• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deklarasi Khilafah Islamiyah 1 Ramadhan 1435 H.

Dalam dokumen Kiblat Magz 01 2014 REVISI (Halaman 46-49)

47

MUNAQOSYAH

Ramadhan 1435 h kiblat

dan kekuasaan atau pemerintahan.

Uraian ketiga unsur utama pemerintahan, menurut ikih Islam adalah sebagai berikut:

1. Wilayah

Wilayah dalam pemerintahan Islam adalah mencakup semua kawasan yang dihuni orang Islam, terdiri atas geograi dan

lingkungan tempat tinggalnya antara lain.

2. Rakyat

Rakyat—atau dalam pengertian Qur’an disebutkan dengan istilah umat (QS 21:92)—dalam pengertian istilah dewasa ini terdiri atas dua unsur : unsur material,

yaitu mendiami kawasan tertentu di muka

bumi secara permanen, dan unsur maknawi (spiritual), yaitu keinginan untuk hidup

bersama-sama.

Pengertian rakyat sebagai salah satu unsur pokok terciptanya sebuah negara, menurut

teori tata Negara Islam adalah terdiri dari orang-orang Islam yang mengimani ajaran-

ajaran Islam baik dari segi agama, syariat,

akidah maupun aturan-aturannya.

Dan orang-orang kair zhimmi, yaitu orang yang tidak menganut Islam akan

tetapi bertempat tinggal secara permanen

di wilayah Islam dengan bersedia menjalani semua aturan-aturan yang ditetapkan pemerintahan Islam.

Umat dalam Negara Islam adalah terdiri

dari kedua jenis unsur masyarakat tersebut

(muslim dan kair zhimi) yang diikat ke dalam sebuah aturan-aturan politik dan undang-

undang, di mana dalam teori istilah sekarang

dinamakan warga negara.

Terdapat titik perbedaan sudut pandang dalam pengertian istilah rakyat antara teori tata negara pada umumnya dengan

teori tata negara Islam, ini dapat dijelaskan

sebagai berikut :

Rakyat atau umat dalam pengertian negara pada umumnya adalah masyarakat

yang dibatasi wilayah geograi tertentu, hidup di dalamnya kumpulan individu- individu yang terikat atas persamaan suku bangsa, warna kulit, bahasa, agama, adat

istiadat atau kepentingan tertentu.

Sedangkan rakyat dalam pandangan pemerintahan Islam adalah sebuah asas yang berdasarkan prinsip-prinsip dan

tujuan garis-garis besar ajaran Islam, dari

sistem yang berasaskan kemaslahatan hidup bagi umat manusia serta menjauhi prinsip

rasisme, feodalisme, fanatisme kawasan dan

kebangsaan.

Ikatan utama dalam pemerintahan Islam

adalah satu kesatuan dalam aqidah atau

dalam ungkapan lain diungkapkan satu

kesatuan dalam corak ikir dan hati masing-

masing warga negara Islam. Setiap orang

yang memeluk Islam baik dari golongan, jenis, warna kulit, kawasan manapun dan

orang-orang non-mulim yang bertempat tinggal di kawasan Islam dengan bersedia

mematuhi aturan-aturan negara Islam,

48

MUNAQOSYAH

Ramadhan 1435 h kiblat

Pengertian rakyat dalam pandang pemerintahan Islam oleh Dr. Wahbah

dikatakan sebagai sudut pandang yang lebih bersifat manusiawi dan sudut pandang

internasional yang lebih substansif, karena asas ikatan masing-masing individu dalam negara Islam, bukan semata atas persamaan tanah air, warna kulit, bahasa dan sebagainya. Melainkan lebih dari itu, ikatan yang mengikat

adalah persamaan akidah (bagi muslim) atau ketundukan politik kepada negara Islam.

3. Pemerintahan

Pemerintahan atau otoritas dalam Islam

mempunya dua sifat aspek kekuasaan; aspek

internal dan aspek eksternal. Adapun dalam aspek internal, negara berkuasa penuh atas semua individu dan institusi yang ada dalam

negara Islam. Rakyat wajib taat sepenuhnya kepada pemerintah sepanjang masih dalam batas-batas syariat. Nabi bersabda:

يِف ُةَعاَطلا اَمَنِإا ,ِهّللا ةَيِصْعَم يِف َةَعاَط َال

ِفْوُرْعَمْلا

"Tidak wajib menaati perintah yang mengandung maksiat kepada Allah, ketaatan hanya ada dalam hal kebaikan." (HR Muslim)

Dalam aspek ini, oleh Al-Mawardi, sosok fakih tata negara Islam, dijelaskan bahwa : Apabila imam (kepala negara)

telah menjalankan semua tugas-tugasnya dalam memenuhi hak-hak rakyatnya

dan menegakkan hak-hak Allah SWT di antara mereka, maka wajib bagi rakyatnya

memenuhi dua hak sang imam yaitu : hak menaatinya dan hak membantu tugasnya.

