• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (KURS) Dan Tingkat PDRB Perkapita Terhadap Ekspor Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (KURS) Dan Tingkat PDRB Perkapita Terhadap Ekspor Sumatera Utara"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH (KURS) DAN TINGKAT PDRB PERKAPITA TERHADAP EKSPOR SUMATERA UTARA

S K R I P S I

Diajukan Oleh :

ABDUL RAHMAN PASARIBU 050501078

Ekonomi Pembangunan

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

(2)

ABSTRAK

The titled of this research is "Analysis influenced the currency exchange rate and value of Product Domestic Regional Bruto to Export of North Sumatera”. The research located in north Sumatera and use secunder data from years 1988 until 2007(20 years) the data is consist of value of exchange rate Rp/US$, the value of Product Domestic Regional Bruto of North Sumatera and Export of North Sumatera.

For analyzing the influence of exchange rate and the value Product Domestic Bruto to export North Sumatera is used OLS method. The source data comes from BPS-Statistic of Sumatera Utara Province, Bank Indonesia branch of Medan, and others sources reference that relate to this research. The data used in this research is time series data from 1988 to 2007, existing data processed by using computer program of E-Views 5.0.

The result of the research show that the echange rate and value product domestic bruto give a significance influence to Export north Sumatera .

(3)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan tingkat PDRB Terhadap Ekspor Sumatera Utara”. Ruang lingkup penelitian di lakukan di Sumatera Utara dengan menggunakan data sekunder dari tahun 1988 sampai dengan 2007(20tahun) data nilai tukar rupiah atas Dollar Amerika(Rp/US$), tingkat PDRB Sumatera Utara dan Data Ekspor Sumatera Utara.

Untuk menganalisis pengaruh nilai tukar rupiah dan tingkat PDRB terhadap Ekspor Sumatera Utara menggunakan metode OLS(Ordinary Least Square). Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Bank Indonesia cabang Medan, dan sumber-sumber kepustakaan lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan data time series dari tahun 1988 sampai 2007 , penggolahan data dengan menggunakan program computer E-Views5.0.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah, dan tingkat PDRB memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Ekspor di Sumatera Utara.

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Rabbil’alamin tak terhingga Penulis ucapkan kehadirat Allah

SWT atas segala kesempatan, karunia, dan hidayah-Nya yang sangat berarti, sehingga

Penulis bisa menyelesaikan studi dengan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh

Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Tingkat PDRB Perkapita Terhadap Ekspor Sumatera

Utara”. Dan juga shalawat berangkaikan salam buat junjungan umat Nabi Besar

Muhammad SAW yang sama-sama kita harapkan syafaatnya di hari akhir kelak.

Dalam penulisan skripsi ini, Penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai

pihak, baik materi maupun nonmateri. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis

ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak

yang telah meluangkan waktunya memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:

1. Kedua orang tua Penulis yang tercinta, Ayahanda Ramli Pasaribu dan Ibunda

Aslamiyah Sibarani, S.Sos, yang selalu dan senantiasa mencurahkan kasih

sayangnya, memandu ke jalan yang benar, menyalakan api semangat dan

menjaganya agar tak pernah padam, serta aliran do’a restu yang takkan pernah

terhenti kepada Penulis sepanjang hayat.

2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sumatera Utara.

(5)

4. Bapak Haroni Doli, SE, Msi, selaku Dosen Wali yang telah membimbing

Penulis selama masa perkuliahan.

5. Bapak Drs. Murbanto Sinaga, MA, selaku Dosen Pembimbing yang penuh

keikhlasan menyisihkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing

Penulis menyelesaikan skripsi dengan baik.

6. Bapak Drs. Arifin Siregar, MSP, dan Ibu Ilyda Sudardjat, SE, MSi, Selaku

Dosen Pembanding I dan Dosen Pembanding II, yang telah banyak memberi

saran yang sangat berharga.

7. Seluruh dosen dan pegawai administrasi Fakultas Ekonomi Universitas

Sumatera Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan, yang telah

memberikan ilmu pengetahuan dan kemudahan kepada penulis selama

mengikuti perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

8. Staf dan pegawai BI cabang Medan dan BPS Sumatera Utara yang telah

menyediakan data penelitian, sehingga memberikan kemudahan bagi Penulis.

9. Kepada Keluarga Besar seperi kakanda Evi Suryani P. dan abangda Ismail

Marzuki S.Sos dan adikku Eva Susanti P., serta keluarga besar sibarani.

Terima kasih atas segala bantuan dan bimbingannya serta telah menjadi

teladan yang baik.

10.Gunter, Ilham, Ria, Robert, Rahmadi, Riki, Fitri, Lampita dan Septian atas

kasih sayang, doa, semangat yang telah diberikan kepada penulis dan telah

(6)

membantu penulis baik dalam penyusunan skripsi maupun dalam

perkuliahan.

11.Teman-teman Departemen Ekonomi Pembangunan Khusus angkatan 2005

yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan warna,

kebersamaan dan kenangan pada penulis.

12.Kepada Seluruh pihak yang telah banyak membantu baik secara langsung

maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa isi skripsi ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh

sebab itu, Penulis dengan segala keterbatasannya sangat mengharapkan saran yang

konstruktif, sehingga karya lain dari Penulis di masa yang akan datang jauh lebih

baik.

Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan dan pengorbanan yang telah

diberikan kepada Penulis. Akhirul kalam, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para

pembaca sekalian, terutama bagi Penulis.

Medan, Maret 2009

Penulis,

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRACT ………. i

KATA PENGANTAR ………... iii

DAFTAR ISI ………. vi

DAFTAR TABEL ……….. ix

DAFTAR GAMBAR ……… x

BAB I PENDAHULUAN ……….. 1

1.1 Latar Belakang Masalah ………. 1

1.2 Perumusan Masalah ………. 7

1.3 Hipotesis ……….. 7

1.4 Tujuan Penelitian ………. 8

1.5 Manfaat Penelitian ……….. 8

BAB II URAIAN TEORITIS ………. 9

2.1 Nilai Tukar (Kurs) ………... .. 9

2.1.1 Pengertian Nilai Tukar (Kurs) ………. 9

2.1.2 Pasar Valuta Asing (Valas) ……….. 12

2.1.3 Teori-teori Kurs ……… 19

2.1.4 Sistem Moneter Internasional ……… 24

(8)

2.2.2 Teori Tentang Ekspor ……….. 36

2.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor …………. 41

2.2.4 Strategi Tata Cara Prosedur Pelaksanaan Ekspor ……. 42

2.2.5 Kebijakan Ekspor ……….. .. 48

2.2.6 Manfaat Ekspor ………. .. 50

2.3 PDRB Perkapita ……….. .. 51

2.3.1 Pengertian PDRB ……….. 51

2.3.2 Metode Perhitungan PDRB ………... 53

2.3.3 Kegunaan Statistik Pendapatan Regional …………. 55

BAB III METODE PENELITIAN ………. 57

3.1 Ruang Lingkup Penelitian ………. 57

3.2 Jenis dan Sumber Data ………. 57

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ………. 58

3.4 Pengolahan Data ……… 58

3.5 Model Analisis Data ………... 58

3.6 Uji Kesesuaian (Test of Goodness of Fit) ……….. 60

3.6.1 Koefisien Determinasi (R²) ……….. 60

3.6.2 T-test (Uji Parsial) ………. 60

3.6.3 F-Stastik (Uji Serempak) ……….. 61

3.7 Uji Asumsi Klasik ……….. 62

(9)

3.7.2 Autokorelasi ………. 64

3.8 Definisi Operasional ………. 67

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 68

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ……… 68

4.1.1 Sejarah Singkat Sumatera Utara ……… 68

4.1.2 Gambaran Umum Sumatera Utara ……… 70

4.1.3 Gambaran Perekonomian Sumatera Utara ………… 78

4.2 Perkembangan Variabel-variabel yang diBahas ……… 81

4.2.1 Perkembangan Ekspor Sumatera Utara ……… 81

4.2.2 Perkembangan Kurs ……….. 87

4.2.3 Perkembangan PDRB Perkapita ………. 91

4.3 Hasil Evaluasi dan Interpretasi Data ……… 93

4.3.1 Pengujian Pengaruh Variabel Dependent terhadap Variabel Independent ………. 93

4.3.2 Interprestasi Model ………... 93

4.3.3 Uji Kesesuaian ( Test for Goodness of Fit) ………. 94

4.3.4 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ……… 98

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………... 101

DAFTAR PUSTAKA ……….. 103

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

2.1 Direct and Indirect Quotation ………. 12

2.2 Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing

Internasional ……….. 40

3.1 Kriteria Pengambilan Keputusan D-W Test ……….. 65

4.1 Letak dan Geografis ………. 71

4.2 Laju Pertumbuhan dan Strukutr PDRB Triwulan

Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan (%)………... 80

4.3 Perkembangan Volume Ekspor Sumatera Utara ………… 83

4.4 Perkembangan Nilai ekspor Sumatera Utara menurut

sektor 2002 – 2006 (000 US$) ……… 85

4.5 Perkembangan ekspor Sumatera Utara Menurut

Kelompok Barang Ekonomi 2002 – 2006 (000 US$)…… 87

4.6 Perkembangan Kurs (Nilai Tukar) terhadap

Dollar AS tahun 2003-2007 ……….. 90

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

3.1 Kurva Uji t Statistik ……….. 61

3.2 Kurva Uji F Statistik ……… 62

3.3 Kurva D-W Statistik ………. 66

4.1 Uji t-statistik Variabel Kurs (nilai tukar) ………….. 96

4.2 Uji t-statistik Variabel PDRB Perkapita ……… 97

4.3 Uji F-statistik Variabel Kurs dan PDRB Perkapita …. 98

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah.

