• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Kondisi Rumah Tinggal

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : YULIA SINAGA NIM (Halaman 72-77)

BAB III METODE PENELITIAN

5.2 Deskripsi Kondisi Rumah Tinggal

Hasil penilaian rumah berdasarkan observasi dan wawancara menunjukkan bahwa tidak terdapat rumah yang tergolong sehat. Aspek-aspek rumah yang tidak memenuhi syarat pada umumnya adalah :

5.2.1 Komponen Rumah 1. Langit-langit

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa pada umumnya rumah tidak memiliki langit-langit yaitu 50 rumah (83,33%). Rumah yang tidak memiliki langit-langit dapat mengakibatkan debu yang berasal dari atap tidak terhalang dan langsung jatuh menuju ruangan rumah. Debu-debu yang berterbangan dapat mengganggu pernafasan. Debu-debu yang jatuh dari atap juga dapat menempel di lantai. Menurut penelitian Mahpudin dan Mahkota (2007), lantai rumah yang berdebu, cenderung lembab dan gelap merupakan kondisi yang ideal bagi bakteri untuk tetap hidup, misalnya bakteri penyebab ISPA. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar balita yang menderita ISPA tinggal di dalam rumah yang tidak memiliki langit-langit yaitu delapan orang (72,73%).

2.Ventilasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya rumah memiliki ventilasi yang ditutup dengan karton atau triplek akibat suhu udara yang sangat dingin yang berkisar antara 16-19˚C sehingga digolongkan tidak memiliki ventilasi rumah yaitu 51 rumah (85%). Ventilasi udara berhubungan dengan pertukaran udara dari dalam ke luar ruangan. Ketika seseorang berada di dalam ruangan terjadi peningkatan kelembaban udara yang disebabkan penguapan cairan

tubuh dari kulit dan karena pernafasan. Pada kondisi tidak terjadi pertukaran udara secara baik maka akan terjadi peningkatan jumlah dan konsentrasi bakteri, misalnya bakteri penyebab ISPA. Pada umumnya balita yang menderita ISPA tinggal di dalam rumah yang tidak memiliki ventilasi yaitu sembilan orang (81,81%). Menurut penelitian Yusup dan Sulistyorini (2005), risiko terjadinya infeksi saluran pernafasan akut akan meningkat bila kondisi ventilasi buruk.

Sedangkan menurut penelitian Widodo (2007), ventilasi tidak memberikan pengaruh pada kejadian infeksi saluran pernafasan akut.

Ruangan yang lembab akibat ventilasi yang kurang juga dapat menjadi media yang baik bagi pertumbuhan jamur yang dapat mengganggu kesehatan kulit. Hasil penelitian menunjukkan enam sampel balita yang menderita penyakit kulit tinggal di dalam rumah yang tidak memiliki ventilasi.

3. Lubang Asap Dapur

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa seluruh rumah tidak memiliki lubang asap dapur. Mereka hanya menggunakan pintu atau jendela sebagai tempat pergantian udara ketika melakukan aktivitas dapur. Oleh sebab itu, hampir 50% rumah yang diteliti dipenuhi asap dapur yang mengepul sampai ke ruang keluarga dan kamar saat melakukan aktivitas memasak. Hal ini juga diperparah oleh aktivitas memasak yang masih menggunakan kayu untuk membakar. Pertukaran udara yang tidak berlangsung dengan baik ini dapat mengakibatkan asap dapur atau asap rokok terkumpul dalam rumah sehingga balita yang sering menghisap asap tersebut di dalam rumah lebih mudah terserang ISPA. Menurut Widodo (2007), pembakaran menghasilkan pertikulat yang

bersifar iritan yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan sehingga mudah terjadi infeksi saluran pernapasan (Widodo, 2007).

