SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Publik
pada Program Studi Administrasi Publik
Oleh
Pradita Saldi
NIM. 6661150074
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Kota Serang. Program Studi Administrasi Publik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dosen Pembimbing I: Listyaningsih, M.Si. Dosen Pembimbing II: Dr. Dirlanudin, M.Si.
Pelaksanaan Kota Layak Anak merupakan upaya pemenuhan hak anak yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah. Masih adanya hambatan dalam pelaksanaan dilihat dari kelembagaan yang melaksanakannya belum memiliki komitmen dari sumberdaya yang ada dan kerjasama yang aktif belum terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya penguatan kelembagaan yang sudah dilakukan dalam Kota Layak Anak di Kota Serang. Penelitian ini menggunakan teori pembangunan lembaga oleh Milton J. Esman dalam Eaton (1986). Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk memperkuat lembaga pemerintah, masyarakat dan dunia usaha agar proaktif dalam memenuhi hak anak yang dilakukan melalui sosialisasi, fasilitasi sumberdaya ketenagaan, anggaran maupun sarana prasarana telah dipenuhi, meskipun pada pelaksanaannya komitmen terhadap pemenuhan hak anak belum sepenuhnya optimal. Saran yang dapat diberikan yaitu meningkatkan komunikasi yang lebih intensif dan sinkronisasi duduk bersama menyamakan pandangan tentang urgensi atas pemennuhan hak anak.
Kata Kunci: Pembangunan Lembaga, Penguatan Kelembagaan, Program Kota Layak Anak
(KLA) in Serang City. Public Administration Program. Faculty of Social Science and Political Science. The 1st advisor: Listyaningsih, M.Sc. 2nd advisor: Dr. Dirlanudin, M.Sc.
The implementation of Child Friendly City is an effort to fulfill children's rights that must be done by local government. There were obstacles in the implementation of the institutional view that does not have a commitment from the existing resources and active cooperation has not been established. This research aims to determine the institutional strengthening efforts that have been conducted in the Child Friendly City in Serang City. The study used the Institute's development theory by Milton J. Esman in Eaton (1986). The method that used was descriptive with a qualitative approach. The techniques of data collection used interviews, observations and documentation. The data analysis used the
Miles and Huberman’s model. The results showed that efforts to strengthen
government institutions, the public and the business world to be proactive in fulfilling the rights of children through socialization, labor resources facilitation, budget and infrastructure have been fulfilled, although the implementation of commitment to the fulfillment of children's rights is not fully optimized. The advice that can be given is to improve the communication more intensive and the synchronization sits together with a view on the urgency of the child's rights.
Keywords: Child-Friendly City program, Institution Building, Institutional Strengthening
tabah, punya bekal dalam
menuntut ilmu, bimbingan dari
guru dan dalam waktu yang
lama” (Ali bin Abi Thalib)
ALHAMDULILLAHIRABBIL’ALAMIIN
SKRIPSI INI SAYA PERSEMBAHKAN KEPADA BAPAK, MAMA, YANG TAK PERNAH LELAH MEMBERIKAN ILMU, WAKTU, TENAGA, MATERI DAN DOA
YANG TAK PERNAH PUTUS, SERTA UNTUK EMA, EMBAH DAN ENGKING YANG SAYA SAYANGI
-i
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT kemudian sholawat serta salam tak lupa dipanjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan rahmat dan karunianya. Tidak lupa peneliti ucapkan terima kasih yang tak terhingga bagi kedua orang tua, ibu Salamah dan Bapak Omo Suryadi yang telah mengorbankan waktu, tenaga serta doa yang tak pernah terputus hingga terselesaikannya skripsi yang berjudul Penguatan Kelembagaan Kota Layak Anak (KLA) di Kota Serang. Skripsi ini dibuat sebagai persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Administrasi Publik program studi Administrasi Publik.
Hingga terwujudnya penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu dalam memberikan motivasi baik waktu, tenaga, dan ilmu pengetahuannya. Maka dengan ketulusan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung, ucapan terima kasih disampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., selaku Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Bapak Dr. Agus Sjafari, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Ibu Rahmawati, S.Sos., M.Si., selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
ii
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 6. Ibu Listyaningsih, M.Si., Ketua Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus selaku dosen pebimbing I yang telah senantiasa membantu dan memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Ibu Dr. Arenawati, M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan juga sebagai penguji yang telah memberikan masukan bagi peneliti dalam perbaikan skripsi ini.
8. Bapak Dr. Dirlanudin, M.Si., sebagai dosen pembimbing II yang telah senantiasa membantu dan memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Bapak Dr. Gandung Ismanto, MM., sebagai dosen pembimbing akademik yang telah membimbing mulai dari awal perkuliahan.
10. Ibu Nikki Prafitri, M.Si., sebagai penguji skripsi yang telah memberikan masukan bagi peneliti dalam perbaikan skripsi ini.
11. Seluruh Dosen dan Staff Tata Usaha (TU) Jurusan Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan bantuan informasi selama perkuliahan.
iii untuk penulis.
13. Ibu Ati Rohayati, S.Pd., M.Pd, Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak DP3AKB Kota Serang yang telah memberikan semangat, informasi, data, dan ketersediaan waktu dalam proses pengambilan data untuk penulis. 14. Kepada kakakku, Prayoga Saldi dan Geugeut Triana Biha, adik sepupuku
Wulan Hariyani, serta seluruh saudara-saudaraku yang telah mendoakan dan memberikan semangat serta motivasi.
15. Sahabat seperjuangan terdrama, Kecoa (Hadiel), Bude Nila, Anna Rohanah, Nisa Mameh, Aulia Akrom, Irvan, Raka, Deden, Memed, Ayi, Rizky, dan Yudi (Lulus Duluan), terceria, Intan Gedey, Chubby Umi, dan Among (Megablok), Nunuh, Olif dan Tuti (Oray Sawah), Mufti Alam, Madam Dini, Marisa, Dhila dan Sani yang selalu membantu, memberikan semangat, dan menjadi teman diskusi yang baik serta tawa yang hangat seperti keluarga. 16. Kakak-kakak terbaik, Mba Ita, Ka Ncha dan seluruh teman-teman
Administrasi Publik angakatan 2015. Terimakasih telah memberikan bantuan, semangat, motivasi dan canda tawa kebersamaan.
17. Kepada keluarga di kostan ibu Nining, HIMANE 2016, HIMANE 2017 serta KKM 26 PUPR Untirta 2018 yang telah mengajarkan kebersamaan dan kekeluargaan.
iv
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti berharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna memperbaiki dan menyempurnakan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan bagi almamater beserta para pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Serang, 13 Mei 2019 Peneliti
v
ABSTRACT...
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... LEMBAR PERSETUJUAN... LEMBAR PENGESAHAN ... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR DIAGRAM... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 16
1.3 Batasan Masalah... 16
1.4 Rumusan Masalah ... 17
1.5 Tujuan Penelitian ... 17
1.6 Manfaat Penelitian ... 17
BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN ASUMSI DASAR PENELITIAN ... 19
vi
2.1.2 Pembangunan Lembaga ... 23
2.1.3 Konsep Penguatan Kelembagaan ... 30
2.1.4 Konsep Pengembangan KLA ... 32
2.1.4.1 Latar Belakang KLA ... 36
2.1.4.2 Prinsip, Strategi, dan Ruang Lingkup KLA ... 37
2.1.4.3 Pendekatan Pengembangan KLA ... 37
2.2 Penelitian Terdahulu ... 39
2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian... 41
2.4 Asumsi Dasar Penelitian ... 44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 45
3.1 Metode Penelitian... 45
3.2 Ruang Lingkup atau Fokus Penelitian ... 45
3.3 Lokasi Penelitian... 46
3.4 Fenomena yang Diteliti ... 46
3.4.1 Definisi Konsep... 47
3.4.2 Operasionalisasi Fokus Penelitian ... 47
3.5 Instrumen Penelitian... 49
3.6 Informan Penelitian... 52
3.7 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data... 54
vii
4.1 Deskripsi Objek Penelitian... 61
4.1.1 Deksripsi Wilayah Kota Serang ... 61
4.1.2 Gambaran Umum Gugus Tugas KLA Kota Serang... 63
4.1.3 Gambaran Umum DP3AKB Kota Serang... 66
4.2 Deskripsi Informan Penelitian ... 69
4.3 Deksripsi Data ... 70
4.3.1 Deskripsi Data Penelitian ... 70
4.4 Deskripsi Hasil Penelitian ... 71
4.5 Pembahasan ... 157 4.5.1 Kepemimpinan ... 157 4.5.2 Doktrin ... 165 4.5.3 Program ... 166 4.5.4 Sumber-sumberdaya ... 172 4.5.5 Struktur Intern ... 175 4.5.6 Temuan Penelitian ... 178 BAB V PENUTUP... 189 5.1 Kesimpulan ... 189 5.2 Saran ... 191 DAFTAR PUSTAKA ... 193 LAMPIRAN ...
