• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESA BESAKIH, RENDANG KABUPATEN KARANGASEM

Dalam dokumen PROSIDING PENELITIAN LAPANGAN III (Halaman 33-40)

Ethropia Veademia Bramandati1), Ni Made Oka Karini2), I Ketut Suwena3)

1,2,3

Program Studi S1 Industri Perjalanan Wisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana Jl. DR. R. Goris No. 7 Denpasar, Bali

E-mail : [email protected]

Abstrak

Peristiwa Erupsi gunung agung tahun 2017 membuat pergeseran aktivitas penghidupan dan membawa dampak negatif terhadap beberapa modal penghidupan warga pelaku usaha pariwisata yang ada disekitar kawasan objek wisata Pura Besakih. yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor usaha pariwisata, Usaha pariwisata tersebut berupa usaha dagang cinderamata, usaha warung makan, Pedagang kaki lima dan pemandu wisata. Penelitian ini menggunakan metode indepth interview. Data primer merupakan data utama dalam penelitian ini. Responden dipilih menggunakan metode Snowball dan Purposive sampling. Dalam analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam dan studi kepustakaan. Hasil akhir dalam penelitian menunjukkan Strategi yang digunakan pelaku usaha pariwisata yang ada dikawasan pura Besakih pasca Erupsi Gunung Agung adalah Strategi menarik perhatian wisatawan, Strategi meningkatkan kualitas dan Strategi mencari Modal Ada lima macam modal atau asset penghidupan yang dimanfaatkan oleh pelaku usaha pariwisata, yaitu: Modal manusia, Modal Alam, Modal Sosial, Modal fisik dan modal finansial.

Kata kunci: penghidupan, strategi, pelaku usaha pariwisata Abstract

The phenomenon of the eruption Mount Agung in 2017 make shifts in activity of livelihood and bring negative impct on some capital of livelihood residents tourism businesses in the around area attraction of Besakih temple. majority of the inhabitants work in the tourism business sector, The Tourism Business in the form of souvenirs, food stalls,street vendors and tour guide. This Reserarch uses in-depth intervie. Primary data is the main data in this research. Respondents were selected using snowball and purposive sampling method. In the data analysis using qualitative descriptive analysis with collecting data technique using observation, in-depth interviews and literature study. The final result in the research indicates that The strategy used by tourism business actors in Besakih temple area after Mount Agung eruption is Strategy to attract tourists, Strategy to improve quality and the strategy of seeking a Capital there are five kinds of capital or the livelihood assets exploited by tourism business actors, namely: human capital, natural capital, social capital, physical capital and financial capital.

keywords: livelihood, strategy, tourism businesses

1. PENDAHULUAN

di kecamatan Rendang, Kabupaten Besakih merupakan sebuah desa yang terletak

Karangasem, Provinsi Bali, Indonesia. Di Desa ini terdapat objek daya tarik wisata terbesar yaitu pura besakih yang merupakan Objek Wisata Pura Terbesar Umat Beragama Hindu Di Bali. Fasiltas pendukung sektor pariwisata yang ada, berupa jasa usaha pariwisata, yang menyediakan berbagai Jenis usaha yang ada di Kawasan Pura Besakih kebutuhan wisatawan di tempat destinasi wisata.

diantaranya pedagang Rumah Makanan,Pedagang Cinderamata, Pedagang Buah buahan, Local Guide.

Peristiwa Erupsi Gunung Agung yang menimpa Desa besakih membuat pergeseran aktivitas penghidupan dan membawa dampak negatif, terhadap beberapa modal pengidupan warga pelaku usaha pariwisata. Selain itu, strategi warga dalam bertahan hidup dan meneruskan usaha mengalami suatu adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sedikit berubah secara ekonomi,

Pada dasarnya dalam penelitian ini, aset menunjukan sumber daya atau sosial, dan fisik.

kemampuan yang dimiliki pelaku usaha pariwisata untuk bertahan hidup. Aset-aset yang dapat diakses meliputi modal alam, modal sosial, modal fisik, modal manusia, modal finansial dan modal sosial. Hal ini menyangkut kepemilikan terhadap suatu barang yang dapat membantu seseorang untuk mempertahankan hidup. Modal sosial dapat menjadi sumber bagi akses pada modal alam, modal fisik, modal manusia, atau modal finasial. Modal finansial dapat meningkatkan kemampuan misalnya pelaku usaha pariwisata untuk mengakses modal manusia, modal alam, modal fisik atau modal sosial. Akses terhadap lima modal ini menentukan bagaimana strategi penghidupan yang dilakukan para pelaku usaha pariwisata di sekitar Kawasan pura Besakih paska erupsi gunung Agung.

