• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Hasil Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Deskripsi Hasil Penelitian

Peran Bina Keluarga Lansia (BKL) dalam meningkatkan kesehatan lansia terdiri dari :

a. Peran Keluarga dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dan utama dalam kehidupan manusia di mana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di dalam keluarga, manusia pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja sama, bantu membantu, dan lain-lain.

Keluarga yang mempunyai lansia harus selalu memperhatikan kondisi kesehatan lansia dikarenakan di usia yang sudah lanjut kesehatan menjadi prioritas yang sangat penting sehingga peran keluarga sangat diharapkan.

Peran keluarga yang dijalankan tergantung dengan keluarga dan kondisi kesehatan lansia.

Ibu SY selaku keluarga lansia mengungkapkan:

62

“kalau peran khusus kesehatan Ibu ya sebagai anak saya mengingatkan ibu buat jaga kesehatannya, tidak kecapekan, cek kondisi kesehatan, selalu memotivasi Ibu untuk tetap jaga kesehatan dan mengikuti TPLyang rutin dilaksanakan setiap bulan.”

Bapak AF selaku keluarga lansia juga mengungkapkan:

“perannya selalu mengingatkan Bapak buat jaga kesehatan, Bapak ada riwayat sakit, jadi mengingatkan buat rutin minum obat, cek kesehatan, memperhatikan pola makan, ya sederhana tapi dapat meningkatkan kesehatan Bapak.”

Ibu WD mengungkapkan hal serupa bahwa:

“peran anak dalam meningkatkan kesehatan orang tua ya sederhana saja mbak, selalu mengingatkan buat cek kesehatan, jaga kesehatan mengatur makannya, kalau sudah lansia kan tidak sembarang makanan dibolehkan. Memberi dukungan buat aktif di kegiatan lansia khususnya yang berkaitan dengan kesehatan.”

Bapak Wdd selaku lansia mengungkapkan:

“anak mengingatkan agar selalu menjaga kesehatan, cek kesehatan, minum obat, dan lainnya yang menyangkut kesehatan saya”

Berdasarkan hasil penelitian di atas peran keluarga terhadap lansia khususnya untuk meningkatkan kesehatan adalah anggota keluarga selalu memberikan dukungan kepada lansia agar lansia rutin memeriksakan kondisi kesehatannya di kegiatan posyandu lansia atau kegiatan TPL.

Posyandu Lansia merupakan suatu forum komunikasi, alih teknogi dan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia khususnya lanjut usia (Depkes, 2001). Di RW 11 Kegiatan Posyandu Lansia dilaksanakan secara bersamaan dengan kegiatan TPL. Adanya kegiatan ini di Kampung RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, kesehatan masyarakan lansia menjadi lebih terjamin. Keteraturan jadwal

63

pelaksanaan juga memberi kenyamanan bagi anggota keluarga lansia untuk teratur memeriksakan keluarga lansia di keluarganya. Maka perlu kiranya meningkatkan kualitas penyuluhan dan sosialisasi tentang manfaat TPL tersebut. tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari semua pihak, agar menjadi sinergi positif untuk meningkatkan pelayanan bagi para lansia tersebut.

Sasaran kerja TPL di Kampung RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman adalah kelompok pra usia lanjut 45-59 tahun, usia lanjut 60 tahun keatas dan kelompok usia lanjut resiko tinggi 70 tahun keatas. Hal tersebut ternyata sejalan dengan WHO yang menetapkan batasan usia lansia berupa 45-59 (middle age), 60-74 tahun (elderly), 76-90 tahun (old) dan 90 tahun keatas (very old).

Selama ini kegiatan TPL berjalan dengan baik. Terbukti para lansia merasakan kebermanfaatan dari kegiatan tersebut. Namun daripada itu, masih ada beberapa hal yang perlu dievaluasi. Seperti kasus yang terjadi adalah posyandu lansia tersebut ternyata hanya ramai pada awal kegiatan saja, sedangkan semakin hari peserta TPL tersebut semakin berkurang. Dari hasil pengamatan peneliti selama melaksanakan penelitian, ternyata masih banyak lansia yang tidak datang ke TPL Kampung kepuh tersebut. Dari hasil rekapitulasi daftar hadir selama tiga bulan terakhir, didapat data sebagai berikut:

64 Tabel. 3. Data kehadiran lansia

NO BULAN HADIR TIDAK

Berdasarkan data tabel di atas bisa diketahui bahwa dari 85 lansia yang terdaftar hanya sekitar 30 lansia saja yang aktif mengikuti posyandu lansia.