viii
Kota Serang ... 15
Tabel 2.1 Dimensi dan Fokus Pengembangan Kapasitas ... 31
Tabel 3.1 Kisi-kisi Operasionalisasi Penelitian ... 48
Tabel 3.2 Informan Penelitian ... 53
Tabel 3.3 Jadwal Penelitian ... 60
Tabel 4.1 Spesifikasi Informan Penelitian... 69
Tabel 4.2 Matriks Rencana Aksi Daerah KLA Kota Serang Program Penguatan Kelembagaan ... 84
Tabel 4.3 Peraturan Pemenuhan Hak & Perlindungan Anak Kota Serang 88 Tabel 4.4 Usulan yang Disuarakan Oleh Perwakilan Anak Berdasarkan Indikator dan Klaster Kota Layak Anak ... 93
Tabel 4.5 Jumlah PATBM Berdasarkan Kecamatan di Kota Serang ... 100
Tabel 4.6 Keterlibatan Dunia Usaha dalam Pelaksanaan KLA di Kota Serang Sampai dengan Tahun 2018 ... 104
Tabel 4.7 Jumlah Anak yang Memiliki Akta Kelahiran Tahun 2017 dan 2018 di Kota Serang ... 118
Tabel 4.8 Jumlah Kematian Bayi Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kota Serang ... 119
Tabel 4.9 Jumlah Balita Gizi buruk, Stunting, dan Wasting di Kota Serang berdasarkan Kecamatan Tahun 2018 ... 121
ix
Tabel 4.12 Pihak yang Terlibat dalam Pelaksanaan KLA di Kota Serang. 144
Tabel 4.13 Capaian Kepemimpinan KLA Kota Serang ... 180
Tabel 4.14 Capaian Doktrin KLA Kota Serang ... 180
Tabel 4.15 Capaian Program KLA Kota Serang ... 181
Tabel 4.16 Capaian Sumber-sumber Daya KLA Kota Serang ... 182
Tabel 4.17 Capaian Struktur Intern KLA Kota Serang ... 183
Tabel 4.18 Kaitan Indikator Penguatan Kelembagaan dalam KLA dengan Variabel Lembaga ... 185
x
Gambar 1.2 Bagan Struktur Gugus Tugas KLA Kota Serang ... 11
Gambar 2.1 Interaksi Antar Pelaku dalam Kerangka Kepemerintahan ... 21
Gambar 2.2 Konsep Pembangunan Lembaga ... 26
Gambar 2.3 Proses Kerangka Berpikir Penelitian... 43
Gambar 3.1 Model Proses Analisis Data... 56
xi
2017 ... 7 Diagram 1.2 Penerima Penghargaan KLA Berdasarkan Kategori Tahun 2011,
xii Lampiran 2 Catatan Lapangan
Lampiran 3 Pedoman Wawancara Lampiran 4 Daftar Pertanyaan Lampiran 5 Transkrip Data
Lampiran 6 Surat Pernyataan Informan Lampiran 7 Member Check
Lampiran 8 Dokumentasi (foto-foto) Lampiran 9 Daftar Hadir Bimbingan Lampiran 10 Riwayat Hidup
1
Anak sering kali dianggap sebagai asset investasi yang sangat penting karena anak merupakan modal pembangunan dan kunci awal kemajuan bangsa, anak menentukan kualitas sumber daya manusia yang akan menjadi pilar utama pembangunan nasional. Di sisi lain anak-anak juga merupakan kaum yang termarginalkan dari aspek pembangunan. Menurut data Profil Anak Indonesia tahun 2013 jumlah anak sekitar satu pertiga dari total penduduk Indonesia. Banyak anak yang beresiko tinggi untuk tidak tumbuh dan berkembang secara baik, maka dari itu anak perlu mendapat perlindungan dan perhatian khusus yang sungguh-sungguh dari pemerintah dan semua elemen masyarakat.
Hak anak perlu diperhatikan dan diwujudkan dengan adanya komitmen terhadap Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah disahkan pada 20 November 1989. Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 pada tanggal 25 Agustus 1990 tentang pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvesi tentang Hak-hak Anak). Pemerintah Indonesia juga telah mengesahkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada tanggal 22 Oktober 2002 dan telah diperbarui dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014, yang materi pokoknya memuat keseluruhan ketentuuan dan prinsip-prinsip Konvensi Hak Anak.
Mengacu kepada kesepakatan internasional mengenai dunia yang layak bagi anak dan wujud pelaksanaan Undang-undang tentang perlindungan anak,
negara berkomitmen mengupayakan terwujudnya Indonesia layak anak melalui pengembangan Kota Layak Anak di semua Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Lahirnya kebijakan Kota Layak Anak diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak sebagai prasyarat untuk memastikan bahwa anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik, terlindungi haknya dan terpenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya. Kebijakan Kota Layak Anak merupakan kebijakan yang berasal dari pusat pertama kali diperkenalkan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada tahun 2005 dan dikembangkan sejak tahun 2006 yang dalam pelaksanaannya diturunkan kepada pemerintah daerah. KLA dikembangkan mulai dari Kabupaten/Kota, Kabupaten/Kota dapat dikatakan layak anak apabila seluruh Kecamatan di Kabupaten/Kota tersebut layak anak, Kecamatan dapat dikatakan layak anak apabila seluruh Desa/Kelurahannya layak anak, sampai pada semua RW/RT dan keluarga layak anak. (Sumber: Kementerian PP-PA, 2015: 7)
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak mendefinisikan bahwa Kabupaten/Kota Layak Anak adalah Kabupaten/Kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui perintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak.
Kebijakan Kota Layak Anak merupakan wujud mentransformasikan Konvensi Hak Anak (KHA) dari bahasa hukum ke dalam kebijakan pada proses pembangunan melalui program dan kegiatan. Kebijakan, program, dan kegiatan untuk menjamin anak mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, terpenuhinya hak anak agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara aktif dan optimal pada hakikatnya adalah urusan wajib Pemerintah Daerah, sehingga gagasan pengembangan Kota Layak Anak bertujuan agar Pemerintah Daerah berinisiatif untuk memenuhi hak-hak anak. (Sumber: Bappeda Kota Serang 2013).
Sejak awal dikembangkan pada tahun 2006 dan tahun 2009 diterbitkan Permen PPPA Nomor 2/2009 tentang Kebijakan KLA dan diujicobakan di 10 Kabupaten/Kota. Tahun 2010 melalui Inpres No. 1/2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional tahun 2010, KLA masuk ke dalam salah satu program prioritas nasional yang mempunyai 2 target kebijakan, yaitu: 1) Permen PP-PA No. 13/2010 tentang Pedoman Pengembangan KLA di Provinsi; 2) Permen PP-PA No. 14/2010 tentang Petunjuk Teknis Pengembangan KLA di Desa/Kelurahan. Tahun 2010 pengembangan ditingkatkan di 20 Kabupaten/Kota. Pada tahun 2011 landasan hukum pengembangan KLA diperbaharui melalui 4 Peraturan Menteri, yaitu : 1) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 11/2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak; 2) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 12/2011 tentang Indikator Kabupaten Layak Anak; 3)
Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 13/2011 tentang Panduan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak; 4) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 14/2011 tentang Panduan Evaluasi Kabupaten/Kota Layak Anak. (Sumber: Kementerian PP-PA, 2015: 5)
Strategi Pengembangan KLA berupa pengintegrasian hak anak dalam setiap proses penyusunan kebijakan, program, dsan kegiatan pembangunan, termasuk ke dalam tahapan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 11/2011 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak untuk mengefektifkan pengembangan KLA, dibentuk Gugus Tugas KLA yang keanggotaannya meliputi unsur-unsur lembaga terkait, perwakilan anak, dan dapat melibatkan dunia usaha dan masyarakat.
