serta kegigihan mereka di
dalam memperjuangkan
kepentingan umat Islam.
Secara kuantitas pun ukurannya tidak berbeda, yaitu bahwa pemimpin yang
mereka pilih tidak ditentang oleh umat atau kelompok Islam lain yang memiliki kekuatan seimbang atau lebih besar. Karena
38
MUNAQOSYAH
Ramadhan 1435 h kiblat
itulah, para ulama menetapkan bahwa baiat
pengangkatan imam tidak harus melalui
semua Ahlul Halli wal Aqdi. Selama baiat itu
menghasilkan pengakuan dan umat Islam bersatu pada pemimpin yang diangkat maka baiat tersebut sah.
Imam Nawawi berkata, “Tentang bai’at,
para ulama telah sepakat bahwa legitimasinya
tidak disyaratkan pembai’atan seluruh manusia dan tidak pula seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Pengangkatan pemimpin sah dengan
baiat orang-orang yang bisa berkumpul dari
kalangan ulama, para pemimpin dan para tokoh masyarakat.” (Syarh Muslim 12/77).
Ya, para ulama menguatkan bahwa kuncinya berada di pengakuan dan persetujuan, bukan jumlah. Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Penguasa tidak menjadi seorang penguasa dengan persetujuan satu, dua atau empat orang Ahlul Halli wal ‘Aqdi kecuali jika persetujuan mereka memperoleh
persetujuan yang lain untuk menjadikannya sebagai seorang penguasa.
Seperti halnya Umar ketika dia menerima wasiat dari Abu Bakar untuk menjadi khalifah,
hal itu hanya terwujud ketika orang-orang membaiatnya dan mematuhinya. Seandainya
meraka tidak melakukan amanat Abu Bakar dan tidak membaiat Umar, niscaya dia tidak menjadi seorang khalifah.”25
Imam Al-Ghazali juga menyebutkan hal yang sama, “Seandainya yang membaiat Abu Bakar hanya Umar sementara mayoritas
ummat Islam menolaknya atau mereka
terpecah belah dan tidak bisa dibedakan
mana kelompok mayoritas dan mana
kelompok minoritas, niscaya tidak ada pengukuhan imamah.”26 Karena itulah
25 Minhajus Sunnah: 1/527.
26 Dinukil dari Ar-Raddu alal Bathiniyah, Leiden 1916, kutipan dari an-Nazhariyah as-siyasah al-Islamiyah,
Al-Mawardi menambahkan, “Dilihat dari ketaatan manusia kepada mereka.”27
Persetujuan dan pengakuan tersebut tidak berarti semua manusia, tetapi persetujuan
yang dengan itu fungsi kepemimpinan terwujud seperti yang dikehendaki oleh
syariat. Wujudnya ialah syaukah (kekuatan)
bagi umat Islam di bawah pemimpin tersebut. Dan itu akan terwujud jika mayoritas telah menyetujuinya.28
Selain itu, ketika persetujuan mayoritas
umat tidak terwujud dalam kepemimpinan
tersebut maka akan timbul kekacuan dan itnah di tengah-tengah umat. Dalam kondisi ini, kewajiban umat untuk berbaiat kepada
pemimpin gugur sampai mayoritas umat berpihak kepada salah satu pemimpin yang disepakati.
Kesimpulan dari baiat Ahlu Halli wal Aqdi kepada pemimpin yang dipilih ialah, apakah ia representatif atau tidak. Artinya, mau satu,
enam atau sepuluh orang bukanlah persoalan
hal. 233. Dr. Hasan Ibrahim berkata, “Abu Bakar dibaiat oleh Abu Ubaidah setelah Basyir bin Sa’ad, diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar.” Baiat ini dinamakan baiat khusus, karena hanya dilakukan oleh segolongan kecil umat Islam yang hadir di balai tersebut. Adapun
baiat umum terjadi pada hari berikutnya di masjid.
Pada waktu itu, Abu Bakar berada di atas mimbar dan
orang-orang membaiatnya dengan baiat umum. Lihat:
Hubungan Penguasa dengan Rakyat dalam Perspektif Sunnah, hal. 165.
27 Raudhatu Ath-Thalibin, Imam Nawawi, X/43.
28 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan, “Kepemimpinan, menurut mereka (Ahlus Sunnah, pen.), ditetapkan dengan persetujuan yang
memiliki kekuatan. Seseorang tidak menjadi imam
hingga disetujui oleh pemilik kekuatan, yang
dengan ketundukan mereka akan terwujud tujuan
kepemimpinan. Sebab, tujuan kepemimpinan dapat
terwujud dengan kekuatan dan kekuasaan. Maka jika
seseorang dibai’at dan bersamaan dengan itu terwujud kekuatan dan kekuasaan, maka dia menjadi pemimpin (yang sah). Oleh karenanya para imam salaf berkata, ‘Siapa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, yang dengan keduanya terwujud tujuan kepemimpinan, maka dia menjadi ulil amri yang Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla perintahkan taat kepada mereka selama
mereka tidak memerintahkan kepada maksiat kepada
Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla’.” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 1/527. Lihat pula pada hal. 553, 550, jilid 4/388)
39
MUNAQOSYAH
Ramadhan 1435 h kiblat
selama itu mewakili umat Islam. Ukuran
mewakili ini ialah bila baiatnya diterima umat. Bukti penerimaan umat adalah tidak
terjadi perpecahan dan itnah. Dan bila ada yang menyelisihi, mereka tunduk di bawah
pemimpin pemilik syaukah. Hal ini terbukti dalam baiat-baiat pada masa khalifah yang empat. Demikian pula pada masa Nabi
n, kaum munaik tidaklah sedikit. Namun
mereka tunduk di bawah kepemimpinan Nabi n sebagai pemilik syaukah.
