BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum
4.1.7 Deskripsi Hasil Penelitian
Tingginya angka pengangguran disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu faktor penyebabnya yaitu rendahnya kemampuan yang dimiliki. Pelatihan yang diselenggarakan di BLK merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi masalah pengangguran. Melalui pelatihan kerja, masyarakat dapat memperoleh, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensinya agar mampu bersaing dalam dunia kerja. Tidak hanya itu, dengan keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat membuka usaha dan bahkan mampu membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
UPTD BLK Disnaker Kota Semarang juga menjadi salah satu pelaksana pelatihan kerja yang ada di Jawa Tengah melalui pelatihan berbasis kompetensi. Ditengah pandemi Covid-19 pelatihan kerja di BLK sempat dihentikan oleh pemerintah. Pelaksanaan pelatihan di BLK juga tidak sesuai dengan yang direncanakan. Namun karena meningkatnya angka pengangguran ditambah dengan korban PHK, pemerintah melakukan refocusing anggaran pelatihan yang tadinya dialokasikan ke pelatihan umum kini di alihkan ke pelatihan tanggap Covid-19 untuk mengurangi dampak pandemi tersebut. UPTD BLK Disnaker Kota Semarang harus mampu menyesuaikan dengan keadaan saat ini terutama dalam pelaksanaan pelatihan yang harus diubah. BLK juga harus merancang ulang perencanaan pelatihan dan penyelenggaraannya dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Manajemen program pelatihan menjahit (pembuatan masker) adalah proses bagaimana program pelatihan tersebut diselenggarakan di UPTD BLK Disnaker
Kota Semarang dalam mencapai tujuan pelatihan mulai dari input, proses, dan output. UPTD BLK Disnaker Kota Semarang dalam menyelenggarakan pelatihan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi pelatihan dalam mencapai tujuan dari program pelatihan.
Berikut merupakan laporan dari hasil penelitian yang berjudul " Manajemen Program Pelatihan Menjahit pada Masa Pandemi Covid-19 di UPTD Balai Latihan Kerja Disnaker Kota Semarang ". laporan ini disusun berdasarkan proses pengumpulan data yang kemudian direduksi, hasil reduksi berupa penyajian data, dan dilanjutkan dengan menarik kesimpulan.
4.1.7.1 Manajemen Program Pelatihan Menjahit (Pembuatan Masker)
Manajemen merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi input proses dan output dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dalam sebuah pelatihan sehingga pelatihan tersebut berjalan dengan evektif dan efisien. Perlunya manajemen pelatihan dan prosesnya menurut Wulandari & Ilyas (2015:109) sebagai :
“...perlu manajemen penyelenggaraan yang sistematis dan terencana. Perlu adanya suatu perencanaan pelatihan yang matang, pelaksanaan yang terorganisir serta dibutuhkan pula suatu evaluasi penyelenggaraan yang baik dalam mempersiapkan warga belajar memasuki dunia kerja”
Manajemen pelatihan yang sistematis diperlukan dalam sebuah pelatihan. Perencanaan yang matang, pengorganisasian untuk mempersiapkan pelaksanaan pelatihan, pelaksanaan pelatihan yang terorganisir, pengawasan, dan evaluasi yang baik dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan pelatihan.
4.1.7.1.1 Perencanaan Pelatihan Pembuatan Masker
Perencanaan dalam sebuah pelatihan adalah langkah yang paling awal dalam pelaksanaan suatu pelatihan, dalam proses ini tujuan suatu program ditetapkan, dari perencanaan kita akan tau langkah apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, proses sebuah perencanaan haruslah dimulai dengan penetapan tujuan yang akan dicapai, kemudian menetapkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pencapaian tujuan. Saat kita akan merencanakan, tentu pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien (Sanjaya, 2008).