Para pihak yang berperan dalam mewujudkan KLA adalah pemangku kepentingan yang meliputi lembaga legislatif, yudikatif, pemerintah baik pusat maupun daerah, lembaga masyarakat peduli anak, dunia usaha, akademisi dan masyarakat. Secara umum struktur kelembagaan dalam Kota Layak Anak berdasarkan Peraturan Menteri PPPA Nomor 13/2011 tentang Panduan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Gambar 1.1 Bagan Struktur Kelembagaan KLA
(Sumber: Kementerian PP-PA, 2015: 5)
Gambar 1.1 di atas, pengembangan KLA dapat dilakukan melalui pendekatan bottom-up, top-down, maupun kombinasi agar mempercepat terwujudnya KLA. Lembaga Gugus Tugas KLA terdapat pada setiap tingkatan pemerintahan dan seluruhnya menentukan terlaksananya kebijakan KLA di tingkat Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Adapun Gugus Tugas KLA yang terdiri dari eksekutif, yudikatif, legislatif, masyarakat, dunia usaha, media massa dan anak. Terdapat tiga unsur sumber daya dalam pengembangan Kabuaten/Kota Layak Anak, ialah pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Pemerintah berperan sebagai pembuat sekaligus pelaksana kebijakan publik. Masyarakat sebagai target dari kebijakan terutama orang tua berperan dalam memenuhi hak-hak anak,
Kementerian Peberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak Republik Indonesia
Pemerintah Provinsi
Pemerintah Kabupaten/Kota (Kab/Kota Layak Anak)
Pemerintah Kelurahan/Desa
Keluarga
Gugus Tugas KLA
Pemerintah Kecamatan
Anak
Lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dunia usaha, media, dan
karena masyarakat juga harus mempunyai pergerakan dan turut berperan dalam pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak ini, dunia usaha perannya terlihat dari adanya Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak atau disingkat APSAI. APSAI ini merupakan organisasi independen yang dibentuk atas inisiasi dunia usaha untuk berkontribusi memenuhi dan melindungi anak-anak Indonesia.
Gugus Tugas KLA bertanggung jawab mengawali dan mengawal pengembangan KLA di wilayah masing-masing. Tugas pokok Gugus Tugas KLA adalah mengkoordinasikan berbagai upaya pengembangan KLA; menyusun RAD-KLA; melaksanakan sosialisasi, advokasi dan komunikasi pengembangan RAD-KLA; melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan dalam RAD-KLA; melakukan evaluasi setiap akhir tahun terhadap pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan dalam RAD-KLA; dan membuat laporan kepada Bupati/Walikota. Dalam melaksanakan tugas, anggota Gugus Tugas KLA menyelenggarakan fungsi pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data kebijakan, program, dan kegiatan terkait pemenuhan hak anak; melaksanakan kebijakan, program, dan kegiatan sesuai dengan RAD-KLA; membina dan melaksanakan hubungan kerja sama dengan pelaksana pengembangan KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan/desa dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengembangan KLA di tingkat kecamatan dan kelurahan/desa; mengadakan konsultasi dan meminta masukan dari tenaga profesional untuk mewujudkan KLA. (Sumber: Peraturan Menteri PPPA No. 13/2011).
Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak di Indonesia terbilang lebih kompleks dibanding dengan pengembangan sebuah Kota yang layak untuk anak di negara lain. Keadaan ini disebabkan oleh kondisi wilayah yang luas dan struktur administrasi yang cukup besar. Pemerintah Indonesia telah menargetkan ratusan Kabupaten/Kota untuk dibentuk menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak.
Diagram 1.1
Kabupaten/Kota yang telah menginisiasi KLA hingga Desember 2017
(Sumber: Kemen PPPA - Evaluasi KLA Tahun 2018)
Diagram 1.1 di atas dalam perkembangannya sudah ada 349 Kabupaten/Kota di Indonesia yang menginisiasi KLA. Jumlah ini mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak 349 Kabupaten/Kota ini tersebar di 34 Provinsi yang ada di Indonesia. Sampai dengan tahun 2017 126 Kabupaten/Kota telah menerima penghargaan dari Kementrian PPPA. Adapun kategori penghargaan KLA adalah sebagai berikut: 1) Kabupaten/Kota Layak
Jumlah Kabupaten/Kota yang belum menginisiasi KLA
Jumlah Kabupaten/Kota yang sudah menginisiasi KLA
167
Kab/Kota
349
Anak; 2) Utama; 3) Nindya; 4) Madya; 5) Pratama. Di bawah ini adalah data penerima penghargaan KLA berdasarkan kategori.
Diagram 1.2
Penerima Penghargaan KLA Berdasarkan Kategori Tahun 2011, 2012, 2013, 2015 dan 2017
(Sumber: Kemen PPPA - Evaluasi KLA Tahun 2018)
Diagram 1.2 di atas sampai dengan tahun 2017 dari 349 Kabupaten/Kota yang menginisiasi Kota Layak Anak ada 126 Kabupaten/Kota yang sudah mendapat penghargaan kategori Utama, Nindya, Madya, dan Pratama. Sedangkan belum ada satu pun daerah yang sudah termasuk kategori Kota Layak Anak. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan pencapaian pelaksanaan indikator Kota Layak Anak yang ada dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten Layak Anak.
Indikator Kota Layak Anak merupakan variabel yang digunakan untuk mengukur pelaksanaan pemenuhan hak anak di daerah dalam upaya mewujudkan
6 4 3 25 12 3 36 22 4 50 24 3 90 28 6 2 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Pratama Madya Nindya Utama
2011 2012 2013 2015 2017
KLA. Indikator KLA terdiri dari 7 indikator Kelembagaan dan 24 indikator substansi yang dikelompokkan dalam 5 klaster hak anak. Penilaian tersebut merupakan penilaian tim evaluasi independen yang terdiri dari pakar anak, akademisi, dan praktisi pemerhati hak anak dari Kementrian PPPA yang dinilai dari seberapa besar pemenuhan hak anak berdasarkan indikator Kota Layak Anak. (Sumber: Kementerian PP-PA, 2015: 9)
Kota Serang sebagai ibukota di Provinsi Banten masih belum mampu mewujudkan harapan dan memenuhi setiap kebutuhan masyarakatnya. Salah satu harapan yang belum terwujud adalah mewujudkan Kota Serang sebagai tempat atau lingkungan yang nyaman untuk warganya tinggal, khususnya anak-anak. Oleh karena itu anak-anak harus mendapat perhatian yang serius agar Kota Serang dapat memanfaatkan bonus demografi yang akan diperoleh di masa depan.
Kota Serang telah menginisiasi untuk membangun sebuah sistem pengembangan KLA sejak tahun 2011. Pada tahun 2013 telah terbentuk Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan, lalu tahun 2015 telah terbentuk Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 6 Tahun 2015 tentang Kota Layak Anak sebagai suatu bentuk penguatan kelembagaan dalam implementasi kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak yang bertujuan untuk: menjamin terpenuhinya hak anak agar dapat hidup aman dari ancaman, tumbuh dan berkembang dan berpartisipasi secara optimal; mengembangkan potensi, bakat dan kreatifitas anak; mengoptimalkan peran dan fungsi keluarga sebagai basis pendidikan pertama bagi anak; serta membangun sarana dan prasarana daerah yang mampu memenuhi kebutuhan
dasar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Adanya Perda ini juga merupakan bentuk dukungan dari legislatif dalam menuangkan komitmen untuk melaksanakan KLA di Kota Serang dengan harapan Kota Serang akan semakin baik dalam upaya pemenuhan harapan bersama yaitu mewujudkan Kota yang layak bagi anak.
Kota Serang pada tahun 2015 menunjukan kesiapan menuju Kota Layak Anak dengan memenuhi beberapa kriteria pada tingkat Pratama dengan skor sebesar 486,46 dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 566,65 dan termasuk ke dalam empat Kabupaten/Kota di Banten yang dalam penilaian berada di posisi kedua setelah Kota Tangerang Selatan. (Sumber: www.bantenbersatu.co.id). Berbagai upaya di atas yang telah dilakukan Kota Serang memperoleh apresiasi dari kementrian PPPA sehingga diberikannya pernghargaan pada tahun 2018 dengan predikat Kota Serang sebagai Kota Layak Anak kategori Pratama.
