Perigi-perigi Candi di Prambanan
6. Perigi di candi yang terletak berhadapan dengan Candi Brahmā [=Candi A]
Perigi ini memiliki ukuran yang sama dengan perigi sebelumnya, dan dikelilingi oleh sebuah pinggiran yang ditinggikan secara apik. Pada kedalaman 3,68 m terdapat sebuah penampil berukuran 6 cm di kedua tembok pada sisi sebelah utara dan selatan.
Sampai pada kedalaman 5,80 m perigi ini kosong dan di bawahnya terdapat bebatuan besar dan tanah. Pada kedalaman 7,80 m ditemukan bagian atas dari fondasi yang belum selesai dibangun, dan di bawahnya, pada kedalaman 8,40 m dekat dengan sebuah batu sudut besar, ditemukan kerangka seekor anjing, dan lebih dalam lagi pada kedalaman 9 m ditemukan tulang-belulang dari jenis binatang yang sama, namun tidak
memperlihatkan bekas-bekas dibakar dengan api. Bahkan lebih dalam lagi terdapat beberapa batu pahatan yang berukuran sangat besar. Dasar fondasi itu berada pada kedalaman 8,90 m di bawah permukaan lantai.
7. Perigi-perigi di candi-candi yang lain
Lantai pada kedua candi perwara yang terletak di bagian tengah di antara tembok pembatas yang kedua dan ketiga, yang tidak terlalu ditinggikan di atas tanah, sedemikian berantakan sehingga hanya salah satu darinya, yaitu candi yang terletak di sebelah selatan, yang bisa ditentukan secara pasti adanya perigi di situ.
Candi-candi perwara itu juga dilengkapi dengan perigi-perigi. Salah satu darinya, yang terletak di sisi sebelah timur berhadapan dengan ruang terbuka antara Candi Nandi dan Candi Śiva yang kecil [= Candi B], memiliki sebuah perigi berukuran 0,75 x 0,80 m, dengan kedalaman 1,48 m. Di lubang ini, pada kedalaman 0,95 m di bawah lapisan pasir dan keping-keping batu, ditemukan setumpuk abu dengan pecahan-pecahan jambangan yang terbuat dari tembikar yang dibakar dan sebuah cakra terbuka berukuran kecil dan berbentuk bulat dengan diameter bagian atasnya berukuran sekitar 17 cm dan kedalaman 8 cm. Sepotong jarum emas kecil ditemukan juga di antara tumpukan abu ini.
Bila kita membandingkan perigi-perigi yang dijelaskan di atas satu sama lain, maka dengan segera menjadi jelas bahwa persoalannya bukan tentang perigi-perigi yang digali, melainkan di mana-mana menyangkut ruangan-ruangan berlubang yang dibiarkan [dengan sengaja] dalam fondasi-fondasi pada candi-candi tersebut. Oleh karena itu, kedalaman candi bersepadanan dengan ketinggiannya di atas permukaan lantai bilik candi; perigi-perigi yang lebih dalam terdapat pada candi-candi induk.
Pada ketiga candi sebelah timur, perigi itu dimulai pada permukaan yang sama dengan dasar fondasi, hanya di tiga candi di sebelah barat lebih tinggi 1-2 m. Dari kenyataan ini pertama-tama nian kita dapat menyimpulkan bahwa dasar perigi dibangun kemudian sampai pada ketinggian yang di-inginkan – malah persis sebelum ditimbuni. Perigi-perigi sebelah barat tidak pernah digunakan sebagaimana mestinya; perigi-perigi tersebut tidak diperlengkapi dengan pasu yang berisi abu jenazah; perigi-perigi itu separuhnya ditimbuni secara kebetulan belaka. Keadaannya sama seperti
1
perigi-perigi yang lain sebelum penimbunan itu berlangsung.
