BAB II : KEBERAGAMAN DAN PENDIDIKAN AGAMA
A. Demografi Wilayah
Wilayah penelitian ini adalah Kelurahan Kauman, Kec. Semarang Tengah. Sebelah Utara dibatasi dengan Purwadinatan, sebelah Selatan dibatasi oleh Kranggan, sebelah Timur dibatasi oleh Bangun Harjo, dan sebelah Barat dibatasi oleh wilayah Pandan Sari. Jumlah penduduk kurang lebih berkisar 4000 jiwa, dengan jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 5 RW, dan Rukun Tetangga (RT) berjumlah 17.
Jenis usaha industri di kelurahan Kauman mayoritas bertumpu pada pedagang/ wirausaha, yang merupakan potensi cukup besar untuk meningkatkan perekonomian di Kauman dan secara umum di Kec. Semarang Tengah. Usaha yang dilakukan masyarakat Kauman sangat bervariasi, termasuk usaha menengah ke atas dan menengah ke bawah. Di Kauman, terdapat perhotelan/losmen/penginapan, rumah makan/warung, toko-toko kelontong, toko pakaian, dan berbagai macam toko peralatan lainnya. Selain itu, usaha dengan jenis tenaga kerja juga menjadi usaha yang menjadi tumpuan banyak orang, seperti usaha angkutan umum dan parkir kendaraan.
Pak Erwin menjelaskan:
“Di Kauman, para pendatang juga turut membangun perekonomian di bidang perdagangan. Orang-orang keturunan Arab mengembangkan usaha perekonomian dengan wirausaha. Macamnya berupa toko buku dan alat-alat sekolah, kitab, pakaian, barang-barang untuk oleh-oleh haji dan umroh, dan sebagainya. Sedangkan masyarakat etnis Cina, memang terkenal memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi dan relatif pekerja keras. Jenis-jenis pekerjaan yang mereka geluti antara lain sebagai karyawan swasta, pengusaha dalam bidang penerbitan dan percetakan, penyaluran tenaga kerja, biro perjalanan, pedagang emas, pedagang kelontong, perbengkelan, dan desain grafis. Mereka yang bergerak di bidang usaha, adakalanya memperoleh pekerjaan dari orang tua mereka, kerabat dan adakalanya mereka peroleh dengan usaha sendiri. Bidang usaha yang didapatkan dari orang tua dapat dijalankan karena orang Cina pada umumnya melibatkan anak-anak mereka dalam usaha yang mereka geluti. Sebagai contoh, untuk bidang usaha penjualan makanan, membuka restoran, biasanya mengajak anak-anak untuk menangani salah satu pekerjaan di restoran itu. Sedangkan etnis jawa yang berada di kelurahan Kauman memiliki watak yang cukup sederhana. Perekonomian penduduk etnis jawa lebih dominan menjadi pegawai dan membangun usaha-usaha industri kecil, yakni industri rumah tangga. Usaha-usaha yang mereka lakukan memang relatif kecil dibandingkan dengan usaha penduduk yang lain. Mereka cukup dengan membuka warung makan sederhana, toko jajanan, counter pulsa, salon, dan usaha-usaha kecil lainnya”.1
Wilayah kampung Pungkuran kelurahan Kauman yang menjadi tempat berdirinya Rumah Pintar Bang Jo, kondisi sosio-ekonominya hampir sama dengan mayoritas
1
Wawancara dengan Pak Erwin Helmi (Lurah Kauman), pada tanggal 14 Juni 2017 di Kantor Kelurahan Kauman, Semarang
kampung lainnya di kelurahan Kauman. Mobilitas dan sirkulasi perekonomian disokong oleh para pedagang. Namun dalam penelitian ini, yang menjadi wilayah penelitian adalah penduduk pasar yang ada di kawasan Kauman, namun penduduk ini tidak memiliki tempat tinggal permanen dan identitas kependudukan, hal ini disebabkan karena mereka bertempat di wilayah non-mukim, yakni daerah pasar.