Ketidakhadiran lansia disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya sakit ataupun tidak ada yang mengantar. Selain alasan tersebut, ketidakhadiran lansia juga dikarenakan rasa malas yang timbul dari dalam diri dan kurangnya motivasi dari keluarga. Mencermati tabel kehadiran lansia di atas bisa dikatakan bahwa hanya sekitar 30 lansia yang aktif hadir di TPL setiap bulannya. Jika dibandingkan dengan jumlah total anggota lansia di RW 11 Kepuh yang berjumlah 85 orang, maka bisa dikatakan keaktifan lansia di RW tersebut hanya 35%.

65

3 Posyandu RW 11 Kepuh 5 Agustus 2016 Ada 4 Posyandu RW 11 Kepuh 5 September2016 Ada 5 Posyandu RW 11 Kepuh 5 Oktober 2016 Ada

Dari tabel di atas bisa dipahami bahwa di RW 11 Kepuh terdapat satu TPL. Kegiatan tersebut dijadwalkan setiap tanggal 5 di setiap bulannya.

Keteraturan jadwal tersebut sangat membantu bagi keluarga yang mempunyai lansia agar bisa menjadwalkan agenda hariannya. Pasalnya tidak sedikit dari lansia yang merasa sudah terlalu sulit untuk berjalan jauh, kesulitan mencari tumpangan dan lain sebagainya. Kegiatan TPL yang berjalan dengan baik dan terjadwal akan sangat membantu lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, sehingga kualitas kesehatan mereka lebih bisa terjaga dengan baik dan optimal. Dengan adanya dokter di setiap pelaksanaan kegiatan, maka lansia lebih bersemangat untuk mengikuti kegiatan TPL.

b. Peran Kader dalam meningkatkan Kesehatan Lansia

RW 11 Kepuh merupakan perkampungan yang memilik kegiatan lansia terlengkap dan aktif diantara RW lainnya di kelurahan Klitren. Salah satu kegiatan yang aktif adalah BKL (Bina Keluarga Lansia). BKL sendiri adalah usaha untuk menjadikan keluarga sebagai pembina lansia dalam rumah tangganya merupakan suatu nuansa yang baru. Seluruh keluarga harus bisa memberikan suasana yang tenteram tetapi dinamis agar lansia yang tinggal dalam rumah bisa menikmati sisa hidupnya secara produktif dan bahagia untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan keluarga yang memiliki

66

lanjut usia dalam pengasuhan, perawatan, pemberdayaan lansia agar dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Selain itu, ada pula kegiatan TPL yang bermanfaat untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan lansia. Tetapi tidak sedikit lansia yang tidak mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil latar belakang lansia mengikuti kegiatan lansia.

Ibu SS selaku kader mengungkapkan bahwa:

“kalau TPL karena lansia sendiri ingin cek kesehatan dan bertemu dengan lansia-lansia yangg lain, kalau yang BKL karena lansia atau keluarga yang mempunyai lansia ingin menambah ilmu atau pengetauan yang berkaitan dengan lansia.”

Bapak Ksr selaku lansia di RW 11 mengungkapkan bahwa:

“daripada tidak ada kerjaan dirumah mending ikut kegiatan, bisa tambah pengetahuan, bisa mengetahui kondisi kesehatan, bisa tambah teman, banyak hal-hal positif yang didapatkan.”

Berdasarkan pernyataan di atas, terlihat bahwa yang melatar belakangi lansia mengikuti kegiatan lansia adalah adanya kemauan dari dalam diri lansia sendiri untuk aktif dalam kegiatan.

Di dalam kegiatan lansia, khususnya yang TPL terdapat orang-orang yang berperan penting dalam meningkatkan kesehatan lansia, salah satunya adalah kader.

Ibu SS selaku kader mengungkapkan bahwa:

“perannya mengingatkan para lansia agar tetap ikut kegiatan khsusunya saat pelaksanaan posyandu lansia, agar mereka bisa cek kesehatan dan tau kondisi keseatan mereka.”

