Putu Yolanda Yuniari1) , Ni Gusti Ayu Susrami Dewi2) , Ni Made Oka Karini3)
1,2,3
Program Studi S1 Industri Perjalanan Wisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana JL. DR. R. Goris No. 7 Denpasar, Bali
Email :[email protected]
Abstrak
Fokus dari penelitian ini adalah eksistensi dan motivasi bertahan pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana eksistensi pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung dan apa motivasi bertahan pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung. Pemandu wisata freelance merupakan pramuwisata yang hanya bekerja pada saat dibutuhkan oleh biro perjalanan wisata saja. Metode penelitian dalam penentuan dan pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik accidental sampling dengan menyebar 80 kuesioner kepada pemandu wisata freelance yang sedang melakukan kegiatan kepemanduan di daya tarik wisata wisata (1)Pura Taman Ayun, (2)Barong Dance Batubulan, (3)Penglipuran Village, (4)Tanah Lot Temple, dan (5)Tirta Gangga. Dengan 10 sub indikator pernyataan dari indikator push factor dan pull factor. Dalam analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan bantuan skala likert dan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan serta kuesioner. Hasil akhir dalam penelitian menunjukkan bahwa dari 10 pernyataan tertinggi dalam push factor yaitu “Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi” memiliki rata – rata tertinggi dengan kategori sangat setuju yaitu sebesar 4,37. Dan pernyataan terendah “Tidak adanya keterampilan lain selain menjadi guide” dengan kategori setuju dengan rata – rata 3,35. Sedangkan dalam pull factor dengan pernyataan tertinggi sangat setuju yaitu “Banyaknya lowongan pemandu wisata freelance terutama pada high season” dengan rata – rata sebesar 4,57. Dan pernyataan terendah yaitu “Pendapatan atau penghasilan diterima setiap kali tour” dengan rata – rata 4,32
.
Kata kunci : eksistensi, motivasi bertahan, erupsi gunung agung dan pemandu wisata freelance. Abstract
The focus of this research is existence and surviving motivation of freelance tour guides in Bali after the eruption of Mount Agung. This study aims to determine how the existence of freelance tour guides in Bali after the eruption of Mount Agung and what is the motivation to survive for freelance tour guides in Bali after the eruption of Mount Agung. Freelance tour guides are guides that only work when needed by travel agencies only. The method of research in determining and sampling by accidental sampling technique, spreading 80 questionnaires to freelance tour guides who are conducting the activities of tourist destinaions (1) Taman Ayun Temple, (2) Barong Dance Batubulan, 3) Penglipuran Village, (4) Tanah Lot Temple, and (5) Tirta Gangga. With 10 sub indicator statements of push factor and pull factor. In data analysis using qualitative descriptive analysis with likert scale and data collection techniques using observation, in-depth interview, literature study and questionnaire. The final results showed that of the 10 highest statements in the push factor "To needs of the economy purpose" has the highest average with category strongly agree that equal to 4.37. And the lowest statement "Doesn’t has of skills other than a guide" with the category agreed with an average of 3.35. While in the pull factor with the highest statement strongly agree "The number of vacancy freelance tour guides especially in high season" with an average of 4.57. And the lowest statement is "Income are received every time the tour" with an average 4.32.
1. Pendahuluan
Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata internasional yang sangat terkenal didunia. Kepariwisataan merupakan bagian yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan lagi dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan di Bali. Selain terkenal dengan keindahan kesenian dan budayanya, Bali juga terkenal dengan keindahan alamnya yaitu gunung – gunung yang mempesona. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan di antara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi salah satunya Gunung Agung. Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Gunung Agung yang banyak dikunjungi wisatawan itu pun pernah meletus dengan hebat pada Februari 1963 hingga Januari 1964. Dan pada bulan September 2017, peningkatan aktivitas gemuruh dan seismik di sekitar gunung berapi menaikkan status normal menjadi waspada. Pada tanggal 26 November 2017, pukul 23:37 WITA, sebuah letusan kedua terjadi. Ini adalah letusan kedua yang meletus dalam waktu kurang dari seminggu dan Bandara I Gusti Ngurah Rai pun sempat ditutup selama 3 hari pada tanggal 27 November 2017 hingga 30 November 2017. Hal tersebut sementara waktu mematikan kegiatan pariwisata di Bali. Dari penutupan Bandara ini rata – rata wisatawan mengurungkan niatnya untuk berlibur ke Bali dikarenakan status Gunung Agung yang tidak stabil. Dilihat dari kunjungan wisatawan khusunya mancanegara tercatat sempat menurun seperti yang dijabarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu, kunjungan wisatawan mancanegara pada Oktober 2017 sebesar 1,16 juta kunjungan, angka ini turun 4,54 persen dibanding September 2017.
