Candi dan keraton
8. Desain, makna serta persangkutan sekte-sekte Tantrik
8. Desain, makna serta persangkutan sekte-sekte Tantrik
Apakah betul atau tidak halaman pusat kompleks percandian Prambanan berfungsi sebagai waduk untuk air suci, namun kita tidak dapat menafikan kesimpulan bahwa candi itu dibangun sesuai dengan rencana yang sudah dipikirkan sebelumnya. Sebab, seandainya pun pendapat Aichele tadi benar dan hanya candi Śiva yang didirikan pada tahun 856 M, namun tetap merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat digugat bahwa candi itu dibangun di atas teras batu yang ditinggikan yang niscaya sudah dibangun lebih dahulu. Mesti beginilah pula kesimpulan Krom, atau ia tidak akan menekankan sedemikian gigih kenyataan bahwa kekokohan fondasi menjadi persoalan yang banyak diperhatikan oleh para arsitek pada masa terakhir sejarah Jawa Tengah.
Persoalan itu niscaya terus mengusik pikirannya, karena ia mengusulkan dalam salah satu dari publikasinya yang terakhir bahwa sistem yang ia sebut tembok-tembok di bawah tanah “primitif” yang menjadi fondasi halaman bagian dalam dari Loro Jonggrang barangkali asalnya merupakan sisa-sisa dari satu kuil [berteras] Indonesia kuno (Krom 1939:200). Hal ini nyaris tidak mungkin bagi Bernet Kempers (1955:38, catatan kaki no. 39), walaupun ia tidak memerinci keberatan-keberatannya.
Kemustahilan pendapat Krom bisa diperlihatkan, hemat saya, dengan menandaskan bahwa kuil-kuil berteras Indonesia kuno terletak di pegunungan, alih-alih di dataran rendah. Di samping itu, mendirikan sebuah candi Hindu di atas puing-puing reruntuhan dari sebuah kuil pribumi bertentangan dengan pengamatan Krom sendiri menyangkut konservatisme peribadatan Hindu. Sebelumnya Krom pernah menulis:
“Bahkan bila kita memperhatikan adanya ciri-ciri khas Jawa dalam kuil-kuil resmi ini, namun pada umumnya agama tersebut cenderung kepada konservatisme, dan unsur-unsur non Hindu dari berbagai gagasan serta praktik religius, itu pun kalau ada, bisa diduga berada di tempat lain.” (Krom 1923b:175; lihat juga Bosch 1954.)
Lebih dari itu, amat patut dipertanyakan apakah para arsitek Hindu memiliki cukup keberanian untuk mengambil risiko mendirikan kedelapan candi yang sangat berat itu di atas sebuah fondasi dengan daya topang serta ciri-ciri teknis lainnya yang tidak dapat ditentukan secara persis. Menurut
Bosch, justru soal-soal struktural inilah yang menjadi kelemahan dari para arsitek Jawa, dan karenanya membuka diri mereka dibimbing oleh berbagai instruksi yang terdapat dalam buku-buku pegangan bangunan yang dibawa rekan-rekan seagamanya dari India.43 Argumen-argumen di atas membawa kita ke persoalan arsitektur candi Hindu, dan menyajikan kita konteks sebenarnya menyangkut masalah-masalah tentang desain dan makna.
Dalam arsitektur candi Hindu, rancangan bangunan dan maknanya dikaitkan satu sama lain secara tak terpisahkan. Dalam bahasa Belanda arsitektur candi juga disebut sebagai arsitektur yang sakral atau ditakdiskan (gewijde bouwkunst), dan tentang hal ini Bosch memberi catatan berikut:
“Sama seperti segala sesuatu yang menyangkut para dewata dibuat berdasarkan aturan-aturan yang ditetapkan dalam kitab-kitab suci, demikianlah pula hal ini berlaku pertama dan terutama untuk tempat sakral atau istana dewata yang mesti dibangun sesuai dengan kehendak yang diwahyukan sendiri oleh sang dewa agar ia kerasan di sana. Pilihan menyangkut tempat, peletakan batu pertama, penempatan arca sang dewa di bagian dalam yang paling sakral, serta tindakan-tindakan [lain] semacamnya [semuanya] harus dikerjakan sesuai dengan aturan-aturan upacara tertentu. Dalam cara serupa pemilihan bahan-bahan bangunan, ukuran denah tanah, pembangunan serta bentuk dan hiasan bangunan itu sendiri dibuat secara tegas sesuai dengan aturan-aturan.” (Bosch 1920:105-106; lihat juga Vogler 1949:10-17; Kramrisch 1976.)
