BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.5 Pembahasan
4.5.3 Program
Program merupakan output dari lembaga tersebut. Lebih luas, program adalah setiap aktifitas pemerintah yang dirancang untuk mewujudkan kesejahteraan publik melalui pengelolaan barang dan layanan publik yang memenuhi hak-hak dasar manusia. Berkaitan dengan penguatan kelembagaan
KLA, program yang dilakukan oleh pemerintah Kota Serang melalui OPD yang terlibat dalam Gugus Tugas disusun dalam sebuah dokumen berupa peraturan walikota tentang Rencana Aksi Daerah KLA di Kota Serang. RAD KLA ini menjabarkan dan mengimplementasikan indikator KLA yang meliputi penguatan kelembagaan dan lima klaster hak anak. Program yang telah disusun kemudian harus dilaksanakan dan dilakukan pemantauan. Pemantauan program dilakukan rutin oleh Bappeda dengan DP3AKB, dalam pelaksanaan program kendalanya adalah target yang tidak tercapai.
Salah satu program dalam penguatan kelembagaan KLA yang tidak terlaksana dengan baik adalah program pelibatan dunia usaha dalam setiap program dan kegiatan pemenuhan hak di Kota Serang yang dilakukan oleh DisperdaginkopUKM Kota Serang. Hasil yang peneliti temukan di lapangan bahwa OPD tersebut bahkan tidak mengetahui adanya program dalam RAD KLA serta OPD tersebut sebagai penanggungjawabnya. Padahal RAD KLA disusun oleh OPD terkait yang mengusulkan dan menentukan target programnya sendiri. Adapun program yang dilasanakan oleh DisperdaginkopUKM Kota Serang yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak adalah program pengawasan konsumen, yaitu pengawasan jajanan anak.
Program yang dilaksanakan telah merujuk pada pemenuhan hak anak yang ada pada klaster hak anak, diantaranya adalah pemenuhan hak identitas anak oleh Disdukcapil Kota Serang. Program tersebut dilakukan melalui pelayanan akta kelahiran dan KIA dengan sistem jemput bola dan melibatkan forum anak dalam percepatannya. Disamping itu Disdukcapil juga menggandeng
KFC Serang sebagai dunia usaha untuk menarik minat masyarakat dalam memenuhi hak identitas anak, yaitu menyediakan paket khusus untuk anak yang memiliki KIA. Melalui program dan inovasinya tersebut menjadikan jumlah anak yang memiliki akta kelahiran meningkat dari tahun 2017 sebesar 63,64% menjadi 77,70 pada tahun 2018 namun masih berada di bawah rata-rata nasional, yaitu sebesar 80%.
Pelaksanaan program dibidang kesehatan yang berkaitan dengan KLA adalah penurunan Angka Kematian Bayi. AKB di Kota Serang sendiri tidak mengalami kenaikan maupun penurunan, tetap stagnan pada angka 2/1000 kelahiran hidup, namun angka tersebut diperoleh dari puskesmas masing-masing wilayah serta jaringannya, termasuk posyandu, masyarakat (kader/dukun bayi) dan belum termasuk dari pelayanan kesehatan swasta lainnya. AKB tersebut jauh melewati target MDG’s, yaitu 23 kematian per 1000 kelahiran bayi hidup pada tahun 2015. Hal tersebut tak lepas dari pelaksanaan program kesehatan Pemerintah Kota Serang yang juga tertera dalam RAD KLA Kota Serang, yaitu program kesehatan anak yang mana kegiatan diantaranya adalah Survey Deteksi dan Intervensi Tumbuh Kembang Anak dumulai dari 0-5 Tahun dan MTBS. Selain itu terdapat pula program penyedia sarana dan prasarana kesehatan yang ramah anak melalui Puskesmas Ramah Anak. Terdapat 3 Puskesmas yang ditetapkan sebagai Puskesmas Ramah Anak melalui SK Kepala Dinkes Kota Serang, yaitu Puskesmas Kalodran, Puskesmas Ciracas, dan Puskesmas Unyur. Adanya puskesmas ramah anak juga berperan dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat agar paham dan mampu memenuhi hak kesehatan anak, menjadi
pusat informasi kesehatan bagi orang tua/keluarga maupun anak. Ketika melakukan pelayanan ramah anak maka akan terpenuhinya hak anak atas kesehatannya sehingga meningkatkan jumlah anak yang sehat dan menurunkan permasalahan kesehatan pada anak. Adapun status gizi anak di Kota Serang dominan baik, namun masih terdapat balita dengan status gizi buruk. Terdata sebanyak 62 balita yang tergolong sangat kurus dan paling banyak ditemui di wilayah Kasemen, yang kemudian di Kecamatan Kasemen rutin mengadakan kegiatan dalam engurangi gizi buruk. Kegiatan tersebut telah melibatkan masyarakat melalui kader-kader yang ada di wilayah tersebut.