Proses perencanaan pelatihan pembuatan masker yang dilaksanakan di UPTD BLK Disnaker Kota Semarang oleh Ka Subbag TU, Staf, dan Ka BLK sebagai penanggung jawab, dimulai dari penyusunan rencana pelatihan. Menurut hasil wawancara dengan Bu DN mengenai gambaran umum perencanaan pelatihan pembuatan masker sebagai berikut :
“Untuk pelatihan pembuatan masker kan baru kemarin, karena ada Covid, jadi kemarin kita melakukan identifikasi kira-kira pelatihan apa yg cocok untuk dilaksanakan di BLK ini, biasanya kan dari sana menawarkan, kita sesuaikan dengan workshop yang tersedia kemudia kita mengajukan paket pelatihan ke pusat (BBPLK), setelah dikirim kesana dari sana dibuatkan anggarannya. Kemudian turun POK nya (dasar pelaksanaan), kemudian kita membuat rencana pelatihan”. (P2:DN:W1:H1)
Jadi, perencanaan diawali dengan identifikasi untuk menentukan program pelatihan yang akan dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengajuan paket pelatihan kepada BBPLK Semarang. Setelah disetujui kemudian UPTD BLK melakukan proses perencanaan pelatihan, melaksanakan pelatihan, dan melakukan evaluasi
terhadap pelatihan yang telah dilaksanakan, seperti yang disampaikan Bu AT dalam wawancara sebagai berikut :
“Dalam pelatihan pembuatan masker tidak ada staf khusus pembantu program, melalui SK pengelola pelatihan yang disahkan oleh kepala UPTD BLK pegawai yang ditunjuk untuk mengikuti program berkoordinasi dengan instruktur pelatihan. pengelola pelatihan pembuatan masker melibatkan semua pegawai di UPTD BLK meliputi Kepala Subbag TU sampai dengan staf dengan Kepala UPTD BLK sebagai penanggung jawab” (P1:AT:W1:H4)
Senada dengan yang disampaikan oleh Ka Subbag TU Bu DN dalam wawancara :
“Untuk staf kita menetapkan semua staf BLK terlibat, tidak ada staf khusus tiap pelatihan sih. Semua staf , Ka Subbag TU dan Ka UPTD BLK sebagai penanggung jawabnya”. (P2:DN:W1:H1)
Kemudian ditambahi oleh Pak J :
“untuk staf khusus si tidak ada, karena yang mengurus dari seluruh staf BLK” (S1:J:W1:H2)
Pernyataan tersebut didukung dengan adanya dokumentasi mengenai daftar pengelola pelatihan di UPTD BLK Kota Semarang berupa struktur organisasi. Disimpulkan tidak ada pengelola program khusus dalam pelatihan pembuatan masker, pengelola adalah semua staf BLK dengan Ka BLK sebagai penanggung jawab.
Setelah pengelola dan staf siap, kemudian UPTD BLK menetapkan tujuan pelatihan pembuatan masker seperti yang disampaikan oleh Ibu AT selaku kepala BLK dalam wawancara sebagai berikut :
“kalau secara umum tujuan diadakannya pelatihan pembuatan masker karena kita kan sedang berada ditengah pandemi Covid-19, sekarang masker menjadi hal yang wajib untuk dipakai, ketersediaan yang terbatas. Disisi lain juga untuk mengurangi dampak pandemi dalam hal pengangguran karena PHK, agar masyarakat bisa
memproduksi masker untuk wirausaha. Dari hasil pelatiah juga kita donasikan masker tersebut. Kalau tujuan khusus dari program pelatihan pembuatan masker untuk peserta pelatihan mampu mengidentifikasi bagian-bagian masker sesuai standar kesehatan, menunjukkan bagian masker sesuai standar kesehatan, membuat masker sesuai standar kesehatan”. (P1:AT:W1:H4)