Sebagai argumen tandingan terhadap pengandaian-pengandaian ini bisa ditandaskan bahwa perigi-perigi pada Candi Viṣṇu dan Candi Brahmā ditempatkan secara sangat saksama di atas sebuah landasan batu yang diletakkan di bagian tengah, malah pada Candi Brahmā dilengkapi dengan dua garis yang saling bersilangan pada sudut-sudut sebelah kanan; tampaknya bahwa bebatuan itu dimaksudkan menjadi titik tolak untuk proses pemeriksaan atas pembangunan tembok-tembok (walaupun tidak ada satu pun darinya yang dibuat secara teliti), sehingga benarlah bila dikatakan bahwa bebatuan tersebut dijadikan sebagai sarana untuk menghindari kesalahan. Terdapat penampil-penampil tak beraturan di semua tempat, yang digunakan untuk membetulkan kesalahan dan memperoleh arah yang tepat. Oleh karena itu, tampaknya mungkin bahwa batu-batu utama ditempatkan di sana pada waktu kemudian, agar di semua candi penutupan perigi dilakukan secara bersamaan dengan peletakan dasar fondasi.
Pada bagian atas, bentuk perigi-perigi itu benar-benar empat persegi panjang. Setiap sisi berukuran 0,25 sampai 0,5 x panjang atau lebar bilik di mana perigi itu berada. Tak satu pun dari perigi itu yang sedemikian luas sehingga tidak tersedia ruang bagi pedanda yang sedang bertugas. [J.F.G.] Brumund tampaknya mengandaikan keberadaan rancangan semacam itu pada bilik samping Loro Jonggrang [yakni, arca Durgā Mahiṣāsuramardinī], sedangkan kami berpendapat bahwa, sama seperti pada bilik-bilik samping lainnya, tidak pernah terdapat satu perigi pun.
Benda-benda yang digali dari perigi-perigi pada candi-candi utama memberi informasi yang memadai mengenai kegunaan perigi-perigi itu.7 Peti batu [pripih] dalam lubang di Candi Śiva persis sama dengan item no. 377 dalam koleksi Bataviaasch Genootschap, yang ditemukan di dusun Pucung, distrik Ngantang, Malang; dengan satu-satunya kekecualian bahwa pasu yang ditemukan di sana dihiasi dengan sebuah lipit-lipit bunga. Pasu itu berisikan sebuah kotak perunggu persegi empat, sebuah liṅga dan
yoni; tiga plaket kecil, dua emas dan satu perak, satu darinya polos dan
yang lain ditulisi; dua potongan daun emas, satu berbentuk kura-kura, yang lain berupa botol, dan beberapa keping uang perak. Selain benda tadi, Genootschap memiliki dua pasu yang lebih kecil dengan bentuk sama, tiga pasu bulat, dan juga sebuah pripih luar biasa yang bersandar pada
sebuah bantalan berbentuk teratai, yang digambarkan pada bagian sebelah dari halaman 110 dalam karya Dr. W.R. van Höevell berjudul Reis over
Java, Madura en Bali, jilid ke-2. Pripih ini, yang digali di Jalatunda oleh
[W.] Wardenaar, berisi sembilan belahan berbentuk empat persegi panjang, yang semuanya berisi sisa-sisa abu dan tulang yang terbakar. “Pada belahan bagian tengah terdapat sebuah kotak emas berbentuk bundar yang disekat oleh satu penutup terpisah. Dua belahan lain berisi pelat-pelat perak tipis yang sebagiannya telah berkarat, sedangkan sisanya enam belahan lain berisi pelat-pelat emas, salah satunya dihiasi dengan seekor kura-kura, satu dengan seekor naga, dan satu lagi dengan seekor singa. Selanjutnya, kepingan-kepingan uang perak ditemukan berserakan di semua belahan.”
Semua pripih dan pasu ini berisi abu dari jasad yang dikremasi, yang secara penuh hormat dan cermat diperlengkapi dengan segala macam tambahan yang dianggap penting. Penghormatan terhadap orang-orang meninggal telah lama ada di India jauh sebelum kedatangan Buddhisme. Menurut Yajurveda, dalam ritual bagi si mati, beras, jewawut, serta campuran air dan tola (Sesamum indicum) dipersembahkan kepada roh-roh para leluhur, baik untuk memberi mereka makanan maupun untuk memperoleh kemurahan mereka. Sebuah tempat tinggal bagi si mati dibangun seturut model rumah orang hidup, dan dari tempat kediamannya ini ia melaksanakan pengaruhnya atas nasib para keturunannya.