Berbagai kitab di mana aturan-aturan tadi disarikan dari teks-teks suci yang ada dan disusun demi kepentingan para arsitek, pematung, dan śilpin (tukang atau pengrajin) dinamakan śilpaśāstra. Kapan risalah-risalah arsitektural ini disusun sukar ditentukan, namun Bosch menduga, berdasarkan banyaknya rujukan kitab-kitab itu pada ajaran-ajaran Tantra dan juga coraknya yang gado-gado, bahwa śilpaśāstra tidak memperoleh bentuknya yang sekarang sebelum abad ke-8 M. Namun ia yakin bahwa bahan-bahan penyusunnya jauh lebih tua. Sama pula sulitnya untuk menentukan ada berapa banyak 43 Menurut Bosch, tidak ada alasan untuk memuji para arsitek Jawa dengan bakat untuk keterampilan pandai batu, bertentangan dengan berbagai keterampilan mereka yang gamblang dalam seni hiasan. Berkenaan dengan kelemahan arsitektural yang diandaikan mereka miliki, ia mencatat bahwa: “Beruntung bagi para arisitek Jawa bahwa pembangunan kuil-kuil berdasarkan petunjuk-petunjuk śilpaśāstra tidak banyak menuntut keterampilan-keterampilan arsitektural mereka” (Bosch 1920b:151).
śilpaśāstra itu di masa lampau, walaupun pasti bahwa sekte-sekte religius
yang berbeda memiliki buku-buku petunjuknya sendiri.
Bagi para pembaca awam barangkali bermanfaat untuk berhenti sejenak guna mengkaji sampai sejauh mana para tukang mengikuti petunjuk-petunjuk terperinci yang ditetapkan dalam śilpaśāstra. Berlawanan dengan apa yang barangkali dikira, aturan-aturan yang ditetapkan dalam buku-buku pegangan itu tidak terutama demi tujuan estetis, tetapi sebaliknya demi kepentingan fungsional. Tugas seorang śilpin adalah membangun objek-objek fungsional menurut tata cara agama. Dengan membuat sebuah arca candi sesuai dengan aturan-aturan baku, diharapkan agar sang dewa yang disembah akan sudi berdiam di dalamnya serta menampakkan dirinya kepada kaum beriman dalam rangkaian upacara atau doa-doa tertentu yang maksudnya untuk membujuk sang dewa agar turun dan berdiam di arca tersebut. Sebuah candi atau arca yang dibangun secara serampangan tidak akan dimasuki sang dewa, tidak peduli apa pun nilai estetisnya, dan dengan begitu tak ada manfaatnya digunakan dalam kebaktian agama. Dampak negatif dari hal ini pun bisa lebih jauh lagi. Risalah-risalah tadi memberi peringatan berulang kali bahwa diabaikannya aturan-aturan baku tersebut akan menimbulkan rupa-rupa kecelakaan dan bencana.
Jelas bahwa batasan-batasan yang menyangkut kesenian suci itu memiliki makna penting terhadap cara bagaimana kesenian tersebut dipelajari dan dihargai. Mesti diterima secara apriori bahwa tidak ada satu pun yang mubazir atau dibiarkan mengikuti begitu saja selera pribadi sang seniman. Satu-satunya kebebasan yang mungkin tersisa bagi si arsitek dan pematung adalah dalam pilihan yang menyangkut śilpaśāstra mana yang akan mereka ikuti, sesuai dengan aturan-aturan sekte mereka.
Berdasarkan hal-hal di atas, kita mesti bertanya mengapa kompleks percandian Prambanan sebagaimana yang kita ketahui dewasa ini dahulunya dibangun dalam bentuk sebuah teras, lengkap dengan candi-candi utama dan candi-candi-candi-candi pendukung, dengan halaman-halaman berbeda yang dipisahkan satu sama lain dengan tembok yang dibangun secara berbeda pula, dan seterusnya. Pertanyaan tentang fungsi dan makna tampak kasatmata dalam semua bagian dan pada semua tingkatan. Kalau kita membuat sebuah inventaris tentang semua pertanyaan yang kurang-lebih tersurat yang kita harap terjawab tentang Loro Jonggrang berdasarkan deskripsi-deskripsi arkeologis yang ada, maka menjadi jelas bahwa hanya
segelintir saja darinya yang bersangkut paut dengan rancangan kompleks percandian itu secara keseluruhan, dan bahwa sebagian besar berkenaan dengan bagian-bagiannya yang terpisah, entah menyangkut sejumlah bangunan yang jelas-jelas saling berkaitan, atau menyangkut satu atau beberapa relief.
