BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Peran Keluarga dalam meningkatkan Kesehatan Lansia
Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke tempat kegiatan. Mengingatkan lansia jika lupa jadwal TPL dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Seringkali pada lansia terdapat penurunan memori sehingga mereka lupa terhadap jadwal kegiatan TPL serta terjadi penurunan fungsi tubuh sehingga membutuhkan bantuan orang lain apabila pergi ke suatu tempat, termasuk pergi ke TPL.
Dukungan keluarga yang diberikan pada lansia dalam pemanfaatan TPL didapatkan dari keluarga yang terdiri dari anak, suami, cucu, ataupun keluarga dekat lainnya. Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk mengingatkan jadwal kegiatan posyandu, menganjurkan untuk datang ke posyandu, menemani ditempat kegiatan dan mengantar ke TPL. Senada dengan itu, Indah dan Kartinah (2010) mengatakan dalam bukunya, bahwa mayoritas dukungan keluarga terhadap lansia untuk mengikuti kegiatan Posyandu tergolong baik. Hal ini berarti keluarga responden telah memberikan dukungan bagi lansia untuk aktif di kegiatan TPL keluarga juga selalu memperhatikan kebutuhan lansia, mau mendengar keluhan lansia, dan memberikan bantuan untuk aktifitas lansia sehari-hari. Sesuai
72
dengan pendapat Friedman (2008) bahwa keluarga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi anggotanya.
Keluarga merupakan motivator agar lansia mau berperan aktif dalam TPL tersebut. Disinilah Bina Keluarga Lansia (BKL) hadir untuk memberikan fasilitas atau kemudahan bagi lansia untuk mengamalkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, memberikan pembinaan keagamaan, memberikan pembinaan fisik, pembinaan psikis/ mental dan pembinaan sosial ekonomi. (BKKBN, 2009: 22)
Menarik benang merah dari wawancara peneliti dengan para lansia, mereka mengemukakan beberapa hal yang mereka butuhkan dan sebaiknya terpenuhi. Beberapa hal tersebut berupa:
1) Kebutuhan spiritual yang berupa tuntunan ibadah, atas dasar jiwa lansia sudah cenderung lebih fokus untuk memperbanyak ibadah demi bekal di hari kemudian.
2) Kebutuhan fisik meliputi sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
3) Kebutuhan psikis yang berupa perasaan untuk merasa dianggap, dibutuhkan dan dihargai oleh keluarga dan lingkungan sekitar.
4) Kebutuhan sosial yang berupa ruang bagi lansia untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
5) Kebutuhan Ekonomi, secara manusiawi lansia juga masih punya keinginan untuk berkarya dan memenuhi keinginannya yang berhubungan dengan roda perekonomian.
73
Beberapa kebutuhan di atas merupakan kebutuhan dasar yang setidaknya harus dipahami oleh keluarga lansia maupun kader lansia.
Dengan demikian maka akan terjadi sinergi positif, akan saling memahami satu dengan yang lain dan akhirnya bisa mewujudkan lansia yang potensial dan sehat. Jika berbagai kebutuhan dasar tersebut tidak bisa dipahami oleh kader lansia maka mereka akan gagal mengajak lansia untuk berperan aktif dalam kegiatan TPL.
Hasil penelitian menunjukkan BKL RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman menunjukkan peran aktif interaktif terhadap peningkatan kesehatan lansia di Kampung tersebut. Semua keluarga yang mempunyai lansia memperhatikan kesehatan baik secara fisik maupun psikis. Terbukti mereka memperhatikan pola makan lansia, memperhatikan gizi lansia, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada lansia tersebut, kenyamanan, bahkan menyempatkan waktu untuk antar-jemput ke tempat kegiatan
Setiap keluarga memahami bahwa lansia sangat memerlukan kasih sayang dari keluarga karena keluarga memegang peran penting dalam mewujudkan kondisi lansia baik secara lahir dan batin. Dengan rasa kasih sayang tersebut akan menciptakan perasaan ikhlas dan senang merawat lansia. tanpa syarat dalam cinta kasih yang diberikan.