Pada bidang pendidikan program yang dilaksanakan adalah adanya Sekolah Ramah Anak. Sekolah merupakan tempat atau wadah yang bertujuan untuk memberikan edukasi pada siswa/murid melalui bimbingan tenaga pendidik. Adanya sekolah ramah anak untuk memberikan perlindungan pada anak dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, maupun pihak lain. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, bersih, sehat, ramah dan menyenangkan maka perlu dibentuk Sekolah Ramah Anak. SRA di Kota Serang ditentukan dengan SK Kepala Dindik Kota Serang yang menyebutkan sebanyak 32 sekolah jenjang SD dan SMP sebagai sekolah yang menginisiasi SRA. Namun belum ada satupun yang sudah memenuhi sekolah ramah anak.
Sementara program wajib belajar 12 tahun di Kota Serang juga telah dilaksanakan, namun masih terdapat anak putus sekolah yang dikonfirmasi oleh
forum anak dan aparat Kecamatan tetapi tidak didukung oleh data yang berisikan jumlah pasti anak yang putus sekolah di Kota Serang. Peneliti tidak memperoleh data tersebut pada Dindik Kota Serang karena menurut penuturan informan dari Dindik sudah tidak ada anak putus sekolah. Data angka putus sekolah juga tidak tercatat dalam buku Profil Gender dan Anak. Hal tersebut menandakan kurangnya integrasi dalam pemenuhan data anak terpilah bidang pendidikan di Kota Serang. Program penyediaan fasilitas untuk mengembangkan minat bakat anak, memanfaatkan waktu luang serta menjadi media ekspresi yang berada di luar sekolah juga sudah terfasilitasi di beberapa wilayah. Diantaranya adalah taman kreatif Pipitan yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat sebagai wadah atau tempat bermasin dan berkreasi sekaligus belajar untuk masyarakat dan anak-anak.
Sementara itu program pemenuhan hak anak yang berkaitan dengan perlindungan anak di Kota Serang dilaksanakan dengan salah satunya membentuk P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak). Lembaga tersebut dibentuk oleh pemerintah melalui SK Walikota Serang untuk meningkatkan cakupan layanan bagi AMPK. Pelayanan yang dilakukan adalah memberikan konseling dan pendampingan hukum. Disediakan pula rumah aman untuk menampung eks korban pada suatu kasus. Pada pelaksanaanya P2TP2A juga melibatkan LPA Kota Serang dalam menangani kasus. Sebagai lembaga masyarakat yang bergerak dibidang perlindungan anak, LPA Kota Serang juga memiliki kegiatan inovatif yang mendukung pelaksanaan
KLA. Kegiatan tersebut berupa sosialisasi, advokasi, dan kampanye yang dikemas dalam bentuk perlombaan untuk anak-anak.
Pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan hak anak di Kota Serang juga melibatkan anak itu sendiri melalui forum anak. Berdasarkan data yang peneliti peroleh di lapangan, partisipasi forum anak sudah cukup baik namun masih diperlukan pembekalan untuk anak agar memiliki keterampilan yang akan bermanfaat untuk diri sendiri dan sekitarnya. Program yang dilaksanakan juga seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan anak, karena program diartikan sebagai terjemahan dari doktrin ke dalam pola-pola tindakan yang nyata. Kesesuaian tersebut belum terbangun maksimal disebabkan minimnya anggaran dan belum menemukan alternatif strategi yang tepat untuk mengatasinya. Anak sebagai sasaran dari program menunjukan antusiasmenya sebagai bentuk kepuasan atas program yang telah dilaksanakan, terutama untuk mengetahui dan tergabung dalam forum anak Kota Serang maupun di wilayahnya masing-masing.
Pelaksanaan program yang melibatkan anak belum dapat terlaksana secara merata disebabkan oleh belum semua wilayah terfasilitasi forum anak. Dengan demikian pada variabel program dapat dikatakan bahwa secara umum telah mengarah pada pemenuhan hak anak yang juga sesuai dengan rancangan yang telah dibuat namun dalam pemenuhan target masih banyak yang belum tercapai karena sumberdaya manusia dan anggaran yang masih dirasa kurang. Begitupun dalam pelaksanaanya yang sudah berupaya melibatkan masyarakat dan dunia usaha meskipun perannya belum sama dominan.