Ibu DQ mengungkapkan hal serupa :

67

“mengingatkan lansia agar selalu cek kesehatan, ikut di kegiatan posyandu lansia, cek tensi, kadang ada lansia yang arus dioyakoyak agar mengikuti posyandu lansia.”

Ibu Sm selaku lansia mengungkapkan bahwa:

“sudah baik mbak, bagus, semua kader sudah menjalankan perannya dengan maksimal. Kader selalu memberi motivasi kepada lansia agar mengikuti kegiatan yang ada.”

Berdasarkan hasil penelitian di atas peran dari kader itu sendiri khusunya untuk meningkatkan kesehatan lansia adalah kader sebagai motivator. Peran kader dalam pelayanan motivasi sangat berpengaruh pada lansia untuk mengikuti kegiatan. Karena motivasi itu adala suatu penggerak agar lanjut usia senang dalam memeriksakan dirinya serta ikut dalam kegiatan pelaksanaan TPL. Oleh karena itu kader selalu memberikan dukungan, motivasi kepada lansia agar tertib mengikuti kegiatan TPL dan lansia dapat mengatahui kondisi kesehatan. Selain memberikan motivasi, peran kader lansia juga mendampinga lansia saat pelaksanaan kegiatan, melakukan pemeriksaan tensi, berat badan, dan sebagainya.

c. Faktor pendukung dan penghambat lansia mengikuti kegiatan TPL

Dalam setiap kegiatan tentunya tidak lepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat. Dalam kegiatan lansia yang ada di RW 11 Kepuh terdapat beberapa faktor pendukung yang mampu mengaktifkan para lansia dalam mengikuti kegiatan lansia. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa yang menjadi faktor pendukung adalah:

1) Adanya kemauan dari diri sendiri

68

Kemauan dari dalam diri merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat berpengaruh dalam melakukan aktivitas lansia di kegiatan yang ada. Seperti yang diungkapkan ole Ibu SS selaku kader bahwa:

“faktor pendukungnya yang pasti dari diri sendiri ada niat untuk mengikuti kegiatan dan kader serta keluarga selalu memberi motivasi.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak “SH” selaku keluarga lansia bahwa:

“faktor pendukungnya ya otomatis dari diri sendiri untuk ikut dalam kegiata lansia jadi ada semangatnya”

Tidak lain dengan Ibu WJ bahwa:

“faktor pendukungnya dari diri sendiri, semangat mengikuti kegiatan dan adannya dukungan dari keluarga, dari kader juga.”

2) Adanya dukungan dari keluarga

Keluarga juga sering memberi motivasi dan dukungan kepada lansia agar para lansia lebih semangat dalam mengikuti kegiatan. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak AF selaku keluarga lansia bahwa

“faktor pendukungnya dari keluarga selalu memberi dukungan maupun motivasi, senang karena bisa cek kesehatan,”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ibu SY selaku keluarga lansia bahwa:

“faktor pendukungnya adanya dukungan dari keluarga jadi semangat mengikuti kegiatan lansia, rumah dekat dengan tempat kegiatan, terus dukungan dari kader yang selalu memberi motivasi.”

Ibu HM selaku lansia mengungkapkan bahwa:

“faktor pendukungnya adalah adanya motivasi dukungan dari anak-anak, keinginan dari diri sendiri,”

69 3) Rasa solidaritas yang tinggi

Rasa solidaritas juga menjadi faktor pendukung Lansia untuk mengikuti kegiatan oleh karena itu mereka bisa bertemu dengan sesama lansia dan bersosialisasi serta bisa berkomunikasi dengan teman lansia yang umurnya sebaya, atau hanya sekedar bertemu dengan lansia lain dapat menambah semangat buat mengikuti kegiatan. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu DQ selaku kader bahwa:

“faktor pendukungnya yaitu ada dukungan dan ingin bertemu teman-teman lansianya.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu WD selaku keluarga lansia bahwa:

“faktor pendukungnya ya ingin bertemu dengan teman-temannya, bersosialisasi dengan lainnya jadi mempunyai semangat”

Ibu SM selaku lansia juga mengungkapkan bahwa:

“faktor pendukungnya adalah ingin bersosialisasi dengan teman-teman lansia lainnya, ingin cek kesehatan,kader yang aktij jadi menambah semangat buat aktif di kegaiatan lansia juga.”