Penemuan ini tidaklah begitu mengherankan jika kita ingat bahwa Prambanan ditemukan ketika kompleks percandian itu tidak lebih daripada sekadar puing-puing reruntuhan yang ditutupi semak belukar, dan bahwa ukuran beserta strukturnya yang terperinci baru tersingkap secara perlahan-lahan hanya dalam proses penggalian dan pemugaran. Hanya setelah semua bagiannya telah berhasil disingkap barulah penilaian atas kompleks itu sebagai suatu keseluruhan arsitektural menjadi mungkin. Baru setelah itulah dapat diamati bahwa:
“hal pertama yang mengesankan seseorang ketika menyaksikan kompleks ini adalah kesatuannya; kesatuan tersebut menafikan pendapat bahwa misalnya pada mulanya hanya satu bagian yang dirancang dengan sengaja dan kemudian bangunan-bangunan lain ditambahkan secara kebetulan. Rancangan dan hiasan sama di mana-mana, tidak peduli dengan aneka perbedaan dalam pelaksanaannya.” (Krom 1923a:453.)
Namun demikian, kita kadang-kadang menemukan berbagai pernyataan dalam bacaan ilmiah yang menyiratkan penilaian yang tidak memadai menyangkut gagasan-gagasan para arsitek.44 Lihat saja sebagai contoh pembahasan Krom sendiri yang simpatik menyangkut pandangan Van Eerde yang sudah kita singgung sebelumnya, yaitu bahwa Prambanan adalah sebuah candi negara atau kerajaan, dan bahwa suatu perbandingan dengan candi-candi Bali akan menyanggupkan kita untuk memberi sebuah penjelasan mengenai jumlah keseluruhan candi pendukung, yang diyakini sepadan dengan jumlah pemukiman di bekas ibu kota itu (Krom 1923a:453). 44 Harus diakui bahwa saya membuat kekeliruan yang sama ketika saya mengatakan bahwa setelah pengusiran dinasti Śailendra dari Jawa, para penguasa baru mungkin pernah berupaya melaksanakan pembangunan pada skala lebih besar atau dalam perincian yang lebih indah daripada yang pada mulanya dirancang (Jordaan 1993:34). Boleh jadi bahwa perinciannya lebih indah namun secara signifikan bukan pada skala yang lebih besar atau secara struktural, sebab desain struktural telah ditetapkan sebelumnya dan tidak mungkin diubah seenaknya tanpa membahayakan rancang bangun secara keseluruhan. Sebuah contoh perombakan yang penting tapi non struktural adalah pelebaran tangga di sisi timur Candi Śiva yang disebut dalam tulisan Bernet Kempers dalam buku ini.
Ini berarti bahwa perluasan kompleks percandian berjalan kurang-lebih sejajar dengan pertumbuhan kota dan para penduduknya, sebagaimana yang malah diyakini oleh Pitono Hardjowardojo, yang mengatakan:
“Bilamana diperlukan lebih banyak arca sembahan, maka relung di dalam atau di luar candi induk ditambahkan, atau candi-candi perwara ditambahkan, yang berdiri terpisah di dalam batas-batas pagar candi. Dengan demikian seluruh kompleks percandian bisa dibangun. Loro Jonggrang adalah contoh yang baik tentang hal ini.” (1967:12.)
