• Tidak ada hasil yang ditemukan

ketakwaan, keadilan dan kecemerlangan pikiran

Dalam dokumen Kiblat Magz 01 2014 REVISI (Halaman 37-40)

serta kegigihan mereka di

dalam memperjuangkan

kepentingan umat Islam.

Secara kuantitas pun ukurannya tidak berbeda, yaitu bahwa pemimpin yang

mereka pilih tidak ditentang oleh umat atau kelompok Islam lain yang memiliki kekuatan seimbang atau lebih besar. Karena

38

MUNAQOSYAH

Ramadhan 1435 h kiblat

itulah, para ulama menetapkan bahwa baiat

pengangkatan imam tidak harus melalui

semua Ahlul Halli wal Aqdi. Selama baiat itu

menghasilkan pengakuan dan umat Islam bersatu pada pemimpin yang diangkat maka baiat tersebut sah.

Imam Nawawi berkata, “Tentang bai’at,

para ulama telah sepakat bahwa legitimasinya

tidak disyaratkan pembai’atan seluruh manusia dan tidak pula seluruh Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Pengangkatan pemimpin sah dengan

baiat orang-orang yang bisa berkumpul dari

kalangan ulama, para pemimpin dan para tokoh masyarakat.” (Syarh Muslim 12/77).

Ya, para ulama menguatkan bahwa kuncinya berada di pengakuan dan persetujuan, bukan jumlah. Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Penguasa tidak menjadi seorang penguasa dengan persetujuan satu, dua atau empat orang Ahlul Halli wal ‘Aqdi kecuali jika persetujuan mereka memperoleh

persetujuan yang lain untuk menjadikannya sebagai seorang penguasa.

Seperti halnya Umar ketika dia menerima wasiat dari Abu Bakar untuk menjadi khalifah,

hal itu hanya terwujud ketika orang-orang membaiatnya dan mematuhinya. Seandainya

meraka tidak melakukan amanat Abu Bakar dan tidak membaiat Umar, niscaya dia tidak menjadi seorang khalifah.”25

Imam Al-Ghazali juga menyebutkan hal yang sama, “Seandainya yang membaiat Abu Bakar hanya Umar sementara mayoritas

ummat Islam menolaknya atau mereka

terpecah belah dan tidak bisa dibedakan

mana kelompok mayoritas dan mana

kelompok minoritas, niscaya tidak ada pengukuhan imamah.”26 Karena itulah

25 Minhajus Sunnah: 1/527.

26 Dinukil dari Ar-Raddu alal Bathiniyah, Leiden 1916, kutipan dari an-Nazhariyah as-siyasah al-Islamiyah,

Al-Mawardi menambahkan, “Dilihat dari ketaatan manusia kepada mereka.”27

Persetujuan dan pengakuan tersebut tidak berarti semua manusia, tetapi persetujuan

yang dengan itu fungsi kepemimpinan terwujud seperti yang dikehendaki oleh

syariat. Wujudnya ialah syaukah (kekuatan)

bagi umat Islam di bawah pemimpin tersebut. Dan itu akan terwujud jika mayoritas telah menyetujuinya.28

Selain itu, ketika persetujuan mayoritas

umat tidak terwujud dalam kepemimpinan

tersebut maka akan timbul kekacuan dan itnah di tengah-tengah umat. Dalam kondisi ini, kewajiban umat untuk berbaiat kepada

pemimpin gugur sampai mayoritas umat berpihak kepada salah satu pemimpin yang disepakati.

Kesimpulan dari baiat Ahlu Halli wal Aqdi kepada pemimpin yang dipilih ialah, apakah ia representatif atau tidak. Artinya, mau satu,

enam atau sepuluh orang bukanlah persoalan

hal. 233. Dr. Hasan Ibrahim berkata, “Abu Bakar dibaiat oleh Abu Ubaidah setelah Basyir bin Sa’ad, diikuti oleh kaum Muhajirin dan Anshar.” Baiat ini dinamakan baiat khusus, karena hanya dilakukan oleh segolongan kecil umat Islam yang hadir di balai tersebut. Adapun

baiat umum terjadi pada hari berikutnya di masjid.

Pada waktu itu, Abu Bakar berada di atas mimbar dan

orang-orang membaiatnya dengan baiat umum. Lihat:

Hubungan Penguasa dengan Rakyat dalam Perspektif Sunnah, hal. 165.

27 Raudhatu Ath-Thalibin, Imam Nawawi, X/43.

28 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan, “Kepemimpinan, menurut mereka (Ahlus Sunnah, pen.), ditetapkan dengan persetujuan yang

memiliki kekuatan. Seseorang tidak menjadi imam

hingga disetujui oleh pemilik kekuatan, yang

dengan ketundukan mereka akan terwujud tujuan

kepemimpinan. Sebab, tujuan kepemimpinan dapat

terwujud dengan kekuatan dan kekuasaan. Maka jika

seseorang dibai’at dan bersamaan dengan itu terwujud kekuatan dan kekuasaan, maka dia menjadi pemimpin (yang sah). Oleh karenanya para imam salaf berkata, ‘Siapa yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, yang dengan keduanya terwujud tujuan kepemimpinan, maka dia menjadi ulil amri yang Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla perintahkan taat kepada mereka selama

mereka tidak memerintahkan kepada maksiat kepada

Allah Jalla wa ‘ala Azza wa Jalla’.” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 1/527. Lihat pula pada hal. 553, 550, jilid 4/388)

39

MUNAQOSYAH

Ramadhan 1435 h kiblat

selama itu mewakili umat Islam. Ukuran

mewakili ini ialah bila baiatnya diterima umat. Bukti penerimaan umat adalah tidak

terjadi perpecahan dan itnah. Dan bila ada yang menyelisihi, mereka tunduk di bawah

pemimpin pemilik syaukah. Hal ini terbukti dalam baiat-baiat pada masa khalifah yang empat. Demikian pula pada masa Nabi

n, kaum munaik tidaklah sedikit. Namun

mereka tunduk di bawah kepemimpinan Nabi n sebagai pemilik syaukah.

Peran Syura dalam Suksesi Kepemimpinan

Beberapa persoalan bisa terjadi seiring dengan banyaknya jamaah dan kelompok

Islam yang bercita-cita menegakkan khilafah

Islam. Contohnya:

Beberapa jamaah atau kelompok jihad

bisa saja memiliki Ahlul Halli wal ‘Aqdi

sendiri untuk membuat pertimbangan- pertimbangan internal sebelum menjadi

keputusan organisasi. Ketika Ahlul Halli wal Aqdi ini mengangkat dan membaiat Amir Jamaah, maka keputusannya mengikat

anggota jamaahnya. Namun tidak mengikat orang di luar jamaah. Dan baiat ini tidak

bisa diklaim sebagai baiat kubra, sehingga

orang yang tidak berbaiat dianggap sebagai

bughot yang wajib diperangi, halal darah

dan hartanya.

Sebagain jamaah mungkin saja berkeyakinan bahwa semua ulama telah

murtad dan kair. Demikian pula tokoh dan

pemimpin masyarakat yang disebutkan oleh

para ulama bisa menjadi Ahlu Halli wa ‘Aqdi, tidak mewakili umat ini. Lalu, ahlu halli wa ‘aqdi diklaim secara sepihak sebagai elemen

yang mewakili umat. Ini akan berakibat pertumpahan darah bila imam yang diangkat dipaksakan kepada jamaah lain.

Dan lebih kacau lagi masing-masing jamaah

melakukan hal yang sama terhadap amirnya.

Maka, musyawarah adalah cara yang

harus ditempuh dalam proses pengangkatan imam. Semua proses pengangkatan khalifah

yang empat, baik dengan ikstikhlaf maupun ikhtiyar, tidak lepas dari syura ini. Dalam proses ikstikhlaf, Abu Bakar meminta

pertimbangan para shahabat dahulu sebelum

pengangkatan Umar bin Khattab. Dalam proses ikhtiyar, kita dapat melihat detilnya

musyawarah ini dalam proses pengangkatan

Utsman bin Affan ra sebagai khalifah.

Demikian pula dengan Umar bin Al-

Khattab yang telah memilih enam orang untuk mengangkat pemimpin sepeninggalnya

(baca: Jalan Panjang Pengangkatan Utsman bin Affan).

Syura

Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta, mengamalkannya, kebodohan,

maka tidak ada gunanya bagi Allah meskipun ia meninggalkan

40

MUNAQOSYAH

Ramadhan 1435 h kiblat

M

ereka adalah Ali bin Abi

Thalib, Utsman bin ‘Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqash, Zubair bin ‘Awwam, dan Thalhah bin Ubaidullah

radhiyallahu ‘anhum. Ketika dewan

musyawarah sudah berkumpul, Abdurrahman bin ‘Auf berkata kepada mereka, “Berikanlah hak kalian dalam

perkara ini kepada tiga orang di antara

kalian.”

Zubair berkata, “Aku berikan hakku kepada Ali.” Thalhah berkata, “Aku berikan hakku kepada Utsman.” Sa‘ad berkata, “Aku berikan hakku kepada Abdurrahman bin ‘Auf.”

Para kandidat pada saat itu menjadi tiga orang: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin ‘Affan, dan Abdurrahman bin ‘Auf. Kemudian Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Siapa di antara kalian berdua

yang berlepas diri dari hal ini dan kami

jadikan perkara ini kepadanya? Demi Allah dan demi Islam! Hendaknya

setiap orang melihat siapa yang paling

utama di antara mereka.” Utsman dan Ali pun diam. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Apakah kalian menyerahkan kepadaku, demi Allah, untuk memilih

siapa yang paling utama di antara

kalian berdua?”

Mereka berdua berkata, “Iya.”1

Setelah itu, Abdurrahman bin ‘Auf

bertugas mengelola musyawarah untuk

menentukan pilihan antara Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Abdurrahman bin ‘Auf memulai komunikasi dan

konsultasi segera setelah rapat enam

kandidat pada pagi hari Ahad.

Musyawarah terus dilakukan selama

tiga hari penuh sampai hari Rabu 4

Muharram yang merupakan hari terakhir

dari waktu yang telah diberikan Umar. Abdurrahman bin ‘Auf mulai dengan Ali bin Abi Thalib. Dia berkata kepada Ali, “Apabila aku tidak membaiatmu, maka siapakah yang engkau calonkan untuk menjadi khalifah?” Ali berkata,

Dalam dokumen Kiblat Magz 01 2014 REVISI (Halaman 37-40)

Dokumen terkait