UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
MEDAN
ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH (KURS) DAN TINGKAT PDRB PERKAPITA TERHADAP EKSPOR SUMATERA UTARA
S K R I P S I
Diajukan Oleh :
ABDUL RAHMAN PASARIBU 050501078
Ekonomi Pembangunan
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
ABSTRAK
The titled of this research is "Analysis influenced the currency exchange rate and value of Product Domestic Regional Bruto to Export of North Sumatera”. The research located in north Sumatera and use secunder data from years 1988 until 2007(20 years) the data is consist of value of exchange rate Rp/US$, the value of Product Domestic Regional Bruto of North Sumatera and Export of North Sumatera.
For analyzing the influence of exchange rate and the value Product Domestic Bruto to export North Sumatera is used OLS method. The source data comes from BPS-Statistic of Sumatera Utara Province, Bank Indonesia branch of Medan, and others sources reference that relate to this research. The data used in this research is time series data from 1988 to 2007, existing data processed by using computer program of E-Views 5.0.
The result of the research show that the echange rate and value product domestic bruto give a significance influence to Export north Sumatera .
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan tingkat PDRB Terhadap Ekspor Sumatera Utara”. Ruang lingkup penelitian di lakukan di Sumatera Utara dengan menggunakan data sekunder dari tahun 1988 sampai dengan 2007(20tahun) data nilai tukar rupiah atas Dollar Amerika(Rp/US$), tingkat PDRB Sumatera Utara dan Data Ekspor Sumatera Utara.
Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar rupiah dan tingkat PDRB terhadap Ekspor Sumatera Utara menggunakan metode OLS(Ordinary Least Square). Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Bank Indonesia cabang Medan, dan sumber-sumber kepustakaan lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan data time series dari tahun 1988 sampai 2007 , penggolahan data dengan menggunakan program computer E-Views5.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah, dan tingkat PDRB memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Ekspor di Sumatera Utara.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah Rabbil’alamin tak terhingga Penulis ucapkan kehadirat Allah
SWT atas segala kesempatan, karunia, dan hidayah-Nya yang sangat berarti, sehingga
Penulis bisa menyelesaikan studi dengan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh
Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Tingkat PDRB Perkapita Terhadap Ekspor Sumatera
Utara”. Dan juga shalawat berangkaikan salam buat junjungan umat Nabi Besar
Muhammad SAW yang sama-sama kita harapkan syafaatnya di hari akhir kelak.
Dalam penulisan skripsi ini, Penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak, baik materi maupun nonmateri. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis
ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah meluangkan waktunya memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:
1. Kedua orang tua Penulis yang tercinta, Ayahanda Ramli Pasaribu dan Ibunda
Aslamiyah Sibarani, S.Sos, yang selalu dan senantiasa mencurahkan kasih
sayangnya, memandu ke jalan yang benar, menyalakan api semangat dan
menjaganya agar tak pernah padam, serta aliran do’a restu yang takkan pernah
terhenti kepada Penulis sepanjang hayat.
2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Haroni Doli, SE, Msi, selaku Dosen Wali yang telah membimbing
Penulis selama masa perkuliahan.
5. Bapak Drs. Murbanto Sinaga, MA, selaku Dosen Pembimbing yang penuh
keikhlasan menyisihkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing
Penulis menyelesaikan skripsi dengan baik.
6. Bapak Drs. Arifin Siregar, MSP, dan Ibu Ilyda Sudardjat, SE, MSi, Selaku
Dosen Pembanding I dan Dosen Pembanding II, yang telah banyak memberi
saran yang sangat berharga.
7. Seluruh dosen dan pegawai administrasi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan, yang telah
memberikan ilmu pengetahuan dan kemudahan kepada penulis selama
mengikuti perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.
8. Staf dan pegawai BI cabang Medan dan BPS Sumatera Utara yang telah
menyediakan data penelitian, sehingga memberikan kemudahan bagi Penulis.
9. Kepada Keluarga Besar seperi kakanda Evi Suryani P. dan abangda Ismail
Marzuki S.Sos dan adikku Eva Susanti P., serta keluarga besar sibarani.
Terima kasih atas segala bantuan dan bimbingannya serta telah menjadi
teladan yang baik.
10.Gunter, Ilham, Ria, Robert, Rahmadi, Riki, Fitri, Lampita dan Septian atas
kasih sayang, doa, semangat yang telah diberikan kepada penulis dan telah
membantu penulis baik dalam penyusunan skripsi maupun dalam
perkuliahan.
11.Teman-teman Departemen Ekonomi Pembangunan Khusus angkatan 2005
yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan warna,
kebersamaan dan kenangan pada penulis.
12.Kepada Seluruh pihak yang telah banyak membantu baik secara langsung
maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa isi skripsi ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, Penulis dengan segala keterbatasannya sangat mengharapkan saran yang
konstruktif, sehingga karya lain dari Penulis di masa yang akan datang jauh lebih
baik.
Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan dan pengorbanan yang telah
diberikan kepada Penulis. Akhirul kalam, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para
pembaca sekalian, terutama bagi Penulis.
Medan, Maret 2009
Penulis,
DAFTAR ISI
ABSTRACT ………. i
KATA PENGANTAR ………... iii
DAFTAR ISI ………. vi
DAFTAR TABEL ……….. ix
DAFTAR GAMBAR ……… x
BAB I PENDAHULUAN ……….. 1
1.1 Latar Belakang Masalah ………. 1
1.2 Perumusan Masalah ………. 7
1.3 Hipotesis ……….. 7
1.4 Tujuan Penelitian ………. 8
1.5 Manfaat Penelitian ……….. 8
BAB II URAIAN TEORITIS ………. 9
2.1 Nilai Tukar (Kurs) ………... .. 9
2.1.1 Pengertian Nilai Tukar (Kurs) ………. 9
2.1.2 Pasar Valuta Asing (Valas) ……….. 12
2.1.3 Teori-teori Kurs ……… 19
2.1.4 Sistem Moneter Internasional ……… 24
2.2.2 Teori Tentang Ekspor ……….. 36
2.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor …………. 41
2.2.4 Strategi Tata Cara Prosedur Pelaksanaan Ekspor ……. 42
2.2.5 Kebijakan Ekspor ……….. .. 48
2.2.6 Manfaat Ekspor ………. .. 50
2.3 PDRB Perkapita ……….. .. 51
2.3.1 Pengertian PDRB ……….. 51
2.3.2 Metode Perhitungan PDRB ………... 53
2.3.3 Kegunaan Statistik Pendapatan Regional …………. 55
BAB III METODE PENELITIAN ………. 57
3.1 Ruang Lingkup Penelitian ………. 57
3.2 Jenis dan Sumber Data ………. 57
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ………. 58
3.4 Pengolahan Data ……… 58
3.5 Model Analisis Data ………... 58
3.6 Uji Kesesuaian (Test of Goodness of Fit) ……….. 60
3.6.1 Koefisien Determinasi (R²) ……….. 60
3.6.2 T-test (Uji Parsial) ………. 60
3.6.3 F-Stastik (Uji Serempak) ……….. 61
3.7 Uji Asumsi Klasik ……….. 62
3.7.2 Autokorelasi ………. 64
3.8 Definisi Operasional ………. 67
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 68
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ……… 68
4.1.1 Sejarah Singkat Sumatera Utara ……… 68
4.1.2 Gambaran Umum Sumatera Utara ……… 70
4.1.3 Gambaran Perekonomian Sumatera Utara ………… 78
4.2 Perkembangan Variabel-variabel yang diBahas ……… 81
4.2.1 Perkembangan Ekspor Sumatera Utara ……… 81
4.2.2 Perkembangan Kurs ……….. 87
4.2.3 Perkembangan PDRB Perkapita ………. 91
4.3 Hasil Evaluasi dan Interpretasi Data ……… 93
4.3.1 Pengujian Pengaruh Variabel Dependent terhadap Variabel Independent ………. 93
4.3.2 Interprestasi Model ………... 93
4.3.3 Uji Kesesuaian ( Test for Goodness of Fit) ………. 94
4.3.4 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ……… 98
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………... 101
DAFTAR PUSTAKA ……….. 103
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
2.1 Direct and Indirect Quotation ………. 12
2.2 Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing
Internasional ……….. 40
3.1 Kriteria Pengambilan Keputusan D-W Test ……….. 65
4.1 Letak dan Geografis ………. 71
4.2 Laju Pertumbuhan dan Strukutr PDRB Triwulan
Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan (%)………... 80
4.3 Perkembangan Volume Ekspor Sumatera Utara ………… 83
4.4 Perkembangan Nilai ekspor Sumatera Utara menurut
sektor 2002 – 2006 (000 US$) ……… 85
4.5 Perkembangan ekspor Sumatera Utara Menurut
Kelompok Barang Ekonomi 2002 – 2006 (000 US$)…… 87
4.6 Perkembangan Kurs (Nilai Tukar) terhadap
Dollar AS tahun 2003-2007 ……….. 90
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
3.1 Kurva Uji t Statistik ……….. 61
3.2 Kurva Uji F Statistik ……… 62
3.3 Kurva D-W Statistik ………. 66
4.1 Uji t-statistik Variabel Kurs (nilai tukar) ………….. 96
4.2 Uji t-statistik Variabel PDRB Perkapita ……… 97
4.3 Uji F-statistik Variabel Kurs dan PDRB Perkapita …. 98
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah.