Menurut Chambers dan Conway (1992) dalam Sri Endang Saleh (2011) konsep penghidupan yaitu: Penghidupan melingkupi berbagai cara yang dilakukan setiap orang untuk menghimpun dan memperoleh penghasilan, termasuk kapabilitas mereka, aset yang dapat dihitung, seperti ketersediaan dan sumber daya, serta aset yang tidak bisa dihitung tersebut mencakup juga tentang modal sosial. Strategi dalam aktivitas penghidupan sangat diperlukan, karena setiap daerah memiliki kerentanan tehadap situasi sosial, ekonomi, dan alam. Strategi menurut Baiquni (2007) merupakan pilihan yang dibentuk oleh asset, akses, dan aktivitas yang dipengaruhi oleh kapasitas seseorang untuk melakukannya.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di kawasan Objek Wisata Pura Besakih, desa Besakih yang terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, Indonesia. Pura Besakih lokasinya tepat berada di kaki Gunung Tertinggi di Pulau Bali Gunung Agung, dan berada di ketinggian 3.142 meter di atas permuakaan air laut, Lokasinya berjarak 65.5 KM atau 1 jam 37 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. Jadi rute yang dilalui jika dari Kuta yakni: Kuta (bandara Ngurah rai) à Sanur (Bypas Ngurah Rai) - Bypass Prof Ida Bagus Mantra - Kota Semarapura - Bukit Jambul - Besakih. Jika rute yang dilalui dari Denpasar bagian utara dengan mobil maka jarak yang ditempuh adalah sekitar 25 kilometer dengan melewati rute Denpasar - Ubud - Kota Gianyar - Kota Semarapura - belok ke kiri meuju Bukit Jambul - Besakih.

Metode yan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitan, msialnya, perilaku, motivasi, dan tindakan (Moeleong, 2009).

Informasi didapatkan dengan melakukan indepth interview atau wawancara secara mendalam kepada responden. Responden dalam penelitian ini adalah: Pelaku usaha pariwisata skala kecil yang berada di sekitar Kawasan Pura Besakih.

Penelitian ini menggunakan Data primer sebagai sumber data utama. Data primer tersebut berupa informasi hasil wawancara kepada pelaku usaha pariwisata. Selain itu, dokumentasi melengkapi data primer dalam penelitian ini. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti melakukan observasi, untuk mengetahui wilayah kajian dengan lebih baik. Data utama yang digunakan adalah data primer hasil indepth interview, divariasikan dengan hasil observasi, dokumentasi, dan hasil tinjauan pustaka. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yang merupakan gambaran dari data yang disusun sistematis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang ada. Pada prinsipnya teknik analisis deskriptif kualitatif lebih cenderung kepada kata-kata daripada deretan angka-angka. Data yang muncul dalam analisis ini lebih banyak berupa deskripsi atau gambaran-gambaran yang jelas dan objektif mengenai Strategi Penghidupan Pelaku Usaha Pariwisata Pasca Erupsi Gunung Agung di kawasan Pura Besakih.

Dasar operasional variable yang digunakan adalah teori Penghidupan melingkupi berbagai cara yang dilakukan setiap orang untuk menghimpun dan memperoleh penghasilan, termasuk kapabilitas mereka, aset yang dapat dihitung, seperti ketersediaan dan sumber daya, serta aset yang tidak bisa dihitung tersebut mencakup juga tentang modal sosial. Strategi dalam aktivitas penghidupan sangat diperlukan, karena setiap daerah memiliki kerentanan tehadap situasi sosial, ekonomi, dan alam. Menurut Chambers dan Conway (1992) dalam Sri Endang Saleh (2011). Ada lima macam modal atau asset penghidupan (Scoone, 1998; DFID, 1999), yaitu: Modal manusia, Sosial, alam, fisik, finansial.

