• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Perkembangan Variabel-variabel yang diBahas

Perekonomian dewasa ini sudah bersifat global dan terintegrasi yang ditandai dengan dibentuknya kerjasama atau organisasi yang bersifat internasional (World

Trade Organisation) maupu n regional (Association Free Trade Area). Dampak dari

globalisasi diatas akan meningkatkan kompetisi sehingga masing-masing negara berupaya untuk memperkuat daya saing produk-produk yang dihasilkannya, sehingga faktor efesiensi, kualitas, menajemen dan produktivitas harus dimiliki oleh setiap negara.

Indonesia sebagai salah satu negara agragris yang mempunyai struktur ekonomi ekspor, terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing terhadap produk-produk yang dihasilkan melalui langkah – langkah kebijakan yang efektif dan efesien. Sebagaimana kita ketahui bahwa sektor ekspor merupakan salah satu sumber penerimaan devisa terbesar bagi kita disamping sumber-sumber lainnya yang akan dimanfaatkan untuk membiayai pengadaan barang-barang impor untuk keperluan dalam negeri, seperti barang-barang konsumsi bagi masyarakat, bahan baku atau barang-barang modal untuk keperluan sektor industri sebagai upaya peningkatan kegiatan produksi yang berdampak luas terhadap peningkatan sektor-sektor lain.

Dalam kaitan tersebut, untuk Sumatera Utara dengan sumber daya alamnya yang cukup melimpah, mampu memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam menghasilkan komoditas primer hasil-hasil perkebunan sebagai komoditas ekspor non migas yang mempunyai keunggulan komparatif Sumatera Utara untuk dapat memberikan sumbangan devisa yang cukup besar bagi negara. Sumatera Utara dengan didukung oleh letak geografisnya yang sangat strategis dijalur perdagangan internasional serta dilengkapi sarana dan prasarana pelabuhan laut dan udara yang memadai mempunyai peranan penting dalam menghasilkan devisa dari ekspor non migas. Kemudian produk-produk menufaktur pun menunjukkan perkembangan yang meningkatkan sebagai komoditas ekspor non migas, hal ini tentu memberikan indikasi adanya peningkatan sumber daya manusia di Sumatera Utara yang semakin

maju dan terampil. Disamping itu letaknya sangat berdekatan dengan Malaysia, Thailand (Indonesia, Malaysia, Thailand – Growth Triangle atau IMG-GT) yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerjasama pertanian, industri, pariwisata dan perdagangan.

Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah terus burapaya mendorong perkembangan ekspor non migas dengan mengeluarkan bergagai kebijakan yang secara intensif dimulai sejak 1982 dan terus disempurnakan sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Berbagai upaya tersebut telah menunjukkan hasil yang cukup mengembirakan, hal ini tampak dari keberhasilan ekspor non yang mampu mengimbangi ekspor migas beberapa tahun terakhir.

Namun demikian, dalam rangka lebih meningkatkan keberhasilan ekspor non migas masih perlu dilakukan berbagai upaya baik menyangkut perluasan dan penguasaan pasar, peningkatan kualitas dan kuantitas produk maupun diversifikasi produk ekspor.

Bila ditinjau dari perubahan volum ekspor ternyata selama periode penelitian tersebut justru mengalami peningkatan atau bergerak fluktuasi yang positif, seperti tampak pada tabel berikut :

Tabel 4.3

Perkembangan Volum Ekspor Sumatera Utara

Tahun Berat Bersih (Ton) Persen

2002 6.622.573 18.14%

2003 5.490.113 15.03%

2005 8.174.804 22.39%

2006 8.704.825 23.85%

TOTAL 36.505.205 100%

Volume ekspor Sumatera Utara pada tahun 2002 sebesar 6,6 juta ton. Tahun 2003 mengalami penurunan menjadi 5,49 juta ton atau turun sebesar 9,34% di bandingkan dengan tahun 2002. Kemudian tahun 2004 volum ekspor Sumatera Utara naik yang relatif besar yaitu 7,51 juta ton atau naik sebesar 5,5% dan merupakan pertumbuhan volum ekspor yang paling besar selama periode. Keadaan yang tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya terhadap peningkatan volum ekspor daerah ini juga terjadi pada tahun 2005 sebesar 8,17 juta ton dan tahun 2006 juga mengalami peningkatan volum ekspornya mencapai 8,70 juta ton , merupakan peningkatan yang paling besar dalam 5 (lima) tahun terakhir. Hal ini sebagai realisasi dari keefektifan berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah, khususnya pemerintah propinsi Sumatera Utara yang dapat dilihat dari langkah-langkah kebijakan yang ditempuh seperti :

a). Penambahan cakupan komoditas ekspor bagi perusahaan ekspor tertentu (PET).

