• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dekomposisi dan Komoditas Penyumbang Inflasi

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 37-42)

Meningkatnya konsumsi masyarakat sehubungan dengan perayaan Idul Fitri serta dampak lanjutan kenaikan BBM subsidi memberikan

2.4 Dekomposisi dan Komoditas Penyumbang Inflasi

2.3.2 Sisi Penawaran

Sedangkan dari sisi penawaran, terjadinya gagal panen akibat serangan hama di sentra-sentra produksi di Jawa Timur menjadi salah satu pemicu naiknya harga beberapa komoditas pangan di Kalimantan Timur. Sebagai daerah pemasok utama disamping Sulawesi Selatan, gangguan panen di Jawa Timur berpengaruh langsung terhadap jumlah pasokan bahan pangan di Kalimantan Timur khususnya padi dan komoditi bumbu-bumbuan. Tingginya tingkat ketergantungan terhadap kedua wilayah tersebut membuat aspek kelancaran distribusi melalui jalur pelayaran khususnya di Laut Jawa dan Selat Makassar sangat peranan penting dalam pembentukan harga pangan di Kalimantan Timur. Gelombang laut yang cenderung tinggi di kedua perairan tersebut selama triwulan III diduga turut memperlambat distribusi bahan pangan yang berimbas pada kenaikan harga di tingkat pasar (Grafik 2.5).

Khusus di kota Tarakan, permasalahan infrastruktur di pelabuhan masih menjadi faktor pendorong inflasi dari sisi penawaran. Belum efisiennya proses bongkar muat menjadi permasalahan utama yang mengganggu dari sisi distribusi barang. Selain itu masih terdapat keterbatasan akses jalan untuk dilewati kontainer dengan ukuran lebih dari 20 ft. Pemerintah kota Tarakan terus berupaya untuk mencari solusi terbaik bagi seluruh pihak yang terlibat di pelabuhan agar proses bongkar muat menjadi lebih efisien sehingga lebih memperlancar arus distribusi barang khususnya untuk kebutuhan pokok masyarakat. Negosiasi ongkos distribusi juga sedang dilakukan oleh pemerintah kota Tarakan dalam upaya untuk menekan angka inflasi di kota tersebut.

Grafik 2.4 Rata-rata Tinggi Gelombang di Laut Jawa & Selat Makassar

Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika

2.4 Dekomposisi dan Komoditas Penyumbang Inflasi

Jika dikelompokkan (dekomposisi) berdasarkan sifat dan faktor yang mempengaruhinya, tekanan inflasi di triwulan III-2013 terutama disumbang dari naiknya harga-harga pada kelompok administered price (harga diatur oleh pemerintah) dan kelompok volatile food (harga bergejolak). Hal ini relevan dengan pembahasan sebelumnya dimana dampak lanjutan pengurangan subsidi BBM dan kenaikan TDL tahap III pada bulan Juli lalu memicu angka inflasi kelompok administered price meningkat tajam dari 6,94% di triwulan II-2013 menjadi 12,81% (yoy). Sementara itu adanya perubahan pola konsumsi pangan masyarakat menjelang

-2 -1 0 1 2 3 4 5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 2010 2011 2012 2013

Laut Jawa Selat Makassar Inflasi Kaltim (RHS)

25 Lebaran dan gangguan panen di sejumlah sentra produksi di pulau Jawa menyebabkan inflasi kelompok volatile food yang terdiri dari sejumlah komoditas seperti beras, cabe, bawang, daging, ikan dan sayuran mengalami inflasi 11,58%, lebih tinggi dari level inflasi triwulan-II yang tercatat 11,43%(grafik 2.5).

Grafik 2.5 Dekomposisi Inflasi Kaltim Grafik 2.6 Inflasi berdasarkan Kelompok Pengeluaran

Sumber: BPS Provinsi Kaltim, diolah Sumber: BPS Provinsi Kaltim, diolah

Sementara itu pada kelompok inti (core) yang harganya cenderung stabil dan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi yang bersifat fundamental juga mengalami kenaikan inflasi yang cukup tinggi meskipun andilnya terhadap pergerakan inflasi secara umum masih sangat terbatas. Laju inflasi inti tercatat naik dari 5,47% menjadi 7,62% (yoy) di periode laporan. Kenaikan inflasi inti dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal seperti nilai tukar Rupiah yang melemah hampir 17% selama triwulan III-2013, menguatnya harga beberapa komoditi internasional.