1. Modal manusia Sebagai Modal terpenting dalam penghidupan yang memungkinkan seseorang melaksanakan strategi penghidupan serta mencapai tujuan penghidupan mereka.

2. Modal alam merupakan persediaan alam yang menghasilkan daya dukung dan nilai manfaat bagi penghidupan manusia.

3. Modal sosial merupakan modal yang menunjuk pada kualitas hubungan antara orang-orang.

4. mModal Fisik merupakan prasarana dasar dan fasilitas lain yang dibangun untuk mendukung proses penghidupan masyarakat.

5. Modal finansial merupakan sumber-sumber keuangan yang dapat digunakan dan dimanfaatkan masyarakat dalam mencapai tujuan penghidupan mereka, yaitu meliputi cadangan atau persediaan baik milik sendiri ataupun lembaga keuangan, serta berupa aliran dana teratur.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Strategi Penghidupan Pelaku Usaha Pariwisata di kawasan Pura Besakih Pasca Erupsi Gunung Agung.

Peristiwa Erupsi gunung agung tahun 2017 yang menimpa Desa besakih membuat pergeseran aktivitas penghidupan dan membawa dampak negatif, terhadap beberapa modal pengidupan warga pelaku usaha pariwisata disekitar kawasan objek wisata pura besakih. Dampak negatif yang dihasilkan secara ekonomi setelah peristiwa erupsi Gunung Agung adalah pendapatan dari usaha para pelaku pariwisata dikawasan pura besakih berkurang. Selain itu, strategi warga dalam bertahan hidup dan meneruskan usaha mengalami suatu adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sedikit berubah secara ekonomi, sosial, dan fisik. Yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor usaha pariwisata, dengan jenis usaha wisata yang bervariasi diantaranya adalah usaha rumah makan, usaha dagang cinderamata, Pedagang kaki lima dan pemandu wisata (Local guide).

Ada lima macam modal atau asset penghidupan (Scoone, 1998; DFID, 1999) yaitu: Modal Alam, Modal Sosial, Modal fisik, Modal manusia. Kelima modal penghidupan tersebut mampu mempengaruhi aktivitas dan strategi hidup seseorang. yang dimamfaakan oleh pelaku usaha pariwisata yang ada di sekitar kawasan objek wisata Pura Besakih.

1. Modal Manusia.

Seperti yang dikemukakan oleh Baiquni (2007) bahwa manusia sebagai modal rumah tangga yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan untuk mengusahakan penghidupan yang lebih baik.Modal/Aset manusia dalam penelitian ini meliputi pengetahuan, pelatihan dan keterampilan. Untuk Para pelaku usaha pariwisata yang ada di kawasan Pura Besakih sebagian besar para pelaku usaha memiliki pengetahuan yang cukup dan secara global terkait lokasi wisata pura agung besakih sehingga mereka menyadari adanya peluang usaha di lokasi tersebut. Sebagian besar pelaku usaha juga memiliki keterampilan yang bisa menjadi nilai tambah . Pelaku usaha pariwisata di kawasan pura besakih, merupakan penduduk asli, yang sebagian besar telah menempati daerah tersebut selama bertahun-tahun atau sejak mereka kecil.

2. Modal Alam.

Modal alam yang terdapat di Kawasan pura besakih bervariasi, mulai dari tanah yang subur, sumber mata air, lingkungan bersih dan ramah khas pedesaan, serta udara yang sejuk. Berbagai fasilitas yang disediakan oleh alam tersebut, dimanfaatkan oleh warga pelaku usaha pariwisata, seperti untuk usaha cinderamata dan warung makan. Selain itu, keberadaan objek wisata pura besakih tersebut juga menjadi peluang bagi warga untuk dijadikan sebagai sumber penghasilan. Usaha pariwisata bukan satu-satunya kegiatan ekonomi andalan warga, karena warga yang memiliki usaha di sektor pariwisata, ternyata memiliki mata pencarian di sektor lainnya, seperti bekerja di pemerintah diwilayah kerja kecamatan, pemerintahan desa,maupun koperasi.