b). Penetapan standar konversi penggunaan bahan baku/penolong sebagai dasar pemberian pelayanan perpajakan, kepabeaan dan cukai produk tertentu.

c). Penjadwalan penurunan bea masuk atas beberapa produk perikanan dan produk kimia sebagai produk unggulan ekspor Sumatera Utara.

d). Penghapusan pajak pertambahan nilai bagi pemasok dalam negeri yang menyerahkan bahan baku dan jasa kepada perusahaan yang berstatus PET.

Jadi, secara umum keadaan diatas menandakan bahwa naiknya volume ekspor tidak otomatis sejalan dengan naiknya nilai ekspor, begitu pula sebaliknya, naiknya nilai ekspor tidak otomatis volume ekspor turut naik. Hal ini karena adanya fluktuasi (naik turunnya) harga pada komoditi ekspor Sumatera Utara di pasar internasional.

Jika dilihat dari nilai ekspor Sumatera Utara menurut sektor ekonomi, selama periode penelitian selalu didominasi oleh ekspor sektor industri, seperti tampak pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.4

Perkembangan Nilai ekspor Sumatera Utara menurut sektor 2002 – 2006 (000 US$) Sektor Ekonomi Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 Industri 2.271.999 1.987.208 3.165.894 3.326.894 3.798.300 Pertanian 600.530 686.911 1.029.559 1.222.394 1.705.921 Pertambangan dan penggalian 19.445 13.717 43.936 13.906 19.602 Migas - - - - - Lainnya 23 41 23 11 78 Total

Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara

Dari tabel, konstribusi ekspor sektor industri mempunyai sumbangan yang besar terhadap total Sumatera Utara selama tahun 2002-2006, masing-masing adalah tahun 2002 sebesar 78,56% tahun 2003 turun menjadi 73,93%, tahun 2004 naik menjadi 74,6, tahun 2005 turun menjadi 72,90 dan tahun 2006 sebesar 68,87%. Tetapi secara nilai ekspor dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Sementara itu, sektor pertanian menempati posisi kedua dalam hal ini besarnya sumbangan masing-masing sektor terhadap total ekspor Sumatera Utara selama periode 2002-2006. Konstribusi yang terbesar adalah pada tahun 2006 nilai ekspor sebesar 1.705,92 juta US$.

Selanjutnya, sektor pertambangan dan penggalian menempati urutan ke tiga dengan persentase konstribusinya yang relatif kecil yakni di bawah 1% padahal Sumatera Utara kaya akan hasil-hasil tambang. Permasalahanya adalah dari sisi pengelolaanya yang masih terbatas diantaranya karena kekurangan tenaga ahli, teknologi yang dimiliki masih rendah serta modal yang tidak memadai untuk menggali barang-barang tembang tersebut, sehingga peranannya saat ini terhadap total ekspor Sumatera Utara masih sangat kecil.

Sedangkan sektor lain dan Migas (minyak dan gas bumi), selama lima tahun periode ini hampir tidak ada konstribusinya terhadap ekspor Sumatera Utara. Bahkan pada tahun 2002 sampai dengan 2006 tidak ada konstribusinya sama sekali. Dengan demikian, sektor ekonomi yang menjadi andalan penghasil komoditi ekspor Sumatera

Ditinjau menurut kelompok barang ekonomi, ekspor Sumatera Utara dibedakan atas barang konsumsi, bahan baku (penolong) dan barang modal dimana selama tahun 2002-2006 mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi. Hal ini turut mempengaruhi penurunan konstribusi masing-masing kelompok barang ekonomi ini terhadap total ekspor Sumatera Utara. Seperti halnya bahan baku (penolong) yang mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2003, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan total ekspor Sumatera Utara yang cenderung menurun, mengingat kelompok barang ini merupakan penyumbang terbesar terhadap total ekspor Sumatera Utara dibandingkan dengan kelompok barang ekonomi lainnya.

Untuk melihat perkembangan ekspor Sumatera Utara menurut kelompok barang ekonomi dapat di lihat pada table di bawah ini.