Penguatan kelembagaan KLA, yaitu upaya untuk memperkuat kelembagaan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, lembaga masyarakat dan dunia usaha pada suatu wilayah administrasi pemerintahan agar proaktif dalam upaya memenuhi hak anak yang dilakukan melalui advokasi, sosialisasi dan fasilitasi di bidang ketenagaan, anggaran, sarana prasarana, metoda dan teknologi. Kelembagaan KLA harus melakukan peningkatan komitmen yang termasuk ke dalam tahapan persiapan pengembangan KLA. Peningkatan komitmen dalam KLA meliputi upaya memperoleh dukungan dari pada pemangku kepentingan dalam pengembangan KLA. Dukungan dari para pengambil keputusan di Kabupaten/Kota untuk menjadikan daerahnya menjadi
KLA sangat penting dituangkan dalam bentuk tertulis untuk menjaga agar pengembangan KLA bukan dilakukan hanya karena desakan atau keperluan sesaat saja. (Sumber: Kementerian PP-PA, 2015: 3)
Kelembagaan KLA Kota Serang tergambar pada Gugus Tugas KLA Kota Serang, sebagai lembaga yang paling menentukan terlaksananya KLA di tingkat Kabupaten/Kota. Gugus Tugas KLA Kota Serang tercantum dalam Keputusan Walikota Serang Nomor 463/Krp.246-Huk/2017 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan Walikota Serang Nomor : 463/Kep.66-Huk/2015 tentang Pembentukan Gugus Tugas Pengembangan KLA Kota Serang. Susunan kelembagaan KLA Kota Serang telah melalui beberapa kali revisi dan kini telah disesuaikan dengan kebutuhan 5 klaster hak anak dan perlindungan khusus anak. Secara struktur Gugus Tugas KLA Kota Serang dapat digambarkan pada bagan berikut:
Gambar 1.2 Bagan Struktur Gugus Tugas KLA Kota Serang
(Sumber: Bappeda Kota Serang, 2018)
Walikota & Wakil walikota Serang
Kepala Bagian Hukum Setda Kota Serang Kepala Dindikbud Kota Serang
Sekretaris Daerah Kota Serang
Kepala Disdukcapil Kota Serang
Asisten Pemerintahan Setda Kota Serang
Kepala Dinkes Kota Serang Kepala Bappeda Kota Serang Kepala DP3AKB Kota Serang -Asisten Ekonomi
Pembangunan Setda Kota Serang
-Kepala BPKAD Kota Serang
Anggota
Anggota Anggota
Anggota Anggota
Pelaksanaan KLA di Kota Serang berdasarkan wawancara awal peneliti dan literatur yang ada masih terdapat beberapa kekurangan yang bisa dianggap sebagai masalah yang terdapat pada indikator penguatan kelembagaan KLA, diantaranya adalah:
Pertama, struktur Gugus Tugas KLA Kota Serang belum ideal dan belum
memenuhi kebutuhan sampai pada tingkat pelaksanaan. Struktur harus menyesuaikan tingkat kebutuhan dan volume kerja yang terdapat dalam kelembagaan. Gugus Tugas KLA Kota Serang yang ada saat ini belum melibatkan sumber daya dari tim teknis dalam pelaksanaan setiap program dan kegiatan, Gugus Tugas saat ini hanya fokus pada pimpinan OPD terkait dan belum mencakup secara luas setiap unsur KLA sehingga belum ada rasa tanggungjawab yang lebih pada tingkatan pelaksana teknis yang mengakibatkan pelaksanaan KLA belum berjalan secara maksimal. Sebagaimana penuturan dari Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang bahwa struktur Gugus Tugas KLA Kota Serang hanya melibatkan pimpinan-pimpinan OPD yang terlibat dalam pelaksanaan dan pengembangan KLA, padahal sebetulnya pelibatan tim teknis merupakan hal penting karena akan lebih menumbuhkan rasa tanggungjawab pada pelaksanaan KLA. (Sumber: Wawancara dengan Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang)
Kedua, belum adanya komitmen pada lembaga penopang KLA baik
tingkat Kecamatan maupun Kelurahan. Komitmen pada KLA dapat berupa peraturan yang tertulis beserta tindakan dengan melaksanakan kebijakan KLA yang sudah terbentuk. Berdasarkan observasi dan wawancara awal peneliti bahwa
lembaga Kecamatan di Kota Serang belum memiliki komitmen untuk menjalankan KLA, dari jumlah 6 Kecamatan yang ada belum satupun yang memiliki Gugus Tugas KLA tingkat Kecamatan. Pimpinan Kecamatan pun belum memiliki komitmen yang dapat dinilai dari tidak menghadiri undangan kegiatan pertemuan untuk membahas KLA atau bahkan diwakilkan. Begitupun pada tingkat kelurahan, sebanyak 67 Kelurahan di Kota Serang belum seluruhnya memiliki lembaga yang memberikan layanan tumbuh kembang dan perlindungan anak (PATBM). Menurut data yang peneliti peroleh dari Bappeda terkait evaluasi KLA 2018 bahwa baru 2 Kelurahan yang sudah membentuk PATBM, yaitu Kelurahan Kasemen dan Kelurahan Pipitan dan dilegalkan dengan SK Kelurahan Kecamatan Kasemen Kota Serang No: 140/02-Ksm/2017 dan SK Kelurahan Pipitan Kecamatan Walantaka Kota Serang No: 003/III/2018. Lembaga Kecamatan dan Kelurahan akan sangat menopang terlaksananya KLA pada tingkatan Kota, karena suatu Kabupaten/Kota dikatakan layak jika seluruh lembaga di bawahnya Kecamatan dan Kelurahan/Desa sudah layak anak.
Ketiga, masih terdapat sumberdaya manusia di Kota Serang yang belum
terlatih dalam pemenuhan hak anak yang memenuhi standar materi, pendalaman masalah dan penanganan isu anak berdasarkan konvensi hak anak. Pelaksanaan KLA di Kota Serang terhambat oleh sumberdaya yang belum semuanya paham terhadap KLA. Bappeda Kota Serang pernah melaksanakan kegiatan Peningkatan Kemampuan Teknis Aparat Perencana yang bertempat di Kota Tangerang pada tanggal 4 Mei 2018. Kegiatan tersebut adalah kegiatan pertama yang dilaksanakan dalam rangka menumbuhkan pemahaman terkait KLA dan membentuk serta
menumbuhkan nilai-nilai dalam kelembagaan Gugus Tugas KLA, yaitu kepentingan terbaik bagi anak.
Kegiatan pelatihan khusus dengan materi Konvensi Hak Anak tersebut belum diterima oleh semua OPD terkait dalam lembaga Gugus Tugas KLA, karena OPD yang mengikuti kegiatan tersebut baru beberapa saja pada OPD saja. Adapun upaya lainnya yang telah dilakukan dalam memfasilitasi penguatan sumberdaya Gugus Tugas KLA adalah sosialisasi dan kegiatan pertemuan rutin Gugus Tugas KLA berupa rapat kecil sebanyak lebih dari lima kali dan rapat besar sebanyak dua kali selama setahun. (Sumber: Wawancara dengan Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang)
Keempat, keterlibatan dunia usaha dalam pemenuhan hak anak tidak
signifikan dan tidak dilakukan secara berkelanjutan. Dunia usaha akan berinteraksi dengan anak dan memberikan dampak baik langsung ataupun tidak. Keterlibatan dunia usaha dapat berupa kebijakan, produk, penyediaan fasilitas yang layak anak, pemberdayaan keluarga dan masyarakat sekitar, penyediaan layanan dalam tumbuh kembang dan perlindungan anak, dan/atau dana. Seperti hal nya kebijakan pencegahan penggunaan tenaga kerja anak, produksi makanan yang aman, penyediaan tempat bermain, penitipan anak, pojok ASI dan Telepon Sahabat Anak atau TESA. Adapun Peraturan Daerah Kota Serang terkait CSR belum berjalan secara optimal. Banyak kendala yang dihadapi. Berikut ini adalah data peranan dunia usaha yang diketahui oleh Bappeda dalam pengembangan Kota Layak Anak di Kota Serang.