Dengan dari adanya erupsi Gunung Agung di Bali yang membuat penurunan dalam sektor pariwisata, terdapat salah satu pekerja pariwisata yang terkena dampak akibat lesunya pariwisata saat erupsi yaitu pramuwisata atau pemandu wisata freelance. Pramuwisata berasal dari bahasa Sansekerta yaitu pramu, wis dan ata. Pramu berarti pelayan atau orang yang melayani, wis berarti tempat dan ata berarti banyak. Pemandu wisata diklasifikasikan berdasarkan status salah satunya ialah part time/ freelance guide merupakan pramuwisata yang bekerja pada suatu perusahaan perjalanan untuk kegiatan tertentu dan dibayar untuk tiap pekerjaan yang dilakukan serta terikat oleh suatu biro perjalanan wisata tertentu. Pemandu wisata freelance di Bali terbilang cukup banyak, adapun data pemandu wisata freelance di Bali berdasarkan divisi bahasa yang diambil berikut ini:
Tabel 1.1 Data Jumlah Pemandu Wisata Berdasarkan Divisi Masing – masing Bahasa Hingga tahun 2017
Bahasa (orang) Jumlah
(orang)
Jepang Belanda Domestik(B. Indo) Inggris Italia Jerman Korea Mandarin Perancis Rusia Spanyol
795 89 524 1.069 100 221 603 1.077 176 66 90 4.810 Sumber : DPD HPI Bali 2017
Pada Tabel 1.1 dapat dijelaskan bahwa pemandu wisata freelance di Bali dengan berdasarkan bahasa asing yang digunakan dalam kepemanduan yaitu Bahasa Jepang dengan 795 orang, Belanda dengan 89 orang, Bahasa Indonesia dengan 524 orang, Inggris dengan 1.069 orang, Italia dengan 100 orang, Jerman dengan 221 orang, Korea dengan 603 orang, Mandarin dengan 1.077 orang, Perancis dengan 176 orang, Rusia dengan 66 orang, dan Spanyol dengan 90 orang dengan total keseluruhan yaitu 4.810 orang hingga tahun 2017.
Banyaknya pemandu wisata freelance yang terdaftar sebagai anggota HPI Bali seperti yang dijabarkan oleh Ketua HPI Bali hingga pertengahan tahun 2018 yaitu Bapak I Nyoman Nuarta sebesar 80 persen dari total keseluruhan pramuwisata yang terdaftar dan memiliki lisensi untuk melakukan kepemanduan. Pemandu wisata freelance biasanya hanya bekerja pada saat diperlukan oleh suatu biro perjalanan wisata saja. Pada saat terjadinya erupsi Gunung Agung yang mengakibatkan sektor pariwisata di Bali turun, pemandu wisata freelance sebagian besar tidak
dapat melakukan aktivitas kepemanduannya seperti saat sebelum adanya erupsi Gunung Agung tersebut. Pemandu wisata freelance merupakan salah satu penunjang pariwisata yang memang seharusnya diberikan perhatian oleh pemerintah karena seperti pada saat peak season para pemandu wisata freelance ini lah yang membantu memberikan kesan pertama kepada wisatawan khususnya bagi wisatawan mancanegara yang menggunakan biro perjalanan wisata. Dalam hasil penelitian ini dapat diharapkan dapat memberikan sumber informasi kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan potensi pemandu wisata freelance itu sendiri.
