BAB II : KEBERAGAMAN DAN PENDIDIKAN AGAMA
B. Pola Pendidikan Agama Anak Jalanan
4. Non Formalistik
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa terbentuknya Rumah Pintar Bang Jo ini adalah atas dasar keprihatinan dan kepedulian terhadap nasib anak jalanan, yang kemudian berdirilah Rumah Pintar Bang Jo sebagai lembaga non pemerintah berupa LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang berada di bawah naungan PKBI Jawa Tengah. Dari sini telah nampak bahwa program pendampingan yang dilakukan juga bersifat non-formal109 yang tidak terikat pada
108
Observasi di Kanjengan (salah satu lokasi belajar Rumah Pintar), pada tanggal 18 Mei 2017
109
Pendidikan non formal dapat diartikan sebagai segala kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengalaman, pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan. Sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, bahakan lingkungan masyarakat dan negara. Sulaiman Yusuf dan Santoso Slamet, Pendidikan Luar Sekolah, (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), 91. Dalam pendidikan non formal ada dua penekanan dalam upaya mencapai tujuan, yaitu perubahan tingkah laku dan perubahan sosial. Perubahan tingkah laku ditujukan kepada anggota masyarakat yang diharapkan adanya perubahan setelah ada intervensi pemberian pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Sedangkan penekanan kedua adalah perubahan sosial, yaitu perubahan
aturan-aturan pemerintah/sistem pendidikan nasional. Pelaksanaan pendampingannya berdasarkan tujuan, kemampuan, kesepakatan, dan perencanaan lembaga yang bersangkutan. Keberadaannya lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan dan upaya mengatasi masalah real yang dihadapi oleh masyarakat atau komunitas tertentu.
Implikasinya, pembinaan terhadap anak jalanan tidak menunjukkan hubungan yang formal dan resmi. Pembinaannya tidak menekankan pada sebuah aktivitas yang terstrukur dan terjadwal secara ketat. Bentuk hubungan seperti ini dibangun agar tidak ada kesan pemaksaan dan intervensi yang berlebihan terhadap mereka. Mengingat sebagian dari mereka adalah pekerja jalanan yang menghabiskan seluruh atau sebagian waktunya di jalan. Namun dalam pelaksanaannya, anak-anak dengan sendirinya sudah mengingat di mana dan hari apa mereka harus berkumpul dan meluangkan waktunya untuk belajar bersama para pendamping dari Rumah Pintar.110
Dengan alasan yang sama, bahwa anak-anak lebih suka hidup di jalan dan menghabiskan waktunya di luar rumah, maka para pekerja sosial yang langsung terjun dan mendatangi lokasi di mana mereka sering berkumpul. Dalam kondisi semacam ini sangatlah tidak tepat sosialnya. Ini ditujukan kepada individu atau kelompok masyarakat agar terjadi gerakan yang secara sengaja diciptakan hingga timbul kesadaran untuk memperjuangkan nasibnya dan melakukan tindakan sebagai dampak hasil belajaranya dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Saleh Marzuki, Pendidikan Nonformal: Dimensi dalam Keaksaraan, Fungsional, Pelatihan dan Andragogi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), 90-91.
110
Observasi selama penelitian berlangsung di Rumah Pintar Bang Jo PKBI Jawa Tengah
jika pembinaan dilakukan secara formal. Alasan lainnya adalah karena pembinaan yang bersifat formal akan dirasa mengganggu aktivitas mereka di jalan.
Lebih lanjut, ditinjau dari faktor tujuan belajar/pendidikan, pendidikan non formal bertanggung jawab mewujudkan dan memenuhi tujuan-tujuan yang sangat luas dari segi jenis, level, maupun cakupannya. Sehingga dalam kapasitas inilah muncul anggapan bahwa pendidikan non formal bersifat multi purpose. Oleh karena itu, pembinaan yang non formalistik menjadi alternatif yang paling baik untuk diterapkan bagi komunitas anak jalanan.
Meskipun pola pendampingannya tidak bersifat formal, tidak berarti bahwa proses belajar mengajarnya dilakukan tanpa ada pedoman yang dibuat dan direncanakan. Para pekerja sosial terutama yang bertanggung jawab di bidang pendidikan, mereka membuat silabus yang diformat tiga bulan sekali untuk satu materi pembelajaran. Seperti yang dikatakan oleh kak Vivi Maryati selaku Koordinator Lokasi, ia mengatakan bahwa :
“Salah satu program pendampingan dan pembinaan yang kami berikan kepada anak binaan kami adalah “Kelompok Belajar”. Di mana dalam divisi kelompok belajar ini ada beberapa pekerja sosial yang diberikan tanggung jawab di bidang pendidikan dan pembelajaran. Program yang kami lakukan adalah menentukan tema pembelajaran tiap tri wulan (tiga bulan) sekali. Ini berarti bahwa, tiap 3 bulan tema yang kami berikan akan berganti dan berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Tema-tema yang kami berikan seperti tentang kewarganegaraan, kesenian, kesehatan, keagamaan, dan sebagainya”.111
111
Wawancara dengan Vivi Maryati (Koordinator Lokasi Rumah Pintar Bang Jo), pada tanggal 23 April 2017
Dari penjelasan di atas telah jelas bahwa meskipun program belajar di Rumah Pintar Bang Jo tidak bersifat formal layaknya pada lembaga-lembaga pendidikan lainnya, namun kelompok belajar di sini memiliki program dan pedoman yang terencana, sehingga proses pembelajarannya pun dapat direncanakan dan dievaluasi112 sesuai dengan kebutuhan.
