BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian
Di zamaan Pemerintah Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement Van Sumatera, dikepalai oleh seorang Gourvernuer berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari daerah-daerah administrative yang dinamakan Keresidenan. Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu kesatuan pemerintahan yaitu provinsi Sumatera yang dikepalai oleh seorang gubernur dan terdiri dari daerah-daerah Adminitratif keresidenan yang dikepalai oleh seorang residen. Pada sidang Komite Nasional Daerah (K.N.D) Provinsi Sumatera, mengingat kesulitan-kesulita perhubungan ditinjau dari segi pertahanan, diputuskan untuk membagi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera timur, Keresedinan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah, dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya melalui Undang-undang No.10 tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu :
1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.
2. Provinsi Sumatera tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.
3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu, Palembang, Lampung dan Bangka Belitung.
Dengan mendasarkan kepada Undang-undang No.10 tahun 1948, atas usul Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan suratnya tanggal 16 Februari 1973 no.4585/25, DPRD Tingkat I Sumatera Utara dengan keputusannya tanggal 13 Agustus 1973 No.19/K/1973 telah menetapkan bahwa hari jadi Provinsi Sumatera Daerah Tingkat I Sumatera Utara adalah 15 April 1948 tersebut. Pada awal tahun 1949 berkaitan dengan meningkatnya serangan Belanda, diadakanlah reorganisasi pemerintah di Sumatera. Pada waktu itu keadaan memerlukan suatu system pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Oleh karena itu perlu dipusatkan alat-alat kekuatan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer Istimewa yang berada dalam satu tangan yaitu Gubernur Militer. Sehingga penduduk sipil dan militer berada dibawah kekuasaan satu pemerintahan.
Perubahan demikian ini ditetapkan dengan keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 1 Mei 1949 No.21/Pem/P.D.R.I yang diikuti Keputusan Pemerintahan Darurat RI tanggal 17 Mei 1949 No.22/Pem/P.D.R.I jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan. Pada tanggal 15 September 1949 Sumatera Utara dibagi menjadi dua daerah Militer Isimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketuai oleh Gubernur Militer Tgk.M.Daud Beureun dan Tapanuli/ Sumatera Selatan oleh Gubernur Militer Dr.F.L Tobing. Dan kemudian pada tanggal 17 Desember 1949 dibentuklah provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/ Sumatera Timur. Pada tanggal 7 Desember 1956 di
undangkanlah Undang-Undang No.24 tahun 1956 yaitu Undang-undang tentang pembentukan daerah otonomi Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Wilayah Provinsi Sumatera Utara pada Juni 2007 sudah menjadi 19 Kabupaten ( Nias, Madina, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Uatara, Toba Samosir, Labuhan Batu, Asahan, Simalungun, Dairi, Karo, Deli serdang, Langkat, Nias selatan, Humbang hasundutan, Pakpak Barat, Samosir, Serdang Bedagai, Batubara) dan 7 Kota (Sibolga, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Tebing tinggi, Medan, Binjai, dan Padang Sidempuan)
4.1.2 Gambaran Umum Sumatera Utara 1. Lokasi dan Keadaan Geografis
Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia, terletak pada garis 1°- 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasn dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, sebelah Timur dengan Negara Malaysia di Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat dan di sebalah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Luas daratan Propinsi Sumatera Utara adalah 71.680,68Km², sebagian besar berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berada di Pulau Nias. Pulau-pulau Batu serta beberapa pulau kecil baik di bagian barat maupun timur pantai Pulau Sumatera.