2. METODE PENELITIAN
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu kualitatif dan kuantitatif. Sumber data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari narasumber di lokasi penelitian, seperti data yang di peroleh dari hasil penyebaran kuesioner terstruktur kepada pemandu wisata freelance tentang dampak pasca erupsi Gunung Agung terhadap eksistensi dan motivasi bertahan pemandu wisata freelance.Dan yang menjadi sumber data sekunder adalah buku serta situs di internet yang berkenaan dengan penelitian ini yaitu mengenai dampak pasca erupsi Gunung Agung terhadap eksistensi dan motivasi bertahan pemandu wisata freelance.Untuk jenis kuisioner, digunakan skala Likert menurut Sugiyono (2014:168) yaitu skala yang akan mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyatan atau pertanyaan.
Sampel dalam penelitian adalah pemandu wisata freelance di Bali yang mempunyai karakteristik yang sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian dan dapat di jadikan responden. Penentuan jumlah sampel yang representative menurut Hair et al. (1995 dalam Kiswati 2010) adalah tergantung pada jumlah indikator dikali 5 sampai 10. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah :
Sampel = jumlah indikator x 8 = 10 x 8
= 80
Berdasarkan perhitungan di atas di dapat untuk sampel minimum menggunakan 80 sampel responden.
Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis disini adalah analisis deskriptif kualitatif dengan bantuan skala likert.Analisis deskriptif kualitatif hanya akan mendeskripsikan keadaan suatu gejala yang telah direkam melalui alat ukur kemudian diolah sesuai dengan fungsinya.Dengan demikian hasil olahan data dengan statistik ini hanya sampai pada tahap deskripsi, belum sampai pada tahap generalisasi. Dalam penelitian ini hasil kuesioner dengan tabulasi dimana setiap pernyataan yang ada dalam kuesioner dengan 5 skala jawaban dengan memberikan skor pada setiap jawaban yaitu:
1. Jawaban sangat setuju (SS) dengan skor 5 2. Jawaban setuju (S) dengan skor 4
3. Jawaban netral (N) dengan skor 3 4. Jawaban tidak setuju (TS) dengan skor 2
5. Jabawan sangat tidak setuju (STS) dengan skor 1 (Kusmayadi dan Endar,2000:49).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
a. Eksistensi Pemandu Wisata Freelance di Bali Pasca Erupsi Gunung Agung
Sejarah Awal Terbentuknya Pemandu Wisata Freelance yang bernaung di Organisasi HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) diresmikan oleh Presiden RI pertama, Ir. Sukarno, ternyata berdampak sangat luas terhadap pembangunan kepariwisataan Bali terutama terhadap Pemandu
Wisata atau Guide yang beroperasi di Bali Beach Hotel Denpasar. Jumlah pemandu wisata saat itu sangat langka dan bisa dihitung dengan jari, mengingat penguasaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris sangat terbatas. Pada masa itu, untuk mendapatkan tamu, pemandu wisata harus menjemput langsung ke Bandara Udara Ngurah Rai dengan menyewa kendaraan sendiri. Hal itu mengingat belum adanya semacam Biro Perjalanan seperti sekarang ini yang juga mengatur kegiatan pemandu wisata. Dalam melaksanakan kegiatannya, diantara para pramuwisata dulunya sangat tidak teratur dan sering berebut untuk mendapatkan turis. Hal itu sering terjadi mengingat belum adanya asosiasi yang mengatur dan membina mereka dalam melaksanakan kegiatan pemanduan maka dibentuklah yang sekarang bernama HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia). Pemandu wisata ada dua yaitu pemandu wisata umum dan khusus. Pramuwisata umum adalah yang melakukan kegiatan kepemanduan diwilayah Provinsi Bali, sedangkan pramuwisata khusus adalah pramuwisata yang wilayah kerjanya ada di daya tarik wisata seperti di Pura Besakih, Goa Gajah dll. Pramuwisata khusus tidak boleh bekerja sebagai pemandu di Provinsi Bali melainkan hanya khusus di DTW yang telah ditentukan karena lisensi pemandu wisata khusus dikeluarkan oleh Kabupaten, berbeda dengan pramuwisata umum, lisensi menjadi seorang pramuwisata umum dikeluarkan oleh Provinsi dan pemandu wisata freelance termasuk kedalam pramuwisata umum. Pemandu wisata freelance hanya akan melakukan kegiatan kepemanduan jikalau BPW yang menaunginya menghubungi pramuwisata tersebut saja. Oleh karena itu pada saat erupsi Gunung Agung berdampak pada kegiatan pariwisata khususnya dalam bidang tour and travel. Banyak wisatawan khususnya mancanegara yang membatalkan jadwal liburan mereka di berbagai biro perjalanan wisata. Hal ini berdampak pada produktifitas kerja pemandu wisata freelance yang sangat bergantung terhadap kedatangan wisatawan. Namun target wisatawan saat terjadinya erupsi Gunung Agung, target wisatawan beralih ke wisatawan domestik seperti wisatawan yang dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dll. Yang bisa dikatakan tidak mengalami penurunan yang signifikan.