Diera globalisasi yang sedang berkembang dewasa ini, telah menyebabkan

saling ketergantungan ekonomi yang saling meningkat diantara negara-negara di

dunia. Artinya bahwa setiap negara tidak dapat lagi menutup diri terhadap

negara-negara lain (menjalankan perekonomian tertutup). Oleh karena itu, keterbukaan

perekonomian terhadap dunia internasional menjadi pilihan utama bagi setiap negara.

Keterbukaan ini tidak hanya berhubungan dengan arus perdagangan, investasi dan

keuangan saja, tetapi juga arus jasa, teknologi, informasi, pemikiran dan manusia

antar negara. Namun tidak dapat disangsikan lagi bahwa perdagangan, investasi dan

arus keuangan merupakan cutting-edge proses globalisasi itu. Hal ini dicirikan oleh

beberapa perkembangan pokok antara lain :

1. Pertumbuhan transaksi keuangan internasional yang cepat.

2. Pertumbuhan perdagangan yang cepat, terutama diantara

(13)

3. Gelombang investasi asing langsung yang mendapat dukungan luas dari

perusahaan trans-nasional.

4. Timbulnya pasar global.

5. Penyebaran teknologi dan pemikiran sebagai akibat dari ekspansi sistem

transportasi dan komunikasi yang cepat dan meliputi seluruh dunia.

Sebagai dampak yang terlihat jelas dari adanya saling ketergantungan ini,

adalah negara bukan lagi sebagai pemain kunci dalam bidang ekonomi. Hal ini

disebabkan karena perekonomian lebih disebabkan oleh pengaruh ekonomi global

atau keadaan ekonomi negara-negara lain sehingga peran pemerintah atau negara

lebih pada aspek politisnya, yakni bagaimana mengambil berbagai kebijakan yang

tepat untuk mengendalikan pengaruh global sehingga perekonomian negara tetap

dalam keadaan stabil dan mampu menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi

masyarakat. Oleh sebab itu, setiap negara tidak langsung dituntut untuk memperbaiki

kinerja perekonomiannya terutama pada sektor perdagangan luar negeri agar dapat

bersaing dipasar global dan tidak mudah terseret oleh gejolak ekonomi yang terjadi

negara lain.

Seperti halnya Indonesia yang sudah lama terlibat dalam perdagangan

internasional terus melakukan pembanahan dan perbaikan diberbagai sektor guna

mengantisipasi persaingan terutama dari negara-negara maju yang telah memiliki

fundamental ekonomi yang kuat dan lebih efisien dalam memanfaatkan faktor-faktor

(14)

negeri mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menunjang berbagai

pembangunan yang sedang dilaksanakan. Betapa tidak, sampai saat ini, Indonesia

masih mengandalkan penerimaan dari hasil ekspor disamping pajak sebagai sumber

pendapatan yang terbesar. Umumnya barang-barang ekspor yang diandalkan oleh

Indonesia terutama barang-barang hasil pertanian dan barang tambang. Hal ini

didukung oleh potensi yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris dan memiliki

kekayaan alam yang cukup melimpah. Sebelum krisis moneter melanda Indonesia

tepatnya pada pertengahan tahun 1997, transaksi Indonesia selalu mengalami surplus

dan setiap tahunnya menunjukkan peningkatan ekspor yang cukup tinggi. Keadaan ini

didukung oleh kondisi variabel-variabel makroekonomi seperti nilai tukar (kurs),

suku bunga, inflasi, jumlah uang beredar dan beberapa indikator lainnya yang relatif

stabil. Akan tetapi, sejak terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997

keadaan ekspor Indonesia baik secara nasional maupun per propinsi mengalami

penurunan yang sangat drastis. Seperti halnya penurunan nilai ekspor Sumatera Utara

yang cukup tajam, Tahun 1997, nilai ekspor Sumatera Utara sebesar US$ 3,44

Milliar, tahun 1998 turun menjadi US$ 2,71 Milliar. Kemudian tahun 1999 turun lagi

menjadi US$ 2,61 Milliar. Penurunan ini terus berlanjut hingga tahun 2000 dan tahun

2001. Tahun berikutnya nilai ekspor Sumatera Utara bergerak secara Fluktuasi dan

terus meningkat dari tahun 2004 sampai dengan 2007, nilai ekspor mencapai sebesar

(15)

Nilai tukar (kurs) merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang asing

lainnya yang memainkan peranan penting dalam perdagangan internasional. Dengan

mengetahui kurs, memungkinkan kita untuk membandingkan harga-harga barang dan

jasa yang dihasilkan oleh berbagai negara. Bila nilai uang suatu negara melemah

terhadap nilai uang lainnya (mengalami depresiasi), ekspornya bagi luar negeri akan

menjadi murah, sedangkan impor bagi penduduk negara tersebut menjadi semakin

mahal. Sebaliknya, bila nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara

lainnya (mengalami apresiasi) maka harga produk negara itu bagi pihak luar negeri

makin mahal, sedangkan harga impor bagi penduduk domestik lebih murah. Tinggi

rendahnya dari pada nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya,

ditentukan oleh interaksi penjual dan pembeli valas di pasar valuta asing dari

berbagai rumah tangga, perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan guna keperluan

pembayaran internasional. Kurs yang terlalu terdepresiasi atau terapresiasi akan

memperburuk kondisi perekonomian khususnya dari sektor perdagangan

internasional. Pengaruhnya adalah nilai tukar yang terlalu melemah akan

menimbulkan harga ekspor yang terlalu murah sedangkan harga impor tinggi yang

akan mempengaruhi ketidakseimbangan neraca perdagangan. Sebaliknya, bila terlalu

menguat harga ekspor diluar negeri menjadi mahal sehingga barang-barang ekspor

kurang bersaing khususnya dari segi harga dipasar internasional. Oleh sebab itu,

(16)

nilai kurs melalui berbagai kebijakan moneter yang ada. Adapun tujuan kebijakan

tersebut adalah :

1. Untuk mencapai keseimbangan internal yakni terkerahkannya segenap sumber

daya secara optimal dan stabilitas tingkat harga.

2. Untuk mencapai keseimbangan eksternal yakni terciptanya neraca transaksi

berjalan masing-masing negara tidak dalam defisit yang parah sehingga

negara yang bersangkutan tidak dapat membayar hutang luar negerinya

terhadap orang lain.

Besar tidaknya intervensi pemerintah ataupun bank sentral dalam mengendalikan

nilai tukar (kurs) sangat ditentukan oleh ketersediaan cadangan devisa. Semakin besar

cadangan devisa internasional yang dimiliki oleh suatu negara, intervensi bank sentral

semakin besar, begitu pula sebaliknya. Bentuk intervensi bank sentral adalah

membeli valas bila terjadi kelebihan penawaran valuta asing dan menjual valas bila

terjadi kelebihan permintaan valas. Umumnya negara-negara yang mempunyai

cadangan devisa yang besar sebagai akibat dari neraca perdagangan yang surplus dan

jarang mengalami tekanan inflasioner akan menerapkan sistem kurs tetap (fixed

exchange rate system). Dalam sistem kurs tetap ini bank sentral asing siap sedia

untuk menjual dan membeli mata uang mereka dengan harga tetap dilihat dari segi

dollar.

Bagi negara yang persediaan devisa internasionalnya sedikit sebagai akibat

(17)

umumnya akan memilih sistem kurs mengembang terkendali (managed floating

exchange rate), yaitu bank sentral akan membiarkan nilai kurs ditentukan oleh

kekuatan permintaan dan penawaran dipasar valuta asing. Bila fluktuasi nilai tukar

melewati ambang batas tertentu, dalam pengertian telah membahayakan

perekonomian negara, maka bank sentral menjalankan intervensinya lewat berbagai

instrument moneter yang ada.

