• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KEBERAGAMAN DAN PENDIDIKAN AGAMA

2. Faktor-faktor Penyebab Menjadi Anak

Dalam hasil penelitian sebelumnya, menyebutkan bahwa ada banyak faktor yang menjadi penyebab anak-anak menjadi anak jalanan. Di antara faktor yang menyebabkan anak menjadi anak jalanan adalah faktor yang berkaitan dengan tidak harmonisnya hubungan rumah tangga, masalah ekonomi, kekerasan dalam keluarga, hingga ketidakpuasan pada kondisi lingkungan mereka yang menyebabkan mereka lari dan mencari lingkungan baru yang lebih sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Beberapa faktor yang melatarbelakangi anak-anak menjadi anak jalanan, di antaranya:

10

a. Faktor pembangunan

Model pembangunan yang memusatkan pertumbuhan ekonomi di pusat-pusat kota, hal ini mengakibatkan masyarakat pedesaan melakukan urbanisasi.11 Lemahnya keterampilan menyebabkan mereka kalah dari persaingan dan menyebabkan mereka rela bekerja apapun untuk mempertahankan hidupnya. Ketika mereka hidup bersama anak-anak mereka, maka secara tidak langsung anak-anak mereka akan mengikuti jejak orang tuanya dan rentan untuk turun ke jalan.

b. Faktor kemiskinan

Kemiskinan merupakan faktor paling dominan yang menyebabkan munculnya anak-anak jalanan. Sebagian besar anak jalanan berasal dari keluarga miskin, baik yang berasal dari pedesaan maupun penduduk kota. Pada batas-batas tertentu, memang tekanan kemiskinan mendorong anak-anak hidup di jalanan, namun demikian kemiskinan bukan merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan anak lari rumah dan memilih hidup di jalan.12

c. Faktor kekerasan keluarga

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anak memang dapat terjadi pada semua lapisan sosial masyarakat. Namun, pada lapisan masyarakat

11

Eka Suaib, dkk, Anak Jalanan : Latar Belakang, Dinamika..., 12

12

bawah/miskin, kemungkinan terjadinya kekerasan lebih besar dengan tipe kekerasan yang lebih beragam.13Anak yang sering menjadi korban kekerasan fisik, mental maupun seksual, memiliki resiko tinggi menjadi anak jalanan. Karena jalanan sebagai wilayah bebas yang akan ditempati oleh siapapun yang tidak tahan dengan hidup yang penuh dengan tekanan kekerasan.

d. Faktor perceraian orang tua (broken home)

Perceraian orang tua yang berakhir dengan disorganisasi keluarga, akan menjadikan anak tertekan serta tidak mau memilih ikut salah satu dari kedua orang tuanya. Hal inilah yang memicu anak melarikan diri dari rumah dan hidup di jalanan.

Hubungan yang tidak harmonis dalam suatu keluarga dapat memposisikan anak pada kondisi tidak berdaya. Keadaan ini mengakibatkan keluarga kehilangan fungsinya, sehingga anak terpaksa mencari tempat lain untuk memenuhi tuntutan tumbuh kembang mereka.14

e. Faktor ikut-ikutan

Adakalanya sebelum terpengaruh faktor lingkungan, seorang anak memang berasal dari keluarga miskin,

13

Odi Shalahuddin, Anak Jalanan Perempuan, (Semarang: Yayasan Setara, 2000), 12

14

Abdul Quddus Salam, dkk, Kondisi dan Situasi Pekerja Anak pada Beberapa Sektor di Tulungagung dan Probolinggo, Jawa Timur, (Surabaya: Citra Grafika, 2004), 41

sehingga faktor lingkungan seperti diajak teman menjadi penguat untuk turun ke jalan. Namun demikian, banyak ditemukan kasus anak yang bukan berasal dari keluarga miskin dan tidak mendapat kekerasan dari keluarga, tetapi terpengaruh oleh lingkungan dan akhirnya turun ke jalan. Hal ini pada umumnya identik dengan soal gaya hidup dan untuk mencari kebebasan.15