Di kawasan sekitar pura besakih tersebut tidak ada lahan yang dimanfaatkan. Ketersediaan lahan kosong tidak dimamfaatkan oleh warga karena untuk menjaga kesucian pura besakih dan

juga pertanian bukanlah sektor yang padat modal. Selain itu, sebagian besar lahan yang ada, sudah dimanfaatkan untuk dibangun tempat untuk dagang dagang makanan dan dagang dagang cinderamata yang ada disekitar pura besakih tersebut.

Pasca Erupsi Gunung agung Para pelaku usaha pariwisata, tidak memanfaatkan modal alam yang ada secara langsung. Seperti untuk pedagang kaki lima penjual buah salak, pisang, jeruk,apel dan lainnya tidak memanfaatkan lahan untuk menanam buah yang akan dijual, melainkan mereka membeli buah dari tempat lain karena lahan yang ada disekitar kawasan pura besakih tidak di ijinkan oleh pemerintah karena alasan untuk menjaga kesucian pura besakih tersebut. Sedangkan Untuk para local guide yang biasaya mengantar tamu mendaki Gunung Agung mereka juga tidak memanfaatkan lahan yang ada tetapi mereka mencari pekerjaan lain seperti bekerja menjadi kuli bangunan dan ojek mengantar tamu ke Pura Besakih. Hanya Pemilik warung makan dan pemilik usaha cinderamata yang memanfaatkan secara langsung modal alam yaitu air bersih yang ada di kawasan desa besakih dalam kegiatan usaha pariwisata mereka, seperti penyediaan air untuk toilet, mandi, mencuci piring, memasak, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka .Hal ini terkait dengan strategi penghidupan yang dijalani oleh para pelaku usaha untuk pemenuhan akan pendapatan sehari-hari.

3. Modal Sosial.

Hubungan kekeluargaan antar pelaku usaha di Kawasan Pura Besakih yang dicerminkan dengan hubungan saling membantu dan menghargai. Kondisi sosial pelaku usaha pariwisata yang ada di kawasan pura besakih memiliki hubungan Sosial kemasyarakat dan Tingkat kekerabatan antar penduduk masih cukup kuat dimana kehidupan sosial mereka begitu erat. Yang merupakan ciri dari desa yang masih mengutamakan unsur-unsur sosial kemasyarakatan seperti saling membantu ketika mereka membutuh bantuan walaupun hal ini dilakukan dengan tidak ada keterikatan. Jaringan sosial yang kuat merupakan salah satu ciri dari masyarakat perdesaan. Wadah sosial yang berada di Kawasan Pura Besakih bervariasi macamnya, tergabung dalam kelompok-kelompok kecil. Ada kelompok keagamaan masyarakat, kelompok pariwisata, kelompok desa di berbagai tingkat, dan kelompok masyarakat lainnya.

Setelah peristiwa erupsi Gunung Agung, para pelaku usaha tetap meneruskan usaha pariwisata mereka, dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelum terjadinya erupsi. Kecuali local guide yang mengantar tamu mendaki gunung agung berheti dari pekerjaannya. Untuk Inovasi yang dilakukan para pelaku usaha sebatas pada apa yang mereka yakini penting, dan jarang melihat apa permintaan atau kebutuhan pasar. Dan juga dari pihak pemerintah belum mengadakan pelatihan pelatihan mengenai keterampilan untuk menjalankan usaha mereka pasca erupsi gunung agung guna bertahan dan meneruskann usahanya.

1. Modal Fisisk

Aset fisik menjadi salah satu alat yang bersifat esensial bagi keberlangsungan pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti kebutuhan papan. Keberadaan modal fisik Selain itu juga meliputi kendaraan, barang-barang elektronik, maupun tempat usaha. Kepemilikan aset fisik menjadi tumpuan dan modal bagi pelaku usaha pariwisata di kawasan Pura Besakih. Hasil penelitian dengan wawancara kepada responden Aset fisik yang paling mendominasi adalah kepemilikan kendaraan motor dan tempat usaha untuk menjalankan usaha mereka. Rata rata Semua pelaku usaha memiliki rumah pribadi yang tidak jauh dari kawasan pura besakih. Dampak fisik yang di akibatkan oleh peristiwa erupsi gunung agung tidak ada dan juga tidak ada pengurangan jumlah aset fisik warga, baik aset fisik yang bergerak, maupun yang tidak bergerak.