Gagasan ini tetap lestari selama berabad-abad dalam bentuk yang sedikit berbeda. Dalam karyanya yang berjudul Miscellaneous Essays (jilid ke-1, hlm. 172), Colebrooke mengatakan “bahwa sebuah mausoleum, yang dikenal dengan nama ch’hetri, sering kali dibangun guna menghormati seorang penguasa atau bangsawan Hindu; dan bahwa malah lebih lazim untuk membangun sebuah kuil untuk menghormati si mati, khususnya di India Tengah. Dan lebih dari itu bahwa pada tempat pembakaran jenazah mesti ditanam sebuah pohon, didirikan sebuah tugu batu, digali sebuah kolam, atau dibangun sebuah tiang. Tulang-belulang dan abu dikumpulkan dalam sebuah belanga tembikar dan dikuburkan di sebuah lubang dalam, dan kemudian digali lagi lalu dihanyutkan di sungai.”
Ketika peziarah Cina bernama Hsüan-tsang mengunjungi kerajaan Brahmanik Khotan pada tahun 510, ia menemukan kebiasaan yang sama. Jasad sang raja dikremasi dan sebuah kuil dibangun di atas tumpukan abu itu; orang-orang lain pun yang telah meninggal diperlakukan dengan cara
10
serupa dan menara-menara dibangun di atas sisa-sisa jasad mereka. Dalam
Mahābhārata kubur disebut chaitya; dalam Rāmāyaṇa kata yang sama
digunakan untuk candi.
Si mati itulah yang memiliki kekuasaan atas orang-orang yang masih hidup, sedangkan mereka sendiri membutuhkan sama banyak bantuan dan perlindungan melawan roh-roh jahat atau bhuta. Oleh karena itu, kuburan-kuburan mereka dikelilingi oleh pagar atau kisi-kisi pembatas, di mana dipahatkan dewa-dewa pelindung atau binatang-binatang simbolis sebagai penjaga. Inilah pula alasan mengapa selain uang dan batu-batu berharga mereka diberi jimat yang diyakini memiliki kekuatan besar. Simbol-simbol huruf rahasia dituliskan di atas wadah-wadah penyimpan abu jasad dan pada pelat-pelat emas dan perak kecil yang dicampur dengan abu tersebut, simbol-simbol mistik dari para dewata dan setengah-dewa, yang tampaknya memiliki kemanjuran istimewa.
Dalam karya Lillie yang berjudul Buddha and Early Buddhism, terdapat sebuah lukisan seekor kura-kura, yang rumah kerangnya dibagi ke dalam beberapa persegi empat kecil yang berisikan huruf-huruf tertulis, yang menurut Schlagintweit [1881] di Tibet kini dijadikan sebagai jimat penangkal roh-roh jahat.
Dalam monografinya tentang prasasti-prasasti di Jawa dan Sumatra, jilid XXVI, VBG, Friederich berkisah: “Selama keberadaan saya di Bali berlangsung kremasi atas jasad-jasad sebuah keluarga Satria [kṣatriya] di Kuta, Badung. Pandita Made Alèng Kacèng telah berdiam di rumah mati beberapa hari sebelum kremasi. Ketika saya pergi mengunjungi beliau, saya menyaksikannya sedang sibuk menulis huruf-huruf di atas pelat-pelat emas kecil. Pada saat yang sama, khususnya karena kehadiran sejumlah orang lain, saya tidak berkesempatan untuk bertanya kepadanya tentang makna huruf-huruf itu, dan cuma mendengar – dan hal ini pun ditegaskan oleh para saksi lainnya – bahwa pelat-pelat ini, dan juga batu-batu berharga (yang masih utuh atau sudah dipecahkan menjadi potongan-potongan kecil, khususnya batu-batu delima) bersama dengan benda-benda lain, ditaruh di dalam sebuah bejana kecil bercampur air, dan bahwa berkat ramuan ini, namun terutama nian melalui kata-kata rahasia yang ditulis di atas pelat-pelat kecil tersebut, maka air itu disucikan, dan kemudian dicurahkan ke atas jasad persis sebelum dikremasi. Namun tampaknya bahwa pelat-pelat
itu keluarkan lagi dan kemudian disatukan dengan tulang-belulang yang tersisa, yang dikumpulkan menjelang malam.”