Pendapat tersebut niscaya salah. Saya sepakat dengan Stutterheim (1925:137) bahwa dengan begitu rancangan dan susunan bangunan-bangunan dari kompleks tersebut dibuat secara sewenang-wenang, dan bahwa tidak lebih dari kebetulan belaka bila kota itu memiliki jumlah pemukiman yang sama banyak dengan jumlah candi-candi kecil yang dibangun berderet rapi mengitari kawasan candi induk. Menurut Stutterheim, jumlah bangunan-bangunan tersebut tidak mungkin sewenang-wenang, dan mesti ada alasan-alasan lain yang mendasari pembangunannya. Sayangnya, ia tidak membahas alasan-alasan lain tersebut lebih jauh, selain mengungkapkan sebuah dugaan yang samar-samar bahwa kompleks percandian tersebut dibangun berdasarkan sistem Puranik tertentu. Ia juga tidak menyebutkan kompleks percandian di daratan Asia Tenggara di mana deretan candi-candi serupa ditemukan, agar maknanya barangkali bisa menyajikan sebuah penjelasan.45
Berkenaan dengan makna komponen-komponen khusus tersebut kita dihadapkan dengan pilihan mendasar antara sebuah penjelasan yang utama dalam rangka gagasan Jawa pribumi, atau barangkali gagasan-gagasan Asia Tenggara seumumnya, dan sebuah penjelasan dalam rangka model-model India. Prambanan menyajikan sejumlah besar contoh mengenai yang pertama, walaupun hasil-hasil riset ke arah ini sejauh ini belum terlalu meyakinkan, atau malah beberapa di antaranya meragukan.
Selain gagasan tentang kuil berteras Indonesia kuno yang sudah kita kesampingkan sebelumnya, saya kini mengarahkan perhatian pada pertanyaan menyangkut gapura utama menuju kompleks percandian 45 Hal yang sama juga tidak dilakukan Parmentier ketika ia mencatat bahwa “rancangan Candi Prambanan terbilang unik untuk pulau [Jawa], jarang ditemukan di India namun didapatkan di tempat-tempat lain, khususnya di Kamboja” (1948:84).
itu. Laporan panitia pemugaran memberi tahu kita bahwa Van Erp pada mulanya mempercayai bahwa gapura utama itu tidak mungkin berada di sisi timur, walaupun ia menyadari bahwa gapura di sisi itu kenyataannya lebih luas dan lebih monumental daripada gapura-gapura yang terdapat di sisi-sisi lain. Menurut Van Erp, argumen estetik bahwa candi-candi itu akan terlihat jauh lebih cantik dengan latar belakang Gunung Merapi mendukung letak gapura itu di sisi selatan. Juga letak jalur jalan yang ada pada waktu itu tampaknya mendukung hal ini. Sebuah keadaan yang tampaknya mendukung letak gapura utama di sisi barat adalah luasnya halaman antara candi-candi Trimūrti dan sisi tembok bagian dalam. Argumen yang menentang letak gapura utama itu di sisi timur berbunyi sebagai berikut:
“Setelah menaiki tangga-tangga di sana, kita menyaksikan bagian belakang dari tiga candi vāhana. Candi Śiva seluruhnya terhalangi oleh Candi Nandi. Selanjutnya, poros tangga-tangga tadi berada lebih dari 2 meter dari sumbu yang sebenarnya berhadap-hadapan dengan poros-poros utama Candi Nandi dan Candi Śiva.” (Van Erp sebagaimana yang dikutip dalam Verslag 1926:16.)
Tanggapan panitia pemugaran terhadap hal ini, yang boleh kita duga dipengaruhi oleh Stutterheim, yang menjadi sekretarisnya, adalah sebagai berikut:
“Menurut pandangan orang-orang Jawa tidak ada yang tidak memuaskan menyangkut model pembangunan ini; sebaliknya, hal itu sungguh berarti sebab bagaimanapun juga candi-candi vāhana berfungsi sebagai sebuah kelir atau layar yang melindungi Śiva dari pandangan manusia, yang berkenaan dengan monumen utama, di mana Mahādeva ditakhtakan. Gapura utama menuju candi itu juga terletak di sisi timur, dan karenanya sisi timur itu mesti merupakan sisi yang ‘baik’ untuk menghampiri [kompleks itu]. Hal ini juga diisyaratkan oleh pembuatan yang lebih megah dari jalan masuk sebelah timur itu. Kita memperhatikan hal yang sama dalam arsitektur Jawa Timur, tentangnya Prambanan merupakan sebuah contoh peralihan. Pergeseran poros tangga-tangga bila dibandingkan dengan poros-poros utama Candi Nandi dan Candi Śiva merupakan sebuah gejala yang dapat dilihat dalam tata letak keraton hingga dewasa ini.” (Verslag 1926:16.)