2. Peran Kader dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia
Lansia atau lanjut usia merupakan tahap akhir perkembangan kehidupan manusia. Dengan bertambahnya usia manusia maka otomatis
74
akan terjadi penuaan dan mulai mengalama masalah kesehatan, seperti kulit kendur dan keriput, mudah lelah, tidak lincah, gigi tanggal, dan lain sebagainya. secara singkat bisa dikatakan bahwa seseorang dalam kondisi lansia akan mengalami penurunan performa berbagai kemampuan gerak aktivitas. Dengan demikian maka perlu adanya usaha lansia yang bersangkutan untuk menjaga kondisi dirinya. Di samping itu juga lansia membutuhkan bantuan dari seseorang yang lebih muda untuk membantu menjaga dan membantu apa yang dibutuhkan lansia tersebut.
Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah lansia tersebut.
Salah satu kebijakan Departemen Kesehatan RI dalam pembinaan usia lanjut adalah dengan upaya peningkatan kesehatan dan kemampuan untuk mandiri agar selama mungkin dapat produktif dan berperan aktif dalam pembangunan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dibutuhkan peran serta aktif lanjut usia untuk mengikutinya. Kegiatan TPL dilakukan untuk meningkatkan kesehatan lanjut usia, termasuk kesehatan jiwanya, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan lanjut usia.
Berdasarkan hal tersebut bisa dikatakan bahwa keberadaan TPL sangatlah penting. Dengan adanya kegiatan tersebut para lansia bisa menambah wawasan bagaimana memperlakukan dirinya sebaik mungkin agar dalam kondisi lansia tetap bisa maksimal menjaga kebugaran dirinya.
Berdasarkan hasil wawancara juga ternyata para lansia tersebut merasa senang dengan adanya kegiatan TPL tersebut. Banyak manfaat yang bisa
75
mereka dapatkan, seperti memperoleh informasi kesehatan, bertemu sesama lansia yang lain, menghilangkan jenuh, dan lain sebagainya.
Namun demikian, masih ada sebagaian lansia yang belum mengikuti TPL tersebut. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang sampai ke mereka dan kurang adanya rasa kesadaran lansia tersebut akan pentingnya kegiatan tersebut. Bahkan masalah teknis juga kadang menjadi kendala bagi para lansia, seperti sudah berat untuk jalan kaki menuju tempat posyandu, tidak ada sanak saudara yang bisa antar jemput, dan lain sebagainya. Akhirnya mereka memilih untuk tetap diam diri dirumah masing-masing.
Lansia yang tidak mengikuti TPL biasanya tidak mendapatkan berbagai informasi mengenai lansia. Dengan demikian maka lansia tersebut akan sedikit sekali mengetahui berbagai tips bagaimana menjaga kebugaran dirinya. Akhirnya lansia yang tidak mengikuti TPL akan mempunyai peluang lebih besar untuk terserang berbagai gangguan kesehatan. Padahal kesehatan tersebut sangat penting bagi lansia yang mana notabene imunitas kekebalan tubuhnya mulai menurun.
Mengatasi hal tersebut, kader lansia hadir sebagai kader yang bertugas membantu menangani lansia yang bekerjasama dengan Bina Keluarga Lansia (BKL). Beberapa tugas kader lansia diantaranya adalah mengelola kelompok BKL, melakukan penyuluhan, melakukan kunjungan rumah, melakukan pembinaan, melakukan rujukan, melakukan pencatatan,
76
melakukan pengembangan KS, melakukan konsultasi kepada PLKB, dan berperan sebagai tim pembina. (BKKBN, 2009, 15)
Tidak sembarang orang bisa menjadi kader lansia. Kader lansia dibentuk atas dasar tertentu, diantaranya harus memenuhi syarat berupa wanita atau pria telah berkeluarga dan aktif di masyarakat, dapat membaca, menulis dan berkomunikasi dengan baik, bertempat tinggal di lokasi kegiatan, sehat jasmani dan rohani, bersedia mengikuti latihan/
orientasi/ magang, bersedia menjadi kader dan menjalankan tugas secara sukarela. Orang yang berjiwa besar dan yang memenuhi syarat saja yang bisa menjadi kader lansia, dengan harapan bisa memberikan bakti kerja maksimal untuk mengurusi para lansia di daerahnya.
