Perigi-perigi Candi di Prambanan
1. Perigi di Candi Śiva
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ketika tumpukan batu berhasil dirapikan maka dapatlah diamati bahwa lapik dari arca besar tampaknya agak miring dan merosot ke kedalaman sekitar 60 cm menerobos lantai. Barangkali telah terjadi pelesakan tertentu sesudah arca yang berat itu ditempatkan di atas perigi yang terisi sepenuhnya [dengan tanah dan bebatuan], dan robohnya balok-balok batu besar dari bagian atap melakukan yang selebihnya. Bagian sebelah atas dari perigi itu berukuran 1,80 m persegi (Pelat XXII, Gbr. 90 dan 91, lihat Gambar 8) dan dikelilingi oleh sebuah galur/lekukan di lantai dengan lebar 20 cm dan dalam 8 cm.
Tiga lapisan, masing-masing setebal kira-kira 25 cm, berupa blok-blok 1 Nukilan dari Beschrijving der oudheden nabij de grens de residentie’s Soerakarta en
Djogdjakarta. Batavia: Landsdrukkerij 1891, hlm. 60-73. Catatan penyunting: Dengan
beberapa kekecualian, gambar-gambar yang sangat terperinci dari hasil-hasil penggalian tidak dimuat kembali di sini karena ukuran, jumlah serta kerumitan gambar-gambar tersebut. Kekecualian itu adalah Pelat XXII: Gbr. 90-103, Pelat XXIII: Gbr. 105, dan Pelat XXIV: Gbr. 112-116, di mana dilukiskan kandungan perigi-perigi Candi Śiva dan Candi Viṣṇu, antara lain berupa benda-benda yang terbuat dari kertas emas.
yang dipotong berbentuk persegi dan ditata secara apik dari batu paras (batu pasir) berwarna kuning muda lembut ditemukan persis di bawah lapik, namun ketika potongan-potongan batu itu berhasil diangkat maka hanya ada tanah dan pecahan-pecahan batu, yang dihamburkan begitu saja. Beberapa dari bebatuan tersebut tampak kasar dan tidak dipahat, yang lain cuma separuhnya yang dipahat. Berbagai anggota tubuh arca-arca, seperti lengan dan tangan, aneka hiasan dan dekorasi dinding ditemukan di bawah lapisan ini, dan terdapat cukup banyak kepingan tembaga [perunggu] berkarat yang berserakan di sana.
Penutup sebuah kotak [pripih] dengan ukuran 41 cm panjang dan lebar serta 53 cm dalam ditemukan pada kedalaman 5,75 m di bawah lantai (Pelat XXIII, Gbr. 105, lihat Gambar 8). Bagian atas penutup kotak ini, yang terbuat dari batu napal lunak, berbentuk seperti wajik dan sebuah kotak yang terbuat dari batu paras berwarna kuning muda lembut dicocokkan ke dalamnya, dan dilindungi dari kerusakan oleh tumpukan bebatuan yang dibangun secara saksama di sekitarnya.
Tanah yang terletak langsung di bawah peti ini dicampur dengan arang, dan selama penggalian ditemukan potongan-potongan kecil tulang-belulang binatang yang terbakar. Menurut pendapat Dr. Sluiter, yang dengan murah hati mengambil tugas mengkaji tulang-belulang tersebut atas permintaan [W.P.] Groeneveldt, sejauh masih dapat dikenal adalah berbagai bagian dari kaki sebelah depan dari seekor kambing, yakni tulang hasta dengan lututnya dan sepotong kecil tulang bagian atas, dan juga bagian tumit, beberapa pergelangan kaki dan potongan-potongan tulang pergelangan kaki depan. Juga terdapat satu potong tulang dada dari seekor ayam atau sejenis unggas. Jenis tiap-tiap binatang ini tidak dapat dipastikan. Tulang-belulang itu meninggalkan bekas-bekas pembakaran yang jelas.
Di antara bangkai-bangkai binatang kurban yang dibakar itu terdapat sebuah pelat emas kecil yang bertorehkan sebuah prasasti, sebagaimana yang diperlihatkan dalam Pelat XXII, Gbr. 92 (lihat Gambar 9). Selain itu tidak ada penemuan yang layak dicatat dari perigi ini.
Tiga pecahan tembikar dari berbagai jenis keramik Cina, yang dite-mukan persis di bawah kotak tadi, berada di sana nyaris secara kebetulan belaka.
Permukaan tanah mencapai ketinggian 13 m. Pada titik tersebut perigi tadi berukuran lebih dari 2,20 m persegi, sehingga bentuknya menyerupai
1
Foto 13
. Bagian dalam
bilik utama
Candi Śiva, sekitar tahun 1880
. Arca Śiva
Mahādeva dan lapikny
asliny
a dan ditidurkan di lantai dalam rangka penyeledikan IJzerman atas perigi-perigi candi
(F
oto Kassian Cephas untuk b
uku Gr
oneman 1893
1
piramida. Fondasinya terdiri atas tiga lapisan batu, yang bersama-sama mencapai ketebalan 1,15 m; ketika digali lebih lanjut, ditemukan bebatuan kali berbentuk bundar yang dijejali pasir, dan pada kedalaman 15,90 m ditemukan air.
