• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Hasil Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

4.4 Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian ini merupakan penjabaran data dan fakta yang peneliti peroleh langsung dari hasil observasi dan wawancara yang disesuaikan dengan teori yang peneliti gunakan, yaitu teori pembangunan lembaga menurut Milton J. Esman (dalam Eaton, 1986: 24). Dalam teori model tersebut

pembangunan lembaga dilakukan agar sebuah lembaga berorientasi pada perubahan dan mencapai hasil akhir yang diinginkan, yaitu kelembagaan yang telah diterima dan didukung oleh lingkungan eksternnya dengan kata lain pembangunan lembaga merupakan upaya penguatan lembaga dalam KLA agar dapat menopang pelaksanaan KLA di Kota Serang. Teori tersebut memiliki 5 variabel dalam model yang mendukung proses pembangunan lembaga, yaitu: 1) Kepemimpinan; 2) Doktrin; 3) Program; 4) Sumber-sumberdaya dan 5) Struktur intern.

Selain pada teori yang digunakan juga merujuk pada indikator umum Kota Layak Anak yaitu penguatan kelembagaan dalam Peraturan Menteri PPPA No 12 tahun 2011 tentang Indikator KLA, yaitu peraturan/kebijakan untuk pemenuhan hak anak; presentase anggaran untuk pemenuhan hak anak, termasuk anggaran untuk penguatan kelembagaan; jumlah peraturan perundang-undangan, kebijakan, program dan kegiatan yang mendapatkan masukan dari Forum Anak dan kelompok anak lainnya; tersedia SDM terlatih KHA dan mampu menerapkan hak anak ke dalam kebijakan, program dan kegiatan; tersedia data anak terpilah menurut jenis kelamin, umur, dan kecamatan; keterlibatan lembaga masyarakat dalam pemenuhan hak anak; dan keterlibatan dunia usaha dalam pemenuhan hak anak.

4.4.1 Kepemimpinan

Kepemimpinan menurut Esman dalam Eaton (1986: 24) adalah kelompok yang secara aktif berkecimpung dalam perumusan doktrin dan program dari lembaga tersebut dan yang mengarahkan aktifitas-aktifitas

lembaga serta menetapkan dan membina hubungan-hubungan dengan lingkungannya. Faktor kepemimpinan dalam organisasi akan sangat menentukan keberhasilan suatu lembaga dalam mengelola sumberdaya yang terbatas. Pemimpin dalam melaksanakan sebuah kebijakan tentu dibantu oleh perangkat di bawahnya, Walikota dibantu oleh Organisasi Perangkat Daerah. Mewujudkan Kota Serang sebagai Kota Layak Anak dengan membangun komitmen bersama.

Kepemimpinan yang baik dapat dilihat dari konsep, kompetensi, konsistensi, dan komitmennya. Komitmen merupakan dukungan dari para pengambil keputusan untuk menjadikan Kabupaten/Kotanya menjadi KLA. Komitmen tersebut dapat tertuang dalam bentuk tertulis dan tindakan. Pengembangan KLA di suatu wilayah Kabupaten/Kota dimulai dari 6 langkah pokok, dalam langkah pertama terdapat persiapan yang mana harus ada komitmen dari semua pihak.

Secara tertulis komitmen pemerintah Kota Serang sudah terbentuk seperti yang dipaparkan oleh Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang bahwa:

“Kita Perda sudah ada Perda Kota Serang No 6 Tahun 2015 tentang

KLA dan Perda Kota Serang No 7 Tahun 2013 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan juga Perda Kota Serang No 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau. Selain itu kita ada Perwal No 48 tahun 2017 tentang Rencana Aksi Daerah Pengembangan Kota Layak Anak Kota Serang dan ada SK untuk Tim Gugus Tugas Pengembangan KLA. Hanya saja untuk Gugus Tugas tingkat Kecamatan dan Kelurahan belum terbentuk, intinya sih komitmen mereka terhadap Kota Layak Anak. Kita kan ngejar SK tiap kecamatan. Kalau tindakan bisa ngikutin ya minimal SK dulu yang nilainya besar, walaupun belum seberapa tindakannya kalau ada SK

nilainya besar.” (Wawancara dengan Bapak Derli Haryanto, 4 Maret

2019, pukul 09.22 WIB, di kantor Bappeda Kota Serang).

