• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.3 PDRB Perkapita

PDRB perkapita dapat digunakan sebagai gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk sebagai hasil dari seluruh proses produksi sektor-sektor ekonomi disuatu wilayah. PDRB perkapita di peroleh dengan cara membagi total nilai PDRB atas dasar berlaku dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat secara langsung meningkatkan PDRB perkapita bila pertumbuhan penduduknya terkendali. Oleh karena itu perlu pengendalian pertumbuhan penduduk sedemikian rupa agar PDRB perkapita meningkat (sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara).

PDRB perkapita merupakan gambaran dari rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun disuatu wilayah atau daerah. Walaupun ukuran ini tidak selalu dapat digunakan secara langsung sebagai ukuran tingkat pemerataan pendapatan. Adanya peningkatan perekonomian dengan melambatnya

perkembangan pertumbuhan penduduk, akan mengakibatkan terjadinya peningkatan pendapatan perkapita. Pada umumnya untuk mengetahui laju pembangunan ekonomi suatu negara dan perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakatnya, perlu diketahui tingkat pertambahan pendapatan nasional dan besarnya pendapatan perkapita. Pendapatan perkapita yang merupakan salah satu prestasi ekonomi yang sangat erat kaitannya dengan pertambahan penduduk. Sehingga apabila pertambahan pendapatan lebih besar daripada pertambahan penduduk maka tingkat pendapatan perkapita penduduk meningkat, sebaliknya apabila pertambahan pendapatan nasional lebih kecil dari pertambahan penduduk maka pendapatan perkapita mengalami penurunan.

Umumnya PDRB dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu PDRB atas harga berlaku (nominal) dan PDRB atas harga konstan (riil). PDRB atas harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga berlaku pada setiap tahun. Jadi, pada PDRB atas harga berlaku sudah termasuk unsur inflasi. Sedangkan PDRB atas harga konstan menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu, misalnya 1983, 1993, atau 2000. PDRB atas harga konstan meningkat hanya jika jumlah barang dan jasa meningkat, sedangkan PDRB atas harga berlaku bisa meningkat karena produksi naik atau harga turun.

Setelah PDRB atas harga berlaku dan PDRB atas harga konstan diketahui, maka dapat dihitung deflator PDRB. Deflator PDRB, juga disebut dengan deflator

harga implisit untuk PDRB, didefenisikan sebagai ratio PDRB atas harga berlaku terhadap PDRB atas harga konstan.

konstan harga atas PDRB berlaku harga atas PDRB PDRB Deflator =

Deflator PDRB mencerminkan apa yang sedang terjadi pada seluruh tingkat harga dalam perekonomian.

2.3.2 Metode Perhitungan PDRB a. Metode Langsung

1) Pendekatan Produksi (Production Approach)

PDRB merupakan jumlah nilai Tambah Bruto (NTB) atau nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh unit produksi disuatu wilayah dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Sedangakan NTB adalah Nilai Produksi Bruto (NPB) dari barang dan jasa tersebut dikurangi seluruh biaya antara yang digunakan dalam produksi.

Y = P1Q1 + P2Q2 + ... + PnQn

Di mana :

Y = PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).

Yang dipakai hanya nilai tambah bruto saja agar dapat menghindari adanya perhitungan ganda.

2) Pendekatan Pendapatan

PDRB adalah jumlah seluruh balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi disuatu wilayah dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Berdasarkan pengertian tersebut, maka NTB adalah jumlah dari upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal, dan keuntungan (laba), semuanya belum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam pengertian PDRB ini termasuk pola komponen penyusutan pajak tidak langsung neto.

Y = Yw + Yr + Yi + Yp Di mana :

Y = Pendapatan regional PDRB Yw = Pendapatan upah / gaji Yr = Pendapatan sewa Yi = Pendapatan bunga

Yp = Pendapatan laba atau profit

3) Pendekatan Pengeluaran ( Expenditure Approach)

PDRB adalah jumlah seluruh pengeluaran yang dilakukan untuk pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik buto, perubahan inventori, dan

ekspor bersih di dalam suatu wilayah tertentu, biasanya satu tahun. Dengan metode ini, penghitungan NTB bertitik tolak pada penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi.

Y = C + I + G + (X – M) Di mana :

Y = PDRB (pendapatn regional Domestik Bruto)

C = Pengeluaran Rumah Tangga Konsumen untuk konsumsi I = Pengeluaran Rumah Tangga Perusahaan untuk investasi G = Pengeluaran Rumah Tangga Pemerintah

(X –M) = Ekspor netto atau Pengeluaran rumah tangga luar negeri

Yang dihitung hanya nilai transaksi-transaksi barang jadi saja, untuk menghindari adanya perhitungan ganda.

b. Metode Tidak Langsung ( Alokasi)

Menghitung nilai tambah suatu kelompok ekonomi dengan mengalokasikan nilai tambah nasional kedalam masing-masing kelompok kegiatan pada tingkat regional. Sebagai alokator digunakan indikator yang paling besar pengaruhnya atau erat kaitannya denga produktivitas kegiatan ekonomi tersebut.

2.2.3 Kegunaan Statistik Pendapatan Regional

Data statistik pendapatan regional memberikan informasi yang berguna mengenai berbagai aspek dari kegiatan ekonomi (Sukirno, 2004:55), yaitu :

Semakin tinggi pendapatan regional, semakin besar jumlah output yang diciptakan dalam suatu wilayah dan semakin tinggi kapasitas barang-barang modal yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Kenaikan pendapatan regional juga berkaitan erat dengan kenaikan kesempatan kerja. Apabila tingkat pengangguran masih tinggi, keadaan itu menggambarkan bahwa pendapatan regional yang dicapai di bawah pot ensi maksimal.

b. Menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai.

Dengan membandingkan statistik pendapatan riil pada suatu tahun tertentu dengan pendapatan riil pada tahun-tahun sebelumnya akan dapat ditentukan tingkat pertumbuhan ekonomi.

c. Memberi informasi mengenai struktur kegiatan ekonomi.

Data pendapatn regional yang dihitung dengan cara pengeluaran menunjukkan nilai dan komposisi pengeluaran agreagat, seperti konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, investasi, ekspor, dan impor.

Data pendapatan yang dihitung dengan cara produk neto memberikan gambaran tentang peranan berbagai sektor dalam perekonomian, yaitu menunjukkan nilai output yang mereka menciptakan dan persentase sumbangan berbagai sektor terhadap pendapatan regional.

Tingkat kemakmuran penduduk suatu regional dapat diketahui melalui pendapatan perkapita yang diperoleh penduduk tersebut.

e. Sebagai dasar untuk membuat ramalan dan perencanaan.

Data pendapatan regional pada masa kini dan masa lalu dapat memberi informasi penting mengenai ciri-ciri dari kegiatan ekonomi, seperti dapat menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dan sektor-sektor yang mewujudkan pertumbuhan tersebut, perkembangan ekspor dan investasi, dan berbagai informasi penting lainnya. Berdasarkan data tersebu, pemerintah dapat merumuskan kebijakan ekonomi untuk mewujudkan pembangunan di masa mendatang, seperti meramalkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai, perkembangan investasi dan ekspor, dan sebagainya.

Dokumen terkait