Tabel 4.1
Keterangan Letak dan Geografis
1. Geografis Sumatera Utara : 1° - 4° Lintang Utara 98° - 100° Bujur Timur
2. Luas Wilayah : 71.680,68 km²
3. Letak diatas Permukaan Laut : P. Sidempuan 260 – 1100m
Medan 2,5 – 37,5m Binjai 28m Tebing Tinggi 26 - 34m Pematang Siantar 400m Tanjung Balai 0 – 3m Sibolga 0 – 50m Serdang Bedagai 0 – 500m Samosir 300 – 2200m Pakpak Barat 700 – 1500m Humbang Hasundutan 330 – 2200m Nias Selatan 0 – 800m Langkat 0 – 1200m Deli Serdang 0 – 500m Karo 140 – 1400m Dairi 700 – 1250m Simalungun 0 – 369m Asahan 0 – 1000m Labuhan Batu 0 – 2151m Toba Samosir 300 – 2200m Tapanuli Utara 300 – 1500m Tapanuli Tengah 0 – 1266m Mandailing Natal 0 – 500m Tapanuli Selatan 0 – 1915m
Nias 0 – 800m
Berdasarkan luas daerah menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, luas daerah terbesar adalah Tapanuli Selatan dengan luas 12.163,65 Km² atau 16,97% diikuti Kabupaten Labuhan Batu dengan luas 9.223,18 Km² atau 12,78% kemudian diikutiKabupaten Mandailing Natal dengan luas 6.620,70 Km² atau sekitar 9,23%. Sedangkan luas daerah terkecil adalah kota Sibolga dengan luas 10,77 Km² atau sekitar 0.02% dari total luas wilayah Sumatera Utara. Berdasarkan kondisi letak dan kondisi alam Sumatera Utara dibagi dalam 3 kelompok wilayah yaitu Pantai Barat, Daratan Tinggi dan Pantai Timur.
2. Iklim
Karena terletak dekat garis khatulistiwa, Provinsi Sumatera Utara tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter diatas permukaan laut, beriklim cukup panas bias mencapai 34,2°C, sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada pada daerah ketinggian yang suhu minimalnya bias mencapai 13,4°C. Sebagaimana Provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Sumatera Utara mempunyai musim kemarau dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Juni sampai dengan September dan musim penghujan biasanya terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Maret, diantara kedua musim itu diselingi oleh musim pancaroba.
Wilayah Sumatera Utara memiliki lahan yang sangat luas dan potensial yang dapat dikembangkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Sebagian besar dari wilayah merupakan areal pertanian, oleh karena itu kegiatan terpenting perekonomian masih mengandalkan sector pertanian. Disamping itu, laut, sungai, dan danau merupakan potensi yang tidak kalah pentingnya. Ini digunakan sebagai potensi perikanan dan perhubungan sedangkan keindahan alamnya merupkan potensi energik untuk pengembangan industri, perdagangan, dan sebagainya. Wilayah Sumatera Utara juga menyimpan banyak bahan galian seperti kapur, belerang, pasir, kuarsa, gasoli, emas, batubara, minyak dan gas bumi dan lainnya. Posisi yang strategis terletak dijalur perdangan internasional membawa keuntungan Sumatera Utara terutama dalam menunjang perekonomian daerah. Hal ini juga didukung dengan adanya berbagai sarana pelabuhan baik pelabuhan udara (Polonia, Pinang Sari, dsb), pelabuhan laut (Belawan, Sibolga, Kuala Tanjung, dsb). Disamping fasilitas pelabuhan ini, perekonomian Sumatera Utara tidak terlepas dari peranan sector perbankan dengan ketersediaan berbagai fasilitas jasa perbankan, jasa peredagangan, komunikasi, dan transportasi. Hal ini mendorong perekonomian rakyat semakin berkembang, sehingga dapat menunjang tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kota Medan merupakan ibukota propinsi Sumatera Utara yang merupakan puast dari seluruh aktivitas masyarakat. Selain sebagai puast pemerintahan, kota Medan juga menjadi sentral ekonomi, bisnis, bahkan menjadi pusat pendidikan, dan
sebagainya. Sebagai pusat pengembangan wilayah di Sumatera Utara, kota Medan memiliki berbagai fasilitas yang dapat menunjang perekonomian seperti komunikasi, perbankan, jasa-jasa perdagangan lainnya, bahkan juga dapat diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayahj terbelakang lainnya di Sumatera Utara.