Diera globalisasi yang sedang berkembang dewasa ini, telah menyebabkan
saling ketergantungan ekonomi yang saling meningkat diantara negara-negara di
dunia. Artinya bahwa setiap negara tidak dapat lagi menutup diri terhadap
negara-negara lain (menjalankan perekonomian tertutup). Oleh karena itu, keterbukaan
perekonomian terhadap dunia internasional menjadi pilihan utama bagi setiap negara.
Keterbukaan ini tidak hanya berhubungan dengan arus perdagangan, investasi dan
keuangan saja, tetapi juga arus jasa, teknologi, informasi, pemikiran dan manusia
antar negara. Namun tidak dapat disangsikan lagi bahwa perdagangan, investasi dan
arus keuangan merupakan cutting-edge proses globalisasi itu. Hal ini dicirikan oleh
beberapa perkembangan pokok antara lain :
1. Pertumbuhan transaksi keuangan internasional yang cepat.
2. Pertumbuhan perdagangan yang cepat, terutama diantara
3. Gelombang investasi asing langsung yang mendapat dukungan luas dari
perusahaan trans-nasional.
4. Timbulnya pasar global.
5. Penyebaran teknologi dan pemikiran sebagai akibat dari ekspansi sistem
transportasi dan komunikasi yang cepat dan meliputi seluruh dunia.
Sebagai dampak yang terlihat jelas dari adanya saling ketergantungan ini,
adalah negara bukan lagi sebagai pemain kunci dalam bidang ekonomi. Hal ini
disebabkan karena perekonomian lebih disebabkan oleh pengaruh ekonomi global
atau keadaan ekonomi negara-negara lain sehingga peran pemerintah atau negara
lebih pada aspek politisnya, yakni bagaimana mengambil berbagai kebijakan yang
tepat untuk mengendalikan pengaruh global sehingga perekonomian negara tetap
dalam keadaan stabil dan mampu menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi
masyarakat. Oleh sebab itu, setiap negara tidak langsung dituntut untuk memperbaiki
kinerja perekonomiannya terutama pada sektor perdagangan luar negeri agar dapat
bersaing dipasar global dan tidak mudah terseret oleh gejolak ekonomi yang terjadi
negara lain.
Seperti halnya Indonesia yang sudah lama terlibat dalam perdagangan
internasional terus melakukan pembanahan dan perbaikan diberbagai sektor guna
mengantisipasi persaingan terutama dari negara-negara maju yang telah memiliki
fundamental ekonomi yang kuat dan lebih efisien dalam memanfaatkan faktor-faktor
negeri mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menunjang berbagai
pembangunan yang sedang dilaksanakan. Betapa tidak, sampai saat ini, Indonesia
masih mengandalkan penerimaan dari hasil ekspor disamping pajak sebagai sumber
pendapatan yang terbesar. Umumnya barang-barang ekspor yang diandalkan oleh
Indonesia terutama barang-barang hasil pertanian dan barang tambang. Hal ini
didukung oleh potensi yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris dan memiliki
kekayaan alam yang cukup melimpah. Sebelum krisis moneter melanda Indonesia
tepatnya pada pertengahan tahun 1997, transaksi Indonesia selalu mengalami surplus
dan setiap tahunnya menunjukkan peningkatan ekspor yang cukup tinggi. Keadaan ini
didukung oleh kondisi variabel-variabel makroekonomi seperti nilai tukar (kurs),
suku bunga, inflasi, jumlah uang beredar dan beberapa indikator lainnya yang relatif
stabil. Akan tetapi, sejak terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997
keadaan ekspor Indonesia baik secara nasional maupun per propinsi mengalami
penurunan yang sangat drastis. Seperti halnya penurunan nilai ekspor Sumatera Utara
yang cukup tajam, Tahun 1997, nilai ekspor Sumatera Utara sebesar US$ 3,44
Milliar, tahun 1998 turun menjadi US$ 2,71 Milliar. Kemudian tahun 1999 turun lagi
menjadi US$ 2,61 Milliar. Penurunan ini terus berlanjut hingga tahun 2000 dan tahun
2001. Tahun berikutnya nilai ekspor Sumatera Utara bergerak secara Fluktuasi dan
terus meningkat dari tahun 2004 sampai dengan 2007, nilai ekspor mencapai sebesar
Nilai tukar (kurs) merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang asing
lainnya yang memainkan peranan penting dalam perdagangan internasional. Dengan
mengetahui kurs, memungkinkan kita untuk membandingkan harga-harga barang dan
jasa yang dihasilkan oleh berbagai negara. Bila nilai uang suatu negara melemah
terhadap nilai uang lainnya (mengalami depresiasi), ekspornya bagi luar negeri akan
menjadi murah, sedangkan impor bagi penduduk negara tersebut menjadi semakin
mahal. Sebaliknya, bila nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara
lainnya (mengalami apresiasi) maka harga produk negara itu bagi pihak luar negeri
makin mahal, sedangkan harga impor bagi penduduk domestik lebih murah. Tinggi
rendahnya dari pada nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya,
ditentukan oleh interaksi penjual dan pembeli valas di pasar valuta asing dari
berbagai rumah tangga, perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan guna keperluan
pembayaran internasional. Kurs yang terlalu terdepresiasi atau terapresiasi akan
memperburuk kondisi perekonomian khususnya dari sektor perdagangan
internasional. Pengaruhnya adalah nilai tukar yang terlalu melemah akan
menimbulkan harga ekspor yang terlalu murah sedangkan harga impor tinggi yang
akan mempengaruhi ketidakseimbangan neraca perdagangan. Sebaliknya, bila terlalu
menguat harga ekspor diluar negeri menjadi mahal sehingga barang-barang ekspor
kurang bersaing khususnya dari segi harga dipasar internasional. Oleh sebab itu,
nilai kurs melalui berbagai kebijakan moneter yang ada. Adapun tujuan kebijakan
tersebut adalah :
1. Untuk mencapai keseimbangan internal yakni terkerahkannya segenap sumber
daya secara optimal dan stabilitas tingkat harga.
2. Untuk mencapai keseimbangan eksternal yakni terciptanya neraca transaksi
berjalan masing-masing negara tidak dalam defisit yang parah sehingga
negara yang bersangkutan tidak dapat membayar hutang luar negerinya
terhadap orang lain.
Besar tidaknya intervensi pemerintah ataupun bank sentral dalam mengendalikan
nilai tukar (kurs) sangat ditentukan oleh ketersediaan cadangan devisa. Semakin besar
cadangan devisa internasional yang dimiliki oleh suatu negara, intervensi bank sentral
semakin besar, begitu pula sebaliknya. Bentuk intervensi bank sentral adalah
membeli valas bila terjadi kelebihan penawaran valuta asing dan menjual valas bila
terjadi kelebihan permintaan valas. Umumnya negara-negara yang mempunyai
cadangan devisa yang besar sebagai akibat dari neraca perdagangan yang surplus dan
jarang mengalami tekanan inflasioner akan menerapkan sistem kurs tetap (fixed
exchange rate system). Dalam sistem kurs tetap ini bank sentral asing siap sedia
untuk menjual dan membeli mata uang mereka dengan harga tetap dilihat dari segi
dollar.
Bagi negara yang persediaan devisa internasionalnya sedikit sebagai akibat
umumnya akan memilih sistem kurs mengembang terkendali (managed floating
exchange rate), yaitu bank sentral akan membiarkan nilai kurs ditentukan oleh
kekuatan permintaan dan penawaran dipasar valuta asing. Bila fluktuasi nilai tukar
melewati ambang batas tertentu, dalam pengertian telah membahayakan
perekonomian negara, maka bank sentral menjalankan intervensinya lewat berbagai
instrument moneter yang ada.