Jenis pendidikan non-formal seperti ini secara tidak langsung dapat menunjang dan melengkapi kekurangan-kekurangan pada pendidikan formal yang ada. Secara umum, pendidikan non-formal bertujuan untuk: pertama, memperoleh keterampilan yang menekankan pada belajar fungsional yang sesuai dengan kebutuhan dalam kehidupan. Kedua, waktu pelaksanaannya relatif singkat, dan pada umumnya tidak berkesinambungan. Ketiga, pembelajaran yang partisipatif dengan penekanan belajar mandiri. Keempat, hubungan antara pengajar dan peserta didik bersifat mendatar. Pendidik adalah
112
Dalam kaitannya dengan evaluasi, setidaknya ada empat jenis evaluasi dalam pendidikan Islam: pertama, evaluasi fomatif, berfungsi untuk memperbaiki proses belajar ke arah yang lebih baik dan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan anak terhadap bahan yang diajarkan dalam suatu program pelajaran. Kedua, evaluasi sumatif berfungsi untuk menentukan program atau nilai dari anak setelah mengikuti program pelajaran dan bertujuan untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh anak didik. Ketiga, evaluasi diagnostik yang berfungsi untuk mengetahui masalah-masalah yang mengganggu yang menimbulkan kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran, tujuannya untuk mengatasi dan membantu memecahkan kesulitan atau hambatan yang dialami oleh anak. Dan keempat, evaluasi penempatan (placement) bertujuan untuk menempatkan anak didik pada kedudukan yang sebenarrnya, berdasarkan minat, bakat, kemampuan dan kesanggupan serta keadaan anak didik sehingga mereka tidak mengalami hambatan dalam mengikuti pembelajaran tertentu. Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 294-295
fasilitator bukan menggurui, dan hubungan mereka bersifat informal dan akrab, peserta didik memandang fasilitator sebagai nara sumber dan bukan sebagai instruktur.113
Pola pendidikan non-formalistik yang dilaksanakan di Rumah Pintar Bang Jo ini berfungsi sebagai pendidikan alternatif yang dikembangkan dan diimplementasikan dalam rangka membantu menyediakan layanan pendidikan bagi anak-anak jalanan yang karena berbagai hal tidak terlayani oleh jalur formal/sekolah. Sebagai implikasinya, pendampingan yang dilakukan menjadi kolaborasi yang melibatkan partisipasi masyarakat yang ada di dalamnya. Secara lebih rinci, layanan dalam bentuk non-formal ini diadakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak jalanan untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, bimbingan, dan latihan keterampilan, sehingga dapat bermanfaat paling tidak bagi dirinya sendiri untuk hidup lebih baik (better living) ke depannya.
Meskipun pola pendidikannya tidak bersifat formal, namun evaluasi tetap dilakukan oleh para pendamping Rumah Pintar Bang Jo. Karena evaluasi memiliki peran yang sangat penting, yang berperan sebagai tolok ukur tingkat keberhasilan proses pendidikan. Evaluasi harus dilakukan secara konsisten dan terus menerus sesuai dengan konsep proses pembelajaran seumur hidup. Tujuannya agar dapat diketahui kelemahan (weakness), kekuatan (strength) dan
113
Ishak Abdulhak dan Ugi Suprayogi, Penelitian Tindakan Dalam Pendidikan Non Formal, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), 25
penyimpangan (deviation) sedini mungkin untuk segera diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut.114
Proses evaluasi pendidikan agama di Rumah Pintar Bang Jo tidak dalam bentuk tes atau non tes, dan juga tidak menggunakan nilai raport dan catatan sejenisnya, akan tetapi anak sendiri yang akan menilai sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah diperolehnya. Prinsip yang dijalankan oleh para pengajar (pekerja sosial) adalah menghargai proses dan usaha maksimal untuk memberikan informasi sebanyak-banyaknya tanpa harus menguji dengan tes.115 Kak Astri menambahkan: “Sebenarnya jarang melakukan evaluasi secara sistematik kepada anak. Tetapi biasanya, setiap kali akhir pembelajaran selalu diselipkan pertanyaan seputar materi yang baru saja diajarkan”.
Selain itu, evaluasi juga bisa dilaksanakan secara langsung dengan melihat hasilnya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikatakan oleh kak Ratih:” Pengevaluasian anak dilihat dari tumbuh kembang masing-masing anak, tumbuh kembang bukan hanya sebatas fisik, tetapi juga psikisnya.”
Mekanisme evaluasi juga dilakukan dengan pengawasan yang dilakukan oleh beberapa pendamping anak jalanan dengan selalu mengontrol anak jalanan dengan cara berkunjung (home visit) atau berdialog dengan anak jalanan dengan harapan mereka tetap konsisten
114
JasaUngguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif.., 124
115
Wawancara dengan Astri Wulandari (Relawan Pengajar), tanggal 31 Mei 2017 di Rumah Pintar Bang Jo
menjalankan nilai-nilai agama yang diperoleh semasa mengikuti program di Rumah Pintar Bang Jo.116
Seperti dijelaskan oleh Kak Astri: “Pengawasan? Jelas, paling tidak untuk perilaku yang membahayakan diri mereka atau teman lainnya.117 Juga diterangkan oleh kak Ratih:” Iya, kami selalu berusaha sedekat mungkin dan semaksimal mungkin mengetahui tentang tumbuh kembang dan hal-hal yang terjadi pada anak. Di saat orang tua dan anak membutuhkan peranan Rumah Pintar di situ kami mulai ikut andil. Mulai dari pemenuhan hak-hak anak sampai pada pengoptimalan potensi anak.”118