4. Jumlah Penduduk
Sumatera merupakan propinsi ke empat yang terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Menurut hail pencacahan lengkap sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara keadaan tanggal 31 Oktober 1990 (hari Sensus) berjumlah 10,26 juta jiwa dan hasil SP 200 jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 11,51 juta jiwa. Pada bulan april 2003 dilakukan pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B). Dari hasil pendaftaran tersebut diperoleh jumlah penduduk sebesar 11.890.399 jiwa, selanjutnya dari hasil estimasi jumlah penduduk keadaan juni 2005 adalah 12.326.678 dan pada Juni 2006 diperkirakan sebesar 12.634.494 jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara tahun 1990 adalah 143 jiwa per Km² dan tahun 2005 meningkat menjadi 172 juta jiwa per Km² dan pada tahun 2006 menjadi 176 juta jiwa per Km². Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu 1990-200 adalah 1,20% pertahun dan pada tahun 2002005 menjadi 1,37% per tahun dan laju pertumbuhan 2005-2006 mencapai 1,57% per tahun.
Penduduk laki-laki di Sumatera Utara sedikit lebih banyak dari perempuan. Pada tahun 2006 penduduk Sumatera Utara yang berjenis kelamin perempuan
berjumlah 6.318.990 jiwa dan penduduk laki-laki sebesar 6.324.504 jiwa. Dengan demikian sex ratio penduduk Sumatera Utara 100,09%. Penduduk Sumatera Utara yang tinggal dipedesaan adalah 6,94 juta jiwa (54,89%) dan tinggal di daerah perkotaan sebesar 5,70 juta jiwa (45,11%). Jumlah penduduk miskin di Sumatera Utar mengalami turun naik dari tahun 2003-2006. Pada tahun 2003 jumlah penduduk miskin sebanyak 1,89 juta jiwa atau sekitar 15,89%, sedangkan tahun 2004 jumlah dan persentase turun menjadi sebanyak 1,80 juta jiwa atau sekitar (14,28%), namun akibat dampak kenaikkan BBM pada Maret dan Oktober 2005, penduduk miskin tahun 2006 meningkat menjadi 1,98 juta jiwa (15,66%).
5. Kesehatan dan Keluarga Berencana
Ketersediaan sarana kesehatan berupa Rumah Sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Di Sumatera Utara pada tahun 2006 terdapat 29 rumah sakit pemerintah dan 102 rumah sakit swasta. Sementara sarana kesehatan tingkat kecamatan dan pedesaan cukup banyak di Sumatera Utara. Puskesmas di Sumatera Utara pada tahun 2006 berjumlah 449 unit dan puskesmas pembantu sebanyak 1.937 unit. Sedangkan Balai Pengobatan Umum (BPU) terdapat sebanyak 888 buah dan Posyandu ada 13.001 unit. Tenaga medis di Sumatera Utara jumlahnya terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah Dokter Umum di Sumatera Utara tahun 2006 terdapat sebanyak 1.328 orang, dokter gigi 510 orang, dan dokter spesialis sebanyak 432 orang. Sedangkan tenaga medis bidan tersedia sebanyak 8.368 orang.
Perkembangan pasangan usia subur (PUS) di Sumatera Utara setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2001 PUS di Sumatera Utara terdapat sebesar 1.740.669 dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 1.779.450 PUS. Pada tahun 2006 meningkat lagi menjadi 1.914.002 PUS. Persentase akseptor aktif terhadap PUS setiap tahun mengalami peningkatan. Tahun 2001 persentasenya mencapai 58,97%, tahun 2004 meningkat menjadi 62,90% dan tahun 2005 meningkat 63,91%, kemudian pada tahun 2006 menurun menjadi 62,06%. Jumlah klinik KB di Sumatera Utara tahun 2006 ada sebanyak 1.101 buah yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.