2. Modal Finansial.

Kondisi finansial pelaku usaha pariwisata berada dalam kondisi yang lebih baik sebelum adanya erupsi Gunung Agung. Pendapatan pelaku usaha bervariasi sebelum adanya erupsi Agung. untuk pengusaha dagang cinderamata dapat menghasilkan sekitar rp50.000 - rp300.000 perhari sedangkan pedagang kaki lima dapat menghasilkan rp.20.000 - rp80.000 pehari, pemilik warung

makan mendapat penghasilan yang mencapai rp.200.000. perhari dan local guide mendapat penghasilan yang mencapai rp.300.000-500.000 untuk setiap kali mendaki gunung agung.

Kondisi ini berubah total, pasca erupsi Gunung Agung. Pendapatan mereka sangat menurun,bahkan untuk pelaku dagang cinderamata tidak mendapatkan pemasukan dari hasil dagang mereka sampai 5 hari berturut-turut dan local guide yang biasa mengantar tamu mendaki gunung agung untuk sementara mencari pekerjaan lain seperti kuli bangunan dan ojek untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Keadaan ini membuat mereka sulit untuk menyisihkan pendapatan untuk di tabung, karena jarang ada kelebihan uang. Meskipun demikian, beberapa warga yang memiliki pekerjaa lain selain usaha pariwisata sudah memiliki tabungan dalam bentuk uang. Kondisi daerah yang rentan terhadap bencana alam, seperti yang berada di Desa Besakih membuat warga yang tinggal disana memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi, dibanding dengan di daerah lain, dengan kondisi yang lebih stabil. Adaptasi dan strategi diperlukan dalam kondisi tertentu, agar mampu bersosialisasi dengan lingkungan, dan dapat tercapai tujuan hidup yang lebih baik.

Berdasarkan Hasil wawancara terhadap responden Terdapat setidaknya beberapa strategi utama yang digunakan pelaku usaha pariwisata untuk dapat bertahan hidup dan meneruskan usaha mereka pasca erupsi gunung agung. Strategi tersebut berupa: Strategi dalam mencari modal seperti yang telah dibahas sebelumnya, Strategi dalam menarik wisatawan, dan Strategi dalam menjaga kualitas usaha. Masing-masing pelaku usaha memiliki strateginya sendiri, disesuaikan dengan konteks usaha mereka. Seperti strategi mencari modal pemilik dagang rumah makan akan berbeda dengan pedagang kaki lima, karena skala usaha mereka berbeda. Demikian juga untuk menarik perhatian wisatawan, dagang cinderamata memiliki strategi yang berbeda mereka cenderung menambah volume dagangan dan ada pula yang menambah variasi dagangan dari biasanya. Para pelaku usaha juga mengatakan bahwa kunjungan wisatawan sangat berpengaruh terhadap pendapatan mereka karena wisatawan merupakan sumber utama penghasilan. Tanpa adanya wisatawan yang berkunjung maka tidak ada pula penghasilan yang didapatkan.

Kondisi seperti ini dirasakan oleh warga pelaku usaha pariwisata. Oleh karena itu, dengan kemampuan minimal yang mereka miliki, mereka mencoba untuk meningkatkan kualitas usaha mereka, dalam berbagai aspek dan semaksimal mungkin.

Warga pelaku usaha memanfaatkan berbagai fasilitas umum dan relasi keluarga yang dimiliki, misalnya koperasi desa, komunitas keagamaan, dan lain-lain. Namun tidak ada perubahan yang signifikan yang dapat dilihat dari aplikasi strategi yang diterapkan oleh para pelaku usaha. Para pelaku usaha tidak dapat berbuat banyak, karena memang mereka tidak dilibatkan dalam pengelolaan objek wisata pura besakih, mereka hanya menunggu dari pihak pengelolaan objek wisata pura bekasih melakukan pemulihan citra pariwisata untuk meningkatkan kembali kunjungan wisata.