Mengingat neraca pembayaran indonesia yang selalu defisit dalam beberapa
tahun terakhir ini sehingga persediaan devisa internasional relatif sedikit, maka sistem
kurs yang diterapkan adalah sistem kurs mengambang terkendali (managed floating
exchange rate), seperti halnya disaat krisis moneter terjadi pertengahan tahun 1997,
Bank Indonesia tidak dapat berbuat banyak dan cenderung membiarkan nilai tukar
rupiah tersesuaikan dengan sendirinya dipasar. Rupiah yang melemah sejak Agustus
1997, terutama pada awal tahun 1998, ditandai dengan collapsnya banyak
perusahaan, yang sampai sekarangpun belum mampu memenuhi kewajiban
pembayarannya kepada bank, yang sebagian juga sudah tidak bertahan lagi. Keadaan
mulai membaik sejak oktober 1998, sehingga nilai tukar rupiah yang sempat begitu
rendah diatas ambang Rp 15.000 per US Dollar, kembali menguat menjadi Rp 8.025
pada akhir tahun 1998. Nilai tukar Rupiah terus menguat sampai mencapai Rp 7.100
per US Dollar pada akhir tahun 1999, terutama setelah pemilihan umum berlangsung
dangan baik dan harapan besar pada pemerintahan baru, tetapi ternyata kemudian
atas Rp 11.000 per US Dollar pada awal tahun 2001. Menguatnya kembali rupiah
hingga pada tahun pertengahan 2003, sedikit memberi secercah harapan mulai
membaiknya perekonomian Indonesia. Kemudian nilai tukar rupiah bergerak secara
fluktuasi dari tahun 2004 sampai tahun 2007. Walaupun beberapa pengamat ekonomi
memprediksikan bahwa penguatan rupiah hanya bersifat sementara karena belum
membaiknya fundamental ekonomi secara keseluruhan khususnya pada sektor riil.
Sebagai akibatnya, pengaruh aspek non ekonomi seperti keamanan dan politik akan
mudah mempengaruhi stabilitas nilai tukar.
PDRB perkapita dapat digunakan sebagai gambaran rata-rata pendapatan yang
diterima oleh setiap penduduk sebagai hasil dari seluruh proses produksi sektor-
sektor ekonomi disuatu wilayah. PDRB perkapita diperoleh dengan cara membagi
total nilai PDRB atas dasar harga konstan dengan jumlah penduduk pertengahan
tahun. Berdasarkan angka PDRB perkapita atas dasar harga konstan, kinerja
perekonomian Sumatera Utara telah menunjukkan peningkatan yang relatif
menggembirakan. Bila pada tahun 2006 PDRB perkapita konstan Sumatera Utara
baru mencapai 50.705.973 rupiah maka pada tahun 2007 angka itu sudah menjadi
59.228.075 rupiah.
Berdasarkan uraian-uraian dan fenomena-fenomena yang telah dikemukakan
diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membuat skripsi dengan
judul “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Tingkat PDRB
1.2. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis terlebih dahulu merumuskan masalah dengan
jelas sebagai dasar penelitian yang dilakukan, sehubungan dengan hal tersebut penulis
mengidentifikasikan permasalahannya sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat
terhadap ekspor Sumatera Utara.
2. Bagaimana pengaruh tingkat PDRB perkapita terhadap ekspor Sumatera
Utara.
1.3. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang
keberadaannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan perumusan masalah diatas,
maka hipotesis yang dibuat penulis adalah sebagai berikut :
1. Fluktuasi nilai tukar rupiah atas dollar Amerika berpengaruh negatif terhadap
ekspor Sumatera Utara.
2. Tingkat PDRB perkapita berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekspor
Sumatera Utara.
1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah atas
dollar Amerika Serikat terhadap ekspor Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh PDRB perkapita perkembangan
terhadap ekspor Sumatera Utara.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan penulis dalam
disiplin ilmu yang yang penulis tekuni.
2. Sebagai tambahan informasi dan masukan bagi mahasiswa/i Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara terutama mahasiswa/i Departemen
Ekonomi Pembangunan yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.
3. Sebagai penambahan/ pelengkap sekaligus pembanding hasil-hasil penelitian
yang sudah ada menyangkut topik yang sama.
4. Untuk menambah pengetahuan bagi penulis, serta salah satu syarat bagi
penulis dalam menyelesaikan perkuliahan.
5. Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait khususnya pemerintah melalui
Bank Indonesia dalam mengambil berbagai kebijakan dalam menjaga nilai
tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.
BAB II
URAIAN TEORITIS 2.1. NILAI TUKAR (KURS)
2.1.1 Pengertian Nilai Tukar (Kurs)
Kegiatan perdagangan internasional dalam kenyataannya tidak sesederhana
perdagangan domestik yang hanya melibatkan interaksi antar masyarakat dalam satu
negara untuk melakukan transaksi jual beli barang dan jasa dengan alat
proses transaksi jual beli barang, terjadi antar masyarakat suatu negara dengan
masyarakat negara lain yang menghendaki pembayaran dalam mata uang
masing-masing, yang satu sama lain saling berbeda, atau paling tidak dalam mata uang
tertentu yang dapat diterima secara internasional seperi Dollar AS, Pounsterling,
Deutsmark atau Yen dan lain-lain, yang keberadaannya tersebar di banyak negara.
Akan tetapi, dalam berbagai transaksi internasional, Dollar AS paling sering
digunakan. Tidak mengherankan bila Dollar AS mendapat julukan sebagai mata uang
penggerak yaitu mata uang terkemuka yang secara luas digunakan sebagai suatu nilai
kontrak-kontrak internasional antara pihak-pihak yang bukan merupakan penduduk
dari negara pencetak uang tersebut. Hal ini didukung oleh peran AS yang begitu
penting dalam perekonomian dunia yaitu sebagai pusat perdagangan dunia.
Oleh karena itu, dalam perdagangan internasional pertukaran antara satu mata
uang dengan mata uang negara lain menjadi hal yang terpenting untuk mempermudah
proses transaksi jual beli barang dan jasa. Dari pertukaran ini terdapat perbandingan
nilai uang atau harga antara kedua mata uang tersebut dan inilah yang disebut dengan
nilai tukar atau kurs. Jadi, secara umum kurs atau nilai tukar dapat diartikan sebagai
harga suatu mata uang terhadap mata uang asing atau harga mata uang luar negeri
terhadap mata uang domestik. (Lindert, 1999: 336).
Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian
terbuka mengingat pengaruhnya yang demikian besar bagi transaksi berjalan maupun
peranan sentral dalam perdagangan internasional, karena dengan mengetahui kurs
memungkinkan kita untuk membandingkan harga-harga segenap barang dan jasa
yang dihasilkan oleh berbagai negara sehingga dapat dijadikan sebagai alat
(instrumen) rujukan dalam kegiatan ekspor dan impor.
Dalam mekanisme pasar, kurs dari suatu mata uang akan selalu mengalami
fluktuasi (perubahan-perubahan) yang berdampak langsung pada harga barang-barang
ekspor dan impor (Dominic, 1997: 12). Perubahan-perubahan yang dimaksud antara
lain,
a) Apresiasi yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar mata uang secara otomatis
akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan atas mata
uang yang bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat ini dari
perubahan kurs ini adalah harga produk dari suatu negara bagi pihak luar
negari akan semakin mahal sedangkan harga produk barang impor bagi
masyarakat domestik semakin akan lebih murah.
b) Depresiasi yaitu peristiwa penurunan nilai tukar mata uang secara otomatis
akibat bekerjanya kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang
bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs
ini adalah produk negara itu bagi pihak luar negeri menjadi murah, sedangkan
Sistem penulisan harga atau nilai suatu valuta asing yang dinyatakan dalam valuta
asing lainnya dikenal ada dua macam yaitu :
a. Direct quotation adalah sistem yang menyatakan nilai mata uang suatu negara
yang diperlukan atau diperoleh untuk satu unit valuta asing. Penulisannya
dilakukan dengan menempatkan nilai mata uang dalam negeri (domestic
currency) di depan dan nilai mata uang asing (foreign currency) di belakang.
b. Inderect quotation adalah sistem yang menyatakan nilai valuta asing yang
diperlukan atau diperoleh untuk 1 unit mata uang dalam negeri(domestic
currency). Penulisannya dilakukan dengan menempatkan nilai mata uang asing
(foreign currency) di depan dan unit mata uang dalam negeri (domestic currency)
di belakang.
