Triangulasi Waktu dilakukan untuk pengecekan hasil wawancara observasi sehingga peneliti melakukan wawancara 3-4 orang informan dalam waktu yang berbeda dan melakukan observasi dalam secara berkala.
J. Etika Penelitian
Etika penelitian adalah standar tata perilaku peneliti selama melakukan penelitian, mulai dari menyusun desain penelitian, mengumpulkan data lapangan (melakukan wawancara, observasi, dan pengumpulan data dokumen), menyusun laporan penelitian hingga mempublikasikan hasil penelitian. Misalnya :
1. Menginformasikan tujuan penelitian kepada informan.
2. Meminta persetujuan informan (informed Consent) untuk diwawancarai.
3. Menjaga kerahasiaan identitas informan, jika terkait informasi sensitif.
4. Meminta izin informan jika ingin merekam wawancara, atau ingin mengambil dokumen baik secara video maupun foto.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian 1. Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo adalah salah satu daerah tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sengkang.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 persegi dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 378.024 jiwa. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk kabupaten Wajo adalah 151 jiwa per km2.
Kabupaten Wajo terdiri dari 14 kecamatan, dengan 48 kelurahan dan 142 desa, memiliki sumber daya alam yang besar. Kabupaten ini terletak sekitar 242 km dari kota Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan) memanjang pada arah laut Tenggara dan terakhir merupakan selat dengan posisi geografis antara 3ᵒ39’- 4ᵒ16’ LS dan antara 119ᵒ53’ - 120ᵒ27 BT . Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah hingga dataran tinggi bergelombang dengan ketinggian 0-520 Mdpl. Hanya sebagian kecil yang berupa perbukitan di bagian utara. Bagian timur berupa dataran rendah dan pesisir teluk bone, termasuk pulau-pulau pasir di perairan teluk bone sedangkan bagian barat merupakan dataran aluvial Danau Tempe-Danau Sidenreng.
Luas wilayah Kabupaten Wajo 2.506,19 km dengan rincian lahan berikut:
28
28
a) Persawahan : 86.000 Ha b) Lahan tegal/kebun : 36.706 Ha c) Lading huma : 12.177 Ha d) Lahan pertambakan : 15.000 Ha e) Danau Tempe : 13.000 Ha f) Perkebunan : 29.413 Ha
g) Tanah tanaman kayu-kayu 7.226 Ha, dan lainnya 63.353 Ha Secara morfologi, kabupaten Wajo mempunyai ketinggian lahan di atas permukaan laut 9(dpl) dengan rincian sebagai berikut:
a) 0 -7 meter, luas 57,263 Ha atau sekitar 22,57%
b) 8 – 25 meter, luas 94,536 Ha atau sekitar 37,72 % c) 26 – 100 meter, luas 87,419 Ha atau sekitar 34,90 %
d) 101 – 500 meter, luas 11,231 Ha atau sekitar 4,50% diatas 500 meter luasnya hanya 167 Ha atau sekitar 0.66%.
Berdasarkan data Badan pusat Statistik Kabupaten Wajo, Jumlah penduduk kabupaten Wajo adalah 378.024 jiwa, terdiri atas 183.392 laki-laki dan 194.632 perempuan. Dengan luas wilayah kabupaten sekitar 2.504,00 km persegi, rata-rata tingkat penduduk kabupaten Wajo 151 jiwa/km.
Kabupaten Wajo dikenal sebagai kota niaga karena masyarakatnya yang sangat piawai dalam berdagang. Berbagai macam kebutuhan hidup konon memiliki harga yang relatif murah jika dibandingkan di daerah
lainnya. Selain kota niaga, kabupaten Wajo juga dikenal sebagai Kota Sutera. Aktivitas masyarakat Wajo dalam mengelola kain sutera telah dilakukan secara turun temurun dan dapat ditemukan hampir di setiap kecamatan yang ada di kabupaten Wajo.
Menurut beberapa sumber arti kata Sengkang adalah tempat atau daerah persinggahan, kedatangan, dan bersama-sama datang. Sehubungan dengan makna sengkang tersebut dapat disimpulkan bahwa wilayah Sengkang merupakan tempat strategis yang membuat orang-orang jika melewatinya akan singgah karena adanya sesuatu yang istimewa dan menarik ditempat ini.