4. KESIMPULAN

Peristiwa Erupsi gunung agung tahun 2017 yang menimpa Desa besakih membuat pergeseran aktivitas penghidupan dan membawa dampak negatif, terhadap beberapa modal pengidupan warga pelaku usaha pariwisata disekitar kawasan objek wisata Pura Besakih. strategi warga dalam bertahan hidup dan meneruskan usaha mengalami suatu adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang sedikit berubah secara ekonomi, sosial, dan fisik. Strategi yang digunakan pelaku usaha adalah Strategi menarik perhatian wisatawan, Strategi meningkatkan kualitas dan Strategi mencari Modal Ada lima macam modal atau asset penghidupan yang dimanfaatkan oleh pengusaha pariwisata, yaitu: Modal manusia, Modal Alam, Modal Sosial, Modal fisik dan modal finansial. dan dampak negatif yang paling besar dirasakan para pelaku usaha pariwisata kawasan objek wisata pura besakih adalah adanya perubahan pada modal finansial, berupa penurunan pendapatan pasca erupsi Gunung Agung.

Ucapan Terimakasih

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat anugrah, pertolonganNya, penulis dapat menyelesaikan laporan Penelitian Lapangan III yang berjudul “Strategi Penghidupan Pelaku Usaha Pariwisata Pasca Erupsi Gunung Agung Di

”. Laporan ini Kawasan Pura Besakih Desa Besakih, Rendang Kabupaten Karangasem

diajukan guna memenuhi tugas pada mata kuliah Penelitian Lapangan III.

Laporan Penelitian Lapangan III ini dapat penulis selesaikan karena adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. I Ketut Suwena M.Hum selaku Koordinator Program Studi S1 Industri Perjalanan Wisata.

2. Ibu Ni Gusti Ayu Susrami Dewi, SST.Par.,M.Par selaku koordinator Penelitian Lapangan III.

3. Ni Made Oka Karini, M.Par, Selaku dosen Pembimbing Penelitian Lapangan III. 4. Bapak Drs. I Ketut Suwena M.Hum selaku penguji Penelitian Lapangan III.

5. Seluruh Masyarakat Di kawasan pura Besakih, desa Besakih, Rendang Kabupaten Kareng Asem.

6. Rekan-rekan mahasiswa program studi Industri Perjalanan Wisata 2015 yang telah memberikan masukan dan semangat sehingga penulisan laporan penelitian lapangan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

7. Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan ataupun membantu dalam pengerjaan Laporan Penelitian Lapangan III ini.

5. DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Baiquni, M. (2007) . Strategi Penghidupan Di Masa Krisis.Yogyakarta : Ideas Media

Undang-undang No 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

http://aulisa.blogspot.co.id/2013/07/sistem-livelihood-penghidupan-pedesaan.html (diakses pada tanggal 21 april 2018, 18.00 Wita)

https://www.kajianpustaka.com/2015/06/pengertian-dan-jenis-usaha-pariwasata.html (diakses pada tanggal 21 april 2018, 19.40 Wita)

http://besakih.desa.id/sejarah/(diakses pada tanggal 13 mei 2018, 21.55 Wita)

http://wisataindonesia77.blogspot.co.id/2014/10/objek-wisata-pura-agung-besakih-bali.html (diakses pada tanggal 13 mei 2018, 21.45 Wita)

http://erepo.unud.ac.id/18036/3/1203005182-3-BAB%20II.pdf

Ami Mardotillah,Sujali. 2013.Penghidupan Pelaku Usaha Pariwisata Pasca Erupsi Gunung

Merapi Tahun 2010 Di Desa Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman. Vol.2 No 3. Tahun 2013

Nandi. 2006. Vulkanisme. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung

Dra. Sri Endang Saleh M.Si .2014. Strategi Penghidupan Penduduk Sekitar Danau Limboto

Provins Gorontalo

Eva Alviawati. 2013. Strategi Penghidupan Rumahtangga Peternak Sapi Perah Di Desa

Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Pra Dan Pasca Erupsi Merapi 2010. Vol.27 No 2. Tahun

Hibatul Haqqi. 2016. Strategi Penghidupan Perajin Gerabah di Dusun Klipoh, Desa Wisata

Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Vol.5 No 4.Tahun 2016.

NitaYunita Ferdiani. 2016. Strategi Penghidupan Pelaku Usaha Pariwisata Kawasan Banten Lama

Dalam dokumen PROSIDING PENELITIAN LAPANGAN III (Halaman 33-40)