Adapun dalam perumusan tujuan pelatihan pembuatan masker ada beberapa pedoman, diungkapkan oleh Ibu DN dalam wawancara :
“penentuan tujuan pelatihan kita selalu berpedoman pada abcd , audience, behaviour, condition, dan degree, serta memperhatikan Taksonomi Bloom. Kalau tujuan pelatihan pembuatan masker dalam domain kognitif kan menambah pengetahuan peserta pelatihan mengenai cara pembuatan masker sesuai standar, kalau afektif tentu dalam pelaksanaan pelatihan nanti peserta harus disiplin untuk datang tepat waktu, kejar target, dan mematuhi protokol kesehatan. Sedangkan dalam psikomotorik nantinya peserta diajarkan cara menjahit masker dengan benar.” (P2:DN:W1:H1)
Yang kemudian ditambahi oleh Pak J :
“untuk mencapai tujuan tentunya materi, metode yang digunakan harus linier”. (S1:J:W1:H2)
Pertanyaan tersebut didukung dengan adanya dokumentasi mengenai tujuan pelatihan pembuatan masker. Tujuan khusus dari program pelatihan pembuatan masker untuk peserta pelatihan mampu :
mengidentifikasi bagian-bagian masker sesuai standar kesehatan
menunjukkan bagian masker sesuai standar kesehatan
membuat masker sesuai standar kesehatan
Jadi, tujuan pelatihan pembuatan masker yang dirumuskan di BLK ini didasarkan pada Taksonomi Bloom, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan secara umum yaitu sebagai bentuk pelatihan tanggap Covid-19, dalam meminimalisir penyebaran virus dengan membuat masker sesuai
standar, membuka peluang usaha bagi peserta pelatihan untuk mengurangi pengangguran karena korban PHK.
Selanjutnya pengelola menetapkan jadwal pelaksanaan pelatihan. Penetapkan waktu dan tempat pelatihan pembuatan masker, menurut Bu AT dalam wawancara :
“waktu dan tempat pelatihan ditentukan berdasarkan kebutuhan saat pandemi Covid-19, kita mengacu pada matrik kegiatan disusun sebagai acuan pelaksanaan” (P1:AT:W1:H4)
Berdasarkan hasil wawancara, beliau juga menyampaikan mengenai pertimbangan dalam memilih tempat pelaksanaan pelatihan :
“pertimbangan dalam memilih tempat pelaksanaan pelatihan berdasarkan kebutuhan pelatihan. Pelatihan pembuatan masker dilaksanakan di UPTD BLK Mijen karena peralatan telah tersedia, dan mengakomodir masyarakat diwilayah Semarang bagian Barat”. (P1:AT:W1:H4)
Sedangkan untuk waktu pelaksanaan pelatihan seperti yang disampaikan oleh Pak J dalam wawancara :
“untuk menetapkan waktu dan tempat pelatihan didasarkan pada kebutuhan, dan dari pusat diberi batasan waktu 10 hari, kita hanya menentukan tempat”. “di BLK Mijen, lantai 2 ruang jahit”.” dari tanggal 15 juni s.d 26 Juni 2020” (S1:J:W1:H2)
Pernyataam tersebut didukung oleh hasil observasi mengenai tempat pelaksanaan. Pertimbangan mengenai tempat pelaksanaan pelatihan sudah sesuai, tempat yang digunakan sebagai tempat pelatihan memiliki fasilitas yang menunjang kebutuhan pelatihan. Berikut dokumentasi foto mengenai tempat pelaksanaan pelatihan pembuatan masker :
Gambar 4.1 Tempat Pelatihan
Disimpulkan bahwa penetapan waktu pelatihan dari BBPLK yaitu selama 10 hari yang didasarkan pada kondisi saat ini ditengah pandemi Covid-19. Tempat pelatihan ditentukan berdasarkan ketersediaan workshop dan peralatan yang lengkap, jadi pelatihan pembuatan masker dilaksanakan di BLK Mijen tanggal 15 Juni- 26 Juni 2020.