Pada beberapa wilayah bugis di Sulawesi Selatan yang merupakan bekas-bekas kerajaan proses pendiriannya diawali dengan kemunculan sosok misterius yaitu To Manurung seperti yang diceritakan dalam epos La Galigo, ini berbeda dengan Wajo yang terbentuk d ari bekas kerajaan lama. Wajo berarti bayangan atau bayang-bayang (Wajo-Wajo). Di bawah bayang-bayang (Wajo-Wajo, bahasa Bugis, artinya pohon bajo) diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat yang sepakat membentuk Kerajaan Wajo. Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo. Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo, yaitu kisah We Tadampali, seorang putri dari Kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta. Beliau dihanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan itu kemudian disebut Majauleng, berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli' (kulit). Konon kabarnya
30
beliau dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai Sakkoli (sakke'=pulih; oli=kulit) sehingga beliau sembuh. Saat beliau sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru, hingga suatu saat datang seorang pangeran dari Bone (ada juga yang mengatakan Soppeng) yang beristirahat di dekat perkampungan We Tadampali. Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja-raja Wajo.
Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to manurung sebagaimana kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada umumnya. Tipe Kerajaan Wajo bukanlah feodal murni, tetapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas. Kebesaran tanah Wajo pada masa dahulu, termasuk kemajuannya di bidang pemerintahan, kepemimpinan, demokrasi dan jaminan terhadap hak-hak rakyatnya.
Adapun konsep pemerintahan adalah : 1. Kerajaan
2. Republik
3. Federasi, yang belum ada duanya pada masa itu.
Hal tersebut semuanya ditemukan dalam Lontara Sukkuna Wajo.
Sebagaimana yang diungkapkan bahwa beberapa nama pada masa Kerajaan Wajo yang berjasa dalam mengantar Tana Wajo menuju kepada kebesaran dan kejayaan antara lain :
1. Latadampare Puangrimaggalatung
2. Petta Latiringeng To Taba Arung Simettengpola 3. Lamungkace Toaddamang
4. Latenrilai Tosengngeng 5. Lasangkuru Patau
6. Lasalewangeng To Tenri Rua
7. Lamadukelleng Daeng Simpuang, Arung Singkang 8. Lafariwusi Tomaddualeng
Dan masih banyak lagi nama-nama yang berjasa di Wajo yang menjadi peletak dasar kebesaran dan kejayaan Wajo. Beberapa versi tentang kelahiran Wajo, yakni :
1. Versi Puang Rilampulungeng 2. Versi Puang Ritimpengen 3. Versi Cinnongtab
4. Versi Boli
5. Versi Kerajaan Cina 6. Versi masa Kebataraan 7. Versi masa ke Arung Matoa-an
32
Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tahun dari pada hari jadi Wajo ialah versi boli, yakni pada waktu pelantikan batara Wajo pertama latenri bali tahun 1399, dibawah pohon besar (pohon bajo). Tempat pelantikan sampai sekarang masih bernama Wajo-Wajo, di daerah tosora kecamatan majauleng.
Terungkap bahwa, pada mulanya la tenri bali bersama saudaranya bernama la tenri tipe diangkat sebagai arung cinnongtabi, menggantikan ayahnya yang bernama la patiroi. Akan tetapi dalam pemerintahannya, latenri tippe sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya yang diistilahkan ”narempekengngi bicara tauwe”, maka latenri bali mengasingkan dirinya ke penrang (sebelah timur tosora) dan menjadi arung penrang. Akan tetapi tak lama kemudian dia dijemput rakyatnya dan diangkat menjadi arung mata esso di kerajaan boli. Pada upacara pelantikan dibawah pohon bajo, terjadi perjanjian antara latenri bali dengan rakyatnya dan diakhiri dengan kalimat ”bataraemani tu mene’ na jana citta, tanae mani riawana” (hanya batara langit di atas perjanjian kita, dan bumi di bawahnya) naritellana petta latenri bali petta batara Wajo.