Adapun dalam aspek kekuasaan eksternal negara Islam, Al-Qur'an telah menegaskan

tentang asas prinsip pemerintahan yang

berkuasa penuh, independen dan bebas dari

campur tangan asing (QS 4:141) dan irman Allah SAW (QS 63:8).

Tiga unsur utama tersebut dipandang oleh

banyak pihak, belum terwujud secara nyata. Wilayah Suriah dan Irak merupakan wilayah

perang. Banyak wilayah sifatnya baru direbut dan beberapa jatuh kembali dalam kendali

Rezim, baik Irak maupun Suriah. Batas-batas negara belum jelas, sehingga sulit dipisahkan

manakah umat Islam dan ahlul zhimi yang tunduk di bawah kekuasaan Islam. Demikian pula otoritas nyata sebuah pemerintahan belumlah terwujud.

Hal ini jelas berbeda dengan kondisi Daulah Nabawiyah di Madinah pada

masa Rasulullah SAW. Batas wilayah yang dipertahankan sangat jelas, keamanan dan

perlindungan kaum muslimin juga terlihat

nyata. Kaum munaik, Yahudi dan lainnya

tunduk di bawah otoritas Rasulullah n. Kisah

Abu Bashir yang hendak masuk ke Madinah

setelah perjanjian Hudzaibiyyah adalah

contoh yang nyata dalam hal ini.

Sebagian ulama mengklaim wilayah ISIS hari ini lebih luas daripada Madinah zaman Nabi n, sehingga tidak ada alasan untuk

mempersoalkan wilayah kekuasaan. Klaim ini

bisa saja benar, dan analogi ini bisa diterima

bila mayoritas umat Islam hari ini hanya ada

di wilayah ISIS saja, sebagaimana masyarakat

Islam pada awal hijrah adalah di Madinah.

Tetapi, hari ini tidaklah demikian.

Umat Islam telah menyebar luas di

penjuru dunia. Berapa persen wilayah ISIS bila dibandingkan dengan keberadaan umat

Islam di seluruh dunia? Maka Daulah Islam Syaikh Al-Baghdadi dalam hal ini statusnya

tidak berbeda dengan keamiran seperti

Imarah Islam Afghanistan dan Kaukasus n

49

MUNAQOSYAH

Ramadhan 1435 h kiblat

P

eran Ahlul Halli wal Aqdi dalam

pemilihan khilafah begitu penting.

Bila di zaman para shahabat cara mengenalinya cukup dengan melihat

siapa yang lebih senior dan yang lebih dekat kepada Nabi Muhammad n,

bagaiamana cara menilai Ahlul Halli wal Aqdi pada masa sekarang ini?

Syaikh Husain bin Mahmud dalam menanggapi deklarasi khilafah oleh ISIS menyampaikan dengan tegas siapa

yang layak disebut sebagai Ahlul Halli wal Aqdi. Beliau menyebutkan:

"Ahlul Halli Wal ’Aqdi zaman ini adalah

para ulama rabbani dan para pemimpin

mujahidin di Khurasan, Kaukasus, Jazirah Arab, Maroko, Somalia dan

negara-negara lain yang melakukan perperangan di bawah bendera Islam

yang jelas. Jika mereka telah berbai’at maka bai’atnya telah sah dan wajib

diikuti oleh seluruh kaum muslimin karena pada saat itu tidak ada tempat untuk berijtihad atau bahkan

membantah."

Bagaimana dengan Kekhilafahan ISIS?

Setelah menyebutkan kriteria Ahlul Halli wal Aqdi, Syaikh Husain juga

memberikan penilaian terkait khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS.

"Saya berpendapat bahwa bai’at (Al- Baghdadi) tidak termasuk bai’at yang syar’i kecuali setelah dibai’at oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi umat ini atau

oleh mayoritas mereka. Inilah yang saya yakini dalam agama ini setelah

mengkaji berbagai macam nash dan

pendapat para ulama. Dan ijtihad saya itu bisa jadi benar dan bisa jadi juga

salah."

Syaikh Husain menegaskan,

ketidaksetujuannya terhadap deklarasi khilafah ini bukan berarti ia tidak senang dengan berdirinya Khilafah Islamiyah.

"Tetapi yang kami kritisi adalah karena

mereka tidak melakukan musyawarah dengan saudara-saudara mereka dalam

perkara ini, meskipun ini dilakukan

untuk kebaikan kaum muslimin dan

untuk menyatukan kalimat. Allah berirman, “Dan masuklah ke rumah- rumah itu dari pintu-pintunya.” (Al- Baqarah: 189).

Sosok Syaikh Husain bin Mahmud termasuk unik. Beliau selama ini dikenal

mendukung ISIS. Namun demikian,

beliau tetap berusaha obyektif dalam

memberikan penilaian, termasuk yang

bersifat kritis seperti di atas.

Disarikan dari terjemah lengkap yang dimuat di http://www.kiblat. net/2014/07/04/ada-yang-tertinggal- dalam-deklarasi-khilafah-syaikh-al- adnani/

Siapa Ahlul Halli wal Aqdi

Dalam dokumen Kiblat Magz 01 2014 REVISI (Halaman 46-49)

Dokumen terkait