BAB III STUDI KASUS POLEMIK DUALISME KEWARGANEGARAAN ARCHANDRA
3.2 Deskripsi Kasus
Dalam perkembangan kasus dualisme kewarganegaraan Archandra Tahar didapatkan fakta bahwa Archandra Tahar memiliki paspor AS. Dalam UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia dijelaskan pada pasal 23 yang berisi:
Warga Negara Indonesia telah kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan: a) Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauan sendiri;
b) Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu;
c) Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan;
d) Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presdien;
59 e) Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia;
f) Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut;
g) Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing;
h) Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku di negara lain atas namanya; atau
i) Bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan, sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.
Jelas dalam UU tersebut seseorang dapat kehilangan kewarganegaraannya apabila memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauan dirinya sendiri. Dalam kasus Archandra Tahar belum dapat dipastikan apakah ada unsur pemaksaan pada Archandra dalam melakukan sumpah kesetiaan negara AS. Tetapi dapat kita ketahui bahwa Archandra Tahar memperoleh kewarganegaraan AS pada tahun 2012 hal itu mengindikasikan bahwa Archandra Tahar secara sukarela tanpa adanya unsur paksaan dalam melakukan sumpah kesetiaan pada AS. Dengan berpedoman pada UU Nomor 12 Tahun 2006 maka dapat disimpulkan bahwa Archandra Tahar telah kehilangan kewarganegaraan Indonesia.
Sangat disayangkan dalam pengangkatan Archandra Tahar sebagai menteri ESDM, pemerintah tidak terlebih dahulu melakukan investigasi yang cukup valid sehingga tidak terjadi pengangkatan menteri yang bukan warga negara Indonesia. Selain itu, Archandra tahar tidak berkata jujur bahwa dia memiliki dua kewarganegaraan. Jika kita mengacu pada Undang-undang yang mengatur pengangkatan dan pemberhentian menteri, yaitu UU Nomor 39 Tahun 2008 pasal 22 mengatakan bahwa:
1. Menteri diangkat oleh Presiden.
2. Untuk dapat diangkat menjadi Menteri, seseorang harus memnuhi persyaratan: a. Warga negara Indonesia;
60 c. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita proklamasi kemerdekaan; d. Sehat jasmani dan rohani;
e. Memiliki integritas dan kepribadian yang baik; dan
f. Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
Dalam UU diatas untuk dapat diangkat menjadi menteri, seseorang harus memenuhi persyaratan sebagai warga negara Indonesia. Dengan melihat UU tersebut maka semestinya Archandra Tahar tidak dapat diangkat menjadi menteri ESDM karena telah kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Dalam perkembangannya pada akhirnya presiden RI memberhentikan menteri Archandra Tahar setelah menjabat selama 20 hari dan hal tersebut merupakan jabatan menteri tersingkat di Indonesia. Setelah Archandra Tahar diangkat menjadi menteri ESDM berdasarkan The Immigration and Nationality Act (INA), pasal 349a ayat (4) seorang warga negara Amerika Serikat kehilangan kewarganegaraannya itu jika ia menjadi pejabat pemerintahan di negara asing, dan untuk jabatannya itu ia telah mengambil sumpahnya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Archandra Tahar melainkan memiliki status stateless bukan lagi dwi kewarganegaraan.
Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengambil keputusan bahwa status stateless di Indonesia tidak diperbolehkan. Dalam perkembangan kasus Archandra Tahar muncul pemikiran pemerintah untuk melakukan naturalisasi pada Archandra Tahar sehingga Archandra dapat kembali memiliki kewarganegaraan Indonesia. Menurut UU Nomor 12 Tahun 2006 pasal 9 tentang tata cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin;
b) Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indoensia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut;
c) Sehat jasmani dan rohani;
d) Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945;
e) Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih;
61 f) Jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi
berkewarganegaraan ganda;
g) Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap; dan h) Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.
Mengingat sebelum dilantik sebagai menteri Archandra Tahar telah lama menetap di AS maka syarat waktu tinggal pada UU Nomor 12 Tahun 2006 pasal 9 poin b tidak dapat terpenuhi sehingga apabila tetap dilakukan pengajuan naturalisasi, maka dapat melanggar hukum. Akan tetapi Menkumham telah menerbitkan SK tentang kewarganegaraan Republik Indonesia atas nama Archandra Tahar berdasarkan kepada Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2007 yang berisi:
Pasal 13
1. Presiden dapat memberikan Kewarganegaraan Republik Indonesia kepada orang Asing yang telah berjasa kepada negara Republik Indonesia setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda.
2. Kewarganegaraan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Orang Asing yang karena prestasinya luar biasa di bidang kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, lingkungan hidup, atau keolahragaan telah memberikan kemajuan dan keharuman nama bangsa Indonesia.
Pasal 14
1. Presiden dapat memberi Kewarganegaraan Republik Indonesia kepada Orang Asing karena alasan kepentingan negara setelah memperoleh pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda.
2. Kewarganegaraan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Orang Asing yang dinilai oleh negara telah dan dapat memberikan sumbangan yang luar biasa untuk kepentingan memantapkan kedaulatan negara dan meningkatkan kemajuan khususnya di bidang perekonomian Indonesia.
Menurut Peraturan presiden tersebut pemberian status WNI kepada Archandra dapat dilakukan karena Archandra Tahar telah kehilangan kewarganegaraan AS karena telah diterbitkannya sertifikat kehilangan kewarganegaraan oleh pemerintah AS. Dengan dikeluarkannya sertifikat kehilangan kewarganegaraan itu maka pemerintah memberhentikan prosedur kehilangan kewarganegaraan karena status stateless (tanpa
62 kewarganegaraan) tidak diperbolehkan di Indonesia. Sehingga apabila pemberian status WNI kepada Archandra Tahar didasarkan perturan pemerintah adalah jasa dan prestasi apa apa yang diberikan oleh Archandra Tahar kepada negara Indonesia sehingga presiden memberikan status WNI kepada Archandra Tahar, maka dia telah melanggar UU Nomor 12 Tahun 2006 pasal 36 yang berisi:
1. Pejabat yang karena kelalaiannya melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang tersebut sehingga mengakibatkan seseorang kehilangan hak untuk memperoleh atau memperoleh kembali dan/atau kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia dipidana dengan pidana paling lama 1 (satu) tahun.
2. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Orang asing yang dinilai oleh negara telah dapat memberikan sumbangan yang luar biasa untuk kepentingan memantapkan kedaulatan negara dan meningkatkan kemajuan khususnya di bidang perekonomian Indonesia.