Persiapan program yang direncanakan selanjutnya meliputi persiapan bahan ajar, bahan pelatihan, media, dan metode pelatihan. Menentukan bahan ajar merupakan tahapan selanjutnya, ada beberapa pertimbangan seperti yang disampaikan oleh Bu AT dalam wawancara berikut :
“bahan ajar yang digunakan dalam pelatihan pembuatan masker berupa buku informasi, nanti didalamnya ada materi dan unit kompetensi yang harus dikuasai sama peserta pelatihan. Bajar sangat menunjang proses pembelajaran, kan sebagai pedoman biar peserta mampu menguasai unit kompetensi. Untuk bikin bahan ajar biasanya berpedoman pada kurikulum, nah nanti kurikulum dibuat silabus yang dijabarkan ke materi pembelajaran, tapi tetep ada batasan variabel yang nanti dipelajari oleh peserta pelatihan. Acuan dari pelatihan pembuatan masker adalah skkni No. 305 tahun 2015 tentang penetapan skkni kategori industri pengolahan golongan pokok industri pakaian jadi bidang produksi pakaian jadi masal.” (P1:AT:W1:H4)
Sehubungan dengan bahan ajar yang berpedoman pada kurikulum, berikut tambahan dari Bu DN :
“(bahan ajar) berupa buku informasi, didalamnya memuat materi dan unit kompetensi yang harus peserta kuasai. Kalau bahan ajar sudah disediakan dari kementrian, jadi kita tidak perlu membuat, dan sudah sesuai dengan SKKNI bahan ajar sebagai pedoman dalam pembelajaran sehingga sangat menunjang ya. bajar diambil dari silabus dan silabus diambil dari kurikulum pelatihan. Namun kita tidak membuat bahan ajar, karena bahan ajar sudah disediakan”. (P2:DN:W1:H1)
Pernyataan tersebut didukung dengan adanya dokumentasi mengenai dasar penetapan bahan ajar yang berupa buku informasi yaitu SKKNI no 305 tahun 2015 Tentang Penetapan SKKNI Kategori Industri Pengolahan Golongan Pokok Industri Pakaian Jadi Bidang Produksi Pakaian Jadi Masal. Untuk unit kompetensinya ada 4, yaitu :
Mengikuti Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja di tempat kerja (K3) C.141110.044.02
Menjahit Proses Sederhana C.141110.026.02
Menjahit Komponen Pakaian C.141110.027.02
Pembuatan Masker
Selain buku informasi, berdasarkan hasil dokumentasi, pengelola juga menyiapkan bahan pelatihan yang digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Bahan pelatihan yang disiapkan oleh pengelola berupa bahan pembuatan masker.
Gambar 4.2 Daftar Bahan Pelatihan
Disimpulkan bahwa UPTD BLK Disnaker Kota Semarang tidak menetapkan atau membuat bahan ajar, bahan ajar sudah disediakan dari Kementerian berupa Buku Informasi. Buku informasi berisi materi yang harus dikuasai oleh peserta pelatihan yang diambil dari SKKNI no 305 tahun 2015 tentang Penetapan SKKNI kategori Industri Pengolahan Golongan Pokok Industri Pakaian Jadi Bidang Produksi Pakaian Jadi Masal. Selain buku informasi, pengelola juga menyiapkan bahan pelatihan yang disesesuaikan dengan kebutuhan pelatihan.
Selain bahan ajar, BLK juga menetapkan metode dan media pembelajaran dalam pelatihan, disampaikan Bu AT dalam wawancara :
“untuk penetapan metode kita juga dari silabus, sama dengan bahan ajar, silabus akan menjabarkan aspek apa yang harus tercapai dari kognitif, afektif, atau psikomotoris. dari situ baru metode pembelajaran kami tentukan. Metode yang digunakan itu ceramah bergambar / kognitif, diskusi / afektif, dan demonstrasi dan praktik /psikomotorik. Tapi kalau pelatihan biasanya lebih ke praktik kan ya
mba, beda kalau pendidikan disekolah yang fokus ke teori”. (P1:AT:W1:H4)
Berikut hasil wawancara dengan instruktur pelatihan Bu SR mengenai metode pelatihan :
“Kalau metode kita (instruktur) yang mengembangkan, disesuaikan dengan keadaan kelas, karena pesertanya homogen, perbedaan gender dan usia peserta. Teori 15% sisanya praktik, karena ditengah praktik ada teori nanti disambung praktik sambil jalan. Sebenarnya idealnya 40% teori, 60% praktik, namun karena teori dan praktik berjalan bareng jadi ya seperti itu” (I:SR:W1:H2)
Disimpulkan bahwa dalam penetapan metode pelatihan disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Metode yang akan digunakan lebih ditekankan ke praktik. Menentukan metode juga dengan mempertimbangkan waktu pelatihan dan tujuan pelatihan agar bisa tercapai, salah satunya memenuhi target pembuatan 2000 masker dalam waktu 10 hari pelatihan.