Tabel 2.1
Direct and indirect Quotation
Jakarta Direct Quotation Indirect Quotation
1/7/1998 Rp 12.000/USD
Rp 80/JPY
USD 0,000083/Rp
Rp 8.000/DEM
Rp 8.500/SGD
Rp 3.400/MYR
DEM 0,0001/Rp
SGR 0,0001176/Rp
MYR 0,0002941/Rp
2.1.2 Pasar Valuta Asing (Valas)
Pasar valuta asing adalah tempat berlangsungnya perdagangan atau jual beli
berbagai mata uang negara yang berbeda. Atau dengan kata lain, pasar valuta asing
adalah tempat bertemunya pembeli atau penjual dari berbagai mata uang asing
(Dominic,1997:2). Secara umum, ada 4 (empat) pelaku utama dalam pasar valuta
asing :
a) Para pelaku transaksi tradisional seperti para wisatawan, importir, eksportir,
dan investor yang merupakan pengguna valas yang bersifat langsung.
b) Bank-bank komersial yang bertindak sebagai perantara atau lembaga kliring
antara para pemakai (sumber permintaan) dan penghimpun (sumber
penawaran) valuta asing yang merupakan inti (pusat) pasar valas, karena
hampir semua transaksi internasional bernilai besar melibatkan kegiatan
pencatatan debet dan kredit pada rekening bank-bank komersial di berbagai
pusat keuangan dunia.
c) Para pialang valas yang bertindak sebagai perantara bagi bank-bank komersial
perbankan itu sendiri, mereka merupakan aktor utama berikutnya dalam pasar
antara bank atau pasar mata uang berskala besar.
d) Bank sentral (Central Banks) yang bertindak sebagai pembeli dan penjual
terakihir dari keseluruhan valas yang ada di suatu negara. Bank sentral inilah
yang bertindak sebagai aktor utama yang menyamakan pendapatan dan
pengeluaran valas di suatu negara. Hal tersebut dilakukannya dengan
mengurangi atau menambah cadangan devisa.
a. Fungsi Pasar Valuta Asing
Pasar valuta asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu
kelancaran lalu-lintas pembayaran internasional yaitu:
1. Mempermudah penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari suatu
negara ke negara lain. Proses penukaran atau pemindahan dana ini dapat
dilakukan dengan system clearing seperti halnya yang dilakukan oleh
bank-bank dan para pedagang.
2. Karena sering terdapat transaksi internasional yang tidak perlu segera
diselesaikan pembayarannya dan atau penyerahan barangnya maka pasar
valuta asing memberikan kemudahan untuk dilaksanakannya perjanjian atau
kontrak jual-beli dengan kredit (letter of kredit L/C).
3. Kemungkinan dilakukannya hedging. Seseorang pedagang melakukan
hedging apabila dia pada saat yang bersamaan melakukan transaksi jual beli
resiko kerugian akibat perubahan kurs. Hedging dapat dilakukan di pasar
jangka(forward market). Pasar jangka adalah pasar dimana transaksi jual beli
terjadi dengan harga yang disetujui, tetapi penyerahan barang dilakukan
dikemudian hari. Ini berbeda dengan spot market dimana transaksi dan
penyerahan barang terjadi pada saat bersamaan. Sebagai contoh seorang
importir mobil yang mengimpor mobil dari amerika dengan harga US$ 3.000
dengan pembayaran tiga bulan yang akan datang. Kurs pada saat itu, misalnya
f 1=US$3, sehingga harga mobil tersebut dalam Poundsterling adalah f 1.000
apabila kurs f turun menjadi f1=US$2 maka harga mobil tersebut dalam f
adalah f 1500, dengan demikian importer akan mengalami kerugian. Untuk
menghindari kerugian tersebut dia dapat melakukan hedging dipasar jangka.
Caranya importer tersebut menghubungi banknya di Inggris untuk membeli
US$ 3000 dengan penyerahan tiga bulan yang akan datang dengan harga kurs
yang disetujui pada saat itu. Kurs ini disebut kurs jangka (forward exchange
rate) yang berbeda dengan kurs spot(spot exchange rate). Perbedaan antara
kurs forward dengan kurs spot menggambarkan adanya perbedaan tingkat
suku bunga di Inggris dengan Amerika, untuk lebih menjelaskan hal tersebut
sebaiknya diceritakan tentang importir asal inggris diatas. Bank inggris yang
dihubungi importir tersebut berusaha mencairkan seharga US$ 3000. Bank
tersebut dapat membeli US$ 3000 pada pasar spot dan kemudian
Inggris memperoleh bunga dari Bank Amerika tersebut apabila tingkat bunga
di Amerika lebih rendah daripada di Inggris importir harus membayar
perbedaannya. Dalam hal ini forward US$ dijual dengan premium
dibandingkan dengan spot US$, sebaliknya apabila tingkat bunga di Amerika
lebih tinggi, maka perbedaannya oleh bank tersebut diberikan kepada importir
dalam hal ini forward US$ dijual dengan diskon dibandingkan dengan spot f.
Misalnya, importir tersebut memerlukan US$ 2000 untuk tiga bulan dan kurs
spot f 1=US$2, jika tingkat bunga untuk simpanan tiga bulan di Amerika
sebesar 4% dan inggris 5% maka bank Inggris yang menjual US$ 2000
forward kepada importir akan meminta f 1000 (kurs spot) ditambah dengan
1% kerugian tingkat bunga karena dollar disimpan pada Bank Amerika. Total
harga US$ 2000 adalah f 1000 + f 10 = f 1010. Kurs forwardnya menjadi f
1=(2000/1010) =US$ 1,98 yakni 1% diskon terhadap kurs spot (f 1 =US$ 2).
Sebaliknya apabila tingkat bunga di Amerika 4% dan di Inggris 3%, maka
harga total US$ 2000 forward akan menjadi f 1000 – f 10 = f 990. Kurs
forwardnya menjadi f 1= 2000/990 = US$ 2,02, yakni 1% premium terhadap
kurs spot(f 1 = US$ 2). Ratio kurs forward dengan kurs spot menggambarkan
perbedaan dalam tingkat bunga. Apabila terdapat perbedaan, tindakan
Arbitrage ( tindakan menjual/membeli valuta asing dinegara yang kursnya
lebih tinggi/rendah untuk memperoleh untung akibat perbedaan kurs di kedua
cenderung menyamakan kurs valuta asing diberbagai negara. Tindakan
arbitrage akan berhenti apabila keuntungan yang diperolehnya karena adanya
perbedaan tingkat bunga diimbangi dengan kerugian yang sama dari pasar
valuta asing jangka (forward market) ini membuat interest parity. Secara
simbolik, interest parity tersebut dijelaskan sebagai berikut:
(
)
Forward premium (jika positif) dan forward diskont(jika negatif) misalnya,
uang US$ di investasikan di Amerika (untuk 3 bulan) akan menghasilkan US$
(1+ in ) seandainya uang tersebut di investasikan di Inggris (untuk jangka
waktu 3 bulan), terlebih dahulu harus ditukarkan dalam pasar spot. Bunga
yang akan diperolehnya sebesar :
$1 = (1+ ie)
rs
persamaan diatas diringkas menjadi :
b. Efesiensi Pasar Valuta Asing
Transaksi-transaksi tersebut diatas akan menentukan bagaimana sebuah pasar
valas bekerja apakah efisien atau tidak. Sebab persoalan yang berkenaan dengan
efisiensi pasar valas ini perlu kita pahami karena hanya jika pasar itu efisien maka
harga-harga yang ada dapat mencerminkan nilai kelangkaan dari berbagai barang
yang ada, yang selanjutnya akan menjurus pada alokasi sumber daya yang efisien.
Sebuah pasar valas dikatakan efisien (Dominic,1997:41), apabila kurs
berjangka yang tengah berlaku secara akurat dapat memprediksikan kurs spot yang
akan berlaku dimasa-masa selanjutnya. Artinya, jika kurs berjangka dapat
mencerminkan semua informasi yang ada dan secara cepat menyesuaikan diri
terhadap setiap informasi baru,maka para investor tidak akan dapat memperoleh
keuntungan secara terus-menerus dengan mendasarkan diri pada informasi yang
mereka miliki dan dalam situasi seperti itulah pasar valas dikatakan efisien. Dengan
kata lain, pasar valas dapat dikatakan efisien apabila tidak tersedia informasi yang
tidak memungkinkan para investor dan spekulan secara sistematis memanfaatkannya
untuk memperoleh keuntungan sepihak secara terus-menerus.
