• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Quality of Work Life

2.2.1 Definisi Produktivitas

Produktivitas menurut Soemarsono (2004) mengacu pada Suprihanto adalah hubungan antara keluaran (output) dengan masukan (input) yang dipergunakan untuk menghasilkan output tersebut. Sementara itu, pengertian umum produktivitas dinyatakan sebagai perbandingan antara nilai tambah dengan sumber yang terpakai. Dengan demikian, jelaslah bahwa produktivitas bukan

hanya merupakan ukuran dari produksi atau output yang dihasilkan, tetapi ukuran tingkat penggunaan sumber-sumber untuk mencapai sesuatu yang berhubungan dengan efektivitas dalam mencapai suatu misi atau prestasi yang diharapkan.

Konsep produktivitas terbagi menjadi dua tingkatan yang meliputi makro dan mikro. Konsep produktivitas di tingkat makro bertujuan dalam pembangunan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Konsep produktivitas ditingkat mikro mencakup produktivitas tenaga kerja, modal, produksi, organisasi, penjualan dan produk yang bertujuan menghasilkan result yang berupa perkembangan melalui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.

Berdasarkan Mursi (2004) mengacu pada Fromm menjelaskan manusia bukan hanya makhluk berakal dan makhluk sosial, tetapi makhluk produktif. Oleh karena itu, ia harus berproduksi. Dengan mengeksplorasi akal dan daya imajinasi, manusia dapat mengubah bahan mentah menjadi hasil produksi. Pemahaman Fromm tidak hanya terbatas pada produksi material saja, melainkan lebih luas lagi, yaitu kemampuan manusia mendayagunakan potensi rasio, perasaan, indera, dan fasilitas-fasilitas lain pada dirinya. Jika seseorang mampu mengembangkan potensinnya berarti ia berkepribadian produktif, yakni mampu berfikir bebas dan kritis. Ia merasa, mengindera lingkungan sekitar dan mempengaruhinya, menghormati diri, sahabat-sahabatnya, mengupayakan kelayakan hidup dengan prinsip keseimbangan yakni tanpa depresi dan stress, serta menikmati pekerjaan alamiah dan seni. Dengan kata lain, mampu memantapkan dan mengaktualisasikan diri serta mengambil hal-hal positif dari kehidupan.

Menurut Soemarsono (2004) mengacu pada Monday, manajemen sumber daya manusia, fokus utama produktivitas adalah menemukan cara untuk meningkatkan produktivitas. Produktivitas yang dimaksud adalah ukuran tentang hubungan antara input (tenaga kerja, modal investasi, kapasitas produksi dan skala produksi).

Menurut Mangkuprawira dan Hubeis (2007), produktivitas adalah rasio output dan input suatu proses produksi dalam periode tertentu. Input terdiri dari atas manajemen, tenaga kerja, biaya produksi, peralatan, serta waktu. Output meliputi produksi, produk penjualan, pendapatan, pangsa pasar dan kerusakan

produk. Dalam pendekatan perspektif normatif, pengertian produktivitas adalah kalau hari ini karyawan lebih baik daripada kemarin dan hari esok lebih baik daripada sekarang. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas pada tingkat makro meliputi kondisi perekonomian, kondisi industri, regulasi pemerintah, karakteristik angkatan kerja. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas pada tingkat mikro meliputi organisasi (pabrik, mesin, kondisi fisik tempat kerja), manajemen (perhatian terhadap mutu, perhatian pada faktor-faktor manusia, perhatian terhadap pelatihan dan pengembangan), karyawan (pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap, perilaku).

Produktivitas adalah kemampuan seseorang atau kelompok orang untuk menghasilkan barang dan jasa. Produktivitas tenaga kerja sebagai konsep menunjukkan adanya keterkaitan antara hasil kerja dengan satuan waktu. Seorang tenaga kerja yang produktif adalah seorang tenaga kerja yang cekatan dan mampu menghasilkan barang dan jasa sesuai mutu yang ditetapkan, dalam waktu yang lebih singkat. Konsep produktivitas di tingkat mikro dalam perkembangannya mencakup produktivitas tenaga kerja, produktivitas modal, produktivitas produksi, produktivitas organisasi, produktivitas penjualan dan produktivitas produk. Tujuan produktivitas di tingkat mikro akan menghasilkan result yang berupa perkembangan (growth) melalui kemampuan menghasilkan laba perusahaan (profit ability). Sedangkan tujuan produktivitas secara makro adalah pembangunan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat (Ravianto, 2001).