Mengingat neraca pembayaran indonesia yang selalu defisit dalam beberapa

tahun terakhir ini sehingga persediaan devisa internasional relatif sedikit, maka sistem

kurs yang diterapkan adalah sistem kurs mengambang terkendali (managed floating

exchange rate), seperti halnya disaat krisis moneter terjadi pertengahan tahun 1997,

Bank Indonesia tidak dapat berbuat banyak dan cenderung membiarkan nilai tukar

rupiah tersesuaikan dengan sendirinya dipasar. Rupiah yang melemah sejak Agustus

1997, terutama pada awal tahun 1998, ditandai dengan collapsnya banyak

perusahaan, yang sampai sekarangpun belum mampu memenuhi kewajiban

pembayarannya kepada bank, yang sebagian juga sudah tidak bertahan lagi. Keadaan

mulai membaik sejak oktober 1998, sehingga nilai tukar rupiah yang sempat begitu

rendah diatas ambang Rp 15.000 per US Dollar, kembali menguat menjadi Rp 8.025

pada akhir tahun 1998. Nilai tukar Rupiah terus menguat sampai mencapai Rp 7.100

per US Dollar pada akhir tahun 1999, terutama setelah pemilihan umum berlangsung

dangan baik dan harapan besar pada pemerintahan baru, tetapi ternyata kemudian

(18)

atas Rp 11.000 per US Dollar pada awal tahun 2001. Menguatnya kembali rupiah

hingga pada tahun pertengahan 2003, sedikit memberi secercah harapan mulai

membaiknya perekonomian Indonesia. Kemudian nilai tukar rupiah bergerak secara

fluktuasi dari tahun 2004 sampai tahun 2007. Walaupun beberapa pengamat ekonomi

memprediksikan bahwa penguatan rupiah hanya bersifat sementara karena belum

membaiknya fundamental ekonomi secara keseluruhan khususnya pada sektor riil.

Sebagai akibatnya, pengaruh aspek non ekonomi seperti keamanan dan politik akan

mudah mempengaruhi stabilitas nilai tukar.

PDRB perkapita dapat digunakan sebagai gambaran rata-rata pendapatan yang

diterima oleh setiap penduduk sebagai hasil dari seluruh proses produksi sektor-

sektor ekonomi disuatu wilayah. PDRB perkapita diperoleh dengan cara membagi

total nilai PDRB atas dasar harga konstan dengan jumlah penduduk pertengahan

tahun. Berdasarkan angka PDRB perkapita atas dasar harga konstan, kinerja

perekonomian Sumatera Utara telah menunjukkan peningkatan yang relatif

menggembirakan. Bila pada tahun 2006 PDRB perkapita konstan Sumatera Utara

baru mencapai 50.705.973 rupiah maka pada tahun 2007 angka itu sudah menjadi

59.228.075 rupiah.

Berdasarkan uraian-uraian dan fenomena-fenomena yang telah dikemukakan

diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membuat skripsi dengan

judul “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah (Kurs) dan Tingkat PDRB

(19)

1.2. Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis terlebih dahulu merumuskan masalah dengan

jelas sebagai dasar penelitian yang dilakukan, sehubungan dengan hal tersebut penulis

mengidentifikasikan permasalahannya sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat

terhadap ekspor Sumatera Utara.

2. Bagaimana pengaruh tingkat PDRB perkapita terhadap ekspor Sumatera

Utara.

1.3. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang

keberadaannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan perumusan masalah diatas,

maka hipotesis yang dibuat penulis adalah sebagai berikut :

1. Fluktuasi nilai tukar rupiah atas dollar Amerika berpengaruh negatif terhadap

ekspor Sumatera Utara.

2. Tingkat PDRB perkapita berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekspor

Sumatera Utara.

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah atas

dollar Amerika Serikat terhadap ekspor Sumatera Utara.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh PDRB perkapita perkembangan

terhadap ekspor Sumatera Utara.

(20)

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan penulis dalam

disiplin ilmu yang yang penulis tekuni.

2. Sebagai tambahan informasi dan masukan bagi mahasiswa/i Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara terutama mahasiswa/i Departemen

Ekonomi Pembangunan yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.

3. Sebagai penambahan/ pelengkap sekaligus pembanding hasil-hasil penelitian

yang sudah ada menyangkut topik yang sama.

4. Untuk menambah pengetahuan bagi penulis, serta salah satu syarat bagi

penulis dalam menyelesaikan perkuliahan.

5. Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait khususnya pemerintah melalui

Bank Indonesia dalam mengambil berbagai kebijakan dalam menjaga nilai

tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

BAB II

URAIAN TEORITIS 2.1. NILAI TUKAR (KURS)

2.1.1 Pengertian Nilai Tukar (Kurs)

Kegiatan perdagangan internasional dalam kenyataannya tidak sesederhana

perdagangan domestik yang hanya melibatkan interaksi antar masyarakat dalam satu

negara untuk melakukan transaksi jual beli barang dan jasa dengan alat

(21)

proses transaksi jual beli barang, terjadi antar masyarakat suatu negara dengan

masyarakat negara lain yang menghendaki pembayaran dalam mata uang

masing-masing, yang satu sama lain saling berbeda, atau paling tidak dalam mata uang

tertentu yang dapat diterima secara internasional seperi Dollar AS, Pounsterling,

Deutsmark atau Yen dan lain-lain, yang keberadaannya tersebar di banyak negara.

Akan tetapi, dalam berbagai transaksi internasional, Dollar AS paling sering

digunakan. Tidak mengherankan bila Dollar AS mendapat julukan sebagai mata uang

penggerak yaitu mata uang terkemuka yang secara luas digunakan sebagai suatu nilai

kontrak-kontrak internasional antara pihak-pihak yang bukan merupakan penduduk

dari negara pencetak uang tersebut. Hal ini didukung oleh peran AS yang begitu

penting dalam perekonomian dunia yaitu sebagai pusat perdagangan dunia.

Oleh karena itu, dalam perdagangan internasional pertukaran antara satu mata

uang dengan mata uang negara lain menjadi hal yang terpenting untuk mempermudah

proses transaksi jual beli barang dan jasa. Dari pertukaran ini terdapat perbandingan

nilai uang atau harga antara kedua mata uang tersebut dan inilah yang disebut dengan

nilai tukar atau kurs. Jadi, secara umum kurs atau nilai tukar dapat diartikan sebagai

harga suatu mata uang terhadap mata uang asing atau harga mata uang luar negeri

terhadap mata uang domestik. (Lindert, 1999: 336).

Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian

terbuka mengingat pengaruhnya yang demikian besar bagi transaksi berjalan maupun

(22)

peranan sentral dalam perdagangan internasional, karena dengan mengetahui kurs

memungkinkan kita untuk membandingkan harga-harga segenap barang dan jasa

yang dihasilkan oleh berbagai negara sehingga dapat dijadikan sebagai alat

(instrumen) rujukan dalam kegiatan ekspor dan impor.

Dalam mekanisme pasar, kurs dari suatu mata uang akan selalu mengalami

fluktuasi (perubahan-perubahan) yang berdampak langsung pada harga barang-barang

ekspor dan impor (Dominic, 1997: 12). Perubahan-perubahan yang dimaksud antara

lain,

a) Apresiasi yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar mata uang secara otomatis

akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan atas mata

uang yang bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat ini dari

perubahan kurs ini adalah harga produk dari suatu negara bagi pihak luar

negari akan semakin mahal sedangkan harga produk barang impor bagi

masyarakat domestik semakin akan lebih murah.

b) Depresiasi yaitu peristiwa penurunan nilai tukar mata uang secara otomatis

akibat bekerjanya kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang

bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs

ini adalah produk negara itu bagi pihak luar negeri menjadi murah, sedangkan

(23)

Sistem penulisan harga atau nilai suatu valuta asing yang dinyatakan dalam valuta

asing lainnya dikenal ada dua macam yaitu :

a. Direct quotation adalah sistem yang menyatakan nilai mata uang suatu negara

yang diperlukan atau diperoleh untuk satu unit valuta asing. Penulisannya

dilakukan dengan menempatkan nilai mata uang dalam negeri (domestic

currency) di depan dan nilai mata uang asing (foreign currency) di belakang.

b. Inderect quotation adalah sistem yang menyatakan nilai valuta asing yang

diperlukan atau diperoleh untuk 1 unit mata uang dalam negeri(domestic

currency). Penulisannya dilakukan dengan menempatkan nilai mata uang asing

(foreign currency) di depan dan unit mata uang dalam negeri (domestic currency)

di belakang.