0
Bukanlah maksud saya untuk menggugat bahwa lokasi dari gapura utama itu berada di timur; ukurannya sendiri merupakan bukti yang memadai untuk hal ini. Keberatan saya berkenaan dengan pendapat bahwa paham-paham Jawa menjadi landasan untuk susunan kompleks percandian itu, dan bahwa layar permainan wayang serta tata letak keraton bisa diangkat sebagai petunjuk untuk hal ini. Hal tersebut tidak saja mengabaikan pertanyaan apakah wayang dan tata letak keraton dipijakkan pada model-model India, tetapi juga bertentangan dengan kenyataan bahwa sebuah gapura utama yang terletak di sisi timur sesungguhnya tidak cocok dengan pemahaman umum tentang tata ruang di Indonesia. Gagasan bahwa penempatan sebuah bangunan pada poros timur-barat mesti dihindari terbilang jauh lebih lazim, karena poros itu adalah ‘jalan matahari’. Hal ini berlaku tidak saja untuk rumah-rumah penduduk desa, tetapi juga untuk istana raja, dan inilah alasan mengapa kebanyakan keraton Jawa diposisikan pada poros utara-selatan (Behrend 1989). Pergeseran poros gapura terhadap candi-candi itu, serta hubungannya dengan pengaturan bangunan-bangunan keraton, terbilang benar-benar mencolok dan boleh jadi melibatkan pertimbangan ini. Namun jawabannya yang pasti membutuhkan penelitian lebih lanjut.46 Namun landasan untuk mempelajari segi-segi arsitektural rancang bangun candi Hindu-Jawa belum lagi diletakkan. Saya cuma mengenal telaah eksploratif awal yang dilakukan Bosch (1920), yang lebih dari itu tidak secara langsung berpautan dengan Loro Jonggrang, tetapi sebaliknya ditujukan untuk menjadikan gagasan tentang penggunaan śilpaśāstra dalam pembangunan candi Jawa dapat diterima secara lebih umum lagi.47 Agak mengejutkan bahwa Bosch berhasil dalam ikhtiarnya ini, mengingat bahwa pada waktu itu yang tersedia baginya hanyalah teks dari satu
śilpaśāstra saja, yakni Mānasāra, dan teks itu pun cuma dikenal dalam
bentuk yang tidak lengkap lagi rusak. Tambahan pula, risalah tersebut berasal dari dan digunakan di India Selatan. Sebagaimana yang sekarang kita ketahui, pengaruh dari India Utara, khususnya dari Nālandā dan 46 Bahwa pandangan manusia mesti disembunyikan dari tatapan Śiva memerlukan penjelasan tertentu. Lebih dari itu, tidak dilaporkan apakah kaidah ini bercorak Jawa atau memiliki asal-usul India. Pernyataan tegas ini semestinya didukung oleh contoh-contoh etnografis atau dengan kutipan-kutipan dari ajaran-ajaran dogma Hindu.
47 Menyangkut Jawa Tengah, riset perintisan Bosch hanya diikuti oleh studi Van Blom (1935) tentang Candi Sojiwan. Mesti disinggung pula secara terpisah di sini karya Van Erp (1909, 1943) ketika riset arsitektural dan ikonografisnya memiliki kelasnya tersendiri.
Bengali, jauh lebih penting, sekurang-kurangnya selama zaman Śailendra dalam sejarah Jawa, ketika Borobudur dan Prambanan dibangun. Bosch menarik kesimpulan ganda. Walaupun jumlah dan corak perbedaan di antara seni Mānasāra dan seni Jawa membuktikan bahwa Mānasāra tidak mungkin menjadi teks utama yang memandu para arsitek Jawa, namun di lain pihak kemiripan yang ditemukan begitu banyaknya dan sedemikian mengherankan sehingga tak pelak lagi bahwa aturan-aturan artistik yang berjenis sama mesti mereka kenal dan gunakan.
Begitulah keadaannya sampai sekarang. Minat dalam tema ini telah berkembang dan sekaligus juga lebih kokoh dilandaskan sejak itu, khususnya di India, sebagaimana yang tersaksikan dari kajian Kramrisch (1946) yang kini telah dianggap klasik. Namun hal yang serupa hampir tidak dapat dikatakan tentang Jawa, dan beberapa argumen yang dianjurkan berkenaan dengan Prambanan masih tetap tidak lebih daripada sekadar terkaan semata.
