• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Karakteristik Responden

Dalam dokumen TESIS. Oleh : CUT APRILIZA NOVITA (Halaman 66-76)

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Karakteristik Responden

Penelitian ini bersifat kuasi eksperimen yang dilakukan di Poliklinik Mata dan Bagian Bedah Onkologi RS Murni Teguh Medan dari bulan Januari – Juli 2020. Total subjek penelitian berjumlah 60 orang (120 mata), dimana semua sampel telah dipastikan memenuhi kriteria inklusi. Dari sebelumnya sebanyak 63 orang yang termasuk dalam subjek penelitian, pada penelitian ini didapatkan sebanyak 3 orang dengan kasus drop out karena tidak datang saat pemeriksaan kedua maupun ketiga saat penelitian. Berdasarkan data dari subjek penelitian diperoleh data yang disajikan dalam bentuk tabulasi. Pada subjek penelitian dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan, pemeriksaan Slit lamp biomicrocopy, Amsler Grid Test, Farnworth Munseel 100 Hue Test, dan Ullman Indirect untuk melihat perubahan retina, makula dan saraf optik pada pasien kanker payudara sebelum, sesudah menjalani kemoterapi dan 3 minggu setelah menjalani kemoterapi menggunakan agen kemoterapi kombinasi Doxorubicin-Paclitaxel dan Cisplastin-Paclitaxel

Tabel 4.1.1 Distribusi Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik Jumlah

Pada tabel 4.1.1 diatas menjelaskan bahwa subjek dengan agen kemoterapi Doxorubicin-Paclitaxel sebanyak 31 orang (51,7%) dan subjek yang menggunakan agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel sebanyak 29 orang (48,3%) dengan total subjek sebanyak 60 orang (100%). Subjek dengan usia 35-49 tahun sebanyak 36 orang (60,0%), subjek dengan usia 50-69 tahun sebanyak 24 orang

(40,0%), Subjek dengan lamanya menderita penyakit kanker payudara 0-12 bulan sebanyak 46 orang (76,7%). Subjek dengan lamanya menderita penyakit kanker payudara 13-24 bulan sebanyak 6 orang (10%). Subjek dengan lamanya menderita penyakit kanker payudara 25-36 bulan sebanyak 8 orang (13,3%).

Tabel 4.1.2 Distribusi Karakteristik Visual Acuity (Tajam Penglihatan)

Pada tabel 4.1.2 diatas dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara tajam penglihatan sebelum kemoterapi (Visual Acuity H0) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,408 > α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa tajam penglihatan (visus) pada subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin - Paclitaxel didapatkan datadengan visual acuity kategori baik (6/6 – 6/12) sebanyak 35 mata (46,7%), dengan visus kategori ringan (< 6/12 – 6/18) sebanyak 4 mata (50,0%), dengan visus kategori sedang (< 6/18 – 6/60) sebanyak 14 mata (63,6%), visus kategori berat (< 6/60 - 3/60) sebanyak 9 mata (64,3%) Sedangkan tajam penglihatan pada subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Cisplastin-Paclitaxel didapatkan datadengan visual acuity kategori baik (6/6 – 6/12) sebanyak 40 mata (53,3%), dengan visus kategori ringan (< 6/12 – 6/18) sebanyak 4 mata (50,0%), dengan visus kategori sedang (< 6/18 – 6/60) sebanyak 8 mata (36,4%), visus kategori buruk (< 6/60 - 3/60) sebanyak 5 mata (35,7%), dan visus kategori buta (< 3/60) sebanyak 1 mata(100%).

Pada tabel 4.1.2 diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara Visual Acuity H1 terhadap agen kemoterapi (p.=0,070 > α=0,05). tajam penglihatan pada subjek sesudah menjalani kemoterapi (H1) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan

datadengan visual acuity kategori baik (6/6 – 6/12) sebanyak 40 mata (48,2%), dengan visus kategori ringan (< 6/12 – 6/18) sebanyak 5 mata (50,0%), dengan visus kategori sedang (< 6/18 – 6/60) sebanyak 10 mata (83,3%), visus kategori berat (< 6/60 - 3/60) sebanyak 5 mata (35,7%) Sedangkan tajam penglihatan pada subjek setelah menjalani kemoterapi (H1) dengan pemberian Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data dengan visual acuity kategori baik (6/6 – 6/12) sebanyak 43 mata (51,8%), dengan visus kategori ringan (< 6/12 – 6/18) sebanyak 5 mata (50,0%), dengan visus kategori sedang (< 6/18 – 6/60) sebanyak 2 mata (16,7%), visus kategori buruk (< 6/60 - 3/60) sebanyak 5 mata (41,7%), dan visus kategori buta (< 3/60) sebanyak 3 mata(100%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Chi Square didapatkan tidak terdapat hubungan antara Visual Acuity H2 terhadap agen kemoterapi (p. = 0,044 > α = 0,05). Tajam penglihatan pada subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan visual acuity kategori baik (6/6 – 6/12) sebanyak 39 mata (45,3%), dengan visus kategori ringan (< 6/12 – 6/18) sebanyak 3 mata (60,0%), dengan visus kategori sedang (< 6/18 – 6/60) sebanyak 15 mata (83,3%), visus kategori berat (< 6/60 - 3/60) sebanyak 5 mata (50,0%) Sedangkan tajam penglihatan pada subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data dengan visual acuity kategori baik (6/6 – 6/12) sebanyak 47 mata (54,7%), dengan visus kategori ringan (< 6/12 – 6/18) sebanyak 2 mata (40,0%), dengan visus kategori sedang (< 6/18 – 6/60) sebanyak 3 mata (16,7%), visus kategori buruk (< 6/60 - 3/60) sebanyak 5 mata (50,0%), dan visus kategori buta (< 3/60) sebanyak 1 mata(100%).

Tabel 4.1.3 Distribusi Karakteristik Tekanan Intraokular

Pada tabel 4.1.3 diatas dapat dilihat bahwa dengan uji Fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara tekanan intraokular sebelum kemoterapi (TIOH0) terhadap kedua agen kemoterapi (p. = 1,000 > α = 0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa tekanan intraokular pada subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datayang memiliki nilai tekanan intraokular lower (< 10 mmHg) sebanyak 1 mata (100%), dan memiliki nilai tekanan intraokular normal (10 - 21 mmHg) sebanyak 61 mata (51,3%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki nilai tekanan intraokular lower (< 10 mmHg) sebanyak 0 mata (0%), dan memiliki nilai tekanan intraokular normal (10 - 21 mmHg) sebanyak 58 mata (48,7%).

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa dengan uji fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara tekanan intraokular sesudah kemoterapi (TIOH1) terhadap kedua agen kemoterapi (p. = 0,483 > α = 0,05).

Tekanan intraokular pada subjek sesudah menjalani kemoterapi (H1) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datayang memiliki nilai tekanan intraokular lower (< 10 mmHg) sebanyak 0 mata (0%), dan memiliki nilai tekanan intraokular normal (10-21 mmHg) sebanyak 62 mata (52,1%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki nilai tekanan intraokular lower (< 10 mmHg) sebanyak 1 mata (100%), dan memiliki nilai tekanan intraokular normal (10-21 mmHg) sebanyak 57 mata (47,9%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara tekanan intraokular 3 minggu setelah kemoterapi (TIOH2) terhadap kedua agen kemoterapi (p. = 1,000 > α = 0,05).

Tekanan intraokular pada subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datayang memiliki nilai tekanan intraokular lower (< 10 mmHg) sebanyak 1 mata (100%), dan memiliki nilai tekanan intraokular normal (10 - 21 mmHg) sebanyak 61 mata (51,3%).

Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki nilai tekanan intraokular lower (< 10 mmHg) sebanyak 0 mata

(0%), dan memiliki nilai tekanan intraokular normal (10 - 21 mmHg) sebanyak 58 mata (48,7%).

Tabel 4.1.4 Distribusi Karakteristik Hasil Amsler Grid

Pada tabel 4.1.4 diatas dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara hasil Amsler Grid test sebelum kemoterapi (Amsler H0) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,207 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa hasil amsler grid test pada subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan data dengan hasil normal sebanyak 55 mata (51,4%), dengan Metamorphopsia sebanyak 7 mata (70,0%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal sebanyak 52 mata (48,6%), dengan Metamorphopsia sebanyak 3 mata (30,0%), dengan Scotoma sebanyak 2 mata (100%) dan dengan Metamorphopsia dan Scotoma sebanyak 1 mata (100%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara hasil Amsler Grid test sesudah kemoterapi (Amsler H1) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,490 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa hasil amsler grid test pada subjek sesudah menjalani kemoterapi (H1) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan data dengan hasil normal sebanyak 60 mata (52,2%), dengan Metamorphopsia sebanyak 1 mata (33,3%), dengan Metamorphopsia disertai Macropsia sebanyak 1 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal sebanyak 55 mata (47,8%), dengan Metamorphopsia sebanyak 2 mata (66,7%) dan dengan Scotoma sebanyak 1 mata (100%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara hasil Amsler Grid test 3 minggu setelah kemoterapi (Amsler H2) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,232 >

α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa hasil amsler grid test pada subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan data hasil normal sebanyak 62 mata (52,5%), Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal sebanyak 56 mata (47,5%) dan dengan Metamorphopsia sebanyak 2 mata (100%).