Namun diakui, pengujian terhadap efisien pasar valas itu sangat sukar untuk
dilakukan. Sampai sejauh ini, pengujian empiris yang cukup komprehensif mengenai
efisiensi pasar valas dilakukan oleh Levich dan sejumlah ekonom lainnya. Dalam
melakukan pengujian empiris tersebut, mereka menggunakan konsep efisiensi pasar
dikatakan efisien dan dapat pula disebut tidak efisien, tergantung dari definisi
efisiensi itu sendiri. Sebagai contoh, sejumlah pengujian empiris menunjukkan bahwa
dalam sebuah pasar valas yang efisien, sedikit sekali terbuka peluang untuk
melakukan arbitrase suku bunga bebas resiko dan deviasi
(penyimpangan-penyimpangan) dari paritas suku bunga, secara umum lebih kecil ketimbang biaya
transaksi yang harus dipikul oleh yang hendak memanfaatkan situasi demi memetik
keuntungan jangka pendek. Juga jika para spekulator tidak bisa memperoleh
keuntungan atau kerugian secara terus-menerus.
c. Stabilitas Pasar Valuta Asing
Di sisi lain, pasar valas juga sering mengalami gejolak sebagai dampak dari
interaksi berbagai permintaan dan penawaran valas yang dapat mempengaruhi kurs
valas tersebut. Keadaan ini dapat membawa pasar valas kepada situasi yang relatif
stabil atau tidak stabil (Dominic,1997:113). Sebuah pasar valas stabil akan tercipta
apabila setiap gangguan terhadap keseimbangan kurs akan memunculkan
kekuatan-kekuatan koreksi secara otomatis yang selanjutnya akan mendorong kembali kurs itu
kembali ketingkat equilibrium atau keseimbangannya. Hal ini terlihat tatkala kurva
penawaran valas memiliki kecondongan atau besaran sudut positif, ataupun kalau
besaran sudutnya itu negatif, ia tetap tidak elastis (bentuknya lebih landai) bila
dibandingkan dengan kurva permintaan atas valas yang bersangkutan. Sebaliknya,
keseimbangan kurs justru akan mendorong kurs tersebut kian menyimpang dan
semakin jauh dari tingkat equilibriumnya.
Selanjutnya, analisis mengenai stabil atau tidak stabilnya pasar valas dapat
dipahami dalam prinsip-prinsip dasar yang terkandung pada kondisi Marshal
Lerner. Kondisi Marshal Lerner menunjukkan bahwa suatu pasar valas bersifat
stabil apabila penjumlahan elastisitas harga dari permintaan impor (DM) dan
permintaan ekspor (DX) dalam angka-angka absolut lebih besar dari 1 (satu). Jika
jumlah kurang dari 1, maka pasa valas yang bersangkutan dinyatakan tidak stabil.
Sedangkan jika penjumlahan elastisitas harga dari DM dan DX itu persis sama dengan
1, maka setiap perubahan kurs tidak akan mengubah neraca pembayaran dari
negara-negara yang terkait.
2.1.3 Teori-teori Kurs (Dominic,1997:43)
a). Pendekatan perdagangan atau pendekatan elastisitas terhadap pembentukan
kurs yakni, nilai tukar dari dua negara ditentukan oleh besar kecilnya
perdagangan barang dab jasa yang berlangsung diantara kedua negara tersebut.
Menurut pendekatan ini, kurs equilibrium adalah kurs yang akan
menyeimbangkan nilai impor dan ekspor dari suatu negara. Jika nilai impor
negara tersebut lebih besar daripada nilai ekspornya (artinya negara tersebut
mengalami defisit perdagangan), maka kurs mata uangnya akan mengalami
tukar) dan hal itu akan berlangsung cepat dalam sistem kurs mengambang.
Peningkatan kurs (angka nominlanya) atau penurunan nilai tukar mata uang
tersebut akan membuat harga dari berbagai komoditi ekspornya menjadi lebih
murah bagi importir atau menjadi lebih mahal bagi prosuk domestik. Akibatnya,
lambat laun ekspor negara tersebut akan mengalami kenaikan sedangkan
impornya akan terus menurun ssampai pada akhirnya nilai perdagangan
internasionalnya benar-benar seimbang (ekspor=impor). Karena kecepatan proses
penyesuaian tersebut ditentukan oleh seberapa responsif atau elastis impor dan
ekspor terhadap perubahan-perubahan harga (kurs), maka pendekatan ini lebih
populer dengan sebutan pendekatan elastisitas.
Pendekatan ini juga tidak luput dari berbagai kelemahan diantaranya tidak dapat
menjelaskan gejolak besar (fluktuasi) kurs yang berlangsung selama dasawarsa
1970-an maupun lonjakan tajam apresiasi Dollar AS dai tahun 1980 hingga tahun
1985. padahal masa itu AS mengalami defisit perdagangan yang besar.
b). Teori paritas daya beli (purcashing power parity theory/PPP)
Merumuskan bahwa kurs antara 2 mata uang adalah identik dengan rasio dari
tingkat harga umum dari kedua negara yang bersangkutan. Artinya, penurunan
daya beli mata uang domestik akan diiringi dengan depresiasi mata uangnya
secara proporsional dalam pasar valas.
Menurut teori ini, pasar valas berada dalam kondisi keseimbangan apabila
imabaln yang sama (Krugan,1992:66). Kondisi dimana tingkat imbalan yang
ditawarkan semua simpanan dalam berbagai valas sama disebut kondisi
paritas suku bunga (interest parity). Dengan kata lain, segenap simpanan valas
menawarkan tingkat imbalan resiko kurs, dan kemungkinan perubahan kurs
yang secara keseluruhan serta hingga prospek keuntungan ataupun daya tarik
atas aset-aset tersebut besar. Kenaikan suku bunga dari simpanan suatu mata
uang domestik tersebut mengalami depresiasi terhadap mata uang asing,
dengan asumsi kondisi lainnya tetap (perkiraan kurs diamsa mendatang tidak
berubah).
Namun demikian, asumsi yang digunakan tersebut dalam kenyataannya sangat
tidak realistis sebab perubahan suku bunga senantiasa disertai perubahan kurs
dimasa mendatang. Oleh sebab itu, perkiraan kurs dimasa mendatang tersebut
juga ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi yang juga mengakibatkan
perubahan suku bunga tadi.
Secara umum kelemahanyang mencolok dari logika yang terkandung
dalam teori PPP mengenai kurs adalah :
- Asumsi yang dianut oleh hukum satu harga, yakni bahwa biaya-biaya
transportasi dan pembatasan perdagangan bisa diabaikan, Asumsi yang
dianut oleh hukum satu harga, yakni bahwa biaya biaya transportasi dan
pembatasan perdagangan bisa diabaikan, ternyata dalam prakteknya tidak
- Praktek monopolistik dan oligopolistik di berbagai pasar barang bersama
dngan besarnya aneka biaya transportasi serta pembatasan perdagangan,
semakin memperlemah keterkaitan harga atas barang yang sama di
berbagai negara.
- Oleh karena data-data inflasi di berbagai negara didasarkan pada jenus
komoditi acuan yang berlainan, maka perubahan kurs tidak bisa
diharapkan mampu mengimbangi selisih inflasi resmi meskipun tidak ada
pembatasan perdagangan dan semua produk bisa diperdagangkan.
c). Pendekatan Moneter (Monetary approach)
Merumuskan bahwa kurs tercipta dalam proses penyamaan atau
penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional
di masing-masing negara. Penawaran uang di suatu negara diasumsikan dapat
ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otoritas moneter dari
negara yang bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang sangat
ditentukan oleh tingkat pedapatan riil negara tersebut atau harga-harga umum
yang berlaku serta suku bunga, dimana permintaan uang berbanding lurus
dengan harga-harga umum dan berbanding terbalik terhadap suku bunga. Pada
tingkat pendapatan riil atau harga-harga tertentu, suku bunga equilibrium
terbentuk pada titik perpotongan antara kurva dan kurva penawaran uang yang
Jadi pendekatan moneter dapat dikatakan terlalu mengutamakan
peranan uang (sektor moneter) dan cederung mengabaikan peranan penting
yang dimainkan oleh perdagangan barang dan jasa (sektor riil) sebagai suatu
faktor pokok yang mempengaruhi besar kecilnya kurs, khususnya dalam
jangka panjang.
Selain itu, pendekatan moneter mengasumsikan bahwa aset-aset
finansial domestik dan luar negeri seperti obligasi yang diterbitkan oleh
berbagai negara satyu sama lain merupakan pengganti atau subtituusi yang
sempurna. Namun dalam prakteknya, obligasi yang diterbitkan oleh suatu
negara sangat berbeda, baik jenis maupun bobotnya dibandingkan dengan
obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara lain. Hal inilah sebagai sumber
kelemahan dari pendekatan moneter yang dianggap bertumpu pada sejumlah
asumsi yang kurang realistis.
d). Pendekatan keseimbangan portofolio (portofolio balabce approach)
Merumuskan bahwa kkurs sesungguhnya terbentuk dalam proses dan
penyeimbang stok atau total permintaan dan penawaran asset-asset finansial
(dalam hal ini, uang dipandang hanya merupakan salah satu bentuk dari
sekian banyak jenis asset finansial) dalam setiap negara.
Asumsi yang dipergunakan dalam pendeatan ini adalah,
- Obligasi domestik dan luar negeri sebagai substansi yang tidak sepurna.
Menurut pendekatan ini kenaikan penawaran uang di negara domestik
akan mendorong terjadinya kemerosostan di negara yang bersangkutan
sehingga akan membuat para investor menukarkan obligasi domestiknya
menjadi mata uang domestik dan obligasi luar negeri. Pembelian secara
besar-besaran atas obligasi luar negeri itu dengan sendirinya menimbulkan
depresiasi atas mata uang domestik.