Berdasarkan wawancara tersebut, komitmen sangat penting dituangkan dalam bentuk tertulis untuk menjaga agar pengembangan KLA bukan dilakukan hanya karena desakan atau keperluan sesaat saja. Begitupula yang diungkapkan oleh Kepala Bagian Hukum Setda Kota Serang, bahwa:

“Ada Perda KLA, ada Perda terkait perlindungan perempuan dan

anak, yang pertama ditanya oleh tim adalah prodak hukum.”

(Wawancara dengan Bapak Yudi Suryadi, 8 Maret 2019, pukul 13.58 WIB, di kantor Setda Kota Serang).

Melalui pernyataan di atas, diketahui bahwa pemerintah Kota Serang telah memiliki inisiatif dalam melaksanakan dan mengembangkan Kota Layak Anak dan kemudian telah membentuk Gugus Tugas KLA Kota Serang sebagai lembaga koordinatif yang bertanggung jawab mengawali dan mengawal pengembangan KLA, pembentukan Gugus Tugas juga merupakan tahap kedua dalam persiapan pengembangan KLA. Setelah kebijakan terbentuk dan disahkan perlu untuk disosialisasikan kepada pihak yang terlibat untuk membangun komitmen bersama dalam pelaksanaan KLA di Kota Serang. Sosialisasi telah dilakukan oleh Bappeda dan DP3AKB sebagai pionir KLA di Kota Serang, seperti yang dikatakan oleh Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang. Beliau mengatakan bahwa:

“Sudah, tiap tahun kita evaluasi pasti kita lakukan, kordinasi pun kita

sudah rutin.” (Wawancara dengan Bapak Derli Haryanto, 4 Maret

2019, pukul 09.22 WIB, di kantor Bappeda Kota Serang).

Begitu pun yang disampaikan oleh Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, bahwa:

“Kalau untuk ke Gugus Tugas itu sudah karena kita ada yang

namanya RAD yang dibahas di rapat forum SKPD yang rutin dilaksanakan dan pembahasan mengenai KLA dilaksanakan setiap tahun.” (Wawancara dengan Ibu Ati Rohayati, 19 Februari 2019,

pukul 10.58 WIB, di kantor DP3AKB Kota Serang).

Berdasarkan wawancara tersebut, sosialisasi telah dilakukan secara rutin sebagai bentuk sikap pemimpin daerah dalam upaya penguatan komitmen bersama untuk mencapai tujuan. Di sisi lain, upaya yang dilakukan kepemimpinan di Kota Serang untuk membentuk komitmen bersama dalam melaksanakan dan mengembangkan KLA adalah dengan melibatkan unsur dunia usaha dan masyarakat selaku tiga pilar Good Governance, yaitu pemerintah, masyarakat, dan swasta. Berikut pernyataan Kepala Sub Bidang Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang:

“Kita untuk mendukung KLA baru kemarin sudah kerjasama dengan

beberapa perusahaan, MOU, jadi yang memiliki KIA dapat diskon. Terus juga peran CSR dari Telkom untuk menuju KLA di stadion ada sarana permainan skateboard. Kita juga ada Perda KTR, cuma

mungkin pelaksanaannya masih kurang.” (Wawancara dengan Bapak Derli Haryanto, 4 Maret 2019, pukul 09.22 WIB, di kantor Bappeda Kota Serang)

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa pemerintah Kota Serang melibatkan dunia usaha dalam dalam pelaksanaan KLA. Pernyataan sama diungkapkan juga oleh Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, bahwa:

“Kita Gugus Tugas seperti Disdukcapil kerjasama dengan McD,

ketika anak punya KIA dapat potongan.” (Wawancara dengan Ibu Ati

Rohayati, 19 Februari 2019, pukul 10.58 WIB, di kantor DP3AKB Kota Serang).