Tabel 4.1.5 Distribusi Karakteristik Hasil Farnworth Munsell (FM ) 100 Hue Test

Pada tabel 4.1.5 diatas dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara hasil FM 100 Hue test sebelum kemoterapi (FM 100 H0) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,190 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa hasil FM 100 Hue test pada subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan hasil Low sebanyak 22 mata (64,7%), dengan hasil Average sebanyak 32 mata (45,7%), dengan hasil Superior sebanyak 8 mata (50,0%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil Low sebanyak 12 mata (35,3%), dengan hasil Average sebanyak 38 mata (54,3%), dengan hasil Superior sebanyak 8 mata (50,0%).

Pada tabel diatas dapat juga dilihat bahwa dengan uji Chi square terdapat hubungan yang signifikan antara hasil FM 100 Hue test sesudah kemoterapi (FM 100 H1) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,001 > α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa hasil FM 100 Hue test pada subjek sesudah menjalani

kemoterapi (H1) dengan pemberian Doxorubicin-paclitaxel didapatkan data dengan hasil Low sebanyak 20 mata (83,3%), dengan hasil Average sebanyak 32 mata (41,0%), dengan hasil Superior sebanyak 10 mata (55,6%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-paclitaxel didapatkan data dengan hasil Low sebanyak 4 mata (16,7%), dengan hasil Average sebanyak 46 mata (59,0%), dengan hasil Superior sebanyak 8 mata (44,4%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara hasil FM 100 Hue test 3 minggu setelah kemoterapi (FM 100 H2) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,790 >

α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa hasil FM 100 Hue test pada subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan hasil Low sebanyak 6 mata (50,0%), dengan hasil Average sebanyak 40 mata (54,1%), dengan hasil Superior sebanyak 16 mata (47,1%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil Low sebanyak 6 mata (50,0%), dengan hasil Average sebanyak 34 mata (45,9%), dengan hasil Superior sebanyak 18 mata (52,9%).

Tabel 4.1.6 Distribusi Karakteristik Retina

Pada tabel 4.1.6 diatas dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik retina sebelum kemoterapi (Retina H0) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,080 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa karakteristik retina pada subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan hasil normal sebanyak 47 mata (61,0%), dengan perdarahan retina (Hemorrhage) sebanyak 2 mata (40,0%), dengan perubahan pigmen / pigmentary

changes pada retina sebanyak 8 mata (33,3%), dengan (perubahan pigmen) pigmentary changes disertai adanya perdarahan retina (hemorrhage) sebanyak 4 mata (33,3%) dan dengan perdarahan retina (Hemorrhage) disertai Cotton Wool Spot (CWS) sebanyak 1 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal sebanyak 30 mata (39,0%), dengan perdarahan retina (Hemorrhage) sebanyak 3 mata (60,0%), dengan perubahan pigmen (pigmentary changes) pada retina sebanyak 16 mata (66,7%), dengan (perubahan pigmen) pigmentary changes disertai adanya perdarahan retina (hemorrhage) sebanyak 8 mata (66,7%) dan dengan Perdarahan retina (Hemorrhage), Cotton Wool Spot (CWS) disertai pigmentary changes sebanyak 1 mata (100%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Chi square terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik retina sesudah kemoterapi (Retina H1) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,029 > α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa retina subjek sesudah menjalani kemoterapi (H1) dengan pemberian agen kemoterapi Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan hasil normal sebanyak 37 mata (56,1%), dengan perdarahan retina (Hemorrhage) sebanyak 8 mata (80,0%), dengan perubahan pigmen / pigmentary changes pada retina sebanyak 11 mata (31,4%), dengan (perubahan pigmen) pigmentary changes disertai adanya perdarahan retina (hemorrhage) sebanyak 5 mata (62,5%) dan dengan Cotton Wool Spot (CWS) sebanyak 1 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin -paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal sebanyak 29 mata (43,9%), dengan perdarahan retina (Hemorrhage) sebanyak 2 mata (20,0%), dengan perubahan pigmen (pigmentary changes) pada retina sebanyak 24 mata (68,6%) dan dengan (perubahan pigmen) pigmentary changes disertai adanya perdarahan retina (hemorrhage) sebanyak 3 mata (37,5%).