Tabel 1.1
Bentuk Keterlibatan Intsansi Swasta dalam Pengembangan Kota Layak Anak di Kota Serang
Nama Instansi Bentuk Keterlibatan
Rumah Sakit Sari Asih Menyediakan pojok ASI dan wahana bermain bagi anak
Rumah Sakit Budi Asih Ikut serta dalam kegiatan pencegahan dan penanganan pekerja terburuk anak
Carrefour cabang Serang Mengadakan kegiatan lomba mewarnai untuk anak dan adanya TBM Mall
PT Telkom Indonesia Mendirikan taman digital di Alun-alun Kota Serang Bank BJB Memberikan sumbangan dalam bentuk perbaikan
sarana dan prasarana di wilayah perkampungan
(Sumber: Bappeda Kota Serang, Dokumen Evaluasi Kota Layak Anak 2018)
Tabel 1.1 di atas, dapat dilihat bahwa peranan dunia usaha yang ada di Kota Serang yang baru diketahui oleh pihak Bappeda sebagai penilaian capaian Kota Layak Anak hanya beberapa instansi swasta dan belum sepenuhnya berjalan secara berkelanjutan dalam pengembangan Kota Layak Anak di Kota Serang. Hasil wawancara dengan Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang bahwa selebihnya peran dunia usaha hanya sebatas memberi bantuan untuk kegiatan khusus anak dengan bentuk pengajuan proposal kepada perusahaan. Selain itu tidak ada inisiatif dan kurangnya pemahaman pelaku usaha di Kota Serang terkait KLA, sehingga untuk memenuhi undangan pun tidak ada yang mengirimkan personilnya untuk ikut serta dalam sosialisasi, pengembangan, maupun evaluasi Kota Layak Anak. Pernyataan di atas menunjukan bahwa koordinasi yang terjalin antara Pemerintah Kota Serang dengan dunia usaha belum optimal dalam pengembangan Kota Layak Anak. Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak tingkat Kota pun belum terbentuk, hal ini yang merupakan tugas pemerintah Kota Serang sehingga menunjukkan peran pemerintah Kota Serang
dalam merangkul pihak swasta belum maksimal. (Sumber: wawancara dengan Kasubid Sosial Kemasyarakatan Bappeda Kota Serang).
Pemerintah Kota Serang belum menunjukan hasil yang memuaskan dalam upaya penguatan kelembagaan kota layak anak meskipun memperoleh skor yang tinggi dalam evaluasi yaitu 77,33% pada indikator penguatan kelembagaan. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijabarkan di atas menjadi alasan peneliti ingin melakukan penelitian terkait penguatan kelembagaan KLA.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Struktur Gugus Tugas KLA Kota Serang belum ideal
2. Belum adanya komitmen pada lembaga penopang KLA baik tingkat Kecamatan maupun Kelurahan
3. Masih terdapat sumberdaya di Kota Serang yang belum terlatih PUHA 4. Keterlibatan dunia usaha terhadap Pengarusutamaan Hak Anak masih
minim dan belum signifikan
1.3 Batasan Masalah
Untuk memudahkan penelitian, peneliti akan memfokuskan pada masalah dalam upaya penguatan kelembagaan KLA di Kota Serang. Lokus penelitian ini di Kota Serang, di DP3AKB Kota Serang, BAPPEDA Kota Serang, Forum Anak Kota Serang, pihak swasta sebagai dunia usaha di Kota Serang, lembaga masyarakat, serta instansi terkait yang terlibat dalam penguatan kelembagaan
gugus tugas KLA. Waktu penelitian dilaksanakan mulai dari bulan September 2018.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan ditentukan rumusan masalah yang akan dikaji adalah sebagai berikut. Bagaimana upaya Penguatan Kelembagaan Kota Layak Anak di Kota Serang?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya Penguatan Kelembagaan yang sudah dilakukan dalam Kota Layak Anak di Kota Serang.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori-teori yang telah ada dan memperkaya hasil-hasil ilmu pengetahuan.
b. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu administrasi publik
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi peneliti adalah berguna untuk menambah dan mengembangkan kemampuan peneliti dalam hal mempelajari khazanah ilmu administrasi publik dalam kaitannya dengan upaya Penguatan Kelembagaan dalam Kota Layak Anak di Kota Serang.
b. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi tambahan sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan Kota Layak Anak di Kota Serang sehingga dapat dijadikan sebagai masukan dalam proses implementasi kebijakan oleh SKPD terkait.
c. Manfaat bagi masyarakat dan pembaca adalah sebagai informasi agar membangun kesadaran masyarakat dalam memenuhi hak anak dan referensi bagi penelitian selanjutnya.
19
DASAR PENELITIAN
2.1 Landasan Teori
Teori dalam sebuah penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dan digunakan sebagai acuan analisis. Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Pengertian teori menurut Cooper dan Schindler (2003) dalam Basrowi dan Suwandi (2008:37) yang mengemukakan definisi teori sebagai berikut
“A theory is a set of systematically interrelated concepts, definiton, and
proposition that are advanced to ekplain and predict phenomena (fact)”. (Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan
meramalkan fenomena).
Maka pada bab ini peneliti akan menjelaskan beberapa teori yang berkaitan dengan masalah penelitian yang telah peneliti identifikasi, yaitu: teori
good governance dan interaksi antar stakeholder, pembangunan lembaga, dan
konsep KLA.
2.1.1 Good Governance dan Interaksi Antar Stakeholder
Menurut World Bank dalam Wasistiono (2002:30), kata governance diartikan sebagai “the way state power is used in managing economic and social resources for development society.” Dari pengertian tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa governance dapat dimaknai sebagai suatu cara, yakni cara bagaimana kekuasaan negara digunakan untuk mengelola sumber daya – sumber
daya ekonomi dan sosial guna pembangunan masyarakat. Cara disini lebih menunjukkan pada hal-hal yang bersifat teknis.
Berkaitan dengan good governance, Mardiasmo dalam Tangkilisan (2005:114) mengemukakan bahwa orientasi pembangunan sektor publik adalah menciptakan good governance, dimana pengertian dasarnya adalah kepemerintahan yang baik. Kondisi ini berupaya untuk menciptakan suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab sejalan dengan prinsip demokrasi, efesiensi, pencegahan korupsi, baik secara politik maupun administratif.
Dengan demikian good governance dapat diartikan sebagai sebuah konsep tata kelola pemerintah yang baik dan bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) sesuai dengan prinsip-prinsip good governance agar terciptanya kesejahteraan masyarakat. Tata pemerintahan tersebut mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum mereka, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan diantara mereka.
Keberhasilan penyelenggaraan good governance sangat ditentukan oleh keterlibatan dan sinergi dari ketiga pilar tersebut. Negara dalam hal ini tidak lagi menjalankan peran yang dominan dalam pemerintahan, namun peran serta sektor swasta dan masyarakat menjadi sangat penting dan saling berkesinambungan. Hal ini ditujukan dalam rangka menciptakan suatu tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
P e m e r i n t a h
S w a s t a M a s y a r a k a t
Gambar 2.1
Interaksi Antar Pelaku dalam Kerangka Kepemerintahan
(Sumber: Sedamaryanti, 2012:38)
Gambar 2.1 di atas menggambarkan adanya interaksi antar pelaku pilar-pilar good governance dalam konsep kepemerintahan, yaitu negara atau pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat yang mana adanya keterkaitan hubungan dan saling menguatkan satu sama lain. Meskipun perspektif good governance mengimplikasikan terjadinya pengurangan peran pemerintah namun
pemerintah sebagai institusi tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
2.1.1.1 Prinsip – prinsip Good Governance
Prinsip dasar yang melandasi perbedaan antara konsepsi kepemerintahan (governance) dengan pola pemerintahan yang tradisional, adalah terletak pada adanya tuntutan yang demikian kuat agar peranan pemerintah dikurangi dan peranan masyarakat (termasuk dunia usaha dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi non pemerintah) semakin ditingkatkan dan semakin terbuka aksesnya. Sedamaryanti (2012:5), mengungkapkan bahwa unsur utama
good governance, yaitu akuntabilitas (accountability), transparansi (transparency), keterbukaan (openness), dan aturan hukum (rule of law).
Prinsip-prinsip good governance dikemukakan oleh United Nations
dijadikan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan. Karakteristik dan prinsip -prinsip harus dianut dan dikembangkan dalam praktek penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance), meliputi:
1. Partisipasi (Participation)
Sebagai pemilik kedaulatan, setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian dalam proses bernegara, berpemerintahan serta bermasyarakat. Partisipasi tersebut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui institusi intermediasi, seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan lain sebagainya, sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya masing-masing. 2. Aturan hukum (Rule of Law)
Salah satu syarat kehidupan demokrasi adalah adanya penegakan hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Tanpa penegakkan hukum, orang secara bebas berupaya mencapai tujuannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, termasuk menghalalkan segala cara.
3. Transparansi (Transparency)
Keterbukaan tersebut mencakup semua aspek aktivitas yang menyangkut kepentingan publik mulai dari proses pengambilan keputusan, penggunaan dana - dana publik sampai pada tahapan evaluasi. Transparansi harus dibangun dalam rangka kebebasan.
4. Daya Tanggap (Responsiveness)
Sebagai konsekuensi dari keterbukaan, maka setiap komponen yang terlibat dalam proses pembangunan good governance perlu memiliki daya tanggap terhadap keinginan maupun keluhan para pihak yang berkepentingan (stakeholder).