Begitupun yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil DISDUKCAPIL Kota Serang yang masuk dalam struktur

Gugus Tugas KLA Kota Serang sebagai koordinator klaster hak sipil dan kebebasan, bahwa:

“Pihak dunia usaha ada yang pemerhati layak anak, mereka juga

kami libatkan. Salah satunya rumah sakit swasta. Kita juga dalam pembuatan KIA ada perjanjian kerjasama, itu ada kebijakan atau perjanjian kerja bersama agar ana dapat fasilitas ketika anak itu punya KIA datang dia ke KFC dan MCD itu akan dapat potongan

harga.” (Wawancara dengan Bapak H. Syafaat, 26 Februari 2019, pukul 09.15 WIB, di kantor DISDUKCAPIL Kota Serang).

Dari pernyataan di atas, diketahui bahwa dunia usaha dilibatkan dalam mendukung pelaksanaan sebagai upaya penguatan kelembagaan KLA. Masyarakat juga ikut berperan dalam pelaksanaan KLA dengan terlibat dalam lembaga masyarakat yang memberikan layanan tumbuh kembang dan perlindungan anak (PATBM) serta adanya forum anak. seperti yang disampaikan oleh Kepala Bagian Hukum Setda Kota Serang, bahwa:

“KLA tidak hanya peran pemerintah, tapi juga peran masyarakat.

Pihak keluarga pun terhadap perlindungan anak menjadi prioritas.”

(Wawancara dengan Bapak Yudi Suryadi, 8 Maret 2019, pukul 13.58 WIB, di kantor Setda Kota Serang).

Pemerintah Kota Serang melibatkan masyarakat melalui PATBM dan forum anak. Keduanya merupakan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk memenuhi penilaian indikator KLA. Seperti yang disampaikan oleh Lurah Kasemen, beliau mengatakan bahwa:

“Kemarin kita sudah pengukuhan PATBM di tingkat Kelurahan se

Kecamatan Kasemen. Ada 10 Kelurahan, tiap Kelurahan itu 10 orang

jadi kemarin 100 orang di sini acara PATBM.” (Wawancara dengan Bapak Ahmadi, 26 Februari 2019, pukul 11.20 WIB, di kantor Kelurahan Kasemen).

Berdasarkan wawancara tersebut lembaga PATBM dibentuk pada tingkatan Kelurahan. Adapun forum anak terdapat di setiap jenjang

pemerintahan, sehingga pembentukannya harus ada pada tingkat Kota sampai dengan Kelurahan. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, bahwa:

“Forum anak fasilitasi pembentukannya dari DP3AKB. Forum anak

kelurahan ada 2, di Pipitan dan Taktakan. Tahun depan membentuk Kangungan dan Nyapah di Walantaka. Kerjasama dengan masyarakat paling kita bekerjasama dengan LPA Kota dan Provinsi, dengan LPA kita bergandengan tangan untuk pemenuhan hak anak. Kita kerjasama juga dengan yayasan yatim piatu Yakenas. Tapi kedepannya kita akan merangkul lembaga masyarakat kelurahan.”

(Wawancara dengan Ibu Ati Rohayati, 19 Februari 2019, pukul 10.58 WIB, di kantor DP3AKB Kota Serang).

Dari wawancara tersebut di atas diketahui bahwa di Kota Serang melibatkan masyarakat usia dewasa dan anak yang dibentuk oleh pemerintah. Keterlibatan masyarakat lainnya juga ada pada lembaga-lembaga non formal di masyarakat.

Selain komitmen secara tertulis perlu juga menunjukan secara tindakan dalam melaksanakan kebijakan yang telah dibuat. Penilaian terhadap komitmen dalam kepemimpinan di Kota Serang masih dinilai belum maksimal. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, beliau mengatakan bahwa:

“Bisa dikatakan belum maksimal, karena setiap kita koordinasi ke

lapangan untuk memfasilitasi pemenuhan hak anak sebetulnya agak kesulitan. Bahkan ketika pimpinan OPD maupun Kecamatan diundang itu bukan pimpinannya yang hadir, hanya menugaskan staf atau kasi, jadi informasi tidak mengena secara langsung pada pembuat kebijakan dan pengguna anggaran. Bapak Walikota pun jarang sekali bisa hadir memenuhi undangan rapat, hanya hadir pada momen yang dianggap melibatkan masyarakat banyak, seperti peringatan Hari Anak Nasional, beliau biasanya hanya mewakilkan pada bidang lainnya, padahal seharusnya beliau hadir untuk membahas kebijakan.” (Wawancara dengan Ibu Ati Rohayati, 19

Dari wawancara tersebut menjelaskan komitmen pimpinan perangkat daerah pada level Kota dalam menjalankan tugas belum ditunjukan dalam tindakan. Begitupun pada level dibawahnya, yaitu Kecamatan, menurut keterangan dari Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, menambahkan:

“Komitmen kecamatan juga kurang, Kecamatan kita itu dari

lokasinya belum semua memadai dan belum membentuk Gugus Tugas

KLA tingkat Kecamatan, jadi bagaimana mau memfasilitasi.” (Wawancara dengan Ibu Ati Rohayati, 19 Februari 2019, pukul 10.58 WIB, di kantor DP3AKB Kota Serang).

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Kepala Sub Bidang Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang, bahwa:

“Sampai saat ini untuk kecamatan dari komitmen untuk membentuk

Kceamatan Layak Anak belum ada, untuk Gugus Tugas tingkat Kecamatan dan Kelurahan pun belum terbentuk. Sedangkan camat diundang tapi yang hadir perwakilan. Jadi belum semua sesuai

harapan.” (Wawancara dengan Bapak Derli Haryanto, 4 Maret 2019, pukul 09.22 WIB, di kantor Bappeda Kota Serang).

Berdasarkan wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa komitmen lembaga penopang KLA yakni Kecamatan masih belum terwujud. Informasi lain yang peneliti peroleh dari studi dokumentasi yang menunjukkan bahwa dari 6 Kecamatan yang ada hanya Kecamatan Taktakan yang sudah memulai menata dari segi fasilitas dan kegiatan yang mengarah pada Kecamatan Layak Anak, yaitu dengan adanya ruang bermain anak dan ruang laktasi pada bagian pelayanan di Kecamatan. Berbeda dengan Kecamatan Kasemen yang belum memiliki komitmen untuk membentuk Kecamatan Layak Anak karena permasalahan kurangnya inisiatif dari

kepemimpinan di Kecamatan, artinya Kecamatan melihat bagaimana sikap dan arahan pemerintah pada tingkat Kota. Berikut ini pernyataan dari, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kecamatan Kasemen, bahwa:

“Dari pemerintah belum greget, pemerintah harus menggerakan

stakeholder yang ada dikota serang ini. Kalo Kecamatan bagaimana yang di atas, diarahkan misalkan ada kegiatan ini ya Kecamatan yang

siapkan.” (Wawancara dengan Bapak Aji Kurnianto, 14 Maret 2019, pukul 10.14 WIB, di Kantor Kecamatan Kasemen).

Tak jauh berbeda pada level Kelurahan, Kelurahan Kasemen salah satu yang belum memiliki komitmen dalam mewujudkan Kelurahan Layak Anak. Hambatan yang ditemui adalah kurangnya inisiatif dan doktrin dari level pemerintah Kota yang belum sampai pada tingkat Kelurahan. Sebagaimana pernyataan Plt Lurah Kasemen berikut ini:

“Wong dari pemkotnya kaya gitu aja. Gebrakan sekali udah terusnya

gaada kelanjutannya jadinya melempem lagi kelurahannya, gaada tindak lanjutnya kedepannya.” (Wawancara dengan Bapak Ahmadi,

26 Februari 2019, pukul 11.20 WIB, di kantor Kelurahan Kasemen). Pernyataan di atas menunjukkan bahwa permasalahan kepemimpinan pada level Kelurahan adalah masih menunggu dorongan dari pemerintah Kota. Pun mengenai peran Kelurahan dalam membentuk PATBM sebagai lembaga yang melibatkan masyarakat dalam perlindungan anak juga menemui permasalahan. Sebagaimana pernyataan Plt Lurah Kasemen berikut ini:

“Kemarin pengukuhan PATBM di sini semua lurah-lurahnya pada

keluar.” (Wawancara dengan Bapak Ahmadi, 26 Februari 2019, pukul

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa sikap pemimpin pada level Kelurahan belum memiliki inisiatif dan dukungannya terhadap pelaksanaan KLA masih kurang.