Peran Syura dalam Suksesi Kepemimpinan
Beberapa persoalan bisa terjadi seiring dengan banyaknya jamaah dan kelompok
Islam yang bercita-cita menegakkan khilafah
Islam. Contohnya:
Beberapa jamaah atau kelompok jihad
bisa saja memiliki Ahlul Halli wal ‘Aqdi
sendiri untuk membuat pertimbangan- pertimbangan internal sebelum menjadi
keputusan organisasi. Ketika Ahlul Halli wal Aqdi ini mengangkat dan membaiat Amir Jamaah, maka keputusannya mengikat
anggota jamaahnya. Namun tidak mengikat orang di luar jamaah. Dan baiat ini tidak
bisa diklaim sebagai baiat kubra, sehingga
orang yang tidak berbaiat dianggap sebagai
bughot yang wajib diperangi, halal darah
dan hartanya.
Sebagain jamaah mungkin saja berkeyakinan bahwa semua ulama telah
murtad dan kair. Demikian pula tokoh dan
pemimpin masyarakat yang disebutkan oleh
para ulama bisa menjadi Ahlu Halli wa ‘Aqdi, tidak mewakili umat ini. Lalu, ahlu halli wa ‘aqdi diklaim secara sepihak sebagai elemen
yang mewakili umat. Ini akan berakibat pertumpahan darah bila imam yang diangkat dipaksakan kepada jamaah lain.
Dan lebih kacau lagi masing-masing jamaah
melakukan hal yang sama terhadap amirnya.
Maka, musyawarah adalah cara yang
harus ditempuh dalam proses pengangkatan imam. Semua proses pengangkatan khalifah
yang empat, baik dengan ikstikhlaf maupun ikhtiyar, tidak lepas dari syura ini. Dalam proses ikstikhlaf, Abu Bakar meminta
pertimbangan para shahabat dahulu sebelum
pengangkatan Umar bin Khattab. Dalam proses ikhtiyar, kita dapat melihat detilnya
musyawarah ini dalam proses pengangkatan
Utsman bin Affan ra sebagai khalifah.
Demikian pula dengan Umar bin Al-
Khattab yang telah memilih enam orang untuk mengangkat pemimpin sepeninggalnya
(baca: Jalan Panjang Pengangkatan Utsman bin Affan).
Syura
Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta, mengamalkannya, kebodohan,
maka tidak ada gunanya bagi Allah meskipun ia meninggalkan
40
MUNAQOSYAH
Ramadhan 1435 h kiblat
M
ereka adalah Ali bin AbiThalib, Utsman bin ‘Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqash, Zubair bin ‘Awwam, dan Thalhah bin Ubaidullah
radhiyallahu ‘anhum. Ketika dewan
musyawarah sudah berkumpul, Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada mereka, “Berikanlah hak kalian dalam
perkara ini kepada tiga orang di antara
kalian.”
Zubair berkata, “Aku berikan hakku kepada Ali.” Thalhah berkata, “Aku berikan hakku kepada Utsman.” Sa‘ad berkata, “Aku berikan hakku kepada Abdurrahman bin ‘Auf.”
Para kandidat pada saat itu menjadi tiga orang: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf. Kemudian Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Siapa di antara kalian berdua
yang berlepas diri dari hal ini dan kami
jadikan perkara ini kepadanya? Demi Allah dan demi Islam! Hendaknya
setiap orang melihat siapa yang paling
utama di antara mereka.” Utsman dan Ali pun diam. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Apakah kalian menyerahkan kepadaku, demi Allah, untuk memilih
siapa yang paling utama di antara
kalian berdua?”
Mereka berdua berkata, “Iya.”1
Setelah itu, Abdurrahman bin ‘Auf
bertugas mengelola musyawarah untuk
menentukan pilihan antara Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Abdurrahman bin ‘Auf memulai komunikasi dan
konsultasi segera setelah rapat enam
kandidat pada pagi hari Ahad.
Musyawarah terus dilakukan selama
tiga hari penuh sampai hari Rabu 4
Muharram yang merupakan hari terakhir
dari waktu yang telah diberikan Umar. Abdurrahman bin ‘Auf mulai dengan Ali bin Abi Thalib. Dia berkata kepada Ali, “Apabila aku tidak membaiatmu, maka siapakah yang engkau calonkan untuk menjadi khalifah?” Ali berkata,