DAFTAR ISI. Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran

123  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul i Kata Pengantar ii Daftar Isi iii

Daftar Gambar viii

Daftar Tabel xi

Daftar Lampiran xii

BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ………. B. Sistematika Penyajian ……… 1 1 2

BAB II GAMBARAN UMUM ……….

A. Keadaan Geografi ………

B. Keadaan Penduduk ……….

1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk ………. 2. Rasio Jenis Kelamin ... 3. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur ………

C. Keadaan Ekonomi ………..

1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ……….

2. Angka Beban Tanggungan ……….

D. Keadaan Pendidikan ……….. 4 4 4 4 5 5 6 6 7 7

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN ………

A. Angka Kematian ………..

1. Angka Kematian Bayi ... 2. Angka Kematian Balita ...

3. Angka Kematian Ibu ………

4. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas ………

B. Angka Kesakitan ………

1. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita ”Acute

Flaccid Paralysis” (AFP) ...

2. Prevalensi Tuberculosis ... 3. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA (+) ... 4. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+) ... 5. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani ………. 6. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS ... 7. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya ... 8. Donor Darah Diskrining terhadap HIV ... 9. Kasus Diare Ditangani ... 10.Prevalensi Kusta ... 11.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat ... 12.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue ... 13.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue ... 14.Angka Kesakitan Malaria ... 15.Angka Kematian Malaria ...

9 9 9 11 12 14 14 14 16 16 17 18 19 20 21 22 22 23 24 25 26 27

(2)

16.Kasus Penyakit Filariasis Ditangani ……… 17.Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit yang Dapat

Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) ………..

a. Difteri ……….

b. Pertusis ... c. Tetanus (Non Neonatorum) ...

d. Tetanus Neonatorum ………..

e. Campak ………

f. Hepatitis B ...

18.Penyakit Tidak Menular ………

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah ………

1) Hipertensi ………

2) Stroke ……….

3) Dekompensasio Kordis ... b. Diabetes Melitus ... c. Neoplasma ... d. Penyakit paru Obstruktif Kronis ... e. Asma Bronkial ...

C. Status Gizi Masyarakat ………..

1. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah ... 2. Persentase Balita Dengan Gizi Kurang ... 3. Persentase Balita Dengan Gizi Buruk ...

28 28 28 29 29 30 31 31 32 33 33 34 35 36 37 38 39 40 40 41 42

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN .………

A. Pelayanan Kesehatan ………... 1. Pelayanan Kesehatan Ibu ... a. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 ... b. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4 ……... c. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan . d. Cakupan Pelayanan Nifas ………... e. Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani ... 2. Pelayanan Kesehatan Anak ...

a. Cakupan Kunjungan Neonatus ... b. Cakupan Kunjungan Bayi ... c. Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani ... d. Cakupan Pelayanan Anak Balita ... e. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat 3. Pelayanan Gizi ... a. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi ... b. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Anak Balita ... c. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas ... d. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe ... e. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif ... f. Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada anak

usia 6-24 bulan Keluarga Miskin ... g. Jumlah Balita Ditimbang ... h. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan ... i. Desa dengan Garam Beryodium yang Baik ...

44 44 44 44 44 45 46 47 47 47 49 49 50 51 52 52 53 54 55 56 58 58 60 61

(3)

4. Pelayanan Keluarga Berencana ……… a. Peserta KB Baru ... b. Peserta KB Aktif ...

5. Pelayanan Imunisasi ……….………

a. Persentase Desa yang mencapai “Universal Child

Immunization” (UCI) ..……...

b. Cakupan Imunisasi Bayi ………

c. Drop Out Imunisasi DPT1-Campak ……….. d. WUS mendapat Imunisasi TT ...………

6. Pelayanan Kesehatan Gigi ………..

a. Rasio Tambal Cabut Gigi Tetap ……….. b. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut ... c. Murid SD/MI Mendapat Perawatan Gigi dan Mulut ………..

7. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut ………

8. Pelayanan Gawat Darurat dan Kejadian Luar Biasa ………….. a. Pelayanan Gawat Darurat Level 1 yang Harus Diberikan

Pelayanan Kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota ... b. Desa/Kelurahan Terkena Kejadian Luar Biasa yang

Ditangani <24 Jam ... c. Jumlah Penderita dan Kematian pada Kejadian Luar Biasa

9. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan ………

B. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan ……….. 1. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar ... 2. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Masyarakat

Miskin ... 3. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Masyarakat Miskin 4. Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap di Sarana

Pelayanan Kesehatan ……….. 5. Jumlah Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan

Kesehatan ...

6. Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit ……….. a. Angka Kematian Umum Penderita yang dirawat di RS

(GDR) ... b. Angka Kematian Penderita yang dirawat <48 jam (NDR).. 7. Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit ... c. Pemakaian Tempat Tidur (BOR) ... d. Rata-rata Lama Rawat Seorang Pasien (ALOS) ... e. Rata-rata Hari Tempat Tidur Tidak Ditempati (TOI) ... C. Perilaku Hidup Masyarakat ... 1. Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan

Sehat ... D. Keadaan Lingkungan ... 1. Persentase Rumah Sehat ... 2. Persentase Rumah/Bangunan yg Diperiksa Jentik Nyamuk

Aedes ... 3. Persentase Keluarga menurut Jenis Sarana Air Bersih yang

Digunakan ……… 61 61 63 65 63 65 66 66 67 67 68 69 69 70 70 72 74 74 76 76 77 78 78 79 79 79 80 80 81 81 82 82 82 83 84 85 85

(4)

BAB V

BAB VI

4. Persentase Keluarga menurut Sumber Air Minum yang Digunakan ……….. 5. Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi

Dasar ………. 6. Persentase Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan

(TUPM) Sehat ……….. 7. Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya ………

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN ……….

A. Sarana Kesehatan ………

1. Ketersediaan Obat menurut Jenis Obat ………

2. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut

Kepemilikan/Pengelola ………. 3. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Kemampuan Labkes

dan Memiliki 4 Spesialis Dasar ………..

4. Posyandu menurut Strata ……….

a. Posyandu Purnama ... b. Posyandu Mandiri ... 5. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) …………....

6. Data Dasar Puskesmas ………..

B. Tenaga Kesehatan ………

1. Jumlah dan Rasio Tenaga Medis di Sarana Kesehatan ………. a. Dokter Spesialis ... b. Dokter Umum ... c. Dokter Gigi ... 2. Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan

a. Perawat ... b. Bidan ... 3. Jumlah dan Rasio Tenaga Kefarmasian di Sarana Kesehatan 4. Jumlah dan Rasio Tenaga Gizi di Sarana Kesehatan ……… 5. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat di Sarana

Kesehatan ………. a. Kesehatan Masyarakat ... b. Tenaga Sanitasi ... 6. Jumlah dan Rasio Tenaga Teknisi Medis dan Fisioterapi di Sarana Kesehatan ………. a. Teknisi Medis ... b. Tenaga Fisioterapi ...

C. Pembiayaan Kesehatan ……….

1. Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD Kabupaten/Kota

KESIMPULAN ………..

A. Derajat Kesehatan ………..

1. Mortalitas / Angka Kematian ……….

2. Morbiditas / Angka Kesakitan ……….

3. Status Gizi ……… B. Upaya Kesehatan ………. 1. Pelayanan Kesehatan .………. 86 87 87 88 90 90 90 91 91 92 94 95 96 97 98 99 99 100 100 101 101 101 102 102 103 103 103 104 104 105 105 105 107 107 107 107 110 110 110

(5)

2. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan ……….