Angkat sebagai contoh, berbagai penegasan tentang fungsi dan makna pengaturan delapan candi kelir dan candi patok di sepanjang bagian dalam tembok pembatas pertama. Seandainya kita menarik garis-garis penghubung antar candi-candi itu di atas sebuah denah, maka garis-garis tersebut akan tampak bertemu pada sebuah titik di tenggara tangga utama Candi Śiva. Titik ini ternyata bertepatan dengan salah satu dari kedelapan ‘menara’ atau candi sudut yang terletak di salah satu sisi dari keempat tangga. Namun berbeda dari ketujuh yang lain, candi sudut yang satu ini terbuka ke depan. Pada ruangan yang ada di dalamnya terdapat sebuah lapik yang berlubang di bagian dalam, dan di bawahnya terdapat sebuah tiang yang dibentuk oleh tiga bidang datar yang disebut sebagai parallelepipedon di atasnya ditarik garis-garis sangat halus yang mengisyaratkan pusat geometris kawasan itu (Oudheidkundig Verslag 1938:6-7).
Bernet Kempers secara jitu mengamati bahwa arca Śiva di bilik utama Candi Śiva, yang merupakan pusat tersuci kompleks tersebut, tidak diletakkan pada pusat geometris kompleks itu, tetapi agak ke barat laut darinya. Ia mencatat bahwa posisi unik dari pusat religius ini bisa juga diamati di berbagai candi lain di Jawa, maupun di tempat-tempat lain. Sehubungan dengan hal ini, ia merujuk pada teks-teks India yang melarang untuk menempatkan arca-arca atau bagian-bagian penting lainnya dari sebuah struktur tertentu pada garis-garis berpotongan yang terdapat di atas
diagram yang menjadi pijakan untuk desain. Sayangnya, ia tidak mengatakan teks-teks manakah yang menyinggung kenyataan ini, tetapi dalam hal ini hanya mengacu pada telaah yang dilakukan R. Von Heine-Geldern (1930) dan Kramrisch (1946) tanpa menyebut angka halaman apa pun.
Hal yang sama berlaku menyangkut gagasan-gagasan tentang arti penting dari kedelapan candi kelir yang bersepadanan bentuknya dengan berbagai candi sudut yang terletak di sebelah tangga. Salah satu laporan arkeologis berspekulasi bahwa candi sudut itu “barangkali bertujuan untuk secara magis menutup [ketersingkapan pada] titik-titik berbahaya (gapura, sudut, dan yang sejenisnya) [...] Menara sudut itu boleh jadi dianggap sebagai relung untuk meletakkan sesajen kepada para penjaga dewata di gapura-gapura” (Oudheidkundig Verslag 1936:5-6). Tidak jelas apakah dugaan ini memang benar.
Juga ada spekulasi tentang candi-candi perwara yang terdapat di antara tembok pembatas pertama dan kedua. Selain jumlahnya yang persis, persoalannya ialah bagaimana menafsir pengaturan candi-candi tersebut. Apakah jumlah delapan memiliki makna khusus di sini, mengingat perbedaan tetap dalam jumlah candi-candi itu bila kita bergerak dari satu deretan bertingkat candi ke deretan bertingkat berikutnya: masing-masingnya 44, 52, 60 dan 68 – sehingga seluruhnya berjumlah 224 candi. Atau apakah terdapat sebuah sistem yang lain? Pertimbangkan, misalnya pertambahan secara teratur jumlah keseluruhan gapura candi-candi perwara itu, hal yang dianggap penting oleh J. Dumarçay.
“Candi-candi pada garis diagonal memiliki dua gapura; sebagai contoh, candi pada sudut timur laut terbentang ke arah timur dan utara. Maka, dari sisi mana pun kita memandang, barisan pertama memiliki 12, barisan kedua memiliki 14, barisan ketiga memiliki 16 dan barisan keempat memiliki 18 pintu keluar-masuk. Seperti yang dikatakan prasasti itu, ‘betapa indahnya jumlah bangunan-bangunan kecil’.” (Dumarçay 1978:57.)
Arti penting perhitungan ini luput dari perhatian saya. Berangkat dari cara bagaimana prasasti itu dirumuskan, saya lebih cenderung membayangkan bahwa yang terpenting adalah jumlah bangunan-bangunan tersebut, alih-alih jumlah gapuranya. Lebih dari itu, jumlah gapura-gapura tersebut bisa saja dengan mudah dibagi ke dalam delapan kelompok. Jadi, setiap
deretan bertingkat memiliki empat candi sudut, yang terletak pada