• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang ada, terdapat beberapa saran agar makalah selanjutnya dapat lebih sempurna. Adapun beberapa saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain harus senantiasa bersikap toleransi dengan menghormati dan menghargai hak asasi orang lain. Walaupun setiap manusia memiliki hak asasi tetapi dibatasi oleh hak orang lain dan tidak hanya menuntut hak saja namun kita harus menjalankan kewajiban juga sebagai individu dalam masyarakat maupun sebagai warga negara dalam suatu negara.

2. Negara melalui pemerintahan yang sah dan berdaulat, merupakan pelindung utama masyarakat, Namun realitas seringkali menunjukkan adanya tindakan aparat keamanan cenderung berpotensi melakukan berbagai pelanggaran. Hukum menjadi instrumen penting dalam melindungi dan tegaknya HAM dalam negara. Dalam melindungi dan memastikan tegaknya HAM dalam negara, harus dipastikan hukum menjadi instrumen dalam pengawasan bahkan pembatasan kepada otoritas publik atau

69 negara agar tidak terjadi abuse of power, dalam banyak kasus menjadi awal terjadinya pelanggaran HAM.

3. Untuk mengatasi berbagai persoalan kewarganegaraan, yaitu sistem kebijakan kewarganegaraan di Indonesia harus ditata kembali sesuai dengan tuntutan demokratisasi agar masalah hak-hak dan perlindungan warga negara dapat diposisikan secara tepat dalam kerangka perlindungan Hak Asasi Manusia tanpa mengganggu kedaulatan Negara Kasatuan Republik Indonesia.

4. Perbedaan pengaturan dalam konstitusi di berbagai negara dunia terkait dengan hak memperoleh kewarganegaraan menyebabkan timbulnya permasalahan kewarganegaraan. Permasalahaan kewarganegaraan yang timbul adalah status tanpa kewarganegaraan, status dwi kewarganegaraan, dan status multipatride. Disamping itu, peraturan perundang-undangan yang dibentuk harus memenuhi rasa keadilan bagi setiap orang yang akan merasakan dampak dari aturan tersebut. Keadilan hanya bisa dipahami jika ia diposisikan sebagai keadaan yang hendak diwujudkan oleh hukum. Secara substansial peraturan yang dibentuk harus memenuhi tiga unsur yaitu filosofis, yuridis, dan sosiologis, sehingga rasa keadilan akan terpenuhi jika aturan tersebut diberlakukan.

5. Prosedur pemberian kembali status WNI Archandra Tahar harus mendapat persetujuan dari anggota DPR. Dilihat dari perkembangan kasus pemberian status WNI Archandra Tahar menimbulkan pro dan kontra di kalangan anggota DPR. Terdapat anggota DPR dari fraksi oposisi menentang diberikannya status WNI kepada Archandra Tahar dan apabila presiden tetap melakukan pengajuan pemberian status WNI maka DPR menggunakan hak interpelasi kepada presiden.

70

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Alkostar, Artidjo. Negara Tanpa Hukum, Catatan Pengacara Jalanan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000).

---. Pengadilan HAM, Indonesia dan Peradaban. Yogyakarta: Pusham UII, 2004.

Arinanto, Satya. "Kata Pengantar" Untuk Buku Majda El Muhtaj, 2008. Dimensi-Dimensi HAM, Mengurai Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, hlm. V, 2008.

Arinanto, Satya. Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia. Jakarta: [s.n.], 2003.

Asshiddiqie, Jimly. Menuju Negara Hukum Yang Demokratis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia, 2009.

Awaludin, Hamid. HAM: Politik, Hukum, & Kemunafikan Internasional. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012.

Bahar, Saafroedin. Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Sinar Harapan, 2002.

Bambang Sunggono dan Aries Harianto. Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia. Bandung: CV. Mandar Maju, 1994.

Cassese, Antonio. Hak Asasi Manusia di Dunia yang Berubah. Jakarta: [s.n.], 1994.

Davidson, Scott. Hak Asasi Manusia: Sejarah, Teori, dan Prakteknya dalam Pergaulan Internasional. Jakarta: Grafitti. 1994.

Donnely, Jack. Universal Human Rights in Theory and Practice. London: Cornell University Press, 2003.

Effendi, A. Masyhur. Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia (HAM) & Proses Dinamika Penyusunan Hukum Hak Asasi Manusia (HAKHAM). Bogor: [s.n.], 2005.

E. Shobirin Nadj & Naning Mardiniah. Diseminasi HAM, Perspektif dan Aksi. Jakarta: Cesda LP3ES, 2000.

71 Faqih, Mansour, et.al., Menegakkan Keadilan dan Kemanusiaan, Pegangan Untuk

Membangun Gerakan HAM. Yogyakarta: Insist Press, 2003.

Gautama, Sudargo. Warga Negara dan Orang Asing. Bandung: Alumni, 1997.

Hadjon, Philipus M. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu, 1987. Purbopranoto, Kuntjoro. HAM dan Pancasila. Jakarta: Pradnya Paramita, 1975.

Isra, Saldi. Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Sinar Harapan, 2002.

Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999.

Lubis, Todung Mulya. In Search of Human Rights: Legal Political Dilemmas of Indonesia's New Order, 1966-1990. Jakarta Gramedia Pustaka Utama, 1990.

Mahendra, Yusril Ihza. Dinamika Tata Negara Indonesia. Jakarta: GIP, 1996.

Manan, Bagir. Hukum Kewarganegaraan Indonesia dalam UU No. 12 Tahun 2006. Yogyakarta: FH UII Press, 2009.

