• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

Dalam dokumen Konsep dan Perkembangan HAM dan Kewargan (Halaman 33-38)

BAB II LANDASAN TEOR

2.1.5 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

Dalam tataran internasional, gagasan awal mengenai adanya kebutuhan untuk suatu komisi nasional hak asasi manusia telah timbul sejak tahun 1946, kurang lebih satu tahun setelah didirikannya PBB, dan dua tahun sebelum dicanangkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dalam tahun 1948. Namun pembentukkannya masih membutuhkan waktu, pemikiran dan persiapan yang baik. Baru dalam tahun 1978 dapat diadakan seminar untuk menyusun dasar-dasar pembentukkan institusi nasional hak asasi manusia. Dalam tahun 1991 diadakan sebuah lokakarya di Paris untuk menyusun kerjasama institusi nasional dan regional, dan untuk mengkaji cara-cara peningkatan institusi-institusi nasional tersebut. Seminar tersebut berhasil merumuskan dasar-dasar yang kemudian disebut sebagai The Paris Principles, yang disahkan oleh The Human Rights Commission pada tahun 1992.64

61Ibid., hlm. 245. Lihat juga dalam Ibid., hlm. 16. 62Ibid., hlm. 246. Lihat juga dalam Satya Arinanto, op.cit.

63Ibid., Lihat juga dalam Saldi Isra, 2002, Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia, Jakarta: Sinar Harapan. 64 Ibid., Lihat juga dalam Saafroedin Bahar, 2002, Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia, Jakarta: Sinar

30 Dalam tataran Nasional, Komnas HAM, yang awalnya dibentuk dengan Keppres No. 50 Tahun 1993 pada tanggal 7 Juni 1993 dan kemudian dipertegas dengan UU No. 39/1999 Tentang Hak Asasi Manusia dimaksudkan untuk ‘mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan Bangsa-

Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia’ dan ‘meningkatkan

perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan’.65

Tujuan pembentukkan Komnas HAM melalui undang-undang ini secara prinsipil ternyata tidak jauh berbeda dengan tujuan Komnas HAM sebelumnya yang dibentuk dengan Keppres, karena Komnas HAM ‘generasi pertama’ juga bertujuan membantu pengembangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM dan peningkatan perlindungan HAM di Indonesia.66

Kehadiran sebuah lembaga yang lahirnya dibidani oleh Presiden selalu menghadirkan pesimisme. Demikian situasi yang mewarnai kelahiran dari Komnas HAM, sebab pelanggaran HAM di Indonesia justru banyak melibatkan negara.67

Mulai tahum 2000, Komnas HAM bekerja dengan visi dan misi yang telah dirumuskan.68 Visi Komnas HAM adalah Hak Asasi Manusia Untuk Semua dan mempunyai misi sebagai berikut:

a. Mewujudkan lembaga yang mandiri, profesional, representatif, berwibawa, dan dipercaya oleh masyarakat nasional maupun internasional.

b. Menegakkan, memajukan, dan memelihara HAM.

c. Membantu menyelesaikan pelanggaran HAM di masyarakat. d. Menggerakkan pembangunan berwawasan HAM.

e. Membangun jaringan kerjasama dengan semua pihak.

65 UU No. 39 Tahun 1999 Pasal 75.

66 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 247. Lihat juga dalam Sri Hastuti Puspitasari, loc.cit, hal. 103.

67 Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cornelis Jay dan Pratikno menunjukkan argumentasi yang cukup tajam

bahwa pelanggaran HAM di Indonesia banyak melibatkan negara sebagai pelaku utamanya. Akan sulit melakukan penegakkan hukum atas pelanggaran hukum atas pelanggaran HAM oleh lembaga yang didirikan atas prakarsa penguasa negara, Ibid., Lihat juga dalam Sri Hastuti Puspitasari, "Komnas HAM Indonesia Kedudukan dan Perannya dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, No. 21 Vol 9 2002, hlm. 103.

68 Visi dan misi komnas HAM baru dirumuskan tahun 2000 sebagai hasil dari Lokakarya Perencanaan Strategis

Komnas HAM Tahun 2000. Visi dan Misi ini memperjelas keberadaan Komnas HAM sebagai lembaga Independen dalam penegakkan HAM di Indonesia, Ibid., hlm. 105.

31 Dalam undang-undang HAM 1999 pasal 75 menyebutkan bahwasannya Komnas HAM memiliki tujuan:69

a. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia; dan

b. Meningkatkan perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada awal terbentuknya Komnas HAM beberapa kalangan sempat berpendapat bahwa Komisi ini akan bernasib sama dengan lembaga bentukan pemerintah yang lain yang tidak dapat bersifat bebas dari pengaruh tekanan pemerintah.70 Menurut penelitian Praktiko & Cornelis Lay, dkk dari FISIPOL UGM mengenai citra dari Komnas HAM sebagai berikut:71

a. Landasan hukumnya lemah, hanya Keppres.

b. Disambut dengan pesimisme karena hanya dianggap aksesoris negara. c. Sistem pemerintahannya otoriter.

d. Bisa dimanfaatkan sebagai instrumen penetrasi negara.

e. Anggota Komnas HAM dianggap sebagai mesin tambahan bagi korporatisme negara.

Namun, berkat sikap independen para anggotanya Komnas HAM menjadi salah satu lembaga tempat rakyat mengadukan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi.72 Memang pada saat pertama dibentuk Komnas HAM sedikit memiliki “taring” untuk “menggigit”, hal itu bisa dilihat pada kinerja Komnas HAM pada 1993-199773 yaitu sebagai berikut:

a. Mampu menjadi institusi yang dipercaya masyarakat untuk berhadapan dengan kesewenangan negara.

b. Diposisikan sebagai “martil politik” menghadapi kekuasaan otoriter negara yang melanggar HAM.

