• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KEBERAGAMAN DAN PENDIDIKAN AGAMA

3. Pemberdayaan dan Penanganan Anak

Pemberdayaan adalah sebuah proses yang dengannya orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi hidupnya. Pemberdayaan menekankan pada terpenuhinya seseorang untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.18

Pemberdayaan secara harfiah adalah membuat (seseorang) berdaya. Istilah lain untuk pemberdayaan adalah penguatan (empowerment). Pemberdayaan pada intinya adalah pemanusiaan dalam arti mendorong seseorang untuk menampilkan dan merasakan hak-hak asasinya. Di dalam pemberdayaan terkandung unsur pengakuan dan penguatan posisi seseorang melalui penegasan terhadap hak dan kewajiban yang dimiliki dalam seluruh tatanan kehidupan. Di dalam

18

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat ; Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial, (Bandung: PT Reflika Aditama, 2005), 58-59

proses pemberdayaan diusahakan agar orang berani menyuarakan dan memperjuangkan ketidakseimbangan antara hak dan kewajiban. Pemberdayaan mengutamakan usaha sendiri dati orang yang diberdayakan untuk meraih keberdayaannya.

Landasan hukum dan kebijakan penanganan anak jalanan, salah satunya diatur dalam Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, di antaranya adalah pasal 11 yang berbunyi: setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.19

Juga dijelaskan dalam UU No. 35 tahun 2014 pasal 21, bahwa: Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati pemenuhan Hak Anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya, dan bahasa, status hukum, urutan kelahiran, dan kondisi fisik dan/mental.20

Dalam kaitannya dengan hak anak, Konvensi Hak Anak (KHA) yang dideklarasikan pada tahun 1989 merupkan konvensi yang khusus mengatur hak-hak anak. KHA terdiri dari 54 pasal dan 10 prinsip hak-hak anak, yaitu: tidak membeda-bedakan, perlindungan khusus, kewarganegaraan, tumbuh

19

UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

20

UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

kembang, perlakuan khusus, kasih sayang dan pengertian, pendidikan, prioritas, tidal mempekerjakan, perdamaian dan persaudaraan. Beberapa pasal dalam KHA yang berkaitan dengan fenomena anak jalanan adalah:

1) Pasal 19: Negara berkewajiban melindungi anak-anak dari segala bentuk perlakuan salah yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain yang bertanggungjawab atas pengasuhan mereka serta untuk menyelenggarakan program-program pencegahan dan perawatan.

2) Pasal 20: Negara wajib memberikan perlindungan khusus pada anak-anak yang kehilangan lingkungan keluarga mereka dan menjamin tersedianya alternatif pengasuhan keluarga atau penempatan yang sesuai bagi anak-anak tersebut dengan mempertimbangkan latar belakang budaya anak.

3) Pasal 34: Setiap anak berhak atas perlindungan atas eksploitasi dan penganiayaan seksual termasuk pelacuran dan keterlibatan dalam pornografi.21

Dengan adanya Undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur tentang hak anak, kesejahteraan sosial dan perlindungan bagi anak, sudah seharusnya isu-isu mengenai anak jalanan, menjadi perhatian instansi terkait, perguruan tinggi, lembaga pemerhati anak, dan masyarakat luas untuk memberikan penanganan atas berbagai masalah sosial anak.

Menangani anak jalanan sama halnya dengan menangani masalah sosial lainnya, seharusnya dilakukan secara menyeluruh, artinya seluruh aspek yang menyebabkan seorang

21

anak beraktivitas di jalanan harus mendapat perhatian untuk ditangani secara serius. Penanganan anak jalanan diperlukan strategi yang holistik komprehensif.

Menurut Sudrajat yang dikutip oleh Suyanto, secara umum beberapa pendekatan yang biasa dilakukan oleh lembaga-lembaga tertentu dalam penanganan anak jalanan adalah street based, center based dan community bassed.22

Street based adalah model penanganan anak jalanan di

tempat anak jalanan itu berasal atau tinggal, kemudian para

street educator datang kepada mereka untuk berdialog,

mendampingi, memahami dan menerima situasi, serta menempatkan diri sebagai teman.

Centre based adalah pendekatan atau penanganan anak

jalanan di lembaga atau panti. Anak-anak yang masuk dalam program ini ditampung dan diberikan pelayanan di lembaga atau panti, serta perlakuan yang bersahabat dari pekerja sosial. Pada panti yang permanen, bahkan disediakan pelayanan pendidikan, keterampilan, kebutuhan dasar, kesehatan, kesenian, dan pekerjaan bagi anak-anak jalanan.

Community based yaitu model penanganan yang

melibatkan seluruh potensi masyarakat, terutama keluarga atau orang tua anak jalanan. pendekatan ini bersifat preventif, yakni mencegah anak-anak agar tidak masuk dan terjerumus dalam kehidupan jalanan. keluarga diberikan kegiatan penyuluhan

22

tentang pengasuhan anak dan upaya untuk meningkatkan taraf hidup, sementara anak-anak mereka beri kesempatan memperoleh pendidikan formal maupun informal, pengisian waktu luang, dan kegiatan lainnya yang bermanfaat. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat agar sanggup melindungi, mengasuh, dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya secara mandiri.

Dalam terminologi ini, Edi Suharto yang dikutip oleh Eka Suaib, menguraikan dengan lebih rinci beberapa strategi yang dibutuhkan untuk menangani anak jalanan sesuai dengan kondisinya. Setidaknya terdapat tujuh metode pelayanan yang dapat dilakukan pada anak jalanan, yaitu:

a. Child Based Service. Strategi ini menempatkan anak sebagai basis penerima pelayanan.

b. Institutional Based Service. Dalam strategi ini, anak yang mengalami masalah ditempatkan dalam lembaga/panti atau rumah singgah.

c. Family Based Service. Keluarga dijadikan sasaran dan medium utama pelayanan.

d. Community Based Service. Strategi yang menggunakan masyarakat sebagai pusat penanganan, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat agar ikut aktif dalam penanganan masalah anak jalanan.

e. Location Based Service. Pelayanan yang diberikan di lokasi anak mengalami masalah. Strategi ini biasanya diterapkan pada anak yang bekerja di jalan.

f. Half-way House Service. Strategi ini disebut juga strategi semi panti yang lebih terbuka untuk beberapa aktivitas, rumah belajar, rumah persinggahan anak dan keluarganya. g. State Based Service. Pelayanan dalam strategi ini bersifat makro dan tidak langsung (macro and indirect service).23

Dari berbagai pendekatan yang telah diuraikan, tidak berarti satu pendekatan yang ada lebih baik dari pendekatan yang lain. Pendekatan mana yang dipilih dan lebih tepat, akan banyak ditentukan oleh kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi anak jalanan. memberikan perlindungan sosial melalui advokasi, mencegah anak jalanan agar tidak menjadi korban tindakan eksploitatif dan ancaman kekerasan, melakukan upaya pemberdayaan yang digabungkan dengan usaha perbaikan yang relevan, penyediaan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anak jalanan, serta penciptaan kesempatan bagi anak-anak agar lebih leluasa memperoleh apa yang menjadi haknya, adalah upaya riil yang seyogyanya menjadi agenda bersama, antara pemerintah, LSM dan masyarakat pada umumnya.

23

Eka Suaib, dkk, Anak Jalanan( Latar Belakang, Dinamika Sosial dan Jaringan), 23

B. Konsep Keberagamaan