Produktivitas adalah suatu ukuran sejauh mana sumber daya digabungkan dan dipergunakan dengan baik sehingga dapat mewujudkan hasil-hasil tertentu yang diinginkan. Dengan demikian, produktivitas adalah suatu ukuran mengenai apa yang diperoleh dan apa yang diberikan (Atmosoeprapto, 2000).

Menurut Dessler (2004), pentingnya peningkatan produktivitas dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi seperti peningkatan produktivitas dapat berarti peningkatan hasil yang dicapai dengan penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien dan dapat memberikan sumbangan besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat. Keterkaitannya dengan upah seperti aspek peningkatan produktivitas dapat berupa penurunan biaya produksi dan

peningkatan kemampuan bersaing karena hasil jumlah produksi bertambah dan harga ditekan lebih rendah, jika hal tersebut dibarengi dengan pembinaan pasar maka keuntungan akan meningkat. Dengan bertambah besarnya keuntungan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tingkat upah dan perluasan usaha. Hubungannya dengan aspek kesejahteraan seperti peningkatan produktivitas dapat mempengaruhi kenaikan taraf hidup dan jika upah meningkat maka dapat untuk membiayai kebutuhan hidup akan lebih baik.

Upaya meningkatkan produktivitas menurut Soemarsono (2004) mengacu pada Shetty, terdapat enam elemen kunci:

1. Dukungan top manajemen yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya memberikan ceramah-ceramah, pertemuan-pertemuan dan booklet tentang filosofi produktivitas yang menggambarkan dukungan terhadap program.

2. Dukungan struktur sangat diperlukan. Struktur organisasi dibuat untuk mendukung peningkatan produktivitas. Tidak jarang seseorang yang berada dalam bagian tertentu, dibebani tugas-tugas tambahan dalam sebuah komite. Misalnya, corporate productivity comite (top official) berbagai tanggung jawab untuk mengembangkan program, termasuk didalamnya mendidik dan membantu divisi-divisi dan kelompok-kelompok fungsional dalam pengukuran dan peningkatan produktivitas.

3. Menciptakan corporate yang climate yang kondusif. Iklim yang kondusif sangat penting terhadap peningkatan produktivitas. Shetty mengemukakan empat hal pokok untuk menciptakan iklim yang kondusif yang meliputi menciptakan perhatian terhadap para karyawan bahwa manajemen sedang mendorong peningkatan produktivitas, manajemen harus melakukan komunikasi untuk meyakinkan karyawan, sampai mereka benar-benar mengerti tujuan tersebut, perusahaan atau manajemen meminta para kayawan untuk meningkatkan involvement (keterlibatan) terhadap perusahaan dan perusahaan harus menghargai kontribusi-kontribusi yang telah diberikan melalui reward system yang sesuai.

4. Perusahaan harus membuat metode pengukuran produktivitas dan menetapkan tujuan-tujuan yang realistis. Ukuran yang umum bagi peningkatan produktivitas adalah unit per orang per jam, penjualan payroll dollar, penjualan karyawan, penjualan per aset dollar, atau biaya per unit. Dengan menetapkan tujuan-tujuan yang realistis, perusahaan dapat melihat pencapaian terhadap tujuan. Perusahaan dapat mengetahui bagaimana kemajuannya dengan mendasarkan pada informasi ini.

5. Teknik-teknik produktivitas baru harus terus dicari. Perusahaan harus secara terus menerus mencari teknik-teknik baru untuk meningkatkan produktivitas. Pendekatan yang paling umum adalah work simplification value enginereering, automatisasi, sistem-sistem yang dianjurkan, time and motion study, model-model simulasi dan job enrichment. Dengan menerapkan teknik-teknik tersebut, perusahaan barangkali akan menspesialisasikan pada produk, memanfaatkan acces and equipment dan berubah menjadi low cost, high quality.

6. Implementasi program produktivitas harus dijadwalkan. Hal ini penting karena menyangkut penggunaan resources. Oleh karena itu, peningkatan

produktivitas harus direncanakan secara sistematis. Produktivitas merupakan rasio output dan input suatu proses produksi dalam periode tertentu. Input terdiri atas manajemen, tenaga kerja, biaya produksi, peralatan, serta waktu. Output meliputi produksi, produk penjualan, pendapatan, pangsa pasar, dan kerusakan produk.

Dokumen terkait