6. Pendidikan
Peningkatan partisipasi sekolah penduduk tentunya harus diimbangi dengan penyediaan sarana fisik pendidikan maupun tenaga guru. Ditingkat pendidikan dasar, jumlah sekolah pada tahun 2005/2006 ada sebanyak 9.691 unit dengan jumlah guru 82.647 orang dan murid sebanyak 1.814.579 orang. Sementara jumlah sekolah menengah tingkat pertama (SMTP) ada sebanyak 1.844 sekolah dengan jumlah guru 37.030 orang dan dengan jumlah murid sebanyak 538.039 orang. Pada tahun yang sama jumlah sekolah tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMTA) ada sebanyak 1.806 sekolah dengan jumlah guru dan murid masing-masing 45.093 orang dan 589.561 siswa termasuk didalamnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jumlah perguruan tinggi swasta pada tahun 2006 adalah sebanyak 268 PTS yang
terdiri dari 33 Universitas, 114 sekolah tinggi, 3 Institut, 107 akademi, dan 11 politeknik.
Rasio murid SD terhadap sekolah yang berarti bahwa setiap sekolah yang ada di Sumatera Utara secara rata-rata pada tahun 2006 sebesar 187,24. Rasio yang tertinggi terdapat pada Kabupaten Pakpak Barat yaitu 570,35 murid persekolah, sedangkan rasio terkecil terdapat di kota Sibolga yaitu 61,06 murid persekolah. Pada tingkat pendidikan SLTP, rasio murid terhadap sekolah adalah sebesar 291,78 nurid persekolah. Rasio tertinggi terdapat di Kota Sibolga yaitu 479,54 murid untuk setiap sekolah dan yang terendah terdapat di Kabupaten Labuhan Batu dan Nias Selatan yaitu 80,60 dan 81,08 murid untuk setiap sekolah. Sementara itu rasio murid sekolah menengah umum terhadap sekolah sebesar 338,8 murid persekolah. Rasio yang tertinggi terdapat di Kota Tebing Tinggi yaitu 497,7 murid per sekolah dan yang terendah di Kabupaten Nias Selatan yaitu 126,5 murid untuk setiap sekolah.
7. Agama
Sesuai dengan falsafah negara, pelayanan kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan untuk membina kehidupan masyarakat dan mengatasi berbagai masalah sosial budaya yang mungkin dapat menghambat kemajuan bangsa. Banyaknya pernikahan dan perceraian khusus untuk umat yang beragama Islam pada tahun 2006 mencapai masing-masing 86.099 pasangan dan 3.490 pasangan. Sarana ibadah umat beragama juga mengalami kenaikkan setiap tahun. Pada tahun 2005 jumlah mesjid di
Sumatera Utara terdapat 8.328 buah, musholla/langgar sebanyak 5.540 buah, Geraja protestan 9.812 buah, Geraja katolik 2.055 buah, kuil 55 buahn, dan wihara 157 buah. Sedangkan untuk tahun 206 jumalh mesjid di Sumatera Utara sebanyak 9.199 buah, musholla/langgar 10.325 buah, Gereja Protestan 9.182 buah, Gereja Katolik 2.092 buah, Kuil 58 buah, Wihara 206 buah.
4.1.3 Gambaran Perekonomian Sumatera Utara
Setiap tahun, perekonomian di Sumatera Utara diwarnai dengan berbagai perkembangan berdasarkan berbagai indikator ekonomi. Perkembangan ini dapat terlihat pada masa sebelum dan sesudah krisis ekonomi yang melanda Indonesia, sebelum terjadi krisis ekonomi tahun 1997/1998, perekonomian Sumatera Utara tidak terlalu buruk. Misalnya pertumbuha ekonomi tahun 1989 sebesar 9.59%, pada saat ini kontribusi dari sektor ekonomi cukup berkembang, selanjutnya pada tahun berikutnya mengalami sedikit penurunan walaupun tidak terlalu signifikan sehingga pada tahun 1996 kembali pada posisi 9,01%, jauh melebihi target sebesar 8,50%. Hal ini diakibatkan meningkatnya peranan dari beberapa sektor ekonomi seperti pertanian, industri, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi.