Data yang ditemukan di lapangan bahwa jumlah kader lansia aktif di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman berjumlah 10 orang. Mereka sudah bekerja semaksimal mungkin untuk mensosialisasikan mengenai kegiatan TPL tersebut. Dengan segala kemampuan dan kreativitas mereka berusaha menjelaskan manfaat posyandu lansia, jadwal pelaksanaan dan lain sebagainya.
Pemberitahuan atau sosialisasi tentang TPL tersebut dilaksanakan dengan cara datang dari rumah ke rumah warga yang mempunyai anggota keluarga lansia di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman. Kader juga melakukan kerjasama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat agar penyuluhan lebih mudah diberikan kepada kepada warga lansia. Dalam sosialisasi tersebut kader juga menggali
77
informasi mengenai lansia yang bersangkutan, mulai dari kondisi kesehatan, pola makan, kesibukan dirumah, perlakuan anggota keluarga, dan berbagai keluhan lain yang dialami oleh lansia tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian di atas peran dari kader itu sendiri khusunya untuk meningkatkan kesehatan lansia adalah kader sebagai motivator. Peran kader dalam pelayanan motivasi sangat berpengaruh pada lansia untuk mengikuti kegiatan. Karena motivasi itu adalah suatu penggerak agar lanjut usia senang dalam memeriksakan dirinya serta ikut dalam kegiatan pelaksanaan kegiatan. Di hal ini kader selalu memberikan dukungan, motivasi kepada lansia agar tertib mengikuti kegiatan TPL agar mereka para lansia mengatahui kondisi kesehatan.
Kader lansia RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman juga berperan aktif dalam kegiatan TPL. Kader juga melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap lansia, membantu menimbang berat badan, mengukur tekanan darah, pemnerian PMT dan berbagai tugas yang bisa dikerjakan dengan dampingan petugas. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk peran serta kader TPL terhadap upaya meningkatkan kesehatan lansia itu sendiri. Bahkan untuk menghilangkan rasa penat para lansia tersebut, sesekali kader lansia mengajak anggota TPL untuk rekreasi. Kegiatan rekreasi lansia tersebut ternyata berpengaruh positif. Para anggota lansia yang mengikuti rekreasi tersebut mengaku bahwa mereka merasa senang, hilang semua penat dan kondisi badan mereka menjadi lebih baik.
78
3. Faktor Pendukung dan Penghambat Lansia Mengikuti Kegiatan Lansia
Hasil studi pendahuluan diketahui bahwa kesiapan TPL di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman sudah baik, yang mana dibuktikan dengan tenaga kesehatan yang memadahi, kader yang komunikatif dan peralatan pemeriksaan kesehatan yang cukup. Beberapa yang tersedia di TPL tersebut seperti alat pengukur tekanan darah, pemeriksaan status gizi, dan pemerikasan kadar gula dan lain sebagainya.
Dilihat dari keaktifan kader dari sejumlah 10 orang, berdasarkan pengamatan peneliti rata-rata yang hadir 5-8 orang di setiap kegiatan.
Ketidak hadiran tersebut menunjukkan bahwa peran kader masih kurang maksimal, sehingga berdampak pada penanganan lansia yang mengikuti posyandu tersebut. disamping itu juga lansia yang aktif hanya sekitar 30 orang saja, selebihnya hanya datang sesekali bahkan ada beberapa yang sudah tidak pernah datang.
Berbagai upaya dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif untuk lanjut usia. Namun berbagai faktor pendukung dan fakor yang menghambat lancarnya TPL selalu ada. Beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat TPL ini adalah:
a. Faktor pendukung
Dalam setiap kegiatan tentunya tidak lepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat. Dalam kegiatan lansia yang ada di RW 11
79
Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman terdapat beberapa faktor pendukung yang mampu mengaktifkan para lansia dalam mengikuti kegiatan lansia. dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa yang menjadi faktor pendukung adalah:
1) Adanya kemauan dari diri sendiri
Niat atau kemauan dari diri sendiri merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat berpengaruh dalam keaktifan lansia di kegiatan yang ada.