Pernyataan lain berkaitan dengan kepemimpinan di tingkat Kecamatan maupun Kelurahan adalah yang diungkapkan oleh Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, bahwa:

“Memang kita sulit juga memberi pengarahan, apalagi ke Kelurahan

untuk PATBM ini karena mereka berfikir masalah anggaran.” (Wawancara dengan Ibu Ati Rohayati, 19 Februari 2019, pukul 10.58 WIB, di kantor DP3AKB Kota Serang).

Pernyataan tersebut menunjukkan hambatan lainnya ada pada persoalan dana atau anggaran yang dianggap tidak mencukupi, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kecamatan Kasemen menambahkan:

“Kecamatan juga tidak bisa mendukung kegiatan tersebut karena anggaran tidak ada.” (Wawancara dengan Bapak Aji Kurnianto, 14 Maret 2019, pukul 10.14 WIB, di Kantor Kecamatan Kasemen). Pernyataan tersebut terlihat bahwa kepemimpinan baik pada level Kecamatan maupun Kelurahan belum dapat memanfaatkan sumberdaya finansial yang tersedia karena masih mengeluhkan anggaran yang dianggap terbatas. Kendatipun demikian dari 67 Kelurahan yang terdapat di Kota Serang hanya ada satu Kelurahan yang telah berupaya mewujudkan Kelurahan Layak Anak, yaitu Kelurahan Pipitan, sesuai pernyataan Plt Lurah Pipitan berikut ini:

“Ada 8 Kelurahan yang dinobatkan menjadi Kelurahan Layak Anak,

Kelurahan Pipitan mewakili Kota Serang menerima penghargaan dari Gubernur Banten.” (Wawancara dengan Oewien Kurniawan, 8 Maret 2019, pukul 09.33 WIB, di Kantor Kelurahan Pipitan).

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa kurangnya inisiatif dari Kecamatan dan Kelurahan untuk mewujudkan Kecamatan dan Kelurahan Layak Anak menjadi hambatan dalam pelaksanaan KLA sehingga sulit dilakukan dengan pendekatan bottom-up, karena kepemimpinan pada level pemerintah Kota sangat mempengaruhi.

Kepemimpinan merupakan hal yang mendasar dalam mempengaruhi inisiasi dan kesuksesan sebuah program dalam kelembagaan. Tentunya hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang pimpinan dalam menggerakkan anggotanya. Seperti yang dijelaskan oleh Kepala Bagian Hukum Setda Kota Serang, beliau mengatakan bahwa:

“Sebetulnya pimpinan hanya tinggal memberikan intruksi, perintah.

Bisa melalui surat perintah, surat edaran, rapat evaluasi. itu isinya adalah penekanan penekanan kepada bawahannya kepada OPD untuk melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi. Kepala Daerah hanya sebagai kebijakan yang melaksanakannya kan OPD. Pimpinan

itu harus lengkap, sikapnya harus jadi panutan.” (Wawancara dengan Bapak Yudi Suryadi, 8 Maret 2019, pukul 13.58 WIB, di kantor Setda Kota Serang).