Bapak WD mengungkapkan bahwa:

“faktor pendukungnya karena selalu ada dukungan dari keluarga, bisa bertemu teman-teman lansia lainnya.”

Dari hasil wawancara di atas perlu adanya faktor pendukung dalam menjalankan kegiatan lansia. dengan adanya faktor-faktor pendukung akan sangat membantu dalam meningkatkan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan lansia di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta.

70

Di samping faktor pendukung, terdapat pula faktor penghambat lansia dalam mengikuti kegiatan. Faktor penghambat tersebut akan berpengaruh terhadap proses pelaksanaan dan keaktifan lansia.

Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan kader, keluarga lansia, dan lansia bahwa yang menjadi faktor penghambat adalah karena memang tidak ada kemauan dari dalam diri lansia dan motivasi untuk aktif dikegiatan. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu DQ selaku kader bahwa:

“Faktor penghambatnya yaitu diri sendiri lansia yang memang tidak pengen aktif dalam kegiatan lansia.”

Selain tidak ada kemauan dari diri sendiri, cuaca dan tidak ada anggota keluarga yang mengantar juga terkadang menjadi penghambat lansia untuk tidak berangkat saat kegiatan berlangsung. Seperti yang diungkapkan ole Ibu EK selaku keluarga lansia menyatakan bahwa:

“kalau cuaca tidak mendukung atau pas tidak ada yang mengantar.”

Ibu HM selaku lansia juga mengungkapkan bahwa:

“kalau cuaca tidak mendukung atau pas tidak ada yang mengantar.”

Ibu WJ selaku lansia mengungkapnak bahwa:

“faktor pengambatnya itu kalau lagi hujan atau lagi ada acara jadi tidak datang pas kegiatan berlangsung.”

Hal-hal kecil seperti di atas yang menjadi faktor penghambat lansia untuk datang saat kegiatan berlangsung, tetapi tetap banyak yang mengikuti kegiatan lansia karena memang para lansia senang dan mempunyai kemauan dari diri sendiri untuk aktif di kegiatan tersebut.

71 B. Pembahasan

Peran Bina Keluarga Lansia (BKL) dalam meningkatkan kesehatan lansia terdiri dari:

1. Peran Keluarga dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia

Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke tempat kegiatan. Mengingatkan lansia jika lupa jadwal TPL dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Seringkali pada lansia terdapat penurunan memori sehingga mereka lupa terhadap jadwal kegiatan TPL serta terjadi penurunan fungsi tubuh sehingga membutuhkan bantuan orang lain apabila pergi ke suatu tempat, termasuk pergi ke TPL.

Dukungan keluarga yang diberikan pada lansia dalam pemanfaatan TPL didapatkan dari keluarga yang terdiri dari anak, suami, cucu, ataupun keluarga dekat lainnya. Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk mengingatkan jadwal kegiatan posyandu, menganjurkan untuk datang ke posyandu, menemani ditempat kegiatan dan mengantar ke TPL. Senada dengan itu, Indah dan Kartinah (2010) mengatakan dalam bukunya, bahwa mayoritas dukungan keluarga terhadap lansia untuk mengikuti kegiatan Posyandu tergolong baik. Hal ini berarti keluarga responden telah memberikan dukungan bagi lansia untuk aktif di kegiatan TPL keluarga juga selalu memperhatikan kebutuhan lansia, mau mendengar keluhan lansia, dan memberikan bantuan untuk aktifitas lansia sehari-hari. Sesuai

72

dengan pendapat Friedman (2008) bahwa keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggotanya.

Keluarga merupakan motivator agar lansia mau berperan aktif dalam TPL tersebut. Disinilah Bina Keluarga Lansia (BKL) hadir untuk memberikan fasilitas atau kemudahan bagi lansia untuk mengamalkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, memberikan pembinaan keagamaan, memberikan pembinaan fisik, pembinaan psikis/ mental dan pembinaan sosial ekonomi. (BKKBN, 2009: 22)

Menarik benang merah dari wawancara peneliti dengan para lansia, mereka mengemukakan beberapa hal yang mereka butuhkan dan sebaiknya terpenuhi. Beberapa hal tersebut berupa:

1) Kebutuhan spiritual yang berupa tuntunan ibadah, atas dasar jiwa lansia sudah cenderung lebih fokus untuk memperbanyak ibadah demi bekal di hari kemudian.