Berdasarkan perjanjian tersebut, maka dirubahlah istilah Arung Mata Esso menjadi Batara, dan kerajaan baru didirikannya, yang cikal bakalnya dari Kerajaan Boli, menjadi Kerajaan Wajo, dan Latenri Bali menjadi Batara Wajo yang pertama.
Sedangkan untuk menentukan tanggal Hari Jadi Wajo, dikemukakan beberapa versi, yakni :
1. Versi tanggal 18 Maret, ketika armada Lamaddukkelleng dapat mengalahkan armada Belanda di perairan Pulau Barrang dan Kodingareng.
2. Versi tanggal 29 Maret, ketika dalam peperangan terakhir, Lamaddukkelleng di Lagosi, dapat memukul mundur pasukan gabungan Belanda dan sekutu-sekutunya.
3. Versi tanggal 16 Mei, ketika Lasangkuru Patau bergelar Sultan Abdul Rahman Arung Matoa Wajo, memeluk agama islam.
4. Versi ketika andi ninnong ranreng tuwa Wajo, menyatakan di depan dr. sam ratulangi dan lanto dg. pasewang di sengkang pada tahun 1945 bahwa rakyat Wajo berdiri di belakang negara kesatuan indonesia.
Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tanggal daripada Hari Jadi Wajo, ialah versi tanggal 29 Maret, karena sepanjang sejarah belum pernah ada pejuang yang mampu mengalahkan Belanda pada pertempuran terakhir. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 1741. Dengan perpaduan dua versi tersebut di atas, maka disepakati: Hari Jadi Wajo ialah Tanggal 29 Maret 1399.
Dalam sejarah perkembangan Kerajaan Wajo, kawasan ini mengalami masa keemasan pada zaman La Tadampare Puang Ri
34
Maggalatung Arung Matowa, yaitu raja Wajo ke-6 pada abad ke-15. Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mulajaji Sultan Abdurrahman memerintah. Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Pada abad ke-16 dan 17 terjadi persaingan antara Kerajaan Makassar (Gowa Tallo) dengan Kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) yang membentuk aliansi tellumpoccoe untuk membendung ekspansi Gowa. Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke Belanda. Saat Gowa dikalahkan oleh armada gabungan Bone, Soppeng, VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu, La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani Perjanjian Bongaya.
Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan Wajo, tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone, dibawah pimpinan Arung Palakka. Setelah Wajo ditaklukkan, tibalah Wajo pada titik nadirnya. Banyak orang Wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah. Hingga saat datangnya La Maddukelleng Arung Matoa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir, beliaulah yang memerdekakan Wajo sehingga mendapat gelar Petta Pamaradekangngi Wajo (Tuan yang memerde kakan Wajo).
Arung Matoa Wajo masih kontroversi, yaitu :
1. Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah beliau terjadi kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
2. Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
3. Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi.
Demikianlah sejarah Wajo hingga melebur ke Republik Indonesia, kemudian ditetapkan sebagai sebuah kabupaten sampai saat ini.
Kerajaan Wajo adalah sebuah kerajaan yang didirikan sekitar tahun 1399, di wilayah yang menjadi Kabupaten Wajo saat ini di Sulawesi Selatan. Penguasanya disebut "Raja Wajo". Wajo adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu Cinnotabi.
Ada tradisi lisan yakni pau-pau rikadong dianggap sebagai kisah terbentuknya Wajo. yaitu putri dari Luwu, We Tadampali yang mengidap sakit kulit kemudian diasingkan dan terdampar di Tosora. Selanjutnya dia bertemu dengan putra Arumpone Bone yang sedang berburu. Akhirnya
36
mereka menikah dan membentuk dinasti di Wajo. Ada juga tradisi lisan lain yaitu kisah La Bandera, seorang pangeran Soppeng yang merantau ke Sajoanging dan membuka tanah di Cinnotabi.
Sejarah Wajo berbeda dengan sejarah kerajaan lain yang umumnya memulai kerajaannya dengan kedatangan To Manurung. Sejarah awal Wajo menurut Lontara Sukkuna Wajo dimulai dengan pembentukan komunitas dipinggir Danau Lampulung. Disebutkan bahwa orang-orang dari berbagai daerah, utara, selatan, timur dan barat, berkumpul di pinggir Danau Lampulung. Mereka dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui namanya yang digelari dengan Puangnge Ri Lampulung. Puang ri Lampulung dikenal sebagai orang yang bijak, mengetahui tanda-tanda alam dan tatacara bertani yang baik. Adapun penamaan danau Lampulung dari kata sipulung yang berarti berkumpul.