b. Karakteristik Pemandu Wisata Freelance di Bali
Berikut adalah karakteristik pemandu wisata freelance di Bali dilihat dari frekuensi dan presentase tertinggi. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, dari 80 responden kemudian dianalisis menggunakan Skala Likert dan dari daftar pernyataan dapat dijabarkan hasilnya sebagai berikut:
Tabel 3.1
Karakteristik Pemandu Wisata Freelance di Bali
Karakteristik Frekuensi (orang) Presentase (%)
Berdasarkan Umur Umur diatas 48 tahun 27 33,75 Berdasarkan Asal Kota Denpasar 17 21,25 Berdasarkan Status Kawin 70 87,5 Perkawinan
Berdasarkan Pendidikan SMA/K 54 67,5 Terakhir
Berdasarkan Instansi BPW 68 85 Tempat Bekerja
Berdasarkan Lama Menjadi >10 Tahun 32 40 Pemandu Wisata Freelance
Berdasarkan Bahasa Asing Inggris 38 47,5 yang Dikuasai
Berdasarkan Guiding Menjadi Ya 71 88,75 Pekerjaan Utama
Berdasarkan Pendapatan Rp. 3.000.000 – Rp. 4.000.000 44 55 Perbulan
Dari Tabel 3.1 diatas merupakan karakteristik pemandu wisata freelance yang dapat dijelaskan bahwa karakteristik pemandu wisata freelance berdasarkan umur memiliki presentase tertinggi yaitu 33,75%, berdasarkan asal dengan 87,5% berasal dari Kota Denpasar, berstatus kawin dengan 87,5%, memiliki pendidikan terakhir SMA/K sebesar 67,5%, 85% bernaung dalam Biro Perjalanan Wisata, >10 tahun menjadi pemandu wisata freelance sebesar 40%, berdasarkan bahasa asing yang dikuasai yaitu Inggris sebesar 47,5%, dan guiding menjadi pekerjaan utama dengan hasil “ya” sebesar 88,75% serta berdasarkan pendapatan perbulan sebesar Rp. 3.000.000 – Rp. 4.000.000 dengan presentase 55%.