Tabel 2.1

Direct and indirect Quotation

Jakarta Direct Quotation Indirect Quotation

1/7/1998 Rp 12.000/USD

Rp 80/JPY

USD 0,000083/Rp

(24)

Rp 8.000/DEM

Rp 8.500/SGD

Rp 3.400/MYR

DEM 0,0001/Rp

SGR 0,0001176/Rp

MYR 0,0002941/Rp

2.1.2 Pasar Valuta Asing (Valas)

Pasar valuta asing adalah tempat berlangsungnya perdagangan atau jual beli

berbagai mata uang negara yang berbeda. Atau dengan kata lain, pasar valuta asing

adalah tempat bertemunya pembeli atau penjual dari berbagai mata uang asing

(Dominic,1997:2). Secara umum, ada 4 (empat) pelaku utama dalam pasar valuta

asing :

a) Para pelaku transaksi tradisional seperti para wisatawan, importir, eksportir,

dan investor yang merupakan pengguna valas yang bersifat langsung.

b) Bank-bank komersial yang bertindak sebagai perantara atau lembaga kliring

antara para pemakai (sumber permintaan) dan penghimpun (sumber

penawaran) valuta asing yang merupakan inti (pusat) pasar valas, karena

hampir semua transaksi internasional bernilai besar melibatkan kegiatan

pencatatan debet dan kredit pada rekening bank-bank komersial di berbagai

pusat keuangan dunia.

c) Para pialang valas yang bertindak sebagai perantara bagi bank-bank komersial

(25)

perbankan itu sendiri, mereka merupakan aktor utama berikutnya dalam pasar

antara bank atau pasar mata uang berskala besar.

d) Bank sentral (Central Banks) yang bertindak sebagai pembeli dan penjual

terakihir dari keseluruhan valas yang ada di suatu negara. Bank sentral inilah

yang bertindak sebagai aktor utama yang menyamakan pendapatan dan

pengeluaran valas di suatu negara. Hal tersebut dilakukannya dengan

mengurangi atau menambah cadangan devisa.

a. Fungsi Pasar Valuta Asing

Pasar valuta asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu

kelancaran lalu-lintas pembayaran internasional yaitu:

1. Mempermudah penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari suatu

negara ke negara lain. Proses penukaran atau pemindahan dana ini dapat

dilakukan dengan system clearing seperti halnya yang dilakukan oleh

bank-bank dan para pedagang.

2. Karena sering terdapat transaksi internasional yang tidak perlu segera

diselesaikan pembayarannya dan atau penyerahan barangnya maka pasar

valuta asing memberikan kemudahan untuk dilaksanakannya perjanjian atau

kontrak jual-beli dengan kredit (letter of kredit L/C).

3. Kemungkinan dilakukannya hedging. Seseorang pedagang melakukan

hedging apabila dia pada saat yang bersamaan melakukan transaksi jual beli

(26)

resiko kerugian akibat perubahan kurs. Hedging dapat dilakukan di pasar

jangka(forward market). Pasar jangka adalah pasar dimana transaksi jual beli

terjadi dengan harga yang disetujui, tetapi penyerahan barang dilakukan

dikemudian hari. Ini berbeda dengan spot market dimana transaksi dan

penyerahan barang terjadi pada saat bersamaan. Sebagai contoh seorang

importir mobil yang mengimpor mobil dari amerika dengan harga US$ 3.000

dengan pembayaran tiga bulan yang akan datang. Kurs pada saat itu, misalnya

f 1=US$3, sehingga harga mobil tersebut dalam Poundsterling adalah f 1.000

apabila kurs f turun menjadi f1=US$2 maka harga mobil tersebut dalam f

adalah f 1500, dengan demikian importer akan mengalami kerugian. Untuk

menghindari kerugian tersebut dia dapat melakukan hedging dipasar jangka.

Caranya importer tersebut menghubungi banknya di Inggris untuk membeli

US$ 3000 dengan penyerahan tiga bulan yang akan datang dengan harga kurs

yang disetujui pada saat itu. Kurs ini disebut kurs jangka (forward exchange

rate) yang berbeda dengan kurs spot(spot exchange rate). Perbedaan antara

kurs forward dengan kurs spot menggambarkan adanya perbedaan tingkat

suku bunga di Inggris dengan Amerika, untuk lebih menjelaskan hal tersebut

sebaiknya diceritakan tentang importir asal inggris diatas. Bank inggris yang

dihubungi importir tersebut berusaha mencairkan seharga US$ 3000. Bank

tersebut dapat membeli US$ 3000 pada pasar spot dan kemudian

(27)

Inggris memperoleh bunga dari Bank Amerika tersebut apabila tingkat bunga

di Amerika lebih rendah daripada di Inggris importir harus membayar

perbedaannya. Dalam hal ini forward US$ dijual dengan premium

dibandingkan dengan spot US$, sebaliknya apabila tingkat bunga di Amerika

lebih tinggi, maka perbedaannya oleh bank tersebut diberikan kepada importir

dalam hal ini forward US$ dijual dengan diskon dibandingkan dengan spot f.

Misalnya, importir tersebut memerlukan US$ 2000 untuk tiga bulan dan kurs

spot f 1=US$2, jika tingkat bunga untuk simpanan tiga bulan di Amerika

sebesar 4% dan inggris 5% maka bank Inggris yang menjual US$ 2000

forward kepada importir akan meminta f 1000 (kurs spot) ditambah dengan

1% kerugian tingkat bunga karena dollar disimpan pada Bank Amerika. Total

harga US$ 2000 adalah f 1000 + f 10 = f 1010. Kurs forwardnya menjadi f

1=(2000/1010) =US$ 1,98 yakni 1% diskon terhadap kurs spot (f 1 =US$ 2).

Sebaliknya apabila tingkat bunga di Amerika 4% dan di Inggris 3%, maka

harga total US$ 2000 forward akan menjadi f 1000 – f 10 = f 990. Kurs

forwardnya menjadi f 1= 2000/990 = US$ 2,02, yakni 1% premium terhadap

kurs spot(f 1 = US$ 2). Ratio kurs forward dengan kurs spot menggambarkan

perbedaan dalam tingkat bunga. Apabila terdapat perbedaan, tindakan

Arbitrage ( tindakan menjual/membeli valuta asing dinegara yang kursnya

lebih tinggi/rendah untuk memperoleh untung akibat perbedaan kurs di kedua

(28)

cenderung menyamakan kurs valuta asing diberbagai negara. Tindakan

arbitrage akan berhenti apabila keuntungan yang diperolehnya karena adanya

perbedaan tingkat bunga diimbangi dengan kerugian yang sama dari pasar

valuta asing jangka (forward market) ini membuat interest parity. Secara

simbolik, interest parity tersebut dijelaskan sebagai berikut:

(

)

Forward premium (jika positif) dan forward diskont(jika negatif) misalnya,

uang US$ di investasikan di Amerika (untuk 3 bulan) akan menghasilkan US$

(1+ in ) seandainya uang tersebut di investasikan di Inggris (untuk jangka

waktu 3 bulan), terlebih dahulu harus ditukarkan dalam pasar spot. Bunga

yang akan diperolehnya sebesar :

$1 = (1+ ie)

rs

persamaan diatas diringkas menjadi :

(29)

b. Efesiensi Pasar Valuta Asing

Transaksi-transaksi tersebut diatas akan menentukan bagaimana sebuah pasar

valas bekerja apakah efisien atau tidak. Sebab persoalan yang berkenaan dengan

efisiensi pasar valas ini perlu kita pahami karena hanya jika pasar itu efisien maka

harga-harga yang ada dapat mencerminkan nilai kelangkaan dari berbagai barang

yang ada, yang selanjutnya akan menjurus pada alokasi sumber daya yang efisien.

Sebuah pasar valas dikatakan efisien (Dominic,1997:41), apabila kurs

berjangka yang tengah berlaku secara akurat dapat memprediksikan kurs spot yang

akan berlaku dimasa-masa selanjutnya. Artinya, jika kurs berjangka dapat

mencerminkan semua informasi yang ada dan secara cepat menyesuaikan diri

terhadap setiap informasi baru,maka para investor tidak akan dapat memperoleh

keuntungan secara terus-menerus dengan mendasarkan diri pada informasi yang

mereka miliki dan dalam situasi seperti itulah pasar valas dikatakan efisien. Dengan

kata lain, pasar valas dapat dikatakan efisien apabila tidak tersedia informasi yang

tidak memungkinkan para investor dan spekulan secara sistematis memanfaatkannya

untuk memperoleh keuntungan sepihak secara terus-menerus.

Namun diakui, pengujian terhadap efisien pasar valas itu sangat sukar untuk

dilakukan. Sampai sejauh ini, pengujian empiris yang cukup komprehensif mengenai

efisiensi pasar valas dilakukan oleh Levich dan sejumlah ekonom lainnya. Dalam

melakukan pengujian empiris tersebut, mereka menggunakan konsep efisiensi pasar

(30)

dikatakan efisien dan dapat pula disebut tidak efisien, tergantung dari definisi

efisiensi itu sendiri. Sebagai contoh, sejumlah pengujian empiris menunjukkan bahwa

dalam sebuah pasar valas yang efisien, sedikit sekali terbuka peluang untuk

melakukan arbitrase suku bunga bebas resiko dan deviasi

(penyimpangan-penyimpangan) dari paritas suku bunga, secara umum lebih kecil ketimbang biaya

transaksi yang harus dipikul oleh yang hendak memanfaatkan situasi demi memetik

keuntungan jangka pendek. Juga jika para spekulator tidak bisa memperoleh

keuntungan atau kerugian secara terus-menerus.

c. Stabilitas Pasar Valuta Asing

Di sisi lain, pasar valas juga sering mengalami gejolak sebagai dampak dari

interaksi berbagai permintaan dan penawaran valas yang dapat mempengaruhi kurs

valas tersebut. Keadaan ini dapat membawa pasar valas kepada situasi yang relatif

stabil atau tidak stabil (Dominic,1997:113). Sebuah pasar valas stabil akan tercipta

apabila setiap gangguan terhadap keseimbangan kurs akan memunculkan

kekuatan-kekuatan koreksi secara otomatis yang selanjutnya akan mendorong kembali kurs itu

kembali ketingkat equilibrium atau keseimbangannya. Hal ini terlihat tatkala kurva

penawaran valas memiliki kecondongan atau besaran sudut positif, ataupun kalau

besaran sudutnya itu negatif, ia tetap tidak elastis (bentuknya lebih landai) bila

dibandingkan dengan kurva permintaan atas valas yang bersangkutan. Sebaliknya,

(31)

keseimbangan kurs justru akan mendorong kurs tersebut kian menyimpang dan

semakin jauh dari tingkat equilibriumnya.