2. Kondisi Sosio-Keagamaan
Agama yang dianut oleh masyarakat Kauman sangat beragam, dan mereka hidup dalam nuansa toleransi yang cukup baik. Selama ini, antara umat yang satu dengan yang lainnya dalam sosialisasi kehidupan tidak terjadi benturan-benturan yang signifikan. Antar penganut agama yang satu dengan yang lainnya saling menghormati, sehingga kehidupan beragama berjalan dengan baik. Dalam proses kehidupan ekonomi masyarakat, banyak perusahaan yang pemilik perusahaan tidak seiman/seagama dengan karyawannya, namun tetap berjalan lancer dan tidak mengurangi aset produksi.
Seperti yang dijelaskan oleh Pak Erwin:
“ Dengan jumlah penduduk sekitar 4000 kurang 6 orang ini, penduduk Kauman memiliki berbagai macam etnis, yaitu: Jawa, Tionghoa/China, Arab dan Melayu. Begitu juga dengan agama yang mereka anut, ada Islam, Kristen dan Buddha. Meskipun demikian, mereka tetap saling menghormati, toleransi dan tidak ada kefanatikan yang menimbulkan perpecahan.”2
2
Wawancara dengan Pak Erwin Helmi (Lurah Kauman), pada tanggal 14 Juni 2017 di Kantor Kelurahan Kauman, Semarang
Sebagian besar penduduk Kauman menganut agama Islam, dan penganut agama lainnya dengan jumlah yang lebih kecil. Keberadaan Masjid Raya Semarang atau yang sering disebut dengan Masjid Kauman menjadi simbol kekuatan agama Islam di sana.
Di daerah Kauman mayoritas penduduknya beraliran NU (Nahdlatul Ulama). Di sana terdapat Pondok Pesantren Raudhatul Qur‟an yang dipimpin oleh KH. Khamad Maksum. Beliau pernah menjadi pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang dan aktif dalam kegiatan keagamaan di Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman). Kegiatan keagamaan di Masjid tersebut beliau lakukan secara rutin perbulan dengan penyelenggaraan majelis ta‟lim bersama warga sekitar.
Pondok pesantren Raudhatul Qur‟an Kauman merupakan pondok pesantren yang meluluskan para penghafal al-Qur‟an sejak tahun 1950, yang beralamat di Jl. Kauman Getekan No. 317. Letak pesantren ini berada di dekat Masjid Agung Semarang. Prioritas kurikulum yang ada di pesantren ini adalah menghafal al-Qur‟an.3
Sedangkan etnis cina di Kauman, ada yang beragama sebagaimana agama keturunan nenek moyangnya yakni Konghucu dan adapula yang beragama Islam. Cina muslim ini adalah orang-orang cina yang mengalami konversi agama ketika mereka berusia dewasa disebabkan oleh pengaruh
3
bacaan, orang dekat serta lingkungan sosial di mana mereka tinggal, dan pendidikan formal yang mereka lalui. Sistem mengenai ajaran pokok Islam tidak ada perbedaan yang signifikan dengan sistem pengetahuan yang dimiliki oleh muslim pada umumnya. Pengalaman ritual keagamaan orang cina muslim terhadap tradisi cina pada umumnya, biasanya masih ada yang melakukan tradisi cina seperti Imlek. Hal itu dilakukan untuk menghormati dan mendoakan orang tua dan keluarga mereka yang sudah meninggal.
Keberadaan masjid Kauman dan pondok pesantren beserta lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya, tidak begitu mempengaruhi keberagamaan penduduk pasar Johar. Hal ini dapat dilihat dari intensitas yang rendah dalam melakukan praktik ibadah. Penduduk pasar dalam kesehariannya hanya melakukan aktifitas ekonomi di sekitar pasar, namun sangat jarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh warga. Kehidupan mereka yang jauh dari agama ini, mewariskan sistem kehidupan yang tidak teratur kepada anak-anaknya, dan juga jauh dari agama.4
B. Rumah Pintar Bang Jo PKBI Jawa Tengah