Marzuki, Laica. Beberapa Catatan Tentang Kewarganegaraan RI. Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi, 2006.

MD, Mahfud. Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

---. Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011.

Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Pusat Studi HTN FH UI Jakarta dan CV. Sinar Bakti, 1988.

Muhtaj, Majda El. Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia, dari UUD 1945 sampai dengan Amandemen UUD 1945. Jakarta: Kencana, 2002.

Rahardjo, Sajipto. Ilmu Hukum. Bandung: Alumni, 1996.

Rosyada, Dede. et al., Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: [s.n.], 2003.

Sabine, George. A History of Political Theory. London Press. [s.a.].

Sirajuddin dan Winardi. Dasar-dasar Hukum Tata Negara Indonesia. ed. 1. Malang: Stara Press, 2015.

72 Soekanto, Soerjono. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 1989.

---. Pengantar Sejarah Hukum. Bandung: Alumni, 1983.

Soetoprawiro, Koerniatmanto. Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasiaan Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1992.

Suseno, Frans Magnis. Etika Politik, Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999.

Thayib, Anshari. "Tantangan Komnas HAM dalam Pemajuan dan Penegakan HAM di Indonesia", Hukum Humaniter Internasional dan Hak Asasi Manusia serta Penegakkan Hukumnya, ed., Zulkarnain. Malang, 2003.

Wallace, Rebecca M.M. International Law, Sweet & Maxwell Limited, London: [s.n.] 1993.

Jurnal/Majalah

Azed, Abdul Bari. Reformasi Politik hukum kewarganegaraan sebagai agenda pembaharuan Hukum, Pidato pada upacara pengukuhan jabatan guru besar tetap ilmu hukum tata Negara fakultas hukum Universitas Indonesia, Depok: 15 Oktober 2003.

Khairazi, Fauzan. “Implementasi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia di Indonesia”, Jurnal Inovatif Volume VIII Nomor I Januari 2015.

LBH Jakarta. “Hukum untuk Manusia atau Manusia untuk Hukum?” dalam Catatan Akhir Tahun Refleksi Hukum dan HAM Indonesia. Jakarta: LBH Jakarta, 2015.

Lubis, Todung Mulya. "Hak-hak Asasi yang Tidak Bisa Dilanggar dalam Negara Hukum" dalam Majalah Prisma Nomor 11, November 1994, hlm. 19-26.

Pariqun, A. Latief. "Konsepsi Perlindungan Hak Asasi Manusia", Jurnal Widya Yuridika, No. 2/Edisi Kesebelas, Agustus 2003, hlm. 90.

Puspitasari, Sri Hastuti. "Komnas HAM Indonesia Kedudukan dan Perannya dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, No. 21 Vol 9 2002, hlm. 103.Putra, Muhammad Amin. ”Perkembangan Muatan HAM dalam Konstitusi di Indonesia”, Fiat Justisia Jurnal Ilmu Hukum Volume 9 No. 2, April-Juni 2015, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia.

73

Berita Harian

Bincang-bincang, minggu, Syukron Salam, “Kewarganegaraan Ganda Tak Perlu Berlaku di Indonesia” Suara Merdeka, (21 Agustus 2016), hlm. 6.

Juwana, Hikmahanto. Opini Kompas: Talenta Indonesia dan Dwikewarganegaraan, Kamis, 25 Agustus 2016.

Susanto, Mei. Perkembangan Pemaknaan Hak Prerogatif Presiden, Kajian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XIII/2015 Departemen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

Skripsi/Tesis/Distertasi

Muttaqin, Imam Choirul. “Kewarganegaraan Ganda Terbatas dalam Perspektif Hak Asasi Manusia”, 2011, Program Pascasarjana, FHUI, Jakarta.

Makalah

Masyhur Effendi, "Effektifitas Pengadilan HAM Ad Hoc terhadap Pemberantasan HAM Berat di Indonesia" (makalah Pada Seminar Nasional HAM "Quo Vadis Perlindungan HAM Berdasarkan Undang-Undang sesuai Perkembangan Sosial Politik di Indonesia (Pasca Pilpres)" Lembaga Hukum dan HAM Keadilan Indonesia (LHKI) bekerjasama dengan BEM Fakultas Hukum Universitas Kanjuruhan, Malang 18 Desember 2004.

Peraturan Perundangan-undangan

Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia Pasal 27.

UUD 1945 Hasil Amandemen

UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

UU Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan.

Internet

Anonim, 2015, Dual Citizenship Countries, http://best-citizenships.com/dual- citizenshipcountries.htm., Diakses pada 2 Maret 2017.

Anonim, 2015, Dual Citizenship Not Allowed, http://best-citizenships.com/dualcitizenship- countries.html/. Diakses pada 2 Maret 2017.

74 Department of State. United State of America, 2015, Dual Nationality,

http://www.travel.state.gov. Diakses pada 2 Maret 2017.

Harijanti, S.D. (2016). Tak punya itikad baik, Archandra dinilai tak pantas jadi pejabat negara

lagi diakses dari pada pada 27 Februari 2017

http://nasional.kompas.com/read/2016/10/15/17525181/.tak.punya.itikad.baik.arcandr a.dinilai.tak.pantas.jadi.pejabat.negara.lagi.

http://worldjusticeproject.org/sites/default/files/roli_2015_0.pdf, diakses pada 25 Februari 2017.

Dalam dokumen Konsep dan Perkembangan HAM dan Kewargan (Halaman 72-78)

Dokumen terkait