Tampaknya bahwa upacara serupa berlangsung ketika orang penting dikuburkan pada masa kejayaan Prambanan. Begitu perigi telah ditimbuni hingga ke ketinggian yang dibutuhkan, si mati yang dihormati itu disemayamkan di tempat yang telah dipersiapkan untuk tujuan ini.
Mengapa perigi-perigi itu begitu dalam jika abu berharga tadi bisa ditempatkan entah langsung di bawah arca, yang berarti akan menutupi lubang, atau paling banter beberapa meter di bawahnya? Tentu saja bukan untuk menghemat pekerjaan para tukang batu; mungkin hal itu untuk menjamin peresapan yang lebih baik dari air yang telah digunakan.
Dari bangkai-bangkai binatang yang hangus terbakar di bawah batu tempat penyimpanan di perigi Candi Śiva dapatlah disimpulkan bahwa sebelum penguburan dilaksanakan upacara persembahan binatang kurban, dan bila kita membandingkan hal ini dengan laporan-laporan dari India Inggris, maka berdasarkan upacara kurban ini kita dapat menyimpulkan bahwa sebuah sekte Tantrik yang membangun candi ini.8 Sia-sialah bila kita mencari bangkai-bangkai serupa di kedua perigi candi di sebelah barat.
Batu-batu itu alih-alih dibuang bersama-sama secara serampangan, kita justru menemukan pada kedalaman tiga atau empat meter batu-batu yang disusun secara apik pada berbagai lapisan, yang membentuk ruang tertutup aneh yang ditimbuni tanah dan arang. Apakah mungkin bila disimpulkan adanya sisa-sisa pembakaran bahan persembahan berupa bebungaan dan buah-buahan? Dan apakah makna dari lokasi batu-batu yang dipahat secara apik yang diatur seturut arah mata angin? Bolehkah kompleks percandian Prambanan dilihat sebagai sebuah makam besar, yang masih digunakan sampai ia dilantakkan oleh gempa bumi dahsyat?
Di dalam tembok pembatas ketiga, di bawah arca-arca para dewata utama, terletak tempat kehormatan yang dikhususkan bagi para raja dan pedanda agung; di Candi Śiva barangkali untuk para raja Mataram dan 8 Colebrooke (Miscellaneous Essays, jilid ke-1, hlm. 189), merujuk pada Śaktasvin Bhavani: “Pengurbanan ternak di hadapan para dewata adalah kekhasan sekte ini”. Dan Coleman, Mythology of the Hindus, hlm. 68 dan 94: “Di Kalighat, sebuah tempat di sekitar Calcutta, berdiri kuil pengurbanan Kālī, di mana di atas altarnya amat banyak hewan yang setiap tahun dikurbankan. Pada kesempatan festival Kālī, kuil-kuilnya secara harfiah berubah menjadi kolam darah.” Lihat juga Friederich [1876] tentang Dieng dan Ungaran.
12
Candi Brahmā untuk delapan pedandanya, di mana pasu berisikan abu jasad mereka ditempatkan di sana bersamaan waktunya ketika arca itu dipasang di situ. Tempat kehormatan juga disediakan di ketiga candi di sebelah timur, menanti sampai ada orang mati yang dianggap layak untuk disemayamkan di sana.
Pada tiga deretan berturut-turut terletak [tempat pemakaman] penduduk-penduduk terkemuka, di antara dua tembok bagian dalam yang melingkar; tampaknya bahwa bangunan pada deretan keempat sama sekali belum dimulai.
Orang-orang Hindu, seperti juga orang-orang Kristen, lebih suka dikuburkan di bawah lengkungan-lengkungan kubah tempat-tempat suci mereka atau di bawah naungan taman-taman candi di luar sana.