Selanjutnya, analisis mengenai stabil atau tidak stabilnya pasar valas dapat

dipahami dalam prinsip-prinsip dasar yang terkandung pada kondisi Marshal

Lerner. Kondisi Marshal Lerner menunjukkan bahwa suatu pasar valas bersifat

stabil apabila penjumlahan elastisitas harga dari permintaan impor (DM) dan

permintaan ekspor (DX) dalam angka-angka absolut lebih besar dari 1 (satu). Jika

jumlah kurang dari 1, maka pasa valas yang bersangkutan dinyatakan tidak stabil.

Sedangkan jika penjumlahan elastisitas harga dari DM dan DX itu persis sama dengan

1, maka setiap perubahan kurs tidak akan mengubah neraca pembayaran dari

negara-negara yang terkait.

2.1.3 Teori-teori Kurs (Dominic,1997:43)

a). Pendekatan perdagangan atau pendekatan elastisitas terhadap pembentukan

kurs yakni, nilai tukar dari dua negara ditentukan oleh besar kecilnya

perdagangan barang dab jasa yang berlangsung diantara kedua negara tersebut.

Menurut pendekatan ini, kurs equilibrium adalah kurs yang akan

menyeimbangkan nilai impor dan ekspor dari suatu negara. Jika nilai impor

negara tersebut lebih besar daripada nilai ekspornya (artinya negara tersebut

mengalami defisit perdagangan), maka kurs mata uangnya akan mengalami

(32)

tukar) dan hal itu akan berlangsung cepat dalam sistem kurs mengambang.

Peningkatan kurs (angka nominlanya) atau penurunan nilai tukar mata uang

tersebut akan membuat harga dari berbagai komoditi ekspornya menjadi lebih

murah bagi importir atau menjadi lebih mahal bagi prosuk domestik. Akibatnya,

lambat laun ekspor negara tersebut akan mengalami kenaikan sedangkan

impornya akan terus menurun ssampai pada akhirnya nilai perdagangan

internasionalnya benar-benar seimbang (ekspor=impor). Karena kecepatan proses

penyesuaian tersebut ditentukan oleh seberapa responsif atau elastis impor dan

ekspor terhadap perubahan-perubahan harga (kurs), maka pendekatan ini lebih

populer dengan sebutan pendekatan elastisitas.

Pendekatan ini juga tidak luput dari berbagai kelemahan diantaranya tidak dapat

menjelaskan gejolak besar (fluktuasi) kurs yang berlangsung selama dasawarsa

1970-an maupun lonjakan tajam apresiasi Dollar AS dai tahun 1980 hingga tahun

1985. padahal masa itu AS mengalami defisit perdagangan yang besar.

b). Teori paritas daya beli (purcashing power parity theory/PPP)

Merumuskan bahwa kurs antara 2 mata uang adalah identik dengan rasio dari

tingkat harga umum dari kedua negara yang bersangkutan. Artinya, penurunan

daya beli mata uang domestik akan diiringi dengan depresiasi mata uangnya

secara proporsional dalam pasar valas.

Menurut teori ini, pasar valas berada dalam kondisi keseimbangan apabila

(33)

imabaln yang sama (Krugan,1992:66). Kondisi dimana tingkat imbalan yang

ditawarkan semua simpanan dalam berbagai valas sama disebut kondisi

paritas suku bunga (interest parity). Dengan kata lain, segenap simpanan valas

menawarkan tingkat imbalan resiko kurs, dan kemungkinan perubahan kurs

yang secara keseluruhan serta hingga prospek keuntungan ataupun daya tarik

atas aset-aset tersebut besar. Kenaikan suku bunga dari simpanan suatu mata

uang domestik tersebut mengalami depresiasi terhadap mata uang asing,

dengan asumsi kondisi lainnya tetap (perkiraan kurs diamsa mendatang tidak

berubah).

Namun demikian, asumsi yang digunakan tersebut dalam kenyataannya sangat

tidak realistis sebab perubahan suku bunga senantiasa disertai perubahan kurs

dimasa mendatang. Oleh sebab itu, perkiraan kurs dimasa mendatang tersebut

juga ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi yang juga mengakibatkan

perubahan suku bunga tadi.

Secara umum kelemahanyang mencolok dari logika yang terkandung

dalam teori PPP mengenai kurs adalah :

- Asumsi yang dianut oleh hukum satu harga, yakni bahwa biaya-biaya

transportasi dan pembatasan perdagangan bisa diabaikan, Asumsi yang

dianut oleh hukum satu harga, yakni bahwa biaya biaya transportasi dan

pembatasan perdagangan bisa diabaikan, ternyata dalam prakteknya tidak

(34)

- Praktek monopolistik dan oligopolistik di berbagai pasar barang bersama

dngan besarnya aneka biaya transportasi serta pembatasan perdagangan,

semakin memperlemah keterkaitan harga atas barang yang sama di

berbagai negara.

- Oleh karena data-data inflasi di berbagai negara didasarkan pada jenus

komoditi acuan yang berlainan, maka perubahan kurs tidak bisa

diharapkan mampu mengimbangi selisih inflasi resmi meskipun tidak ada

pembatasan perdagangan dan semua produk bisa diperdagangkan.

c). Pendekatan Moneter (Monetary approach)

Merumuskan bahwa kurs tercipta dalam proses penyamaan atau

penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional

di masing-masing negara. Penawaran uang di suatu negara diasumsikan dapat

ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otoritas moneter dari

negara yang bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang sangat

ditentukan oleh tingkat pedapatan riil negara tersebut atau harga-harga umum

yang berlaku serta suku bunga, dimana permintaan uang berbanding lurus

dengan harga-harga umum dan berbanding terbalik terhadap suku bunga. Pada

tingkat pendapatan riil atau harga-harga tertentu, suku bunga equilibrium

terbentuk pada titik perpotongan antara kurva dan kurva penawaran uang yang

(35)

Jadi pendekatan moneter dapat dikatakan terlalu mengutamakan

peranan uang (sektor moneter) dan cederung mengabaikan peranan penting

yang dimainkan oleh perdagangan barang dan jasa (sektor riil) sebagai suatu

faktor pokok yang mempengaruhi besar kecilnya kurs, khususnya dalam

jangka panjang.

Selain itu, pendekatan moneter mengasumsikan bahwa aset-aset

finansial domestik dan luar negeri seperti obligasi yang diterbitkan oleh

berbagai negara satyu sama lain merupakan pengganti atau subtituusi yang

sempurna. Namun dalam prakteknya, obligasi yang diterbitkan oleh suatu

negara sangat berbeda, baik jenis maupun bobotnya dibandingkan dengan

obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara lain. Hal inilah sebagai sumber

kelemahan dari pendekatan moneter yang dianggap bertumpu pada sejumlah

asumsi yang kurang realistis.

d). Pendekatan keseimbangan portofolio (portofolio balabce approach)

Merumuskan bahwa kkurs sesungguhnya terbentuk dalam proses dan

penyeimbang stok atau total permintaan dan penawaran asset-asset finansial

(dalam hal ini, uang dipandang hanya merupakan salah satu bentuk dari

sekian banyak jenis asset finansial) dalam setiap negara.

Asumsi yang dipergunakan dalam pendeatan ini adalah,

- Obligasi domestik dan luar negeri sebagai substansi yang tidak sepurna.

(36)

Menurut pendekatan ini kenaikan penawaran uang di negara domestik

akan mendorong terjadinya kemerosostan di negara yang bersangkutan

sehingga akan membuat para investor menukarkan obligasi domestiknya

menjadi mata uang domestik dan obligasi luar negeri. Pembelian secara

besar-besaran atas obligasi luar negeri itu dengan sendirinya menimbulkan

depresiasi atas mata uang domestik.

Selanjunya, depresiasi itu merangsang peningkatan ekspor negara domestik

dan sekaligus menyurutkan impornya. Pada gilirannya hal ini menciptakan

surplus perdagangan bagi domestik yang segera disusul oleh apresias mata

uangnya. Apresiasi ini meredam sebagian depresiasi yang telah terjdi

sebelumnya. Dengan demikian,pendekatan keseimbangan portofolio ini juga

menjelaskan terjadinya lonjakan kurs, namun tidak seperti pendekatan

moneter, ia mampu menjelaskannya secara eksplisit dan mengaitkan peran

perdagangan dalam proses penyesuaian kurs dalam jangka panjang.