Sering terjadi anak yang telah memasuki dunia jalanan, menceritakan pengalamannya kepada teman-temannya. Nilai-nilai kebebasan dan kemudahan mendapatkan uang akan merangsang anak-anak yang lain untuk mengikuti jejaknya.

f. Faktor budaya

Daerah yang menganjurkan anak laki-laki mengadu nasib ke daerah lain, biasanya dari desa ke kota. Ketika tempat yang ia tuju untuk mengadu nasib, ternyata tidak memberikan harapan yang pasti, sulitnya mencari pekerjaan dan tingkat persaingan yang tinggi, juga menjadi salah satu penyebab anak-anak turun ke jalan.16

Sedangkan menurut Departemen Sosial RI tahun 2004, secara umum beberapa penyebab anak-anak hidup di jalanan dapat terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

15

Aan. T. Subhansyah, dkk, Anak Jalanan Indonesia, (Yogyakarta: YLPS Humana, t.t), 20

16

a. Tingkat mikro, yaitu faktor yang berhubungan dengan anak dan keluarganya. Pada tingkat ini, biasanya anak menjadi anak jalanan disebabkan oleh faktor internal dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi atau orang tua yang mengalami perceraian.

b. Tingkat mezo. Pada tingkat ini faktor penyebab dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1) Masyarakat atau komunitas miskin mempunyai pola hidup dan budaya miskinnya sendiri. Pola hidup ini memandang bahwa anak sebagai aset untuk menunjang hidup keluarga.

2) Ada pola urbanisasi ke kota-kota besar tanpa perbekalan dan keterampilan yang memadai.

3) Ada penolakan masyarakat terhadap anak jalanan sebagai calon kriminal.

c. Tingkat makro. Pada tingkat ini, faktor penyebab dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1) Kebijakan pembangunan yang kurang menyentuh asas pemerataan antara pusat dengan daerah, sehingga kondisi masyarakat tidak stabil.

2) Tidak semua keluarga miskin dapat atau memperoleh akses pelayanan sosial yang menjadi haknya.

3) Kebijakan penanganan anak jalanan kurang bersifat sinergi, koordinatif, dan berkelanjutan. Sehingga dalam pelaksanaannya, program penanganan anak jalanan

kurang menyentuh faktor pembinaan mental sumber daya manusia anak jalanan dan keluarganya.17

Hubungan kemiskinan dengan faktor-faktor yang lain yang membuat anak-anak beresiko turun ke jalanan adalah sebagai berikut: tekanan ekonomi akibat kemiskinan membuat orang tua mengharuskan anak-anaknya menanggung beban keluarga, atau berdasarkan kesadaran anak atas kondisi keluarganya. Ada pula anak-anak dari keluarga miskin turun ke jalan setelah mendapat kekerasan dari keluarganya atau masalah lain seperti perceraian orang tua. Selain itu, faktor lingkungan sosial seperti diajak teman atau ikut-ikutan teman menjadi pemicu anak menjadi anak jalanan. Dan selanjutnya adalah akibat dari sektor pembangunan yang tidak merata pada semua lapisan masyarakat, sehingga masyarakat miskin desa melakukan urbanisasi ke kota, atau masyarakat miskin kota yang sudah lama menetap di perkotaan juga menjadi salah satu faktor munculnya fenomena anak jalanan.

Dapat disimpulkan bahwa keberadaan anak jalanan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: ketidakharmonisan dan kurangnya perhatian keluarga, kemiskinan, dan kebijakan pemerintah yang belum mampu menjangkau masyarakat marginal. Namun menurut peneliti, ada faktor-faktor lain yang menyebabkan tradisi hidup di jalan atau

17

Departemen Sosial Republik Indonesia, Pedoman Penanganan Anak Jalanan dan Perempuan, Tahun 2004

tempat-tempat umum lainnya terus meningkat adalah tidak adanya kemauan untuk merubah kondisi hidupnya, mereka cenderung pasrah dan menikmati kehidupannya yang sedang mereka jalani, sehingga status menjadi anak jalanan akan terus mereka sandang dan bahkan mereka dengan senang hati (menjadi hobi) melakukan aktivitasnya sehari-hari.