Berdasarkan wawancara tersebut terlihat bahwa kualitas kepemimpinan sangat menentukan dalam membina dan memberikan keteladanan dalam bertindak. Sikap pemimpin harus dapat mempengaruhi anggotanya. Seperti yang disampaikan oleh Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kecamatan Taktakan, bahwa:

“Instruksi dan pembicaraan dari pemimpin itu kan pengaruh tapi

jarang untuk Kota Layak Anak ini. Seandainya dari pimpinan di atas lebih tegas lagi untuk pelaksanaan KLA mungkin bawahnya mengikuti, karena kita jenjang struktural kan anggaran juga dari

atas.” (Wawancara dengan Ibu Herlis Indriani, 4 Maret 2019, pukul 12.51 WIB, di kantor Kecamatan Taktakan)

Pernyataan tersebut menunjukan bahwa sikap pimpinan di Kota Serang pada level pemerintah Kota belum tegas dalam pelaksanaan KLA. Hal ini juga ditambahkan oleh Kepala Sub Bidang Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang, beliau mengatakan bahwa:

“Sebenarnya peran pemimpin bisa dilihat saat evaluasi KLA.

Sebetulnya mendukung cuma kurang ada ketegasan ke bawahannya. Kalau dari atas bilang harus A OPD itu mungkin ngikut. Untuk komitmen tertulis kan sudah ada hanya kurang ketegasan dalam

mendoktrin.” (Wawancara dengan Bapak Derli Haryanto, 4 Maret 2019, pukul 09.22 WIB, di kantor Bappeda Kota Serang).

Pernyataan Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang, yang mengatakan bahwa:

“Penekanannya kepada tiap OPD itu kurang tegas sehingga visi misi

beliau tidak tersentuh, karena doktrinnya tidak betul-betul.”

(Wawancara dengan Ibu Ati Rohayati, 19 Februari 2019, pukul 10.58 WIB, di kantor DP3AKB Kota Serang).

Berdasarkan wawancara tersebut, terlihat bahwa sikap pemimpin pada level pemerintah Kota di Kota Serang dalam menggerakkan anggotanya masih kurang tegas, sehingga dalam mengarahkan dan membina hubungan-hubungan dengan lingkungannya belum mencapai pada perubahan yang diinginkan. Begitupun pada level dibawahnya yaitu Kecamatan dan Kelurahan yang sama-sama belum memiliki inisiatif untuk mewujudkan Kecamatan dan Kelurahan Layak Anak.

Menurut Eaton (1986: 32) variabel kepemipinan adalah variabel yang paling penting dalam pembangunan lembaga. Indikator Penguatan Kelembagaan KLA di Kota Serang akan dibahas pada variabel kepemimpinan. Indikator penguatan kelembagaan dilaksanakan oleh

kelompok orang yang secara aktif berkecimpung dalam perumusan doktrin dan program dari lembaga, sehingga ini merupakan bentuk proses perubahan pada variabel kepemimpinan. Dalam pemenuhan tiap-tiap indikator Kota Layak Anak pemerintah Kota Serang menyusun RAD (Rencana Aksi Daerah) Kota Layak Anak yang dituangkan ke dalam bentuk dokumen yang berisikan program dan kegiatan yang disusun oleh OPD terkait, berisikan jangka waktu dan target yang ingin dicapai. Dokumen tersebut dibuat dalam bentuk Peraturan Walikota Serang. Berikut ini merupakan matriks RAD KLA Kota Serang program penguatan kelembagaan.

Tabel 4.2 Matriks RAD KLA Kota Serang Program Penguatan Kelembagaan

No Indikator Kinerja Kegiatan Prioritas Satuan Target Capaian OPD/Unit Terkait 2017 2018 2019 2020 2021 1 Tersedia Perda tentang Pemenuhan Hak Anak

Perda terkait pemenuhan hak anak Dokumen 2 2 2 2 2 Gugus Tugas/ skpd

terkait

2

Tersedia peraturan lain/kebijakan tentang Pemenuhan Hak Anak

perwal tentang pelaksanaan perda KLA Dokumen 2 3 3 3 3 Gugus Tugas

3

Tersedianya kebijakan afirmasi bagi

perlindungan anak

Fasilitasi Kebijakan Larangan bermain di tempat umum pada jam sekolah

(07.00-14.00)danjambelajar(19.00–21.00);danlarangan bermainditempat-tempat

permainan / sarana hibutan tanpa pendamping;