2.1.4 Sistem Moneter Internasional

Sistem moneter internasional atau yang sering pula disebut sebagai tata atau

rejim moneter internasional (Dominic,1997:407), mengacu pada berbagai peraturan,

kebiasaan-kebiasaan, instrumen penunjang, fasilitas pelengkap, prosedur dan

organisasi berkenaan dengan pembayaran internasional. Sistem moneter internasional

yang dianut oleh suatu negara merupakan salah satu faktor penentu untuk mencapai

(37)

mencapai keseimbangan internal (kondisi full employment yang disertai dengan

stabilitas harga) dan keseimbangan eksternal (mencegah terciptanya

ketidakseimbangan baik itu berupa defisit atau surplus neraca pembayaran yang

berlebihan). Oleh karena itu, sebagai upaya suatu negara dalam rangka mengejar

tujuan-tujuan makro ekonominya selalu mempengaruhi keberhasilan negara-negara

lain dalam mengusahakan pencapaian sasarannya.

Sebuah sistem moneter yang baik adalah sistem yang mampu memaksimalkan

arus perdagangan dan investasi internasional serta mampu menciptakan suatu pola

distribusi “keuntungan” perdagangan yang relatif merata dikalangan semua pihak

yang terlibat didalamnya. Kualitas sistem moneter internasional dapat dievaluasi

berdasarkan 3 kriteria pokok yakni, penyesuaian, liquiditas, dan kepercayaan.

Kriteria penyesuaian merujuk pada fasilitas, prosedur, proses atau kemudahan

mekanisme koreksi atas setiap ketidakseimbangan neraca pembayaran yang

terkandung dalam masing-masing sistem. Moneter internasional yang baik adalah

mampu meminimalkan biaya dan waktu yang diperlukan untuk menciptakan

penyesuaian tersebut. Adapun kriteria liquiditas merujuk pada jumlah asset cadangan

internasional yang tersedia guna mengatasi berbagai ketidakseimbangan temporer

pada neraca pembayaran. Berdasarkan kriteria ini, sebuah sistem moneter yang baik

adalah yang mempu menyediakan asset-asset cadangan internasional yang memadai

sehingga negara-negara dapat memanfaatkannya secara leluasa dalam rangka

(38)

perekonomian mereka sendiri atau menimbulkan tekanan-tekanan inflasioner

terhadap negara-negara lain secara keseluruhan. Sedangkan kriteria kepercayaan

merujuk pada sejauh mana masyarakat internasional memiliki pengetahuan dan

memasukkan kepercayaan atas mekanisme penyesuaian dan ketersediaan cadangan

internasional dalam mengatasi berbagai masalah pembayaran internasional yang ada

pada sebuah sistem. Atas dasar kriteria ini, sebuah sistem moneter internasional

dikatakan baik apabila masyarakat dunia memberikan kepercayaan yang memadai

terhadapnya.

Secara umum, standar internasional yang pernah ada dalam sejarah

perekonomian dunia hingga saat ini terdiri atas :

a. Stadar emas

Dalam standar emas, setiap negara diwajibkan untuk membakukan kandungan

emas dalam koin mata uangnya dan secara pasif bersiaga untuk membeli atau

menjual mata uangnya masing-masing. Karena kandungan emas dalam setiap unit

mata uang senantiasa baku, maka dengan sendirinya kursnya pun selalu baku. Inilah

yang disebut sebagai paritas logam mulia(mint parity). Kurs hanya dapat berfluktuasi

di atas atau dibawah paritas logam mulia itu (diseputar titi emas) sebesar biaya

pengapalan sejumlah emas yang setara nilainya dengan satu dengan satu unit valas

dari suatu pusat moneter ke pusat moneter lainnya. Kecenderungan dari sebuah mata

uang untuk mengalami depresiasi malampaui titik ekspor emas secara efektif dicegah

(39)

emas ini langsung mencerminkan keberadaan dan jumlah defisit pada neraca

pembayaran di negara yang bersangkutan. Sebaliknya,kecenderungan dari sebuah

mata uang untuk mengalami apresiasi melampaui titik impor emas, dicegah oleh

surplus pada neraca pembayaran yang bersangkutan.

Selanjutnya, pada sistem moneter ini, tanggung jawab pokok bank sentral

adalah menjaga paritas resmi peredaran uang dan emas. Agar nilai harga uangnya

stabil, bank sentral harus memiliki cadangan emas dan jumah yang cukup.

Mekanisme penyesuaian yang ada dalam standar emas, sebagaimana telah dijelaskan

oleh Hume, adalah mekanisme arus harga logam mulia otomatis. Karena penawaran

uang disetiap negara terdiri dari emas dan uang kertas yang didukung oleh emas,

maka begitu negara tersebut mengalami defisit neraca pembayaran, maka tingkat

penawaran uangnya pun langsung mengalami penurunan dan demikian sebaliknya,

yakni tingkat penawaran di negara yang mengalami surplus akan meningkat. Hal ini

menyebabkan harga-harga domestik di negara yang mengalami defisit akan turun,

sedangkan harga-harga di negara yang mengalami surplus akan mengalami kenaikan.

Lebih lanjut, ekspor di negara yang mengalami defisit akan terpacu sedangkan

impornya akan berkurang sampai defisit pada neraca pembayarannya itu hilang. Hal

sebaliknya akan terjadi di negara yang mengalami surplus, ekspornya akan menyusut

sedangkan impornya akan terpacu sehingga lambat laun surplus neraca

(40)

Agar proses penyesuaian otomatis ini dapat senantiasa berlangsung atau

berfungsi maka negara-negara pada standar emas tidak dibenarkan melakukan

sterilisasi atau langkah-langkah yang dapat meredam dampak-dampak defisit atau

surplus neraca pembayaran. Sebaliknya, aturan main standar emas mengharuskan

sebuah negara yang mengalami defisit memperkuat proses penyesuaian itu dengan

cara membatasi kredit, sedangkan negara yang mengalami surplus sangat diharapkan

melakukan ekspansi kredit.

Namun dari hasil penelitiannya, Nurkse dan Bloomfield menyatakan bahwa

otoritas moneter di berbagai negara pada masa itu tidak mengikuti aturan tersebut

secara penuh. Sampai batas-batas tertentu, ternyata mereka juga berusaha melakukan

sterilisasi terhadap dampak-dampak ketidakseimbangan neraca pembayarannya,

khususnya dampak yang akan menimpa tingkat penawaran uang. Disamping itu,

Michlay, menegaskan bahwa tindakan sterilisasi terbatas itu tidak terhindarkan

bahkan memang diperlukan demi mengendalikan proses penyesuaian dan mencegah

terjadinya penurunan penawaran uang yang terlalu tajam di negara yang mengalami

defisit atau lonjakan penawaran uang yang berlaku tinggi di negara yang mengalami

surplus.

b. Sistem Bretton Woods

Pada dasarnya, sistem Bretton woods adalah sebuah standar tukar emas (gold

exchange standar). Dalam sistem ini, Amerika Serikat diminta untuk

(41)

diminta untuk senantiasa siaga menukarkan Dollar menjadi emas dalam jumlah

berapapun harga baku tersebut. Sedangkan negara-negara lain diwajibkan untuk

membakukan harga mata uang mereka terhadap Dollar dan bersiap-siap melakukan

intervensi terhadap pasar valuta asing guna mempertahankan kebakuan kurs mata

uang mereka terhadap Dollar agar tidak bergerak lebih dari 1% di atas atau dibawah

nilai patokannya. Perubahan kurs yang dikarenakan oleh kekuatan permintaan dan

penawaran hanya dimungkinkan sampai batas tertentu yang relatif sempit. Jika ada

tanda-tanda bahwa kurs akan melampaui batas-batas tersebut, maka negara pemilik

mata uang yang bersangkutan diwajibkan untuk melakukan intervensi terhadap pasar

valas agar kurs bakunya tetap terpelihara.

Sistem Bretton woods pada awal perkembangannya disebut juga sebagai

sistem patokan nilai tukar yang dapat disesuaikan (adjustable peg system), mengingat

sistem tersebut mengutamakan stabilitas kurs namun masih memberi kelonggaran

atau fleksibilitas kurs sampai batas tertentu. Selanjutnya dalam operasinya, meskipun

sistem Bretton woods membuka peluang bagi dilakukannya perubahan nilai tukar

melampaui nilai patokannya dalam skala cukup besar karena permanent bagi

negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan fundamental, dalam kenyataannya

negara-negara industri sangat enggan mengubah nilai patokan mereka.

Sebagai dampak dari keengganan tersebut adalah:

1. Menggerogoti keberhasilan system Bretton woods karena hal tersebut

(42)

melakukan penyesuaian atas terjadinya ketidakseimbangan neraca

pembayaran.

2. Menyuburkan kegiatan – kegiatan spekulasi yang pada akhirnya

menciptakan arus permodalan internasional yang sangat besar dan cenderung

merusak stabilitas.