Tabel 4.5

Perkembangan ekspor Sumatera Utara Menurut Kelompok Barang Ekonomi 2002 – 2006 (000 US$)

Barang ekonomi Tahun

2002 2003 2004 2005 2006 Barang Modal 36.472 29.191 28.658 39.547 47.198 Bahan Baku/Penolong 1.853.790 1.784.490 2.943.830 3.074.153 3.817.895 Bahan konsumsi 1.001.732 874.194 1.266.921 1.449.375 1.658.805 Total 2.891.996 2.678.877 4.239.409 4.563.075 5.523.900

4.2.2 Perkembangan Kurs ( Nilai Tukar) Rupiah terhadap Dollar AS

Krisis ekonomi yang kita rasakan hingga saat ini, bermula dari krisis mata uang yang dialami oleh beberapa negara Asia termasuk Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang lalu. Hal ini ditandai dengan kemorosotan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS yang sangat tajam dan boleh dikatakan yang paling parah selama pemerintahan orde baru. Betapa tidak, nilai Rupiah yang sebelumnya berada pada posisi Rp 2.655/US$ pada bulan Agustus 1997, tiba-tiba anjlok menjadi Rp 12.375/US$ pada bulan Januari 1998, bahkan sempat mencapai titik terendah pada bulan Juni 1998 yakni Rp 14.900/US$. Artinya rupiah mengalami depresiasi hampir 500% hanya dalam beberapa bulan saja. Hal ini disebabkan karena permintaan terhadap mata uang Dollar Amerika Serikat meningkat.

Ada beberapa faktor internal yang menyebabkan permintaan terhadap dollar AS meningkat sehingga nilai rupiah jatuh, yaitu :

a. Menyusul naiknya nilai dollar Amerika Serikat di Negara-negara tetangga, para pengusaha Indonesia yang dalam waktu dekat akan membayar hutang luar negerinya berusaha mendapatkan dollar Amerika Serikat dalam jumlah yang diperkirakan cukup besar.

b. Dalam keadaan sentiment pasar yang demikian, para spekulan pun berusaha mencari untung dengan melepas rupiah dan membeli dollar Amerika Serikat, maka nilai rupiah pun jatuh.

c. Sementara itu, banyak pula pemegang rupiah yang berusaha melindungi asset likuidnya (rupiah) dari kemerosotan nilai dengan jalan membeli dollar AS.

Oleh karena itu, setiap kali pemerintah mengambil langkah-langkah moneter, biasanya akan mempengaruhi nilai rupiah. Selisih kurs intervensi yang lebar seyogyanya dapat menekan minat beli dollar AS. Karena dengan membeli mahal dan menjual murah, masyarakat diharapkan enggan memburu dollar Amerika Serikat.

Kondisi transaksi berjalan (ekspor barang dan jasa dikurangi impor barang dan jasa) juga merupakan factor yang dapat mempengaruhi nilai mata uang (rupiah). Apabila terjadi defisit pada umumnya akan menyebabkan depresiasi rupiah.

Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang berlangsung lama dan terus menerus ini, mempengaruhi perekonomian lewat sisi penawaran agregat (produksi) melalui efeknya terhadap nilai tukar rupiah dari utang luar negeri dan harga impor dari perusahaan-perusahaan dalam negeri, swasta dan BUMN.

Depresiasi rupiah membuat nilai rupiah dari jumlah pembayaran bunga-bunga utang luar negeri dan pokoknya yang harus di bayar meningkat drastis. Peningkatan itu dengan sendirinya menimbulkan kesulitan keuangan yang serius bagi perusahaan yang bersangkutan. Demikian juga nilai impor barang-barang modal dan p0embantu bahan-bahan baku, komponen-komponen produksi serta input-input lainnya dalam rupiah meningkat dengan tajam akibat depresiasi rupiah.

Dibalik penurunan nilai rupiah tersebut, selalu diselingi oleh penguatan rupiah yang cukup signifikan, seperti yang terjadi selama tahun 2007 yang berada pada

posisi pada Rp 8.828/US$ pada bulan Mei. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa krisis sudah lewat, titik terendah sudah melampaui, bahkan pemerintah sendiri sangat optimis, dengan penguatan rupiah ini sebagai indikator pertumbuhan ekonomi yang segera akan dicapai. Namun, tidak sedikit juga yang merasa pesimis, terutama para pengamat ekonomi nasional khususnya sector produksi dan sektor ekspor. Hal ini disebabkan karena penguatan (apresiasi) rupiah tersebut bukan karena fundamental ekonomi yang membaik terutama dari sector riel, tetapi lebih karena dominasi sumbangan dari depresiasi US$ dan besarnya capital inflow dalam bentuk dana jangka pendek.

Namun penguatan rupiah seperti ini lebih bersifat semu. Artinya bila keadaan ekonomi mengalami gejolak sedikit saja dalam negeri maka nilai rupiah akan kembali turun akibat keluarnya kembali arus modal jangka pendek tersebut, dan dikonversi dalam dollar Amerika Serikat sehingga membuat membuat rupiah terdepresiasi lagi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila para pengamat ekonomi melihat apresiasi rupiah yang terjadi perlu diwaspadai dan menyarankan pemerintah dan BI selaku otoritas moneter, mengambil langkah-langkah konkrit dalam membangun fundamental ekonomi terutama sector riel sebagai landasan kokoh menuju perekonomian yang lebih stabil dan kuat saat ini dan masa yang akan datang.

Tabel 4.6

Perkembangan Kurs (Nilai Tukar) terhadap Dollar AS tahun 2003-2007

2002 2003 2004 2005 2006 2007 Januari 10.320 8.876 8.441 9.165 9.395 9.090 Februari 10.189 8.905 8.447 9.260 9.230 9.160 Maret 9.655 8.908 8.587 9.480 9.075 9.118 April 9.316 8.675 8.661 9.570 8.775 9.083 Mei 8.785 8.279 9.210 9.495 9.220 8.828 Juni 8.730 8.285 9.415 9.713 9.300 9.054 Juli 9.108 8.505 9.168 9.819 9.070 9.186 Agustus 8.867 8.535 9.328 10.240 9.100 9.410 September 9.015 8.389 9.170 10.310 9.235 9.137 Oktober 9.233 8.495 9.090 10.090 9.110 9.103 November 8.976 8.537 9.018 10.035 9.165 9.376 Desember 8.940 8.465 9.290 9.830 9.020 9.419

Sumber : Bank Indonesia Cab. Medan

4.2.3 Perkembangan PDRB Perkapita Sumatera Utara

Perkembangan PDRB Sumatera Utara dalam hal ini sebagai acuan dalam menentukan pertumbuhan ekonomi menunjukkan perkembangan yang signifikan jika dibandingkan pertahunnya. Hal ini mengindetifikasikan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di Sumatera Utara.

PDRB yang semakin meningkat setiap tahunnya menunjukkan bahwa sektor-sektor produksi di Sumatera Utara juga mengalami peningkatan, hal ini tentu akan

mengakibatkan adanya peningkatan pendapatan tenaga yang bekerja di sector produksi tersebut. Tetapi sehubungan dengan terjadinya krisis ekonomi yang melanda Negara kita sejak pertengahan tahun 1997 tentu memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Sumatera Utara. Nilai tukar Rupiah yang semakin melemah terhadap mata uang asing terutama terhadap Dollar Amerika Serikat mengakibatkan banyak perusahaan lokal yang menggunakan bahan baku impor mengalami kerugian yang besar akibat mahalnya biaya produksi yang akan ditanggung. Akibat hal tersebut banyak perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja untuk menghemat biaya produksi dan juga mengurangi jumlah produksi. Dalam kurun waktu 20 tahun (1988-2007) PDRB perkapita Provinsi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2005 menunjukkan angka Rp 34.006.274, tahun 2006 meningkat menjadi Rp 50.705.973 dan pada tahun 2007 sudah menunjukkan angka Rp 59.228.075. Secara keseluruhan perkembangan PDRB Perkapita Provinsi Sumatera Utara dari tahun 1988 hingga 2007 berdasarkan harga konstan 2000 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.7

PDRB Perkapita Sumatera Utara Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 1988 – 2007 (juta Rp)

Tahun PDRB Perkapita Atas Dasar harga Konstan 2000

1988 4.999.214

1990 5.934.565 1991 6.364.634 1992 6.832.672 1993 18.215.459 1994 19.942.023 1995 21.753.805 1996 23.714.737 1997 25.065.405 1998 22.332.689 1999 22.898.424 2000 24.016.650 2001 24.911.050 2002 25.925.360 2003 27.071.250 2004 28.688.853 2005 34.006.274 2006 50.705.973 2007 59.228.075

Sumber : Bank Indonsesia Cab. Medan

Dokumen terkait