2) Kebutuhan fisik meliputi sandang, pangan, papan, dan kesehatan.

3) Kebutuhan psikis yang berupa perasaan untuk merasa dianggap, dibutuhkan dan dihargai oleh keluarga dan lingkungan sekitar.

4) Kebutuhan sosial yang berupa ruang bagi lansia untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

5) Kebutuhan Ekonomi, secara manusiawi lansia juga masih punya keinginan untuk berkarya dan memenuhi keinginannya yang berhubungan dengan roda perekonomian.

73

Beberapa kebutuhan di atas merupakan kebutuhan dasar yang setidaknya harus dipahami oleh keluarga lansia maupun kader lansia.

Dengan demikian maka akan terjadi sinergi positif, akan saling memahami satu dengan yang lain dan akhirnya bisa mewujudkan lansia yang potensial dan sehat. Jika berbagai kebutuhan dasar tersebut tidak bisa dipahami oleh kader lansia maka mereka akan gagal mengajak lansia untuk berperan aktif dalam kegiatan TPL.

Hasil penelitian menunjukkan BKL RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman menunjukkan peran aktif interaktif terhadap peningkatan kesehatan lansia di Kampung tersebut. Semua keluarga yang mempunyai lansia memperhatikan kesehatan baik secara fisik maupun psikis. Terbukti mereka memperhatikan pola makan lansia, memperhatikan gizi lansia, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada lansia tersebut, kenyamanan, bahkan menyempatkan waktu untuk antar-jemput ke tempat kegiatan

Setiap keluarga memahami bahwa lansia sangat memerlukan kasih sayang dari keluarga karena keluarga memegang peran penting dalam mewujudkan kondisi lansia baik secara lahir dan batin. Dengan rasa kasih sayang tersebut akan menciptakan perasaan ikhlas dan senang merawat lansia. tanpa syarat dalam cinta kasih yang diberikan.

2. Peran Kader dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia

Lansia atau lanjut usia merupakan tahap akhir perkembangan kehidupan manusia. Dengan bertambahnya usia manusia maka otomatis

74

akan terjadi penuaan dan mulai mengalama masalah kesehatan, seperti kulit kendur dan keriput, mudah lelah, tidak lincah, gigi tanggal, dan lain sebagainya. secara singkat bisa dikatakan bahwa seseorang dalam kondisi lansia akan mengalami penurunan performa berbagai kemampuan gerak aktivitas. Dengan demikian maka perlu adanya usaha lansia yang bersangkutan untuk menjaga kondisi dirinya. Di samping itu juga lansia membutuhkan bantuan dari seseorang yang lebih muda untuk membantu menjaga dan membantu apa yang dibutuhkan lansia tersebut.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah lansia tersebut.

Salah satu kebijakan Departemen Kesehatan RI dalam pembinaan usia lanjut adalah dengan upaya peningkatan kesehatan dan kemampuan untuk mandiri agar selama mungkin dapat produktif dan berperan aktif dalam pembangunan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dibutuhkan peran serta aktif lanjut usia untuk mengikutinya. Kegiatan TPL dilakukan untuk meningkatkan kesehatan lanjut usia, termasuk kesehatan jiwanya, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan lanjut usia.

Berdasarkan hal tersebut bisa dikatakan bahwa keberadaan TPL sangatlah penting. Dengan adanya kegiatan tersebut para lansia bisa menambah wawasan bagaimana memperlakukan dirinya sebaik mungkin agar dalam kondisi lansia tetap bisa maksimal menjaga kebugaran dirinya.

Berdasarkan hasil wawancara juga ternyata para lansia tersebut merasa senang dengan adanya kegiatan TPL tersebut. Banyak manfaat yang bisa

75

mereka dapatkan, seperti memperoleh informasi kesehatan, bertemu sesama lansia yang lain, menghilangkan jenuh, dan lain sebagainya.