Dalam kaitan ini, kenaikan inflasi inti tidak lepas dari dampak lanjutan kenaikan harga BBM yang telah membawa harga ke level equilibrium yang baru. Analisis ini diperkuat dengan tinjauan inflasi berdasarkan kelompok pengeluaran, dimana kenaikan tekanan inflasi terjadi pada hampir semua kelompok komponen inflasi inti (grafik 2.6). Hal lainnya yang perlu dicermati adalah tekanan inflasi pada sub kelompok perumahan yang masih terus terjadi dari awal tahun 2013 mengindikasikan bahwa kebutuhan tempat tinggal masih cukup tinggi di Kalimantan Timur. Dalam triwulan ini salah satu faktor pendorong permintaan adalah kebutuhan tempat kost di tahun perkuliahan yang baru, terutama untuk mahasiswa yang berasal dari kota/provinsi lainnya. Di akhir periode triwulan, tarif upah mandor dan harga beberapa jenis bahan bangunan mulai tinggi yang menindikasikan bahwa aktivitas pengerjaan proyek-proyek khusunya pemerintah daerah mulai berjalan dan semakin digesa menjelang akhir tahun. Sebaliknya, penurunan harga (deflasi) secara umum terjadi pada sub kelompok kesehatan dimana terjadi penurunan tipis dari 4,89% pada triwulan II-2013 menjadi 4,71% (yoy) di triwulan laporan.

Dilihat dari komoditas spesifik pemicu inflasi di 3 (tiga) kota pembentuk inflasi Kalimantan Timur dapat diketahui bahwa di kota Samarinda faktor penyumbang inflasi mayoritas adalah naiknya harga BBM subsidi khususnya pada jenis bahan bakar premium (bensin). Pada tabel 2.2 juga terlihat bahwa sewa rumah mengalami kenaikan harga karena kebutuhan yang tinggi saat tahun ajaran baru perkuliahan. Sementara itu, kenaikan permintaan pada bahan makanan memberikan tekanan inflasi kepada beberapa komoditas seperti bawang

0 2 4 6 8 10 12 14 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2011 2012 2013

(% yoy) CPI Core Volatile Food Administered

-5 10 15 20 25 30

Jan Mar May Jul Sep Nov Jan Mar May Jul Sep Nov Jan Mar May Jul Sep

2011 2012 2013

BAHAN MAKANAN

MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU PERUMAHAN

SANDANG KESEHATAN PENDIDIKAN, REKREASI & OLAH RAGA TRANSPORT & KOMUNIKASI

(%

y

oy

26 merah, daging ayam ras serta produk turunannya seperti ayam goreng. Hal menarik yang terjadi di Samarinda pada periode laporan adalah adanya kenaikan biaya pendidikan cukup tinggi untuk jenis sekolah dasar di tengah tahun ajaran. Fenomena ini khususnya terjadi pada biaya pendidikan di Sekolah Dasar Swasta.

Pada saat yang bersamaan, komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi) terbesar adalah emas perhiasan yang secara langsung dipengaruhi oleh turunnya harga emas di pasar internasional. Selain itu, penurunan harga terjadi pada sejumlah komoditas pangan seperti sayuran kangkung, daun singkong, bawang putih, udang basah, gabus, bawal, lele, dan ikan kembung. Harga ikan-ikanan yang cenderung turun disebabkan faktor musim ikan di perairan selat Makassar sehingga hasil tangkapan nelayan mengalami peningkatan dari biasanya.

Tabel 2.2 Komoditas Penyumbang Inflasi/ Deflasi Terbesar di Kota Samarinda

Sumber: BPS Prov. Kaltim, diolah

Sama halnya dengan kota Samarinda, inflasi di kota Balikpapan juga dominan disumbang oleh komoditas bensin sebagaimana terdapat pada tabel 2.3. Dampak lanjutan kebijakan ini ditransmisikan secara langsung ke ekonomi yang ditandai oleh tingginya andil inflasi angkutan kota. Kebijakan pemerintah lewat kenaikan TDL juga menjadi salah satu sumber tekanan inflasi dimana sumbangan inflasi tarif listrik tercatat sebesar 0,26% (yoy). Lebih lanjut, laju pertumbuhan penduduk di kota Balikpapan memicu tingginya kebutuhan rumah tinggal yang berakhir pada naiknya biaya/tarif sewa rumah. Sedangkan pemicu inflasi dari komoditas bahan makanan antara lain adalah beras, cabe merah, bawang merah daging ayam ras dan ikan kembung.