5. Berorientasi Konsensus (Consensus Orientation)
Di dalam good governance, pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus yang dilanjutkan dengan kesediaan untuk konsisten melaksanakan konsensus yang telah diputuskan bersama. Inilah nilai dasar kita dalam memecahkan masalah persoalan bangsa adalah melalui musyawarah untuk mufakat. 6. Keadilan (Equity)
Melalui prinsip good governance, setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. Akan tetapi, karena kemampuan masing-masing warga negara yang berbeda-beda, maka sektor publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dan keadilan dapat berjalan sesuai dengan seiring sejalan.
7. Efektivitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency)
Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia, kegiatan ketiga domain dalam governance perlu mengutamakan efektivitas dan efesiensi dalam setiap kegiatan. Tekanan perlunya efektivitas dan efesiensi terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor publik ini menjalankan aktivitasnya secara monopolistik.
8. Akuntabilitas (Accountability)
Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu dipertanggungjawabkan kepada publik. Tanggung gugat dan tanggung jawab tidak hanya sekedar diberikan atasan saja melainkan juga pada masyarakat luas.
9. Visi Strategis (Strategic Vision)
Para pemimpin dan masyarakat memiliki prespektif yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut.
Dari berbagai prinsip di atas dapat peneliti simpulkan bahwa sistem administrasi good governance haruslah melibatkan banyak pelaku, jaringan dan institusi di luar pemerintah untuk mengelola masalah dan kebutuhan publik. Penyelesaian masalah publik selalu melibatkan multi-stakeholders dari berbagai lembaga yang terkait. Stakeholders dalam good governance memiliki kedudukan yang sama dan diikat oleh suatu prosedur yang sengaja diciptakan untuk memfasilitasi mereka dalam perumusan, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian (evaluasi) kebijakan.
2.1.2 Pembangunan Lembaga
Lembaga didefinisikan oleh Esman dalam Eaton (1986: 23) sebagai
“Suatu organisasi formal yang menghasilkan perubahan dan melindungi
perubahan, dan jaringan dukungan-dukungan yang dikembangkannya dalam lingkungan tidak diartikan sebagai pola-pola kegiatan yang normatif (umpamanya perkawinan, kontrak) atau sebagai sektor masyarakat
Pengertian lain mengenai lembaga menurut Thomas R. Dye dalam Ekowati & Casmiwati (2015: 38) adalah suatu perangkat peraturan dan organisasi yang membuat serta mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan tersebut dalam suatu hubungan yang teratur. Sedangkan Oetomo dalam Ekowati & Casmiwati (2015: 39) mengatakan bahwa lembaga adalah suatu bentuk kesatuan unsur formal (kesepakatan) beserta jaringan dukungan yang dikembangkan secara terorganisir, yang secara kontinu mempengaruhi sistem manajemen sumber daya dari suatu entitas terntentu, untuk menghasilkan dan atau melindungi perubahan.
Konteks administrasi publik, lembaga memiliki makna sebagai suatu wadah yang dirancang untuk menghasilkan perubahan. Sebuah lembaga merupakan hasil dari pembangunan lembaga, maka ketika melihat dan menilai suatu lembaga tidak bisa dipisahkan dari proses pembangunan lembaga itu sendiri. Bentuk lembaga di suatu daerah kemungkinan besar sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Lembaga yang telah terbentuk perlu didukung dengan adanya pembiayaan secara internal dan eksternal untuk perkembangan lembaga itu sendiri agar dapat bekerja optimal. (Ekowati & Casmiwati (2015: 37)
Pendekatan lembaga sebagaimana dikemukakan oleh Thomas R. Dye dalam Ekowati & Casmiwati (2015: 22) bahwa lembaga mempunyai unsur struktur organisasi, tugas pokok fungsi, mekanisme dalam organisasi dan dampak lembaga bagi masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa lembaga merupakan suatu wadah yang di dalamnya terdapat beberapa unsur yang akan menggunakan sumber daya untuk
menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Lembaga memiliki kesamaan dengan organisasi sehingga dalam penelitian ini organisasi akan dianggap sebagai sebuah lembaga.
Pembangunan lembaga menurut Esman dalam Eaton (1986:23) didefinisikan sebagai berikut:
“Adalah perubahan sosial yang direncanakan dan dibina. Ia menyangkut
inovasi-inovasi yang menyiratkan perubahan kualitatif dalam norma-norma, pola-pola kelakuan, hubungan perorangan maupun kelompok, persepsi baru mengenai tujuan maupun cara-cara. Pembagunan lembaga juga tidak bersangkutan dengan pola-pola yang sudah ada dengan penyimpangan-penyimpangan marginal dari praktek-praktek yang lalu atau dengan perbaikan-perbaikan yang sedikit saja dalam efisiensi.”
Berdasarkan pengertian di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pembangunan lembaga menggunakan inovasi yang jelas tujuannya yang harus dilakukan oleh elit-elit yang terlibat pada organisasi formal, karenanya pembangunan lembaga harus diinisiasi, difasilitasi dan dilaksanakan oleh pemerintah.
Model Pembangunan Lembaga dapat didefinisikan bahwa: Pembangunan Lembaga dapat dirumuskan sebagai perencanaan, penataan dan bimbingan dari organisasi-organisasi baru atau yang disusun kembali yang (a)mewujudkan perubahan-perubahan dalam nilai-nilai, fungi-fungsi, teknologi-teknologi fisik, dan/atau sosial, (b)menetapkan, mengembangkan, dan melindungi hubungan-hubungan normatif dan pola-pola tindakan yang baru, (c)memperoleh dukungan dan kelengkapan dalam lingkungan tersebut.
Lembaga yang diharapkan dari hasil pembangunan lembaga adalah organisasi-organisasi formal yang mendorong perubahan dan melindungi
perubahan. Definisi tersebut menjelaskan bahwa pembangunan lembaga lebih menekankan pada proses belajar bersama masyarakat dan lingkungannya karena bukanlah pemakaian teknologi sosial yang siap pakai.
Kerangka konseptual (model) yang digambarkan Esman dalam konsep pembangunan lembaga dapat disusun dalam bentuk bagan seperti di bawah ini:
Gambar 2.2
Konsep Pembangunan Lembaga (Sumber: Eaton (1986:24)
Kerangka pada gambar 2.3 di atas pada bagan 1 digunakan sebagai cara untuk mengidentifikasi metode operasional dan strategi tindakan yang dapat membantu orang atau organisasi baru dalam praktek atau membimbing dan secara aktif terlibat sebagai penghantar perubahan. Penjelasan mengenai lima variabel lembaga adalah sebagai berikut:
a. Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kelompok yang secara aktif terlibat dalam merumuskan doktrin dan program lembaga, mengarahkan aktifitas-aktifitas lembaga serta menetapkan dan membina hubungan-hubungan dengan lingkungannya. Pemimpin yang dibutuhkan setidaknya harus memiliki 4C, yaitu, concept, competence, commitment, consistent.
b. Doktrin
Doktrin merupakan nilai-nilai, tujuan-tujuan atau metode-metode operasional yang mendasari tindakan sosial yang menggambarkan citra dan harapan-harapan yang dituju. Doktrin dipandang sebagai sederetan tema yang memproyeksi baik dalam organisasi itu sendiri maupun lingkungan eksternalnya, seperangkat citra dan harapan mengenai tujuan lembaga serta termasuk gaya dan tindakan. Doktrin dikatakan berhasil apabila mampu memengaruhi pilihan nilai-nilai orang yang terdoktrin.
Variabel lembaga Kepemimpinan Doktrin Program Sumber-sumberdaya Struktur Variabel lingkungan Kaitan yang memungkinkan
Kaitan fungsional Kaitan normatif
Kaitan tersebar
c. Program
Program merujuk tindakan-tindakan tertentu yang berhubungan degan pelaksanaan dari fungsi-fungsi dan jasa-jasa yang merupakan output dari lembaga tersebut. Sehingga program adalah terjemahan dari doktrin ke dalam pola tindakan yang nyata dan alokasi sumber-sumber daya lainnya di dalam lembaga itu sendiri dan yang berhubungan dengan lingkungan ekstern. Program juga merupakan setiap kegiatan pemerintahan yang dirancang untuk mewujudkan kesejahteraan publik melalui pengelolaan barang dan layanan publik yang memenuhi hak-hak dasar manusia.
d. Sumber-sumberdaya
Sumber-sumber daya adalah masukan-masukan keuangan, fisik, manusia, teknologi dan penerangan dari lembaga tersebut. Masukan dibutuhkan oleh lembaga dalam menjalankan aktifitasnya. Sumberdaya pada umumnya adalah yang dituding menjadi kendala dalam pelaksanaan program.
e. Struktur Intern
Struktur intern dirumuskan sebagai struktur dan proses-proses yang diadakan untuk bekerja dan pemeliharaan lembaga tersebut. Pembagian dari peranan-peranan di dalam organisasi tersebut, pola-pola kewenangan internnya dan sistem-sistem komunikasi, komitmen dari orang-orangnya pada doktrin dan program dari organisasi tersebut akan mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan komitmen-komitmen yang sudah ada. Dengan demikian yang dimaksud dengan struktur intern adalah pola hubungan antar pelaku dalam pemerintahan untuk menyediakan program layanan publik yang diemban lembaga.