Pada tabel 4.1.6 diatas juga dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square tidak terdapat hubungan antara karakteristik retina 3 minggu setelah kemoterapi (Retina H2) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,411 > α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa retina subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin-paclitaxel didapatkan datadengan hasil normal

sebanyak 42 mata (55,3%), dengan perdarahan retina (Hemorrhage) sebanyak 4 mata (66,7%), dengan perubahan pigmen / pigmentary changes pada retina sebanyak 12 mata (38,7%), dengan (perubahan pigmen) pigmentary changes disertai adanya perdarahan retina (hemorrhage) sebanyak 3 mata (50,0%) dan dengan perdarahan retina (Hemorrhage), pigmentary changes disertai Cotton Wool Spot (CWS) sebanyak 1 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal sebanyak 34 mata (44,7%), dengan perdarahan retina (Hemorrhage) sebanyak 2 mata (33,3%), dengan perubahan pigmen (pigmentary changes) pada retina sebanyak 19 mata (61,3%) dan dengan (perubahan pigmen) pigmentary changes disertai adanya perdarahan retina (hemorrhage) sebanyak 3 mata (50,0%).

Tabel 4.1.7 Distribusi Karakteristik Makula

Pada tabel 4.1.7 diatas dapat dilihat bahwa dengan uji Fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik makula sebelum kemoterapi (Makula H0) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,779 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa makula subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin-paclitaxel didapatkan data dengan hasil normal makula sebanyak 54 mata (50,9%), dengan edema makula sebanyak 8 mata (51,7%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal makula sebanyak 52 mata (49.1%), dengan edema makula sebanyak 6 mata (42,9%).

Pada tabel diatas dapat juga dilihat bahwa dengan uji fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik makula sesudah kemoterapi (Makula H1) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,056 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa makula subjek sesudah mendapatkan kemoterapi (H1) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan data dengan hasil

normal makula sebanyak 61 mata (54,0%), dengan edema makula sebanyak 1 mata (14,3%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal makula sebanyak 52 mata (46,0%), dengan edema makula sebanyak 6 mata (85,7%).

Pada tabel 4.1.7 diatas dapat juga dilihat bahwa dengan uji Fisher exact test didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik makula sesudah kemoterapi (Makula H2) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,110 > α=0,05).

Tabel diatas menjelaskan bahwa makula subjek 3 minggu sesudah mendapatkan kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan data dengan hasil normal makula sebanyak 62 mata (53,0%), Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal makula sebanyak 55 mata (47,0%), dengan edema makula sebanyak 3 mata (100%).

Tabel 4.1.8 Distribusi Karakteristik Saraf Mata (Optic Nerve Head - ONH)

Pada tabel 4.1.8 dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik saraf mata (Optic Nerve Head - ONH) sebelum kemoterapi (ONH H0) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,212 >

α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa Saraf mata (ONH) subjek sebelum menjalani kemoterapi (H0) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan hasil normal ONH sebanyak 57 mata (52,3%), dengan Grade 1. Very early papilledema sebanyak 3 mata (33,3%) dan dengan Grade 3. Moderate papilledema sebanyak 2 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal ONH sebanyak 52 mata (47,7%) dan dengan Grade 1. Very early papilledema sebanyak 6 mata (66,7%).

Pada tabel diatas dapat dilihat juga bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik saraf mata (Optic Nerve Head-ONH) sesudah kemoterapi (ONH H1) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,279 > α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa Saraf mata (ONH) subjek sesudah menjalani kemoterapi (H1) dengan pemberian Doxorubicin-Paclitaxel didapatkan datadengan hasil normal ONH sebanyak 55 mata (51,9%), dengan Grade 1. Very early papilledema sebanyak 4 mata (36,4%), dengan Grade 2. Early papilledema sebanyak 1 mata (100%) dan dengan Grade 3. Moderate papilledema sebanyak 2 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal ONH sebanyak 51 mata (48,1%) dan dengan Grade 1. Very early papilledema sebanyak 7 mata (63,3%).

Pada tabel 4.1.8 juga dapat dilihat bahwa dengan uji Chi square didapatkan tidak terdapat hubungan antara karakteristik saraf mata (Optic Nerve Head-ONH) 3 minggu setelah kemoterapi (ONH H2) terhadap kedua agen kemoterapi (p.=0,386 > α=0,05). Tabel diatas menjelaskan bahwa karakteristik Saraf mata (ONH) subjek 3 minggu setelah menjalani kemoterapi (H2) dengan pemberian Doxorubicin- Paclitaxel didapatkan datadengan hasil normal ONH sebanyak 58 mata (50,9%), dengan Grade 1. Very early papilledema sebanyak 2 mata (50,0%) dan dengan Grade 3. Moderate papilledema sebanyak 2 mata (100%). Sedangkan dengan pemberian agen kemoterapi Cisplastin-Paclitaxel didapatkan data yang memiliki hasil normal ONH sebanyak 56 mata (49,1%) dan dengan Grade 1. Very early papilledema sebanyak 2 mata (50,0%).

Dalam dokumen TESIS. Oleh : CUT APRILIZA NOVITA (Halaman 66-76)