c. Rata – Rata Motivasi Bertahan Pemandu Wisata Freelance di BaliPasca Erupsi Gunung Agung Berikut rata – rata hasil setiap indikator motivasi bertahan pemandu wisata freelance di balipasca erupsi Gunung Agung yakni dalam faktor dorongan dalam diri atau push factor dan faktor penarik dari luar atau pull factor yang diambil dari 80 responden dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2
Rata – Rata Motivasi Bertahan Pemandu Wisata Freelance di Bali Pasca Erupsi Gunung Agung
No. Indikator Frekuensi (orang) Total Rata Kategori Skor –Rata
SS (5) S (4) N (3) TS (2) STS (1)
Push Factor
1. Untuk memenuhi 165 176 9 0 0 350 4,37 Sangat Setuju Kebutuhan ekonomi
2. Tidak adanya keterampilan 50 132 48 34 4 268 3,35 Netral lain selain menjadi guide
3. Keterbasan usia jika melamar 60 128 54 26 5 273 3,41 Setuju di bidang lain
4. Pemenuhan akan penghargaan 65 108 81 24 1 279 3,48 Setuju dari orang lain
5. Menghilangkan kejenuhan 70 204 36 2 2 314 3,92 Sangat Setuju dirumah
Pull Factor
1. Suasana kerja yang nyaman 180 168 3 2 0 353 4,41 Sangat Setuju 2. Keramahtamahan rekan 220 140 3 0 0 363 4,53 Sangat Setuju
seprofesi
3. Banyaknya lowongan 230 136 0 0 0 366 4,57 Sangat Setuju pemandu wisata freelance
terutama pada high season
4. Jadwal kerja yang bisa 225 116 18 0 0 359 4,48 Sangat Setuju disesuaikan
5. Pendapatan atau 165 160 21 0 0 346 4,32 Sangat Setuju penghasilan diterima setiap
kali tour
Sumber: Hasil penelitian tahun 2018
Dari Tabel 3.2 diatas, dapat dijabarkan bahwa dalam faktor dorongan dari dalam diri sendiri atau push factor dengan pernyataan “Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi” memiliki rata – rata tertinggi dengan kategori sangat setuju yaitu sebesar 4,3. Dan pernyataan terendah yaitu “Tidak adanya keterampilan lain selain menjadi guide” dengan kategori setuju dengan rata – rata 3,35. Sedangkan motivasi pemandu wisata freelance bertahan pasca erupsi Gunung Agung yang dilihat dari faktor penarik atau pull factor yang memiliki rata – rata tertinggi dan dengan kategori
sangat setuju pada keseluruhan sub indikatornya yaitu pada “Banyaknya lowongan pemandu wisata
freelance terutama pada high season” dengan rata – rata sebesar 4,57. Dan sub indikator yang
terendah dalam pull factor yaitu “Pendapatan atau penghasilan diterima setiap kali tour” dengan rata – rata 4,32.
3.2 Pembahasan
Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu yang terdiri dari demografi seperti jenis kelamin, umur serta status sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, status ekonomi dan sebagainya. Dalam penelitian ini, karakteristik pemandu wisata freelance di Bali terdiri dari umur, asal, status perkawinan, pendidikan, instansi, lama bekerja, bahasa yang dikuasai dan pendapatan rata-rata perbulan. Sedangkan dalam variable eksistensi atau keberadaan, dimana keberadaan yang dimaksud adalah adanya pengaruh atas ada atau tidak adanya sesuatu. Eksistensi dalam peneltian ini yaitu mengenai sejarah tebentukya pemandu wisata freelance, dan perkembangan pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung. Sejarah terbentuknya pemandu wisata
freelance bisa dikatakan sudah terbentuk sejak lama walaupun pada awal pembentukan asosiasi
yang menaunginya sempat beberapa kali berganti nama yang sekarang bernama Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), sekarang pemandu wisata freelance sudah lebih teratur dalam melakukan kegiatan kepemanduan. Perkembangan pemandu wisata freelance dari tahun ketahun cukup stabil tetapi hal yang berbeda terjadi saat adanya erupsi Gunung Agung, dimana kegiatan kepemanduan oleh pemandu wisata freelance mengalami penurunan. Namun saat terjadinya penurunan kegiatan kepemanduan, pemandu wisata freelance memiliki kegiatan salah satunya seperti berdagang agar terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga.
Pada motivasi bertahan, motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau suatu tujuan. Motivasi dikatagorikan menjadi dua dimensi, pertama yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor). Dalam penelitian ini, pada indikator push
factor dengan sub indikator tertinggi yaitu “Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi” memiliki rata –
rata tertinggi dengan kategori sangat setuju yaitu dengan rata-rata sebesar 4,3. Hal ini dapat dikatakan bahwa pemandu wisata freelance melalukan kegiatan kepemanduan dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Dapat dilihat pada Tabel 3.1 bahwa pemandu wisata
freelance sebagian besar sudah berumur, dimana banyak perusahaan yang tidak menerima
karyawan yang sudah berumur yang bekerja di perusahaan mereka, maka alternatif lainnya yaitu dengan menjadi pemandu wisata freelance dan pemandu wisata freelance dapat memenuhi kebutuhan ekonominya. Sedangkan motivasi pemandu wisata freelance bertahan pasca erupsi Gunung Agung yang dilihat dari faktor penarik atau pull factor yang memiliki rata – rata tertinggi dan dengan kategori sangat setuju pada keseluruhan sub indikatornya yaitu pada sub indikator “Banyaknya lowongan pemandu wisata freelance terutama pada high season” dengan rata – rata sebesar 4,57. Hal ini dapat dikatakan bahwa faktor penarik dari luar yang membuat pemandu wisata freelance bertahan ialah tawaran dari BPW yang membutuhkan tenaga lebih ketika menangani wisatawan pada high season. Dapat dilihat pada Tabel 3.1 yaitu pemandu wisata
freelance sebanyak 85% bernaung dalam biro perjalanan wisata.