Adapun pendapat lain mengenai peran kepemimpinan dalam suatu lembaga menurut Makmur (2011: 157) bahwa
“Manusia sebagai jiwa atau roh struktur kelembagaan agar dapat bekerja
secara efektif dan efisien diperlukan kepemimpinan yang dapat diterima dengan baik seluruh lapisan manusia yang menduduki jabatan yang ditetapkan dalam struktur kelembagaan, itulah sebabnya bahwa peranan kepemimpinan harus memiliki kemampuan untuk membimbing, mengarahkan, dan memengaruhi para pengikutnya untuk melaksanakan perintah pimpinan yang berdasarkan dengan ketentuan kelembagaan itu
sendiri”
Pendapat di atas kita anggap tepat karena memusatkan pada kemampuan manusia untuk memimpin dengan baik. Sejalan dengan pendapat Mulyadi (2015: 139) yang menuliskan bahwa kepemimpinan efektif harus memberikan pengarahan terhadap usaha-usaha semua pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan
organisasi. Tanpa kepemimpinan atau bimbingan, hubungan antara tujuan perseorangan dan tujuan organisasi mungkin menjadi renggang.
Berdasarkan penjelasan di atas, pemahaman peneliti terkait variabel lembaga tersebut secara sederhana adalah sebagai berikut;
a. Kualitas kepeminpinan menjadi sangat penting karena kepemimpinan dalam suatu organisasi merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu lembaga dalam mengelola sumberdaya yang terbatas. b. Doktrin yang mendasari tindakan operasional pemerintah tentu harus
mewakili nilai-nilai good governance.
c. Program merupakan output dari lembaga tersebut. Program akan berhasil apabila diterima dan berdampak langsung pada masyarakat.
d. Sumber daya adalah apa yang seharusnya bisa dikelola oleh kepeimpinan yang baik agar mencapai tujuan dengan efisien.
e. Struktur intern adalah susunan dan pola komunikasi lembaga itu sendiri yang harus disesuaikan dengan kebutuhan lembaga agar efektif.
Adapun kelompok variabel lingkungan yang terdiri dari empat sub variabel kaitan memiliki penjelasan sebagai berikut:
a. Kaitan yang memungkinkan
Adalah kaitan yang menghubungkan lembaga tersebut dengan organisasi-organisasai, kelompok-kelompok dan individu-individu yang mengontrol alokasi kewenangan dan alokasi sumber daya yang memungkinkan lembaga tersebut untuk beroprasi dan berlanjut.
b. Kaitan fungsional
Adalah kaitan yang menghubungkan lembaga dengan organisasi yang menjalankan fungsi dan jasa yang merupakan pelengkap dalam arti produksi yang menyediakan masukan dan menggunakan keluaran dari lembaga tersebut.
c. Kaitan normatif
Adalah kaitan yang menghubungkan nilai-nilai lembaga dengan nilai-nilai lingkungannya. Kaitan normatif ini diperlukan terutama bagi lembaga-lembaga yang membawa nilai-nilai baru karena dapat memeroleh dukungan atau tantangan.
d. Kaitan tersebar
Adalah kaitan yang menghubungkan lembaga dengan unsur-unsur dalam masyarakat yang tidak dapat diidentifikasi dengan jelas oleh keanggotaan dalam organisasi formal.
Kelembagaan dalam konsep Esman dalam Eaton (1986:31) adalah hasil akhir dari usaha pembangunan lembaga, sehingga kelembagaan merupakan standar yang dijadikan untuk menilai keberhasilan dari usaha-usaha pembangunan lembaga. Di bawah ini dipaparkan beberapa yang termasuk ke dalam prinsip-prinsip dasar dari kelembagaan, yaitu sebagai berikut:
a. Harus ada norma-norma dan pola-pola tindakan yang baru di dalam organisasi maupun dalam lingkungannya.
b. Baik organisasi maupun inovasi-inovasi yang diwakilinya harus melembaga, dinilai dalam lingkungan. Hal ini berarti bahwa organisasi maupun inovasi-inovasi yang dibantu perkembangannya dimasukkan dengan nilai yang melebihi persyaratan teknik dari pekerjaan yang sedang dilakukan.
c. Nilai intrinsik yang diperoleh dengan cara demikian dapat dipandang sebagai suatu sumberdaya yang memungkinkan para penghantar perubahan untuk mencapai tujuan-tujuannya dengan biaya yang berkurang karena komitmen dari sifat dan citra yang menguntungkan yang diproyeksi dalam lingkungan.
Kelembagaan sebagai keadaan akhir menurut Esman dalam Eaton (1896:40) berarti bahwa organisasi dan inovasi-inovasinya telah diterima dan didukung oleh lingkungan eksternnya. Lingkungan telah menyesuaikan dirinya pada inovasi-inovasi tersebut lebih daripada organisasi telah menyesuaikan dirinya pada lingkungan aslinya.
Keadaan-keadaan akhir dari proses pembangunan lembaga secara umum berdasarkan buku pembangunan lembaga Eaton (1986:41) harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Kemampuan teknis yaitu kemampuan untuk memberikan jasa-jasa teknis yang adalah inovasi-inovasi bagi masyarakat pada tingkat kompetensi yang makin bertambah
b. Komitmen-komitmen normatif adalah sejauh mana gagasan-gagasan, hubungan-hubungan dan praktek-praktek inovatif yang diperjuangkan organisasi tersebut telah diresapi oleh stafnya
c. Dorongan inovatif yaitu kemampuan dari lembaga untuk melanjutkan mengadakan inovasi sehingga teknologi-teknologi dan pola-pola kelakuan baru yang diperkenalkannya tidak akan membeku dan kaku dalam bentuk aslinya, tetapi lembaga dapat belajar terus-menerus dan menyesuaikan diri terhadap kesempatan-kesempatan teknologis dan politis yang baru
d. Citra lingkungan yaitu sejauh mana lembaga dipandang berharga dan me-nguntungkan dalam masyarakat.
e. Efek sebaran yaitu tingkat sejauh mana teknologi-teknologi, norma-norma atau pola-pola kelakuan yang inovatif yang diperjuangkan oleh lembaga telah diterima dan terpadu ke dalam kegiatan yang sedang berjalan dari organisasi-organisasi yang lainnya.
Sedangkan yang dimaksud kelembagaan oleh Makmur (2011: 150) adalah
“Suatu sistem jaringan kerja yang menggambarkan suatu kesatuan yang
utuh dan saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai suatu tujuan dalam sebuah institusi pemerintah maupun swasta dalam rangka menciptakan alat kepuasan hidup manusia secara keseluruhan dengan berdasarkan etika dan estetika yang telah disepakati
sebelumnya untuk dijadikan pedoman kerja dan jaringan pergaulan”.
Berdasarkan pemahaman peneliti bahwa lembaga, pembangunan lembaga, dan kelembagaan adalah 3 hal yang berbeda maknanya dalam penelitian ini namun semua saling berhubungan dalam mencapai tujuan yaittu membangun organisasi agar tetap hidup dengan mendukung inovasi untuk menghadapi perubahan sosial. Secara sederhana peneliti menyimpulkan bahwa setiap lembaga jika melakukan usaha pembangunan lembaga maka akan menghasilkan kelembagaan yang siap berorientasi pada perubahan.