Penetapan media pembelajaran disesuaikan dengan metode yang digunakan, seperti yang disampaikan oleh Bu DN dalam wawancara :
“penetapan media pelatihan disesuaikan dengan materi dan metodenya, kalau praktik kita menggunakan alat jahit, kalau ceramah bisa sambil menggunakan whiteboard.”. (P2:DN:W1:H1)
Menurut wawancara dengan Bu AT mengenai dasar penetapan media pembelajaran sebagai berikut :
“dasar penetapan media disesuaikan dengan metode yang digunakan dalam pelatihan. berdasarkan kebutuhan pelatihannya juga mba. Butuhnya apa nanti kita sediakan medianya.”. (P1:AT:W1:H4)
Pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya hasil observasi mengenai media pelatihan yang tersedia ditempat pelatihan, berupa mesin jahit yang digunakan peserta pelatihan, mesin obras, serta alat bantu jahit lainnya.
Gambar 4.3 Media / Alat Bantu Pelatihan
Disimpulkan bahwa dalam menentukan media yang akan digunakan sesuai dengan pelatihan yang dilaksanakan, sesuai dengan kebutuhan pelatihan. BLK menyediakan media sesuai dengan jumlah peserta pelatihan, jumlah mesin jahit ada 16 yang digunakan dalam pelatihan ini, dan 1 mesin obras.
Pemanggilan instruktur dilaksanakan setelah perencanaan persiapan program dilakukan. Penetapan instruktur juga tidak ada seleksi khusus, seperti yang diungkapkan Bu SR dalam wawancara:
“Instruktur seperti saya kan sudah lama menjadi instruktur mengajar di BLK, modelnya satu kelas ada instrukturnya diambil dari mana, tapi kita sudah diseleksi dari awal. Diseleksi terlebih dahulu dari yang awalnya baru menjadi asisten, sudah memiliki pengalaman. Kalau sertifikat kita biasanya kalau dulu ada, Cuma biasanya itu dari BNSP. Namun setelah menjasi instruktur jahit, dalam pelatihan pembuatan masker ini tidak ada seleksi, saya langsung ditujuk sebagai instruktur pelatihan. Pengalaman lebih diutamakan”. (I:SR:W1:H2)
Ditambahkan juga oleh Pak J mengenai kualifikasi instruktur pelatihan di BLK :
“yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan, sudah berpengalaman juga”.”yang menguasai materi, memguasai skill, dan bisa berkomunikasi baik dengan peserta pelatihan ya”. (S1:J:W1:H2)
Berdasarkan pernyataan tersebut, BLK melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan, instruktur yang sesuai dengan bidang latih. Untuk pelatihan pembuatan masker, instruktur harus menguasai materi pembuatan masker, instruktur sudah berpengalaman dan memiliki sertifikat dari BNSP. Tidak ada proses seleksi lagi untuk menentukan instruktur pelatihan ini.