Berdasarkan Tabel 3.2 diatas, maka dapat dijelaskan bahwa rata- rata jawaban dari seluruh responden yaitu sebanyak 80 responden mengenai motivasi bertahan menjadi pemandu wisata
freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung dengan indikator push factor dan pull factor yaitu
dalam indikator push factor yakni subindikator “Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi” memiliki rata – rata tertinggi dengan kategori sangat setuju yaitu sebesar 4,37 dari skala tertinggi dalam skala likert yaitu 5,00. Sedangkan sub indikator “Menghilangkan kejenuhan dirumah” dengan kategori sangat setuju memiliki rata – rata sebesar 3,35. Sub indikator yang ketiga dalam push factor ini yaitu “Pemenuhan akan penghargaan dari orang lain” dengan kategori setuju yaitu sebesar 3,48. Indikator “Keterbatasan usia jika melamar dibidang lain” dengan kategori sejutu rata-ratanya sebesar 3,41. Dan sub indikator “Tidak adanya keterampilan lain selain menjadi guide” dengan kategori setuju dengan rata – rata 3,35. Hal ini menunjukkan bahwa dalam faktor pendorong atau
push factor, motivasi pemandu wisata freelance bertahan menjadi pramuwisata karena untuk
pemenuhan kebutuhan ekonomi.
Dan berdasarkan Tabel 3.2 diatas motivasi pemandu wisata freelance bertahan pasca erupsi Gunung Agung yang dilihat dari faktor penarik atau pull factor yang memiliki kategori sangat setuju pada keseluruhan sub indikatornya yaitu pada sub indikator “Banyaknya lowongan pemandu wisata freelance terutama pada high season” dengan rata – rata sebesar 4,57. Sub indikator tertinggi kedua yaitu “Keramahtamahan rekan seprofesi” dengan rata – rata sebesar 4,53. Sub indikator “Jadwal kerja yang bisa disesuaikan” dengan rata – rata sebesar 4,48. Sub indikator “Suasana kerja yang nyaman” dengan rata – rata 4,41%. Dan sub indikator yang terakhir yaitu “Pendapatan atau penghasilan diterima setiap kali tour” dengan rata – rata 4,32. Hal ini membuktikan bahwa motivasi bertahan pada pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung dalam indikator faktor penarik atau pull factor yakni pada “Banyaknya lowongan pemandu wisata freelance terutama pada high season” yang menjadi motivasi utama pemandu wisata freelance di Balitetap bertahan pasca erupsi Gunung Agung. Kedua pengakuan diatas menunjukkan bahwa motivasi pemandu wisata freelance bertahan menjadi pramuwisata baik sebelum maupun pasca erupsi dilihat dari kedua indikator yaitu push factor dan pull factor adalah untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dan karena banyaknya lowongan pemandu wisata freelance terutama pada high season.
4. KESIMPULAN
Dari adanya eksistensi dan motivasi bertahan pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Eksistensi atau keberadaan pemandu wisata freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung dilihat dari terbentuknya pemandu wisata freelance yang bernaung di Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali yaitu pemandu wisata freelance masih tetap eksis sejak lama dan terus berkembang setiap tahunnya. Pemandu wisata freelance juga memiliki induk yaitu pemandu wisata murni,campuran dan staff. Perkembangan pemandu wisata
freelance di Bali pasca erupsi Gunung Agung dikatakan menurun namun seiring