69 UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, op.cit., hlm. 26.

70 Sirajuddin dan Winardi, op.cit., hlm. 248. Lihat juga dalam Bagir Manan, op.cit., hlm. 53.

71Ibid., Lihat juga dalam Anshari Thayib, "Tantangan Komnas HAM dalam Pemajuan dan Penegakan HAM di

Indonesia", Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia serta Penegakkan Hukumnya, ed.,

Zulkarnain, (Malang, 2003), hlm. 3.

72Ibid., Lihat juga dalam Bagir Manan, loc.cit. 73Ibid., Lihat juga dalam Anshari Thayib, loc.cit.

32 c. Bisa menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat yang terdesak yang memerlukan

perlindungan HAM.

Dengan bergulirnya reformasi dimana kondisi negara sejak 199874 mengalami perubahan, yakni:

a. Sistem politik semakin terbuka. b. Kekuasaan negara semakin melemah.

c. Kapasitas politik masyarakat semakin menguat, sehingga memunculkan konflik- konflik horizontal (antar kelompok masyarakat) maupun vertikal (antara masyarakat lokal dengan negara).

d. Bangkitnya indigenious people dan hak-hak adat yang menemukan ruang yang lebih luas.

e. Menguatnya tuntutan masyarakat akan demokratisasi, good governance, desentralisasi, civil society, dan demiliterisme.

Komnas HAM dalam melaksanakan fungsi pengkajian dan penelitian sebagaimana dimaksud pada Pasal 76, memiliki tugas dan kewenangan sebagai berikut:75

a. Pengkajian dan penelitian berbagai instrumen internasional hak asasi manusia dengan tujuan memberikan saran-saran mengenai kemungkinan aksesi atau ratifikasi;

b. Pengkajian dan penelitian berbagai peraturan perundang-undangan untuk memberikan rekomendasi mengenai pembentukkan, perubahan, dan pencabutan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak asasi manusia; c. Penerbitan hasil pengkajian dan penelitian;

d. Studi kepustakaan, studi lapangan dan studi banding di negara lain mengenai hak asasi manusia;

e. Pembahasan mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan perlindungan, penegakkan, dan pemajuan hak asasi manusia; dan

f. Kerjasama pengkajian dan penelitian dengan organisasi lembaga atas pihak lainnya, baik tingkat nasional, regional, maupun internasional dalam bidang hak asasi manusia.

74Ibid., hlm. 4.

33 Dalam melaksanakan fungsi penyuluhan sebagaimana Pasal 76, Komnas HAM memiliki tugas dan kewenangan sebagai berikut:76

a. Penyebarluasan wawasan mengenai hak asasi manusia kepada masyarakat Indonesia;

b. Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia melalui lembaga pendidikan formal, non formal serta berbagai kalangan lainnya; dan c. Kerjasama dengan orgamisasi, lembaga atau pihak lainnya, baik di tingkat

nasional, regional, maupun internasional dalam bidang hak asasi manusia. Untuk melaksanakan fungsi Komnas HAM dalam pemantauan sebagaimana Pasal 76, Komnas HAM bertugas dan berwenang melakukan:77

a. Pengamatan dan pelaksanaan hak asasi manusia dan penyusunan laporan hasil pengamatan tersebut;

b. Penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia; Yang dimaksud dengan penyelidikkan dan pemeriksaan dalam rangka pemantauan adalah kegiatan pencarian data, informasi, dan fakta untuk mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran hak asasi manusia.

c. Pemanggilan kepada pihak pengadu atau korban maupun pihak yang diadukan untuk dimintai dan didengar keterangannya;

d. Pemanggilan saksi untuk dimintai keterangan dan didengar kesaksiannya, dan kepada saksi pengadu dimintai menyerahkan bukti yang diperlukan;

e. Peninjauan di tempat kejadian dan tempat lainnya yang dianggap perlu;

f. Pemanggilan terhadap pihak terkait untuk memberikan keterangan secara tertulis atau menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya dengan persetujuan Ketua Pengadilan.

g. Pemeriksaan setempat terhadap rumah, perkarangan, bangunan, dan tempat- tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu dengan persetujuan Ketua Pengadilan; dan

h. Pemberian pendapat berdasarkan persetujuan Ketua Pengadilan terhadap perkara tertentu yang sedang dalam proses peradilan, bilamana dalam perkara tersebut terdapat pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah publik dan acara

76Ibid., ayat (2) hlm. 32. 77Ibid., ayat (3) hlm. 32-33.

34 pemeriksaan oleh pengadilan yang kemudian pendapat Komnas HAM tersebut wajib diberitahukan oleh hakim kepada para pihak. Yang dimaksud dengan pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah publik antara lain mengenai pertahanan, ketenagakerjaan, dan lingkungan hidup.

Untuk melaksanakan fungsi mediasi sebagaimana ketentuan Pasal 76, Komnas HAM bertugas dan berwenang melakukan:78

a. Perdamaian kedua belah pihak;

b. Penyelesaian perkara melalui cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan penilaian ahli; Yang dimaksud dengan mediasi adalah penyelesaian perkara perdata di luar pengadilan, atas dasar kesepakatan para pihak.

c. Pemberian saran kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui pengadilan;

d. Penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada Pemerintah untuk ditindaklanjuti penyelesaiannya; dan

e. Penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk ditindaklanjuti;

Dalam dokumen Konsep dan Perkembangan HAM dan Kewargan (Halaman 33-38)

Dokumen terkait