Namun sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, terjadi perubahan yang sangat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Perekonomian mengalami perlambatan. Dampak krisis moneter yang berlangsung sejak II 1997 sampai dengan
semester I 1998 tersebut berpengaruh terhadap perekonomian misalnya terlihat dari terdepresiasinya nilai rupiah atas Dollar, inflasi melonjak hingga posisi 40,97% pada semester I tahun 1998, meningkat dari tahun 1997 yang berada pada level 9,96%. Dalam perkembangan selanjutnya, aktivitas perekonomian Sumatera Utara berusaha bangkit dengan perbaikkan barbagai indikator ekonomi yang nantinya akan mempengaruhi ekonomi Sumatera Utara ke arah yang lebih baik yang terjadi pada tahun 2003 sampi 2004, pertumbuhan tahun 2004 tumbuh 5,74% lebih tinggi dari tahun 2003 yang sebesar 4,31%. Disamping itu, indikator ekonomi Sumatera Utara relatif mengalami perbaikkan sehingga turut mempengaruhi roda perekonomian Sumatera Utara secara keseluruhan, begitu juga memasuki tahun 2005, tidak terlalu banyak mengalami perubahan dari tahun 2003, walaupun sedikit diwarnai perkembangan yang cukup ketat akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Pada tahun 2005 terjadi penurunan perekonomian dari tahun sebelumnya dimana pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara menjadi 5,48% akan tetapi dikarenakan adanya perbaikkan indikator ekonomi, pertumbuhan ekonomi tahun 2006 mengalami kenaikkan 6,18%.
Sedangkan pada triwulan I-2007 perekonomian Sumatera Utara mengalami peningkatan sebesar 2,97% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang digambarkan oleh PDRB atas dasar harga konstan 2000, berdasarkan pengolahan dan perhitungan hasil survei indikator ekonomi triwulan Sumatera Utara serta berbagai data/indikator ekonomi yang ada pada triwulan I-2007.
Tabel 4.2
Laju Pertumbuhan dan Strukutr PDRB Triwulan Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan (%)
Sektor ekonomi/ lapangan usaha Laju pertumbuhan Struktur
Triwulan IV-2006 Triwulan I-2007 Triwulan IV-2006 Triwulan 1-2007 Pertanian 3.21 3.09 29.56 29.89
Pertambangan dan Pengagalian 2.42 2.92 1.89 1.88
Industri Pengolahan 2.76 2.30 24.27 24.12
Listrik, Gas, dan Air Minum -4.35 2.32 0.99 0.99
Bangunan 4.25 -1.53 3.84 3.67
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 5.29 3.05 19.78 18.73
Pengangkutan dan Komunikasi 4.50 4.19 7.34 7.35
Keuangan,sewa,&jasa perusahaan 3.82 2.96 5.23 5.21
Jasa-jasa 3.26 3.73 8.09 8.21
PDRB 3.65 2.97 100.00 100.00
Struktur perekonomian Sumatera Utara masih tetap didonimasi sektor pertanian. Hal ini dengan konstribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Regional Domestik Bruto atas dasar harga konstan yang dominan. Dimana dapat dilihat pada Tabel bahwa pada triwulan IV - 2006 sektor pertanian memberikan konstribusi sebesar 29,56% pada tahun 2007 (triwulan I) meningkat menjadi 29,89% Kontribusi terbesr sektor pertanian diberikan oleh sub-sektor tanaman bahan makanan, yang menjadi komoditi unggul Sumatera Utara. Selanjutnya sektor penyumbang terbesar dalam membentuk PDRB Sumatera Utara pada tahun 2006 setelah sektor pertanian adalah sektor industri pengolahan 24,27% yang diikuti sektor perdagangan dan komunikasi sebesar 5,23% sektor konstruksi/bangunan sebesar 3,84%, sektor pertambangan/penggalian 1,89%, sektor penyumbang terkecil adalah sektor pertambangan/penggalian yaitu 0,99%.
4.2 Perkembangan Variabel – Variabel yang Dibahas