Ketika diungkai, kotak batu [pripih] tadi ternyata berisikan pelat-pelat tembaga yang sebagiannya telah berkarat, yang disimpan secara saksama dalam tanah yang dicampur arang dan abu. Menurut Dr. Cretier, tanah tersebut mengandung “karbon, karbonat, dan fosfat; dan juga potongan-potongan yang dikerat rapi dari pelat-pelat kecil yang terbuat dari emas, perak dan tembaga, dengan potongan-potongan yang lebih besar dari tembaga yang sudah sangat berkarat, barangkali sisa-sisa dari selubung luar. Ketika dipanaskan abu tersebut menghasilkan bahan-bahan empyreumatik [artinya, semacam ter], yang menyiratkan sebuah pembakaran yang tidak sempurna atas zat binatang”. Tampaknya bahwa bagian sebelah dalam dari pelat-pelat tembaga tersebut dibagi menjadi bagian-bagian kecil berbentuk persegi, yang masing-masingnya mengandung sebuah simbol huruf.
Di tanah ditemukan 20 keping uang logam kecil berbentuk bundar dan cekung dengan diameter sekitar 15 mm, empat dengan diameter 11 mm, dan delapan dengan diameter 8 mm, yang dimeterai pada kedua belah sisinya; beberapa bebatuan yang kurang bernilai, barangkali dari cincin, termasuk salah satu yang memiliki sekuntum bunga yang diukir2; dan juga sisa-sisa hiasan lainnya seperti manik-manik hijau dan manik-manik lainnya, kepingan-kepingan lembar emas dan perak, sebuah kerang laut asli yang mungil, dan yang paling penting dari semuanya adalah selusin pelat emas kecil, yang dilukiskan pada Pelat XXII, Gbr. 93-104 (lihat Gambar 9 dan Gambar 10).
Tujuh dari selusin pelat kecil tadi berbentuk empat persegi panjang dan mengandung huruf-huruf yang belum berhasil disingkapkan; lima lainnya menggambarkan seekor kura-kura, seekor nāga, sekuntum bunga teratai, sebuah altar, dan sebutir telur (lihat Gambar 10).
Walaupun tidak terlalu penting, harus disinggung satu hal sehubungan dengan lantai candi di belakang lapik arca Śiva. Ketika dibongkar, ditemukan sebuah penurunan kecil di sana; ketika perigi dikosongkan dan dibersihkan terlihat bahwa dinding pada sisi barat sampai pada kedalaman 1 m terdiri 2 Menurut insinyur pertambangan Schuurman: 5 batu akik yang berwarna merah tua, 2
atas sejenis batu paras lunak, alih-alih teras/andesit yang digunakan untuk dinding-dinding di sisi-sisi yang lain. Selain itu, keseluruhan permukaan lantai candi terdiri atas sebuah lapisan penutup setebal 8 cm, kecuali di sisi sebelah barat perigi, di mana ketinggian permukaan bagian atasnya berbeda-beda. Ketika rongga di belakang arca Brahmā di sisi selatan (akan dijelaskan sebentar lagi) diketahui, maka bisa diandaikan bahwa sesuatu yang serupa akan ditemukan di sana.
Namun ketika beberapa bebatuan, yang dipisahkan satu dari yang lain oleh sebuah lapisan tanah yang cukup tebal, dipindahkan, maka ditemukan pada kedalaman 0,94 m sebuah bidang kecil, dengan panjang 46 cm dan lebar 52 cm, dan pada bagian depan di mana ia bertemu dengan perigi memiliki kedalaman 15 cm, yang semata-mata berisikan arang bercampur tanah. Tidak terdapat bekas apa pun mengenai adanya sebuah tempat penyimpanan sebagaimana di Candi Brahmā; satu-satunya fakta yang dapat disimpulkan dari pengamatan di atas ialah bahwa bagian barat dari bilik utama diselesaikan dan diratakan pada waktu yang lebih kemudian dari bagian-bagian lainnya.
Ada kemungkinan bahwa konstruksi itu bertujuan untuk mengeringkan air yang digunakan di dalam candi dengan mengalirkan ke dalam lubang. Ruang-ruang yang cukup lebar di antara bebatuan, yang kini berupa lapisan-lapisan tanah yang cukup tebal, tentunya memperlancar tujuan dimaksud. Lapik berbentuk yoni membuat kita terbayang akan sosok arca yang tengah dimandikan air, sama seperti liṅga di tempat-tempat lain, salah satu bentuk peribadatan yang lazim. Demikianlah, air yang telah disucikan itu barangkali kemudian ditampung di sini dan dijual. Air yang memercik selama upacara3 boleh jadi mengalir melalui galur di seputar mulut perigi ke sisi sebelah barat, dan di sana dikeringkan ke dalam tanah.