Komunitas Lampulung terus berkembang dan memperluas wilayahnya hingga ke Sebawi. Setelah Puang ri Lampulung meninggal, komunitas ini cair. Hingga tiba seseorang yang memiliki kemampuan sama dengannya, yaitu Puang ri Timpengeng di Boli. Komunitas ini kemudian hijrah dan berkumpul di Boli. Komunitas Boli terus berkembang hingga meninggalnya Puang ri Timpengeng.
Setelah itu, putra mahkota kedatuan Cina dan kerajaan Mampu, yaitu La Paukke datang dan mendirikan kerajaan Cinnotabi. Adapun urutan Arung Cinnotabi yaitu, La Paukke Arung Cinnotabi I yang diganti
oleh anaknya We Panangngareng Arung Cinnotabi II. We Tenisui, putrinya menjadi Arung Cinnotabi III yang diganti oleh putranya La Patiroi sebagai Arung Cinnotabi IV. Sepeninggal La Paroi, Adat Cinnotabi mengangkat La Tenri Bali dan La Tenri Tipe sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V. Setelah itu, Akkarungeng (kerajaan) Cinnotabi bubar. Warga dan adatnya berkumpul di Boli dan membentuk komunitas baru lagi yang disebut Lipu Tellu KajuruE.
La Tenri Atau menguasai wilayah majauleng, La Tenri Pekka menguasai wilayah sabbamparu dan La Matareng menguasai wilayah takkalalla. Ketiganya adalah sepupu satu kali La Tenribali. La Tenribali sendiri setelah kekosongan Cinnotabi membentuk kerajaan baru disebut Akkarungeng ri Penrang dan menjadi Arung Penrang pertama. Ketiga sepupunya kemudian meminta La Tenribali agar bersedia menjadi raja mereka. Melalui perjanjian Assijancingeng ri Majauleng maka dibentuklah kerajaan Wajo. La Tenribali diangkat sebagai raja pertama bergelar Batara Wajo. Ketiga sepupunya bergelar Paddanreng yang menguasai wilayah distrik yang disebut Limpo. La Tenritau menjadi Paddanreng ri Majauleng, yang kemudian berubah menjadi Paddanreng Bettempola pertama. La Tenri Pekka menjadi Paddanreng Sabbamparu yang kemudian menjadi Paddanreng Talotenreng. Terakhir La Matareng menjadi Paddanreng ri Takkalalla menjadi Paddanreng Tua.
Wajo mengalami perubahan struktural pasca Perjanjian Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo. Posisi
38
Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional. Masa keemasan Wajo adalah pada pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo menjadi anggota persekutuan Tellumpoccoe sebagai saudara tengah bersama Bone sebagai saudara tua dan Soppeng sebagai saudara bungsu.
Wajo memeluk Islam secara resmi pada tahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang telah dilakukan sebelumnya, Dato ri Tiro melanjutkan tugas Dato Sulaiman. Setelah selesai Dato ri Tiro ke Bulukumba dan meninggal di sana. Wajo terlibat Perang Makassar (1660-1669) disebabkan karena persoalan geopolitik di dataran tengah Sulawesi yang tidak stabil dan posisi Arung Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin. Kekalahan Gowa tidak menyebabkan La Tenrilai rela untuk menandatangani perjanjian Bongaya, sehingga Wajo
Wajo memeluk Islam secara resmi pada tahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang telah dilakukan sebelumnya, Dato ri Tiro melanjutkan tugas Dato Sulaiman. Setelah selesai Dato ri Tiro ke Bulukumba dan meninggal di sana. Wajo terlibat Perang Makassar (1660-1669) disebabkan karena persoalan geopolitik di dataran tengah Sulawesi yang tidak stabil dan posisi Arung Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin. Kekalahan Gowa tidak menyebabkan La Tenrilai rela untuk menandatangani perjanjian Bongaya, sehingga Wajo