3. Perilaku Hidup Masyarakat ………

4. Keadaan Lingkungan ……….

C. Sumber Daya Kesehatan ………..

1. Sarana Kesehatan ………. 2. Tenaga Kesehatan ………. 3. Pembiayaan Kesehatan ………. 113 114 115 115 115 117 117 DAFTAR ISTILAH ... 118 LAMPIRAN

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam upaya mewujudkan Jawa Tengah Sehat, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah di sektor kesehatan, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat. Segala upaya kesehatan selama ini dilakukan tidak hanya oleh sektor kesehatan saja, tetapi juga tidak luput peran dari sektor non kesehatan dalam upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan upaya mengatasi permasalahan kesehatan.

Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem informasi kesehatan.

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang evidence based diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Untuk itu, peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dan semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Masyarakat semakin peduli dengan situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang telah dilakukan oleh pemerintah, terutama terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan mereka.

Kepedulian masyarakat akan informasi kesehatan ini memberikan nilai positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu pengelola program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu.

Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus juga sebagai bahan evaluasi program-program kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah adalah gambaran situasi kesehatan yang memuat berbagai

(7)

data tentang situasi dan hasil pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat kesehatan, sumber daya kesehatan, dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan.

B. SISTEMATIKA PENYAJIAN

Sistematika penyajian Profil Kesehatan adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika penyajiannya.

BAB II : GAMBARAN UMUM

Menyajikan tentang gambaran umum Provinsi Jawa Tengah meliputi letak geografis, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat kaitannya dengan kesehatan.

BAB III : SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat.

BAB IV : SITUASI UPAYA KESEHATAN

Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh kabupaten/kota.

BAB V

:

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Menguraikan tentang tenaga kesehatan, sarana kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

BAB VI : KESIMPULAN

Berisi sajian garis besar hasil-hasil cakupan porgram/kegiatan berdasarkan indikator-indikator bidang kesehatan untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan serta pengambilan keputusan di Provinsi Jawa Tengah.

(8)

LAMPIRAN

Berisi resume atau angka pencapaian kabupaten/kota dan 82 tabel data yang sebagian diantaranya merupakan Indikator Pencapaian Kinerja Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

(9)

BAB II

GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFI

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak cukup strategis karena berada diantara dua provinsi besar, yaitu bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Sedangkan bagian utara berbatasan dengan Laut Jawa dan bagian selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya antara 5°40' - 8°30' lintang selatan dan antara 108°30' - 111°30' bujur timur (termasuk Pulau Karimunjawa).

Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah sebesar 32.544,12 km², secara administratif terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota, yang tersebar menjadi 573 kecamatan dan 8.576 desa/kelurahan. Wilayah terluas adalah Kabupaten Cilacap dengan luas 2.138,51 km², atau sekitar 6,57% dari luas total Provinsi Jawa Tengah, sedangkan Kota Magelang merupakan wilayah yang luasnya paling kecil yaitu seluas 18,12 km².

Secara topografi, wilayah Provinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan yang dibagi menjadi 4 (empat) kriteria :

a. Ketinggian antara 0–100 m dari permukaan air laut, seluas 53,3%, yang daerahnya berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan.

b. Ketinggian antara 100–500 m dari permukaan air laut seluas 27,4%. c. Ketinggian antara 500–1.000 m dari permukaan air laut seluas 14,7%. d. Ketinggian diatas 1.000 m dari permukaan air laut seluas 4,6%.

B. KEADAAN PENDUDUK

1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 (angka proyeksi sementara dari BPS) sebesar 33.270.207 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 32.544,12 kilometer persegi (km²), rata-rata kepadatan penduduk sebesar

(10)

1.022,31 jiwa untuk setiap km². Wilayah terpadat adalah Kota Surakarta, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 11.573 jiwa per km². Wilayah terlapang adalah Kabupaten Blora, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 472 jiwa per km², dengan demikian persebaran penduduk di Jawa Tengah belum merata. Jumlah rumah tangga sebanyak 8.704.482, maka rata-rata jumlah anggota rumah tangga adalah 3,82 jiwa untuk setiap rumah tangga. Penduduk terbanyak di Kabupaten Brebes 1.770.480 jiwa (5,32%) dan paling sedikit di Kota Magelang 120.447 jiwa (0,36%). Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1.

2. Rasio Jenis Kelamin

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan penghitungan sementara angka proyeksi penduduk tahun 2012 berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, didapatkan jumlah penduduk laki-laki di Jawa Tengah 16.495.705 jiwa (49,58%) dan jumlah penduduk perempuan di Jawa Tengah 16.774.502 jiwa (50,42%). Sehingga didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,34 per 100 penduduk perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 98 penduduk laki-laki. Data mengenai rasio jenis kelamin (sex ratio) dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.

3. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur

Komposisi penduduk Provinsi Jawa Tengah menurut kelompok umur dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki maupun perempuan mempunyai proporsi terbesar pada kelompok umur 15–44 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat pada lampiran Tabel 3.

Perbandingan komposisi proporsi penduduk menurut usia produktif dari tahun 2008 sampai tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut:

(11)

Tabel 2.1

Persentase Kelompok Usia Produktif Jawa Tengah tahun 2008 – 2012

Kelompok Usia (Tahun) TAHUN 2008 2009 2010 2011 2012*) 0 - 14 26,57 % 25,03 % 26,32 % 26,30 % 25,37 % 15 – 64 65,66 % 67,87 % 66,53 % 66,53 % 67,24 % 65 + 7,77 % 7,11 % 7,05 % 7,18 % 7,40 %

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 Ket : *) angka sementara

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa proporsi penduduk tahun 2012 bila dibandingkan dengan tahun 2011, kelompok usia produktif (15-64 tahun) mengalami peningkatan, sedangkan kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) mengalami penurunan. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan menjadi berkurang.

C. KEADAAN EKONOMI

1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi yang diperlukan untuk evaluasi dan perencanaan ekonomi makro, biasanya dilihat dari pertumbuhan angka Produk Domestik Regional Bruto, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Produk Domestik Regional Bruto didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah.

Kondisi perekonomian nasional pada tahun 2011 menunjukkan arah pertumbuhan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,46%, lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2010 (6,20%). Kinerja perekonomian nasional tersebut sejalan dengan perekonomian regional.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2011 secara agregat cukup dinamis yaitu mencapai 6,01%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2010 (5,84%). Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 6,01% lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional (6,46%)

(12)

Produk Domestik Regional Bruto per kapita di Jawa Tengah pada tahun 2011 atas dasar harga berlaku sebesar 15,38 juta rupiah atau naik sebesar 12,04% dan atas dasar harga konstan sebesar 6,11 juta rupiah, mengalami kenaikan meskipun kenaikannya tidak sebesar harga berlaku. Selama periode 2008-2011, perekonomian Jawa Tengah menunjukkan peningkatan yang positif dari tahun ke tahun yaitu tumbuh berkisar diatas 5%.

Tabel 2.2

PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2008 – 2011 (Rupiah)

Tahun PDRB per Kapita

atas dasar harga berlaku atas dasar harga konstan PDRB per Kapita 2008 11.124.084 5.142.781 2009 12.322.889 5.471.490 2010 13.732.413 5.774.556 2011 15.376.171 6.112.861

Sumber : PDRB Jawa Tengah Tahun 2012

2. Angka Beban Tanggungan

Berdasarkan jumlah penduduk menurut kelompok umur, angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 48,73. Angka tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2011 (50,31), berarti pada tahun 2012 setiap 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menanggung beban hidup sekitar 49 penduduk usia belum produktif (0–14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).

D. KEADAAN PENDIDIKAN

Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, pada umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi, serta dapat ikut berperan serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya.

Dibandingkan dengan tahun 2010 secara umum telah terjadi peningkatan di bidang pendidikan. Peningkatan terjadi pada tingkat pendidikan SMP dan SMU. Hal ini wajar terjadi mengingat semakin digalakkannya program sekolah gratis bagi

(13)

jenjang SD dan SMP dan program-program pendidikan lainnya. Berikut ini disajikan tabel persentase jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah tahun 2007-2010.

Tabel 2.3

Jumlah Penduduk Usia 10 tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2011

Tahun Blm/Tdk Pernah Sekolah

Tdk punya

Ijazah SD/MI SD/MI SMP SMU/SMK DIPL/AK/ PT Total 2008 9,33 23,03 32,01 16,58 14,64 4,41 100,00 2009 8,42 22,16 32,50 17,22 15,21 4,48 100,00 2010 8,13 18,91 34,55 18,11 10,48 4,93 100,00 2011 6,95 20,68 32,59 18,92 16,00 4,85 100,00

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2012

Peningkatan tersebut berimbas pada kemampuan baca tulis penduduk yang tercermin dari angka melek huruf. Persentase penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya pada tahun 2011 sebesar 91,22%, sedangkan yang buta huruf sebesar 8,788%. Bila dilihat dari jenis kelaminnya, maka penduduk laki-laki lebih banyak yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan, angka melek penduduk laki-laki sebesar 94,94% dan perempuan sebesar 87,61%. Data mengenai angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5.

Demikian gambaran umum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 secara ringkas dengan penyajian tentang kependudukan, perekonomian dan pendidikan. Faktor perekonomian dan pendidikan secara bersama-sama dengan kesehatan digunakan untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia.

(14)

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi.

Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya.

A. ANGKA KEMATIAN

Angka kematian dari waktu ke waktu menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. Angka tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB, AKABA, AKI dan Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas.

1. Angka Kematian Bayi

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Apabila AKB di suatu wilayah tinggi, berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah.

AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar 10,75/1.000 kelahiran hidup, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 10,34/1.000

(15)

kelahiran hidup. Dibandingkan dengan target Millenium Development Goals

(MDGs) ke-4 tahun 2015 sebesar 17/1.000 kelahiran hidup maka AKB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sudah cukup baik karena telah melampaui target. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2012.

8.5 9 9.5 10 10.5 11 AKB 9.27 10.25 10.62 10.34 10.75 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012 Angka kematian bayi tertinggi adalah Kabupaten Banjarnegara sebesar 18,16/1.000 kelahiran hidup, sedangkan terendah adalah Kota Surakarta sebesar 5,33/1.000 kelahiran hidup. 18.16 16.61 16.49 14.95 14.94 14.69 14.41 13.5 13.19 13.14 12.98 11.8 11.48 11.17 11.15 10.72 10.66 10.6 10.51 10.36 10.34 10.2 10.02 9.69 9.59 9.34 9.31 8.78 8.11 7.14 6.93 6.75 6.58 5.62 5.33 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 BanjarnegaraRembang Kt MagelangPurworejo BrebesBlora TemanggungKt Tegal SemarangBatang Wonosobo PurbalinggaCilacap Boyolali Kt PekalonganPekalongan Kt SemarangGrobogan KebumenKlaten Pati PemalangJepara SukoharjoKendal Sragen Banyumas KaranganyarTegal Kt SalatigaKudus MagelangWonogiri Demak Kt Surakarta

Gambar 3.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

(16)

2. Angka Kematian Balita

Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita 0–5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan balita, tingkat pelayanan KIA/Posyandu, tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu dan kondisi sanitasi lingkungan.

AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar 11,85/1.000 kelahiran hidup, meningkat dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 11,50/1.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan cakupan yang diharapkan dalam

Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 tahun 2015 yaitu 23/1.000 kelahiran

hidup, AKABA Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sudah melampaui target. Dibawah ini grafik AKB di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2012.

9 9.5 10 10.5 11 11.5 12 12.5 AKABA 10.12 11.6 12.02 11.5 11.85 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.3 Angka Kematian Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012

AKABA tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 19,94/1.000 kelahiran hidup, sedangkan terendah di Kota Surakarta sebesar 6,01/1.000 kelahiran hidup. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar 3.4 di bawah ini.

(17)

19.94 19.5 17.55 17.38 16.56 16.53 15.89 15.28 14.72 14.47 13.91 13.77 12.99 12.51 12.26 11.82 11.82 11.61 11.37 11.17 11.08 10.77 10.75 10.62 10.43 10.43 10.07 9.23 8.92 8.21 7.6 7.44 7.29 6.61 6.01 0 5 10 15 20 25 Rembang Banjarnegar Kt MagelangPurworejo BrebesBlora Kt Tegal TemanggunBatang Semarang Wonosobo Kt PklnganCilacap Purbalingga Kt SemarangPekalongan Boyolali GroboganPati Klaten Kebumen SukoharjoPemalang Jepara BanyumasSragen Kendal KaranganyarTegal Kt SalatigaMagelang Kudus WonogiriDemak Kt Surakarta

Gambar 3.4 Angka Kematian Balita di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

3. Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu, keadaan sosial ekonomi, keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan, kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan ternasuk pelayanan prenatal dan obstetri. Tingginya angka kematian ibu menunjukkan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetri yang rendah pula.

Kematian ibu biasanya terjadi karena tidak mempunyai akses ke pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, terutama pelayanan kegawatdaruratan tepat waktu yang dilatarbelakangi oleh terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. Selain itu penyebab kematian maternal juga tidak terlepas dari kondisii ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari kriteria 4 “terlalu”, yaitu terlalu tua pada saat melahirkan (>35 tahun), terlalu muda pada saat melahirkan (<20 tahun), terlalu banyak anak (>4 anak), terlalu rapat jarak kelahiran/paritas (<2 tahun).

(18)

Angka kematian ibu Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 berdasarkan laporan dari kabupaten/kota sebesar 116,34/100.000 kelahiran hidup, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2011 sebesar 116,01/100.000 kelahiran hidup. Gambar 3.5 di bawah ini tren AKI di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2015.

95 100 105 110 115 120 AKI 114.42 117.02 104.97 116.01 116.34 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012 Jumlah kematian maternal terbanyak adalah di Kabupaten Brebes sebanyak 51 kematian. Sedangkan kabupaten/kota dengan jumlah kematian maternal paling sedikit adalah Kota Salatiga dengan 2 kematian.

51 39 35 34 34 32 31 25 23 22 22 22 21 21 20 19 19 18 17 17 15 15 15 13 13 13 11 11 11 11 9 6 5 3 2 0 10 20 30 40 50 60 BrebesTegal PemalangCilacap Grobogan Banyumas PekalonganBatang BanjarnegaraPati Kendal Kt SemarangPurbalingga Jepara PurworejoKlaten Sragen Wonosobo KaranganyarDemak BoyolaliBlora Kudus MagelangWonogiri RembangKebumen Semarang TemanggungKt Tegal Sukoharjo Kt Surakarta Kt PekalonganKt Magelang Kt Salatiga

Gambar 3.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

(19)

Sebesar 57,93% kematian maternal terjadi pada waktu nifas, pada waktu hamil sebesar 24,74% dan pada waktu persalinan sebesar 17,33%. Sementara berdasarkan kelompok umur, kejadian kematian maternal terbanyak adalah pada usia produktif (20-34 tahun) sebesar 66,96%, kemudian pada kelompok umur >35 tahun sebesar 26,67% dan pada kelompok umur <20 tahun sebesar 6,37%.

4. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas

Angka Kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.000 penduduk dalam kurun waktu satu tahun. Kabupaten/kota yang melaporkan kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2012 sebanyak 14 kabupaten/kota menurun dibandingkan dengan tahun 2011 sebanyak 25 kabupaten/kota. Angka kecelakaan lalulintas per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar 26,28 per 100.000 penduduk sedangkan tahun 2011 sebesar 94,80 per 100.000 penduduk sementara Angka kematian kecelakaan lalu lintas tahun 2012 adalah sebesar 0,91 per 100.000 penduduk di Provinsi Jawa Tengah.

Dari 25 kabupaten/kota yang melaporkan, angka kematian kecelakaan lalu lintas tertinggi terjadi di Kota Magelang yaitu sebesar 30,7/100.000 penduduk.

B. ANGKA KESAKITAN

1. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit “Acute Flaccid

Paralysis” (AFP)

Upaya membebaskan Indonesia dari penyakit Polio, pemerintah telah melaksanakan Program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio rutin, pemberian imunisasi masal pada anak balita melalui Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan surveilans AFP. Surveilans AFP merupakan pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh), seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut :

(20)

a. Melakukan pelacakan terhadap anak usia <15 tahun yang mengalami kelumpuhan mendadak (<14 hari) dan menentukan diagnosa awal.

b. Mengambil spesimen tinja penderita tidak lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan, sebanyak dua kali selang waktu pengambilan I dan II >24 jam. c. Mengirim kedua spesimen tinja ke laboratorium dengan pengemasan khusus

(untuk Jawa Tengah dikirim ke laboratorium Bio Farma Bandung)

d. Hasil pemeriksaan spesimen tinja akan menjadi bukti virologi adanya virus polio liar didalamnya.

e. Diagnosis akhir ditentukan pada 60 hari sejak kelumpuhan. Pemeriksaan klinis ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan apakah masih ada kelumpuhan atau tidak.

Hasil pemeriksaan virologis dan klinis akan menjadi bukti penegakan diagnosis kasus AFP termasuk kasus polio atau tidak, sehingga dapat diketahui apakah masih ada polio liar di masyarakat.

Penderita kelumpuhan AFP diperkirakan 2 diantara 100.000 anak usia <15 tahun. Target minimal penemuan penderita AFP tahun 2012 sebanyak 172 penderita. Pada tahun 2012 Jawa Tengah menemukan 196 penderita AFP, sehingga sudah memenuhi target. Jumlah penderita tahun 2012 lebih sedikit dibanding tahun 2011 (215 orang). Menurut hasil pemeriksaan laboratorium, dari 196 kasus yang diperiksa semua menunjukan negatif polio (berarti tidak ditemukan virus polio liar).

Gambar 3.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

0 50 100 150 200 250 Kasus AFP 187 193 178 215 196 2008 2009 2010 2011 2012

(21)

2. Prevalensi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui

droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Bersama dengan Malaria dan

HIV/AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.

Pada awal tahun 1995 WHO telah merekomendasikan strategi DOTS

(Directly Observed Treatment Short-course) sebagai strategi dalam

penanggulangan TB dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective), yang terdiri dari 5 komponen kunci 1) Komitmen politis; 2) Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya; 3) Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan; 4) Jaminan ketersediaan OATyang bermutu; 5) Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Prevalensi Tuberkulosis per 100.000 penduduk Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar 106,42. Prevalensi tuberkulosis tertinggi adalah di Kota Tegal (358,91per 100.000 penduduk) dan terendah di Kabupaten Magelang (44,04 per 100.000 penduduk).

3. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA(+)

Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case

Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA(+) yang ditemukan

dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA(+) yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.

Pencapaian CDR di Jawa Tengah tahun 2008 s/d 2012 masih dibawah target yang ditetapkan sebesar 100%. Meskipun masih dibawah target yang ditentukan, capaian CDR tahun 2012 sebesar 58,45% lebih rendah dibanding tahun 2011 (59,52%). CDR tertinggi di Kota Magelang sebesar 292,91% dan yang terendah di Kabupaten Magelang sebesar 21,82%. Terdapat lima kabupaten/kota yang sudah melampaui target 100% yaitu kota Magelang

(22)

(292,91), Kota Surakarta (128,17%), Kota Salatiga (109,84), Kota Tegal (203,09%) dan Kota Pekalongan (137,75%).

0 10 20 30 40 50 60 CDR TB 47.97 48.15 55.38 59.52 58.45 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.8 Angka Penemuan TB Paru (CDR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Untuk meningkatkan cakupan CDR dan angka kesembuhan, pada tahun 2012 telah dilakukan berbagai upaya seperti peningkatan SDM, baik tenaga medis, paramedis dan laboratorium, pertemuan jejaring antar unit pelayanan kesehatan dan asistensi ke rumah sakit. Kegiatan-kegiatan tersebut perlu dievaluasi untuk menilai apakah hasil kegiatan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk selanjutnya disusun rencana tindak lanjut perbaikan.

4. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA(+)

Evaluasi pengobatan pada penderita TB paru BTA(+) dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis pada akhir fase intensif satu bulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan dengan hasil pemeriksaan negatif. Dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan ditambah minimal satu kali pemeriksaan sebelumnya (sesudah fase awal atau satu bulan sebelum akhir pengobatan) hasilnya negatif.

Bila pemeriksaan follow up tidak dilakukan, namun pasien telah menyelesaikan pengobatan, maka evaluasi pengobatan pasien dinyatakan sebagai pengobatan lengkap. Evaluasi jumlah pasien dinyatakan sembuh dan

(23)

pasien pengobatan lengkap dibandingkan jumlah pasien BTA(+) yang diobati disebut keberhasilan pengobatan (Succes Rate).

Angka kesembuhan (Cure Rate) TB paru Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 sebesar 82,90 lebih rendah dibanding 2010 sebesar 85,15% dan belum melebihi target nasional (90%) Angka kesembuhan tertinggi di Kabupaten Karanganyar sebesar 98,84%, sedangkan terendah di Kota Tegal sebesar 58,05%. 82 82.5 83 83.5 84 84.5 85 85.5 86 CR TB 83.9 85.01 85.15 82.9 2008 2009 2010 2011

Gambar 3.9 Angka Kesembuhan TB Paru (CR) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2011

5. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).

Persentase penemuan dan penanganan penderita pneumonia pada balita tahun 2012 sebesar 24,74% lebih sedikit dibanding tahun 2011 (25,5%). Jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 64.242 kasus, angka ini masih sangat jauh dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2010 (100%). Berikut ini ditampilkan persentase penemuan pneumonia balita Provinsi Jawa Tengah tahun 2008-2012.

(24)

Pada tingkat kabupaten/kota, ada satu kota yang mempunyai persentase cakupan tertinggi yaitu Kabupaten kebumen (93,03%), sementara kabupaten dengan persentase cakupan terendah adalah Kabupaten Cilacap (3,06%).

20 25 30 35 40 45 Pneumonia Balita 23.63 25.96 40.63 25.5 24.74 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.10 Persentase Penemuan dan Penanganan Penderita Pneumonia pada Balita Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

6. Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan Kematian karena AIDS

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counselling, and Testing (VCT), sero survey dan Survei Terpadu Biologis dan perilaku (STBP). Jumlah infeksi HIV yang dilaporkan tahun 2012 sebanyak 607 lebih sedikit dibanding tahun 2011 (755 kasus), sebagian besar didapat dari hasil VCT di rumah sakit. Kasus Aquiared

Immuno Devisiency Syndrome (AIDS) sebanyak 797 kasus, lebih banyak

dibanding tahun 2011 (521 kasus) dimana kasus tersebut didapatkan dari laporan VCT rumah sakit, laporan rutin AIDS kab/kota serta Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). Peningkatan kasus AIDS ini dikarenakan upaya penemuan atau pencarian kasus yang semakin intensif melalui VCT di rumah sakit dan upaya penjangkauan oleh LSM peduli AIDS di kelompok risiko tinggi. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es, artinya kasus yang dilaporkan hanya

(25)

sebagian kecil yang ada di masyarakat. Jumlah kematian karena AIDS di Jawa Tengah tahun 2012 sebanyak 149 kasus, lebih banyak dibanding tahun 2011 (89 kasus). 259 143 373 755 607 170 430 501 521 797 56 104 160 89 149 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 2008 2009 2010 2011 2012

HIV AIDS Meninggal

Gambar 3.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.11 menunjukan bahwa kecenderungan (trend) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Jumlah kasus baru HIV/AIDS tertinggi adalah di Kota Semarang (81/110 kasus), jumlah kematian karena AIDS terbanyak di Kota Magelang sebanyak 18 kasus.

Perempuan

48% Laki-laki

52%

Gambar 3.12 Persentase Kasus Baru AIDS menurut Jenis Kelamin Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

7. Jumlah Kasus Baru Infeksi Menular Seksual lainnya

Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. PMS meliputi Syphilis, Gonorhoe, Bubo, Jengger ayam, Herpes, dan lain-lain. Infeksi Menular

(26)

Seksual (IMS) yang diobati adalah kasus IMS yang ditemukan berdasarkan sindrom dan etiologi serta diobati sesuai standar.

Jumlah kasus baru IMS lainnya di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebanyak 8.671 kasus, lebih sedikit dibanding tahun 2011 (10.752 kasus). Meskipun demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi. Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Seksual mempunyai target bahwa seluruh kasus IMS yang ditemukan harus diobati sesuai standar.

8. Donor Darah Diskrining terhadap HIV

Selain melakukan kegiatan serosurvei HIV dan surveilans/ pengamatan kasus AIDS, Dinas Kesehatan juga melakukan pengamatan terhadap hasil skrining/penapisan darah donor melalui UTDD PMI Jawa Tengah. Tujuan skrining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit seperti Hepatitis C, Sifilis, Malaria, DBD termasuk juga bebas dari virus HIV. Pada tahun 2012 diketahui jumlah pendonor sebanyak 432.341 orang, kemudian yang dilakukan pemeriksaan sampel darah sebanyak 432.148 (99,96%). Dari hasil pemeriksaan sampel darah tersebut, sebanyak 580 sampel (0,13) yang positif HIV. Tabel perkembangan jumlah sampel yang diperiksa dan hasil yang positif HIV dari tahun 2008 sampai dengan 2012 sebagai berikut :

Tabel 3.1

Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2012

Tahun Jumlah Sample Diperiksa Jumlah Positif HIV Positif HIV

2008 348.795 520 1,49

2009 312.793 275 0,09

2010 309.731 510 0,16

2011 324.828 415 0,13

(27)

9. Kasus Diare Ditangani

Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.

Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar 42,66%, lebih rendah dibanding tahun 2011 (57,9. Pada tingkat kabupaten/kota, diketahui bahwa cakupan penemuan dan penanganan diare tertinggi adalah Kabupaten Klaten (93,33%) dan terendah adalah Kabupaten Cilacap (6,20%). 40 45 50 55 60 Cakupan 47.8 48.5 44.48 57.9 42.66 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.13 Cakupan Penemuan dan Penanganan diare Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

10.Prevalensi Kusta

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri

Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan

kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut:

a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa,

b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot,

(28)

Pada tahun 2012, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1.308 kasus, lebih rendah dibanding tahun 2011 (1.873 kasus) dan tipe Pausi Basiler sebanyak 211 kasus, juga lebih rendah dibanding tahun 2011 (395 kasus) dengan Newly Case Detection Rate (NCDR) sebesar 4,57 per 100.000 penduduk.

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat tingkat II pada tahun 2012 sebesar 16,59%, lebih tinggi dibanding tahun 2011 (13,32%). Sedangkan proporsi anak di antara penderita baru pada tahun 2012 sebesar 6,58%.

11.Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat

Cakupan program kusta diukur berdasarkan angka penderita kusta tipe

Pauci Baciller (PB) dan Multy Baciller (MB) selesai diobati. Cakupan program

kusta tipe PB tahun 2012 berdasarkan jumlah penderita baru tahun 2011 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2012 sebesar 92,31% lebih tinggi dibanding tahun 2011 (85%) dan lebih tinggi dari target 90%. Kusta tipe MB diambil dari data penderita baru tahun 2010 yang selesai diobati sampai dengan tahun 2011 sebesar 75,39% lebih rendah dibanding tahun 2010 (76%) dan lebih rendah dari target 95%. Cakupan selama 5 tahun terakhir kusta tipe PB dan tipe MB mulai tahun 2008 (tabel 12). 0 20 40 60 80 100 p er se n ta se ( %) PB 92.48 85.27 91.21 85 92.31 MB 90.98 87.5 87.61 76.46 75.39 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.14 Persentase Penderita Kusta selesai diobati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

(29)

Cakupan kusta tidak bisa tercapai dikarenakan masih banyak penderita yang tidak berobat teratur atau penderita yang seharusnya sudah selesai diobati

(Release From Treatment - RFT), tetapi belum dicatat sudah RFT. Rendahnya

cakupan penderita kusta RFT juga dikarenakan adanya ketentuan baru pengobatan untuk penderita default. Penderita PB tidak minum obat lebih dari 3 bulan dalam jangka waktu 9 bulan sudah dianggap default. Ketentuan lama penderita disebut default kalau 3 bulan berturut-turut tidak minum obat. Penderita MB tidak minum obat lebih dari 6 bulan dalam jangka waktu 18 bulan sudah disebut default. Ketentuan lama penderita MB berturut-turut 6 bulan tidak berobat baru dikatakan default.

12.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur <15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa.

Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa Tengah, terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Angka kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 19,29/100.000 penduduk, meningkat bila dibandingkan tahun 2011 (15,27/100.000 penduduk) dan masih dalam target nasional yaitu <20/100.000 penduduk. Angka kesakitan tertinggi di Kabupaten Blora sebesar 88,77/100.000 penduduk, terendah di Kabupaten Wonogiri sebesar 1,37/100.000 penduduk.

Setiap penderita DBD yang dilaporkan dilakukan tindakan perawatan penderita, penyelidikan epidemiologi di lapangan serta upaya pengendalian.

Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan karena adanya iklim tidak stabil dan curah hujan cukup banyak pada musim penghujan yang merupakan sarana perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. Selain itu juga didukung dengan tidak maksimalnya kegitan PSN di masyarakat sehingga menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD di beberapa kabupaten/kota.

(30)

10 30 50 70 IR DBD 59.2 57.4 59.8 15.27 19.29 Target 20 20 20 20 20 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.15 Angka Kesakitan DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Angka kesakitan DBD di kabupaten/kota hampir semuanya lebih dari 20/100.000 penduduk. Ada 2 kabupaten/kota dengan angka kesakitan kurang dari 2/100.000 penduduk yaitu Kabupaten Wonogiri (1,37) dan Kabupaten Purworejo (1,55).

13.Angka Kematian Demam Berdarah Dengue (DBD)

Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2012 sebesar 1,52% lebih tinggi dibanding tahun 2011 (0.93%), tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan target nasional (<1%).

0.75 1 1.25 1.5 CFR DBD 1.19 1.42 1.29 0.93 1.52 2008 2009 2010 2011 2012

(31)

Angka kematian tertinggi adalah di Kabupaten Wonogiri sebesar 23,08% dan tidak ada kematian di 10 kabupaten/kota. Sedangkan kabupaten/kota dengan angka kematian lebih dari 1% sebanyak 20 kabupaten/kota.

Gambar 3.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

14.Angka Kesakitan Malaria

Penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah. Saat ini masih ditemukan desa High Case Incidence (HCI) sebanyak 31 desa yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Purworejo, Kebumen, Purbalingga, Banyumas dan Jepara.

Angka kesakitan malaria (Annual Parasite Incidence-API) merupakan indikator untuk memantau perkembangan penyakit malaria. Jumlah kasus tahun 2012 sebanyak 2.420 kasus, lebih rendah dibanding tahun 2011 (3.467 kasus) dan angka kesakitan malaria sebesar 0,08‰, sedikit turun dibandingkan tahun 2011 (0.11‰). Perkembangan insidens malaria sejak tahun 2008 dilihat pada gambar berikut. Klaten Banyumas Bj negara Temanggung Kendal Blora Grobogan Bata ng Demak Jepara Sragen Purblg Kebumen Purworejo Cilacap Kr.anyar Pati Rembang Batang Pekalongan Pemalang Brebes Tegal Kota Semarang Magelan g Cilacap Boyolali Kab Semarang Kota Tegal Jepara Kota Mgl DI. Yogyakarta Kab. Mgl Kudus J A T I M Kota Pekalongan J A B A R Wonogiri Sukoharjo Wonosobo Salatiga Surakarta CFR DBD 0 < 1 > 1

(32)

0 0.05 0.1 0.15 API 0.05 0.05 0.1 0.11 0.08 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 Penderita malaria tahun 2012 ditemukan di 27 kabupaten, terbanyak di Kabupaten Banjarnegara (592 penderita) dan tidak ada kasus di 8 Kabupaten/Kota.

15.Angka Kematian Malaria

Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) Malaria tahun 2012 sebesar 0,01%. Hampir semua Kabupaten/Kota tidak terdapat kasus kematian tetapi hanya Kabupaten Blora yang mempunyai kasus kematian karena malaria dengan angka 2%.

Gambar 3.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

Klaten Banyumas Bj negara Temanggung Kendal Blora Grobogan Bata ng Demak Jepara Sragen Purblg Kebumen Purworejo Cilacap Kr.anyar Pati Rembang Batang Pekalongan Pemalang Brebes Tegal Kota Semarang Magelan g Cilacap Boyolali Kab Semarang Kota Tegal Jepara Kota Mgl DI. Yogyakarta Kab. Mgl Kudus J A T I M Kota Pekalongan J A B A R Wonogiri Sukoharjo Wonosobo Salatiga Surakarta

(33)

16.Kasus Penyakit Filariasis Ditangani

Jumlah kasus Filariasis di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin bertambah. Secara kumulatif, jumlah kasus Filariasis pada tahun 2012 sebanyak 565 penderita. Pada tahun 2012 terdapat 10 kasus baru, lebih sedikit dibanding tahun 2011 (141 kasus) yang ditemukan di 8 kabupaten/kota.

17.Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Yang Dapat Dicegah

Dengan Imunisasi (PD3I)

Yang termasuk dalam PD3I yaitu Polio, Pertusis, Tetanus Non Neonatorum, Tetanus Neonatorum, Campak, Difteri dan Hepatitis B. Dalam upaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit tersebut, diperlukan komitmen global untuk menekan turunnya angka kesakitan dan kematian yang lebih banyak dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO), Reduksi Campak (Redcam) dan Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN).

Saat ini telah dilaksanakan Program Surveilans Integrasi PD3I, yaitu pengamatan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (Difteri, Tetanus Neonatorum, dan Campak). Dalam waktu 5 tahun terakhir jumlah kasus PD3I yang dilaporkan adalah sebagi berikut:

a. Difteri

Jumlah kasus Difteri di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebanyak 32 kasus, lebih banyak dibanding tahun 2011 (8 kasus) Hal ini dimungkinkan karena pencapaian cakupan imunisasi yang meningkat (>85%). Penemuan kasus selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

(34)

0 5 10 15 20 25 30 35 Kasus Difteri 28 30 14 8 32 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

b. Pertusis

Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 tidak ada kasus pertusis (nihil), menurun bila dibandingkan dengan jumlah kasus Pertusis tahun 2011 (4 kasus). Penemuan kasus selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. 0 5 10 15 20 25 30 Kasus Pertusis 3 0 24 4 0 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

c. Tetanus (Non Neonatorum)

Jumlah kasus Tetanus (Non Neonatorum) di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebanyak 18 kasus, lebih banyak dibanding tahun 2011 (13 kasus). Kasus tertinggi di Kabupaten Blora sebanyak 11 kasus. Jumlah

(35)

kematian karena Tetanus sebanyak 5 orang. Penemuan kasus selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

0 5 10 15 20

Kasus Tetanus Non Neonatorum

7 6 3 13 18

2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

d. Tetanus Neonatorum

Pada tahun 2012 di Provinsi Jawa Tengah tidak terdapat kasus Tetanus Neonatorum, menurun tajam dibanding tahun 2011 (4 kasus). Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

0 4 8 12 Kasus 10 10 6 4 0 Mati 6 5 4 3 0 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.23 Penemuan kasus dan kematian Tetanus Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

(36)

e. Campak

Jumlah kasus Campak di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebanyak 18 kasus (positif campak) sedangkan campak klinis (suspect) sebanyak 416 kasus, lebih sedikit dibanding tahun 2011 (1.873 kasus). Kasus campak positif terbanyak terdapat di Kabupaten Jepara (3 kasus). Terdapat 29 Kabupaten/Kota yang tidak terdapat kasus campak. Penemuan kasus campak selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

0 1000 2000 3000 4000 Campak 2498 3614 3664 1873 416 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.24 Kasus Campak yang dilaporkan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

f. Hepatitis B

Pada tahun 2012 di Provinsi Jawa Tengah terdapat kasus Hepatitis B sebanyak 98 kasus, menurun drastis dibanding tahun 2011 (170 kasus). Penemuan kasus Hepatitis B selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. 0 50 100 150 200 Hepatitis B 57 74 117 170 98 2008 2009 2010 2011 2012

(37)

18. Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular (PTM) yang diintervensi meliputi jantung koroner, dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, diabetes mellitus, kanker serviks, kanker payudara, kanker hati, kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis, asma bronkiale, dan kecelakaan lalu lintas. Penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronis dan kanker tertentu, dalam kesehatan masyarakat sebenarnya dapat digolongkan sebagai satu kelompok PTM utama yang mempunyai faktor risiko sama (common

underlying risk factor). Faktor risiko tersebut antara lain faktor genetik

merupakan faktor yang tidak dapat diubah (unchanged risk factor), dan sebagian besar berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diubah (change risk factor) antara lain konsumsi rokok, pola makan yang tidak seimbang, makanan yang mengandung zat aditif, kurang berolah raga dan adanya kondisi lingkungan yang tidak kondusif terhadap kesehatan.

Penyakit tidak menular mempunyai dampak negatif sangat besar karena merupakan penyakit kronis. Apabila seseorang menderita penyakit tidak menular, berbagai tingkatan produktivitas menjadi terganggu. Penderita ini menjadi serba terbatas aktivitasnya, karena menyesuaikan diri dengan jenis dan gradasi dari penyakit tidak menular yang dideritanya. Hal ini berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan tidak diketahui kapan sembuhnya karena memang secara medis penyakit tidak menular tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikendalikan. Yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah bahwa penyakit tidak menular merupakan penyebab kematian tertinggi dibanding dengan penyakit menular.

Kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan data PTM tahun 2012 sebanyak 34 kabupaten/kota (97,14%). Hampir semua kelompok Penyakit Tidak Menular pada tahun 2012 mengalami penurunan jumlah kasus. Kasus tertinggi Penyakit Tidak Menular pada tahun 2012 adalah kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari total 1.212.167 kasus yang dilaporkan sebesar 66,51% (806.208 kasus) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

(38)

0 10 20 30 40 50 60 70 1,39 16,54 62,43 2,12 12,67 4,85 0,94 16,58 66,51 1,61 11,55 2,8 Tahun 2011 Tahun 2012

Gambar 3.26 Persentase Kasus Penyakit Tidak Menular Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 dan 2012

a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit yang mengganggu jantung dan sistem pembuluh darah seperti penyakit jantung koroner (angina pektoris, akut miokard infark), dekompensasio kordis, hipertensi, stroke, penyakit jantung rematik, dan lain-lain.

Kasus tertinggi penyakit tidak menular tahun 2012 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 554.771 kasus (67,57%) lebih rendah dibanding tahun 2011 (634.860 kasus/72,13 %).

1) Hipertensi

Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung).

(39)

Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai diantara penyakit tidak menular lainnya. Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang muncul akibat adanya penyakit lain seperti hipertensi ginjal, hipertensi kehamilan, dll.

Penyakit Hipertensi Essensial pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 menunjukkan adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, hanya pada tahun 2011 terlihat adanya kenaikan jumlah kasus dan hal ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.

500,000 600,000 700,000 800,000 900,000 Hipertensi Essensial 865,204 698,816 562,117 634,860 544,771 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.27 Tren Peningkatan Kasus Hipertensi Essensial Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

2) Stroke

Stroke adalah suatu penyakit menurunnya fungsi syaraf secara akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak, terjadi secara mendadak dan cepat yang menimbulkan gejala dan tanda sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak, atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak.

Stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik yaitu adanya perdarahan otak karena pembuluh darah yang pecah dan stroke non hemoragik yaitu lebih karena adanya sumbatan pada pembuluh darah otak. Prevalensi stroke hemoragik di Jawa Tengah tahun 2012 adalah 0,07 lebih tinggi dari tahun 2011 (0,03%). Prevalensi tertinggi tahun 2012 adalah Kabupaten Kudus sebesar 1,84%. Sedangkan prevalensi stroke

(40)

non hemorargik pada tahun 2012 sebesar 0,07 lebih rendah dibanding tahun 2011 (0,09%). Prevalensi tertinggi adalah Kota Salatiga sebesar 1,16%. 0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12 0.14 Hemoragik 0.04 0.05 0.03 0.03 0.07 Non Hemoragik 0.13 0.09 0.09 0.09 0.07 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.28 Prevalensi Stroke Hemoragik dan Non Hemoragik Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

3) Dekompensasio Kordis

Dekompensasio kordis merupakan kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau istilah lain adalah payah jantung. Gambaran klinis dekompensasio kordis kiri adalah sesak nafas: dyspnoe d’effort dan ortopne, pernafasan cheynes stokes, batuk-batuk mungkin hemoptu, sianosis, suara serak, ronchi basah halus tidak nyaring, tekanan vena jugularis masih normal. Sedangkan gambaran klinis dekompensasio kordis kanan adalah gangguan gantrointestinal seperti anoreksia, mual, muntah, meteorismus dan rasa kembung di epigastrum. Selain itu terjadi pembesaran hati yang mula-mula lunak, tepi tajam, nyeri tekan, lama kelamaan menjadi keras, tumpul dan tidak nyeri. Dapat juga terjadi edema pretibial, edema presakral, asites dan hidrotoraks, tekanan jugularis meningkat.

Prevalensi kasus dekompensasio kordis tahun 2012 sebesar 0,12% sama dengan tahun 2011. Prevalensi tertinggi adalah Kota Magelang sebesar 1,85%.

(41)

0 0.05 0.1 0.15 0.2 Prevalensi 0.18 0.14 0.11 0.12 0.12 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.29 Prevalensi Dekompensasio Kordis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

b. Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin, baik absolut maupun relatif. Absolut artinya pankreas sama sekali tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada setiap orang. (Perkeni 2002)

WHO (1985) mengklasifikasikan penderita DM dalam lima golongan klinis, yaitu DM Tergantung Insulin (DMTI), DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI), DM berkaitan dengan malnutrisi (MRDM), DM karena Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), dan DM karena kehamilan (GDM). Di Indonesia, yang terbanyak adalah DM tidak tergantung insulin. DM jenis ini baru muncul pada usia di atas 40 tahun. DM dapat menjadi penyebab aneka penyakit seperti hipertensi, stroke, jantung koroner, gagal ginjal, katarak, glaukoma, kerusakan retina mata yang dapat membuat buta, impotensi, gangguan fungsi hati, luka yang lama sembuh mengakibatkan infeksi hingga akhirnya harus diamputasi terutama pada kaki.

DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikendalikan, artinya sekali didiagnosa DM seumur hidup bergaul dengannya. Penderita mampu hidup sehat bersama DM, asalkan mau patuh dan kontrol teratur. Gejala khas berupa Polyuri (sering kencing), Polydipsi

(42)

Lelah/lemah, berat badan menurun drastis, kesemutan/gringgingan, gatal/bisul, mata kabur, impotensi pada pria, pruritis vulva hingga keputihan pada wanita, luka tdk sembuh-sembuh, dll. Kelompok Faktor Risiko Tinggi antara lain pola makan yang tidak seimbang, riwayat Keluarga/ada keturunan, kurang olah raga, umur Lebih dari 40th, obesitas, hipertensi, kehamilan dengan berat bayi lahir > 4 kg, kehamilan dengan hiperglikemi, gangguan toleransi glukosa, lemak dalam darah tinggi, abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati, berat badan turun drastis, mata kabur, keputihan, gatal daerah genital, dan lain-lain.

Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 0,06 lebih rendah dibanding tahun 2011 (0,09%). Prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Semarang sebesar 0,66%. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II, mengalami penurunan dari 0,63% menjadi 0,55% pada tahun 2012. Prevalensi tertinggi adalah Kota Magelang sebesar 7,93%.

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 DMTI 0.16 0.19 0.08 0.09 0.06 DMTTI 1.25 0.62 0.7 0.63 0.55 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.30 Prevalensi Penyakit Diabetes Mellitus Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

c. Neoplasma

Neoplasma atau kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel tubuh, yang tumbuh tanpa kontrol dan tujuan yang jelas, mendesak dan merusak jaringan normal. Di Indonesia terdapat lima jenis kanker yang banyak diderita penduduk yakni kanker rahim, kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, kanker kulit, dan kanker rektum.

(43)

Kasus penyakit kanker yang ditemukan di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 sebanyak 11.341 kasus, lebih sedikit dibanding tahun 2011 (19.637 kasus). Penyakit kanker terdiri dari Ca. servik 2.259 kasus (19,92%), Ca. mamae 4.206 kasus (37,09%), Ca. hepar 2.755 (24,29%), dan Ca. paru 2.121 kasus (18,70%).

Prevalensi kanker di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012 adalah sebagai berikut : kanker serviks sebesar 0,007% dan tertinggi di Kota Magelang sebesar 0,071%; kanker payudara sebesar 0,013% dan tertinggi di Kota Pekalongan sebesar 0,215%; kanker hati sebesar 0,008% dan tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 0,23%; kanker paru 0,006% dan tertinggi di Kabupaten Rembang sebesar 0,23%.

0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 Ca Servik 0.03 0.028 0.013 0.021 0.007 Ca Mamae 0.05 0.037 0.022 0.029 0.013 Ca Hepar 0.01 0.006 0.004 0.007 0.008 Ca Paru 0.005 0.002 0.003 0.003 0.006 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.31 Prevalensi Penyakit Kanker di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

d. Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran pernafasan bersifat reversible sebagian dan progresif yang berhubungan dengan respon inflamsi abnormal dari paru terhadap paparan partikel atau gas berbahaya. (Global Obstructive Lung

Disease 2003). Faktor risiko pencetus terjadinya PPOK adalah perokok

aktif/pasif, debu dan bahan kimia, polusi udara di dalam atau di luar ruangan, infeksi saluran nafas terutama waktu anak-anak, usia, genetik, jenis kelamin, ras, defisiensi alpha-1 antitripsin, alergi dan autoimunitas.

(44)

Prevalensi kasus PPOK di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan yaitu dari 0,09% pada tahun 2011 menjadi 0,06% pada tahun 2012 dan tertinggi di Kota Salatiga sebesar 0,66%.

0 0.05 0.1 0.15 0.2 Prevalensi 0.2 0.12 0.08 0.09 0.06 2008 2009 2010 2011 2012

Gambar 3.32 Prevalensi PPOK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

e. Asma Bronkial

Asma Bronkial terjadi akibat penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental, spasme, dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus/bronkeolus, akibat inflamasi eosinofilik dengan kepekaan yang berlebihan. Serangan asma bronkhiale sering dicetuskan oleh ISPA, merokok, tekanan emosi, aktivitas fisik, dan rangsangan yang bersifat antigen/allergen antara lain:

- Inhalan yang masuk ketubuh melalui alat pernafasan misalnya debu

rumah, serpih kulit dari binatang piaraan, spora jamur dll.

- Ingestan yang masuk badan melalui mulut biasanya berupa makanan

seperti susu, telur, ikan-ikanan, obat-obatan dll.

- Kontaktan yang masuk badan melalui kontak kulit seperti obat-obatan

dalam bentuk salep, berbagai logam dalam bentuk perhiasan, jam tangan dll.

Prevalensi kasus asma di Jawa Tengah pada tahun 2012 sebesar 0,42% mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 0,55% dan prevalensi tertinggi di Kota Surakarta sebesar 2,46%.

Figur

Gambar 3.2 Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah                            Tahun 2012

Gambar 3.2

Angka Kematian Bayi di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.15
Gambar 3.1 Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012

Gambar 3.1

Angka Kematian Bayi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012 p.15
Gambar 3.5 Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012

Gambar 3.5

Angka Kematian Ibu Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 –2012 p.18
Gambar 3.6 Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah        Tahun 2012

Gambar 3.6

Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.18
Gambar 3.7 Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 050100150200250Kasus AFP18719317821519620082009201020112012

Gambar 3.7

Penemuan Kasus AFP Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 050100150200250Kasus AFP18719317821519620082009201020112012 p.20
Gambar  3.11  menunjukan  bahwa  kecenderungan  ( trend )  kasus  HIV  maupun  AIDS  selalu  mengalami  peningkatan  setiap  tahun

Gambar 3.11

menunjukan bahwa kecenderungan ( trend ) kasus HIV maupun AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahun p.25
Gambar 3.11 Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS                      Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.11

Jumlah Kasus Baru HIV/AIDS dan kematian karena AIDS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.25
Gambar 3.16 Angka Kematian DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.16

Angka Kematian DBD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.30
Gambar 3.17 Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.17

Peta CFR DBD kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.31
Gambar 3.19 Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

Gambar 3.19

Peta CFR Malaria kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.32
Gambar 3.18 Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.18

Angka Kesakitan Malaria Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.32
Gambar 3.21 Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.21

Penemuan kasus Pertusis Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.34
Gambar 3.20 Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 3.20

Penemuan kasus Difteri Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.34
Gambar 3.22 Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah          Tahun 2008–2012

Gambar 3.22

Penemuan kasus Tetanus Non Neonatorum Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.35
Gambar 4.10 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2008–2012

Gambar 4.10

Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Tahun 2008–2012 p.62
Gambar 4.20 Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar                   Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012

Gambar 4.20

Cakupan Perawatan Gigi Murid Sekolah Dasar Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008–2012 p.74
Gambar 4.21 Pelayanan Kesehatan Usia lanjut

Gambar 4.21

Pelayanan Kesehatan Usia lanjut p.75
Gambar 4.22  Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat    yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun  2011-   2012

Gambar 4.22

Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat yang Dapat Diakses Masyarakat Provinsi Jawa TengahTahun 2011- 2012 p.76
Gambar  4.23  di  atas  diketahui  bahwa  jumlah  desa/kelurahan  yang  terkena  KLB di  Provinsi  Jawa  Tengah  tahun  2008  –  2010  relatif stabil  pada  kisaran  500  desa/kelurahan,  kemudian  mengalami  penurunan  yang  cukup  signifikan  menjadi  35

Gambar 4.23

di atas diketahui bahwa jumlah desa/kelurahan yang terkena KLB di Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 – 2010 relatif stabil pada kisaran 500 desa/kelurahan, kemudian mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi 35 p.77
Gambar 4.25 Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah        Tahun 2012

Gambar 4.25

Kejadian KLB Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.78
Gambar 4.28 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan       di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

Gambar 4.28

Distribusi Frekuensi Penyuluhan Massa yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.80
Gambar 4.27 Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan         di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

Gambar 4.27

Distribusi Frekuensi Penyuluhan Kelompok yang Dilakukan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.80
Tabel 4.1 Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah   menurut jenis dan pemilikan Tahun 2012

Tabel 4.1

Jumlah Rumah Sakit di Provinsi Jawa Tengah menurut jenis dan pemilikan Tahun 2012 p.85
Gambar 4.35 Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya          Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012

Gambar 4.35

Cakupan Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012 p.93
Gambar 5.3 Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2008 s/d 2012

Gambar 5.3

Persentase Posyandu Berdasarkan Strata Tahun 2008 s/d 2012 p.98
Gambar 5.4 Jumlah Posyandu Tahun 2008 s/d 2012

Gambar 5.4

Jumlah Posyandu Tahun 2008 s/d 2012 p.99
Gambar 5.14 Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 – 2012

Gambar 5.14

Rasio Tenaga Gizi Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 – 2012 p.108

Referensi

  1. Daftar Tabel
Related subjects :