Selanjunya, depresiasi itu merangsang peningkatan ekspor negara domestik
dan sekaligus menyurutkan impornya. Pada gilirannya hal ini menciptakan
surplus perdagangan bagi domestik yang segera disusul oleh apresias mata
uangnya. Apresiasi ini meredam sebagian depresiasi yang telah terjdi
sebelumnya. Dengan demikian,pendekatan keseimbangan portofolio ini juga
menjelaskan terjadinya lonjakan kurs, namun tidak seperti pendekatan
moneter, ia mampu menjelaskannya secara eksplisit dan mengaitkan peran
perdagangan dalam proses penyesuaian kurs dalam jangka panjang.
2.1.4 Sistem Moneter Internasional
Sistem moneter internasional atau yang sering pula disebut sebagai tata atau
rejim moneter internasional (Dominic,1997:407), mengacu pada berbagai peraturan,
kebiasaan-kebiasaan, instrumen penunjang, fasilitas pelengkap, prosedur dan
organisasi berkenaan dengan pembayaran internasional. Sistem moneter internasional
yang dianut oleh suatu negara merupakan salah satu faktor penentu untuk mencapai
mencapai keseimbangan internal (kondisi full employment yang disertai dengan
stabilitas harga) dan keseimbangan eksternal (mencegah terciptanya
ketidakseimbangan baik itu berupa defisit atau surplus neraca pembayaran yang
berlebihan). Oleh karena itu, sebagai upaya suatu negara dalam rangka mengejar
tujuan-tujuan makro ekonominya selalu mempengaruhi keberhasilan negara-negara
lain dalam mengusahakan pencapaian sasarannya.
Sebuah sistem moneter yang baik adalah sistem yang mampu memaksimalkan
arus perdagangan dan investasi internasional serta mampu menciptakan suatu pola
distribusi “keuntungan” perdagangan yang relatif merata dikalangan semua pihak
yang terlibat didalamnya. Kualitas sistem moneter internasional dapat dievaluasi
berdasarkan 3 kriteria pokok yakni, penyesuaian, liquiditas, dan kepercayaan.
Kriteria penyesuaian merujuk pada fasilitas, prosedur, proses atau kemudahan
mekanisme koreksi atas setiap ketidakseimbangan neraca pembayaran yang
terkandung dalam masing-masing sistem. Moneter internasional yang baik adalah
mampu meminimalkan biaya dan waktu yang diperlukan untuk menciptakan
penyesuaian tersebut. Adapun kriteria liquiditas merujuk pada jumlah asset cadangan
internasional yang tersedia guna mengatasi berbagai ketidakseimbangan temporer
pada neraca pembayaran. Berdasarkan kriteria ini, sebuah sistem moneter yang baik
adalah yang mempu menyediakan asset-asset cadangan internasional yang memadai
sehingga negara-negara dapat memanfaatkannya secara leluasa dalam rangka
perekonomian mereka sendiri atau menimbulkan tekanan-tekanan inflasioner
terhadap negara-negara lain secara keseluruhan. Sedangkan kriteria kepercayaan
merujuk pada sejauh mana masyarakat internasional memiliki pengetahuan dan
memasukkan kepercayaan atas mekanisme penyesuaian dan ketersediaan cadangan
internasional dalam mengatasi berbagai masalah pembayaran internasional yang ada
pada sebuah sistem. Atas dasar kriteria ini, sebuah sistem moneter internasional
dikatakan baik apabila masyarakat dunia memberikan kepercayaan yang memadai
terhadapnya.
Secara umum, standar internasional yang pernah ada dalam sejarah
perekonomian dunia hingga saat ini terdiri atas :
a. Stadar emas
Dalam standar emas, setiap negara diwajibkan untuk membakukan kandungan
emas dalam koin mata uangnya dan secara pasif bersiaga untuk membeli atau
menjual mata uangnya masing-masing. Karena kandungan emas dalam setiap unit
mata uang senantiasa baku, maka dengan sendirinya kursnya pun selalu baku. Inilah
yang disebut sebagai paritas logam mulia(mint parity). Kurs hanya dapat berfluktuasi
di atas atau dibawah paritas logam mulia itu (diseputar titi emas) sebesar biaya
pengapalan sejumlah emas yang setara nilainya dengan satu dengan satu unit valas
dari suatu pusat moneter ke pusat moneter lainnya. Kecenderungan dari sebuah mata
uang untuk mengalami depresiasi malampaui titik ekspor emas secara efektif dicegah
emas ini langsung mencerminkan keberadaan dan jumlah defisit pada neraca
pembayaran di negara yang bersangkutan. Sebaliknya,kecenderungan dari sebuah
mata uang untuk mengalami apresiasi melampaui titik impor emas, dicegah oleh
surplus pada neraca pembayaran yang bersangkutan.
Selanjutnya, pada sistem moneter ini, tanggung jawab pokok bank sentral
adalah menjaga paritas resmi peredaran uang dan emas. Agar nilai harga uangnya
stabil, bank sentral harus memiliki cadangan emas dan jumah yang cukup.
Mekanisme penyesuaian yang ada dalam standar emas, sebagaimana telah dijelaskan
oleh Hume, adalah mekanisme arus harga logam mulia otomatis. Karena penawaran
uang disetiap negara terdiri dari emas dan uang kertas yang didukung oleh emas,
maka begitu negara tersebut mengalami defisit neraca pembayaran, maka tingkat
penawaran uangnya pun langsung mengalami penurunan dan demikian sebaliknya,
yakni tingkat penawaran di negara yang mengalami surplus akan meningkat. Hal ini
menyebabkan harga-harga domestik di negara yang mengalami defisit akan turun,
sedangkan harga-harga di negara yang mengalami surplus akan mengalami kenaikan.
Lebih lanjut, ekspor di negara yang mengalami defisit akan terpacu sedangkan
impornya akan berkurang sampai defisit pada neraca pembayarannya itu hilang. Hal
sebaliknya akan terjadi di negara yang mengalami surplus, ekspornya akan menyusut
sedangkan impornya akan terpacu sehingga lambat laun surplus neraca
Agar proses penyesuaian otomatis ini dapat senantiasa berlangsung atau
berfungsi maka negara-negara pada standar emas tidak dibenarkan melakukan
sterilisasi atau langkah-langkah yang dapat meredam dampak-dampak defisit atau
surplus neraca pembayaran. Sebaliknya, aturan main standar emas mengharuskan
sebuah negara yang mengalami defisit memperkuat proses penyesuaian itu dengan
cara membatasi kredit, sedangkan negara yang mengalami surplus sangat diharapkan
melakukan ekspansi kredit.
Namun dari hasil penelitiannya, Nurkse dan Bloomfield menyatakan bahwa
otoritas moneter di berbagai negara pada masa itu tidak mengikuti aturan tersebut
secara penuh. Sampai batas-batas tertentu, ternyata mereka juga berusaha melakukan
sterilisasi terhadap dampak-dampak ketidakseimbangan neraca pembayarannya,
khususnya dampak yang akan menimpa tingkat penawaran uang. Disamping itu,
Michlay, menegaskan bahwa tindakan sterilisasi terbatas itu tidak terhindarkan
bahkan memang diperlukan demi mengendalikan proses penyesuaian dan mencegah
terjadinya penurunan penawaran uang yang terlalu tajam di negara yang mengalami
defisit atau lonjakan penawaran uang yang berlaku tinggi di negara yang mengalami
surplus.
b. Sistem Bretton Woods
Pada dasarnya, sistem Bretton woods adalah sebuah standar tukar emas (gold
exchange standar). Dalam sistem ini, Amerika Serikat diminta untuk
diminta untuk senantiasa siaga menukarkan Dollar menjadi emas dalam jumlah
berapapun harga baku tersebut. Sedangkan negara-negara lain diwajibkan untuk
membakukan harga mata uang mereka terhadap Dollar dan bersiap-siap melakukan
intervensi terhadap pasar valuta asing guna mempertahankan kebakuan kurs mata
uang mereka terhadap Dollar agar tidak bergerak lebih dari 1% di atas atau dibawah
nilai patokannya. Perubahan kurs yang dikarenakan oleh kekuatan permintaan dan
penawaran hanya dimungkinkan sampai batas tertentu yang relatif sempit. Jika ada
tanda-tanda bahwa kurs akan melampaui batas-batas tersebut, maka negara pemilik
mata uang yang bersangkutan diwajibkan untuk melakukan intervensi terhadap pasar
valas agar kurs bakunya tetap terpelihara.
Sistem Bretton woods pada awal perkembangannya disebut juga sebagai
sistem patokan nilai tukar yang dapat disesuaikan (adjustable peg system), mengingat
sistem tersebut mengutamakan stabilitas kurs namun masih memberi kelonggaran
atau fleksibilitas kurs sampai batas tertentu. Selanjutnya dalam operasinya, meskipun
sistem Bretton woods membuka peluang bagi dilakukannya perubahan nilai tukar
melampaui nilai patokannya dalam skala cukup besar karena permanent bagi
negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan fundamental, dalam kenyataannya
negara-negara industri sangat enggan mengubah nilai patokan mereka.
Sebagai dampak dari keengganan tersebut adalah:
1. Menggerogoti keberhasilan system Bretton woods karena hal tersebut
melakukan penyesuaian atas terjadinya ketidakseimbangan neraca
pembayaran.
2. Menyuburkan kegiatan – kegiatan spekulasi yang pada akhirnya
menciptakan arus permodalan internasional yang sangat besar dan cenderung
merusak stabilitas.
Dan pada akhirnya kedua dampak tersebut diatas merupakan penyebab
lumpuhnya system bretton woods yang terjadi pada tahun 1971 disamping karena
deficit neraca pembayaran yang dialami oleh Amerika Serikat yang sangat besar dan
terus menerus sehingga mengharuskan mendevaluasi mata uangnya yang berakibat
pada terciptanya inflasi yang sangat besar dan perekonomian terganggu.
Jika kedua sistem diatas baik standar emas maupun sistem Bretton Woods
juga sering disebut dengan system kurs tetap (fixed exchange rate), dimana
pemerintah menetapkan atau membakukan nilai kurs mata uangnya pada tingkat
tertentu.
Secara terperinci, keunggulan dan kelemahan dari system kurs tetap ini
adalah:
- Memberikan tingkat stabilitas kurs, menghilangkan sumber
ketidakpastian dan ketidakstabilan harga lebih jauh. Keunggulan:
- Membantu menghindarkan perekonomian dari gangguan ekonomi
- Menggairahkan pergdagangan internasional, mendorong iklim bisnis
yang mendukung investasi jangka panjang.
- Memberikan kerangka kerja ekonomi yang secara potensial lebih
efisien.
- Peyesuaian kurs cenderung dilakukan hanya setelah semua tindakan
korektif lainnya gagal. Subordinasi sasaran ekonomi internal terhadap
sasaran ekonomi eksternal yang mendahului penyesuaian kurs dapat
memberi beban penyesuaian kepada perekonomian yang merugikan. Kelemahan :
- Dalam kondisi perekonomian seperti ekspor tidak selalu berkembang dan
ketergantungan pada impor strategis sepeti energi sangat inggi, maka
penyesuaian kurs bisa tidak mampu menghapus defisit neraca pembayaran
yang terus-menerus pada kurs berlaku.
- Dapat mencegah perekonomian beraksi terlalu cepat terhadap kondisi
perekonomian yang berubah yang bisa membuat beban finansial yang
besar.
- Salah penerapan kurs dapat mempercepat destabilisasi aliran modal dalam
jumlah yang besar.
- Perlu cadangan devisa yang cukup untuk mempertahankan kurs
c. Sistem Kurs mengambang (fleksible exchange rate system)
Sistem kurs mengambang merupakan sistem moneter internasional yang
mengoreksi defisit atau surplus neraca pembayaran secara otomatis oleh depresiasi
atau apresiasi mata uang nasional di negara yang bersangkutan tanpa melibatkan
intervensi pemerintah serta tanpa pengurangan atau akumulasi asset cadangan
internasional yang dimiliki oleh negara tersebut. Secara teoritis, sistem kurs
mengambang terdiri atas sistem kurs bebas (freely floted exchange rate system) yakni
sistem kurs yang benar-benar bebas dari intervensi pemerintah dan sistem kurs
mengemabng terkendali (managed floataing exchange rate system) yakni sistem kurs
mengambang yang disertai dengan intervensi pemerintah. Namun dalam prakteknya,
sistem kurs mengambang bebas tidak pernah ada, yang ada adalah sistem kurs
mengambang terkendali yang banyak dipraktekan oleh banyak negara dewasa ini.
Para pendukung sistem ini yakni bahwa sistem kurs mengambang tidak hanya
secara otomatis menjamin terciptanya kelonggaran kurs, tapi juga akan menghasilkan
sejumlah manfaat lain bagi perekonomian dunia. Secara umum, ada 3 keunggulan
pokok yang dimiliki oleh sistem kurs mengambang (Krugman,1992:328) yaitu :
- Otonomi kebijakan moneter
Jika Bank setral tidak lagi harus mengintervensi pasar uang guna
membakukan kurs, maka pemerintah akan memperoleh kembali
sasaran keseimbangan internal dan eksternal. Lebih jauh, tidak ada
negara-negara yang terpaksa mengimpor inflasi atau deflasi dari luar negeri.
- Simetri
Dalam sistem kurs mengambang, asimetri inheren Bretton woods hilang
dan AS tidak lagi mengatur perekonomian dunia semaunya sendiri. Dalam
kurs mengambang, baik AS maupun negara-negara lain memiliki peluang
yang sama untuk mempengaruhi kurs mata uang asing masing-masing
terhadap uang lainnya.
- Kurs sebagai stabilisator otomatis
Meskipun kebijakan moneter tidak dilancarkan proses penyesuaian kurs
yang terbentuk oleh kekuatan pasar akan membantu semua negara
mempertahankan keseimbangan internal dan eksternal dalam menghadapi
perubahan permintaan agraret.
Disamping keunggulan-keunggulan tersebut, tidak sedikit juga yang
menantang sistem kurs mengambang ini dengan menguraikan beberapa
kelemahannya, diantaranya :
- Disiplin
Bank-bank sentral yang terbebas dari kewajiban pembakuan kurs besar
kemungkinan akan menerapkan berbagai kebijakan yang bersifat inflasioner. Dalam
kalimat lain, “disiplin” yang berhasil diterapkan oleh sistem kurs baku terhadap setiap
- Spekulasi dan gangguan pasar uang yang merusak stabilitas.
Dalam sistem kurs mengembang, spekulasi kurs mudah subur sehingga
menjurus pada instabilitas dalam pasar valuta asing. Instabilitas ini pada gilirannya
akan menghasilkan berbagai dampak negatif terhadap keseimbangan internal dam
eksternal semua negara. Lebih jauh, gangguan dalam pasar uang domestik menjadi
lebih berbahaya bila dibandingkan dengan gangguan dalam sistem kurs baku.
- Ancaman terhadap investasi dan perdagangan internasional.
Sistem kurs mengambang membuat harga-harga internasional makin sulit
dipastikan atau diprekdisikan sehingga mengganggu arus investasi dan perdagangan
internasional.
- Kebijakan ekonomi yang tak terkoordinasi.
Bila peraturan Bretton woods mengenai kurs ditinggalkan, maka mata uang
berbagai negara akan saling bersaing atau adu kuat. Hal ini tentu saja membahayakan
perekonomian dunia.
- Ilusi mengenai otonomi yang lebih besar.
Sistem kurs mengambang sebenarnya tidak sepenuhnya memberikan otonomi
kebijakan bagi setiap negara. Perubahan-perubahan kurs menimbulkan pengaruh
makro ekonomi yang mendalam yang akan memaksa bank sentral untuk
mempertahankan kebakuan kursnya, meskipun tanpa komitmen formal untuk itu
perkonomian dunia tanpa memberikan kebebasan yang lebih besar untuk menerapkan
kebijakan makro ekonomi.
Dengan demikian, kesimpulan yang didapat dari uraian diatas mengenai kurs
mengambang (Denberg, 1993:418) adalah:
- Kurs mengambang memungkinkan nilai ekspor dan impor suatu negara
makin rawan terhadap fluktuasi.
- Kurs mengambang diperlukan jika modal tidak mobil. Ketidakstabilan
ekspor dan impor serta ketiadaan mobilitas modal cenderung menimbulkan
kesulitan bagi negara kecil.
2.2. Ekspor
2.2.1 Pengertian Ekspor
Menurut Undang-Undang Perdagangan Tahun 1996 tentang Ketentuan Umum
di Bidang Ekspor, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan dari Daerah Pabean. Keluar
dari daerah pabean berarti keluar dari wilayah yuridiksi Indonesia.
Defenisi lain menyebutkan bahwa ekspor merupakan upaya mengeluarkan
sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing
(Amir, 2004:100).
Menurut Michael P. Todaro, ekspor adaah kegiatan perdagangan
internasional yang memberikan rangsangan guna menumbuhkan permintaan dalam
negeri yang menyebabkan tumbuhnya industri-industri pabrik besar, bersama dengan
struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang fleksibel. Dengan kata lain,
ekspor mencerminkan aktifitas perdagangan internasional, sehingga suatu negara
yang sedang berkembang kemungkinan untuk mencapai kemajuan perekonomian
setara dengan negara-negara yang lebih maju.
Sementara itu, G.M. Meiner, ekspor adalah salah satu sektor perekonomian
yang memegang peranan penting melalui perluasan pasar antara beberapa negara
dimana dapat mengadakan perluasan dalam suatu industri sehingga mendorong sektor
lain dalam perekonomian. Ekspor sebagai bagian dari perdagangan internasional bisa
dimungkinkan oleh beberapa kondisi antara lain :
a) Adanya kelebihan produksi dalam negeri sehingga kelebihan tersebut dapat
dijual keluar negeri melalui kebijakan ekspor.
b) Adanya permintaan luar negeri untuk suatu produk walaupun untuk dalam
negeri masih kekurangan.
c) Adanya keuntungan yang lebih besar dari penjualan ke luar negeri daripada
d) Adanya barter antara produk tertentu dengan produk lain yang diperlukan dan
tidak dapat diproduksi di dalam negeri.
e) Adanya kebijakan ekspor yang bersifat politik.
2.2.2 Teori Tentang Ekspor (Perdagangan Internasional)
Perkembangan ekspor dari suatu negara tidak hanya ditentukan oleh
faktor-faktor keunggulan komparatif, tetapi juga oleh faktor-faktor-faktor-faktor keunggulan suatu negara
di dalam persaingan global selain ditentukan oleh keunggulan komparatif (teori-teori
klasik dan H-O) yang dimilikinya dan juga karena adanya proteksi atau bantuan
fasilitas dari pemerintah, juga sangat ditentukan oleh keunggulan kompetitinya.
Keunggulan kompetitif tidak hanya dimiliki oleh suatu negara, tetapi juga dimiliki
oleh perusahaan-perusahaan di negara tersebut secara individu atau
kelompok.perbedaan lainnya dengan keunggulan komparatif adalah bahwa
keunggulan kompetitif sifatnya lebih dinamis dengan perubahanperubahan, misalnya
teknologi dan sumber daya manusia (Tambunan, 2001).
Berikut ini adalah beberapa tokoh yang membahas tentang ekspor
(perdagangan internasional), yaitu :
a. Adam Smith (1729 – 1790)
Buah pemikiran dari Adam Smith adalah teori “keunggulan absolut
(absolute advantahe)”. Teori ini sering disebut sebagai teori murni
negara akan melakukan spesialisasi dan ekspor terhadap suatu jenis barang
tertentu, dimana negara tersebut memiliki keunggulan absolut dan tidak
memproduksi atau melakukan impor terhadap jenis barang lain yang tidak
memiliki keunggulan absolut. Dengan kata lain, suatu negara akan
mengekspor suatu jenis barang jika negara tersebut dapat membuatnya lebih
efisien atau lebih murah daripada negara lain. Jadi, teori ini menekankan pada
efisiensi dalam penggunaan input, misalnya tenaga kerja, di dalam proses
produksi yang sangat menentukan keunggulan atau tingkat daya saing.
b. David Ricardo
David Ricardo dikenal melalui teorinya “keunggulan komparatif
(comparative advantage)”. Teori ini muncul sebagai kritik terhadap teori
keunggulan absolut milik Adam Smith. Menurut Ricardo, perdagangan
internasional dapat saja terjadi, meskipun suatu negara tidak memiliki
keunggulan absolut aas Vietnam dalam memproduksi beras dan buah-buahan.
Walaupun begitu, Vietnam bisa saja memiliki keunggulan komparatif paling
besar dibandingkan Indonesia dalam memproduksi salah satu dari kedua
komoditi tersebut. Dengan kata lain, Vietnam akan berspesialisasi pada dan
mengekspor suatu komoditi tertentu, dimana Vietnam memiliki keunggulan
komparatif. Menurut Ricardo, perdagangan antara dua negara tersebut akan
timbul bila masing-masing negara memiliki baya relatif yang terkecil untuk
Oleh karena itu, teori Ricardo sering disebut teori biaya relatif. Titik
pangkal dari teori ini adalah nilai atau harga suatu barang ditentukan oleh
jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan tiap pekerja dan jumlah tenaga
kerja yang digunakan untuk memproduksi suatu barang. Jadi, dalam model
Ricardo, penilaian terhadap keunggulan suatu negara atas negara lain dalam
membuat suatu jenis barang didasarkan pada tingkat efisiensi atau
produktivitastenaga kerja. Teori ini merupakan yang sering digunakan di
dalam banyak penelitian empiris mengenai kinerja ekspor.
c. Eli Heckseher dan Bertil Ohlin
Teori Heckseher dan Bertil Ohlin (H-O) termasuk dalam kelompok
teori modern. Teori H-O disebut juga sebagai factor proportion theory atau
teori ketersediaan faktor. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa perdagangan
internasional, misalnya antara Indonesia dan Jepang, terjadi karena biaya
alternatif (opportunity cost) berbeda antara kedua negara tersebut. Perbedaan
tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi
(tenaga kerja, modal dan tanah) yang dimiliki oleh kedua negara tersebut.
Indonesia memiliki tanah yang lebih luas dan tenaga kerja yang jauh lebih
banyak, namun memiliki modal yang lebih kecil daripada Jepang.
Maka sesuai hukum pasar (permintaan dan penawaran), harga
faktor-faktor produksi tersebut juga berbeda antara Indonesia dan Jepang. Upah
modal di Indonesia lebih mahal dibandingkan di Jepang. Namun, bukan
berarti Indonesia lebih unggul daripada Jepang. Hal ini tergantung pada
tingkat intensitas pemakaian tenaga kerja, tanah, dan modal dalam
memproduksi barang tersebut. Intensitas pemakaian faktor produksi dapat
diukur dengan rasio antara nilai faktor produksi dengan nilai output. Jelas
bahwa pertanian adalah jenis sektor yang proses produksinya lebih padat
tenaga kerja dan tanah daripada sektor industri manufaktur. Oleh sebab itu,
paling tidak secara teori, Indonesia memiliki keunggulan atas Jepang dalam
menghasilkan ekonomi komoditi pertanian.
Jadi menurut teori H-O, struktur perdagangan luar negeri dari suatu
negara tergantung pada kesediaan dan intensitas pemaskaian faktor-faktor
produksi dan yang terakhir ini ditentukan oleh teknologi. Suatu negara akan
berspesialisasi dalam produksi dan mengekspor barang-barang yang input
(faktor produksi) utamanya lebih banyak di negara tersebut dan sebaliknya.
d. Cho dan Moon
Cho dan Moon menggunakan model sembilan faktor untuk
menerangkan siklus hidup daya saing internasional dari suatu negara, yang
pada dasarnya sama dengan model pembangunan bertahap dari Rostow.
Menurut mereka status perekonomian sebuah negara ditentukan oleh daya
saing internasionalnya dan kesembilan faktor memiliki bobot yang bervariasi
tahapan sedang berkembang, selanjutnya menuju tahapan semimaju dan
akhirnya menuju tahapan maju.
Gambar 2.2
Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional
2.2.3 Faktor –faktor yang Mempengaruhi Ekspor
Menurut Darmansyah (dalam Soekartawi,1991:128) faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan ekspor adalah :
a) Harga internasional, makin besar selisih antara harga di pasar internasional
dengan harga domestik akan menyebabkan jumlah komoditi yang akan di
ekspor menjadi bertambah banyak.
b) Nilai tukar uang (exchange rate). Makin tinggi nilai tukar mata uang suatu
negara (mengalami apresiasi) maka harga ekspor negara itu di pasar
internasional menjadi mahal. Sebaliknya, makin rendah nilai mata uang suatu
negara (mengalami depresiasi), harga ekspor negara itu di pasar internasional
menjadi lebih murah.
c) Quoto ekspor impor yakni kebijaksanaan perdagangan internasional berupa
pembatasan kuantitas (jumlah) barang ekspor.
d) Kebijakan tarif dan non tarif. Kebijakan tarif adalah untuk menjaga harga
produk dalam negeri dalam tingkatan tertentu yang dianggap mampu atau
dapat mendorong pengembangan komoditi tersebut. Sedangkan kebijakan non
tarif adalah untuk mendorong tujuan diversifikasi ekspor.
Menurut Sukirno (dalam Hajaswara, 2006:5), faktor-faktor yang
menentukan ekspor sebagai berikut :
a. Daya saing dan keadaan ekonomi negara lain
Dalam suatu sistem perdagangan internasional yang bebas,
kemampuan suatu negara menjual barang ke luar negeri tergantung pada
kemampuannya menyaingi barang-barang yang sejenis di pasar internasional.