2.1.3 Konsep Penguatan Kelembagaan
Penguatan kelembagaan KLA sebagai upaya merupakan bagian dari pembangunan lembaga dan pengembangan kapasitas kelembagaan. Oleh karena itu, konsep penguatan kelembagaan dalam penelitian ini adalah menggabungkan teori Pembangunan Lembaga dan Pengembangan Kapasitas dimana penguatan
kelembagaan dalam KLA dilihat dari variabel lembaga menurut Esman (dalam Eaton 1986:24) dan dimensi pengembangan kapasitas menurut Grindle (dalam Saleh, et.al. 2013: 44). Pengembangan kapasitas menurut Grindle (dalam Saleh,
et.al. 2013: 37) bahwasanya inti dari pada pengembangan kapasitas itu adalah
peningkatan kemampuan. Konsep pengembangan kapasitas secara umum merupakan serangkaian strategi yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan responsivitas dari kinerja individu, kelompok atau organisasi serta sistem dengan memfokuskan pada beberapa dimensi, diantaranya sebagai berikut:
1. Pengembangan sumberdaya manusia 2. Penguatan organisasi
3. Reformasi kelembagaan
Penjelasan dari ketiga unsur di atas dituangkan ke dalam tabel berikut: Tabel 2.1 Dimensi dan Fokus Pengembangan Kapasitas
Dimensi Fokus Tipe Kegiatan
Pengembangan manusia
Pengadaan atau penyediaan personel yang profesional dan teknis
Training, pemberian gaji/upah, pengaturan kondisi dan lingkungan kerja, sistem rekrutmen yang tepat Penguatan
organisasi
Sistem manajemen untuk
memperbaiki kinerja dari fungsi-fungsi dan tugas-tugas yang ada dan pengaturan struktur mikro
Menata sistem insentif, pemanfaatan personel yang ada, kepemimpinan, komunikasi, dan struktur manajerial.
Reformasi kelembagaan
Perubahan sistem dan institusi-institusi yang ada, pengaruh struktur makro
Perubahan aturan main dari sistem ekonomi dan politik yang ada, perubahan kebijakan dan aturan hukum, serta reformasi sistem kelembagaan yang dapat mendorong pasar dan berkembangnya masyarakat madani.
Uraian di atas memberikan pemahaman peneliti bahwa pembangunan lembaga dan pengembangan kapasitas merupakan upaya yang sama-sama mengarah pada perubahan ke arah yang lebih baik. Pembangunan lembaga maupun pengembangan kapasitas dilaksanakan pada organisasi baik pemerintah maupun swasta. Secara sederhana peneliti menyimpulkan bahwa konsep penguatan kelembagaan tidak sama dengan pembangunan lembaga maupun pengembangan kapasitas, namun keduanya dapat digunakan sebagai cara untuk melakukan upaya dalam penguatan kelembagaan.
2.1.4 Konsep Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA)
Kota Layak Anak merupakan istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2005 melalui kebijakan Kota Layak Anak. Dalam kebijakan tersebut digambarkan bahwa Kota Layak Anak merupakan upaya Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mempercepat inplementasi Konvensi Hak Anak dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan intervensi pembangunan seperti kebijakan, intuisi, dan program yang layak anak.
Kota Layak Anak menurut UNICEF Innocenti Research Centre adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warta kota. Sebagai warga kota, berarti keputusannya mempengaruhi kota, berhak mengekspresikan pendapat mereka tentang kota yang mereka inginkan, dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga, komuniti, dan sosial, menerima pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, emdapatkan air minum segar dan mempunyai akses terhadap sanitasi yang baik, melindungi dari eksploitasi, kekejaman, dan perlakuan salah, aman
berjalan di jalan, bertemu dan bermain dengan temannya, mempunyai ruang hijau untuk tanaman dan hewan, hidup dilingkungan yang bebas polusi, berperan serta dalam kegiatan budaya dan sosial, dan setiap warga secara seimbang dapat mengakses setiap pelayanan, tanpa memperharikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender, dan kecacatan.
Konferensi Hak Anak berdasarkan materi hukumnya mengatur mengenai hak-hak anak dan mekanisme implementasi hak anak oleh negara pihak yang merativikasi KHA tersebut. Materi hukum mengenai hak-hak anak dalam KHA tersebut dapat dikelompokan dalam 4 kategori hak-hak anak yaitu :
1. Hak terhadap kelangsungan hidup (survival rights), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi hak untuk melestarikan dan mepertahankan hidup (the rights of life).
2. Hak terhadap perlindungan (protection rights) yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi hak perlindungan dari diskriminasi, tindak kekerasan, dan keterlantaran bagi anak yang tidak mempunyai keluarga dan anak-anak pengungsi.
3. Hak untuk tumbuh kembang (development rights), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, moral, dan sosial anak.
4. Hak anak berpartisipasi (participation rights), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi hak anak untuk menyelamatkan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak.
KLA bertujuan untuk membangun inisiatif pemerintahan kabupaten/kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan, dalam bentuk : kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak-hak anak, pada suatu wilayah kabupaten/kota.
Menurut Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No 12 Tahun 2011 Tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak, bahwa
untuk mencapai Kabupaten/Kota yang layak bagi anak harus memenuhi 5 Klaster. Klaster Hak Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b meliputi:
A. Hak sipil dan kebebasan. Sebagai mana yang dimaksud meliputi :
- Persentase anak yang teregistrasi dan mendapatkan Kutipan Akta Kelahiran;
- Tersedia fasilitas informasi layak anak; dan
- Jumlah kelompok anak, termasuk Forum Anak, yang ada di Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan.
B. Lingkungan Keluarga Dan Pengasuhan Alternatif;
- Persentase usia perkawinan pertama di bawah 18 (delapan belas) tahun;
- Tersedia lembaga konsultasi bagi orang tua/keluarga tentang pengasuhan dan Perawatan anak; dan
- Tersedia lembaga kesejahteraan sosial anak. C. Kesehatan Dasar Dan Kesejahteraan;
- Angka Kematian Bayi;
- Prevalensi kekurangan gizi pada balita; - Persentase Air Susu Ibu (ASI) eksklusif; - Jumlah Pojok ASI;
- Persentase imunisasi dasar lengkap;
- Jumlah lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan reproduksi dan mental;
- Jumlah anak dari keluarga miskin yang memperoleh akses peningkatan kesejahteraan; persentase rumah tangga dengan akses air bersih; dan - Tersedia kawasan tanpa rokok.
D. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya; - Angka partisipasi pendidikan anak usia dini;
- Persentase wajib belajar pendidikan 12 (dua belas) tahun; - Persentase sekolah ramah anak;
- Jumlah sekolah yang memiliki program, sarana dan prasarana perjalanan anak ke dan dari sekolah; dan
- Tersedia fasilitas untuk kegiatan kreatif dan rekreatif yang ramah anak, di luar sekolah, yang dapat diakses semua anak.
E. Perlindungan Khusus.
- Persentase anak yang memerlukan perlindungan khusus dan memperoleh pelayanan; persentase kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang diselesaikan dengan pendekatan keadilan restoratif (restorative justice);
- Adanya mekanisme penanggulangan bencana yang memperhatikan kepentingan anak; dan
- Persentase anak yang dibebaskan dari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk anak.
Konsep mengenai Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak meliputi latar belakang KLA, Pengertian KLA, Tujuan KLA, prisnip, strategi, dan ruang lingkup KLA, alur pikir KLA dan langkah-langkah pengembangan KLA, serta hak-hak anak.
Peraturan Menteri Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 dalam menuju Kabupaten/Kota Layak Anak menyebutkan 31 indikator Kota Layak Anak untuk mengukur pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak diantaranya, yaitu:
a. Penguatan Kelembagaan
1. Adanya peraturan perundang-undangan dan kebijakan untuk pemenuhan hak anak
2. Presentase anggaran untuk pemenuhan hak anak termasuk anggaran untuk penguatan kelembagaan
3. Jumlah peraturan perundang-undangan, kebijakan, program dan kegiatan yang mendapatkan masukan dari forum anak dan kelompok anak lainnya 4. Tersedia sumberdaya manusia terlatih KHA dan mampu menerapkan hak
anak ke dalam kebijakan, program dan kegiatan
5. Tersedia data anak terpilah menurut jenis kelamin, umur, dan kecamatan 6. Keterlibatan lembaga masyarakat dalam pemenuhan hak anak
7. Keterlibatan dunia usaha dalam pemenuhan hak anak b. Hak Sipil Dan Kebebasan
8. Akta Kelahiran
9. Informasi Layak Anak 10. Partisipasi Anak
c. Lingkungan Keluarga Dan Pengasuhan Alternatif 11. Perkawinan Anak
12. Lembaga Konsultasi bagi Orangtua/Keluarga 13. Lembaga kesejahteraan sosial anak
d. Kesehatan Dasar Dan Kesejahteraan 14. Angka kematian bayi
15. Prevalensi Gizi balita 16. ASI eksklusif
17. Pojok ASI
18. Imunisasi dasar lengkap
19. Layanan kesehatan reproduksi dan mental 20. Akses peningkatan kesejahteraan
21. Akses air bersih