Tahapan selanjutnya dalam proses perencanaan yaitu dengan penyusunan matrik pelatihan dan jadwal pelatihan. Mengenai penyusunan jadwal pelatihan disesuaikan dengan unit kompetensi, dan dilaksanakan dari yang paling dasar sampai pembuatan masker secara utuh. Disampaikan oleh Bu AT dalam wawancara berikut :
“untuk penyusunan jadwal kita menunggu pengesahan pelatihan, setelah disahkan anggaran tanggap Covid-19, kita baru menyusun jadwalnya”. “dasar penyusunan jadwal yaitu kondisi pandemi Covid-19, dan kesiapan pelatihan”. (P1:AT:W1:H4)
Dalam penyusunan jadwal pelatihan, tidak ada pertimbangan mengenai peserta pelatihan, seperti yang Bu AT sampaikan :
“jadwal dilaksanakan sesuai dengan kesiapan pelaksanaan yang ditentukan oleh BLK, jika pesertanya dinyatakan lolos, ya mereka harus mengikuti jadwal pelatihan yang sudah BLK susun. Jadi peseta yang ngikut kita, bukan kita yang ngikut pesertanya”. (P1:AT:W1:H4)
Ditambahkan lagi oleh Bu DN mengenai pertimbangan dalam membuat jadwal pelatihan pembuatan masker :
“peserta yang menyesuaikan dengan jadwal yang ada di BLK, dan pesertanya kan warga yang tidak bekerja, jadi menurut saya mereka tidak memiliki kesibukan lain yang harus disesuaikan dengan jadwal pelatihan kami”. (P2:DN:W1:H1)
Berdasarkan hasil dokumentasi, matrix pelatihan yang disusun oleh pengelola meliputi jadwal rapat, rekruitmen/seleksi, pengumuman, pembukaan pelatihan, pelaksanaan, jadwal monev, dan penutupan pelatihan.
Gambar 4.4 Matrik Kegiatan Pelatihan
Disimpulkan bahwa penetapan jadwal dibuat setelah pengajuan pelatihan disahkan. Jadwal dilaksanakan sesuai dengan kesiapan pelaksanaan yang ditentukan oleh BLK. UPTD BLK menyusun jadwal dari mulai seleksi, pembukaan pelatihan, dan penutupan pelatihan yang tertulis dalam matrik pelatihan. Dalam pembuatan jadwal pembelajaran pelatihan didasarkan pada materi yang ada dibahan ajar, sesuai dengan unit kompetensi paling dasar. Penyusunan jadwal ditentukan dari BLK, peserta pelatihan hanya mengikuti jadwal yang telah dibuat.
Proses penetapan cara evaluasi dalam pelatihan pembuatan masker disampaikan oleh Bu AT dalam Wawancara :
“cara evaluasi pelatihan ada dari pusat, dari BBPLK, jadi dari pusat yang melakukan evaluasi, untuk evaluasi dari instruktur sendiri seperti penilaian ada, nanti melalui ketercapaian tiap unit kompetensinya mba”. “berdasarkan unit kompetensi, yang kemudian membuat panduan penilaian, dan menyusun materi uji kompetensi, namun untuk pelatihan pembuatan masker ini tidak melaksanakan uji kompetensi. Nanti ada penilaian sendiri dari instruktur secara langsung, kalau yang menguasai unit kompetensi nanti dijadikan pembuat masker yang inti, karena kan kita juga kejar target pembuatan 2000 masker”. (P1:AT:W1:H4)
Ditegaskan kembali oleh Bu DN dalam wawancara sebagai berikut : “Untuk evaluasi pelatihan pembuatan masker ini dari pusat yang melakukan. Untuk evaluasi peserta ada observasi dan praktik. Monitoring dan evaluasi sudah ditetapkan selama 6 bulan sampai dengan satu tahun kedepan”.
(P2:DN:W1:H1)
Disimpulkan bahwa pengelola hanya menetapkan waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi. BLK hanya menerima formulir dam melakukan proses evaluasi. Penetapan waktu monitoring dan evaluasi dilaksanakan 6 bulan sampai 1 tahun setelah pelatihan selesai.