4. Pencahayaan

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa rumah penduduk lebih banyak memiliki kondisi pencahayaan yang tidak terang yaitu 31 rumah (51,67%). Kurangnya cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah membuat rumah terasa sumpek, pengap, panas, dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan penghuni. Selain berguna untuk penerangan sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan, mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan membunuh bakteri penyebab penyakit tertentu, misalnya bakteri penyebab ISPA. Hasil penelitian menunjukkan sampel balita yang menderita ISPA lebih banyak tinggal di dalam rumah dengan kondisi pencahayaan yang tidak terang yaitu enam orang (54,55%). Tetapi hal ini tidak cukup untuk menyatakan bahwa penyebab ISPA adalah karena kondisi pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat. Menurut Yusup dan Sulistyorini (2005), pencahayaan yang kurang memadai merupakan faktor risiko terjadinya infeksi saluran pernafasan.

Ruangan yang lembab akibat pancahayaan yang kurang juga dapat menjadi media yang baik bagi pertumbuhan jamur yang dapat mengganggu kesehatan kulit. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sampel balita yang menderita penyakit kulit tinggal di dalam rumah dengan kondisi pencahayaan yang tidak terang yaitu empat orang (66,67%).

5.2.2 Sarana Sanitasi

1. Sarana pembuangan air limbah

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa seluruh rumah tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sehingga air tergenang tidak teratur di halaman rumah. Air limbah banyak mengandung mikroorganisme patogen. Salah satu penyakit yang disebabkan mikroorganisme yang ada pada air limbah adalah diare. Mikroorganisme ini akan dibawa oleh vektor atau serangga yang akan diinfeksikan kepada manusia melalui makanan dan minuman. Menurut Fauzi (2005), Limbah rumah tangga yang dibuang ke sarana pengelolaan air limbah yang terbuka dan tidak bebas dari vektor berpeluang meningkatkan risiko diare pada anak. Menurut penelitian Sudasman (2014), SPAL yang tidak memenuhi syarat memiliki potensi 2 kali lipat untuk menyebabkan diare.

Menurut hasil penelitian Nurdiyanti (2008), kondisi saluran pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat berpotensi untuk menimbulkan penyakit diare karena air limbah ini akan mudah meresap ke dalam sumber air bersih sehingga menyebabkan pencemaran. Selain itu, saluran pembuangan air limbah yang dibiarkan terbuka, tidak lancar, dan becek ini akan dengan mudah menjadi tempat berkembangbiaknya jasad renik atau makhluk hidup dan vektor penyebab penyakit diare.

2. Sarana pembuangan sampah

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa pada umumnya rumah tidak memiliki sarana pembuangan sampah (tempat sampah) yaitu 55 rumah (91,67%). Penghuni rumah sering membuang sampah secara sembarangan, ke

kebun, atau langsung dibakar. Sementara itu bila terjadi proses pembakaran dari sampah maka asapnya dapat menggangu pernafasan, penglihatan dan penurunan kualitas udara karena ada asap di udara. Pembakaran juga menghasilkan pertikulat yang bersifar iritan yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan sehingga mudah terjadi infeksi saluran pernapasan (Widodo, 2007). Penyakit sesak nafas juga disebabkan bau sampah yang menyengat yang mengandung Amonia Hydrogen, Solfide dan Metylmercaptan. Hasil penelitian menunjukkan sebelas sampel balita yang menderita ISPA tinggal di dalam rumah yang tidak memiliki sarana pembuangan sampah.

Efek tidak langsung lainnya berupa penyakit bawaan vektor yang berkembang biak di dalam sampah. Sampah bila ditimbun sembarangan dapat menjadi tempat peistirahatan lalat. Dimana lalat adalah vektor berbagai penyakit perut, salah satunya diare (Slamet, 2014).

Insidensi penyakit kulit juga dapat meningkat karena penyebab penyakitnya hidup dan berkembang biak di tempat pembuangan dan pengumpulan sampah yang kurang baik. Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung ataupun melalui udara. Hasil penelitian menunjukkan enam sampel balita yang menderita penyakit kulit tinggal di dalam rumah yang tidak memiliki sarana pembuangan sampah.Tidak tersedianya sarana pembuangan sampah juga merupakan faktor risiko terjadinya diare. Menurut Fauzi (2005), tempat sampah terbuka dan tidak bebas dari vektor berpeluang meningkatkan kejadian diare pada anak.

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : YULIA SINAGA NIM (Halaman 72-77)