Dan pada akhirnya kedua dampak tersebut diatas merupakan penyebab

lumpuhnya system bretton woods yang terjadi pada tahun 1971 disamping karena

deficit neraca pembayaran yang dialami oleh Amerika Serikat yang sangat besar dan

terus menerus sehingga mengharuskan mendevaluasi mata uangnya yang berakibat

pada terciptanya inflasi yang sangat besar dan perekonomian terganggu.

Jika kedua sistem diatas baik standar emas maupun sistem Bretton Woods

juga sering disebut dengan system kurs tetap (fixed exchange rate), dimana

pemerintah menetapkan atau membakukan nilai kurs mata uangnya pada tingkat

tertentu.

Secara terperinci, keunggulan dan kelemahan dari system kurs tetap ini

adalah:

- Memberikan tingkat stabilitas kurs, menghilangkan sumber

ketidakpastian dan ketidakstabilan harga lebih jauh. Keunggulan:

- Membantu menghindarkan perekonomian dari gangguan ekonomi

(43)

- Menggairahkan pergdagangan internasional, mendorong iklim bisnis

yang mendukung investasi jangka panjang.

- Memberikan kerangka kerja ekonomi yang secara potensial lebih

efisien.

- Peyesuaian kurs cenderung dilakukan hanya setelah semua tindakan

korektif lainnya gagal. Subordinasi sasaran ekonomi internal terhadap

sasaran ekonomi eksternal yang mendahului penyesuaian kurs dapat

memberi beban penyesuaian kepada perekonomian yang merugikan. Kelemahan :

- Dalam kondisi perekonomian seperti ekspor tidak selalu berkembang dan

ketergantungan pada impor strategis sepeti energi sangat inggi, maka

penyesuaian kurs bisa tidak mampu menghapus defisit neraca pembayaran

yang terus-menerus pada kurs berlaku.

- Dapat mencegah perekonomian beraksi terlalu cepat terhadap kondisi

perekonomian yang berubah yang bisa membuat beban finansial yang

besar.

- Salah penerapan kurs dapat mempercepat destabilisasi aliran modal dalam

jumlah yang besar.

- Perlu cadangan devisa yang cukup untuk mempertahankan kurs

(44)

c. Sistem Kurs mengambang (fleksible exchange rate system)

Sistem kurs mengambang merupakan sistem moneter internasional yang

mengoreksi defisit atau surplus neraca pembayaran secara otomatis oleh depresiasi

atau apresiasi mata uang nasional di negara yang bersangkutan tanpa melibatkan

intervensi pemerintah serta tanpa pengurangan atau akumulasi asset cadangan

internasional yang dimiliki oleh negara tersebut. Secara teoritis, sistem kurs

mengambang terdiri atas sistem kurs bebas (freely floted exchange rate system) yakni

sistem kurs yang benar-benar bebas dari intervensi pemerintah dan sistem kurs

mengemabng terkendali (managed floataing exchange rate system) yakni sistem kurs

mengambang yang disertai dengan intervensi pemerintah. Namun dalam prakteknya,

sistem kurs mengambang bebas tidak pernah ada, yang ada adalah sistem kurs

mengambang terkendali yang banyak dipraktekan oleh banyak negara dewasa ini.

Para pendukung sistem ini yakni bahwa sistem kurs mengambang tidak hanya

secara otomatis menjamin terciptanya kelonggaran kurs, tapi juga akan menghasilkan

sejumlah manfaat lain bagi perekonomian dunia. Secara umum, ada 3 keunggulan

pokok yang dimiliki oleh sistem kurs mengambang (Krugman,1992:328) yaitu :

- Otonomi kebijakan moneter

Jika Bank setral tidak lagi harus mengintervensi pasar uang guna

membakukan kurs, maka pemerintah akan memperoleh kembali

(45)

sasaran keseimbangan internal dan eksternal. Lebih jauh, tidak ada

negara-negara yang terpaksa mengimpor inflasi atau deflasi dari luar negeri.

- Simetri

Dalam sistem kurs mengambang, asimetri inheren Bretton woods hilang

dan AS tidak lagi mengatur perekonomian dunia semaunya sendiri. Dalam

kurs mengambang, baik AS maupun negara-negara lain memiliki peluang

yang sama untuk mempengaruhi kurs mata uang asing masing-masing

terhadap uang lainnya.

- Kurs sebagai stabilisator otomatis

Meskipun kebijakan moneter tidak dilancarkan proses penyesuaian kurs

yang terbentuk oleh kekuatan pasar akan membantu semua negara

mempertahankan keseimbangan internal dan eksternal dalam menghadapi

perubahan permintaan agraret.

Disamping keunggulan-keunggulan tersebut, tidak sedikit juga yang

menantang sistem kurs mengambang ini dengan menguraikan beberapa

kelemahannya, diantaranya :

- Disiplin

Bank-bank sentral yang terbebas dari kewajiban pembakuan kurs besar

kemungkinan akan menerapkan berbagai kebijakan yang bersifat inflasioner. Dalam

kalimat lain, “disiplin” yang berhasil diterapkan oleh sistem kurs baku terhadap setiap

(46)

- Spekulasi dan gangguan pasar uang yang merusak stabilitas.

Dalam sistem kurs mengembang, spekulasi kurs mudah subur sehingga

menjurus pada instabilitas dalam pasar valuta asing. Instabilitas ini pada gilirannya

akan menghasilkan berbagai dampak negatif terhadap keseimbangan internal dam

eksternal semua negara. Lebih jauh, gangguan dalam pasar uang domestik menjadi

lebih berbahaya bila dibandingkan dengan gangguan dalam sistem kurs baku.

- Ancaman terhadap investasi dan perdagangan internasional.

Sistem kurs mengambang membuat harga-harga internasional makin sulit

dipastikan atau diprekdisikan sehingga mengganggu arus investasi dan perdagangan

internasional.

- Kebijakan ekonomi yang tak terkoordinasi.

Bila peraturan Bretton woods mengenai kurs ditinggalkan, maka mata uang

berbagai negara akan saling bersaing atau adu kuat. Hal ini tentu saja membahayakan

perekonomian dunia.

- Ilusi mengenai otonomi yang lebih besar.

Sistem kurs mengambang sebenarnya tidak sepenuhnya memberikan otonomi

kebijakan bagi setiap negara. Perubahan-perubahan kurs menimbulkan pengaruh

makro ekonomi yang mendalam yang akan memaksa bank sentral untuk

mempertahankan kebakuan kursnya, meskipun tanpa komitmen formal untuk itu

(47)

perkonomian dunia tanpa memberikan kebebasan yang lebih besar untuk menerapkan

kebijakan makro ekonomi.

Dengan demikian, kesimpulan yang didapat dari uraian diatas mengenai kurs

mengambang (Denberg, 1993:418) adalah:

- Kurs mengambang memungkinkan nilai ekspor dan impor suatu negara

makin rawan terhadap fluktuasi.

- Kurs mengambang diperlukan jika modal tidak mobil. Ketidakstabilan

ekspor dan impor serta ketiadaan mobilitas modal cenderung menimbulkan

kesulitan bagi negara kecil.

2.2. Ekspor

2.2.1 Pengertian Ekspor

Menurut Undang-Undang Perdagangan Tahun 1996 tentang Ketentuan Umum

di Bidang Ekspor, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan dari Daerah Pabean. Keluar

dari daerah pabean berarti keluar dari wilayah yuridiksi Indonesia.

Defenisi lain menyebutkan bahwa ekspor merupakan upaya mengeluarkan

(48)

sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing

(Amir, 2004:100).

Menurut Michael P. Todaro, ekspor adaah kegiatan perdagangan

internasional yang memberikan rangsangan guna menumbuhkan permintaan dalam

negeri yang menyebabkan tumbuhnya industri-industri pabrik besar, bersama dengan

struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang fleksibel. Dengan kata lain,

ekspor mencerminkan aktifitas perdagangan internasional, sehingga suatu negara

yang sedang berkembang kemungkinan untuk mencapai kemajuan perekonomian

setara dengan negara-negara yang lebih maju.

Sementara itu, G.M. Meiner, ekspor adalah salah satu sektor perekonomian

yang memegang peranan penting melalui perluasan pasar antara beberapa negara

dimana dapat mengadakan perluasan dalam suatu industri sehingga mendorong sektor

lain dalam perekonomian. Ekspor sebagai bagian dari perdagangan internasional bisa

dimungkinkan oleh beberapa kondisi antara lain :

a) Adanya kelebihan produksi dalam negeri sehingga kelebihan tersebut dapat

dijual keluar negeri melalui kebijakan ekspor.

b) Adanya permintaan luar negeri untuk suatu produk walaupun untuk dalam

negeri masih kekurangan.

c) Adanya keuntungan yang lebih besar dari penjualan ke luar negeri daripada

(49)

d) Adanya barter antara produk tertentu dengan produk lain yang diperlukan dan

tidak dapat diproduksi di dalam negeri.

e) Adanya kebijakan ekspor yang bersifat politik.