Perencanaan anggaran pelatihan di BLK disampaikan oleh Bu AT sebagai berikut :
“kita tidak merencanakan anggaran, BLK kan binaan dari BBPLK, jadi dari sana yang menganggarkan, kita hanya mengusulkan pelatihan dan menjalankan saja”. “sumber pendanaan dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)”. (P1:AT:W1:H4)
Begitu juga yang disampaikan oleh Pak J dalam wawancara mengenai anggaran pelatihan pembuatan masker sebagai berikut :
“Kalo anggaran dari pusat, kita tidak merencanakan anggaran. Untuk pelatihan pembuatan masker dam masak ini kan dari BBPLK, jadi dananya dari APBN”. (S1:J:W1:H2)
Jadi, pengelola tidak membuat rancangan anggaran pelatihan pembuatan masker, anggaran pelatihan sudah disediakan dari BBPLK, dan BLK hanya menerima anggaran pelatihan sesuai rincian anggaran yang disusun oleh BBPLK. Dana pelatihan berasal dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Berdasarkan deskripsi hasil penelitian diatas, dapat digambarkan secara lebih sederhana mengenai perencanaan program pelatihan menjahit sebagai berikut :
Bagan 4.2 Perencanaan Pelatihan Pembuatan Masker
Perencanaan pelatihan menjahit yang dilakukan di UPTD BLK Disnaker Kota Semarang diawali dengan identifikasi program pelatihan melihat tren pasar, masker saat ini menjadi sebuah kewajiban dan tersedianya workshop pelatihan. Setelah menetapkan program pelatihan yang akan dilaksanakan, keudia BLK mengajukan paket pelatihan tersebut ke BBPLK Semarang, dan ditindaklanjuti dengan turunnya POK. Identifikasi kebutuhan pelatihan juga dilakukan dengan penentuan persyaratan peserta, penentuan kebutuhan pelatihan durasi, dan instruktur.
Tujuan pelatihan didasarkan pada taksonomi bloom dengan mengacu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan pelatihan dirumuskan secara umum dan khusus. Disisi lain tujuan pelatihan pembuatan masker ini untuk membekali masyarakat dengan skill agar bisa berwirausaha ditengah pandemi Covid-19. Penetapan jadwal pelaksanaan pelatihan dan tempat pelaksanaan pelatihan didasarkan pada identifikasi pelatihan, dan dilaksanakan selama 10 hari.
Tahapan selanjutnya adalah perencanaan persiapan program. Persiapan yang direncanakan diantaranya bahan ajar yang digunakan telah disediakan oleh Kemnaker, bahan pelatihan, media dalam penyampaian informasi disediakan whiteboard, dan untuk praktik menggunakan mesin jahit, dsn metode yang digunakan dengan cara ceramah untuk penyampaian materi dan dilanjutkan dengan praktik. Penetapan instruktur didasarkan pada identifikasi pelatihan. Instruktur yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan pelatihan.
Penyusunan matrik pelatihan dilakukan setelah penetapan istruktur. Matrix pelatihan berisi jadwal pelaksanaan seluruh pelatihan mulai dari jadwal rapat
bulanan, rekruitmen, pelaksanaan pelatihan, dan monev dalam pelatihan. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan selama pelatihan berlangsung dengan standar yang ditetapkan oleh BBPLK Semarang, dan setelah pelatihan selesai yaitu 6 bulan sampai 1 tahun kedepan secara online.
4.1.7.1.2 Pengorganisasian Pelatihan Menjahit (Pembuatan Masker)
Setelah merencanakan pelatihan, tahapan selanjutnya adalah mempersiapkan sumber manusiawi dan non-manusiawi untuk melaksanakan pelatihan. sumber manusiawi diantaranya pengelola pelatihan dan sumber non-manusiawi yaitu fasilitas yang menunjang pelatihan. sumber-sumber tersebut harus dipersiapkan agar pelatihan dapat berjalan dengan maksimal dan meminimalisir kendala. Berikut hasil wawancara dengan Bu AT dalam wawancara :
“pengelola ditunjuk dengan mengukur kekuatan tim. Ka BLK sebagai penanggung jawab. Sub bagian tata usaha melakukan perencanaan pelatihan, mulai dari identifikasi kebutuhan pelatihan, penetapan tujuan, persiapan sarana prasarana dan sebagainya yang berkaitan dengan perencanaan. Kami juga melaksanakan, mengawasi, dan mengevaluasi pelatihan yang diselenggarakan. Bagian bendahara mengurus keuangan, perhitungan, dan pelaporan keuangan. Bagian pelaksana bertugas merencanakan pelatihan, mempersiapkan pelaksanaan pelatihan, mengawasi dan mengevaluasi pelatihan.” (P1:AT:W1:H4)
Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Bu DN dalam wawancara sebagai berikut :
“untuk pelatihan di BLK, Kepala jadi penanggung jawab, nanti subbag TU merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan