B. Angka Kesakitan
3) Dekompensasio Kordis
Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne, pernafasan cheynes stokes, batuk-batuk mungkin hemoptu, sianosis, suara serak, ronchi basah halus tidak nyaring, tekanan vena jugularis masih normal. Sedangkan gambaran klinis dekompensasio kordis kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia, mual, muntah, meteorismus dan rasa kembung di epigastrum. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mula-mula lunak, tepi tajam, nyeri tekan, lama kelamaan menjadi keras, tumpul dan tidak nyeri. Dapat juga terjadi edema pretibial, edema presakral, asites dan hidrotoraks, tekanan jugularis meningkat.
Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2012 sebesar 0,12% sama dengan tahun 2011. Prevalensi tertinggi adalah Kota Magelang sebesar 1,85%.
0 0.05 0.1 0.15 0.2 Prevalensi 0.18 0.14 0.11 0.12 0.12 2008 2009 2010 2011 2012
Gambar 3.29 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012
b. Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin, baik absolut maupun relatif. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. (Perkeni 2002)
WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis, yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI), DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI), DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM), DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), dan DM karena kehamilan (GDM). Di Indonesia, yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi, stroke, jantung koroner, gagal ginjal, katarak, glaukoma, kerusakan retina mata yang dapat membuat buta, impotensi, gangguan fungsi hati, luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki.
DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan, artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. Penderita mampu hidup sehat bersama DM, asalkan mau patuh dan kontrol teratur. Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing), Polydipsi (sering haus), Polyfagi (sering lapar). Sedangkan gejala lain seperti
Lelah/lemah, berat badan menurun drastis, kesemutan/gringgingan, gatal/bisul, mata kabur, impotensi pada pria, pruritis vulva hingga keputihan pada wanita, luka tdk sembuh-sembuh, dll. Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang, riwayat Keluarga/ada keturunan, kurang olah raga, umur Lebih dari 40th, obesitas, hipertensi, kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg, kehamilan dengan hiperglikemi, gangguan toleransi glukosa, lemak dalam darah tinggi, abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati, berat badan turun drastis, mata kabur, keputihan, gatal daerah genital, dan lain-lain.
Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 0,06 lebih rendah dibanding tahun 2011 (0,09%). Prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Semarang sebesar 0,66%. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II, mengalami penurunan dari 0,63% menjadi 0,55% pada tahun 2012. Prevalensi tertinggi adalah Kota Magelang sebesar 7,93%.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 DMTI 0.16 0.19 0.08 0.09 0.06 DMTTI 1.25 0.62 0.7 0.63 0.55 2008 2009 2010 2011 2012
Gambar 3.30 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012
c. Neoplasma
Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh, yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas, mendesak dan merusak jaringan normal. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim, kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, kanker kulit, dan kanker rektum.
Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebanyak 11.341 kasus, lebih sedikit dibanding tahun 2011 (19.637 kasus). Penyakit kanker terdiri dari Ca. servik 2.259 kasus (19,92%), Ca. mamae 4.206 kasus (37,09%), Ca. hepar 2.755 (24,29%), dan Ca. paru 2.121 kasus (18,70%).
Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0,007% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0,071%; kanker payudara sebesar 0,013% dan tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 0,215%; kanker hati sebesar 0,008% dan tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 0,23%; kanker paru 0,006% dan tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 0,23%.
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 Ca Servik 0.03 0.028 0.013 0.021 0.007 Ca Mamae 0.05 0.037 0.022 0.029 0.013 Ca Hepar 0.01 0.006 0.004 0.007 0.008 Ca Paru 0.005 0.002 0.003 0.003 0.006 2008 2009 2010 2011 2012
Gambar 3.31 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012
d. Penyakit Paru Obstruktif Kronis
Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya. (Global Obstructive Lung Disease 2003). Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok aktif/pasif, debu dan bahan kimia, polusi udara di dalam atau di luar ruangan, infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak, usia, genetik, jenis kelamin, ras, defisiensi alpha-1 antitripsin, alergi dan autoimunitas.
Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan yaitu dari 0,09% pada tahun 2011 menjadi 0,06% pada tahun 2012 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 0,66%.
0 0.05 0.1 0.15 0.2 Prevalensi 0.2 0.12 0.08 0.09 0.06 2008 2009 2010 2011 2012
Gambar 3.32 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012
e. Asma Bronkial
Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental, spasme, dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus, akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA, merokok, tekanan emosi, aktivitas fisik, dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain:
- Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu rumah, serpih kulit dari binatang piaraan, spora jamur dll.
- Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan seperti susu, telur, ikan-ikanan, obat-obatan dll.
- Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep, berbagai logam dalam bentuk perhiasan, jam tangan dll.
Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 0,42% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 0,55% dan prevalensi tertinggi di Kota Surakarta sebesar 2,46%.
0 0.3 0.6 0.9 1.2 Prevalensi 1.07 0.66 0.64 0.55 0.42 2008 2009 2010 2011 2012
Gambar 3.33 Prevalensi Asma Bronkial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012