Sebaliknya, harga beberapa komoditas juga tercatat mengalami penurunan dimana yang menjadi penyumbang deflasi terbesar adalah pada kelompok komoditas ikan segar (udang basah, trakulu, bawal dan kakap merah). Penurunan harga ini disebabkan oleh melimpahnya stok pasca melautnya kembali nelayan setelah masa Idul Fitri. Penurunan harga

Komoditas Andil Komoditas Andil Komoditas Andil

1 BAWANG PUTIH 1,57 NASI 0,46 BENSIN 1,66

2 BAWANG MERAH 1,06 SEWA RUMAH 0,44 BAWANG MERAH 1,54

3 NASI 0,46 BENSIN 0,42 SEWA RUMAH 1,25

4 MIE 0,33 BAWANG MERAH 0,38 DAGING AYAM RAS 0,75

5 AYAM GORENG 0,29 AYAM GORENG 0,30 AYAM GORENG 0,57

6 IKAN BAKAR 0,22 BERAS 0,25 TUKANG BUKAN MANDOR 0,53

7 SEWA RUMAH 0,20 LAYANG 0,24 MARTABAK 0,42

8 DAGING AYAM RAS 0,19 IKAN BAKAR 0,21 SEKOLAH DASAR 0,40

9 WORTEL 0,19 MIE 0,20 BERAS 0,33

10 GULA PASIR 0,18 ROKOK KRETEK FILTER 0,18 NASI 0,30

Andil inflasi 10 komoditas 4,69 Andil inflasi 10 komoditas 3,08 Andil inflasi 10 komoditas 7,74

1 LAYANG (0,12)EMAS PERHIASAN (0,28)EMAS PERHIASAN (0,14)

2 SEMEN (0,08)SEMEN (0,03)UDANG BASAH (0,08)

3 TOMAT SAYUR (0,06)BANDENG (0,03)GABUS (0,06)

4 TONGKOL (0,04)BIAWAN (0,02)KANGKUNG (0,06)

5 EMAS PERHIASAN (0,02)LABU PARANG/MANIS/MERAH (0,02)GULA PASIR (0,04)

6 SAWI HIJAU (0,02)KEMIRI (0,01)BAWANG PUTIH (0,03)

7 NANGKA MUDA (0,02)NANGKA MUDA (0,01)BAWAL (0,02)

8 KEMBUNG/GEMBUNG (0,02) LELE (0,01)

9 GABUS (0,02) DAUN SINGKONG (0,01)

10 LABU PARANG/MANIS/MERAH (0,01) KEMBUNG/GEMBUNG (0,01)

Andil deflasi 10 komoditas (0,41)Andil deflasi 10 komoditas (0,40)Andil deflasi 10 komoditas (0,47)

Jul-Sep 2013 (10,17%)

Kota Samarinda

Komoditas Penyumbang Inflasi

Komoditas Penyumbang Deflasi

27 emas internasional juga secara langsung membuat harga emas domestik turun dan berimplikasi pada deflasi komoditas emas perhiasan. Deflasi juga terjadi pada komoditas angkutan udara, minyak goreng, kacang panjang, gula pasir dan semen.

Tabel 2.3 Komoditas Penyumbang Inflasi/ Deflasi Terbesar di Kota Balikpapan

Sumber: BPS Prov. Kaltim, diolah

Selain Samarinda dan Balikpapan, kota Tarakan juga menjadi objek penghitungan inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sama seperti di dua kota lainnya, di kota Tarakan tekanan inflasi juga cukup tinggi pada triwulan III-2013. Namun demikian, faktor penyumbang inflasi terbesar justru berasal dari komoditas bawang merah dengan andil inflasi 2,55% (yoy). Selain karena tingginya permintaan, tingginya tekanan inflasi bahan makanan disebabkan kondisi geografis kota Tarakan yang terpisah dari pulau Kalimantan sehingga terdapat tambahan cost transportasi untuk hampir seluruh kebutuhan pangan yang dipenuhi dari luar daerah. Komoditas lainnya yang menjadi pemicu tekanan inflasi di kota Tarakan selama triwulan III-2013 adalah sewa rumah, tarif air minum PAM, batu bata dan angkutan udara. Sama halnya dengan kota Samarinda dan kota Balikpapan, komoditas emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang deflasi pada periode laporan (tabel 2.4).

Komoditas Andil Komoditas Andil Komoditas Andil

1 BAWANG PUTIH 3,40 SEWA RUMAH 0,96 BENSIN 1,32

2 DAGING AYAM RAS 0,76 LAYANG 0,76 SEWA RUMAH 0,96

3 CABE RAWIT 0,64 BERAS 0,47 ANGKUTAN DALAM KOTA 0,81

4 LAYANG 0,48 BENSIN 0,33 BERAS 0,64

5 BAWANG MERAH 0,43 TUKANG BUKAN MANDOR 0,25 NASI 0,52

6 BERAS 0,41 DAGING AYAM RAS 0,25 CABE MERAH 0,46

7 GULA PASIR 0,35 CABE MERAH 0,24 BAWANG MERAH 0,43

8 SEKOLAH DASAR 0,31 ANGKUTAN DALAM KOTA 0,22 DAGING AYAM RAS 0,42

9 TUKANG BUKAN MANDOR 0,20 SEKOLAH DASAR 0,20 KEMBUNG/GEMBUNG 0,29

10 ROKOK KRETEK FILTER 0,17 APEL 0,18 TARIP LISTRIK 0,26

Andil inflasi 10 komoditas 7,15 Andil inflasi 10 komoditas 3,86 Andil inflasi 10 komoditas 6,11