2) Adanya dukungan dari keluarga
Keluarga juga sering memberi motivasi dan dukungan kepada lansia agar para lansia lebih semangat dalam mengikuti kegiatan.
3) Keaktifan Kader
Kader aktif dalam setiap kegiatan menjadi penyemangat lansia untuk selalu ikut dalam pelaksanaan kegiatan.
4) Rasa solidaritas yang tinggi
Rasa solidaritas juga menjadi faktor pendukung, dengan Lansia mengikuti kegiatan maka mereka bisa bertemu dengan sesama lansia dan bersosialisasi dan bisa berkomunikasi dengan teman lansianya, atau anya seksedar bertemu dengan lansia lain dapat menamba semangat buat mengikuti kegiatan.
Di samping faktor pendukung, terdapat plan faktor penghambat lansia dalam mengikuti kegiatan lansia. Faktor pengambat tersebut akan
80
berpengaru terhadap proses pelaksanaan dan keaktifan lansia. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan kader, keluarga lansia, dan lansia bahwa yang menjadi faktor penghambat adalah karena memang tidak ada kemauan dari dalam diri lansia untuk aktif dikegiatan.
Selain tidak ada kemauan dari diri sendiri, cuaca dan tidak ada anggota keluarga yang mengantar juga terkadang menjadi penghambat lansia untuk tidak berangkat saat kegiatan berlangsung.
Hal-hal kecil seperti di atas yang menjadi faktor penghambat lansia untuk datang saat kegiatan berlangsung, tetapi tetap banyak yang mengikuti kegiatan lansia karena memang para lansia senang dan mempunyai kemauan dari diri sendiri untuk aktif di kegiatan tersebut.
b. Faktor penghambat
Program TPL di RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta masih menghadapi beberapa masalah, Beberapa diantaranya adalah:
1) Faktor Umur
Di umur yang sudah tidak muda lagi, sebagian lansia sudah malas untuk mengikuti kegiatan di karenakan mereka berfikir di usia senja sudah tidak bisa untuk rutin mengikuti kegiatan, sehingga mereka lebih memilih untuk berdiam diri di rumah.
2) Dukungan keluarga
81
Keluarga merupakan pihak yang bersinggungan langsun dengan lansia, dimana mereka berkumpul menjadi satu setiap hari.
Namun ada beberapa anggota keluarga yang terpaksa tidak bisa antar-jemput lansia ke posyandu karena alasan kesibukan pekerjaan.
Disamping itu kepedulian tetangga sekitar untuk menolong menghantarkan ke tempat posyandu juga masih kurang. Akhirnya lansia terpaksa hanya duduk dirumah saja.
3) Kurangnya kesadaran
Kurangnya kesadaran akan manfaat kegiatan, sebagian lansia berfikir mengikuti kegiatan tidak ada manfaatnya sehingga mereka memilih untuk tidak berangkat saat pelaksanaan kegiatan.
82 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan data di lapangan yang telah disajikan, dianalisis dan diinterpretasikan di atas, maka pada bab ini dibuat sebuah kesimpulan dalam rangka menjawab rumusan masalah penelitian. Selain itu penulis juga akan merekomendasikan saran-saran.
1. Peran keluarga dalam meningkatkan kesehatan lansia
a. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke tempat pelaksanaan kegiatan. BKL RW 11 Kepuh Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman
b. Semua keluarga yang mempunyai lansia memperhatikan kesehatan baik secara fisik maupun psikis. Terbukti mereka memperhatikan pola makan lansia, memperhatikan gizi lansia, memberikan kasih sayang dan perhatian kepada lansia tersebut, kenyamanan, bahkan menyempatkan waktu untuk antar-jemput ke tempat kegiatan