Namun demikian, masih ada sebagaian lansia yang belum mengikuti TPL tersebut. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang sampai ke mereka dan kurang adanya rasa kesadaran lansia tersebut akan pentingnya kegiatan tersebut. Bahkan masalah teknis juga kadang menjadi kendala bagi para lansia, seperti sudah berat untuk jalan kaki menuju tempat posyandu, tidak ada sanak saudara yang bisa antar jemput, dan lain sebagainya. Akhirnya mereka memilih untuk tetap diam diri dirumah masing-masing.

Lansia yang tidak mengikuti TPL biasanya tidak mendapatkan berbagai informasi mengenai lansia. Dengan demikian maka lansia tersebut akan sedikit sekali mengetahui berbagai tips bagaimana menjaga kebugaran dirinya. Akhirnya lansia yang tidak mengikuti TPL akan mempunyai peluang lebih besar untuk terserang berbagai gangguan kesehatan. Padahal kesehatan tersebut sangat penting bagi lansia yang mana notabene imunitas kekebalan tubuhnya mulai menurun.

Mengatasi hal tersebut, kader lansia hadir sebagai kader yang bertugas membantu menangani lansia yang bekerjasama dengan Bina Keluarga Lansia (BKL). Beberapa tugas kader lansia diantaranya adalah mengelola kelompok BKL, melakukan penyuluhan, melakukan kunjungan rumah, melakukan pembinaan, melakukan rujukan, melakukan pencatatan,

76

melakukan pengembangan KS, melakukan konsultasi kepada PLKB, dan berperan sebagai tim pembina. (BKKBN, 2009, 15)

Tidak sembarang orang bisa menjadi kader lansia. Kader lansia dibentuk atas dasar tertentu, diantaranya harus memenuhi syarat berupa wanita atau pria telah berkeluarga dan aktif di masyarakat, dapat membaca, menulis dan berkomunikasi dengan baik, bertempat tinggal di lokasi kegiatan, sehat jasmani dan rohani, bersedia mengikuti latihan/

orientasi/ magang, bersedia menjadi kader dan menjalankan tugas secara sukarela. Orang yang berjiwa besar dan yang memenuhi syarat saja yang bisa menjadi kader lansia, dengan harapan bisa memberikan bakti kerja maksimal untuk mengurusi para lansia di daerahnya.

Data yang ditemukan di lapangan bahwa jumlah kader lansia aktif di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman berjumlah 10 orang. Mereka sudah bekerja semaksimal mungkin untuk mensosialisasikan mengenai kegiatan TPL tersebut. Dengan segala kemampuan dan kreativitas mereka berusaha menjelaskan manfaat posyandu lansia, jadwal pelaksanaan dan lain sebagainya.

Pemberitahuan atau sosialisasi tentang TPL tersebut dilaksanakan dengan cara datang dari rumah ke rumah warga yang mempunyai anggota keluarga lansia di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman. Kader juga melakukan kerjasama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat agar penyuluhan lebih mudah diberikan kepada kepada warga lansia. Dalam sosialisasi tersebut kader juga menggali

77

informasi mengenai lansia yang bersangkutan, mulai dari kondisi kesehatan, pola makan, kesibukan dirumah, perlakuan anggota keluarga, dan berbagai keluhan lain yang dialami oleh lansia tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian di atas peran dari kader itu sendiri khusunya untuk meningkatkan kesehatan lansia adalah kader sebagai motivator. Peran kader dalam pelayanan motivasi sangat berpengaruh pada lansia untuk mengikuti kegiatan. Karena motivasi itu adalah suatu penggerak agar lanjut usia senang dalam memeriksakan dirinya serta ikut dalam kegiatan pelaksanaan kegiatan. Di hal ini kader selalu memberikan dukungan, motivasi kepada lansia agar tertib mengikuti kegiatan TPL agar mereka para lansia mengatahui kondisi kesehatan.

Kader lansia RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman juga berperan aktif dalam kegiatan TPL. Kader juga melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap lansia, membantu menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, pemnerian PMT dan

Kader lansia RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman juga berperan aktif dalam kegiatan TPL. Kader juga melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap lansia, membantu menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, pemnerian PMT dan