1 SEMEN (0,11)MINYAK GORENG (0,10) UDANG BASAH (0,17)

2 KACANG PANJANG (0,05)UDANG BASAH (0,09) ANGKUTAN UDARA (0,10)

3 ANGKUTAN UDARA (0,05)EMAS PERHIASAN (0,06) MINYAK GORENG (0,10)

4 TOMAT SAYUR (0,04)SEMEN (0,05) TRAKULU (0,09)

5 PISANG (0,03)ANGKUTAN UDARA (0,04) KACANG PANJANG (0,07)

6 KAYU BALOKAN (0,03)PISANG (0,03) GULA PASIR (0,04)

7 KELAPA (0,03)KELAPA (0,03) SEMEN (0,04)

8 BAYAM (0,02)KANGKUNG (0,03) BAWAL (0,04)

9 KANGKUNG (0,02)BAWAL (0,03) KAKAP MERAH (0,04)

10 TOMAT BUAH (0,01)TRAKULU (0,02) EMAS PERHIASAN (0,04)

Andil deflasi 10 komoditas (0,39)Andil deflasi 10 komoditas (0,48) Andil deflasi 10 komoditas (0,72)

Jul-Sep 2013 (7,95%)

Kota Balikpapan

Komoditas Penyumbang Inflasi

Komoditas Penyumbang Deflasi

28 Tabel 2.4 Komoditas Penyumbang Inflasi/ Deflasi Terbesar di Kota Tarakan

Sumber: BPS Prov. Kaltim, diolah

Komoditas Andil Komoditas Andil Komoditas Andil

1 BAWANG MERAH 1,12 KACANG PANJANG 0,73 BAWANG MERAH 2,55

2 BAWANG PUTIH 1,02 TARIP AIR MINUM PAM 0,62 LAYANG 1,56

3 CABE RAWIT 0,86 SEWA RUMAH 0,55 BENSIN 1,01

4 TARIP AIR MINUM PAM 0,64 KANGKUNG 0,54 CABE RAWIT 0,68

5 SEWA RUMAH 0,52 BAWANG MERAH 0,50 SEWA RUMAH 0,67

6 BERAS 0,43 BAYAM 0,50 TARIP AIR MINUM PAM 0,60

7 BANDENG 0,30 LAYANG 0,46 BERAS 0,52

8 PISANG 0,28 BERAS 0,45 KUE BASAH 0,39

9 ANGKUTAN UDARA 0,24 SAWI HIJAU 0,41 BATU BATA/BATU TELA 0,37

10 KANGKUNG 0,17 ANGKUTAN UDARA 0,37 ANGKUTAN UDARA 0,27

Andil inflasi 10 komoditas 5,58 Andil inflasi 10 komoditas 5,13 Andil inflasi 10 komoditas 8,62

1 KACANG PANJANG (0,25)EMAS PERHIASAN (0,07)BANDENG (0,05)

2 DAGING AYAM RAS (0,16)KELAPA (0,02)KACANG PANJANG (0,04)

3 TOMAT SAYUR (0,07)SEMEN (0,02)BAWANG PUTIH (0,03)

4 BUNCIS (0,03)MESIN CUCI (0,01)SEMEN (0,03)

5 TELUR AYAM RAS (0,03) EMAS PERHIASAN (0,02)

6 SAWI HIJAU (0,02) MESIN CUCI (0,01)

7 SEMEN (0,02) SEMANGKA (0,01)

8 BAJU MUSLIM (0,01) DAUN SINGKONG (0,01)

9 SEPATU (0,01) CELANA PENDEK (0,01)

10 CABE MERAH (0,01)

Andil deflasi 10 komoditas (0,61)Andil deflasi 10 komoditas (0,12)Andil deflasi 10 komoditas (0,21)

Jul-Sep 2013 (11,5%)

Kota Tarakan

Komoditas Penyumbang Inflasi

Komoditas Penyumbang Deflasi

29

III. Perbankan dan Sistem Pembayaran

Pertumbuhan sektor ekonomi utama yang masih beresiko berimbas

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 37-42)