2.2.2 Teori Tentang Ekspor (Perdagangan Internasional)

Perkembangan ekspor dari suatu negara tidak hanya ditentukan oleh

faktor-faktor keunggulan komparatif, tetapi juga oleh faktor-faktor-faktor-faktor keunggulan suatu negara

di dalam persaingan global selain ditentukan oleh keunggulan komparatif (teori-teori

klasik dan H-O) yang dimilikinya dan juga karena adanya proteksi atau bantuan

fasilitas dari pemerintah, juga sangat ditentukan oleh keunggulan kompetitinya.

Keunggulan kompetitif tidak hanya dimiliki oleh suatu negara, tetapi juga dimiliki

oleh perusahaan-perusahaan di negara tersebut secara individu atau

kelompok.perbedaan lainnya dengan keunggulan komparatif adalah bahwa

keunggulan kompetitif sifatnya lebih dinamis dengan perubahanperubahan, misalnya

teknologi dan sumber daya manusia (Tambunan, 2001).

Berikut ini adalah beberapa tokoh yang membahas tentang ekspor

(perdagangan internasional), yaitu :

a. Adam Smith (1729 – 1790)

Buah pemikiran dari Adam Smith adalah teori “keunggulan absolut

(absolute advantahe)”. Teori ini sering disebut sebagai teori murni

(50)

negara akan melakukan spesialisasi dan ekspor terhadap suatu jenis barang

tertentu, dimana negara tersebut memiliki keunggulan absolut dan tidak

memproduksi atau melakukan impor terhadap jenis barang lain yang tidak

memiliki keunggulan absolut. Dengan kata lain, suatu negara akan

mengekspor suatu jenis barang jika negara tersebut dapat membuatnya lebih

efisien atau lebih murah daripada negara lain. Jadi, teori ini menekankan pada

efisiensi dalam penggunaan input, misalnya tenaga kerja, di dalam proses

produksi yang sangat menentukan keunggulan atau tingkat daya saing.

b. David Ricardo

David Ricardo dikenal melalui teorinya “keunggulan komparatif

(comparative advantage)”. Teori ini muncul sebagai kritik terhadap teori

keunggulan absolut milik Adam Smith. Menurut Ricardo, perdagangan

internasional dapat saja terjadi, meskipun suatu negara tidak memiliki

keunggulan absolut aas Vietnam dalam memproduksi beras dan buah-buahan.

Walaupun begitu, Vietnam bisa saja memiliki keunggulan komparatif paling

besar dibandingkan Indonesia dalam memproduksi salah satu dari kedua

komoditi tersebut. Dengan kata lain, Vietnam akan berspesialisasi pada dan

mengekspor suatu komoditi tertentu, dimana Vietnam memiliki keunggulan

komparatif. Menurut Ricardo, perdagangan antara dua negara tersebut akan

timbul bila masing-masing negara memiliki baya relatif yang terkecil untuk

(51)

Oleh karena itu, teori Ricardo sering disebut teori biaya relatif. Titik

pangkal dari teori ini adalah nilai atau harga suatu barang ditentukan oleh

jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan tiap pekerja dan jumlah tenaga

kerja yang digunakan untuk memproduksi suatu barang. Jadi, dalam model

Ricardo, penilaian terhadap keunggulan suatu negara atas negara lain dalam

membuat suatu jenis barang didasarkan pada tingkat efisiensi atau

produktivitastenaga kerja. Teori ini merupakan yang sering digunakan di

dalam banyak penelitian empiris mengenai kinerja ekspor.

c. Eli Heckseher dan Bertil Ohlin

Teori Heckseher dan Bertil Ohlin (H-O) termasuk dalam kelompok

teori modern. Teori H-O disebut juga sebagai factor proportion theory atau

teori ketersediaan faktor. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa perdagangan

internasional, misalnya antara Indonesia dan Jepang, terjadi karena biaya

alternatif (opportunity cost) berbeda antara kedua negara tersebut. Perbedaan

tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dalam jumlah faktor produksi

(tenaga kerja, modal dan tanah) yang dimiliki oleh kedua negara tersebut.

Indonesia memiliki tanah yang lebih luas dan tenaga kerja yang jauh lebih

banyak, namun memiliki modal yang lebih kecil daripada Jepang.

Maka sesuai hukum pasar (permintaan dan penawaran), harga

faktor-faktor produksi tersebut juga berbeda antara Indonesia dan Jepang. Upah

(52)

modal di Indonesia lebih mahal dibandingkan di Jepang. Namun, bukan

berarti Indonesia lebih unggul daripada Jepang. Hal ini tergantung pada

tingkat intensitas pemakaian tenaga kerja, tanah, dan modal dalam

memproduksi barang tersebut. Intensitas pemakaian faktor produksi dapat

diukur dengan rasio antara nilai faktor produksi dengan nilai output. Jelas

bahwa pertanian adalah jenis sektor yang proses produksinya lebih padat

tenaga kerja dan tanah daripada sektor industri manufaktur. Oleh sebab itu,

paling tidak secara teori, Indonesia memiliki keunggulan atas Jepang dalam

menghasilkan ekonomi komoditi pertanian.

Jadi menurut teori H-O, struktur perdagangan luar negeri dari suatu

negara tergantung pada kesediaan dan intensitas pemaskaian faktor-faktor

produksi dan yang terakhir ini ditentukan oleh teknologi. Suatu negara akan

berspesialisasi dalam produksi dan mengekspor barang-barang yang input

(faktor produksi) utamanya lebih banyak di negara tersebut dan sebaliknya.

d. Cho dan Moon

Cho dan Moon menggunakan model sembilan faktor untuk

menerangkan siklus hidup daya saing internasional dari suatu negara, yang

pada dasarnya sama dengan model pembangunan bertahap dari Rostow.

Menurut mereka status perekonomian sebuah negara ditentukan oleh daya

saing internasionalnya dan kesembilan faktor memiliki bobot yang bervariasi

(53)

tahapan sedang berkembang, selanjutnya menuju tahapan semimaju dan

akhirnya menuju tahapan maju.

Gambar 2.2

Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional

2.2.3 Faktor –faktor yang Mempengaruhi Ekspor

Menurut Darmansyah (dalam Soekartawi,1991:128) faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi perkembangan ekspor adalah :

(54)

a) Harga internasional, makin besar selisih antara harga di pasar internasional

dengan harga domestik akan menyebabkan jumlah komoditi yang akan di

ekspor menjadi bertambah banyak.

b) Nilai tukar uang (exchange rate). Makin tinggi nilai tukar mata uang suatu

negara (mengalami apresiasi) maka harga ekspor negara itu di pasar

internasional menjadi mahal. Sebaliknya, makin rendah nilai mata uang suatu

negara (mengalami depresiasi), harga ekspor negara itu di pasar internasional

menjadi lebih murah.

c) Quoto ekspor impor yakni kebijaksanaan perdagangan internasional berupa

pembatasan kuantitas (jumlah) barang ekspor.

d) Kebijakan tarif dan non tarif. Kebijakan tarif adalah untuk menjaga harga

produk dalam negeri dalam tingkatan tertentu yang dianggap mampu atau

dapat mendorong pengembangan komoditi tersebut. Sedangkan kebijakan non

tarif adalah untuk mendorong tujuan diversifikasi ekspor.

Menurut Sukirno (dalam Hajaswara, 2006:5), faktor-faktor yang

menentukan ekspor sebagai berikut :

a. Daya saing dan keadaan ekonomi negara lain

Dalam suatu sistem perdagangan internasional yang bebas,

kemampuan suatu negara menjual barang ke luar negeri tergantung pada

kemampuannya menyaingi barang-barang yang sejenis di pasar internasional.

Gambar

Tabel   Judul
Gambar  Judul
Tabel 2.1
Gambar 2.2 Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional
+7

Referensi

Dokumen terkait

Roy Hary Sandy Purba : Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Tingkat Inflasi Terhadap Penanaman Modal Asing..., 2004... Roy Hary Sandy Purba : Analisis Pengaruh Nilai Tukar

Pengaruh Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia dan Tingkat Inflasi Terhadap Nilai Tukar Rupiah atas Dollar Amerika. Jurnal Ekonomi dan Informasi

Apakah tingkat suku bunga, laju inflasi, dan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika secara individu mempunyai pengaruh yang signifikan pada harga saham PT.. Apakah tingkat

Nilai tukar rupiah berhubungan negatif terhadap investasi sektor pertanian di Indonesia diterima artinya apabila terjadi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis return dari nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Data diambil dari return Rupiah /US Dollar dari periode 2003 sampai 2013. Analisis dilakukan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan Nilai Ekspor neto ,Pertumbuhan Ekonomi dan Nilai tukar rupiah terhadap US dollar di Indonesia, selama periode tahun

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan Nilai Ekspor neto ,Pertumbuhan Ekonomi dan Nilai tukar rupiah terhadap US dollar di Indonesia, selama periode tahun

METODE PENELITIAN 2.1 Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data nilai tukar rupiah Rp terhadap Dollar Amerika USD dari bulan Januari 2001 sampai dengan bulan Desember