Dokumen 3 3 3 3 3

Gugus Tugas, Disporapar, Dindikbud Fasilitasi Kebijakan dalam pembuatan dokumen

kependudukan bagi anak Dokumen 1 1 1 1 1

Gugus Tugas, Disdukcapil Fasilitasi Kebijakan Pengendalian Pernikahan di

bawah usia 18 tahun Dokumen - - 1 -

-GugusTugas, Disdukcapil, Kantor Kemenag/KUA Fasilitasi kebijakan penyediaan ruang laktasi dan

tempat bermain anak di setiap badan publik penyedia pelayanan public

Dokumen - 1 - - - Gugus Tugas

Fasilitasi kebijakan penanganan anak putus

sekolah secara afirmatif Dokumen - 1 - -

-Gugus Tugas, Dindik Fasilitasi kebijakan rute aman dan selamat ke

sekolah Dokumen - 1 - -

-Dindik, Dishub, Diskominfo, GT-KLA Fasilitasi kebijakan Angkutan Umum Ramah

Anak, serta Trayek, Tarif Khusus Pelajar, dan Angkutan Khusus Antar-Jemput Pelajar

Dokumen - 1 - - - Dishub, Diskominfo,

Fasilitasi kebijakan mitigasi bencana yang

responsif anak Dokumen - 1 - - - BPBD

Fasilitasi kebijakan dan SOP penanganan siswa/i

yang mengalami situasi khusus Dokumen 3 3 3 3 3

Dindikbud, GT-KLA, P2TP2A

4 Telah terbentuk Gugus

Tugas KLA Fasilitasi operasionalisasi Gugus Tugas KLA Kegiatan 4 4 4 4 4 Gugus Tugas

5 Tersedia RAD KLA Monitoring dan Evaluasi implementasi RAD KLA Kegiatan 2 2 2 2 2 Gugus Tugas

6

Meningkatnya jumlah peraturan, kebijakan, program dan kegiatan yang mendapat masukan dari Forum Anak atau kelompok anak

Pelibatan Forum Anak dalam Pengambilan keputusan di tingkat Kota, Kecamatan, dan

Kelurahan (Musrenbang, Forum Renja, RDP, dll)

Kegiatan 2 4 6 8 10 Gugus Tugas

Fasilitasi Musrenbang Khusus Anak Kegiatan 1 1 1 1 Bappeda, Gugus

Tugas

7

Tersedianya sumber daya manusia (SDM) terlatih KHA dan mampu menerapkan hak anak ke dalam kebijakan, program dan kegiatan

Fasiltasi penyelenggaraan dan/ atau partisipasi dalam Pelatihan PUHA bagi

Pendidik, Tenaga Kependidikan, Tenaga Kesehatan, Pekerja Sosial, dan Penegak Hukum

Orang 30 30 30 30 30 Gugus Tugas KLA

8

Tersedianya dokumen perencanaan sosial dan budaya

Penyusunan dan Updating Profil Gender dan Anak

Kota Serang (Data Terpilah) Dokumen 1 1 1 1 1 Bappeda

Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia dan

Inkesra Dokumen 1 1 1 1 1 Bappeda

9

Terdapat lembaga yang memberikan layanan tumbuh kembang dan perlindungan anak.

Pembinaan Organisasi Masyarakat yang memberikan layanan TKA dan

Perlindungan Anak

Organisasi 2 3 4 5 6 Gugus Tugas,

Dinkes, DP3AKB Fasilitasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat

dalam PHA Kegiatan - 3 4 5 6

DP3AKB, Gugus Tugas

Fasilitasi Gugus Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di tingkat kelurahan

Pokja - 4 6 8 10 DP3AKB, Gugus

Tugas Fasilitasi Pemberian Penghargaan bagi

Kelurahan Ramah Anak Kelurahan - 2 3 4 5

DP3AKB, Gugus Tugas

Fasilitasi Pemberian Penghargaan bagi RW

Ramah Anak RW - 2 6 8 10

DP3AKB, Gugus Tugas

10

Meningkatnya jumlah anak yang memanfaatkan layanan TKA dan Perlindungan Anak

Sosialisasi tentang ragam fasilitas layanan TKA

dan Perlindungan Anak di Kota Serang Kegiatan - 2 2 2 2

Dokumen terkait